Sanatana Dharma 01: Agama Misi?

Hindu telah menjadi identitas yang otomatis tersemat selama bertahun-tahun sehingga saya merasa tidak perlu memahaminya secara komprehensif. Semuanya dijalani dan dinikmati begitu saja. Sampai pada suatu hari saya bertemu dengan orang-orang yang menyatakan “ingin menjadi Hindu” dan meminta ditunjukkan tahapan-tahapan mempelajarinya. Jujur saja ketika itu saya bingung mulai dari mana.

Kebingungan saya itu berakar dari beberapa hal. Saya bisa saja memberikan mereka buku pelajaran agama Hindu yang dipakai di sekolah-sekolah, tapi saya merasa isinya penuh hapalan yang kering. Padahal saya tahu bahwa di luar itu, ajaran Hindu begitu kaya dan luas. Misalnya, kitab suci Hindu tidak hanya terdiri dari satu atau beberapa buku saja, namun jika dikumpulkan bisa mengisi satu perpustakaan.

Belum lagi ilmu pengetahuan dan tradisi yang lahir dari situ, juga lapisan-lapisan makna yang terjalin di dalamnya, membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak untuk memahami keseluruhannya. Buku-buku pelajaran agama tadi sayangnya tidak cukup dan bahkan akan memberikan kesan yang salah tentang Hindu sebagai agama yang dogmatis, seperti agama-agama lainnya yang mengedepankan iman.

Di sisi lain, kebingungan saya itu mungkin muncul karena dari dalam umat Hindu sendiri memang tidak pernah ada dorongan untuk meng-hindu-kan umat lain. Upaya mengkonversi agama untuk menambah jumlah umat adalah konsep yang aneh, bahkan ada yang memandangnya tidak spiritual dan berbahaya karena merupakan permainan ego. Alih-alih, Hindu mengajarkan umatnya untuk mengikis ego dan fokus pada pemberdayaan diri.

kadis-bali-hari-galungan-itu-lebaran-umat-hindu-w2jQKoOcjS

Umat hindu bersembahyang pada saat hari raya Galungan. (Sumber: Wonderfulbali).

Berbeda dengan agama lainnya, terutama agama-agama monoteis, Hindu berdiri di atas pluralisme yaitu pandangan yang melihat adanya beragam cara untuk mencapai tujuan: Hyang Tunggal. Sebaliknya, agama-agama monoteis secara tegas menyatakan bahwa hanya ada satu jalan yang benar, dan yang lain salah; keselamatan hanya bisa dicapai dengan mengimani sesuatu dan bukan yang lain. Menurut saya inilah akar fanatisme beragama yang merupakan akar konflik.

Mahatma Gandhi—seorang tokoh Hindu ternama dunia—bahkan pernah bilang bahwa konversi agama adalah “an error which is perhaps the greatest impediment to the world’s progress toward peace.” Kedamaian (śānti, Skt), baik di dalam maupun di luar diri, adalah sesuatu yang dijunjung tinggi di dalam ajaran Hindu. Konversi menciptakan tensi, ketegangan antarumat beragama dan kegelisahan di dalam diri yang sesungguhnya tidak perlu.

Konversi agama berdiri di atas asumsi superioritas. “Saya paling benar dan yang lain salah!” Seorang pengkonversi akan menghalalkan segala macam cara, mencari-cari pembenaran sekaligus kesalahan orang lain yang bisa dipakainya demi menghujamkan tombak argumentasi yang bisa membuat ‘lawannya’ takluk. Akibatnya, kebenaran bisa dikorbankan demi ego dan perjalanan ke dalam diri pun terabaikan.

Tapi bukan berarti umat Hindu hanya boleh bermain bertahan (defensif) menghadapi serangan mereka ini. Umat Hindu sebenarnya juga diberi peran sebagai Dharma-dūta untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran luhurnya, Dharma, kepada orang lain. Hal ini bukan untuk bersaing menjadi yang paling banyak, tapi karena nilai-nilai Dharma bersifat universal dan membawa kebaikan bagi seluruh alam.

Veda—pustaka suci Hindu—menyatakan:

yathemāṃ vācaṃ kalyāṇīmāvadāni janebhyaḥ, brahmarājānyābhyām śūdrāya cāryāya ca svāya cāraṇāya ca. —Yajurveda 26.2.a-b.

Artinya lebih kurang: Semoga aku mampu menyampaikan ajaran-ajaran luhur ini kepada semua orang, kepada brahmana (pendidik, ilmuwan), kepada mereka yang terlibat dalam pengaturan masyarakat (pemerintah, pembuat kebijakan), kepada para pekerja dan pelaku ekonomi (petani, nelayan, pedagang, dsb.), juga kepada kerabat dan kawan sendiri dan kepada orang-orang lain.

Sekali lagi, pesan di atas bukanlah pesan konversi yang sifatnya superfisial. Mantra di atas pertama-tama memberikan kepercayaan diri bahwa ajaran Hindu mengandung kebaikan, kemuliaan (kalyāṇa, Skt) yang berguna bagi semua manusia—terlepas apa pun agamanya—demikian pula makhluk lainnya. Dan karenanya, perlu disebarluaskan.

BqJqZ

Umat hindu berkumpul saat Kumbh Mela di India. Umat hindu memiliki ritual dan tradisi yang berbeda-beda, namun berasal dari satu Dharma. (Sumber: dandapani.org).

Inilah ciri khas Hindu. Ketika yang lain mengedepankan eksklusifitas dan superioritas agamanya masing-masing, Hindu malah menonjolkan keuniversalan dan infklusifitasnya. Hindu tidak membagi umat manusia menjadi dua kubu, yaitu yang selamat dan yang dilaknat, hanya berdasarkan pada apa yang dipercayainya. Alih-alih menitikberatkan pada kepatuhan pada hukum-hukum keagamaan, Hindu berpegang pada prinsip Dharma dan kebahagiaan bersama.

Nilai-nilai Dharma bersifat universal dan langgeng, sedangkan hukum perlu terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Ini bukan berarti Hindu tidak memiliki hukum-hukum keagamaan. Ada, namun hukum tersebut bisa berubah mengikuti desa, kala, dan patra yaitu tempat, waktu, dan kondisi setempat—tidak berhenti pada satu titik di masa lalu. Hukum-hukum ini lahir dari dan terinspirasi oleh nilai-nilai Dharma.

Jadi, apakah Hindu agama misi? Jawabannya tergantung pada definisi ‘misi’ itu sendiri. Jika kita kaitkan misi dengan kegiatan misionaris atau dakwah yang mencoba mengubah identitas keagamaan seseorang, maka jawabannya tidak. Hindu memandang agama-agama dan kepercayaan yang ada tidak hitam dan putih, benar dan salah, tapi “melayani” bermacam jenis kepribadian, sifat, watak, dan tingkat perkembangan spiritual manusia.

Ada yang masih perlu menekankan pada sistem reward dan punishment (dalam bentuk pahala dan dosa yang bisa menentukan seseorang masuk ke surga atau neraka setelah mati), namun ada yang sudah melampaui keduanya. Ada yang menempatkan “keselamatan” hanya pada satu sosok/ajaran saja, ada pula yang menekankan pada kemandirian untuk meningkatkan kesadarannya. Watak seseorang sangat menentukan śraddhā apa yang ‘cocok’ baginya.

Namun apabila ‘misi’ tersebut dikaitkan dengan upaya-upaya memberdayakan diri dan meningkatkan kesadaran manusia agar ia bisa bertindak tepat dan menjaga keharmonisan hidupnya dengan sesamanya, dan dengan alam lingkungannya, maka ya, Hindu adalah agama misi. Inilah sifat dasar manusia yang terus menginginkan perbaikan diri, mencari ilmu pengetahuan dan cara-cara hidup yang memaksimalkan kebahagiaan—tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga untuk yang lain.

pura-ulun-danu-bratan-bali-841865328-59c6d6b5685fbe001138763d

Pura Ulun Danu di tepi danau Batur, Bali. Hindu adalah agama yang dekat dengan alam. (Sumber: Patchareeporn Sakoolchai / Getty Images)

Dengarkan pesan Rigveda 9.63.5 berikut ini:

indraṃ vardhanto apturaḥ kṛnvanto viśvamāryam, apaghnanto arāvṇaḥ.

Artinya lebih kurang: (Oh Soma) perkuatlah Indra, menyeberangi segala kesulitan, buatlah semuanya menjadi mulia (ārya), singkirkanlah mereka yang berpikiran picik, sempit (arāvṇa).

Ārya adalah istilah yang sentral dalam ajaran agama Hindu. Berbeda dengan anggapan umum, ārya bukanlah ras atau suku bangsa tertentu (yang dibayangkan berasal dari Asia Tengah atau Eropa Timur yang masuk ke India dan membawa Veda), namun terkait dengan sifat atau karakter. Kata ārya adalah turunan dari kata arya yang berarti ‘berbudi/berwatak baik’. Ārya adalah orang-orang yang memiliki sifat arya.

Kebalikannya adalah arāvan. Ada beberapa makna kata ini: 1) (ia) yang tidak bebas bergerak, berpikir; 2) (ia) yang tidak mau berbagi; 3) (ia) yang membenci, kejam. Sifat-sifat ini berseberangan dengan sifat arya di atas. Inilah misi seorang hindu, yaitu mengembangkan sifat-sifat arya di dalam diri, menyebarluaskannya, dan jika diperlukan, menghentikan mereka yang bersikap sebaliknya. Untuk itu kita perlu ‘membangkitkan Indra’ di dalam diri.

Perlu diingat bahwa ke-arya-an tidak otomatis “jatuh” pada orang-orang dari agama dan kepercayaan tertentu, atau mereka yang berasal dari ras atau suku bangsa tertentu. Kisah-kisah dalam tradisi Hindu kerap memperlihatkan perseteruan antara orang-orang dari agama/kepercayaan dan bangsa yang sama namun yang satu berpegang pada prinsip-prinsip Dharma sedangkan yang lain berpihak pada Adharma.

Tolok ukur misi seorang Hindu jelas, yaitu Dharma. Oleh karena itu kita perlu lebih dahulu memahami apa itu Dharma, apa misi kita, bagaimana mencapainya, serta ke mana kita akan melangkah. Dalam seri tulisan ini saya akan mencoba mengangkat hal-hal tersebut, dengan segala keterbatasan saya. Ini juga adalah sādhanā saya untuk memperjelas pemahaman saya sendiri tentang ajaran Hindu, dan jika ada orang lain yang mendapatkan manfaat dari sini, itu semata-mata berkah dari Hyang Widhi Wasa.

Menggali Akar Peradaban Hindu (3–Habis): Tulang Punggung Peradaban

[Tulisan saya ini dimuat di Majalah Media Hindu edisi Oktober 2016]

Om Avignamastu,

“Aku telah berjalan ke semua sudut India, dan aku belum pernah menemukan seorangpun pengemis dan pencuri—sedemikian kayanya negeri itu, dengan nilai-nilai moral yang tinggi, sehingga tidak mungkin kita (bangsa Inggris) bisa menaklukkan negeri itu tanpa mematahkan tulang-punggungnya, yaitu kekayaan warisan spiritual dan budayanya. Oleh karena itu, aku mengusulkan agar kita mengganti sistem pendidikannya yang sudah sudah berusia ribuan tahun, (sehingga kita bisa mengubah) budayanya—karena apabila orang-orang India berfikir bahwa segala sesuatu yang asing dan berasal dari Inggris lebih baik dan mulia daripada apa yang dimilikinya; mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan (akhirnya) budaya asalnya akan tersingkir, kemudian mereka akan mudah dikuasai.” —terjemahan bebas kutipan pidato Lord Macaulay di hadapan Parlemen Inggris, 2 Februari 1835.

India, Hindia, Indus, Hindu, Sindhu adalah satu peradaban; sehingga kita pun bisa mengganti kata India di dalam kutipan di atas dengan Indonesia—atau wilayah-wilayah lain di dalam Peradaban Sindhu—dan akan kita temukan pola yang sama. Penjajahnya boleh berbeda: di sana British East India Company, di sini Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), di sana dijajah oleh orang-orang Inggris, di sini kita dieksplotasi oleh orang-orang dari Belanda, di wilayah lain, oleh bangsa-bangsa lain. Sama saja, ‘beti’ beda tipis!

Kita harus akui bahwa mereka sukses dengan misinya tadi. Mereka berhasil mematahkan tulang-punggung kita, menciptakan amnesia sejarah—dan yang lebih parah—amnesia budaya dan jati diri. Hingga detik ini, sadar atau tidak, kita masih mewarisi pola pikir yang mereka tanam ratusan tahun yang lalu itu. Kita masih memandang diri lebih rendah, tidak beradab sebelum kedatangan orang-orang asing yang membawa serta peradaban, ilmu, pengetahuan, teknologi, hukum bahkan seni. Kita masih takjub melihat bule, orang-orang asing dan memandang mereka lebih baik dari diri kita.

Anda mungkin bertanya, apa sih yang kita punya? Kalau itu yang terbersit di benak kita, bagus! Kita bisa mulai perjalanan menggali kekayaan warisan spiritual dan budaya kita di dalam beberapa tulisan saya selanjutnya.

Weda: Kolam Intelejensia
Peradaban Sindhu merupakan satu-satunya peradaban kuna dunia yang masih hidup hingga saat ini. Sumber kekuatannya terletak pada Dharma yang langgeng, kekal, abadi, dan selalu ada (baca kembali tulisan pertama saya dalam seri ini). Dari waktu ke waktu, Peradaban Sindhu dibekahi oleh kehadiran para Guru, para Bijak, para Suci yang mampu menangkap, kemudian menerjemahkan serta mengaplikasikan Dharma ini sesuai dengan tuntutan jamannya. Peradaban Sindhu percaya pada perkembangan, bahwa otak manusia memiliki kelebihan dan juga keterbatasan sehingga ia hanya mampu menangkap sesuai dengan kapasitasnya. Semakin berkembang dirinya, semakin banyak yang ia bisa pahami. Selama ribuan tahun proses ini terjadi, dan ajaran-ajaran para Suci diwariskan dari generasi ke generasi.

Sekitar 5000 tahun yang lalu, Resi Wyasa atau Begawan Abhiyasa bersama murid-muridnya mengumpulkan ajaran-ajaran tadi ke dalam empat buku besar, yang sekarang kita kenal sebagai Weda atau Veda. Sesungguhnya, Weda—yang berarti pengetahuan, kebijakan—melampaui keempat pustaka tersebut. Swami Anand Krishna mengatakan bahwa Weda adalah “kolam intelejensia, di mana jagad raya hanyalah sebuah pulau kecil. Alam semesta hanyalah satu bagian dari kolam itu. Sementara kolam intelejensia itu sendiri hanyalah bagian dari Hyang Maha Ada”, sebagaimana yang juga dikatakan oleh Shri Krishna di dalam Bhagavad Gita 2.46.

Saat ini kita mewarisi empat pustaka: Rig, Yajur, Sama, dan Atharwa Weda. Rig Weda merupakan pustaka tertua umat manusia yang berisi mantra-mantra yang selama ribuan tahun telah menjadi sumber dari seluruh Peradaban Hindu. Walaupun mungkin banyak di antara kita yang belum pernah melihat mapun membaca langsung Rig Weda, namun setiap hari kita telah mengucapkan salah satu mantranya ketika melakukan Puja Tri Sandhya, yaitu Mahamantra Gayatri yang bisa dijumpai di Rig Weda 3.62.10.

Sama Weda menggubah mantra-mantra dari Rig Weda ke dalam melodi dan musik yang meditatif. Sedangkan Yajur Weda berisi tentang berbagai ritual Yajna, menjelaskan hubungan manusia dengan semesta. Yajur dan Rig Weda juga diketahui mengandung simbol-simbol astronomi yang kemudian berkembang menjadi ilmu Jyotisha. Bahkan di dalam Rig Weda, Resi Atri merekam peristiwa astronomi, yaitu gerhana yang terjadi sebelum titik-balik matahari musim panas, pada 26 Maret 3928 SM. Atharwa Weda sering dianggap sebagai Weda yang paling muda. Atharwa Weda berisikan ajaran-ajaran untuk menghadapi berbagai aspek negatif serta mengingkatkan aspek positif hidup kita. Ayurveda merupakan salah satu cabang ilmu yang lahir dari Atharwa Weda.

screen-shot-2017-01-17-at-1-31-06-pm

Gambar 1. Diagram Kitab Suci Peradaban Sindhu (diambil dari buku “In Search of The Cradle of Civilization” oleh Subhash Kak et al. dengan modifikiasi oleh penulis.

Institusi Ashram
Jauh sebelum Barat mengenal institusi pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi, penduduk Peradaban Sindhu—yang membentang dari Afghanisthan hingga ke Kepulauan Nusantara—telah mengenal institusi Ashram. Sayangnya, di Indonesia institusi ini sekarang hanya tinggal namanya saja. Bahasa Indonesia menyerap kata Ashram menjadi asrama yang maknanya telah sangat menyempit, yaitu semata “bangunan tempat tinggal bagi kelompok orang untuk sementara waktu, terdiri atas sejumlah kamar, dan dipimpin oleh seorang kepala asrama” (KBBI). Di masa lalu, institusi inilah yang menjadi tulang-punggung Peradaban Sindhu.

Kata Ashram (Āśrama) di dalam bahasa Sansekerta berasal dari akar kata ‘śram’, yang berarti menjalani disiplin diri, menaklukan diri. Jadi Ashram bisa diartikan sebagai fase, tahapan kehidupan, bahkan juga tempat untuk tidak mengasah, mengolah jiwa. Tidak heran di Indonesia, asrama diasosiasikan dengan sekolah dan tempat tinggal para murid dan guru. Di masa lalu, di dalam institusi Ashram inilah seluruh ilmu dan pengetahuan Weda dipelajari, dikembangkan, dan dipraktikkan.

Di samping bermakna tempat, Ashram juga berkaitan dengan masa atau periode kehidupan. Ini yang kita pelajari dan hapalkan di sekolah: Catur Ashrama, yang terdiri dari Brahmacari, Grahasthya, Vanaprastha, dan Sanyasin. Keempat masa kehidupan ini menunjukkan wawasan mendalam yang dimiliki leluhur kita. Kita tidak diharapkan untuk lahir, hidup, bersenang-senang, kemudian mati saja, namun para bijak di Peradaban Sindhu memberikan kita cetak biru perencanaan jangka panjang yang holistik. Sayangnya, di jaman modern ini, kita hanya mengenal dua institusi pertama saja yang berupa sekolah dan rumah-tangga.

Vanaprastha dan Sanyasin hanya tinggal teori di buku-buku pelajaran sekolah. Kini ketika pensiun, biasanya kita diharapkan membantu merawat cucu, bahkan cicit, di rumah. Perjalanan spiritual ke dalam diri pun terlupakan sudah; hingga akhir hayat, kita akan terus disibukkan oleh dunia. Swami Anand Krishna menjelaskan di dalam bukunya, Sanyas Dharma, bahwa “bagi mereka yang memasuki Sanyas Ashram setelah menempuh tiga masa sebelumnya, inilah puncak dari segala pengalaman. Sebagai Sanyasi mereka bisa hidup bebas tanpa beban apapun. Mereka dapat berkarya tanpa pamrih, tanpa kepentingan diri. Mereka bisa melayani sesama dengan semangat manembah. Mereka bisa sepenuhnya berfokus kepada Tuhan.”

Tidak mengherankan apabila kehidupan modern kita saat ini tidak mendatangkan kebahagiaan semakin tua usia kita—sebagaimana yang ditunjukkan di dalam salah satu penelitian. Institusi Ashram di Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, memang sudah mulai bermunculan, namun masih dipandang oleh sebagian orang, ‘aneh’ serta dianggap hanya diperuntukkan bagi orang-orang tua/kelompok tertentu saja. Salah kaprah ini telah berlangsung sedemikian lama, menciptakan kecurigaan, dan bahkan tidak jarang, pertentangan.

Padahal hanya di dalam lingkungan Ashram inilah manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh pendidikan spiritualitas (dalam makna yang sebenarnya) yang bukan hanya teori namun juga praktik melepaskan segala pengkondisian, atau disebut Vasana di dalam bahasa Sansekerta, yang telah kita peroleh selama ini. Jika suatu masyarakat kehilangan kemampuan untuk membebaskan dirinya dari Vasana yang tidak berguna, maka masyarakat tadi akan dipengaruhi oleh kesadaran rendah, seperti materialisme, sedemikian hingga mereka akan dengan mudah dikuasai—seperti yang terjadi pada kita saat ini. Ashram adalah satu-satunya harapan kita menghidupkan kembali Peradaban Sindhu, Indus, Hindu.

screen-shot-2017-01-17-at-1-33-49-pm

Gambar 2. Foto salah satu kegiatan di Anand Ashram Ubud yang penuh keceriaan dan dinamis.

 ***

Menggali Akar Peradaban Hindu (2): Dari Sunda ke Sindhu-Saraswati

[Tulisan saya ini dimuat di Majalah Media Hindu edisi September 2016]

Om Avignamastu,

“Agama Hindu adalah satu-satunya agama besar dunia yang meyakini bahwa alam semesta mengalami proses kelahiran dan kematian terus-menerus. Inilah satu-satunya agama yang menggunakan skala waktu yang sesuai dengan ilmu kosmologi modern—dan saya yakin ini bukan kebetulan semata. Siklus waktu yang mereka pakai mulai dari siklus siang-dan-malam biasa ke siklus siang-malam Brahma: sepanjang 8,64 miliar tahun. Ini lebih tua dari umur bumi dan matahari, juga sekitar setengah dari rentang masa sejak ‘Big Bang’—bahkan (agama Hindu) masih memiliki skala waktu lain yang lebih panjang lagi.” —Carl Sagan (1934-1996), astronom dan kosmolog asal Amerika Serikat.

Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan Hindu Dharma lahir. Beberapa ilmuwan menggunakan masa penyusunan kitab suci tertuanya, Rig Weda, untuk menjawab pertanyaan ini. Hasilnya beragam. Ada yang mengajukan angka 25.000SM (Avinash Chandra Das), 6.000SM (Balgangadhar Tilak), sedangkan para Indolog barat cenderung mengatakan bahwa Rig Weda disusun antara 1.500SM – 500SM. Angka manapun yang kita percayai, Rig Weda sendiri mengungkapkan bahwa Hindu Dharma telah lama ada jauh sebelum syair-syairnya disusun, bahkan disebut ‘nitya’ atau abadi.

Yang menarik, seperti diungkapkan oleh Carl Sagan di atas, orang-orang dari Peradaban Sindhu atau Hindu telah mengenal skala waktu yang sangat besar yang sejalan dengan kosmologi modern. Untuk sampai kepada angka yang sedemikian besar, orang-orang Hindu harus menggunakan sistem-angka yang tepat, memahami matematika, astronomi, dan ilmu pengetahuan lainnya. Penggunaan angka ‘0’ (Shunya) dan sistem basis-10 telah digunakan di dalam Weda jauh sebelum sistem ini dikenalkan secara luas di Eropa oleh para ilmuwan Timur Tengah pada sekitar abad ke-10M, untuk menggantikan angka romawi yang tidak lagi praktis digunakan. Sistem ini dikenal sebagai Hindu numeral system.

Seperti yang saya ungkapkan di tulisan sebelumnya, Hindu adalah nama suatu gugus peradaban yang membentang luas dari barat Sungai Sindhu (kini di Pakistan dan India), Afganistan, Anak Benua India, Indo-Cina, hingga ke Kepulauan Asia Tenggara. Orang-orang Persia memberikan nama Hindu kepada orang-orang yang menjadi bagian dari gugus peradaban ini. Orang-orang di Tiongkok menyebutnya Yin-tu; sedangkan bangsa-bangsa di Eropa mengenal gugusan peradaban ini dengan nama Indus atau Indos. Nama Indo-nesia, India, Hindia, atau Indies adalah jejak-jejak yang menunjukkan bahwa kita semua berada di dalam gugusan peradaban yang sama.

Walaupun orang-orang yang hidup di dalam Peradaban Sindhu atau Hindu memiliki Shraddha atau agama yang berbeda, namun mereka semua diikat oleh Dharma yang universal. Di dalam Rig Weda, konsep Dharma juga dikenal sebagai Rta. Sulit mencari terjemahan bagi dua kata ini; Dharma dan Rta sering diartikan sebagai hukum universal yang menopang semesta. Benda-benda di jagat raya ini berjalan mengikuti Rta (Rig Weda 1.124.3, 5.80.4); langit dan bumi ini ada dalam kandungan Rta (Rig Weda 10.65.8, 1.65.4); para Resi berdoa agar mampu melampaui dualitas suka-duka di jalan Rta (Rig Weda 10.133.6). Mengutip istilah Swami Anand Krishna, Hindu Dharma merangkum semua kepercayaan, budaya, tradisi yang “existence-friendly”, yang ramah kepada alam semesta.

Menyadari sedemikian tuanya jagat raya, para Resi Weda tidak-bisa-tidak hidup harmonis dengan segala sesuatu di sekelilingnya. Di Bali kita mengenal Tri Hita Karana yang berpijak pada prinsip yang sama. Inilah alasan mengapa Peradaban Sindhu atau Hindu bisa bertahan selama ribuan tahun. Pusat-pusat tertua Peradaban Sindhu yang tersebar di sekitar Sungai Sindhu-Saraswati, seperti Harappa dan Mohenjo-Daro terbukti telah ada setidak-tidaknya 8.000 tahun yang lalu (atau 1.000 tahun lebih tua lagi bila memperhitungkan masa Pra-Harappa). Hasil penelitian yang dilakukan oleh oleh IIT-Kharagpur dan Archaeological Survey of India ini dipublikasikan di dalam jurnal-sains bergengsi, Nature, 25 Mei 2016. Ini berarti Peradaban Sindhu atau Hindu sudah ada sebelum Mesir dan Mesopotamia, serta menjadi “cradle of civilisation”. Saya yakin bahwa angka ini akan terus mundur seiring dengan semakin dalamnya penggalian, terkumpulkannya bukti-bukti baru, serta berkembangnya teknologi.

Di dalam bukunya, Wisdom of Sundaland (2012), Swami Anand Krishna bahkan memperkirakan umur Peradaban Sindhu atau Hindu mencapai 14.000 tahun. Yang menarik, beliau mengungkapkan bahwa peradaban ini dibangun oleh para imigran dari peradaban sebelumnya di Sundaland. Pada Jaman Es (sekitar 110.000–12.000 tahun yang lalu), pulau-pulau besar di bagian barat Kepulauan Nusantara, seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan, terhubung dengan Semenanjung Malaysia dan membentuk landmass yang dikenal sebagai Sundaland. Akibat naiknya permukaan air laut dan berbagai bencana alam dahsyat yang terjadi, mau-tidak-mau mereka yang terdampak mengungsi dan mencari tempat tinggal baru. Di kawasan ini, banyak ditemui legenda yang bersumber dari peristiwa ini, salah satunya adalah Kumari Kandam yang dikenal di India Selatan.

2398806154_60ea2da4f5_o

Gambar 1. Peta Asia Tenggara pada Jaman Es (Pleistocene) menunjukkan bagian barat Indonesia bersatu dengan daratan Benua Asia.

Proses perpindahan ini memakan waktu yang sangat panjang: mereka berpindah dari satu-tempat ke tempat lain, mencari lahan yang stabil dan subur. Para imigran ini membawa serta pengetahuan dan teknologi dari peradaban sebelumnya. Ribuan tahun kemudian, mereka sampai di tepian Sungai Sindhu-Saraswati. Di sanalah mereka membangun kembali peradaban. Rig Weda merekam puja-puji para Resi kepada kedua sungai besar itu; bahkan Saraswati diagungkan sebagai Dewi ilmu pengetahuan, seni, dan peradaban. Segenap warisan pengetahuan yang dibawa keluar dari Sundaland dan pengetahuan baru yang berkembang di sana, di kemudian hari dikumpulkan oleh Maharesi Wyasa ke dalam beberapa jilid buku yang kita kenal sebagai Catur-Weda: Rig, Sama, Yajur, dan Atharva Weda.

Ajaran-ajaran Weda ini dikenal pula sebagai “Arya Dharma”. Kata Arya berarti ia yang mulia dan bijak; kata ini tidak mewakili suku atau ras tertentu seperti yang selama ini didengungkan beberapa kalangan. Teori yang mengatakan bahwa ajaran-ajaran Weda datang belakangan seiring invasi ras atau bangsa Arya dari Eropa Timur yang mengakhiri Peradaban Sindhu, telah banyak dibantah.

Beberapa bukti kuat menunjukkan kemenerusan Peradaban Sindhu atau Hindu dengan ajaran-ajaran Dharma di dalam Weda yang masih kita warisi hingga saat ini. Salah satu contohnya adalah Yoga. Peradaban Sindhu meningggalkan beberapa segel bergambar dan memiliki simbol-simbol yang dianggap sebagai huruf—yang belum terpecahkan hingga sekarang. Di antara segel-segel yang ditemukan, tidka hanya di Harappa dan Mohenjo-Daro, tapi juga hingga ke kawasan Timur Tengah ada segel dengan gambar seseorang yang sedang ber-Yoga-Asana (Gambar 2). Para arkeolog memperkirakan tokoh tersebut adalah Pashupati atau Shiva.

screen-shot-2017-01-17-at-1-17-10-pm

Gambar 2. Segel dari Mohenjo-daro yang menunjukkan postur Bhadra-asana. Banyak ahli sepakat bahwa sosok di dalam segel ini adalah Shiva, Sang Yogi-raaj.

Yoga merupakan salah satu ‘hadiah’ Hindu Dharma bagi dunia. Saat ini, Yoga telah dikenal secara luas, walaupun banyak yang belum memahami esensinya. Asanas atau postur-postur Yoga, yang menjadi fokus saat ini, dipergunakan untuk olah-raga saja. Padahal Asanas hanyalah satu dari delapan ‘tubuh’ Yoga, seperti yang dipaparkan oleh Resi Patanjali. Padahal dengan tegas, Resi Patanjali mengatakan bahwa Yoga adalah disiplin-diri (atha yogānuśāsanam, Patanjali Yoga Sutra 1.1), untuk mengendalikan benih-benih pikiran atau Citta (yogaś-citta-vrtti-nirodhah, PYS 1.2) agar kita mampu menyadari hakikat Sang Diri yang Sejati.

screen-shot-2017-01-17-at-1-20-17-pm

Gambar 3. Para peserta Yoga di One Earth Retreat Centre, Bogor, sedang memperagakan Bhujanga-asana.

Dengan diperkenalkannya Yoga di pentas dunia lewat disahkannya Hari Yoga Internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 11 Desember 2014, menunjukkan keuniversalan nilai-nilai dan praktik Yoga. Hari Yoga Internasional dirayakan pada tanggal 21 Juni setiap tahunnya, dan diikuti oleh jutaan orang di seluruh dunia. Kita harus berterima kasih pada upaya-upaya Perdana Menteri India saat ini, Narendra Modi yang telah mendorong hal ini, untuk menyebarluaskan Yoga sekaligus mengingatkan dunia akan akar Yoga yang tumbuh dari ajaran Hindu Dharma.

***

Isha Upanishad

Īśā upaniṣad, atau yang juga dikenal sebagai Īśāvāsya upaniṣad—yang diambil dari 2 kata pertama di dalam kitab ini, merupakan bab penutup Śukla Yajurveda (sekitar 1200–1000 SM), yaitu bab ke-40. Isha upanishad merupakan upanishad-utama yang terpendek, yang terdiri dari 18 sloka saja. Namun demikian, Isha upanishad dipandang sebagai salah satu teks suci terpenting di dalam tradisi advaita yang menjelaskan kesatuan antara Sang Jiwa dan Tuhan Yang Esa (Paramātmā).

Upanishad berasal dari: upa ni ṣad; kata dasar “ṣad” seakar dengan kata sit di dalam bahasa Inggris, yang berarti duduk. Awalan upa- menunjukkan makna “di dekat atau di bawah”; sedangkan awalan kedua, ni-,  menyatakan “di dalam atau tunduk, merendah”. Jadi upanishad berarti duduk di dekat, di bawah Sang Guru. Isha atau īśā adalah salah satu nama Tuhan yang berarti “Ia yang maha berkuasa”; sehingga Isha upanishad bisa dimaknai sebagai ajaran (yang diterima dari Sang Guru) untuk mendekatkan diri kita kepada Ia Hyang Mahakuasa, yang juga Maha Bersemayam di Dalam Diri Semua Makhluk (sloka 1).

Teks lengkap Isha upanishad dalam bahasa Sanskrit dibawah ini saya transkripsikan sendiri ke dalam aksara Bali; sedangkan terjemahan maknanya saya ambil dari buku “Shambala: Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran”, karya Swami Anand Krishna, yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000. Ini adalah upaya untuk menyebarluaskan ajaran dharma serta untuk merawat khasanah pengetahuan warisan Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo. Seperti yang Swami Anand Krishna ungkapkan di dalam bukunya, “Isha Upanishad bukan teks agama, tetapi teks keagamaan—religiousness. Inti keagamaan.”

Apabila pembaca mengutip sebagian atau keseluruhan tulisan di bawah, silakan menuliskan pula sumbernya. Jika ingin sharing atau berdiskusi terkait tulisan ini silakan menuliskannya di kotak komen. Semoga bermanfaat.

 

sarasvati528

Dewi Saraswati

 


᭟ ᬒᬁ ᬰ᭄ᬭᬷ ᬕᬸᬭᬸᬪ᭄ᬬᭀ ᬦᬫᬄ ᭟

᭚ ᬅᬣ ᬈᬰᭀᬧᬡᬶᬱᬤ᭄ ᭟

ᬒᬁ ᬧᬹᬃᬡᬫᬤᬄ ᬧᬹᬃᬡᬫᬶᬤᬀ ᬧᬹᬃᬦᬵᬢ᭄ ᬧᬹᬃᬡᬫᬸᬤᬘ᭄ᬬᬢᬾ ᭞
ᬧᬹᬃᬡᬲ᭄ᬬ  ᬧᬹᬃᬡᬫᬵᬤᬵᬬ ᬧᬹᬃᬡᬫᬾᬯᬵᬯᬰᬶᬱ᭄ᬬᬢᬾ ᭟

ᬒᬁ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᭟

ᬒᬁ ᬈᬰᬵᬯᬵᬲ᭄ᬬ ᬫᬶᬤᬁ ᬲᬃᬯᬀ ᬬᬢ᭄ᬓᬶᬜ᭄ᬘ ᬚᬕᬢ᭄ᬬᬵᬀ ᬚᬕᬢ᭄ ᭞ ᬢᬾᬦ ᬢ᭄ᬬᬓ᭄ᬢᬾᬦ ᬪᬸᬜ᭄ᬚᬷᬢᬵ ᬫᬵ ᬕᬺᬥᬄ ᬓᬲ᭄ᬬᬲ᭄ᬯᬶᬤ᭄ᬥᬦᬫ᭄ ᭟᭑᭟ ᬓᬸᬃᬯᬦ᭄ᬦᬾᬯᬾᬳ ᬓᬃᬫᬵᬡᬶ ᬚᬶᬚᬷᬯᬶᬱᬾᬘ᭄ᬙᬢᬁ ᬲᬫᬵᬄ ᭞ ᬏᬯᬀ ᬢ᭄ᬯᬬᬶ ᬦᬵᬦ᭄ᬬᬣᬾᬢᭀ’ᬲ᭄ᬢᬶ ᬦ ᬓᬃᬫ ᬮᬶᬧ᭄ᬬᬢᬾ ᬦᬭᬾ ᭟᭒᭟ ᬅᬲᬸᬃᬬ ᬦᬵᬫ ᬢᬾ ᬮᭀᬓᬵ ᬅᬦ᭄ᬥᬾᬦ ᬢᬫᬲᬵ’ᬯᬺᬢᬵᬄ ᭞ ᬢᬵᬁᬲ᭄ᬢᬾ ᬧ᭄ᬭᬾᬢ᭄ᬬᬵᬪᬶᬕᬘ᭄ᬙᬦᬢᬶ ᬬᬾ ᬓᬾ ᬘᬵᬢ᭄ᬫᬳᬦᭀ ᬚᬦᬵᬄ ᭟᭓᭟ ᬅᬦᬾᬚᬤᬾᬓᬀ ᬫᬦᬲᭀ ᬚᬯᬷᬬᭀ ᬦᬿᬦᬤ᭄ᬤᬾᬯᬵ ᬆᬧ᭄ᬦᬸᬯᬦ᭄ᬧᬸᬃᬯᬫᬃᬱᬢ᭄ ᭞ ᬢᬤ᭄ᬥᬵᬯᬢᭀ’ᬦ᭄ᬬᬵᬦᬢ᭄ᬬᬾᬢ ᬢᬶᬱ᭄ᬞᬢ᭄ ᬢᬲ᭄ᬫᬶᬦ᭄ᬦᬧᭀ ᬫᬵᬢᬭᬶᬰ᭄ᬯᬵ ᬤᬥᬵᬢᬶ ᭟᭔᭟ ᬢᬤᬾᬚᬢᬶ ᬢᬦᬿᬚᬢᬶ ᬢᬤ᭄ᬤᬹᬭᬾ ᬢᬤ᭄ᬯᬦ᭄ᬢᬶᬓᬾ ᭞ ᬢᬤᬦ᭄ᬢᬭᬲ᭄ᬬ  ᬲᬃᬯᬲ᭄ᬬ  ᬢᬤᬸ ᬲᬃᬯᬲ᭄ᬬᬵᬲ᭄ᬬ  ᬩᬵᬳ᭄ᬬ ᬢᬄ ᭟᭕᭟ ᬬᬲ᭄ᬢᬸ ᬲᬃᬯᬵᬡᬶ ᬪᬹᬢᬵᬦ᭄ᬬᬵᬢ᭄ᬫᬦ᭄ᬬᬾᬯᬵᬦᬸᬧᬰ᭄ᬬᬢᬶ ᭞ ᬲᬃᬯᬪᬹᬢᬾᬱᬸ ᬘᬵᬢ᭄ᬫᬵᬦᬀ ᬢᬢᭀ ᬦ ᬯᬶᬚᬸᬕᬸᬧ᭄ᬲᬢᬾ ᭟᭖᭟ ᬬᬲ᭄ᬫᬶᬦ᭄ᬲᬃᬯᬵᬡᬶ ᬪᬹᬢᬵᬦ᭄ᬬᬵᬢ᭄ᬫᬿᬯᬵᬪᬸᬤ᭄ᬯᬶᬚᬵᬦᬢᬄ ᭞ ᬢᬢ᭄ᬭ ᬓᭀ ᬫᭀᬳᬄ ᬓᬄ ᬰᭀᬓ ᬏᬓᬢ᭄ᬯᬫᬦᬸᬧᬰ᭄ᬬᬢᬄ ᭟᭗᭟ ᬲ ᬧᬭ᭄ᬬ ᬕᬵᬘ᭄ᬙᬸᬓ᭄ᬭᬫᬓᬵᬬᬫᬯ᭄ᬭᬡᬫᬲ᭄ᬦᬵᬯᬶᬭᬁ ᬰᬸᬤ᭄ᬥᬫᬧᬵᬧᬯᬶᬤ᭄ᬥᬫ᭄ ᭞ ᬓᬯᬶᬭ᭄ᬫᬦᬷᬱᬷ ᬧᬭᬶᬪᬹᬄ ᬲ᭄ᬯᬬᬫ᭄ᬪᬸᬬᬵᬃᬣᬵᬢᬣ᭄ᬬᬢᭀ’ᬭ᭄ᬣᬵᬦ᭄ ᬯ᭄ᬬ ᬤᬥᬵᬘ᭄ᬙᬵᬰ᭄ᬯᬢᬷᬪ᭄ᬬᬄ ᬲᬫᬵᬪ᭄ᬬᬄ ᭟᭘᭟ ᬅᬦ᭄ᬥᬀ ᬢᬫᬄ ᬧ᭄ᬭᬯᬶᬰᬦ᭄ᬢᬶ ᬬᭀ’ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵᬫᬸᬧᬵᬲᬢᬾ ᭞ ᬢᬢᭀ ᬪᬹᬬ ᬇᬯ ᬢᬾ ᬢᬫᭀ ᬬ ᬉ ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵᬬᬵᬁ ᬭᬢᬵᬄ ᭟᭙᭟ ᬅᬦ᭄ᬬ ᬤᬾᬯᬵᬳᬸᬃᬯᬶᬤ᭄ᬬ ᬬᬵ’ᬦ᭄ᬬᬤᬳᬸᬭᬯᬶᬤ᭄ᬬᬬᬵ ᭞ ᬇᬢᬶ ᬰᬸᬰ᭄ᬭᬸᬫ ᬥᬷᬭᬵᬡᬵᬀ ᬬᬾ ᬦᬲ᭄ᬢᬤ᭄ᬯᬶᬘᬘᬓ᭄ᬱᬶᬭᬾ ᭟᭑᭐᭟ ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵ ᬘᬵᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵᬀ ᬘ ᬬᬲ᭄ᬢᬤ᭄ᬯᬾᬤᭀᬪᬬᬁ ᬲᬳ ᭞ ᬅᬯᬶᬤ᭄ᬬᬬᬵ ᬫᬺᬢ᭄ᬬᬸᬀ  ᬢᬷᬃᬢ᭄ᬯᬵ ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬬᬵ’ᬫᬺᬢᬫᬰ᭄ᬦᬸᬢᬾ ᭟᭑᭑᭟ ᬅᬦ᭄ᬥᬀ ᬢᬫᬄ ᬧ᭄ᬭᬯᬶᬰᬦ᭄ᬢᬶ ᬬᭀ’ᬲᬫ᭄ᬪᬹᬢᬶᬫᬸᬧᬵᬲᬢᬾ ᭞ ᬢᬢᭀ ᬪᬹᬬ ᬇᬯ ᬢᬾ ᬢᬫᭀ ᬬ ᬉ ᬲᬫᬪᬹᬢ᭄ᬬᬵᬁ ᬭᬢᬵᬄ ᭟᭑᭒᭟ ᬅᬦ᭄ᬬᬤᬾᬯᬵᬳᬸᬄ ᬲᬫ᭄ᬪᬯᬵᬤᬦ᭄ᬬᬤᬵᬳᬸᬭᬲᬫ᭄ᬪᬯᬵᬢ᭄ ᭞ ᬇᬢᬶ ᬰᬸᬰ᭄ᬭᬸᬫ ᬥᬷᬭᬵᬡᬵᬀ ᬬᬾ ᬦᬲ᭄ᬢᬤ᭄ᬯᬶᬘᬘᬓ᭄ᬱᬶᬭᬾ ᭟᭑᭓᭟ ᬲᬫ᭄ᬪᬹᬢᬶᬫ᭄ ᬘ ᬯᬶᬦᬵᬰᬀ ᬘ ᬬᬲᬢᬤ᭄ᬯᬾᬤᭀᬪᬬᬁ ᬲᬳ ᭞ ᬯᬶᬦᬵᬰᬾᬦ ᬫᬺᬢ᭄ᬬᬸᬀ ᬢᬷᬃᬢ᭄ᬯᬵ ᬲᬫ᭄ᬪᬸᬢ᭄ᬬᬵ’ᬫᬺᬢᬫᬰ᭄ᬦᬸᬢᬾ ᭟᭑᭔᭟ ᬳᬶᬭᬡ᭄ᬫᬬᬾᬦ ᬧᬵᬢ᭄ᬭᬾᬡ ᬲᬢ᭄ᬬᬲ᭄ᬬᬵᬧᬶᬳᬶᬢᬀ ᬫᬸᬔᬫ᭄ ᭞ ᬢᬢ᭄ᬯᬀ ᬧᬸᬱᬦ᭄ᬦᬧᬵᬯᬺᬡᬸ ᬲᬢ᭄ᬬᬥᬃᬫᬵᬬ ᬤᬺᬱ᭄ᬝᬬᬾ ᭟᭑᭕᭟ ᬧᬸᬱᬦ᭄ᬦᬾᬓᬃᬱᬾ ᬬᬫ ᬲᬹᬃᬬ ᬧ᭄ᬭᬵᬚᬵᬧᬢ᭄ᬬ  ᬯ᭄ᬬᬹᬳ ᬭᬱ᭄ᬫᬷᬦ᭄ ᬲᬫᬹᬳᬢᬾᬚᬄ ᭞ ᬬᬢ᭄ᬢᬾ ᬭᬹᬧᬀ ᬓᬮ᭄ᬬᬵᬡᬢᬫᬀ ᬢᬢ᭄ᬢᬾ ᬧᬰ᭄ᬬᬵᬫᬶ ᬬᭀ’ᬲᬵᬯᬲᭁ ᬧᬸᬭᬸᬱᬄ ᬲᭀ’ᬳᬫᬲ᭄ᬫᬶ ᭟᭑᭖᭟ ᬯᬵᬬᬸᬭᬦᬮᬫᬫᬺᬢᬫᬣᬾᬤᬀ ᬪᬲ᭄ᬫᬵᬦ᭄ᬢᬁ ᬰᬭᬷᬭᬫ᭄ ᭞ ᬒᬁ ᬓ᭄ᬭᬢᭀ ᬲ᭄ᬫᬭ ᬓᬺᬢᬁ ᬲ᭄ᬫᬭ ᬓ᭄ᬭᬢᭀ ᬲ᭄ᬫᬭ ᬓᬺᬢᬁ ᬲ᭄ᬫᬭ ᭟᭑᭗᭟ ᬅᬕ᭄ᬦᬾ ᬦᬬ ᬲᬸᬧᬣᬵ ᬭᬵᬬᬾ ᬅᬲ᭄ᬫᬵᬦ᭄ ᬯᬶᬰ᭄ᬯᬵᬦᬶ ᬤᬾᬯ ᬯᬬᬸᬦᬵᬦᬶ ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵᬦ᭄ ᭞ ᬬᬸᬬᭀᬥ᭄ᬬᬲ᭄ᬫᬚ᭄ᬚᬸᬳᬸᬭᬵᬡᬫᬾᬦᭀ ᬪᬹᬬᬶᬱ᭄ᬞᬵᬀ ᬢᬾ ᬦᬫᬉᬓ᭄ᬢᬶᬫ᭄ ᬯᬶᬥᬾᬫ ᭟᭑᭘᭟

ᬒᬁ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᭟᭜᭟


AUM

Yang itu Sampurna, Yang inipun Sampurna;
dari Kesempurnaan lahir Yang Sampurna…
Kendati demikian, Kesempurnaan tak terpengaruh;
Ia masih tetap Sampurna.

[1] Keberadaan ini, alam semesta ini, diliputi oleh Tuhan. Oleh karenanya, lepaskanlah keterikatan dan rasa kepemilikan! [2] Inilah jalan satu-satunya untuk menjalani hidup tanpa dibelenggu oleh Hukum Sebab-Akibat. [3] Mereka yang hidup tanpa kesadaran demikian, sesungguhnya hidup dalam kegelapan dan (sedang) melakukan pembunuhan terhadap diri sendiri.

[4] Kendati tidak bergerak, Dia lebih cepat daripada pikiran. Pancaindra tidak dapat mengejar-Nya. Kendati berada di satu tempat, sesungguhnya Ia berada di mana-mana. [5] Bergerak tetapi tidak bergerak, jauh tetapi dekat, berada di dalam tetapi juga di luar—Demikianlah Dia Ada-Nya.

[6] Ia yang melihat segala sesuatu di dalam ‘diri’ dan melihat ‘diri’-nya di dalam segala sesuatu tidak akan membenci siapapun juga. [7] Kesadaran akan ‘kesatuan’ membebaskan manusia dari ilusi yang menyebabkan penderitaan.

[8] ‘Dia’ menembus segala-galanya—murni, tak berwujud dan tak bisa dilukai; tanpa urat dan nadi, tidak ternodai, tidak menderita, maha-tahu dan menguasai pikiran—’Dia’ melampaui segala-galanya dan tidak bersandar pada apa pun juga. Apapun yang terjadi (adalah) atas kehendak ‘Dia’.

[9] Yang ‘tidak sadar’ hidup dalam kegelapan, tetapi ‘yang sadar’ hidup dalam kegelapan yang lebih mencekamkan. [10-11] Kata mereka, hasil ‘kesadaran’ lain, dan hasil ‘ketidaksadaran’ lain. (Padahal) sesungguhnya saling berkaitan. Dengan ‘ketidaksadaran’ seseorang dapat melampaui kematian dan dengan ‘kesadaran’ ia dapat mencapai kekekalan.

[12] Mereka yang berpaling pada ‘Yang tidak berwujud’ hidup dalam kegelapan, tetapi mereka yang berpaling pada ‘Yang berwujud’ hidup dalam kegelapan yang lebih mencekamkan. [13-14] Kata mereka, hasil berpaling pada ‘Yang tidak berwujud’ lain, dan hasil berpaling pada ‘Yang berwujud’ lain. (Padahal) sesungguhnya saling berkaitan. Dengan ‘Yang berwujud’ seseorang dapat melampaui kematian dan dengan ‘Yang tidak berwujud’ ia dapat mencapai kekekalan.

[15] Wahai Cahaya Kebenaran, Engkau tertutup oleh kecemerlangan-Mu sendiri. Keluarlah dari penutup itu, sehingga aku dapat menatapi Wajah-Mu! [16] Wahai Pemelihara dan Penguasa Tunggal Alam Semesta, beri daku kekuatan untuk menyadari Kekuasaan-Mu, yang sesungguhnya juga menguasai diriku. [17] Biarlah kesadaran fisik runtuh, sehingga yang ada di dalam diri dan yang ada di luar diri menyatu! Dan pikiran pun terlampaui.

[18] Oh Tuhan Yang Maha Mensucikan, tuntunlah kami pada jalan yang benar, hindarkan kami dari jalan yang sesat. Terimalah sembah-sujud kami.

AUM

Damai, Damai, Damai