Renungan: Tentang Jiwa

Pagi ini saya membaca Yoga Vasishtha (6.1.55). Di sana Begawan Vasishtha mengisahkan percakapan antara Shri Krishna dan Arjuna. Shri Krishna menjelaskan tentang hakikat Jiwa (diri yang sejati):

“Jiwa (jīva, Sanskerta.) tinggal di dalam jaring-jaring yang dibentuk dari kelima unsur alam yang menyusun badan (ruang, udara, api, air, dan tanah), dari pikiran, serta budi. Sepanjang hidup, Jiwa tersebut “diseret-seret” oleh sifat-sifat bawaan (yang dibentuk oleh pengalaman-pengalaman di masa lalu, keinginan terpendam, ingatan, dan sebagainya). Demikian, Sang Jiwa terpenjara di dalam badan.

“Seiring waktu, badan pun menua, dan pada akhirnya Jiwa meninggalkan badan seperti sari yang keluar dari perasan daun. Jiwa membawa serta pengalaman dan pikiran, meninggalkan tubuhnya yang lama dan melanjutkan perjalanannya. Jiwa pergi seperti wewangian menguap di udara. (Dalam kondisi itu) Jiwa dibungkus oleh vāsanā, yaitu sisa-sisa pengalamannya selama masih berbadan. Ditinggalkan Jiwa, badan pun teronggok mati.

“Ke mana pun pergi, segala sesuatu yang dilihat oleh Jiwa—yang pada saat itu berwujud sebagai prāṇa, energi—merupakan proyeksi dari vāsanā-nya (bahkan ketika Jiwa tersebut lahir kembali dalam badan yang baru). Vāsanā ini tidak bisa dihilangkan kecuali dengan upaya yang kuat dan terus-menerus. Kalaupun gunung-gunung telah hancur menjadi debu, dan dunia ini mengalami pralaya, janganlah meninggalkan upaya ini. Bahkan, surga dan neraka pun hanya proyeksi dari vāsanā.

“Vāsanā lahir dari ketidaktahuan dan kebodohan, dan hanya akan sirna bilamana cahaya pengetahuan sejati tentang hakikat Jiwa muncul. Yang kita pahami selama ini sebagai jiwa sebenarnya baru vāsanā ini (bukan Sang Jiwa yang Sejati), yaitu hanya gugusan pikiran serta perasaan yang sesungguhnya tidak nyata. Ia yang ketika masih hidup berhasil melepaskan diri dari kendali vāsanā-nya disebut telah mencapai kebebasan (moksha, Sanskerta). Sedangkan mereka yang masih berada dalam cengkraman vāsanā, hidup dalam penjara keterikatan betapa pun cendekianya mereka.”

Inilah esensi ajaran Hindu Dharma, yaitu dharma penduduk Peradaban Sindhu, Hindu, Hindia, India, Indo, Intu, Shintu, yang mana kita adalah bagiannya. Bagi seorang Hindu, surga bukanlah tujuan akhir. Bahkan surga dipandang sebagai kelanjutan dari nafsu dan keinginan kita yang belum tuntas, sedangkan neraka hanyalah cerminan rasa penyesalan. Tidak ada “tiket emas” mencapai Kebahagiaan Sejati yang bisa ditebus dengan beribadah sekian kali, melainkan untuk menggapainya perlu upaya yang kuat dan terus-menerus melepaskan diri dari vāsanā. Sekian.

Leave a Reply