Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Current Affairs, Seri Sanatana Dharma, Vedic Scriptures

Mengurai Kebohongan Ramalan tentang Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Veda (Bagian 3)

November 26, 2018

(Tulisan sebelumnya… Klaim #2)

Apa yang mendorong para pendakwah-misionaris menyebarkan hoaks ini? Dibandingkan dengan umat-umat beragama yang lain, para pendakwah-misionaris relatif lebih banyak dan lebih sering menyebarkan hoaks-hoaks semacam ini. Upaya mereka juga terasa sistematis dan penyebarannya luas, hampir merata.

Sekali lagi, saya perlu menekankan bahwa tulisan ini dibuat untuk umat Hindu agar tidak termakan tipu daya para pendakwah-misionaris yang memanfaatkan kelemahan-kelemahan di dalam umat Hindu sendiri, yaitu minimnya pengetahuan umat tentang bahasa Sanskerta dan kitab-kitab Veda—yang memang jumlahnya sangat banyak. Memang Hindu bukan agama yang dogmatis dan menuhankan teks, namun menghadapi para pendakwah-misionaris, yang berupaya untuk mengkonversi umat Hindu, mau-tidak-mau kita pun harus mempersenjatai diri dengan pengetahuan yang benar.

Selain itu, kita juga perlu memahami pola pikir mereka. Kita harus teliti menalaah setiap klaim dan motivasi di baliknya. Umat Hindu tidak alergi belajar dari sumber mana pun—karena tujuan kita adalah Kebenaran. Nah, setelah membaca propaganda-propaganda mereka dan mempelajari teks-teks suci yang dikutipnya, saya bisa menyimpulkan bahwa para pendakwah-misionaris bekerja dalam struktur argumentasi yang sama yang didorong oleh interpretasi atas dogma/kepercayaannya. Di dalam kelompok tersebut, mereka ini bukan oknum. Hal ini kemudian mereka tindak lanjuti dengan mencari pembenaran atasnya—hanya saja ada yang aktif, agresif dan ada juga yang pasif.

Dogma yang mengatakan bahwa agamanya lebih baik daripada yang lain, kitabnya kata-kata final Tuhan, tidak mungkin salah dan selalu benar akan menuntut orang-orang untuk percaya dan tidak kritis. Bagaimana mungkin Tuhan salah? Kalau dikatakan bahwa Sang Nabi diramalkan juga di dalam kitab-kitab suci lain, maka pasti benar dan akan dibuktikan at any cost dan dengan cara apa pun. Lalu bagaimana jika ternyata tidak ada ramalan itu dalam Veda? Ya, para pendakwah-misionaris ini akan membuat-buat cerita tentang itu.

Walaupun para pendakwah-misionaris mengaku dituntut oleh dogma yang sama untuk “berpikir”, namun mereka tidak boleh melewati batas petak sempitnya dan harus selalu berangkat dari kepercayaan mutlak. Abbas Abdul Noor menyimpulkan (diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Hassan Radwan di dalam buku yang bisa diunduh di sini):

It is the nature of faith to shut the windows of the mind and increase blindness upon blindness. (Hal. 112).

There is no difference between those who worship statues and those who worship the text. (Hal. 25).

Hidup di dalam ekosistem seperti ini, mereka terlatih sejak dini untuk “menambal”—meminjam istilah Noor—dogma-dogma yang sebenarnya tidak/kurang bermakna, tidak nyambung, bahkan bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern atau dengan nilai-nilai universal.

They were able to extract meaning from that which had no meaning. They never found it too hard to make the barren fertile, the mute articulate, the incoherent eloquent, and every old man in the prime of his youth. (Hal. 177).

Kebiasaannya ini membuat para pendakwah-misionaris tidak merasa ada yang salah dengan permainan akrobatik-mental yang dilakukannya. Pembelaan mereka selalu mentok pada keterbatasan manusia. Kebenaran hadir duluan, terang, tegak, kokoh, baru kemudian dilakukan “upaya” untuk “menemukannya”, yang hanyalah seremonial untuk menenangkan hati: bahwa “berpikir” sudah dilakukan.

Tidak mengherankan apabila mereka bisa melihat Nabi Muhammad dan kisah-kisahnya di dalam kitab-kitab Veda sebagaimana yang saya tulis sebelumnya (bagian 1 dan bagian 2)—seperti orang-orang yang melihat simbol-simbol keagamaannya pada sepotong roti panggang, awan di langit, atau tubuh binatang. Penglihatan mereka begitu nyata, jelas, terang, namun hanya bagi mereka. Kalau orang lain tidak setuju, maka ia bisa dihakimi mata dan hatinya telah tertutup—ungkapan yang beberapa kali saya terima ketika berdiskusi dengan mereka. Seberapa banyak pun argumen yang diberikan, mereka akan bergeming, atau setidaknya akan mencari-cari hal lain lagi untuk mempertahankan egonya.

Hal ini jauh berbeda dengan cara pandang Sanātana Dharma yang tidak menuhankan teks atau kitab sucinya, dan bahkan dengan lantang menolak fundamentalisme agama:

Bagi mereka yang dungu, wahai Arjuna, apa yang tersurat di dalam Veda—kitab-kitab suci—adalah segalanya. Mereka—para dungu itu—penuh dengan berbagai keinginan duniawi; tujuan mereka hanyalah kenikmatan surga; atau kelahiran kembali di dunia benda—untuk itulah mereka berkarya. Bermacam-macam ritus, upacara yang mereka lakukan, pun semata untuk meraih kenikmatan indrawi, dan kekuasaan duniawi.
— Bhagavad Gita 2:42-43 (terjemahan Swami Anand Krishna).

Bagi seorang bijak yang telah meraih Kesadaran Hakiki tentang dirinya, pengetahuan dari Veda—kitab-kitab suci—ibarat kolam di daerah yang berlimpah air, tidak akan pernah kekurangan air.
— Bhagavad Gita 2:46.

Walaupun berasal dari manusia, Kebenaran harus diterima. Dan sebaliknya, meskipun suatu ajaran termuat di dalam kitab suci namun bila tidak mengandung Kebenaran, maka tolaklah ia. Kebenaran yang diucapkan oleh anak-anak sekalipun harus diterima; dan walaupun keluar dari mulut Brahma, sang pencipta, jika tidak mengandung Kebenaran, maka tolaklah ia.
— Nasihat Resi Wasista kepada Sri Rama di dalam Yoga Vashistha.

The study of Scripture is useless as long as the highest Truth is unknown; and it is equally useless when the highest Truth has already been known.
Shri Adi-Shankaracharya dalam Vivekacudamani.

“Satyameva jayate, na anṛtam.” Hanya Kebenaranlah yang berjaya, bukan kepalsuan, ketidakbenaran, kebohongan.
— Mundaka Upanishad

Dqe3oqHXgAA34zm.jpg-large
Kitab suci, dalam tradisi Dharma, ibaratnya telunjuk yang sedang menunjukkan arah. Kitab suci bukan tujuan, apalagi berhala yang harus dipuaskan.

Ajaran yang demikian ini membebaskan, mengarahkan manusia untuk mencari Kebenaran—bukan pembenaran atas apa yang telah dipercayai. Beban pembuktian di atas pundak terlepas dengan sendirinya, sehingga langkah kita mencari Kebenaran akan lebih ringan. Teks-teks suci, dari tradisi mana pun, mengandung hal-hal yang mulia, universal, dan pada masanya: revolusioner. Setiap manusia bisa memetik hikmat kebijaksanaan dari sumber-sumber ini. Namun di saat yang sama—kalau mau jujur—ada hal-hal yang sudah tidak lagi relevan. Setiap manusia punya potensi untuk memilah mana yang tepat dan mana yang tidak (Viveka dalam bahasa Sanskerta)—inilah yang harus terus dikembangkan!

Jadi jika narasi para pendakwah-misionaris benar dan umat Hindu harus meninggalkan tradisinya yang terbuka dan memberi kebebasan berpikir, bahkan jika itu bertentangan dengan apa yang ada di dalam teks sucinya, untuk digantikan dengan kepercayaan yang sempit dan dogmatis, demi surga yang sebenarnya hanyalah perpanjangan dari kenikmatan-kenikmatan duniawi, bukankah itu adalah sebuah kemunduran?

Klaim #3
Nabi Muhammad diramalkan dalam kitab-kitab Veda yang lain.

Saya tidak akan banyak mengulas klaim ini karena konyol, ngawur, dan saya tidak ingin membuang-buang waktu untuk membahasnya. Ada beberapa poin penting yang bisa kita lihat dari klaim-klaim ini—cara-cara yang digunakan para pendakwah-misionaris mencapai tujuannya:

  • Semua kata (benda) yang bermakna ‘ia yang pantas dipuji, diagungkan, dimuliakan’ dan sebagainya yang mirip dengan makna kata muhammad atau ahmad dalam bahasa Arab pasti merujuk Sang Nabi—tidak bisa yang lain.
  • Semua kata (benda atau kerja, tidak masalah) yang seolah-olah mirip dengan muhammad atau ahmad, misalnya māmahe, ahamiddhi, dan seterusnya sudah pasti merupakan nama Nabi yang diramalkan—tidak bisa yang lain.
  • Pertempuran-pertempuran yang terekam di dalam Veda pasti menggambarkan berbagai pertempuran yang dilakukan Nabi—tidak bisa yang lain.

Mereka memanfaatkan minimnya pengetahuan dan akses umat Hindu terhadap kitab-kitab Veda dan bahasa Sanskerta. Padahal klaim-klaim mereka ini sangat mudah dipatahkan—walaupun belum tentu mudah diterima mereka yang sudah telanjur menggadaikan akal-budinya.

Klaim #4
Awatara Kalki sesungguhnya adalah Nabi Muhammad.

Klaim ini lebih juicy untuk dibahas—walaupun sama-sama ngawur. Singkatnya klaim ini meng-apropriasi kisah Dasa Awatara atau Sepuluh Awatara Wisnu yang turun ke dunia untuk menyelamatkan Dharma dan Bumi dari kehancuran. Agama-agama Abrahamik, sebagaimana yang telah saya jelaskan sebelumnya, adalah agama yang history centric. Mereka memandang bentangan waktu sebagai garis lurus dengan penciptaan sebagai titik awal dan kiamat di ujung yang lain.

Pandangan yang demikian ini melahirkan agama-agama yang sangat menekankan pada kejadian-kejadian yang dipandangnya sebagai “sejarah”. Agama dan kepercayaan mereka sangat bergantung pada “sejarah” ini. Setiap agama memiliki “sejarah” masing-masing yang bisa bertentangan dan menjadi penyebab konflik hingga sekarang. Melalui “sejarah” ini manusia memahami bagaimana ia bisa diselamatkan dan/atau masuk surga (menghindari neraka).

Hal ini bertolak belakang dengan Sanātana Dharma yang tidak mementingkan “sejarah”. Dharma memandang waktu tidak terpisahkan dari keberadaan dan merupakan siklus. Ajaran-ajaran Dharma juga tidak bergantung pada “sejarah”. Moksha dan Jagadhita bisa dicapai terlepas dari apakah si A lahir di suatu masa dan ia menerima perintah Tuhan di suatu tempat. Dharma melihat potensi kedewataan atau keilahian berada di dalam diri semua orang, sehingga bukan keselamatan yang diupayakan, tetapi kesadaran.

Nah, salah satu cara agar agama-agama Abrahamik bisa masuk ke dalam Dharma adalah lewat “sejarah” atau sesuatu yang mirip dengan itu. Kisah Awatara Wisnu menjadi jalur masuk yang ideal: kisah ini menghubungkan Hinduisme dari masa lalu hingga ke masa depan dengan adanya “ramalan” akan datangnya awatara kesepuluh, yaitu Kalki. Mereka berpikir bahwa kalau mereka berhasil meyakinkan bahwa Kalki = nabi terakhir, maka yang ada di masa lalu (baca: semua ajaran di dalam keseluruhan kepustakaan suci Veda) tidak lagi diperlukan.

Memang benar bahwa awatara kesepuluh dari Sepuluh Awatara adalah Kalki, dan konon ia belum lahir. Ia kerap digambarkan menunggang kuda dan menghunus pedangnya melawan raksasa. Kalki diramalkan turun pada akhir zaman Kali atau Kali-yuga—yang dimulai ketika Bharatayuddha usai, sekitar 5.000 tahun yang lalu. Sejauh ini Nabi Muhammad punya kemiripan dengan Awatara Kalki. Para pendakwah-misionaris ini pun cepat-cepat berujar: “bagi mereka yang masih menunggu kedatangan Kalki, tidak perlu membuang-buang waktu lagi!”

98d0233ada3238363e1cc378fec5f45e
Gambaran populer Awatara Kalki.

Di dalam berbagai laman (misalnya ini) dan buku-buku yang mengulas hal ini saya menjumpai 10 poin yang dipakai untuk “meyakinkan” yang membuktikan bahwa Awatara Kalki adalah Nabi Muhammad. Saya akan ulas satu per satu:

1. Dalam Purana (kitab suci kaum Hindu) dikatakan bahwa Kalki Avatar adalah seorang utusan (nabi) Allah yang terakhir di dunia ini guna membimbing seluruh dunia dan seluruh makhluk manusia.

Betul bahwa kisah Awatara Wisnu bisa dijumpai dalam kitab-kitab Purāṇa, misalnya Srimad Bhagavata dan Kalki Purana (sebenarnya Kalki Purana tidak termasuk dalam daftar Purana utama). Purana sendiri berarti kisah-kisah kuno baik tentang Dewa-Dewi maupun raja-raja. Awatara atau Avatara bukan utusan (nabi) Allah atau Tuhan—ini adalah konsep yang asing, bahkan ganjil atau tidak cocok dengan ajaran-ajaran di dalam kepustakaan Veda. Ini adalah konsep yang ada dalam rumpun agama-agama Samawi atau Abrahamik, yaitu agama kaum Yahudi, Kristen, dan Islam; namun ini bukanlah konsep Veda.

Veda melihat-Nya sebagai Brahman (bedakan dengan Brahma, dewa yang perannya mencipta). Brahman sesungguhnya tidak memiliki sifat seperti manusia atau penguasa tadi: bisa ramah, bisa marah, dan sebagainya. Brahman di dalam Veda merupakan kebenaran atau realitas (Sat) segala sesuatu di seluruh alam raya. Diibaratkan Ia seperti emas di dalam berbagai perhiasan yang terbuat dari emas. Emas bisa dibentuk menjadi gelang atau kalung atau anting-anting, demikian pula alam raya ini sepertinya bermacam-ragam, namun sejatinya adalah Brahman—demikian pula dengan “diri” kita.

Veda juga menyebut Brahman sebagai Kesadaran (Cit) dan Kebahagiaan Sejati (Ānanda). Brahman meliputi seluruh alam raya dan “meresap” di dalamnya. “Īśāvāsyam idaṃ sarvam,” begitu deklarasi Veda. Bahkan, apa yang kita sebut “diriku” ini, kesadaran ini juga adalah Dia, “aham brahmāsmi”; engkau adalah Itu, “tat tvam asi”; dan seterusnya. Umat Hindu didorong untuk meningkatkan kesadarannya, yaitu dari kesadaran bahwa diriku ini hanya badan, suku, pikiran, atau ideologi/kepercayaan tertentu  meningkat menjadi kesadaran bahwa aku adalah Dia, dan Dia ada di dalam dirimu, dirinya, di dalam semua makhluk.

Mereka yang menyadarinya disebut resi, muni, awatara, dan sebagainya. Mereka semua bukanlah utusan Tuhan, mereka adalah enlightened beings yang telah menemukan kesejatian diri dan ingin berbagi penemuannya itu dengan yang lain. Saya dan Anda, kita semua suatu saat nanti—cepat atau lambat—akan sampai pada kesadaran ini. Jadi tidak ada monopoli atasnya. Jumlah resi, muni, awatara tidak terbatas—walaupun ada sosok-sosok utama yang akan dominan atau membawa misi khusus. Mereka bisa lahir dari masa ke masa.

Ya, benar ada kisah Sepuluh Awatara, dan Kalki adalah yang kesepuluh—sehingga para pendakwah-misionaris menyebutnya “yang terakhir”. Sesungguhnya Kalki dikatakan turun pada akhir masa Kali-yuga ini, namun bukan berarti Kali-yuga adalah masa terakhir. Ingat bahwa Hindu Dharma melihat waktu sebagai siklus. Setelah Kali-yuga roda akan kembali berputar ke yuga-yuga selanjutnya. Saat ini, kita masih ada di dalam Kali-yuga.

Di samping itu, saya belum pernah bertemu umat Hindu yang menunggu-nunggu kedatangan Kalki—sebagaimana menunggu-nunggu kedatangan seorang Mesiah atau Nabi. Lagi-lagi konsep-konsep ini “salah kamar”—bukan konsep Hindu.

2. Menurut suatu prediksi agama Hindu, kelahiran Kalki Avatar, akan terjadi di suatu semenanjung yang sekali lagi menurut agama Hindu adalah kawasan Arab.

Entah dari mana asalnya? Semenanjung? Tidak ada referensi atau rujukan apa pun di sini, hanya klaim.

Berdasarkan Bhagavata Purana—salah satu Purana utama—konon Kalki akan lahir di sebuah kota/daerah mistik bernama Shambala di pergunungan Himalaya. Nah, ada juga pendakwah-misionaris yang mengklaim bahwa Shambala mereka artikan sebagai ‘rumah kedamaian dan keselamatan’, yang menurut mereka—surprise surprise—sama maknanya dengan Makkah. Ha-ha-ha.

3. Dalam kitab-kitab kaum Hindu, nama ayah dan ibu Kalki Avatar yang diberikan kepada mereka masing-masing adalah Vishnubhagat dan Sumaani. Seandainya kita memeriksa makna nama-nama ini kita akan sampai kesimpulan yang menarik : Ambil Vishnubhagat= Vishnu (berarti Allah) + Bhagat (berarti hamba) = Allah + Abd (dalam bahasa Arab) = hamba Allah = Abdullah (dalam bahasa Arab) (nama dari ayah Muhammad); Sumaani = kedamaian atau tenangan = Aminah (dalam bahasa Arab) (ibu Nabi Muhammad).

Salah. Nama ayah Kalki yang disebutkan dalam Bhagavata Purana 1.3.25 dan Kalki Purana 2.4 adalah Viṣṇuyaśa yang berasal dari viṣṇu dan yaśa. Yaśa bukan berarti hamba atau abdi, tapi kemuliaan, keindahan, keagungan—demikian pula makna kata bhaga. Sedangkan nama ibunya adalah Sumati (Kalki Purana 2.4). Lagi-lagi, makna sumati tidak sama dengan aminah (Sanskerta memiliki kata-kata lain yang sepadan). Kata ini berasal dari: su + mati yang berarti ia yang memiliki pemikiran yang baik/mulia, pengasih. Tentu saja para pendakwah-misionaris punya 1001 cara untuk menghubung-hubungkannya. Kadang mereka ngotot harus akurat, di tempat lain mereka tidak merasa perlu akurasi. Suka-sukalah!

4. Dalam kitab-kitab agama Hindu, disebutkan bahwa makanan pokok adalah kurma dan minyak zaitun dan ia orang yang paling jujur dan setia di kawasan tersebut. Tanpa keraguan apapun Nabi Muhammad Saww dinyatakan memiliki kualitas-kualitas ini.

What the &$#@?!?

5. Dinyatakan dalam Veda (kitab suci agama Hindu) bahwa kelahiran Kalki Avatar terjadi pada suku terhormat. Secara sempurna ini hanya cocok pada bangsa Quraisy di mana Nabi Muhammad saww memilikinya.

Lagi-lagi klaim yang sangat luas, bisa dikenakan pada siapa saja.

6. Allah akan mengajar Kalki Avatar melalui utusan-Nya (malaikat) di sebuah gua. Allah mengajar Nabi Muhammad saww melalui malaikat-Nya, Jibril, di sebuah gua yang dikenal sebagai gua Hira.

Ngarang habis!

7. Allah akan membantu Kalki Avatar dengan seekor kuda yang berkecepatan tinggi untuk naik dan mengelilingi dunia dan tujuh langit. Indikasi kepada Buraaq (kuda) dan mi’raj (malam ketika Nabi menembus tujuh langit.

Dapat A+ untuk imajinasi!

8. Allah juga akan membantu Kalki Avatar dengan pertolongan ilahi. Ini khususnya terbukti dalam Perang Uhud.

Of course!

9. Laporan lain yang mempesonakan yang membicarakan tentang Kalki Avatar adalah bahwa ia akan dilahirkan pada tanggal 12 dari sebuah bulan. Sedangkan Nabi Muhammad Saww lahir pada 12 Rabiul Awwal.

Ini ada benarnya. Dalam Kalki Purana 2.15 disebutkan bahwa Kalki lahir para hari ke-12 suklapaksa bulan Vaishaka. Namun sistem penanggalan yang dipergunakan oleh bangsa Arab (lunar) berbeda dengan yang digunakan di Hindia (luni-solar).

10. Kalki Avatar adalah seorang penunggang kuda yang hebat dan seorang jago pedang. Penulis di sini menggambarkan perhatian kaum Hindu bahwa hari-hari kuda dan pedang sejati telah berlalu dan saat sekarang adalah senjata dan misil. Oleh karenanya, adalah bodoh pada sebagian orang yang masih mengharapkan Kalki Avatar, yang harus seorang penunggang yang hebat dan jagoan pedang untuk yang akan datang. Sebenarnya, kitab suci Alquran, memuat kualitas-kualitas dan tanda-tanda yang dinisbatkan kepada Kalki Avatar yang mencerminkan Nabi Muhammad Saww.

Detil kisah yang dicantumkan para pendakwah-misionaris berhenti sampai di sini. Padahal banyak hal lainnya yang dikisahkan dalam Kalki Purana. Kenapa? Ya, karena tidak sesuai dengan propaganda dan kebohongan yang sedang diracik. Misalnya, disebutkan Kalki memiliki tiga saudara laki-laki—lahir dari rahim ibunya, Sumati—bernama Kavi, Prājña, dan Sumantra. Viṣṇuyaśa hidup hingga Kalki dewasa—berbeda dengan Abdullah yang tidak sempat melihat putranya karena meninggal dalam perjalanan kembali ke Makkah.

Kalki juga digambarkan memperoleh pendidikan formal di Gurukula. Ia bisa membaca dan menulis—lagi-lagi berbeda dengan Nabi Muhammad. Kalki juga dididik oleh Paraśurāma yang memang salah satu dari orang-orang spesial yang diberikan umur sangat panjang. Masih banyak lagi hal-hal yang tidak sesuai dan nyata-nyata bertentangan antara kedua tokoh tersebut.

Jika hal ini disodorkan kepada para pendakwah-misionaris, mereka akan berkelit bahwa kitab-kitab Veda dan Purana sudah tidak murni lagi. Semua yang tidak cocok berarti telah diubah, dan semua yang cocok masih murni. Noor benar. Iman memang membuat orang menjadi buta berlapis-lapis. Pikirannya sudah terbiasa dengan sesuatu dan sulit sekali menerima hal dan sudut pandang yang berbeda. Fakta, data, dan informasi dimanipulasi tanpa merasa ada yang salah—semua sah-sah saja atas nama iman. Pernahkah mereka sesekali berpikir: Jangan-jangan selama ini dogmakulah yang salah?!

Tidak ada masalah bagi seorang Sanatani untuk menghormati para bijak dari semua tradisi. Veda bahkan mengajarkan untuk membuka diri: “Semoga segala pemikiran-pemikiran yang baik datang dari segala penjuru kepada kami.” Bangsa-bangsa bisa saling belajar dan memperkaya diri lewat interaksi. Yang tidak bisa diterima adalah kepicikan, pandangan yang sempit dan menyesakkan, yang menganggap diri paling benar, paling baik, anti-kritik, yang menghalalkan segala cara untuk memuaskan ego bahkan dengan mengingkari akal-budi dan kebenaran.

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply Mengurai Kebohongan Ramalan tentang Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Veda (Bagian 2) – Harimbawa November 27, 2018 at 7:56 AM

    […] (Bersambung… Klaim #3 dan #4) […]

  • Reply ajik KDN November 30, 2018 at 6:45 AM

    mantap…!!! lanjutkan

  • Leave a Reply

    %d bloggers like this: