Apakah Semua Agama Sama? — Perspektif Hindu Dharma

Tumbuh dalam keluarga dan masyarakat yang beragam, saya sering mendengar: “Semua agama itu sama. Sama-sama mengajarkan kebaikan.” Petuah tersebut mengajarkan kepada anak-anak bahwa agama-agama bukanlah untuk dipertentangkan. Walaupun berbeda, toh setiap agama mengajarkan hal yang sama: kebaikan.

Beranjak dewasa di tengah zaman deras arus informasi, saya semakin sering mendengar: “Walaupun sama-sama mengajarkan kebaikan, agama-agama itu berbeda.” Jika dulu aspek universalnya yang ditonjolkan, kini perbedaannya digarisbawahi. Tentu saja: umat muslim beribadah di masjid, sedangkan yang kristen ke gereja, sedangkan yang hindu ke pura, dan umat buddha ke wihara.

Belum lagi soal-soal yang lain: pembawa risalah, kitab suci, teologi, dan seterusnya. Dalam terang informasi, semua agama tampak jelas perbedaannya. Kedua petuah di atas sama-sama memiliki nilai kebenaran: perbedaan itu ada, demikian persamaannya. Yang menjadi soal adalah bagaimana praktiknya dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika saya tahu Kamu berjalan di ‘jalan’ yang salah, haruskah aku diam?” Demikian pertanyaan yang muncul dalam suatu diskusi lintas agama dulu di kampus. Buat seorang hindu yang tinggal di luar Bali seperti saya, pertanyaan ini familier sekaligus asing. Familier karena pertanyaan seperti ini sering saya terima dalam berbagai varian, baik dari umat muslim maupun kristen/katolik. Intinya: ada jalan (agama) yang benar—yaitu jalanku—dan ada jalan yang salah/sesat—jalanmu.

Pertanyaan ini terasa asing karena agama Hindu tidak mengedepankan pemilahan seperti ini. Bahkan di dalam Bhagavad Gita (BG) dikatakan bahwa pada jangka panjang, semua makhluk akan mencapai ‘titik’ yang sama, terlepas dari apa kepercayaannya saat ini (BG 4.11). Ya, pada jangka pendek kita bisa ‘salah jalan’, tapi pada jangka panjang—karena dorongan jiwa (dalam pengertian Hindu Dharma, bukan pengertian umum)—semua akan sampai kepada-Nya.

Hindu Dharma mengenal proses kelahiran kembali (reinkarnasi). Perjalanan setiap jiwa mencapai Tuhan butuh jutaan bahkan milyaran tahun; sang jiwa perlu lahir, hidup, mati, lahir lagi, dan seterusnya, berkali-kali. Satu masa kehidupan manusia selama 60–70-an tahun, termasuk jangka pendek dibandingkan dengan proses evolusi jiwa. Dalam satu masa kehidupan, apa yang dipercayai seseorang dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya sebelum ini.

‘Gumpalan’ pikiran dan perasaan yang membungkus sang jiwa—termasuk keinginan, harapan, dan pemahaman tentang diri serta lingkungannya—menjadi bahan dasar di dalam kelahirannya saat ini. Kepercayaan seseorang selaras dengan sifat dasarnya masing-masing; ia adalah apa yang dipercayainya (BG 17.3). Sifat dasar alam tadi juga menentukan di dalam keluarga dan tradisi kepercayaan/agama seperti apa sang jiwa dilahirkan.

Secara umum, Hindu Dharma menggolongkan sifat dasar alam menjadi tiga, yang disebut Tri Guna, yang terdiri dari Sattva, Rajas, dan Tamas. Setiap orang memiliki racikan Guna yang khas, yang ditentukan oleh pengalaman sang jiwa dari masa-masa kehidupan yang lalu. Setiap anak terlahir unik; ia lahir bukan sebagai kertas kosong. Ketiga sifat ini adalah rantai yang ‘menjerat’ sang jiwa, atau tirai yang mengelabui pandangan kita.

Sifat-sifat ketiga Guna. Sumber: explorevedanta.com

Pada dasarnya, semua jiwa di dunia ini sedang tersesat. Ia lupa kesejatian dirinya yang sebenarnya adalah Brahman Yang Tidak Terbatas. Tat tvam asi, Itu-lah engkau, Itu-lah dirimu yang sejati. Semua jalan yang mengingatkan kita pada kesejatian ini, adalah jalan yang lurus/benar. Sedangkan jalan yang membuat kita lupa sehingga menganggap diri sebagai badan, pikiran, dan perasaan—yang terbuat dari materi-kebendaan dan memiliki tiga sifat itu—adalah jalan yang salah/sesat.

Oleh karena itu, Hindu Dharma hanya mengakui satu jalan yang benar. Walaupun demikian, cara yang ditempuh, model/maket yang digunakan untuk menyibak ‘tirai kebodohan’ tersebut bisa bermacam-macam, tidak tunggal. Bahkan, setiap orang akan menempuh jalan yang unik karena ia akan selalu berangkat dari racikan Tri Guna yang telah membentuk tubuh, pikiran, dan perasaannya.

BG 17.4 misalnya mencontohkan bahwa mereka yang dominan sifat Sattva-nya akan memiliki kepercayaan yang selaras dengan alam. Mereka akan menghormati dan menjaga alam di sekitarnya, misalnya dengan tidak mengorbankan nyawa binatang (atau manusia lain) untuk mencapai tujuannya. Sedangkan ia yang dominan sifat Rajas-nya akan menempuh cara apapun supaya keinginannya dikabulkan, termasuk menyakiti/menipu/menindas makhluk lain.

Mereka yang dominan sifat Tamas-nya, akan memercayai segala sesuatu secara membabi buta—termasuk kepercayaan-kepercayaan yang sudah usang dan tidak lagi relevan. Tri Guna juga akan memengaruhi jenis-jenis makanan yang disukai, cara beribadah, cara bederma dan beramal, teologi, dan sebagainya. Sattva lebih baik daripada Rajas. Rajas lebih baik daripada Tamas. Namun di atas itu semua, yang terbaik adalah Kesadaran Jiwa.

Orang-orang yang memiliki corak Guna yang mirip akan berkumpul dan membentuk Sraddha (kepercayaan, agama) masing-masing. Bahkan di dalam satu tradisi keagamaan yang sama bisa muncul puluhan bahkan ratusan sub-kelompok yang memiliki interpretasi, cara pandang, pola pikir, dan perilaku yang berbeda-beda. Lingkungan juga sangat berpengaruh, misalnya mereka yang hidup di daerah yang tandus akan menjadi lebih keras dan kaku bila dibandingkan dengan mereka yang hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi.

Berdasarkan sifat-sifat dasar kita itu pula lah kita ‘membentuk’, memproyeksikan Tuhan. Kita me-manusia-kan Tuhan mengikuti pengalaman kita: Tuhan itu pencipta sebagaimana seorang tukang kayu menciptakan kursi, Tuhan itu pemarah, Tuhan itu penuh kasih sayang, Tuhan membela tim sepak bola kesayangan kita, Tuhan itu mencintai kita dan membenci yang lain, Tuhan itu begini, Tuhan itu begitu. Tanpa kita sadari kita memberikan Tuhan bentuk: nama dan rupa sesuai dengan diri kita masing-masing.

Ada agama-agama yang jujur mengakuinya. Ada pula yang perlu menutup-nutupinya, supaya umatnya yang masih mudah ‘goyah’ punya pegangan yang pasti. Di dalam tradisi Hindu Dharma dikenal istilah ishta devata, yaitu umat Hindu dengan sengaja memilih nama dan rupa Tuhan yang paling cocok dengan perkembangan spiritualnya. Ia bisa memilih dari berbagai nama dan rupa yang ada sebagai dewa dan dewi, atau sekelompok dewa-dewi, atau ‘perwujudan’-Nya yang abstrak. Silakan saja.

Inilah alasan mengapa Hindu Dharma menjadi agama yang paling toleran, bahkan bisa mengapresiasi dan menghormati agama-agama lain. Perbedaan-perbedaan yang ada tidak dipandang sebagai sesuatu yang melekat dan menjadi identitas yang tidak bisa berubah. Semakin berkembang kesadaran seseorang, maka pikiran dan perasaannya pun akan ikut berubah. Dalam kelahirannya selanjutnya, jika seseorang mau memperbaiki diri, maka ia akan memiliki racikan Tri Guna yang lebih baik.

IMG-20140529-WA0004

Hindu Dharma memiliki tradisi penghormatan kepada para suci, resi, awatara, yaitu orang-orang yang telah mencapai tingkat kesadaran jiwa yang lebih tinggi. Kebenaran “dicapai” lewat penemuan pribadi, bukan semata iman yang buta.

Demikian seterusnya, sang jiwa berevolusi hingga ia menyadari kesejatian dan keilahian/kedewataan dirinya—yang pasti dicapai semua jiwa pada waktunya. Perubahan sejati harus berasal dari dalam diri, dan tidak bisa dipaksakan. Betul, bahwa tidak semua agama sama. Ada yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat kebendaan Tamas dan Rajas. Agama-agama dari kelompok ini cenderung mengedepankan iman yang kaku terhadap sesuatu/seseorang, Pokoknya percaya kepada si Anu, Kamu pasti selamat! Lakukan saja apa yang tertulis dalam kitab suci dan kumpulkan terus poin pahala.”

Sah-sah saja, bila memang yang dihadapi adalah umat yang masih Tamasik dan Rajasik. Mereka masih perlu iming-iming dan dilibatkan dalam permainan. Game theory dibutuhkan untuk membuat mereka melakukan kebaikan. Mereka masih belum hidup berkesadaran. Mereka yang sudah menyadari bahwa kebaikan adalah sesuatu yang mulia, mereka telah naik kelas dan masuk dalam kepercayaan yang bersifat Sattva. Kesadaran mereka sudah mulai berkembang.

Menyadari hal ini, bagaimana bisa umat Hindu Dharma mengatakan yang satu sesat, dan yang lain benar. Anak-anak TK belum bisa diajari tentang advance knowledge, seperti fisika kuantum. Mereka masih perlu banyak bermain-main. Ketika ia SD, barulah ia belajar A untuk Apel, B untuk Burung. Anak-anak di tingkat yang lebih tinggi sudah tidak memerlukan itu lagi. Lain di SMP, lain pula ketika ia SMA.

Saat menjadi mahasiswa, ia baru belajar mandiri. Ia mulai sadar bahwa bangun pagi baik untuk dirinya sendiri, tanpa perlu dipaksa atau diberi iming-iming. Bahasa kita tidak bisa sama menghadapi orang-orang yang berbeda tingkat kesadarannya. Demikian pula dengan agama dan kepercayaan yang ada, kita tidak bisa memaksa, menuntut perubahan yang radikal dalam jangka pendek.

Tapi tidak berarti bahwa kita cuek saja. Motivasi kita berbagi kesadaran hendaknya adalah kasih. Untuk itu, kita semua perlu membuka diri terhadap segala pemikiran/gagasan yang mulia. Bukan sembarang pemikiran/gagasan, tapi pemikiran/gagasan yang membuat kita bebas dari kepalsuan (ilusi kebendaan) dan cara pandang yang sempit (picik), serta pemikiran/gagasan yang mencerahkan.

Ā no bhadrāḥ kratavo yantu viśvato’dabdhāso aparītāsa udbhidaḥ (Rigveda 1.81.1a)

Semoga segala pemikiran/gagasan yang mulia datang dari segala penjuru kepada kita semua—bebas dari kepalsuan dan kepicikan, serta cemerlang.

Vivekananda 1

Sekian.

Dewi Suktam: Membangun Peradaban yang Spiritual

Selain Dewa (aspek maskulin), Veda juga memuat puja-puji kepada Dewi, yaitu aspek feminin Ketuhanan Yang Tunggal, misalnya: Saraswati, Illa, Bharati, Sri, dan seterusnya. Aspek feminin di dalam tradisi agama Hindu sangat penting, bahkan dirayakan, dan diagungkan hingga posisi tertinggi. Salah satu contohnya adalah Dewī Sūktam atau Vāk Sūktam, di dalam Ṛgveda maṇḍala ke-10, sūkta ke-125 (RV 10.125) yang akan dibahas di dalam tulisan ini.

67c5302a96b9e86e2b97b48692f7757c

Dewi Gayatri yang dikenal sebagai ibu dari Veda, sumber kebijaksanaan.

Sejalan dengan itu, Ṛgveda juga menekankan peranan penting perempuan yang mampu mencapai kedudukan tinggi di dalam masyarakat peradaban Hindu, baik di posisi-posisi sekuler seperti pemimpin pemerintahan, ilmuwan, pejuang, dan sebagainya, maupun di dalam bidang keagamaan sebagai pemimpin ritual, hingga penerima “wahyu” atau ṛshikā. Mantra-mantra di dalam RV 10.125 ini digubah oleh seorang resi perempuan bernama Vāg-ambhṛṇī—putri resi Ambhṛṇā.

Di dalam tradisi Hindu, peran perempuan tidak dibatasi di “dapur, sumur, dan kasur”. Perempuan juga tidak dipandang memiliki “defisiensi mental” sehingga tidak bisa dipercaya atau dijadikan pemimpin, sebagaimana di dalam tradisi agama tertentu. Perempuan di dalam Veda bukanlah obyek yang bisa dikuasai laki-laki: baik itu ayah, saudara/kerabat, bahkan suaminya. Veda juga tidak pernah memaksa perempuan untuk menutupi tubuhnya, yang pada hakikatnya adalah upaya pengekangan kebebasan perempuan.

Sebaliknya, di dalam Veda dan khususnya mantra-mantra berikut ini, aspek feminin ketuhanan—yang salah satunya dapat mewujud di dalam diri perempuan (di samping juga laki-laki)—dipandang sebagai daya sakti yang menggerakkan alam semesta, baik mikro (di dalam diri manusia) maupun makro (di luar diri). Keduanya, yang di dalam dan yang di luar, adalah satu kekuatan. Oleh karena itu, baik resi maupun dewata di dalam sūkta ini sama: Vāc.

Pencerahan Vāc (sang resi) membuatnya menyadari kehadiran Vāc (sang Dewi) di dalam dirinya, di dalam diri semua makhluk, di semua penjuru semesta. Di dalam tradisi Veda baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kesempatan untuk meraih kesempurnaan/pencerahan. Tidak ada monopoli kaum laki-laki atas kebenaran. Bahkan di dalam mantra ke-5 disebutkan bahwa Vāc (aspek feminin ketuhanan) lah yang menyebabkan seseorang mampu meningkatkan kesadaranannya, sehingga bisa meraih kesempurnaan/pencerahan.

Sebagaimana yang telah diketahui lewat sains modern. Perempuan, yang memiliki dua kromosom X, lah yang memberikan daya hidup kepada generasi selanjutnya. Mitokondria setiap anak, perempuan maupun laki-laki, diwariskan dari ibunya. Mitokondria di dalam sel-sel tubuh berperan sebagai pembangkit energi. Di samping itu, kini juga diketahui bahwa default kelamin embrio manusia adalah perempuan, yang dapat berubah menjadi laki-laki akibat paparan hormon dan hal-hal lain selama proses kehamilan.

Jadi tidak tepat apabila dikatakan bahwa perempuan berasal dari bagian tubuh laki-laki. Malah sebaliknya, laki-laki adalah modifikasi perempuan. Pemahaman ini ternyata sejalan dengan pesan di dalam RV 10.125 yang menyatakan bahwa aspek feminin lah yang merupakan asal dari aspek maskulin (mantra 7), dan daya sakti aspek feminin bekerja atau menggerakkan aspek maskulin (mantra 1–2). Sehingga apabila diaplikasikan dalam keseharian, umat Hindu menghormati aspek feminin ini, yang termanifestasikan di dalam kemuliaan perempuan.

Di dalam mentranskreasikan mantra-mantra berikut, saya utamanya berpijak dari bahasa Sanskerta sebagaimana yang diulas dalam dokumen ini, selain dari sumber-sumber lainnya. Dengan transkreasi ini saya berharap bahwa pesan-pesan Veda—yang merupakan sumber kebijakan peradaban Sindhu, Hindu, Indus, Indo yang mana Nusantara adalah bagian darinya—dapat kembali hidup dan tersebar lebih luas lagi. Semoga bermanfaat.

Anda juga dapat mendengarkan Dewi Suktam ini di YouTube:

***

ṚG VEDA 10.125 — DEWĪ SŪKTAM

Hariḥ Oṁ

Ṛshikā: Vāg-ambhṛṇī
Devatā: Vāc
Chaṇḍaḥ: Trishṭup, Jagatī

ahaṃ rudrebhir-vasubhiś carāmyaham ādityairuta viśvadevaiḥ |
ahaṃ mitrā-varuṇā-ubhā bibharmyaham indrāgnī aham aśvinobhā || 1 ||

Aku menggerakkan Rudra, Vasu, Āditya, dan semua dewa-dewa; Aku mengampu Mitra-Varuṇa, Indra-Agni, juga kedua Aśvin.

Catatan: Sūkta ini diungkapkan dalam gaya bahasa orang pertama (asmadādeśa) yaitu Vāg Dewi. Vāc sendiri secara harfiah berarti speech (In.) atau wicara, namun dalam pengertian yang lebih luas: persepsi atau daya pikir yang dapat diekspresikan lewat kata-kata baik lisan maupun tulisan. Vāg Dewi, di dalam Veda, mewakili sesuatu yang lebih dalam lagi, yaitu daya hidup, daya gerak, kecerdasan, kebijaksanaan dan kesadaran.

Oleh karena itu, dikatakan bahwa Vāg Dewi berada di balik dan menggerakkan (carāmi) kekuatan-kekuatan semesta. Ia lah yang membuat Rudra—dewa yang paling perkasa dan mengerikan di dalam tradisi Veda—memiliki keperkasaannya. Ia lah yang membuat Vasu—dewa yang paling lembut, elemen-elemen alam yang halus—mampu menyebar ke segala penjuru. Ia pula yang membuat Āditya—matahari—mampu menyebarkan energinya sehingga menghidupkan segala sesuatu di bumi ini.

Di samping itu, dewa-dewa Vedik klasik seperti duo Mitra-Varuṇa, Indra-Agni, dan si kembar Aśvin juga tidak akan mampu menjalankan fungsinya apabila Dewi tidak memberikan sebagian kekuatan-Nya. Pemahaman ini kemudian hari dikembangkan oleh para pengikut Śakta (pemuja aspek feminin Tuhan) termasuk Dewi Kāli/Durga yang Maha Perkasa, seperti di dalam Śrimad Dewī Bhagavata Purāṇa.

ahaṃ somam-āhanasaṃ bibharmyahaṃ tvashṭāramuta pūshanaṃ bhagam |
ahaṃ dadhāmi draviṇaṃ havishmate suprāvye yajamānāya sunvate || 2 ||

Aku menikmati perasan-Soma, Aku pula pengampu Tvashṭṛ, Pūshan, dan Bhaga; Aku menganugrahkan kekayaan pada sang panembah, ia yang memusatkan pikiran dalam persembahannya, dan semua yang terlibat.

Catatan: Mantra kedua ini menekankan aspek Vāg Dewi yang lebih approachable oleh manusia biasa, dalam hal ini lewat proses persembahan (yajña). Di dalam yajña, saripati persembahan kita (soma) diterima oleh Dewi yang kemudian hasilnya kita peroleh kembali dari Dewi juga lewat daya kreasi/kreatifitas (Tvashṭṛ), daya tumbuh (Pūshan), serta berbagai kenikmatan dan kenyamanan hidup (Bhaga). Ia lah sumber segala kesejahteraan (draviṇam) yang berusaha dicapai setiap orang.

aham rāshtrī saṅgamanī vasūnām cikitushī prathamā yajñiyānām |
tāṃ mā devā vyadadhuḥ purutrā bhūristhātrām bhuryāveśayantīm || 3 ||

Aku-lah Sang Ratu, penghimpun kekayaan, Hyang Maha Mengetahui, Hyang Pertama Dipuja; Para dewa menyebarkan (kesadaran tentang) Aku ke segala penjuru, (sehingga) Aku bertakhta di banyak negeri.

Catatan: Para dewa di dalam mantra ketiga ini tidak hanya berarti kekuatan-kekuatan alam sebagaimana yang dibahas pada kedua mantra sebelumnya. Di sini, para dewa bisa dikaitkan dengan orang-orang yang telah memperoleh pencerahan, para bijak. Mereka dikatakan menyebarkan kesadaran dan pemahaman ini ke berbagai negeri. Hal ini mematahkan klaim bahwa agama Hindu adalah agama yang hanya bersifat lokal dan tidak perlu disebar-luaskan.

Belakangan, banyak penemuan-penemuan arkeologis yang mulai melihat unsur-unsur pemikiran Vedik di berbagai mansyarakat di dunia, mulai dari Irlandia, Inggris di barat Eropa, hingga ke Rusia, dari Mesir, Timur Tengah, hingga ke Timur Jauh (Jepang, Korea, China). Ajaran Veda sangat adaptif dan fleksibel sehingga ‘kulit luar’-nya tidak harus seragam, namun bisa mengambil corak kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Pendekatan budaya—bukan lewat perang—ini sangat khas peradaban Sindhu.

unnamed

Dewi Lakshmi, Sang Penganugerah Kekayaan/Kesejahteraan.

mayā so annamatti vipaśyati yaḥ prāṇiti ya īṃ’śṛnotyuktam |
amantavo māṃ ta upa kshiyanti śrudhi śruta śraddhivaṃ te vadāmi || 4 ||

Melalui-Ku lah seseorang dapat menyantap makanan, mampu melihat, bernapas, dan mendengar;Sekarang dengarlah sabda-Ku kepadamu: Bahkan ia yang tidak “menyadari” keberadaan-Ku, dan ia yang tidak mampu “mendengar”-Ku pun sesungguhnya dekat dengan-Ku!

Catatan: Tuhan hadir di mana-mana dan anugerah kehidupan-Nya tidak hanya terbatas pada mereka yang menyadari keberadaan-Nya saja, namun juga semua orang, seperti matahari yang memberikan hangat cahayanya bahkan kepada seorang buta yang tidak mampu melihatnya sekali pun. Mantra ini adalah deklarasi kasih dan sayang-Nya yang tidak terbatas, yang seharusnya menginspirasi kita untuk tidak ikut-ikutan meng-kafir-kafir-kan umat lain, mengangap mereka lebih rendah, atau melakukan diskriminasi.

Umat Hindu tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan, namun juga perlu diingat bahwa kita tidak boleh membiarkan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan terus dilakukan oleh orang lain kepada kita. Sebagaimana pesan mantra sebelumnya, kita juga perlu untuk secara aktif menyadarkan mereka yang berpandangan picik/sempit sehingga melihat keterpisah-pisahan antarumat manusia.

ahameva svayamidaṃ vadāmi jushṭam devebhiruta mānushebhiḥ |
yam kāmaye taṃtamugraṃ kṛṇomi taṃ brahmāṇaṃ tamṛshiṃ taṃ sumedhām || 5 ||

Sabdaku yang demikian diagung-agungkan baik oleh para dewa dan umat manusia; Siapapun yang Aku kehendaki, Aku jadikan ia perkasa, brahmana, resi, bijaksana.

Catatan: Vāg Dewi di dalam mantra ini dipandang sebagai sumber kecerdasan dan kebijaksanaan. Pertama-tama, manusia belajar hidup dengan berbagai elemen alam: membangun tempat tinggal yang melindunginya dari hujan dan panas terik, mencari sumber air bersih, mengelola alam untuk bercocok tanam, beternak, dan sebagainya. Kemudian, manusia mulai memetik hasil dari kerjanya (mantra 1–2). Ia pun kemudian mampu meningkatkan kesejahteraan diri, keluarga dan masyarakatnya (mantra 3–4).

Setelah itu, baru manusia bisa membangun peradaban yang ditopang oleh sistem pendidikan yang berkesadaran: bahwa Tuhan hadir di mana-mana, di dalam dan di luar diri kita masing-masing; proses pendidikan adalah untuk mengolah diri dan pikiran kita agar mampu “melihat” dan “mendengar” sabda-Nya di mana-mana, di seluruh alam semesta ini. Mereka inilah yang disebut para bijak, resi, atau brahmana. Merekalah yang memimpin dan menggerakkan peradaban, dibantu dengan elemen-elemen masyarakat yang lainnya: para pegawai negeri, militer, pedagang, seniman, petani, dan para pekerja.

sarasvati528

Dewi Saraswati, Sumber Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Kebijaksanaan.

ahaṃ rudrāya dhanurā tanomi brahmadvishe śarave hantavā u |
ahaṃ janāya samadaṃ kṛṇomyahaṃ dyāvāpṛthivī ā viveśa || 6 ||

Aku merentangkan busur Rudra untuk menghancurkan pembenci brahmana;
berperang demi umat manusia, Aku lah penguasa langit dan bumi.

Catatan: Tidak selamanya cetak biru yang ditulis dalam catatan mantra ke-5 dapat dijalankan dengan lancar. Seringkali, kekayaan dan kesejahteraan yang dicapai diincar oleh mereka yang malas dan berjiwa kasar. Karena belum berkembangnya kesadaran, mereka pun membenci para bijak, resi, dan brahmana yang ajarannya bertentangan dengan nafsu dan kebodohannya. Mereka inilah yang disebut ‘pembenci brahmana’ yang dijelaskan pada mantra ke-6 ini.

Jika dibutuhkan, umat Hindu harus siap untuk mengangkat senjata, merentangkan busur Rudra, dan membela peradabannya. Kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik ajaran ahimsa. Bagi mereka yang mengerti bahasa anti-kekerasan dan akal sehat, kita memang perlu mengedepankan cara-cara yang ahimsa untuk mencari solusi permasalahan yang dihadapi. Namun, apabila kita sedang menghadapi mereka yang ingin menghabisi kita, maka tidak ada cara lain bagi umat Hindu selain “memanggil” Dewi Mahākāli—Penguasa Langit dan Bumi—Hyang Maha Mengerikan.

123_18

Dewi Mahākāli yang Maha Digdaya.

ahaṃ suve pitaramasya mūrdhan mama yonirapsva’ntaḥ samudre |
tato vi tishṭhe bhuvanānu viśvotāmūṃ dyāṃ varshmaṇopa spṛśāmi || 7 ||

Dari-Ku, Bapa lahir di puncak langit, sedangkan sumber-Ku berada di kedalaman Samudra di dalam diri; Dari sana, Aku menyebar ke seluruh penjuru semesta, dan dengan keagungan-Ku, Aku menyentuh (mencapai) langit itu.

Catatan: Mantra ini berisi simbol-simbol yang maknanya tidak mudah diungkapkan sepenuhnya. Sebagaimana dijelaskan di dalam pengantar, salah satu pesan di dalam mantra ini sejalan dengan penemuan sains mutakhir yang mengungkap bahwa maskulinitas (manusia) lahir dari femininitas. Hal lain yang bisa ditarik dari sini adalah bahwa Tuhan yang bersifat maskulin, yang seolah-olah duduk di atas singasana di atas langit sana, sesungguhnya merupakan ‘anakan’ dari Tuhan yang bersifat feminin.

Pemujaan terhadap Dewi, mungkin adalah kepercayaan yang lebih kuna, lebih tua umurnya di dalam peradaban manusia. Pemujaan terhadap aspek maskulin ketuhanan membuat manusia menjadi keras dan kaku; ia harus mengikuti segala peraturan yang dibuat Sang Bapa. Pemuja-Nya juga menjadi ekspansionis; mereka menjadi aktif, efektif dan efisien, dan kemudian berupaya menaklukan orang-orang lain yang berbeda kepercayaan. Mereka percaya pada konversi.

Sedangkan, para pemuja aspek feminin-Nya lebih mementingkan perjalanan batin ke dalam diri, meditasi, yoga, dan sebagainya. Mereka menyadari bahwa Tuhan berada di kedalaman ‘samudra’ kesdaran di dalam dirinya sendiri. Mereka tidak percaya pada konversi. Perjalanan ke dalam ini pada saatnya akan membuat kita menjadi dinamis, kreatif, dan penuh kasih. Mereka pun akan mampu menemukan Tuhan yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat agama.

ahameva vātaiva pra vāmyārabhamāṇā bhuvanāni viśvā |
paro divā para enā pṛthivyaitāvatī mahinā saṃ babhuva || 8 ||

Aku mengembuskan napas, seperti angin, yang menghasilkan semua bentuk kehidupan; Demikian, keagungan-Ku melampaui alam benda, langit dan bumi ini.

Catatan: Pada akhirnya, pemuja-Nya harus melampaui segala sesuatu di alam benda: melepaskan keterikatan dan pandangan yang memisah-misahkan manusia yang satu dengan yang lain, manusia dengan semesta, dan puncaknya: manusia dengan Tuhannya. Segala bentuk kehidupan dan benda-benda yang menyenangkan, yang nampaknya bermacam-macam ini sesungguhnya berasal dari Hyang Tunggal. Mencapai kesadaran ini, manusia memperoleh kebebasan yang sejati.

om-universe

AUM, Ia Yang Tak Terjelaskan, Sumber Segala Sesuatu.

 

OM Shanti, Shanti, Shanti

Renungan: Tentang Jiwa

Pagi ini saya membaca Yoga Vasishtha (6.1.55). Di sana Begawan Vasishtha mengisahkan percakapan antara Shri Krishna dan Arjuna. Shri Krishna menjelaskan tentang hakikat Jiwa (diri yang sejati):

“Jiwa (jīva, Sanskerta.) tinggal di dalam jaring-jaring yang dibentuk dari kelima unsur alam yang menyusun badan (ruang, udara, api, air, dan tanah), dari pikiran, serta budi. Sepanjang hidup, Jiwa tersebut “diseret-seret” oleh sifat-sifat bawaan (yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman di masa lalu, keinginan terpendam, ingatan, dan sebagainya). Demikian, Sang Jiwa terpenjara di dalam badan.

“Seiring waktu, badan pun menua, dan pada akhirnya Jiwa meninggalkan badan seperti sari yang keluar dari perasan daun. Jiwa membawa serta pengalaman dan pikiran, meninggalkan tubuhnya yang lama dan melanjutkan perjalanannya. Jiwa pergi seperti wewangian menguap di udara. (Dalam kondisi itu) Jiwa dibungkus oleh vāsanā, yaitu sisa-sisa pengalamannya selama masih berbadan. Ditinggalkan Jiwa, badan pun teronggok mati.

“Ke mana pun pergi, segala sesuatu yang dilihat oleh Jiwa—yang pada saat itu berwujud sebagai prāṇa, energi—merupakan proyeksi dari vāsanā-nya (bahkan ketika Jiwa tersebut lahir kembali dalam badan yang baru). Vāsanā ini tidak bisa dihilangkan kecuali dengan upaya yang kuat dan terus-menerus. Kalaupun gunung-gunung telah hancur menjadi debu, dan dunia ini mengalami pralaya, janganlah meninggalkan upaya ini. Bahkan, surga dan neraka pun hanya proyeksi dari vāsanā.

“Vāsanā lahir dari ketidaktahuan dan kebodohan, dan hanya akan sirna bilamana cahaya pengetahuan sejati tentang hakikat Jiwa muncul. Yang kita pahami selama ini sebagai jiwa sebenarnya baru vāsanā ini (bukan Sang Jiwa yang Sejati), yaitu hanya gugusan pikiran serta perasaan yang sesungguhnya tidak nyata. Ia yang ketika masih hidup berhasil melepaskan diri dari kendali vāsanā-nya disebut telah mencapai kebebasan (moksha, Sanskerta). Sedangkan mereka yang masih berada dalam cengkraman vāsanā, hidup dalam penjara keterikatan betapa pun cendekianya mereka.”

Inilah esensi ajaran Hindu Dharma, yaitu dharma penduduk Peradaban Sindhu, Hindu, Hindia, India, Indo, Intu, Shintu, yang mana kita adalah bagiannya. Bagi seorang Hindu, surga bukanlah tujuan akhir. Bahkan surga dipandang sebagai kelanjutan dari nafsu dan keinginan kita yang belum tuntas, sedangkan neraka hanyalah cerminan rasa penyesalan. Tidak ada “tiket emas” mencapai Kebahagiaan Sejati yang bisa ditebus dengan beribadah sekian kali, melainkan untuk menggapainya perlu upaya yang kuat dan terus-menerus melepaskan diri dari vāsanā. Sekian.

Memahami Reinkarnasi

Mungkin Anda pernah bertanya-tanya mengapa Anda di lahirkan di dalam keluarga ini? Mengapa ada yang dilahirkan dengan anggota badan yang tidak sesempurna yang lain? Mengapa Anda menyukai sesuatu hal dan membenci hal lain? Mengapa Anda merasakan dorongan emosi yang kuat terhadap seseorang atau terhadap sesuatu (benda, barang, keadaan, dsb.)? Kadang, walaupun baru pertama kali bertemu, Anda sudah muncul perasaan yang kuat terhadap seseorang—entah itu suka atau benci. Bukankah sekarang telah diterima luas, bahwa anak-anak lahir bukan seperti selembar kertas putih-polos, tapi mereka terlahir dengan corak dan kekhasan yang unik? Dari mana asalnya?

***

Bicara tentang reinkarnasi kita memasuki wilayah “percaya tidak percaya”. Bagi yang percaya, reinkarnasi adalah kenyataan sebagaimana makhluk hidup bernafas, atau matahari yang terbit dari ufuk timur setiap pagi. Bagi yang tidak, mereka akan menganggapnya sebagai celotehan yang tidak berdasar (baca: tidak sesuai dengan iman di dalam kitab suci mereka). Ada juga orang-orang yang di tengah-tengah: antara percaya dan tidak. Mereka ini mungkin merasakan sendiri dari pengalaman hidup mereka seperti di atas, namun terbentur sekat-sekat yang dibuat masyarakat.

Bagi seorang Hindu seperti saya, reinkarnasi diajarkan di sekolah namun hanya sekedar sebagai hapalan. Tidak lebih dari itu. Konsekuensinya tidak lebih dari sebatas spekulasi dan guyon: “eh, jangan-jangan saya dulu begini atau begitu”; pemahaman tentang reinkarnasi belum menjadi suatu hal yang dapat mentransformasi diri. Sebabnya adalah tidak tersedianya secara luas lembaga-lembaga spiritual (padepokan-padepokan atau ashram) yang memahami seni meditasi dan berbagai pengetahuan spiritual lainnya yang bersumber dari ajaran Veda. Pendidikan agama pada masa sekarang masih bertumpu pada cara pendidikan sekuler ala barat di sekolah-sekolah formal.

Sebagaimana proses-proses alami yang tidak memerlukan iman dan kepercayaan manusia untuk terjadi, demikian pula proses reinkarnasi—setidaknya bagi mereka yang percaya. Anda tidak perlu mendeklarasikan diri percaya kepadanya sebelum proses tersebut bisa Anda alami. Ia tidak sama dengan kepercayaan tertentu yang hanya membolehkan seseorang masuk ke dalam surga jika ia percaya surga itu ada—akibatnya dia harus masuk lewat pintu lainnya menuju neraka. Sucks, hey! Reinkarnasi terjadi begitu saja terlepas dari apapun agama yang Anda anut atau seberapa pun derajat keimanan Anda pada proses ini, sebagaimana matahari tidak butuh ijin kita untuk terbit dan terbenam setiap hari.

Walaupun demikian, menyadari proses reinkarnasi akan sangat membantu perjalanan spiritual Anda saat ini dan nanti. Saya menebalkan bagian “perjalanan spiritual” karena tidak semua orang mengambil jalan ini, dan tidak ada paksaan juga, kok. Bagi yang masih senang bermain-main di TK Dunia ini, ya memang tidak “perlu” memahami proses reinkarnasi. Mereka hanya perlu menjalani peran mereka masing-masing dengan baik: lahir, dewasa, bekerja, berkeluarga, menua, lalu meninggalkan dunia untuk kembali lagi bermain-main dengan orang-orang yang sama, kadang di bagian bumi yang ini, kadang di bagian bumi yang lain. Bagi mereka, sudah cukup pelajaran menjadi warga dunia yang baik; fokus saja pada satu masa kehidupan, yaitu yang sekarang berdasarkan hukum-hukum keagamaan yang ada yang berbasis reward and punishment. Inilah yang disebut sebagai Pravṛtti Marga. Sampai suatu ketika proses ini makin menjenuhkan, dan mereka pun siap “naik kelas” dan mulai menapaki Nivṛtti Marga, jalan spiritual.

Karena memperhatikan kebutuhan audiens yang dihadapi, pemahaman tentang reinkarnasi tidak selalu muncul dalam semua tradisi keagamaan. Kadang hanya di dalam inner circle tertentu saja hal ini dibicarakan, sedangkan untuk khalayak luas reinkarnasi tidak dibahas. Toh, jika memang sudah waktunya mereka yang sudah siap akan mencarinya sendiri. Di antara beberapa tradisi keagamaan yang membahasnya, tradisi Vedik yang berkembang di wilayah Peradaban Sindhu/Indus/Indo/Hindu/Hindia (yang mana Indo-nesia adalah bagian darinya) mungkin yang paling lengkap mengulas soal reinkarnasi. Mau tidak mau, untuk menjelaskan proses ini, saya harus mengutip sumber-sumber langsung dari tradisi ini.

Untuk memahami tentang reinkarnasi kita harus memahami dulu siapa diri kita. Diri kita, self, atau ātman di dalam bhs. Sansekerta secara sederhana dapat dikatakan terdiri dari dua bagian: (1) diri yang tidak berubah, tetap, dan (2) diri yang berubah-ubah. Untuk lebih mudahnya, diri yang tidak berubah ini disebut jīvātman (Sans. jīva ātman; jīva atau jiwa berasal dari akar kata jī atau jīv yang berarti (selalu) hidup, menang). Sedangkan diri yang ke dua—yang bisa berubah-ubah—tersusun dari gumpalan atau gugusan pikiran, perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman hidup, harapan, keinginan, ingatan, imajinasi, suka dan duka, dst. yang disebut manas, atau mind.

Sesungguhnya, jīvātman inilah yang disebut sebagai diri yang sejati. Yang menarik, jīvātman-ku dan jīvātman-mu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ātman yang lebih tinggi/besar lagi, yang disebut Puruṣa, yang juga hanyalah bagian dari Parama-Ātman. Swami Anand Krishna di dalam bukunya, Soul Awarenss (2016), secara apik mengumpamakan Paramātman, puruṣa, dan jīvātman seperti matahari, cahaya matahari yang menerangi satu kampung, dan cahaya matahari di dalam satu rumah. Ketiganya sebenarnya satu dan tidak terpisahkan. Walaupun demikian, “identitas” ini terpendam dan terlupakan oleh kita. Kita lebih sering mengasosiasikan diri dengan yang ke-2, dengan manas dan tubuh fisik—yang “membungkus” manas—saja.

Identifikasi diri yang salah ini lah (sebagai manas yang terus berubah) yang menyebabkan jīvātman “lahir” lagi dan lagi. Manas—menurut Veda—masih dipandang sebagai bagian dari alam kebendaan (sebagaimana tubuh kita), walaupun lebih halus dan tak kasat mata. Karena masih berupa kebendaan, baik tubuh maupun manas mengalami evolusi. Manas yang lebih “advance” akan berusaha mencari badan yang sesuai—atau istilah kininya: kompatibel. Bila antara software dan hardware ini tidak sesuai, maka berbagai persoalan dapat muncul, dan sistem-nya dapat dengan cepat mengalami crash.

The soul, endowed with life-breath and fast-speed goes out and the dead body is left behind in the house. The immortal soul, hitherto living in the mortal body, keeps on moving from life to life by it’s own nature. (30)

He who was brought to life in body does not know of it. He who sees it, is (now) concealed from it. It is hemmed in the womb of the mother, is subjected to many births and finally merges into the eternity. (32)

—Rig Veda 1.164.30 dan 32.

One, who is the first (life) does actions unto dharma or righteous dictates, on that account he obtains good bodies in the (subsequent) life. That soul, after leaving the first, enters into the (next) yoni or womb. There, having been blessed with true divine speech, he enjoys.

—Atharva Veda 5.1.2. 

(diterjemahkan oleh Swami Satya Prakash Saraswati dan Satyakam Vidyalankar, 2011, DAV Publication).

Kalau demikian, mengapa kita tidak ingat kehidupan-kehidupan kita yang lalu? Well, jangankan kehidupan kita puluhan atau ratusan tahun yang lalu, lha wong apa yang kita lakukan 10 menit, 10 jam, atau 10 tahun yang lalu saja kita tidak ingat persis. Semuanya tergantung dari seberapa kuat pengalaman-pengalaman tersebut membekas, seberapa dalam ia tertimbun di bawah berbagai “sampah manas” yang kita kumpulkan setiap saat, dan lama waktu yang kita lewati di antara kematian dan kelahiran kembali.

Dalam hal ini, lama atau cepatnya proses kelahiran kembali salah satunya dipengaruhi oleh pelepasan manas dari tubuh lamanya. Selama tubuh masih ada dan belum sepenuhnya habis terurai, jiwa yang manas-nya menanggung “beban” keinginan, harapan, dsb. masih bisa mondar-mandir, atau merasakan surga yang penuh kebahagiaan atau neraka yang penuh penderitaan, kemudian kembali lagi. Biasanya jiwa yang cepat meninggalkan tubuh lamanya karena telah dikremasi akan lebih cepat melanjutkan “perjalanannnya”, sehingga apabila ia menemukan “wadah” baru, bekas-bekas dari kehidupan sebelumnya masih relatif lebih jelas tersisa.

Mereka yang tubuh fisiknya lebih cepat hancur (misalnya dikremasi) akan memiliki keuntungan; ditambah apabila ia lahir di dalam lingkungan yang memahami seluk-beluk reinkarnasi dan memiliki tradisi spiritual yang kuat, jiwa-jiwa tersebut akan lebih mudah mengingat apa yang masih belum tuntas, termasuk kelemahan dan kekuatan apa saja yang diperolehnya sepanjang perjalanan jiwanya. Ia, maupun orangtua, dan lingkungannya pun bisa mendesain proses perkembangan jiwanya secara unik. Demikian, proses perkembangan jiwa dapat berlangsung lebih cepat hingga pada suatu ketika identitas sejati sang jiwa teringat kembali dan ia pun mencapai kebebasan sejati atau mokṣa.

Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi. (27)

Wahai Bhārata (Arjuna) makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata, tidak berwujud; dan berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Sebab itu, apa yang mesti disesali? (28)

Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran. Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya. (29)

Dia—Jiwa yang menghidupi badan sekian makhluk adalah Tak Termusnakan untuk selamanya. Sebab itu wahai Bhārata kau tidak perlu berduka untuk siapa pun juga. (30)

(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa), dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapi pertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia daripada pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan. (31)

—Bhagavad Gita Bab 2. (diterjemahkan oleh Swami Anand Krishna di dalam “Bhagavad Gita bagi Orang Modern”, 2017, Gramedia Pustaka Utama).

Soma

Saya pernah berkunjung sebagai tenaga bantu di salah satu sekolah di daerah yang jauh dari kebisingan kota. Desa Aramati namanya. Penduduk desa ini hampir semuanya hidup dari hasil bumi yang memang melimpah. Penduduk desa Aramati sering membutuhkan orang-orang dari desa sebelahnya, desa Rai, yang mayoritas penduduknya pandai berdagang—sehingga mereka bisa mengangkut hasil bumi Aramati ke kota terdekat.

Penduduk kedua desa memahami saling ketergantungan di antaranya, namun cekcok bisnis tidak jarang terjadi. Beberapa penduduk Aramati menilai orang-orang Rai tidak jujur, dan sering mengambil untung terlalu banyak. Sedangkan beberapa orang Rai sering mengatakan bahwa warga desa tetangganya itu pemalas karena terlalu terbuai dengan kesuburan tanahnya. Tidak semuanya demikian; hubungan mereka memang begitu: love-hate, cinta-cinta benci. Bahkan sebenarnya warga kedua kampung telah lama saling menikah, namun itu tidak membuat saling curiga di dalam diri mereka hilang begitu saja.

Ada dua sekolah di desa Aramati; dan sekolah di mana saya bekerja waktu itu bisa dikatakan sekolah negeri terbaik di sana. Hanya mereka yang kaya dan pandai yang boleh duduk di bangkunya. Anak-anak pejabat desa dan pemuka agama bersekolah di sana. Kebanyakan yang bersekolah di sekolah itu adalah putra-putri Aramati, namun sesekali memang ada warga desa di sekitarnya yang bisa masuk ke sana. Tahun di mana saya bekerja ada seorang anak desa Rai yang bersekolah di sana. Namanya Soma.

Soma terlihat pendiam dan tidak banyak temannya. Namun dibalik sikapnya itu, saya bisa melihat bahwa dia tekun dalam belajar, jujur, dan punya sifat pelindung. Sepertinya sikap Soma yang pendiam diakibatkan karena ia bukan berasal dari desa Aramati. Soma dan kedua orang tuanya tinggal di pinggiran desa Rai, sehingga sekolah itulah yang lebih dekat dari rumahnya. Saya pernah diceritakan oleh salah seorang guru di sana, bahwa pihak sekolah awalnya keberatan Soma bersekolah di sana. Tapi karena prestasinya, dan kedekatan keluarganya dengan seorang tetua desa Aramati, maka Soma diperbolehkan masuk.

Sejak awal, Soma dijauhi teman-teman sekelasnya. Seringkali saya mendengar anak-anak Aramati melempar ledekan kepada Soma. Sebagai wali kelasnya, saya juga pernah suatu hari mendapat laporan bahwa ada lebam di pipi Soma sepulang sekolah, yang ketika saya tanya apa sebabnya, ia bilang terjatuh ketika main bola. Saya tidak melanjutkan pertanyaan saya kepadanya; saya tahu dia hanya ingin pulang segera ke rumahnya. Saya juga tahu persis bahwa Soma selalu menghabiskan waktu istirahat di kelas atau perpustakaan—di mana ia bisa dibiarkan tenang tanpa diganggu.

Saya mengagumi kekuatan anak itu. Walaupun dicecar dan dimaki kawan-kawannya, ia tetap datang ke sekolah dan daya belajarnya tidak surut. Malah mungkin bisa dikatakan bahwa cemoohan teman-temannya adalah pemicu bagi Soma untuk maju.

Bulan demi bulan berlalu, di akhir Semester 1, Soma mendapatkan rangking pertama di kelas, dan kedua di sekolah. Ketika diumumkan demikian, tidak ada siswa atau guru yang mengucapkan selamat kepadanya. Bahkan ia dicemooh, dan difitnah curang dihadapannya. Semua tuduhan itu tidak terbukti. Sebelum pulang, saya memberi Soma sekotak pensil warna sebagai hadiah yang diterimanya dengan senang. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Giat belajar ya, Soma.” Begitu balasku. Ia lalu berjalan menuntun sepeda tuanya pergi keluar gerbang sekolah.

Semester 2 berjalan beberapa minggu, dan saya melihat Soma mulai berubah. Ia mulai cepat marah ketika diledek, bahkan sesekali ia membalas dengan kata-kata kasar. Hal ini membuat teman-temannya semakin sering mengerjai Soma. Sampai pada suatu hari saya dipanggil oleh salah seorang guru yang bilang bahwa Soma telah memukul Nayaka, anak pemuka agama di desa Aramati yang sangat berpengaruh dan penyumbang dana terbesar ke sekolah itu. Gigi Nayaka tanggal, dan darah mengalir dari mulutnya.

Nayaka dan teman-temannya mengadu bahwa Soma-lah yang bersalah memulai perkelahian. Pakaian mereka kotor dan ada yang robek. Saya lalu menengok kepada Soma yang duduk meringkuk—sama-sama kumalnya. Matanya basah. “Apa benar begitu, Soma?”

“Iya, Pak.” Jawabnya singkat.

“Kenapa Kamu memukul Nayaka?”

Soma terdiam. Nayaka dan teman-temannya tersenyum kecil—bahagia karena Soma telah mengaku dan yakin ia pasti akan dihukum.

“… mereka menghina kedua orang tua saya, Pak. Mereka bilang saya anak tukang tipu, penjahat.”

“Benar begitu?”

“Tapi, Pak, salah dia sendiri yang sering bicara kasar dan kampungan kepada kami… padahal apa salah kami?” Sahut salah seorang teman Nayaka.

“Bapak sering melihat kalian mengejek Soma sejak hari pertama Soma menginjakkan kakinya di sekolah kita ini.” Merekalah yang telah mengubah Soma. Bully telah membuat Soma keras dan kasar, dan saat itu saya menyesal tidak mengambil langkah tegas.

“Kalian semua salah.. karena menghina Soma, dan kamu Soma.. juga bersalah karena memulai perkelahian. Kalian harus dihukum karena kesalahan kalian.”

***

Besoknya, saya dipanggil Kepala Sekolah. Beliau menanyakan apa yang terjadi. Setelah saya jelaskan, ia menyuruh saya kembali mengajar.

Pagi itu saya tidak melihat Nayaka dan teman-temannya. Soma di sana, duduk seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa. Saya diberi tahu bahwa orang tua Nayaka tidak suka anaknya dihina dengan diberi hukuman. “Hanya dia yang berhak menjatuhkan hukuman pada anaknya,” begitu kata seorang guru di sela-sela jam makan siang. Saya melihat seseorang dengan pakaian keagamaan keluar dari ruang Kepala Sekolah. Mereka terlihat akrab, saling berjabat tangan dan berpelukan. Saya dengar Kepala Sekolah bilang, “Akan saya bereskan segera, Pak. Terima kasih atas dukungan Bapak selama ini.”

Perasaan saya tidak enak. Orang yang tidak saya kenal ini kemudian berbalik.. kami sempat saling pandang beberapa detik.. kemudian ia pergi meninggalkan sekolah. Bel penanda jam pelajaran berbunyi. Saya pun kembali ke kelas.

***

Sore itu, sebelum pulang saya diminta bertemu dengan Kepala Sekolah. Seperti yang sudah saya duga, ia meminta saya mengundurkan diri. “Kembalilah ke kota. Masih banyak pekerjaan bagus di kota besar. Akan lebih baik buat karirmu, kalau Kamu mengajar di sana. Lagi pula guru tetap yang posisinya kamu isi sementara ini sudah datang. Dia akan mulai segera.”

Saya berkelit. Saya masih ingin mengajar di sana. Rasanya, saya belum tuntas menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Tapi Kepala Sekolah bergeming. Tidak ada jalan lain. Saya pun pulang, dan beberapa hari kemudian saya bersiap-siap pulang ke kota.

Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan mampir ke rumah kedua orang tua Soma yang kebetulan saya lalui. Dari penjaga di sana saya tahu bahwa Soma sudah tidak lagi bersekolah di sana. Soma pindah sekolah ke salah satu sekolah Rai—walaupun agak jauh. Soma dikeluarkan dari sekolah karena berkata-kata kasar dan melukai temannya.

Mungkin ini yang terbaik bagi Soma, bagi anak-anak yang lain, buat Kepala Sekolah dan guru-guru: tidak ada lagi bully, tidak ada lagi perkelahian karena tidak ada perbedaan, semua tenang. Soma mungkin bisa menyelesaikan pedidikannya dengan lebih lancar dan bisa mengembalikan lagi sifat aslinya yang tekun, jujur, dan pelindung. Soma juga bisa mengambil peran-peran penting di dalam masyarakat Rai nantinya karena dari sanalah ia berasal. Mungkin ini win-win?

Dalam perjalanan, saya masih memikirkan apa yang terjadi. Desa Aramati dan desa Rai memiliki potensi yang bila dimanfaatkan dengan baik, dan saling bekerja sama, akan mampu mensejahterakan semua… tapi, sayangnya semua sudah puas dalam “kedamaian” semu yang diciptakan demi berlanjutnya sistem yang membuat keduanya akan terus menjadi desa yang jauh dari terang cahaya kota.

Sebelum Berdoa

Seseorang bertanya, “Tuan, apakah jalan menuju-Nya?”

Sri Ramakrishna menjawab, “Cinta-kasih kepada-Nya, dan doa.”

Si penanya belum juga puas, “Jadi yang mana, Tuan, cinta-kasih atau doa?”

“Pertama-tama cinta-kasih, baru kemudian doa.” Setelah menjawab demikian, Sri Ramakrishna bernyanyi dan larut di dalam pujian kepada Hyang Tunggal.

—The Gospel of Sri Ramakrishna, Bab 10, 22 April 1883.

Hari-hari ini citra agama dan keagamaan telah semakin tenggelam di dalam kebencian, amarah, dan nafsu mengejar kekuasaan. Semakin seseorang belajar tentang agama, sepertinya semakin ia jauh dari pengertian, kasih-sayang terhadap mereka yang berbeda. Kemudahan berkomunikasi malah mengotak-kotakkan kita, memisah-misahkan kita. Apa yang salah? Rasanya kita sedang krisis Cinta-Kasih.

Penenkanan agama pada dimensi ritual dan hukum-hukum keagamaan, menutupi dimensi-dimensi lainnya yang lebih tinggi. Dimensi ritual-dan-hukum adalah dimensi terendah, kulit terluar yang “membungkus” agama dan keagamaan. Setiap umat beragama menjalani ritus dan mengikuti kaidah-kaidah hukum tertentu, yang bisa dimaknai secara berbeda antara satu orang dengan yang lain, dan seringkali dipengaruhi oleh konteksnya. Pada lapisan kulit ini keberagamaan tidak bisa dihindarkan, sebagaimana setiap kulit buah mangga yang berasal dari satu pohon yang sama tidak ada yang persis sama.

Kalau kita tidak masuk ke dalam dimensi yang lebih tinggi, menembus lapisan kulit dan masuk ke dalam esensi agama dan keagamaan, permasalahan kita tidak akan kelar-kelar. Selama ini kita sering beribadah tanpa menumbuhkan terlebih dahulu Cinta-Kasih. Pendidikan kita tidak menyadari pentingnya menumbuhkan rasa Cinta dan Kasih di dalam diri anak-anak—diasumsikan mereka bisa belajar sendiri dari kedua orang tuanya. Kemudian pendidikan didesain hanya untuk meneruskan informasi dan mengajari skill yang memang dibutuhkan, tapi tidak cukup.

Di dalam buku Narada Bhakti Sutra, Swami Anand Krishna mengajarkan bahwa langkah pertama yang dibutuhkan sebelum kita bisa menyemai benih Cinta-Kasih, kita perlu terlebih dahulu membabat “ilalang-dan-hama nafsu” yang menyerap nutrisi dari dalam tanah dan dari tanaman Cinta-Kasih yang akan tumbuh nantinya. Pembabatan ini membutuhkan cara tersendiri, tidak bisa dengan hanya sekedar menahan lapar-dan-haus selama sekian jam sehari, tapi mengumbar makanan ketika berbuka. Pembabatan ini membutuhkan upaya yang intens dan terus-menerus.

Di sinilah pentingnya Meditasi. Latihan-latihan meditasi diharapkan nantinya mencapai hidup yang meditatif. Baru di tanah subur kehidupan-meditatif ini, benih-benih Cinta-Kasih bisa tumbuh. Cinta-Kasih ini bersumber dari dalam diri kita sendiri; jika sulit merasakannya, maka kita bisa menggunakan “alat bantu” di luar diri. Di sinilah “peran” Tuhan. Mungkin Anda tidak setuju, “Tuhan kok diper-”alat“?!” Silakan saja, namun bagi umat Hindu, “aham brahmaasmi”, Sang Aku yang sejati dan Tuhan Hyang Maha Luas sesungguhnya satu. Seperti kata Swamiji, “Bila sulit menyadari-Nya di dalam diri, anggaplah Dia berada di luar diri.”

Inilah mengapa umat Hindu seolah-olah memiliki sekian banyak Tuhan: berwujud manusia, super-human, binatang, setengah-binatang setengah-manusia, dan sebagainya. Semua wujud-wujud tadi adalah alat bantu untuk mengarahkan kesadarannya kepada sesuatu yang lebih tinggi daripada nafsunya, dan sekaligus menumbuhkan Cinta-Kasih di dalam diri. Tidak hanya itu, umat Hindu menggunakan pula lagu-lagu pujian, tembang-tembang, syair, puisi yang indah untuk memperbesar Cinta-Kasih kepada-Nya. Luapan Cinta-Kasih itu tidak bisa tidak meluas kepada semua manusia, semua makhluk karena Ia yang bersemayam di dalam diriku, juga ada di dalam dirimu. “Tat tvam asi. Inilah satu-satunya “obat” permasalahan kita.

Pengetahuan agama TIDAK cukup. Malahan apabila hawa nafsu masih cukup kuat, maka agama bisa dipakai sebagai alat untuk mencari pembenaran demi terpuaskannya nafsu—yang sesungguhnya tidak pernah puas itu. Inilah yang terjadi saat ini: permasalahan semakin rumit, seolah tanpa ujung, masalah dibalas masalah baru.. semuanya terjadi karena kita telah melupakan dimensi agama dan keagamaan yang lebih tinggi dan mulia, sehingga kemuliaan pun terlupakan sudah, dan “kulit” kita kira “daging”. Ah, what a waste of time and energy!

Ngelmu

Bos saya dulu unik. Dia termasuk yang paling senior di tempat saya kerja, 22 tahun lebih dia di sana; dia tahu semua seluk beluknya. Bagi bocah ingusan seperti saya, beliau adalah “enigma”. Setiap kali bertanya, dia selalu bertanya, “Do you want a short, or long answer?” Hampir setiap kali saya hanya menginginkan yang “short-short” saja. Bukan cuma karena tidak banyak waktu, tapi jujur saja, seringkali saya “ora mudheng”, gagal paham karena sedemikian luasnya pemahaman dia sehingga interkoneksi segala sesuatu nampak jelas baginya—dan tidak bisa dia abaikan begitu saja. Pengetahuannya tidak membuatnya angkuh, sebaliknya, semakin tahu dia, semakin rendah hati.

Di sisi lain, ada seorang teman yang terobsesi dengan KISS, “keep it simple, stupid!” Setiap kali ada kesempatan untuk memakai “mantra” itu kepada orang lain, langsung dia pakai. Awalnya, saya suka itu! Bahkan saya perkuat kesukaan saya itu dengan kutipan dari Albert Einstein, yang lebih-kurang bilang, “kalau Kamu bisa membuat sederhana sesuatu yang kompleks, maka itu tanda kejeniusan.” Hebat! “Saya seorang jenius,” begitu kira-kira ego saya menggelembung.

Waktu berlalu dan saya mendapat kesempatan untuk mengurusi hal-hal yang lebih kompleks dan melibatkan koordinasi multi-departemen. Semakin hari, semakin terasa betapa saya “kehilangan” kejeniusan. Saya terbenam dalam kompleksitas. Sampai suatu hari saya menyadari ilusi ego: bahwa saya belum mengenal penyederhanaan, tapi baru peng-gampang-an. Saya sudah meremehkan kompleksitas. Saya lupa bahwa konon Einstein juga pernah bilang, “everything should be as simple as it can be, but not simpler”.

Saya rasa itulah yang salah di dalam pendidikan kita saat ini. Saat ini saya malah lebih setuju dengan cara “ngelmu” Mbah-mbah dulu—tentu dengan citarasa modern dan non-klenik. Untuk “ngelmu” kadang seseorang diberi teks, kadang tidak. Kalaupun iya, teksnya pun tidak panjang, sedikit-sedikit saja bahkan kadang berbentuk kode-kode yang perlu dipecahkan, semacam formula. Bahasa teknisnya: “sutra”, ‘benang (merah)’. Bisa juga tanpa-teks; kita diminta “ngelmu” pada “pring” (bambu), pada “segara” (laut), pada “pari” (padi), pada “surya” (mentari), pada “geni” (api), dan sebagainya.

Lho, bukannya kalau begitu “ngelmu” itu juga metode KISS?! Beda! KISS itu divergensi, pengerucutan. Sedangkan “ngelmu” itu konvergensi, pengembangan. KISS itu mencari informasi, sedangkan “ngelmu” mencari esensi. KISS meng-gampang-kan yang kompleks, sedangkan “ngelmu” menatap kompleksitas. KISS itu metode yang dipakai para penceramah dan motivator. Mereka akan membanjiri kita dengan informasi, cerita, ayat-ayat, kadang muntahan amarah, dan kebencian. Kemudian akan bilang, “Betul?”—yang berharap disambut dengan koor afirmasi. Neurologists menemukan bahwa otak kita berhenti “berpikir” ketika dijejali informasi, ketika dihadapkan pada seorang (yang seolah-olah) “ahli”, dan ketika dalam keadaan tersudut (dalam soal waktu, misalnya).

Ketika harus berhadap-hadapan dengan kompleksitas-pun kita bisa “overwhelmed”. Itu karena kita masih dalam mode KISS, belum “switch” ke “ngelmu”. Idealnya, kita bisa dua-duanya. Untuk mengejar deadline, misalnya, kita KISS. Namun sisanya, kita harus bisa “ngelmu”. Itulah kenapa menurut saya di Nusantara teks-teks suci sedikit; dan kalaupun ada pendek-pendek. Ada juga teks seperti I La Galigo yang terpanjang di dunia, atau fragmen-fragmen kisah Ramayana dan Mahabharata yang lumayan panjang—tapi semuanya tadi berfungsi sebagai ensiklopedia. Namun, teks-teks keagamaannya relatif pendek, ringkas, karena ayat-ayat-Nya bertebaran di mana-mana. Kalaupun harus ditulis, maka cukup “teaser” saja, selebihnya harus “ngalami” sendiri.

Seorang yang “ngelmu” akan rendah hati karena ia sedang menatap “mata kompleksitas”. Dia akan sadar bahwa apa yang diketahuinya tidak seberapa, namun di saat yang sama dia bisa “melihat” hal-hal yang tidak diketahuinya. Para KISS-er, sebaliknya, merasa sudah hebat bisa mengutip ayat ini-itu, merasa sudah “menguasai” apa yang pernah dipelajarinya. Para KISS-er pada umumnya jadi pem-bully (atau pendukung bully) karena mereka memandang rendah orang-orang yang (seolah) miskin informasi, tanpa-buku. Padahal para KISS-er, seperti saya dulu, hanyalah bocah ingusan di hadapan mereka yang “ngelmu”.