Catatan Kecil untuk Kita yang Disebut Penghayat Kepercayaan

Menghadapi para pendakwah-misionaris (orang-orang yang getol mengkonversi orang lain) memang tidak mudah buat penganut agama minoritas, apalagi kelompok-kelompok di luar agama-agama yang diakui negara. Mengapa susah? Karena arena “pertandingannya” sudah sedemikian rupa timpang, menguntungkan kelompok-kelompok yang lebih besar. Ketimpangan ini terjadi karena narasi kelompok mayoritas lebih dominan memengaruhi cara pandang bahkan pola pikir masyarakat bahkan pemerintah, sehingga seolah-olah cara pandang tertentu benar, padahal belum tentu.

Saya sangat mendukung kelompok-kelompok agama/kepercayaan lokal yang ada di seluruh Indonesia untuk memperoleh pengakuan atas hak-hak serta penghormatan yang sama dengan saudara-saudaranya sebangsa. Mereka bukan obyek yang diperebutkan untuk dikonversi. Agama/kepercayaan mereka perlu diapresiasi dan diberikan ruang sebesar-besarnya untuk berkembang. Banyak yang bisa kita pelajari dari berbagai tradisi agama/kepercayaan lokal yang ada!

Para pendakwah-misionaris ini, mengaku atau tidak, memandang agama/kepercayaan lain lebih rendah, primitif, atau bahkan palsu, dan menyesatkan. Kedamaian dibangun di atas pondasi toleransi yang rapuh, yaitu toleransi yang mensyaratkan setiap kelompok hidup di dalam kotak-kotak sempitnya masing-masing. Aku di dalam kotakku. Kamu di dalam kotakmu. Kedengarannya masuk akal dan “indah”, bukan? Kenyataannya, kotak kelompok mayoritas selalu lebih lentur, mudah digeser dengan alasan apa yang dilakukannya itu wajar, bagian dari dakwah atau pewartaan yang memang diperintahkan di dalam ajaran agamanya. Bagaimana dengan kelompok minoritas? Ya, tahu sama tahu, lah.

Saya memperhatikan di dalam diskusi-diskusi di media sosial, kelompok penganut agama/kepercayaan lokal (singkatnya saya sebut ‘penghayat’ saja) sering berada dalam posisi lemah bukan hanya karena serangan dari luar, tapi juga ada permasalahan di dalam kelompok-kelompok tersebut. Di sini saya mencoba berbagi hasil observasi:

Pertama, belum cukup ada persatuan di antara kelompok-kelompok penghayat. Mereka hidup dalam lokalitas masing-masing. Inilah caraku, yang lain terserah! Padahal, kalau para penghayat mau saling bertemu, ada banyak sekali kesamaan-kesamaan yang mereka miliki. Pertemuan semacam ini penting dan bukan untuk mengikis keunikan masing-masing, tapi untuk memperluas cara pandang, membuat jejaring, dan bahkan untuk menggali lebih dalam atau menyegarkan agama/kepercayaannya sendiri. Kelompok agama-agama mayoritas umumnya bertumpu pada doktrin/dogma yang kaku, sedangkan agama/kepercayaan lokal bertumpu pada kebijaksanaan dan sifatnya jauh lebih luwes. Jangan sampai agama/kepercayaan lokal mengikuti irama kelompok mayoritas.

Kedua, banyak kelompok penghayat yang dalam upayanya menghidupkan kembali agama/kepercayaannya dengan meminjam istilah, ungkapan, atau kerangka agama-agama mayoritas. Hal ini membuat mereka sulit untuk memenangkan argumen. Misalnya, salah seorang penghayat yang saya amati kerap mengatakan bahwa di Nusantara ini juga pernah ada nabi-nabi—istilah yang diambil dari agama-agama Samawi—dan oleh karena itu ia berharap agama/kepercayaan lokal diakui sejajar oleh para pendakwah-misionaris. Ini adalah hal yang sulit, dan mustahil terjadi karena para pendakwah-misionaris ini memiliki kepercayaan bahwa semua nabi-nabi—termasuk yang lahir di Nusantara (kalau ada)—berujung pada nabi atau mesiah mereka. Jadi para pengikut nabi-nabi dari Nusantara ya harus tunduk pada mereka! Ini kan namanya “bunuh diri”. Padahal, kalau digali lebih dalam, agama/kepercayaan lokal tidak memiliki konsep kenabian (yang sifatnya top-down), namun memiliki tradisi orang suci yang tercerahkan (yang bottom-up) sehingga tidak perlu ngikut dan menjadi domatis, tapi menekankan pada praktik dan pengalaman pribadi.

Ketiga, para penghayat menganggap tujuan akhir mereka adalah konservasi (mempertahankan segala sesuatu yang mereka warisi), bahkan sampai pada taraf membela nilai-nilai yang sudah tidak lagi relevan dan perlu penyegaran. Mungkin karena sudah terlalu lama bermain defensif, para penghayat lupa bahwa sebenarnya keluwesan mereka adalah kekuatan dan nilai lebih. Nilai-nilai yang diadopsi dari luar, jika perlu, harusnya in their own terms, tidak didikte oleh agama/kepercayaan lain. Tujuan akhirnya, menurut saya, bukan konservasi, tapi hal-hal yang diajarkan oleh leluhur, misalnya hidup harmonis dengan sesama dan alam sekitar, atau meraih tingkat kesucian yang membebaskannya dari keterikatan, atau sesederhana meraih kebahagiaan sejati, dan lain sebagainya.

Keempat, kita harus selalu waspada tidak terjatuh dalam lubang yang sama: lubang dogma. Dogma di sini bukan hanya sekedar dokumen atau kitab suci, tetapi juga dogma lain yang sama-sama memenjara, misalnya ras/kesukuan. Kita jangan mau membatasi dan dibatasi bahwa agama/kepercayaan kita dikaitkan dengan ras Austronesia, dan sebagainya atau dari zaman ini atau itu. Agama/kepercayaan kita adalah suatu yang hidup, kitab kita terus-menerus membaru dan tidak haram “ditulis”-ulang.

Saya yakin di masa depan, seiring dengan makin banyaknya pendalaman dan penelitian, dan kegagalan agama-agama mayoritas untuk menghadirkan kehidupan yang tata tentrem kerta raharja, agama/kepercayaan yang berakar dari Bumi Pertiwi namun bersifat universal karena berangkat dari pengalaman manusia (bukan dogma/doktrin) dan mengapresiasi berbagai perbedaan jalan menuju tujuan yang sama (bukan dimonopoli oleh cara tertentu) akan kembali dan tumbuh subur, tak hanya di Nusantara, namun juga di seluruh belahan dunia. Saya melihat kesadaran itu tengah bermekaran. Semoga. Rahayu.

Sunda dan Upasunda

Fronton_Cambodge_Musée_Guimet_9972

Waktunya mendongeng. Kisah ini diangkat dari khasanah Peradaban kita sendiri, dari tanah kita sendiri untuk menjadi pengingat. Nama kedua tokohnya bahkan sangat dekat dengan nama kepulauan kita di masa lalu…

Belasan-ribu tahun yang lalu hiduplah dua raksasa kakak-beradik bernama Sunda dan Upasunda. Awalan ‘upa-‘ dalam bahasa Sanskrit berarti ‘dekat, berada di samping atau di bawah’. Demikian, Upasunda, sang adik, tidak bisa jauh-jauh dari Sunda, sang kakak. Mereka berdua selalu kompak, saling dukung, dan tidak bisa dipisahkan.

By the way, sedikit tentang ‘raksasa’. Mendengar kata itu kita akan membayangkan makhluk besar, gondrong, melotot, dan bergigi taring. Raksasa tidak selalu harus demikian. Raksasa adalah penggambaran psikologis manusia yang hidup untuk mengejar kesenangan atau kekuasaan saja. Kegondrongan mereka ibarat kelekatan pikiran mereka pada benda-benda duniawi. Kemelototan mata mereka karena selalu sibuk mencari-cari kesempatan mengambil untung. Taring melambangkan ‘apetite’ yang tak kunjung habis. Raksasa disebut juga Asura—ia yang hidupnya tidak berirama, tidak selaras dengan semesta.

Sunda dan Upasunda masing-masing sangat kuat, tangkas menggunakan berbagai senjata, mahir dalam strategi perang, namun hati mereka juga keji dan picik. Berdua, mereka tak terkalahkan. Keraksasaan di dalam diri Sunda dan Upasunda membuat mereka berkeinginan menaklukkan dunia bersama, di bawah satu panji, satu bendera ‘hitam’. Suatu saat dengan motivasi seperti ini menggebu di dalam dada, mereka pergi bertapa ke pergunungan Vindhya.

Keduanya bertapa dengan sangat tekun selama bertahun-tahun. Semesta ini adil, siapa yang tekun—apapun motif yang melatarbelakangi—akan memperoleh hasil upayanya. Brahma, sang pencipta, pun muncul untuk memberikan anugerah kepada mereka. By the way, bagi leluhur kita, penciptaan adalah urusan dewa, urusan ‘biasa’, sedangkan Tuhan melampaui proses penciptaan dan benda-benda di semesta ini. “Apa yang kalian mau?” Ujar Brahma.

Dengan sigap Sunda dan Upasunda mengatakan, “Kami menginginkan sejata-senjata ampuh, kemampuan untuk membuat berbagai ilusi (untuk mengelabui musuh), dan terakhir kami ingin keabadian.”

Setelah dihitung-hitung, Brahma keberatan dengan permintaan terakhir. Bagaimana mungkin ia mengijinkan makhluknya untuk tidak bisa mati. “Bisa rusak seluruh tatanan semesta.” Menarik ditarik dari kisah ini adalah bahwa bisa saja seseorang memiliki senjata yang tiada tandingannya bahkan hingga merusak alam, tapi toh suatu saat ia pun akan mati, habis berganti dan alam bisa memulihkan diri dan diisi dengan ciptaan-ciptaan baru. Brahma menanggapi, “Permintaan kalian aku kabulkan, kecuali yang terakhir. Mintalah yang lain!”

Sunda dan Upasunda menjawab, “Baiklah, dewa. Tapi berkahilah agar kami tidak bisa mati oleh makhluk-makhluk di ketiga alammu, kematian kami hanya bisa terjadi atas satu sama lain.” Brahma senang mendengarkan permintaan mereka, dan mengabulkannya. Sunda dan Upasunda berpikir bahwa kekompakan mereka tidak akan pernah berakhir, mereka pikir ini adalah deal yang sangat menguntungkan! Dengan berkah ini mulailah mereka menguasai dunia. Negeri demi negeri jatuh ke tangan mereka. Begitu banyak korban berjatuhan, anak-anak, laki-laki, perempuan, para bijak, dan rakyat jelata.

Long story short, apa yang Sunda dan Upasunda pikir tidak akan pernah berakhir, menjadi titik lemah mereka. Demi menghentikan kerusakan yang mereka buat, Brahma mengirimkan seorang bidadari paling cantik yang ‘didesain’ oleh desainer surgawi, Vishvakarma, ke dunia untuk menemui Sunda dan Upasunda. Sang biadadari diberi nama Tilottama. Kecantikannya bahkan sempat membuat heboh surga-loka.

Sunda dan Upasunda yang tidak pernah berselisih sebelumnya, akhirnya berseteru memperebutkan Tilottama. Pada akhirnya, Sunda dan Upasunda mati di tangan satu sama lain. Kisah-kisah seperti ini bisa di-decode agar bisa kita ambil hikmahnya. Salah satunya adalah nama Tilottama sendiri yang berasal dari dua kata ‘tila’ dan ‘uttama’. Tila berarti biji wijen yang kecil itu, bahkan bisa diartikan sebagai minyaknya. Intinya, tila adalah sesuatu yang halus, dan kadang susah dideteksi. Tila adalah ego kita yang paling halus, yang paling utama.

Ego kadang bisa nampak dengan jelas, sehingga mudah kita taklukkan. Namun, ego pun bisa sangat halus, sehingga sulit dilihat dan bisa menjadi sumber kejatuhan siapapun, termasuk di antara mereka yang nampak kompak, berderap bersama, bahkan di antara mereka yang berpengetahuan, mereka yang ‘tahu’. Pada mulanya, ego Sunda dan Upasunda berjalan beriringan, sejalan. Namun, retak-retak rambut selalu ada selama ego masih ada: Aku dan milik-ku berhadap-hadapan dengan kamu dan milik-mu. Apalagi keduanya sama-sama ‘raksasa’, sama-sama ‘mengejar kenikmatan—baik duniawi maupun surgawi’. Semoga kita bisa terhindar dari kejatuhan ini.

“Mereka, para dungu, yang terikat pada kenikmatan indrawi dan kekuasaan duniawi, terbawa oleh janji-janji tentang surga dan sebagainya, sebab itu mereka tidak bisa meraih kesadaran-diri, yang dapat mengantar pada samādhi, keseimbangan, pencerahan.”Bhagavad Gita 2:44

“Di dalam diri seseorang yang senantiasa memikirkan objek-objek pemikat indera—timbullah ketertarikan dan keterikatan pada objek-objek di luar itu. Dari keterikatan dan ketertarikan, timbul keinginan untuk memilikinya. Dan dari keinginan, timbullah amarah (ketika keinginan tidak terpenuhi).’

“Amarah membingungkan, pandangan dan pikiran seseorang menjadi berkabut; dalam keadaan bingung, terlupakan segala nilai-nilai luhur, dan lenyap pula kemampuan untuk memilah antara yang tepat dan yang tidak tepat, sesuatu yang mulia dan sesuatu yang sekedar menyenangkan. Demikian seseorang tersesatkan oleh ulahnya sendiri.”Bhagavad Gita 2:62-63 (Swami Anand Krishna, ‘Bhagavad Gītā’, 2014).

Jaya Gurudev!

Apakah Semua Agama Sama? — Perspektif Hindu Dharma

Tumbuh dalam keluarga dan masyarakat yang beragam, saya sering mendengar: “Semua agama itu sama. Sama-sama mengajarkan kebaikan.” Petuah tersebut mengajarkan kepada anak-anak bahwa agama-agama bukanlah untuk dipertentangkan. Walaupun berbeda, toh setiap agama mengajarkan hal yang sama: kebaikan.

Beranjak dewasa di tengah zaman deras arus informasi, saya semakin sering mendengar: “Walaupun sama-sama mengajarkan kebaikan, agama-agama itu berbeda.” Jika dulu aspek universalnya yang ditonjolkan, kini perbedaannya digarisbawahi. Tentu saja: umat muslim beribadah di masjid, sedangkan yang kristen ke gereja, sedangkan yang hindu ke pura, dan umat buddha ke wihara.

Belum lagi soal-soal yang lain: pembawa risalah, kitab suci, teologi, dan seterusnya. Dalam terang informasi, semua agama tampak jelas perbedaannya. Kedua petuah di atas sama-sama memiliki nilai kebenaran: perbedaan itu ada, demikian persamaannya. Yang menjadi soal adalah bagaimana praktiknya dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika saya tahu Kamu berjalan di ‘jalan’ yang salah, haruskah aku diam?” Demikian pertanyaan yang muncul dalam suatu diskusi lintas agama dulu di kampus. Buat seorang hindu yang tinggal di luar Bali seperti saya, pertanyaan ini familier sekaligus asing. Familier karena pertanyaan seperti ini sering saya terima dalam berbagai varian, baik dari umat muslim maupun kristen/katolik. Intinya: ada jalan (agama) yang benar—yaitu jalanku—dan ada jalan yang salah/sesat—jalanmu.

Pertanyaan ini terasa asing karena agama Hindu tidak mengedepankan pemilahan seperti ini. Bahkan di dalam Bhagavad Gita (BG) dikatakan bahwa pada jangka panjang, semua makhluk akan mencapai ‘titik’ yang sama, terlepas dari apa kepercayaannya saat ini (BG 4.11). Ya, pada jangka pendek kita bisa ‘salah jalan’, tapi pada jangka panjang—karena dorongan jiwa (dalam pengertian Hindu Dharma, bukan pengertian umum)—semua akan sampai kepada-Nya.

Hindu Dharma mengenal proses kelahiran kembali (reinkarnasi). Perjalanan setiap jiwa mencapai Tuhan butuh jutaan bahkan milyaran tahun; sang jiwa perlu lahir, hidup, mati, lahir lagi, dan seterusnya, berkali-kali. Satu masa kehidupan manusia selama 60–70-an tahun, termasuk jangka pendek dibandingkan dengan proses evolusi jiwa. Dalam satu masa kehidupan, apa yang dipercayai seseorang dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya sebelum ini.

‘Gumpalan’ pikiran dan perasaan yang membungkus sang jiwa—termasuk keinginan, harapan, dan pemahaman tentang diri serta lingkungannya—menjadi bahan dasar di dalam kelahirannya saat ini. Kepercayaan seseorang selaras dengan sifat dasarnya masing-masing; ia adalah apa yang dipercayainya (BG 17.3). Sifat dasar alam tadi juga menentukan di dalam keluarga dan tradisi kepercayaan/agama seperti apa sang jiwa dilahirkan.

Secara umum, Hindu Dharma menggolongkan sifat dasar alam menjadi tiga, yang disebut Tri Guna, yang terdiri dari Sattva, Rajas, dan Tamas. Setiap orang memiliki racikan Guna yang khas, yang ditentukan oleh pengalaman sang jiwa dari masa-masa kehidupan yang lalu. Setiap anak terlahir unik; ia lahir bukan sebagai kertas kosong. Ketiga sifat ini adalah rantai yang ‘menjerat’ sang jiwa, atau tirai yang mengelabui pandangan kita.

Sifat-sifat ketiga Guna. Sumber: explorevedanta.com

Pada dasarnya, semua jiwa di dunia ini sedang tersesat. Ia lupa kesejatian dirinya yang sebenarnya adalah Brahman Yang Tidak Terbatas. Tat tvam asi, Itu-lah engkau, Itu-lah dirimu yang sejati. Semua jalan yang mengingatkan kita pada kesejatian ini, adalah jalan yang lurus/benar. Sedangkan jalan yang membuat kita lupa sehingga menganggap diri sebagai badan, pikiran, dan perasaan—yang terbuat dari materi-kebendaan dan memiliki tiga sifat itu—adalah jalan yang salah/sesat.

Oleh karena itu, Hindu Dharma hanya mengakui satu jalan yang benar. Walaupun demikian, cara yang ditempuh, model/maket yang digunakan untuk menyibak ‘tirai kebodohan’ tersebut bisa bermacam-macam, tidak tunggal. Bahkan, setiap orang akan menempuh jalan yang unik karena ia akan selalu berangkat dari racikan Tri Guna yang telah membentuk tubuh, pikiran, dan perasaannya.

BG 17.4 misalnya mencontohkan bahwa mereka yang dominan sifat Sattva-nya akan memiliki kepercayaan yang selaras dengan alam. Mereka akan menghormati dan menjaga alam di sekitarnya, misalnya dengan tidak mengorbankan nyawa binatang (atau manusia lain) untuk mencapai tujuannya. Sedangkan ia yang dominan sifat Rajas-nya akan menempuh cara apapun supaya keinginannya dikabulkan, termasuk menyakiti/menipu/menindas makhluk lain.

Mereka yang dominan sifat Tamas-nya, akan memercayai segala sesuatu secara membabi buta—termasuk kepercayaan-kepercayaan yang sudah usang dan tidak lagi relevan. Tri Guna juga akan memengaruhi jenis-jenis makanan yang disukai, cara beribadah, cara bederma dan beramal, teologi, dan sebagainya. Sattva lebih baik daripada Rajas. Rajas lebih baik daripada Tamas. Namun di atas itu semua, yang terbaik adalah Kesadaran Jiwa.

Orang-orang yang memiliki corak Guna yang mirip akan berkumpul dan membentuk Sraddha (kepercayaan, agama) masing-masing. Bahkan di dalam satu tradisi keagamaan yang sama bisa muncul puluhan bahkan ratusan sub-kelompok yang memiliki interpretasi, cara pandang, pola pikir, dan perilaku yang berbeda-beda. Lingkungan juga sangat berpengaruh, misalnya mereka yang hidup di daerah yang tandus akan menjadi lebih keras dan kaku bila dibandingkan dengan mereka yang hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi.

Berdasarkan sifat-sifat dasar kita itu pula lah kita ‘membentuk’, memproyeksikan Tuhan. Kita me-manusia-kan Tuhan mengikuti pengalaman kita: Tuhan itu pencipta sebagaimana seorang tukang kayu menciptakan kursi, Tuhan itu pemarah, Tuhan itu penuh kasih sayang, Tuhan membela tim sepak bola kesayangan kita, Tuhan itu mencintai kita dan membenci yang lain, Tuhan itu begini, Tuhan itu begitu. Tanpa kita sadari kita memberikan Tuhan bentuk: nama dan rupa sesuai dengan diri kita masing-masing.

Ada agama-agama yang jujur mengakuinya. Ada pula yang perlu menutup-nutupinya, supaya umatnya yang masih mudah ‘goyah’ punya pegangan yang pasti. Di dalam tradisi Hindu Dharma dikenal istilah ishta devata, yaitu umat Hindu dengan sengaja memilih nama dan rupa Tuhan yang paling cocok dengan perkembangan spiritualnya. Ia bisa memilih dari berbagai nama dan rupa yang ada sebagai dewa dan dewi, atau sekelompok dewa-dewi, atau ‘perwujudan’-Nya yang abstrak. Silakan saja.

Inilah alasan mengapa Hindu Dharma menjadi agama yang paling toleran, bahkan bisa mengapresiasi dan menghormati agama-agama lain. Perbedaan-perbedaan yang ada tidak dipandang sebagai sesuatu yang melekat dan menjadi identitas yang tidak bisa berubah. Semakin berkembang kesadaran seseorang, maka pikiran dan perasaannya pun akan ikut berubah. Dalam kelahirannya selanjutnya, jika seseorang mau memperbaiki diri, maka ia akan memiliki racikan Tri Guna yang lebih baik.

IMG-20140529-WA0004

Hindu Dharma memiliki tradisi penghormatan kepada para suci, resi, awatara, yaitu orang-orang yang telah mencapai tingkat kesadaran jiwa yang lebih tinggi. Kebenaran “dicapai” lewat penemuan pribadi, bukan semata iman yang buta.

Demikian seterusnya, sang jiwa berevolusi hingga ia menyadari kesejatian dan keilahian/kedewataan dirinya—yang pasti dicapai semua jiwa pada waktunya. Perubahan sejati harus berasal dari dalam diri, dan tidak bisa dipaksakan. Betul, bahwa tidak semua agama sama. Ada yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat kebendaan Tamas dan Rajas. Agama-agama dari kelompok ini cenderung mengedepankan iman yang kaku terhadap sesuatu/seseorang, Pokoknya percaya kepada si Anu, Kamu pasti selamat! Lakukan saja apa yang tertulis dalam kitab suci dan kumpulkan terus poin pahala.”

Sah-sah saja, bila memang yang dihadapi adalah umat yang masih Tamasik dan Rajasik. Mereka masih perlu iming-iming dan dilibatkan dalam permainan. Gamification dibutuhkan untuk membuat mereka melakukan kebaikan. Mereka masih belum hidup berkesadaran. Mereka yang sudah menyadari bahwa kebaikan adalah sesuatu yang mulia, mereka telah naik kelas dan masuk dalam kepercayaan yang bersifat Sattva. Kesadaran mereka sudah mulai berkembang.

Menyadari hal ini, bagaimana bisa umat Hindu Dharma mengatakan yang satu sesat, dan yang lain benar. Anak-anak TK belum bisa diajari tentang advance knowledge, seperti fisika kuantum. Mereka masih perlu banyak bermain-main. Ketika ia SD, barulah ia belajar A untuk Apel, B untuk Burung. Anak-anak di tingkat yang lebih tinggi sudah tidak memerlukan itu lagi. Lain di SMP, lain pula ketika ia SMA.

Saat menjadi mahasiswa, ia baru belajar mandiri. Ia mulai sadar bahwa bangun pagi baik untuk dirinya sendiri, tanpa perlu dipaksa atau diberi iming-iming ‘hadiah’. Bahasa kita tidak bisa sama menghadapi orang-orang yang berbeda tingkat kesadarannya. Demikian pula dengan agama dan kepercayaan yang ada, kita tidak bisa memaksa, menuntut perubahan yang radikal dalam jangka pendek.

Tapi tidak berarti bahwa kita cuek saja. Motivasi kita berbagi kesadaran hendaknya adalah kasih. Untuk itu, kita semua perlu membuka diri terhadap segala pemikiran/gagasan yang mulia. Bukan sembarang pemikiran/gagasan, tapi pemikiran/gagasan yang membuat kita bebas dari kepalsuan (ilusi kebendaan) dan cara pandang yang sempit (picik), serta pemikiran/gagasan yang mencerahkan.

Ā no bhadrāḥ kratavo yantu viśvato’dabdhāso aparītāsa udbhidaḥ (Rigveda 1.81.1a)

Semoga segala pemikiran/gagasan yang mulia datang dari segala penjuru kepada kita semua—bebas dari kepalsuan dan kepicikan, serta cemerlang.

Vivekananda 1

Sekian.

Renungan: Tentang Jiwa

Pagi ini saya membaca Yoga Vasishtha (6.1.55). Di sana Begawan Vasishtha mengisahkan percakapan antara Shri Krishna dan Arjuna. Shri Krishna menjelaskan tentang hakikat Jiwa (diri yang sejati):

“Jiwa (jīva, Sanskerta.) tinggal di dalam jaring-jaring yang dibentuk dari kelima unsur alam yang menyusun badan (ruang, udara, api, air, dan tanah), dari pikiran, serta budi. Sepanjang hidup, Jiwa tersebut “diseret-seret” oleh sifat-sifat bawaan (yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman di masa lalu, keinginan terpendam, ingatan, dan sebagainya). Demikian, Sang Jiwa terpenjara di dalam badan.

“Seiring waktu, badan pun menua, dan pada akhirnya Jiwa meninggalkan badan seperti sari yang keluar dari perasan daun. Jiwa membawa serta pengalaman dan pikiran, meninggalkan tubuhnya yang lama dan melanjutkan perjalanannya. Jiwa pergi seperti wewangian menguap di udara. (Dalam kondisi itu) Jiwa dibungkus oleh vāsanā, yaitu sisa-sisa pengalamannya selama masih berbadan. Ditinggalkan Jiwa, badan pun teronggok mati.

“Ke mana pun pergi, segala sesuatu yang dilihat oleh Jiwa—yang pada saat itu berwujud sebagai prāṇa, energi—merupakan proyeksi dari vāsanā-nya (bahkan ketika Jiwa tersebut lahir kembali dalam badan yang baru). Vāsanā ini tidak bisa dihilangkan kecuali dengan upaya yang kuat dan terus-menerus. Kalaupun gunung-gunung telah hancur menjadi debu, dan dunia ini mengalami pralaya, janganlah meninggalkan upaya ini. Bahkan, surga dan neraka pun hanya proyeksi dari vāsanā.

“Vāsanā lahir dari ketidaktahuan dan kebodohan, dan hanya akan sirna bilamana cahaya pengetahuan sejati tentang hakikat Jiwa muncul. Yang kita pahami selama ini sebagai jiwa sebenarnya baru vāsanā ini (bukan Sang Jiwa yang Sejati), yaitu hanya gugusan pikiran serta perasaan yang sesungguhnya tidak nyata. Ia yang ketika masih hidup berhasil melepaskan diri dari kendali vāsanā-nya disebut telah mencapai kebebasan (moksha, Sanskerta). Sedangkan mereka yang masih berada dalam cengkraman vāsanā, hidup dalam penjara keterikatan betapa pun cendekianya mereka.”

Inilah esensi ajaran Hindu Dharma, yaitu dharma penduduk Peradaban Sindhu, Hindu, Hindia, India, Indo, Intu, Shintu, yang mana kita adalah bagiannya. Bagi seorang Hindu, surga bukanlah tujuan akhir. Bahkan surga dipandang sebagai kelanjutan dari nafsu dan keinginan kita yang belum tuntas, sedangkan neraka hanyalah cerminan rasa penyesalan. Tidak ada “tiket emas” mencapai Kebahagiaan Sejati yang bisa ditebus dengan beribadah sekian kali, melainkan untuk menggapainya perlu upaya yang kuat dan terus-menerus melepaskan diri dari vāsanā. Sekian.

Memahami Reinkarnasi

Mungkin Anda pernah bertanya-tanya mengapa Anda di lahirkan di dalam keluarga ini? Mengapa ada yang dilahirkan dengan anggota badan yang tidak sesempurna yang lain? Mengapa Anda menyukai sesuatu hal dan membenci hal lain? Mengapa Anda merasakan dorongan emosi yang kuat terhadap seseorang atau terhadap sesuatu (benda, barang, keadaan, dsb.)? Kadang, walaupun baru pertama kali bertemu, Anda sudah muncul perasaan yang kuat terhadap seseorang—entah itu suka atau benci. Bukankah sekarang telah diterima luas, bahwa anak-anak lahir bukan seperti selembar kertas putih-polos, tapi mereka terlahir dengan corak dan kekhasan yang unik? Dari mana asalnya?

***

Bicara tentang reinkarnasi kita memasuki wilayah “percaya tidak percaya”. Bagi yang percaya, reinkarnasi adalah kenyataan sebagaimana makhluk hidup bernafas, atau matahari yang terbit dari ufuk timur setiap pagi. Bagi yang tidak, mereka akan menganggapnya sebagai celotehan yang tidak berdasar (baca: tidak sesuai dengan iman di dalam kitab suci mereka). Ada juga orang-orang yang di tengah-tengah: antara percaya dan tidak. Mereka ini mungkin merasakan sendiri dari pengalaman hidup mereka seperti di atas, namun terbentur sekat-sekat yang dibuat masyarakat.

Bagi seorang Hindu seperti saya, reinkarnasi diajarkan di sekolah namun hanya sekedar sebagai hapalan. Tidak lebih dari itu. Konsekuensinya tidak lebih dari sebatas spekulasi dan guyon: “eh, jangan-jangan saya dulu begini atau begitu”; pemahaman tentang reinkarnasi belum menjadi suatu hal yang dapat mentransformasi diri. Sebabnya adalah tidak tersedianya secara luas lembaga-lembaga spiritual (padepokan-padepokan atau ashram) yang memahami seni meditasi dan berbagai pengetahuan spiritual lainnya yang bersumber dari ajaran Veda. Pendidikan agama pada masa sekarang masih bertumpu pada cara pendidikan sekuler ala barat di sekolah-sekolah formal.

Sebagaimana proses-proses alami yang tidak memerlukan iman dan kepercayaan manusia untuk terjadi, demikian pula proses reinkarnasi—setidaknya bagi mereka yang percaya. Anda tidak perlu mendeklarasikan diri percaya kepadanya sebelum proses tersebut bisa Anda alami. Ia tidak sama dengan kepercayaan tertentu yang hanya membolehkan seseorang masuk ke dalam surga jika ia percaya surga itu ada—akibatnya dia harus masuk lewat pintu lainnya menuju neraka. Sucks, hey! Reinkarnasi terjadi begitu saja terlepas dari apapun agama yang Anda anut atau seberapa pun derajat keimanan Anda pada proses ini, sebagaimana matahari tidak butuh ijin kita untuk terbit dan terbenam setiap hari.

Walaupun demikian, menyadari proses reinkarnasi akan sangat membantu perjalanan spiritual Anda saat ini dan nanti. Saya menebalkan bagian “perjalanan spiritual” karena tidak semua orang mengambil jalan ini, dan tidak ada paksaan juga, kok. Bagi yang masih senang bermain-main di TK Dunia ini, ya memang tidak “perlu” memahami proses reinkarnasi. Mereka hanya perlu menjalani peran mereka masing-masing dengan baik: lahir, dewasa, bekerja, berkeluarga, menua, lalu meninggalkan dunia untuk kembali lagi bermain-main dengan orang-orang yang sama, kadang di bagian bumi yang ini, kadang di bagian bumi yang lain. Bagi mereka, sudah cukup pelajaran menjadi warga dunia yang baik; fokus saja pada satu masa kehidupan, yaitu yang sekarang berdasarkan hukum-hukum keagamaan yang ada yang berbasis reward and punishment. Inilah yang disebut sebagai Pravṛtti Marga. Sampai suatu ketika proses ini makin menjenuhkan, dan mereka pun siap “naik kelas” dan mulai menapaki Nivṛtti Marga, jalan spiritual.

Karena memperhatikan kebutuhan audiens yang dihadapi, pemahaman tentang reinkarnasi tidak selalu muncul dalam semua tradisi keagamaan. Kadang hanya di dalam inner circle tertentu saja hal ini dibicarakan, sedangkan untuk khalayak luas reinkarnasi tidak dibahas. Toh, jika memang sudah waktunya mereka yang sudah siap akan mencarinya sendiri. Di antara beberapa tradisi keagamaan yang membahasnya, tradisi Vedik yang berkembang di wilayah Peradaban Sindhu/Indus/Indo/Hindu/Hindia (yang mana Indo-nesia adalah bagian darinya) mungkin yang paling lengkap mengulas soal reinkarnasi. Mau tidak mau, untuk menjelaskan proses ini, saya harus mengutip sumber-sumber langsung dari tradisi ini.

Untuk memahami tentang reinkarnasi kita harus memahami dulu siapa diri kita. Diri kita, self, atau ātman di dalam bhs. Sansekerta secara sederhana dapat dikatakan terdiri dari dua bagian: (1) diri yang tidak berubah, tetap, dan (2) diri yang berubah-ubah. Untuk lebih mudahnya, diri yang tidak berubah ini disebut jīvātman (Sans. jīva ātman; jīva atau jiwa berasal dari akar kata jī atau jīv yang berarti (selalu) hidup, menang). Sedangkan diri yang ke dua—yang bisa berubah-ubah—tersusun dari gumpalan atau gugusan pikiran, perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman hidup, harapan, keinginan, ingatan, imajinasi, suka dan duka, dst. yang disebut manas, atau mind.

Sesungguhnya, jīvātman inilah yang disebut sebagai diri yang sejati. Yang menarik, jīvātman-ku dan jīvātman-mu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ātman yang lebih tinggi/besar lagi, yang disebut Puruṣa, yang juga hanyalah bagian dari Parama-Ātman. Swami Anand Krishna di dalam bukunya, Soul Awarenss (2016), secara apik mengumpamakan Paramātman, puruṣa, dan jīvātman seperti matahari, cahaya matahari yang menerangi satu kampung, dan cahaya matahari di dalam satu rumah. Ketiganya sebenarnya satu dan tidak terpisahkan. Walaupun demikian, “identitas” ini terpendam dan terlupakan oleh kita. Kita lebih sering mengasosiasikan diri dengan yang ke-2, dengan manas dan tubuh fisik—yang “membungkus” manas—saja.

Identifikasi diri yang salah ini lah (sebagai manas yang terus berubah) yang menyebabkan jīvātman “lahir” lagi dan lagi. Manas—menurut Veda—masih dipandang sebagai bagian dari alam kebendaan (sebagaimana tubuh kita), walaupun lebih halus dan tak kasat mata. Karena masih berupa kebendaan, baik tubuh maupun manas mengalami evolusi. Manas yang lebih “advance” akan berusaha mencari badan yang sesuai—atau istilah kininya: kompatibel. Bila antara software dan hardware ini tidak sesuai, maka berbagai persoalan dapat muncul, dan sistem-nya dapat dengan cepat mengalami crash.

The soul, endowed with life-breath and fast-speed goes out and the dead body is left behind in the house. The immortal soul, hitherto living in the mortal body, keeps on moving from life to life by it’s own nature. (30)

He who was brought to life in body does not know of it. He who sees it, is (now) concealed from it. It is hemmed in the womb of the mother, is subjected to many births and finally merges into the eternity. (32)

—Rig Veda 1.164.30 dan 32.

One, who is the first (life) does actions unto dharma or righteous dictates, on that account he obtains good bodies in the (subsequent) life. That soul, after leaving the first, enters into the (next) yoni or womb. There, having been blessed with true divine speech, he enjoys.

—Atharva Veda 5.1.2. 

(diterjemahkan oleh Swami Satya Prakash Saraswati dan Satyakam Vidyalankar, 2011, DAV Publication).

Kalau demikian, mengapa kita tidak ingat kehidupan-kehidupan kita yang lalu? Well, jangankan kehidupan kita puluhan atau ratusan tahun yang lalu, lha wong apa yang kita lakukan 10 menit, 10 jam, atau 10 tahun yang lalu saja kita tidak ingat persis. Semuanya tergantung dari seberapa kuat pengalaman-pengalaman tersebut membekas, seberapa dalam ia tertimbun di bawah berbagai “sampah manas” yang kita kumpulkan setiap saat, dan lama waktu yang kita lewati di antara kematian dan kelahiran kembali.

Dalam hal ini, lama atau cepatnya proses kelahiran kembali salah satunya dipengaruhi oleh pelepasan manas dari tubuh lamanya. Selama tubuh masih ada dan belum sepenuhnya habis terurai, jiwa yang manas-nya menanggung “beban” keinginan, harapan, dsb. masih bisa mondar-mandir, atau merasakan surga yang penuh kebahagiaan atau neraka yang penuh penderitaan, kemudian kembali lagi. Biasanya jiwa yang cepat meninggalkan tubuh lamanya karena telah dikremasi akan lebih cepat melanjutkan “perjalanannnya”, sehingga apabila ia menemukan “wadah” baru, bekas-bekas dari kehidupan sebelumnya masih relatif lebih jelas tersisa.

Mereka yang tubuh fisiknya lebih cepat hancur (misalnya dikremasi) akan memiliki keuntungan; ditambah apabila ia lahir di dalam lingkungan yang memahami seluk-beluk reinkarnasi dan memiliki tradisi spiritual yang kuat, jiwa-jiwa tersebut akan lebih mudah mengingat apa yang masih belum tuntas, termasuk kelemahan dan kekuatan apa saja yang diperolehnya sepanjang perjalanan jiwanya. Ia, maupun orangtua, dan lingkungannya pun bisa mendesain proses perkembangan jiwanya secara unik. Demikian, proses perkembangan jiwa dapat berlangsung lebih cepat hingga pada suatu ketika identitas sejati sang jiwa teringat kembali dan ia pun mencapai kebebasan sejati atau mokṣa.

Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi. (27)

Wahai Bhārata (Arjuna) makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata, tidak berwujud; dan berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Sebab itu, apa yang mesti disesali? (28)

Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran. Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya. (29)

Dia—Jiwa yang menghidupi badan sekian makhluk adalah Tak Termusnakan untuk selamanya. Sebab itu wahai Bhārata kau tidak perlu berduka untuk siapa pun juga. (30)

(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa), dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapi pertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia daripada pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan. (31)

—Bhagavad Gita Bab 2. (diterjemahkan oleh Swami Anand Krishna di dalam “Bhagavad Gita bagi Orang Modern”, 2017, Gramedia Pustaka Utama).

Soma

Saya pernah berkunjung sebagai tenaga bantu di salah satu sekolah di daerah yang jauh dari kebisingan kota. Desa Aramati namanya. Penduduk desa ini hampir semuanya hidup dari hasil bumi yang memang melimpah. Penduduk desa Aramati sering membutuhkan orang-orang dari desa sebelahnya, desa Rai, yang mayoritas penduduknya pandai berdagang—sehingga mereka bisa mengangkut hasil bumi Aramati ke kota terdekat.

Penduduk kedua desa memahami saling ketergantungan di antaranya, namun cekcok bisnis tidak jarang terjadi. Beberapa penduduk Aramati menilai orang-orang Rai tidak jujur, dan sering mengambil untung terlalu banyak. Sedangkan beberapa orang Rai sering mengatakan bahwa warga desa tetangganya itu pemalas karena terlalu terbuai dengan kesuburan tanahnya. Tidak semuanya demikian; hubungan mereka memang begitu: love-hate, cinta-cinta benci. Bahkan sebenarnya warga kedua kampung telah lama saling menikah, namun itu tidak membuat saling curiga di dalam diri mereka hilang begitu saja.

Ada dua sekolah di desa Aramati; dan sekolah di mana saya bekerja waktu itu bisa dikatakan sekolah negeri terbaik di sana. Hanya mereka yang kaya dan pandai yang boleh duduk di bangkunya. Anak-anak pejabat desa dan pemuka agama bersekolah di sana. Kebanyakan yang bersekolah di sekolah itu adalah putra-putri Aramati, namun sesekali memang ada warga desa di sekitarnya yang bisa masuk ke sana. Tahun di mana saya bekerja ada seorang anak desa Rai yang bersekolah di sana. Namanya Soma.

Soma terlihat pendiam dan tidak banyak temannya. Namun dibalik sikapnya itu, saya bisa melihat bahwa dia tekun dalam belajar, jujur, dan punya sifat pelindung. Sepertinya sikap Soma yang pendiam diakibatkan karena ia bukan berasal dari desa Aramati. Soma dan kedua orang tuanya tinggal di pinggiran desa Rai, sehingga sekolah itulah yang lebih dekat dari rumahnya. Saya pernah diceritakan oleh salah seorang guru di sana, bahwa pihak sekolah awalnya keberatan Soma bersekolah di sana. Tapi karena prestasinya, dan kedekatan keluarganya dengan seorang tetua desa Aramati, maka Soma diperbolehkan masuk.

Sejak awal, Soma dijauhi teman-teman sekelasnya. Seringkali saya mendengar anak-anak Aramati melempar ledekan kepada Soma. Sebagai wali kelasnya, saya juga pernah suatu hari mendapat laporan bahwa ada lebam di pipi Soma sepulang sekolah, yang ketika saya tanya apa sebabnya, ia bilang terjatuh ketika main bola. Saya tidak melanjutkan pertanyaan saya kepadanya; saya tahu dia hanya ingin pulang segera ke rumahnya. Saya juga tahu persis bahwa Soma selalu menghabiskan waktu istirahat di kelas atau perpustakaan—di mana ia bisa dibiarkan tenang tanpa diganggu.

Saya mengagumi kekuatan anak itu. Walaupun dicecar dan dimaki kawan-kawannya, ia tetap datang ke sekolah dan daya belajarnya tidak surut. Malah mungkin bisa dikatakan bahwa cemoohan teman-temannya adalah pemicu bagi Soma untuk maju.

Bulan demi bulan berlalu, di akhir Semester 1, Soma mendapatkan rangking pertama di kelas, dan kedua di sekolah. Ketika diumumkan demikian, tidak ada siswa atau guru yang mengucapkan selamat kepadanya. Bahkan ia dicemooh, dan difitnah curang dihadapannya. Semua tuduhan itu tidak terbukti. Sebelum pulang, saya memberi Soma sekotak pensil warna sebagai hadiah yang diterimanya dengan senang. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Giat belajar ya, Soma.” Begitu balasku. Ia lalu berjalan menuntun sepeda tuanya pergi keluar gerbang sekolah.

Semester 2 berjalan beberapa minggu, dan saya melihat Soma mulai berubah. Ia mulai cepat marah ketika diledek, bahkan sesekali ia membalas dengan kata-kata kasar. Hal ini membuat teman-temannya semakin sering mengerjai Soma. Sampai pada suatu hari saya dipanggil oleh salah seorang guru yang bilang bahwa Soma telah memukul Nayaka, anak pemuka agama di desa Aramati yang sangat berpengaruh dan penyumbang dana terbesar ke sekolah itu. Gigi Nayaka tanggal, dan darah mengalir dari mulutnya.

Nayaka dan teman-temannya mengadu bahwa Soma-lah yang bersalah memulai perkelahian. Pakaian mereka kotor dan ada yang robek. Saya lalu menengok kepada Soma yang duduk meringkuk—sama-sama kumalnya. Matanya basah. “Apa benar begitu, Soma?”

“Iya, Pak.” Jawabnya singkat.

“Kenapa Kamu memukul Nayaka?”

Soma terdiam. Nayaka dan teman-temannya tersenyum kecil—bahagia karena Soma telah mengaku dan yakin ia pasti akan dihukum.

“… mereka menghina kedua orang tua saya, Pak. Mereka bilang saya anak tukang tipu, penjahat.”

“Benar begitu?”

“Tapi, Pak, salah dia sendiri yang sering bicara kasar dan kampungan kepada kami… padahal apa salah kami?” Sahut salah seorang teman Nayaka.

“Bapak sering melihat kalian mengejek Soma sejak hari pertama Soma menginjakkan kakinya di sekolah kita ini.” Merekalah yang telah mengubah Soma. Bully telah membuat Soma keras dan kasar, dan saat itu saya menyesal tidak mengambil langkah tegas.

“Kalian semua salah.. karena menghina Soma, dan kamu Soma.. juga bersalah karena memulai perkelahian. Kalian harus dihukum karena kesalahan kalian.”

***

Besoknya, saya dipanggil Kepala Sekolah. Beliau menanyakan apa yang terjadi. Setelah saya jelaskan, ia menyuruh saya kembali mengajar.

Pagi itu saya tidak melihat Nayaka dan teman-temannya. Soma di sana, duduk seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa. Saya diberi tahu bahwa orang tua Nayaka tidak suka anaknya dihina dengan diberi hukuman. “Hanya dia yang berhak menjatuhkan hukuman pada anaknya,” begitu kata seorang guru di sela-sela jam makan siang. Saya melihat seseorang dengan pakaian keagamaan keluar dari ruang Kepala Sekolah. Mereka terlihat akrab, saling berjabat tangan dan berpelukan. Saya dengar Kepala Sekolah bilang, “Akan saya bereskan segera, Pak. Terima kasih atas dukungan Bapak selama ini.”

Perasaan saya tidak enak. Orang yang tidak saya kenal ini kemudian berbalik.. kami sempat saling pandang beberapa detik.. kemudian ia pergi meninggalkan sekolah. Bel penanda jam pelajaran berbunyi. Saya pun kembali ke kelas.

***

Sore itu, sebelum pulang saya diminta bertemu dengan Kepala Sekolah. Seperti yang sudah saya duga, ia meminta saya mengundurkan diri. “Kembalilah ke kota. Masih banyak pekerjaan bagus di kota besar. Akan lebih baik buat karirmu, kalau Kamu mengajar di sana. Lagi pula guru tetap yang posisinya kamu isi sementara ini sudah datang. Dia akan mulai segera.”

Saya berkelit. Saya masih ingin mengajar di sana. Rasanya, saya belum tuntas menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Tapi Kepala Sekolah bergeming. Tidak ada jalan lain. Saya pun pulang, dan beberapa hari kemudian saya bersiap-siap pulang ke kota.

Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan mampir ke rumah kedua orang tua Soma yang kebetulan saya lalui. Dari penjaga di sana saya tahu bahwa Soma sudah tidak lagi bersekolah di sana. Soma pindah sekolah ke salah satu sekolah Rai—walaupun agak jauh. Soma dikeluarkan dari sekolah karena berkata-kata kasar dan melukai temannya.

Mungkin ini yang terbaik bagi Soma, bagi anak-anak yang lain, buat Kepala Sekolah dan guru-guru: tidak ada lagi bully, tidak ada lagi perkelahian karena tidak ada perbedaan, semua tenang. Soma mungkin bisa menyelesaikan pedidikannya dengan lebih lancar dan bisa mengembalikan lagi sifat aslinya yang tekun, jujur, dan pelindung. Soma juga bisa mengambil peran-peran penting di dalam masyarakat Rai nantinya karena dari sanalah ia berasal. Mungkin ini win-win?

Dalam perjalanan, saya masih memikirkan apa yang terjadi. Desa Aramati dan desa Rai memiliki potensi yang bila dimanfaatkan dengan baik, dan saling bekerja sama, akan mampu mensejahterakan semua… tapi, sayangnya semua sudah puas dalam “kedamaian” semu yang diciptakan demi berlanjutnya sistem yang membuat keduanya akan terus menjadi desa yang jauh dari terang cahaya kota.

Sebelum Berdoa

Seseorang bertanya, “Tuan, apakah jalan menuju-Nya?”

Sri Ramakrishna menjawab, “Cinta-kasih kepada-Nya, dan doa.”

Si penanya belum juga puas, “Jadi yang mana, Tuan, cinta-kasih atau doa?”

“Pertama-tama cinta-kasih, baru kemudian doa.” Setelah menjawab demikian, Sri Ramakrishna bernyanyi dan larut di dalam pujian kepada Hyang Tunggal.

—The Gospel of Sri Ramakrishna, Bab 10, 22 April 1883.

Hari-hari ini citra agama dan keagamaan telah semakin tenggelam di dalam kebencian, amarah, dan nafsu mengejar kekuasaan. Semakin seseorang belajar tentang agama, sepertinya semakin ia jauh dari pengertian, kasih-sayang terhadap mereka yang berbeda. Kemudahan berkomunikasi malah mengotak-kotakkan kita, memisah-misahkan kita. Apa yang salah? Rasanya kita sedang krisis Cinta-Kasih.

Penenkanan agama pada dimensi ritual dan hukum-hukum keagamaan, menutupi dimensi-dimensi lainnya yang lebih tinggi. Dimensi ritual-dan-hukum adalah dimensi terendah, kulit terluar yang “membungkus” agama dan keagamaan. Setiap umat beragama menjalani ritus dan mengikuti kaidah-kaidah hukum tertentu, yang bisa dimaknai secara berbeda antara satu orang dengan yang lain, dan seringkali dipengaruhi oleh konteksnya. Pada lapisan kulit ini keberagamaan tidak bisa dihindarkan, sebagaimana setiap kulit buah mangga yang berasal dari satu pohon yang sama tidak ada yang persis sama.

Kalau kita tidak masuk ke dalam dimensi yang lebih tinggi, menembus lapisan kulit dan masuk ke dalam esensi agama dan keagamaan, permasalahan kita tidak akan kelar-kelar. Selama ini kita sering beribadah tanpa menumbuhkan terlebih dahulu Cinta-Kasih. Pendidikan kita tidak menyadari pentingnya menumbuhkan rasa Cinta dan Kasih di dalam diri anak-anak—diasumsikan mereka bisa belajar sendiri dari kedua orang tuanya. Kemudian pendidikan didesain hanya untuk meneruskan informasi dan mengajari skill yang memang dibutuhkan, tapi tidak cukup.

Di dalam buku Narada Bhakti Sutra, Swami Anand Krishna mengajarkan bahwa langkah pertama yang dibutuhkan sebelum kita bisa menyemai benih Cinta-Kasih, kita perlu terlebih dahulu membabat “ilalang-dan-hama nafsu” yang menyerap nutrisi dari dalam tanah dan dari tanaman Cinta-Kasih yang akan tumbuh nantinya. Pembabatan ini membutuhkan cara tersendiri, tidak bisa dengan hanya sekedar menahan lapar-dan-haus selama sekian jam sehari, tapi mengumbar makanan ketika berbuka. Pembabatan ini membutuhkan upaya yang intens dan terus-menerus.

Di sinilah pentingnya Meditasi. Latihan-latihan meditasi diharapkan nantinya mencapai hidup yang meditatif. Baru di tanah subur kehidupan-meditatif ini, benih-benih Cinta-Kasih bisa tumbuh. Cinta-Kasih ini bersumber dari dalam diri kita sendiri; jika sulit merasakannya, maka kita bisa menggunakan “alat bantu” di luar diri. Di sinilah “peran” Tuhan. Mungkin Anda tidak setuju, “Tuhan kok diper-”alat“?!” Silakan saja, namun bagi umat Hindu, “aham brahmaasmi”, Sang Aku yang sejati dan Tuhan Hyang Maha Luas sesungguhnya satu. Seperti kata Swamiji, “Bila sulit menyadari-Nya di dalam diri, anggaplah Dia berada di luar diri.”

Inilah mengapa umat Hindu seolah-olah memiliki sekian banyak Tuhan: berwujud manusia, super-human, binatang, setengah-binatang setengah-manusia, dan sebagainya. Semua wujud-wujud tadi adalah alat bantu untuk mengarahkan kesadarannya kepada sesuatu yang lebih tinggi daripada nafsunya, dan sekaligus menumbuhkan Cinta-Kasih di dalam diri. Tidak hanya itu, umat Hindu menggunakan pula lagu-lagu pujian, tembang-tembang, syair, puisi yang indah untuk memperbesar Cinta-Kasih kepada-Nya. Luapan Cinta-Kasih itu tidak bisa tidak meluas kepada semua manusia, semua makhluk karena Ia yang bersemayam di dalam diriku, juga ada di dalam dirimu. “Tat tvam asi. Inilah satu-satunya “obat” permasalahan kita.

Pengetahuan agama TIDAK cukup. Malahan apabila hawa nafsu masih cukup kuat, maka agama bisa dipakai sebagai alat untuk mencari pembenaran demi terpuaskannya nafsu—yang sesungguhnya tidak pernah puas itu. Inilah yang terjadi saat ini: permasalahan semakin rumit, seolah tanpa ujung, masalah dibalas masalah baru.. semuanya terjadi karena kita telah melupakan dimensi agama dan keagamaan yang lebih tinggi dan mulia, sehingga kemuliaan pun terlupakan sudah, dan “kulit” kita kira “daging”. Ah, what a waste of time and energy!

Ngelmu

Bos saya dulu unik. Dia termasuk yang paling senior di tempat saya kerja, 22 tahun lebih dia di sana; dia tahu semua seluk beluknya. Bagi bocah ingusan seperti saya, beliau adalah “enigma”. Setiap kali bertanya, dia selalu bertanya, “Do you want a short, or long answer?” Hampir setiap kali saya hanya menginginkan yang “short-short” saja. Bukan cuma karena tidak banyak waktu, tapi jujur saja, seringkali saya “ora mudheng”, gagal paham karena sedemikian luasnya pemahaman dia sehingga interkoneksi segala sesuatu nampak jelas baginya—dan tidak bisa dia abaikan begitu saja. Pengetahuannya tidak membuatnya angkuh, sebaliknya, semakin tahu dia, semakin rendah hati.

Di sisi lain, ada seorang teman yang terobsesi dengan KISS, “keep it simple, stupid!” Setiap kali ada kesempatan untuk memakai “mantra” itu kepada orang lain, langsung dia pakai. Awalnya, saya suka itu! Bahkan saya perkuat kesukaan saya itu dengan kutipan dari Albert Einstein, yang lebih-kurang bilang, “kalau Kamu bisa membuat sederhana sesuatu yang kompleks, maka itu tanda kejeniusan.” Hebat! “Saya seorang jenius,” begitu kira-kira ego saya menggelembung.

Waktu berlalu dan saya mendapat kesempatan untuk mengurusi hal-hal yang lebih kompleks dan melibatkan koordinasi multi-departemen. Semakin hari, semakin terasa betapa saya “kehilangan” kejeniusan. Saya terbenam dalam kompleksitas. Sampai suatu hari saya menyadari ilusi ego: bahwa saya belum mengenal penyederhanaan, tapi baru peng-gampang-an. Saya sudah meremehkan kompleksitas. Saya lupa bahwa konon Einstein juga pernah bilang, “everything should be as simple as it can be, but not simpler”.

Saya rasa itulah yang salah di dalam pendidikan kita saat ini. Saat ini saya malah lebih setuju dengan cara “ngelmu” Mbah-mbah dulu—tentu dengan citarasa modern dan non-klenik. Untuk “ngelmu” kadang seseorang diberi teks, kadang tidak. Kalaupun iya, teksnya pun tidak panjang, sedikit-sedikit saja bahkan kadang berbentuk kode-kode yang perlu dipecahkan, semacam formula. Bahasa teknisnya: “sutra”, ‘benang (merah)’. Bisa juga tanpa-teks; kita diminta “ngelmu” pada “pring” (bambu), pada “segara” (laut), pada “pari” (padi), pada “surya” (mentari), pada “geni” (api), dan sebagainya.

Lho, bukannya kalau begitu “ngelmu” itu juga metode KISS?! Beda! KISS itu divergensi, pengerucutan. Sedangkan “ngelmu” itu konvergensi, pengembangan. KISS itu mencari informasi, sedangkan “ngelmu” mencari esensi. KISS meng-gampang-kan yang kompleks, sedangkan “ngelmu” menatap kompleksitas. KISS itu metode yang dipakai para penceramah dan motivator. Mereka akan membanjiri kita dengan informasi, cerita, ayat-ayat, kadang muntahan amarah, dan kebencian. Kemudian akan bilang, “Betul?”—yang berharap disambut dengan koor afirmasi. Neurologists menemukan bahwa otak kita berhenti “berpikir” ketika dijejali informasi, ketika dihadapkan pada seorang (yang seolah-olah) “ahli”, dan ketika dalam keadaan tersudut (dalam soal waktu, misalnya).

Ketika harus berhadap-hadapan dengan kompleksitas-pun kita bisa “overwhelmed”. Itu karena kita masih dalam mode KISS, belum “switch” ke “ngelmu”. Idealnya, kita bisa dua-duanya. Untuk mengejar deadline, misalnya, kita KISS. Namun sisanya, kita harus bisa “ngelmu”. Itulah kenapa menurut saya di Nusantara teks-teks suci sedikit; dan kalaupun ada pendek-pendek. Ada juga teks seperti I La Galigo yang terpanjang di dunia, atau fragmen-fragmen kisah Ramayana dan Mahabharata yang lumayan panjang—tapi semuanya tadi berfungsi sebagai ensiklopedia. Namun, teks-teks keagamaannya relatif pendek, ringkas, karena ayat-ayat-Nya bertebaran di mana-mana. Kalaupun harus ditulis, maka cukup “teaser” saja, selebihnya harus “ngalami” sendiri.

Seorang yang “ngelmu” akan rendah hati karena ia sedang menatap “mata kompleksitas”. Dia akan sadar bahwa apa yang diketahuinya tidak seberapa, namun di saat yang sama dia bisa “melihat” hal-hal yang tidak diketahuinya. Para KISS-er, sebaliknya, merasa sudah hebat bisa mengutip ayat ini-itu, merasa sudah “menguasai” apa yang pernah dipelajarinya. Para KISS-er pada umumnya jadi pem-bully (atau pendukung bully) karena mereka memandang rendah orang-orang yang (seolah) miskin informasi, tanpa-buku. Padahal para KISS-er, seperti saya dulu, hanyalah bocah ingusan di hadapan mereka yang “ngelmu”.

Kafir adalah Sahabat

Beberapa orang di internet membuat posting/meme sebagai pembenaran bahwa di semua kepercayaan selalu ada istilah bagi orang yang tidak se-kepercayaan; bahwa sah-sah saja calling people names. And if it hurts you, too bad.. bukan salah saya. Semua ada di kitab suci, kok Bro!

Mereka berdalih bahwa ada kok padanan kata kafir di dalam tradisi keagamaan yang lain. Lucunya, mereka kurang riset dan entah diambil dari mana kata-kata yang mereka klaim itu. Dia bilang, kafir = maitrah (dlm tradisi Hindu), = abrahmacariyavasa (dlm tradisi Buddha), = domba yang tersesat (dlm tradisi Kristen). Biasanya saya malas komen yang begini, tapi ternyata posting ini sudah merambat luas. Kejadian ini menunjukkan bahwa toleransi saja tidak cukup. Kita semua perlu saling mengenal, saling mengapresiasi/mengenal supaya tidak mudah terpecah belah.

Dari kecil saya tertarik dengan semua tradisi keagamaan. Orang tua saya berasal dari 2 tradisi keagamaan berbeda: Hindu dan Islam. Kawan-kawan dekat saya banyak yang Kristen dan Buddhis. Saya suka sekali membaca buku-buku keagamaan dari semua tradisi. Saya diberi tahu bahwa kata kafir yang belakangan sering dilemparkan kepada mereka yang non-muslim sebenarnya punya banyak makna, namun sayangnya tidak jarang ada individu-individu yang mereduksi maknanya dan membuatnya menjadi sebutan untuk meredahkan orang lain dalam masyarakat yang plural. Ini beberapa kali saya alami sendiri.

Ironi dari posting/meme itu adalah menyebut maitrah sebagai padanan kata kafir bagi umat Hindu. And, do you know what maitraḥ actually means? Persahabatan! Ya, seorang Hindu—mereka yang menjadi bagian dari peradaban Sindhu, Hindia, termasuk leluhur kita semua di Sindho/Hindo-nesia ini—menganggap mereka yang berbeda dan tak seagama sebagai SAHABAT, mitra (मित्र), dan kata turunannya, maitra (मैत्र) berarti sikap bersahabat. Bahkan bukan hanya itu, “semua makhluk adalah saudara.” Dan seorang saudara tidak melempar batu kepada yang lain dan saling menyakiti!

Sedangkan abrahmacariyavasa अब्राह्मचरियवस berarti mereka yg tidak (sedang) menempuh jalan/tahapan hidup sebagai brahmacarya dan mengikuti aturan-aturan khusus di dalamnya. Brahmacarya adalah tahapan hidup pertama sebagai pelajar (dari lahir hingga 25 tahun) sebelum berumah tangga. Seseorang masih bisa disebut hindu/buddhis walaupun sudah bukan lagi brahmacarya.

Saya anjurkan kepada pembuat posting tadi untuk menggunakan kata nāstika (नास्तिक) sebagai padanan kata untuk ‘mereka yang tidak percaya kepada otoritas Veda’—sesuai dengan Kamus Sanskrit Apte. Mungkin itu yang paling dekat dengan istilah kafir yang telah tereduksi tadi. Tapi tetap tidak sama! Karena di dalam tradisi Hindu, baik astika (mereka yang percaya pada otoritas Veda) dan nāstika, KEDUA-DUANYA diakui, dipeluk ke dalam rengkuhan Hindu-isme. Kedua-duanya sah sebagai jalan para seeker of Truth, sādhaka, pada pencari Kebenaran (bukan pembenaran).