Seri Sanatana Dharma

Sanatana Dharma 04: Tujuan Beragama (bagian-3-habis)

July 1, 2018

Sebelumnya kita sudah membahas tentang salah satu sisi tujuan beragama bagi orang Hindu, yaitu Self-realization atau mengalami Sang Diri Sejati (ātman). Inilah yang disebut pencerahan, mokṣa, “manunggaling kawula gusti”, dan sebagainya. Pada saat itu kita melihat persatuan dan kesatuan segala sesuatu yang nampaknya berbeda-beda di alam raya ini.

Ketika kita menyadari bahwa ātman-ku dan ātman-mu satu, maka kepedulian kita meluas. Berbuat baik kepada orang atau makhluk lain bukan lagi soal mengumpulkan poin pahala (dari kata Sanskerta phala yang berarti buah, hasil). Kebaikan itu dilakukan memang karena ‘baik’. Membantu yang lain sama dengan membantu diri sendiri.

Inilah sisi lain mokṣa yang kita bahas dalam tulisan sebelumnya, yaitu jagadhita. Kata ini terdiri dari dua elemen: jagat dan hita. Elemen kata yang pertama sudah akrab bagi kita. Akar katanya ‘ga/gam’ yang berarti bergerak pergi. Ja-gat berarti sesuatu yang terus bergerak-gerak, berubah-ubah. Demikianlah sifat alam benda: tidak tetap.

Sedangkan hita berarti bermanfaat, menguntungkan, bersahabat. Mokṣa dan jagadhita adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Seseorang yang mencapai mokṣa, karena menyadari kesatuan ‘diri’-nya dengan semesta, tindakan-tindakannya menjadi bermanfaat, menguntungkan, dan bersahabat bagi jagat raya.

Jika diperhatikan di sini kita bisa melihat perbedaan dengan agama-agama yang dogmatis, yang menempatkan kepatuhan pada posisi yang tinggi. Bagi mereka peran kitab suci sangat sentral. Sebaliknya, Hindu menekankan pada transformasi diri sehingga orang tersebut mampu menentukan sendiri tindakan yang tepat dilakukan.

Peraturan memang masih dibutuhkan bagi mereka yang belum dewasa. Anak-anak yang masih duduk di bangku SD masih harus diatur-atur dan sesekali diiming-imingi agar melakukan hal-hal yang sebenarnya baik untuk dirinya sendiri. Semakin dewasa dia, orang tuanya akan memberikan kebebasan yang lebih besar lagi.

Alih-alih berharap mencapai surga, jagadhita adalah misi untuk membuat dunia ini menjadi ‘surga’. Tidak ada gunanya jika kita mencapai surga nanti di alam lain dengan mengorbankan planet ini atau menciptakan kerusakan dan keresahan di tengah masyarakat. Jagadhita tidak bisa dicapai sendirian, tapi bersama-sama.

pura-ulun-danu-bratan-bali-841865328-59c6d6b5685fbe001138763d
Pura Ulun Danu di tepi danau Batur, Bali. Hindu adalah agama yang dekat dengan alam. (Sumber: Patchareeporn Sakoolchai / Getty Images).

Jagadhita juga mengandung pesan untuk membangun harmoni dengan sekitar kita. Hindu tidak menempatkan manusia pada posisi penguasa alam, namun bagian dari alam itu sendiri. Ya, manusia bisa membuat alam sekitarnya semakin subur atau indah, ia juga bisa merusaknya. Namun manusia sering lupa bahwa ia lah yang lebih rentan.

Jika kita “berhasil” menghancurkan keseimbangan ekosistem di planet bumi, maka kita pula lah yang pada akhirnya akan menderita dan bahkan bisa punah. Sebelum ada manusia, planet ini sudah ada dan ia akan terus ada bahkan ketika spesies kita tidak ada lagi. Kehidupan tidak akan berhenti mencari keseimbangan-keseimbangan baru.

Oleh karena itu umat Hindu di Bali memiliki filosofi yang disebut tri hita kāraṇa, yaitu tiga hal yang menyebabkan keuntungan, manfaat, kebahagiaan. Yang pertama adalah harmoni antara manusia dengan sesama manusia; aspek ini disebut pawongan. Sedangkan dua aspek yang lain terkait erat dengan alam secara luas.

Aspek kedua adalah palemahan yaitu makhluk-makhluk yang lebih “lemah” daripada kita—dalam artian bisa relatif mudah terganggu oleh ulah kita. Sedangkan aspek ketiga, yaitu parahyangan, mencakup segala sesuatu yang lebih tinggi. Aspek terakhir ini sering dikaitkan dengan para hyang atau dewa—yaitu kekuatan-kekuatan alam.

Hidup harmoni dengan ketiga hal ini: pawongan, palemahan, dan parahyangan akan membuat hidup kita menjadi lebih bahagia dan sejahtera. Sri Krishna dalam Bhagavad Gita mengingatkan:

devān bhāvayatānena te devā bhāvayantu vaḥ, paras-paraṃ bhāvayantaḥ śreyaḥ param avāpsyatha. (3.11) iṣṭān bhogān hi vo devā dāsyante yajña-bhāvitāḥ, tair dattān apradāyaibhyo yo bhuṅkte stena eva saḥ. (12)

Artinya: (Melalui yajña) kau merawat para dewa, dan demikian pula sebaliknya para dewa akan merawatmu. Dengan begitu kau akan hidup dalam kebaikan. Para dewa akan menganugrahimu dengan segala yang kau butuhkan karena engkau merawat mereka dengan yajña. Namun siapa pun yang menikmati jasa para dewa namun tidak merawat mereka kembali adalah seorang pencuri.

Apa itu yajña? Kebanyakan umat Hindu mengaitkan yajña dengan upacara keagamaan atau persembahan belaka. Sebenarnya maknanya cukup luas. Kata ini berasal dari akar kata yaj’ yang memiliki tiga makna: deva-pūjā (persembahan kepada dewa), saṃgati-karaṇa (membuat terhubung, bertemu), dan dāna (pemberian).

Yajña adalah cara kita “berhubungan” dengan kekuatan-kekuatan alam lewat pemberian, persembahan, termasuk menghormati, merawat, dan melestarikannya. Pustaka-pustaka suci tertua Veda banyak menjelaskan tentang berbagai yajña ini. Tidak heran bila kita bisa menjumpai interaksi dan harmoni antara manusia dengan alam di dalamnya:

trīṇi cchandāṃsi kavayo vi yetire pururūpaṃ darśataṃ viśvacakṣaṇam, āpo vātā auṣadhayastānye kasmin bhuvana ārpitāni. —Atharvaveda 18.1.17.

Para bijak menggunakan ketiga hal ini dalam berbagai kesempatan; ketiganya punya sifat beragam, tersedia di mana-mana, serta punya banyak manfaat yaitu air, udara, dan tumbuh-tumbuhan (obat). Sejak permulaan ketiganya ‘melapisi’ bumi ini.

annād bhavanti bhūtāni parjanyād anna-saṃbhavaḥ, yajñād bhavati parjanyo yajñaḥ karma-samudbhavaḥ. —Bhagavad Gita 3.14.

Makhluk-makhluk hidup ada karena makanan. Makanan dihasilkan dari hujan. Hujan datang karena yajña, dan yajña terjadi karena perbuatan.

banten1
Umat Hindu menghaturkan persembahan. Yajña adalah salah satu cara mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan alam semesta. (Sumber: http://kb.alitmd.com).

Atharvaveda 12.1 (terdiri dari 63 mantra) dikenal sebagai Pṛthivi Sūkta yang berisi puja-puji yang sangat indah kepada Ibu Bumi. Saya kerap mendengar sindiran yang mengatakan bahwa puja-puji itu hanya pantas untuk Tuhan yang berada di atas sana. Inilah perbedaan Hindu dengan agama-agama lainnya. Seorang Hindu tak pernah memisah-misahkan Tuhan dan ciptaan-Nya.

yasyāṃ samudra uta sindhurāpo yasyāmannaṃ kṛṣṭayaḥ saṃbabhūvuḥ, yasyāmidaṃ jinvati prāṇadejat sā no bhūmiḥ pūrvapeye dadhātu. (3)

Padanya, Bumi, lautan, sungai-sungai, danau-danau, sumur-sumur air berada; padanya ladang-ladang tumbuh; padanya makhluk-makhluk aktif bernapas dan bergerak. Semoga Bunda Bumi memberikan kita makanan dan minuman seperti susu, buah-buahan, air, dan biji-bijian.

yat te bhūme vikhanāmi kṣipraṃ tadapi rohatu, mā te marma vimṛgvarī mā te hṛdayamarpipam. (35)

Semoga, Oh Bumi, apapun yang aku gali dan ambil darimu dengan cepat muncul dan tumbuh kembali. Oh Sang Pembersih, semoga kami tak menghujammu pada bagian vital atau jantungmu.

upasthāste anamīvā ayakṣmā asmabhyaṃ santu pṛthivi prasūtāḥ, dīrghaṃ na āyuḥ pratibudhyamānā vayaṃ tubhyaṃ balihṛtaḥ syāma. (62)

Oh Ibu Bumi, Pertiwi, semoga anak-cucuku tumbuh dalam pangkuanmu, bebas dari penyakit dan mara bahaya. Semoga kami hidup hingga tua, selalu waras dan awas. Kami haturkan segala yang kami miliki untukmu.

Kebahagiaan tidak bisa kita capai secara egois. Tidak perlu beragama jika kita hanya ingin membahagiakan diri sendiri, memuaskan segala keinginan-keinginan kita. Jika dalam upaya kita mencapai itu—termasuk mengejar surga—kita mengorbankan kesehatan, kepentingan orang lain, dan/atau kelestarian lingkungan, maka kita tidak bisa menyebut diri Hindu atau pengikut Sanātana Dharma.

 

You Might Also Like

3 Comments

  • Reply Sanatana Dharma 05: Satu Tujuan, Banyak Jalan – Harimbawa July 9, 2018 at 2:49 AM

    […] memiliki kedekatan makna dengan yajña (dibahas dalam tulisan sebelumnya). Yajña tidak terbatas pada upacara atau ritus-ritus keagamaan semata. Shri Krishna mengatakan […]

  • Reply Mengurai Kebohongan Ramalan tentang Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Veda (Bagian 1) – Harimbawa November 14, 2018 at 1:15 AM

    […] Bagi seorang Sanatani (pemeluk Sanatana Dharma) pemahaman yang demikian ini terasa aneh, dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas. Seorang Sanatani tidak menyibukkan diri mencari-cari bukti dan pembenaran atas suatu dogma dan doktrin semacam ini karena hanya akan mengalihkan perhatiannya dari tujuan beragama, yaitu meraih kebebasan dari keterikatan dan ego (moksha) serta mencapai kebahagaiaan, kesejahteraan, kedamaian bukan hanya bagi dirinya, namun juga makhluk-makhluk lain (jagadhita). […]

  • Reply Mengurai Kebohongan Ramalan tentang Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Veda (Bagian 3) – Harimbawa November 27, 2018 at 7:31 AM

    […] merupakan siklus. Ajaran-ajaran Dharma juga tidak bergantung pada “sejarah”. Moksha dan Jagadhita bisa dicapai terlepas dari apakah si A lahir di suatu masa dan ia menerima perintah Tuhan di suatu […]

  • Leave a Reply

    %d bloggers like this: