Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Current Affairs, Seri Sanatana Dharma, Vedic Scriptures

Mengurai Kebohongan Ramalan tentang Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Veda (Bagian 1)

November 14, 2018

Saya pertama kali membaca artikel daring tentang hal ini ketika di SMA. Saat itu pengetahuan saya tentang kitab-kitab Veda dan ajaran Hindu Dharma masih sangat minim. Akses terhadap buku-buku yang terkait pun sangat terbatas. Karena tidak memahami sama sekali bahasa Sanskerta, saya harus puas dengan terjemahan yang, belakangan saya baru paham, tidak sepenuhnya tepat.

Veda adalah kitab tertua yang masih bertahan dan digunakan terus menerus oleh manusia selama lebih dari 5.000 tahun. Tidak seperti kitab-kitab lain, misalnya Taurat, Injil, dan Alquran, Veda bukan satu atau beberapa buku, namun bisa mengisi satu perpustakaan. Berbeda pula dengan kepercayaan agama-agama dari rumpun Abrahamik, Hindu Dharma bukanlah agama yang berlandaskan pada doktrin-doktrin yang harus diimani.

Salah satu doktrin yang dipegang kuat oleh umat Islam adalah bahwa Nabi Muhammad merupakan “penutup nabi-nabi” (QS 33:40) yang membawa pesan dan agama Tuhan yang “haq (sempurna kebenarannya) untuk dimenangkan-Nya atas semua agama” (QS 61:9). Alquran juga mengatakan bahwa kedatangan Nabi Muhammad telah diramalkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Doktrin-doktrin inilah yang kemudian memotivasi sebagian umat Islam untuk membuktikannya.

Bagi seorang Sanatani (pemeluk Sanatana Dharma) pemahaman yang demikian ini terasa aneh, dan jauh dari nilai-nilai spiritualitas. Seorang Sanatani tidak menyibukkan diri mencari-cari bukti dan pembenaran atas suatu dogma dan doktrin semacam ini karena hanya akan mengalihkan perhatiannya dari tujuan beragama, yaitu meraih kebebasan dari keterikatan dan ego (mokshaserta mencapai kebahagaiaan, kesejahteraan, kedamaian bukan hanya bagi dirinya, namun juga makhluk-makhluk lain (jagadhita).

istock-540095978
Tujuan beragama, bagi seorang Sanatani, adalah terbebas dari ego yang membuat kita mementingkan diri sendiri dan membuat “surga” di dunia ini.

Sebaliknya, meladeni klaim-klaim tersebut membuang-buang waktu kita yang berharga—karena itulah sebenarnya selama ini saya enggan memberi tanggapan. Di sisi lain, mereka yang percaya pada doktrin tersebut tidak sedang mencari kebenaran. Ketika mengkaji sloka dan mantra Veda, mereka tidak berminat memahami konteks dan isinya. Mereka hanya mau memuaskan nafsu dan egonya saja.

Beberapa kali saya sempat berdiskusi dan menjelaskan kesalahan serta kebohongan klaim-klaim tersebut, namun alih-alih menerima, meminta maaf, dan menghentikan penyebarannya, dengan angkuhnya mereka malah merasa telah membantu saya mendalami ajaran agama saya sendiri. “Kami cuma mengingatkan” dan itu “tidak ada salahnya”. Padahal yang mereka lakukan adalah fitnah dan pembohongan!

Mereka meperlakukan Veda seenaknya, maknanya “diperkosa” demi syahwatnya. Sloka-sloka dan mantra-mantra suci Veda dipotong-potong seenak hati mengikuti bentuk yang diinginkan. Kata-katanya dipelintir sedemikian rupa agar sesuai dengan narasinya. Kemudian semua itu dilemparkan kembali ke muka umat Hindu dengan sombongnya—seolah-olah umat Hindu sedemikian bodohnya sehingga tidak bisa melihat kebenaran.

Lucunya, di satu sisi mereka bilang tidak percaya pada Veda dan pesan-pesannya, namun di sisi lain mereka bisa menerima sepotong kecil bagiannya sedangkan sebagian besar lainnya dibuang atau diabaikan. Mereka tidak peduli bahwa konsep-konsep keagamaan mereka sebenarnya nggak nyambung dengan ajaran dan pandangan hidup Dharma. Perlu upaya “akrobatik” yang cukup besar untuk menghubung-hubungkan klaim-klaim tersebut.

Tulisan ini saya buat bukan untuk mereka—karena, sekali lagi, mereka tidak sedang mencari kebenaran—tetapi untuk umat Hindu, para Sanatani sendiri agar tidak tertipu kebohongan yang bertujuan untuk mengkonversi agama. Umat Hindu yang pemahamannya lemah akan dengan mudah menerima klaim-klaim yang seolah legit karena mengutip-ngutip Veda. Konversi semacam ini adalah bentuk kekerasan dan pembodohan sehingga harus dilawan lewat vidyā, pengetahuan yang benar.

Semoga bermanfaat. Auṁ Avighnamastu. Idaṃ na mama.

***

Klaim #1
Kitab-kitab Veda meramalkan kehadiran nabi terakhir yang akan menyempurnakan agama-agama.

Veda tidak mengenal istilah nabi dan konsep kenabian. Veda dan ajaran-ajaran Hindu disampaikan oleh para resi, muni, guru, vipra, avatara, dan sebagainya. Mereka ini adalah enlightened beings yang telah mencapai pencerahan dan lahir kembali dari masa ke masa untuk berbagi. Tidak ada istilah resi atau avatara terakhir. Bahkan, menurut Hindu tujuan Anda dan saya adalah mencapai tingkat kesadaran yang sama dengan mereka.

Avatara Kalki (akan saya jelaskan lebih spesifik dalam tulisan selanjutnya), yang konon akan lahir pada akhir zaman Kali, bukanlah penutup. Setelah Kali, zaman kembali bergulir menuju Kerta-yuga, dan avatara-avatara selanjutnya akan terus datang bila diperlukan. Umat Hindu juga tidak diajarkan menunggu-nunggu kedatangan Kalki, seolah ia akan membawa pesan terakhir Tuhan.

Tuhan, dalam ajaran Hindu, tidak terpisahkan dari diri kita. Ia ada di sekitar kita, dan di dalam diri kita. Kitab-kitab Veda mendeklarasikan bahwa “akulah Dia”, ahaṃ brahmāsmi!” Ketika hal ini mulai terlupakan, manusia menganggap dirinya tubuh fisik dan pikiran yang terpisah dari-Nya, kemudian mereka menjadi tamak dan bengis, maka avatara turun ke dunia untuk menegakkan kembali Dharma.

Kesadaran Jiwa seperti inilah yang harusnya diraih manusia sehingga ia terbangun dari ilusi Māyā. Berdasarkan pada kesadaran demikian, bagaimana mungkin Tuhan berhenti berkomunikasi sekian ratus tahun yang lalu?!? Pandangan seperti itu BUKAN ajaran Dharma! Tuhan dan akses kepada-Nya tidak bisa dimonopoli oleh siapa pun!

Pemahaman yang demikian sesungguhnya menyesatkan, menjauhkan kita dari-Nya. Bagaimana mungkin Ia Yang Tak Terbatas dibatasi dalam ruang dan waktu seperti itu?! Pandangan ini hanya akal-akalan untuk memonopoli kebenaran dan meraih kekuasaan. Ajaran ini akan semakin menina-bobokan kesadaran sehingga kita terus terjebak dalam permainan alam benda.

on-the-heights-roerich
Seorang Resi adalah ia yang telah melihat (dari √dṛś = melihat) bahwa segala sesuatu yang seolah terpisah-pisah ini sebenarnya satu.

Ajaran Islam (dan Kristen) memiliki ciri-ciri—meminjam istilah Rajiv Malhotra—history centric, yaitu kepercayaan bahwa Tuhan mengungkapan diri atau menyampaikan pesannya dalam suatu bentangan “sejarah”, pada suatu momen yang unik, pada nabi atau orang-orang tertentu, dan tidak bisa terulang kembali (‘Indra’s Net’, 2016). Hal ini mengakibatkan umatnya harus bergantung pada sesuatu di luar diri, misalnya kitab suci, lembaga keagamaan, dan seterusnya. Iman kepada “sejarah” ini menjadi sentral.

“Sejarah” inilah yang menjadi akar konflik yang mustahil didamaikan. Baik Islam maupun Kristen memiliki “sejarah” masing-masing yang bisa bertentangan satu sama lain. “Sejarah” memerlukan “bukti-bukti” yang bisa menyokong klaimnya. “Sejarah” ini pada akhirnya menuntut seseorang untuk percaya dan beriman—BUKAN mengalami sendiri, menemukan kembali ke-Tuhan-an. Inilah bedanya mereka dengan Hindu Dharma!

Sebaliknya, Hindu Dharma mendorong setiap individu untuk menemukan Realitas Kebenaran (Sat), mencapai Kesadaran (Cit), dan menggapai Kebahagiaan Sejati (Ānanda) yang tidak bergantung pada apa yang terjadi di masa lalu atau masa depan dalam bentangan “sejarah”. Yang terpenting adalah momen di sini, saat ini. Pencerahan kita tidak ada hubungannya dengan kelahiran, kehidupan, atau kematian orang lain.

Ajaran-ajaran para bijak, resi, muni, guru, avatara, dan sebagainya adalah telunjuk yang sedang menunjuk Bulan Pencerahan. Para resi dan avatara adalah masa depan kita. Karena itu Hindu Dharma tidak terlalu mementingkan “sejarah”, tidak menuntut manusia beriman kepada suatu kejadian di masa lalu. Kisah-kisah para bijak adalah sarana untuk membangkitkan kesadaran kita, bukan semata untuk diimani. Karena itu seorang Sanatani tidak menjadi dogmatis dan fanatik.

Seorang Sanatani boleh saja mempelajari kitab-kitab suci agama lain—mengambil yang baik dan membuang yang tidak lagi relevan. Seorang Sanatani bisa menghormati nabi-nabi dari tradisi berbeda, seperti Muhammad, Yesus, Musa, dan seterusnya, tanpa perlu meninggalkan ajaran Dharma. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh umat lain; penghargaan mereka dibatasi sekat-sekat dogma. Sesungguhnya kita harus bersyukur terlahir dalam tradisi Sanatana Dharma yang inklusif, pluralis, dan tidak mencari kemenangan atas agama-agama lainnya!

(Bersambung… Klaim #2)

 

 

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply Frans Priyo November 14, 2018 at 2:02 AM

    Bagus, dimana sy bisa mendapatkan artikel penuhnya

    • Reply Madé Harimbawa November 14, 2018 at 2:10 AM

      Di blog ini. Tunggu tulisan selanjutnya, ya (kira-kira ada 3-4 tulisan total).

      • Reply Frans Priyo November 14, 2018 at 2:31 AM

        Oks, terimakasih. Sy nasrani tp sy baca buku Bhagavad Gita sebagai referensi memahami kehidupan ini

        • Reply Madé Harimbawa November 14, 2018 at 2:34 AM

          Sama-sama. 🙏🏼

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: