Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
My Stories

Sunda dan Upasunda

May 2, 2018

Fronton_Cambodge_Musée_Guimet_9972

Waktunya mendongeng. Kisah ini diangkat dari khasanah Peradaban kita sendiri, dari tanah kita sendiri untuk menjadi pengingat. Nama kedua tokohnya bahkan sangat dekat dengan nama kepulauan kita di masa lalu…

Belasan-ribu tahun yang lalu hiduplah dua raksasa kakak-beradik bernama Sunda dan Upasunda. Awalan ‘upa-‘ dalam bahasa Sanskrit berarti ‘dekat, berada di samping atau di bawah’. Demikian, Upasunda, sang adik, tidak bisa jauh-jauh dari Sunda, sang kakak. Mereka berdua selalu kompak, saling dukung, dan tidak bisa dipisahkan.

By the way, sedikit tentang ‘raksasa’. Mendengar kata itu kita akan membayangkan makhluk besar, gondrong, melotot, dan bergigi taring. Raksasa tidak selalu harus demikian. Raksasa adalah penggambaran psikologis manusia yang hidup untuk mengejar kesenangan atau kekuasaan saja. Kegondrongan mereka ibarat kelekatan pikiran mereka pada benda-benda duniawi. Kemelototan mata mereka karena selalu sibuk mencari-cari kesempatan mengambil untung. Taring melambangkan ‘apetite’ yang tak kunjung habis. Raksasa disebut juga Asura—ia yang hidupnya tidak berirama, tidak selaras dengan semesta.

Sunda dan Upasunda masing-masing sangat kuat, tangkas menggunakan berbagai senjata, mahir dalam strategi perang, namun hati mereka juga keji dan picik. Berdua, mereka tak terkalahkan. Keraksasaan di dalam diri Sunda dan Upasunda membuat mereka berkeinginan menaklukkan dunia bersama, di bawah satu panji, satu bendera ‘hitam’. Suatu saat dengan motivasi seperti ini menggebu di dalam dada, mereka pergi bertapa ke pergunungan Vindhya.

Keduanya bertapa dengan sangat tekun selama bertahun-tahun. Semesta ini adil, siapa yang tekun—apapun motif yang melatarbelakangi—akan memperoleh hasil upayanya. Brahma, sang pencipta, pun muncul untuk memberikan anugerah kepada mereka. By the way, bagi leluhur kita, penciptaan adalah urusan dewa, urusan ‘biasa’, sedangkan Tuhan melampaui proses penciptaan dan benda-benda di semesta ini. “Apa yang kalian mau?” Ujar Brahma.

Dengan sigap Sunda dan Upasunda mengatakan, “Kami menginginkan sejata-senjata ampuh, kemampuan untuk membuat berbagai ilusi (untuk mengelabui musuh), dan terakhir kami ingin keabadian.”

Setelah dihitung-hitung, Brahma keberatan dengan permintaan terakhir. Bagaimana mungkin ia mengijinkan makhluknya untuk tidak bisa mati. “Bisa rusak seluruh tatanan semesta.” Menarik ditarik dari kisah ini adalah bahwa bisa saja seseorang memiliki senjata yang tiada tandingannya bahkan hingga merusak alam, tapi toh suatu saat ia pun akan mati, habis berganti dan alam bisa memulihkan diri dan diisi dengan ciptaan-ciptaan baru. Brahma menanggapi, “Permintaan kalian aku kabulkan, kecuali yang terakhir. Mintalah yang lain!”

Sunda dan Upasunda menjawab, “Baiklah, dewa. Tapi berkahilah agar kami tidak bisa mati oleh makhluk-makhluk di ketiga alammu, kematian kami hanya bisa terjadi atas satu sama lain.” Brahma senang mendengarkan permintaan mereka, dan mengabulkannya. Sunda dan Upasunda berpikir bahwa kekompakan mereka tidak akan pernah berakhir, mereka pikir ini adalah deal yang sangat menguntungkan! Dengan berkah ini mulailah mereka menguasai dunia. Negeri demi negeri jatuh ke tangan mereka. Begitu banyak korban berjatuhan, anak-anak, laki-laki, perempuan, para bijak, dan rakyat jelata.

Long story short, apa yang Sunda dan Upasunda pikir tidak akan pernah berakhir, menjadi titik lemah mereka. Demi menghentikan kerusakan yang mereka buat, Brahma mengirimkan seorang bidadari paling cantik yang ‘didesain’ oleh desainer surgawi, Vishvakarma, ke dunia untuk menemui Sunda dan Upasunda. Sang biadadari diberi nama Tilottama. Kecantikannya bahkan sempat membuat heboh surga-loka.

Sunda dan Upasunda yang tidak pernah berselisih sebelumnya, akhirnya berseteru memperebutkan Tilottama. Pada akhirnya, Sunda dan Upasunda mati di tangan satu sama lain. Kisah-kisah seperti ini bisa di-decode agar bisa kita ambil hikmahnya. Salah satunya adalah nama Tilottama sendiri yang berasal dari dua kata ‘tila’ dan ‘uttama’. Tila berarti biji wijen yang kecil itu, bahkan bisa diartikan sebagai minyaknya. Intinya, tila adalah sesuatu yang halus, dan kadang susah dideteksi. Tila adalah ego kita yang paling halus, yang paling utama.

Ego kadang bisa nampak dengan jelas, sehingga mudah kita taklukkan. Namun, ego pun bisa sangat halus, sehingga sulit dilihat dan bisa menjadi sumber kejatuhan siapapun, termasuk di antara mereka yang nampak kompak, berderap bersama, bahkan di antara mereka yang berpengetahuan, mereka yang ‘tahu’. Pada mulanya, ego Sunda dan Upasunda berjalan beriringan, sejalan. Namun, retak-retak rambut selalu ada selama ego masih ada: Aku dan milik-ku berhadap-hadapan dengan kamu dan milik-mu. Apalagi keduanya sama-sama ‘raksasa’, sama-sama ‘mengejar kenikmatan—baik duniawi maupun surgawi’. Semoga kita bisa terhindar dari kejatuhan ini.

“Mereka, para dungu, yang terikat pada kenikmatan indrawi dan kekuasaan duniawi, terbawa oleh janji-janji tentang surga dan sebagainya, sebab itu mereka tidak bisa meraih kesadaran-diri, yang dapat mengantar pada samādhi, keseimbangan, pencerahan.”Bhagavad Gita 2:44

“Di dalam diri seseorang yang senantiasa memikirkan objek-objek pemikat indera—timbullah ketertarikan dan keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari keterikatan dan ketertarikan, timbul keinginan untuk memilikinya. Dan dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).’

“Amarah membingungkan, pandangan dan pikiran seseorang menjadi berkabut; dalam keadaan bingung, terlupakan segala nilai-nilai luhur, dan lenyap pula kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan yang tidak tepat, sesuatu yang mulia dan sesuatu yang sekedar menyenangkan. Demikian seseorang tersesatkan oleh ulahnya sendiri.”Bhagavad Gita 2:62-63 (Swami Anand Krishna, ‘Bhagavad Gītā’, 2014).

Jaya Gurudev!

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: