brown wooden dock

BPHS 001 – Karmaphala dalam Jyotisha

Jyotisha atau yang umum dikenal sebagai Vedic Astrology tidak bisa dipisahkan dari filosofi ajaran para resi, baik yang tercantum di dalam berbagai teks Vaidika maupun tradisi-tradisi lisan yang disampaikan turun-temurun di dalam perguruan atau pasraman. Salah satu ajaran para resi ini adalah hukum karmaphala atau sering disebut hukum karma saja.

Hukum karmaphala ini sebenarnya sederhana: setiap tindakan, aksi, perbuatan (karma) pasti akan menghasilkan konsekuensi, hasil, atau buah (phala). Sebenarnya perspektif manusialah yang kemudian menyematkan kualitas pada setiap karma dan phala tersebut. Ada yang kita sebut perbuatan “baik”, ada yang “buruk” atau “jahat”. Demikian pula hasilnya, bisa manis atau pahit. Namun sebenarnya, jika kita memperluas perspektif kita, maka label-label demikian tidak lagi terlalu bermakna di tengah luasnya semesta raya. Walaupun demikian perspektif ini tetap penting buat manusia karena memberinya makna sekaligus arah.

Berbeda dengan astrologi yang dikenal umum yang berpusat atau memberi penekanan utama kepada berbagai aspek psikologis (kepribadian) maupun fisik seseorang, Jyotisha secara jelas melihat ilmu astrologi sebagai ilmu tentang karmaphala. Chart seseorang merupakan pola-karmaphalanya yang ia bawa dari kehidupan-kehidupan sebelumnya. Di dalam karmaphala terdapat takdir sekaligus kehendak-bebas. Kehidupan kita sekarang merupakan takdir atau konsekuensi dari akumulasi perbuatan sebelumnya. Namun pada saat yang sama, sekarang kita memiliki kebebasan bertindak (di dalam batasan konsekuensi tadi) yang buahnya pasti akan dirasakan kemudian.

Maharesi Parashara mengatakan:

“Ada banyak perwujudan (avatāra) Sang Paramatma di antaranya sebagai graha (planet-planet) untuk memberikan buah dari hasil perbuatan manusia. Dengan mengambil wujud-mulia sebagai graha, Ia menghancurkan kekuatan para daitya yang bertentangan dengan Dharma, serta memperkuat para dewa yang selalu selaras dengan Dharma. Dengan begitu Dharma berdiri tegak.”

Brihat Parashara Hora Shastra (BPHS) 2.3-4.

Sebelum kita melangkah lebih jauh menyelami ilmu astrologi yang diajarkan Maharesi Parashara, penting sekali untuk memahami sloka ini dengan baik. Hukum karmaphala merupakan hukum alam, bukan suatu dogma atau doktrin keagamaan semata. Karmaphala adalah proses alami yang mendasari berbagai peristiwa baik pada tingkat terkecil hingga yang paling besar–terlepas apakah manusia cukup pandai sehingga bisa memahaminya atau tidak. Hukum karmaphala juga tidak bekerja berdasarkan ingatan manusia.

Ada yang pernah mengatakan kepada saya bahwa karmaphala tidak adil, karena sering kali kita sudah tidak ingat apa yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga sekarang kita memetik hasil yang buruk. Menurutnya, keadilan adalah ketika sambil menerima konsekuensi tersebut, manusia juga mendapatkan penjelasan. Ini bukanlah cara kerja alam. Manusia bukanlah pusat semesta. Memori-sadar manusia juga sangat terbatas. Ada lebih banyak kejadian yang tidak kita ingat daripada yang kita ingat. Apa yang Anda makan tanggal 13 bulan lalu?

Walaupun kita tidak mengingatnya, konsekuensinya dirasakan badan bahkan mungkin hingga sekarang masih ada jejak-jejak nutrisi dari makan tersebut. Jika kita suka makan makanan berlemak, misalnya, maka badan kita akan menyimpan banyak lemak tersebut. Lama kelamaan, lemak tadi mengumpul dan suatu saat bisa membuat kita jatuh sakit–bahkan lama setelah kita sudah tidak mengingatnya lagi. Bahkan mungkin jika kita belakangan ini sudah bertobat dan mulai mengubah pola makan, konsekuensi dari perbuatan kita itu masih harus dibayar. Memori-sadar manusia bukanlah penentu!

Lalu bagaimana manusia bisa belajar (dari kesalahannya)? Kita harus mengamati dengan seksama proses-proses alam alias hidup berkesadaran dan belajar dari alam. Pandangan di atas berangkat dari kepercayaan bahwa sosok Tuhan yang berada di langit kesekian-lah yang memberikan manusia hadiah atau hukuman jika tidak patuh. Kata kuncinya di sini adalah kepatuhan! Sedangkan para resi menekankan kepada hukum-hukum alam. Ketika kita selaras dengan hukum-hukum alam tersebut kita mengembangkan ke-dewa-an di dalam diri. Dan sebaliknya, jika kita hidup hanya mementingkan kesenangan sesaat dan mengabaikan hukum-hukum alam, maka kita hidup bak daitya (raksasa).

Hidup yang selaras dengan hukum-hukum alam itulah Dharma. Konsekuensi yang terasa baik dan memuliakan kemanusiaan pastilah yang sejalan dengan Dharma. Konsekuensi pahit dan merendahkan kemanusiaan adalah Adharma. Astrologi memberikan manusia “mata batin” sehingga bisa memahami karmaphala masing-masing. Ada pola-pola karmaphala yang sadar atau tidak kita bawa ke dalam kehidupan sekarang. Ada pola-pola yang sudah selaras Dharma dan perlu diperkuat, ada pula pola-pola yang Adharma yang perlu ditinggalkan (seberapa pun kita sangat tertarik dan terikat kepadanya).

Astrologi memberikan manusia helicopter view sehingga ia bisa menganalisis dengan pandangan yang jernih. Setelah memahami ini, barulah kemudian kita bisa melakukan perubahan secara mandiri dan sadar–tidak menunggu-nunggu dipaksa oleh Semesta untuk berubah melalui berbagai peristiwa hidup yang menyakitkan.

108 Nama Surya

75ec56d428c8108072d6c4e37cf00f72-2

Berikut ini adalah Śrī Sūryāṣṭottaraśatanāmāvaliḥ atau 108 nama Surya:

[1]
ARUṆA — Oṁ Aruṇāya Namaḥ ||
Aruṇa = ia yang berwarna merah, atau merah-kecokelatan; warna Matahari terbit.

[2]
ŚARAṆYA — Oṁ Śaraṇyāya Namaḥ ||
Śaraṇya = sang pemberi perlindungan, pertolongan.

[3]
KARUṆĀ-RASA-SINDHU — Oṁ Karuṇā-rasa-sindhave Namaḥ ||
Karuṇā-rasa-sindhu = lautan (sindhu) inti-sari (rasa) kasih (karuṇā).

[4]
ASAMĀNABALA — Oṁ Asamānabalāya Namaḥ ||
Asamānabala = ia yang kekuatannya taktertandingi.

[5]
ĀRTARAKṢAKA — Oṁ Ārtarakṣakāya Namaḥ ||
Ārtarakṣaka = pelindung dari penderitaan, bencana.

[6]
ĀDITYA — Oṁ Ādityāya Namaḥ ||
Āditya = putra Aditi (tanpa-batas, tak-terbagi, ananta).

[7]
ĀDIBHŪTA — Oṁ Ādibhūtāya Namaḥ ||
Ādibhūta = ia yang mula-mula ada.

[8]
AKHILĀGAMAVEDIN — Oṁ Akhilāgamavedine Namaḥ ||
Akhilāgama-vedin = ia yang memahami seluruh pustaka suci keagamaan.

[9]
ACYUTA — Oṁ Acyutāya Namaḥ ||
Acyuta = ia yang takmenghilang, takmusnah.

[10]
AKHILAJÑA — Oṁ Akhilajñāya Namaḥ ||
Akhila-jña = ia yang mengetahui segalanya.

[11]
ANANTA — Oṁ Anantāya Namaḥ ||
Ananta = ia yang takterbatas.

[12]
INĀ — Oṁ Ināya Namaḥ ||
Inā = ia yang perkasa.

[13]
VIŚVARŪPA — Oṁ Viśvarūpāya Namaḥ ||
Viśvarūpa = ia yang mewujud dalam segalanya.

[14]
IJYA — Oṁ Ijyāya Namaḥ ||
Ijya = ia yang pantas dipuja.

[15]
INDRA — Oṁ Indrāya Namaḥ ||
Indra = pemimpin para dewa.

[16]
BHĀNU — Oṁ Bhānave Namaḥ ||
Bhānu = ia yang paling terang.

[17]
INDIRĀMANDIRĀPTA — Oṁ Indirāmandirāptāya Namaḥ ||
Indirā-mandirāpta = ia yang mencapai tempat Indira (Lakshmi) berada.

[18]
VANDANĪYA — Oṁ Vandanīyāya Namaḥ ||
Vandanīya = ia yang dipuja-puji dengan lantunan kidung.

[19]
ĪŚA — Oṁ Īśāya Namaḥ ||
Īśa = sang penguasa, tuan segalanya.

[20]
SUPRASANNA — Oṁ Suprasannāya Namaḥ ||
Suprasanna = ia yang murni, jernih, terang, anggun.

[21]
SUŚĪLA — Oṁ Suśīlāya Namaḥ ||
Suśīla = ia yang perilakunya mulia, berdisiplin.

[22]
Suvarcas — Oṁ Suvarcase Namaḥ ||
Suvarcas = ia yang penuh daya hidup, berapi-api, cemerlang.

[23]
VASUPRADA — Oṁ Vasupradāya Namaḥ ||
Vasuprada = sang pemberi kekayaan, sinar.

[24]
VASU — Oṁ Vasave Namaḥ ||
Vasu = sang dewa, ia yang mulia.

[25]
VĀSUDEVA — Oṁ Vāsudevāya Namaḥ ||
Vāsudeva = putra penguasa kekayaan/keindahan/kebahagiaan; nama lain Shri Krishna.

[26]
UJJVALA — Oṁ Ujjvalāya Namaḥ ||
Uj-jvala = ia yang berkobar-kobar.

[27]
UGRARŪPA — Oṁ Ugrarūpāya Namaḥ ||
Ugra-rūpa = ia yang wujud mengerikan.

[28]
ŪRDHVAGA — Oṁ Ūrdhvagāya Namaḥ ||
Ūrdhva-ga = ia yang bergerak naik.

[29]
VIVASVAT — Oṁ Vivasvate Namaḥ ||
Vivasvat = ia yang memancarkan cahaya.

[30]
UDYATKIRAṆAJĀLA — Oṁ Udyatkiraṇajālāya Namaḥ ||
Udyat-kiraṇa-jāla = ia yang memancarkan berkas-berkas sinar.

[31]
HṚṢĪKEŚA — Oṁ Hṛṣīkeśāya Namaḥ ||
Hṛṣīkeśa = penguasa seluruh indra.

[32]
ŪRJASVALA — Oṁ Ūrjasvalāya Namaḥ ||
Ūrjasvala = ia yang penuh daya, tenaga, kekuatan.

[33]
VĪRA — Oṁ Vīrāya Namaḥ ||
Vīra = ia yang pemberani; pahlawan.

[34]
NIRJARA — Oṁ Nirjarāya Namaḥ ||
Nirjara = ia yang tak pernah menua.

[35]
JAYA — Oṁ Jayāya Namaḥ ||
Jaya = pemenang; penakluk.

[36]
ŪRUDVAYĀBHĀVARŪPAYUKTASĀRATHĪ — Oṁ Ūrudvayā-bhāvarūpayukta-sārathaye Namaḥ ||
Ūrudvayā-bhāvarūpayukta-sārathī = ia keretanya dikendalikan oleh kusir (bernama Aruṇa) yang tidak memiliki paha (kaki).

[37]
ṚṢIVANDYA — Oṁ Ṛṣivandyāya Namaḥ ||
Ṛṣivandya = ia yang diagung-agungkan oleh para resi.

[38]
RUGGHANTṚ — Oṁ Rugghantre Namaḥ ||
Ruggh-hantṛ = ia yang mengenyahkan, memusnahkan penyakit/penderitaan (ruj).

[39]
ṚKṢACAKRACARA — Oṁ Ṛkṣacakracarāya Namaḥ ||
Ṛkṣa-cakra-cara = ia yang bergerak melintasi sabuk langit (bintang-bintang, zodiak).

[40]
ṚJUSVABHĀVACITTA — Oṁ Ṛjusvabhāvacittāya Namaḥ ||
Ṛju-svabhāva-citta = ia yang memiliki pembawaan citta yang lurus, jujur, tulus.

[41]
NITYASTUTYA — Oṁ Nityastutyāya Namaḥ ||
Nitya-stutya = ia yang patut dipuja selalu.

[42]
ṚKĀRAMĀTṚKĀVARṆARŪPA — Oṁ Ṛkāramātṛkāvarṇarūpāya Namaḥ ||
Ṛkāra-mātṛkāvarṇa-rūpa = ia yang berwujud sebagai aksara ‘ṛ’.

[43]
UJJVALATEJAS — Oṁ Ujjvalatejase Namaḥ ||
Ujjvala-tejas = ia yang berkobar-kobar dengan kuat.

[44]
ṚKṢĀDHINĀTHAMITRA — Oṁ Ṛkṣādhināthamitrāya Namaḥ ||
Ṛkṣa-adhinātha-mitra = sahabat penguasa bintang-bintang (Bulan).

[45]
PUṢKARĀKṢA — Oṁ Puṣkarākṣāya Namaḥ ||
Puṣkara = ia yang memiliki mata indah seperti teratai biru (puṣkara).

[46]
LUPTADANTA — Oṁ Luptadantāya Namaḥ ||
Luptadanta = ia yang gigi-giginya rontok, tanggal.

[47]
ŚĀNTA — Oṁ Śāntāya Namaḥ ||
Śānta = ia yang tenang, damai.

[48]
KĀNTIDA — Oṁ Kāntidāya Namaḥ ||
Kāntida = ia yang memberikan anugerah berupa keindahan, kecantikan.

[49]
GHANA — Oṁ Ghanāya Namaḥ ||
Ghana = sang penghantam, penghancur.

[50]
KANATKANAKABHŪṢA — Oṁ Kanatkanakabhūṣāya Namaḥ ||
Kanatkanaka-bhūṣa = ia yang pakaiannya berhias emas berkilauan.

[51]
KHADYOTA — Oṁ Khadyotāya Namaḥ ||
Khadyota = ia yang menyinari angkasa.

[52]
LŪNITĀKHILADAITYA — Oṁ Lūnitākhiladaityāya Namaḥ ||
Lūnitākhiladaitya = ia yang merobek, menebas semua raksasa (daitya).

[53]
SATYĀNANDASVARŪPIN — Oṁ Satyānandasvarūpiṇe Namaḥ ||
Satya-ānanda-svarūpin = ia yang berwujud kebenaran/kesejatian (satya) dan kebahagiaan (ānanda).

[54]
APAVARGAPRADA — Oṁ Apavargapradāya Namaḥ ||
Apavarga-prada = ia yang menganugrahkan kebebasan, ketuntasan, pelepasan.

[55]
ĀRTAŚARAṆYA — Oṁ Ārtaśaraṇyāya Namaḥ ||
Ārta-śaraṇya = ia yang melindungi mereka yang tertindas, menderita.

[56]
EKĀKIN — Oṁ Ekākine Namaḥ ||
Ekākin = ia yang sendirian.

[57]
BHAGAVAT — Oṁ Bhagavate Namaḥ ||
Bhagavat = ia yang memiliki kemuliaan.

[58]
SṚṢṬI-STHITYANTAKĀRIN — Oṁ Sṛṣṭi-sthityantakāriṇe Namaḥ ||
Sṛṣṭi-sthiti-anta-kārin = ia yang berperan menciptakan, memelihara, dan mengakhiri.

[59]
GUṆĀTMAN — Oṁ Guṇātmane Namaḥ ||
Guṇa-ātman = ia yang dirinya memiliki kualitas-kualitas baik.

[60]
GHṚṆIBHṚT — Oṁ Ghṛṇi-bhṛte Namaḥ ||
Ghṛṇi-bhṛt = ia yang memiliki/membawa cahaya.

[61]
BṚHAT — Oṁ Bṛhate Namaḥ ||
Bṛhat = ia yang besar.

[62]
BRAHMAN — Oṁ Brahmaṇe Namaḥ ||
Brahman = Tuhan; sumber mantra atau sabda suci.

[63]
AIŚVARYADA — Oṁ Aiśvaryadāya Namaḥ ||
Aiśvaryada = ia yang menganugerahkan kekuasaan.

[64]
ŚARVA — Oṁ Śarvāya Namaḥ ||
Śarva = ia yang membunuh/menghancurkan dengan panah/misil.

[65]
HARIDĀŚVA — Oṁ Haridaśvāya Namaḥ ||
Haridaśva = ia yang memiliki kuda berwarna kuning-kehijauan.

[66]
ŚAURĪ — Oṁ Śauraye Namaḥ ||
Śaurī = sang pahlawan; pemberani.

[67]
DAŚADIKṢAṂPRAKĀŚA — Oṁ Daśadikṣaṃ-prakāśāya Namaḥ ||
Daśa-dikṣaṃ-prakāśa = ia yang menyinari kesepuluh penjuru.

[68]
BHAKTAVAŚYA — Oṁ Bhaktavaśyāya Namaḥ ||
Bhakta-vaśya = ia yang mendengarkan dan memenuhi kebutuhan para bhakta-nya.

[69]
AUJASKARA — Oṁ Aujaskarāya Namaḥ ||
Aujas-kara = ia yang menghasilkan aujas (kekuatan, energi).

[70]
JAYIN — Oṁ Jayine Namaḥ ||
Jayin = sang pemenang.

[71]
JAGADĀNANDAHETU — Oṁ Jagadānandahetave Namaḥ ||
Jagad-ānanda-hetu = penyebab kebahagiaan di dunia/semesta raya.

[72]
JANMA-MṚTYU-JARĀVYĀDHI-VARJITA — Oṁ Janma-mṛtyu-jarā-vyādhi-varjitāya Namaḥ ||
Janma-mṛtyu-jarā-vyādhi-varjita = ia yang melampaui kelahiran, kematian, usia tua, dan penyakit.

[73]
UCCHASTHĀNA-SAMĀRŪḌHA-RATHASTHA — Oṁ Ucchasthāna-samārūḍha-rathasthāya Namaḥ ||
Ucchasthāna-samārūḍha-rathastha = ia yang naik di atas kereta yang melaju dengan teratur, mulus.

[74]
ASURĀRĪ — Oṁ Asurāraye Namaḥ ||
Asurārī = musuh para raksasa (asura).

[75]
KAMANĪYAKARA — Oṁ Kamanīyakarāya Namaḥ ||
Jayin = ia yang membuat (seseorang) menjadi menarik, indah, cantik/ganteng.

[76]
ABJAVALLABHA — Oṁ Abjavallabāye Namaḥ ||
Abja-vallabha = ia yang disukai oleh Bulan/Dhanvantari.

[77]
ANTARBAHIḤ PRAKĀŚA — Oṁ Antarbahiḥprakāśāya Namaḥ ||
Antar-bahiḥ prakāśa = ia yang bersinar baik di dalam maupun ke luar.

[78]
ACINTYA — Oṁ Acintyāya Namaḥ ||
Acintya = ia yang melampaui pikiran.

[79]
ĀTMARŪPIN — Oṁ Ātmarūpiṇe Namaḥ ||
Ātmarūpin = ia yang merupakan perwujudan Ātman (Sang Diri Sejati).

[80]
ACYUTA — Oṁ Acyutāya Namaḥ ||
Acyuta = ia yang tegar, teguh, tidak berubah.

[81]
AMAREŚA — Oṁ Amareśāya Namaḥ ||
Amareśa = penguasa makhluk hidup (mortals).

[82]
PARA JYOTIS — Oṁ Paramai Jyotiṣe Namaḥ ||
Para Jyotis = cahaya yang paling agung.

[83]
AHASKARA — Oṁ Ahaskarāya Namaḥ ||
Ahaskara = sang pembuat hari.

[84]
RAVI — Oṁ Ravaye Namaḥ ||
Acyuta = ia yang suaranya menggelegar.

[85]
HARI — Oṁ Haraye Namaḥ ||
Hari = ia yang menghilangkan dosa-kesalahan.

[86]
PARAMĀTMAN — Oṁ Paramātmane Namaḥ ||
Paramātman = diri tertinggi.

[87]
TARUṆA — Oṁ Taruṇāya Namaḥ ||
Taruṇa = ia yang selalu muda.

[88]
VAREṆYA — Oṁ Vareṇyāya Namaḥ ||
Vareṇya = ia yang paling indah, agung, diidamkan.

[89]
GRAHĀṆĀṂ PATI — Oṁ Grahāṇāṃ Pataye Namaḥ ||
Grahāṇāṃ Pati = penguasa planet-planet.

[90]
BHĀSKARA — Oṁ Bhāskarāya Namaḥ ||
Bhāskara = ia menghasilkan sinar, cahaya.

[91]
ĀDIMADHYĀNTARAHITA — Oṁ Ādimadhyāntarahitāya Namaḥ ||
Ādi-madhya-anta-rahita = ia sendirian pada awal mula, pertengahan, hingga akhir.

[92]
SAUKHYAPRADA — Oṁ Saukhyapradāya Namaḥ ||
Saukhya-prada = ia menganugerahkan kebahagiaan, suka cita.

[93]
SAKALAJAGATĀṂ PATI — Oṁ Sakalajagatāṃ Pataye Namaḥ ||
Sakalajagatāṃ Pati = penguasa seluruh jagat.

[94]
SŪRYA — Oṁ Sūryāya Namaḥ ||
Sūrya = ia yang perkasa, memiliki kekuatan yang luar biasa.

[95]
KAVI — Oṁ Kavaye Namaḥ ||
Bhāskara = ia yang bijak, cendekia; penyair.

[96]
NĀRĀYAṆA — Oṁ Nārāyaṇāya Namaḥ ||
Nārāyaṇa = ia yang didekati oleh manusia; ia yang mengapung di lautan kosmis.

[97]
PAREŚA — Oṁ Pareśāya Namaḥ ||
Pareśa = sang penguasa tertinggi.

[98]
TEJORŪPA — Oṁ Tejorūpāya Namaḥ ||
Tejorūpa = ia yang wujudnya berupa api, cahaya, energi.

[99]
HIRAṆYAGARBHA — Oṁ Hiraṇyagarbhāya Namaḥ ||
Hiraṇyagarbha = sumber semesta yang berkilau keemasan.

[100]
SAMPATKARA — Oṁ Sampatkarāya Namaḥ ||
Sampatkara = ia yang menganugerahkan kesuksesan.

[101]
AIṂ IṢṬĀRTHADA — Oṁ Aiṃ Iṣṭārthadāya Namaḥ ||
Aiṃ Iṣṭārthada = ia yang menganugerahkan segala hal yang diinginkan.

[102]
AṂ SUPRASANNA — Oṁ Aṃ Suprasannāya Namaḥ ||
Aṃ Suprasanna = ia yang bercahaya sangat kuat.

[103]
ŚRĪMAT — Oṁ Śrīmate Namaḥ ||
Śrīmat = ia yang sangat agung.

[104]
ŚREYAS — Oṁ Śreyase Namaḥ ||
Śreyas = ia yang menuju kepada kemuliaan.

[105]
SAUKHYADĀYIN — Oṁ Saukhyadāyine Namaḥ ||
Sampatkara = ia yang menganugerahkan kebahagiaan, suka cita.

[106]
DĪPTAMŪRTĪ — Oṁ Dīptamūrtaye Namaḥ ||
Dīpta-mūrtī = ia yang berwujud cahaya, kobaran energi yang dahsyat.

[107]
NIKHILĀGAMAVEDYA — Oṁ Nikhilāgamavedyāya Namaḥ ||
Nikhilāgamaveda = ia yang menguasai semua sastra dan kitab-kitab suci.

[108]
NITYĀNANDA — Oṁ Nityānandāya Namaḥ ||
Nityānanda = ia yang selalu dalam kebahagiaan.

 

Iti Śrī-Sūryāṣṭottaraśatanāmāvaliḥ Sampūrṇā.
Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ