Menggali Akar Peradaban Hindu (3–Habis): Tulang Punggung Peradaban

[Tulisan saya ini dimuat di Majalah Media Hindu edisi Oktober 2016]

Om Avignamastu,

“Aku telah berjalan ke semua sudut India, dan aku belum pernah menemukan seorangpun pengemis dan pencuri—sedemikian kayanya negeri itu, dengan nilai-nilai moral yang tinggi, sehingga tidak mungkin kita (bangsa Inggris) bisa menaklukkan negeri itu tanpa mematahkan tulang-punggungnya, yaitu kekayaan warisan spiritual dan budayanya. Oleh karena itu, aku mengusulkan agar kita mengganti sistem pendidikannya yang sudah sudah berusia ribuan tahun, (sehingga kita bisa mengubah) budayanya—karena apabila orang-orang India berfikir bahwa segala sesuatu yang asing dan berasal dari Inggris lebih baik dan mulia daripada apa yang dimilikinya; mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan (akhirnya) budaya asalnya akan tersingkir, kemudian mereka akan mudah dikuasai.” —terjemahan bebas kutipan pidato Lord Macaulay di hadapan Parlemen Inggris, 2 Februari 1835.

India, Hindia, Indus, Hindu, Sindhu adalah satu peradaban; sehingga kita pun bisa mengganti kata India di dalam kutipan di atas dengan Indonesia—atau wilayah-wilayah lain di dalam Peradaban Sindhu—dan akan kita temukan pola yang sama. Penjajahnya boleh berbeda: di sana British East India Company, di sini Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), di sana dijajah oleh orang-orang Inggris, di sini kita dieksplotasi oleh orang-orang dari Belanda, di wilayah lain, oleh bangsa-bangsa lain. Sama saja, ‘beti’ beda tipis!

Kita harus akui bahwa mereka sukses dengan misinya tadi. Mereka berhasil mematahkan tulang-punggung kita, menciptakan amnesia sejarah—dan yang lebih parah—amnesia budaya dan jati diri. Hingga detik ini, sadar atau tidak, kita masih mewarisi pola pikir yang mereka tanam ratusan tahun yang lalu itu. Kita masih memandang diri lebih rendah, tidak beradab sebelum kedatangan orang-orang asing yang membawa serta peradaban, ilmu, pengetahuan, teknologi, hukum bahkan seni. Kita masih takjub melihat bule, orang-orang asing dan memandang mereka lebih baik dari diri kita.

Anda mungkin bertanya, apa sih yang kita punya? Kalau itu yang terbersit di benak kita, bagus! Kita bisa mulai perjalanan menggali kekayaan warisan spiritual dan budaya kita di dalam beberapa tulisan saya selanjutnya.

Weda: Kolam Intelejensia
Peradaban Sindhu merupakan satu-satunya peradaban kuna dunia yang masih hidup hingga saat ini. Sumber kekuatannya terletak pada Dharma yang langgeng, kekal, abadi, dan selalu ada (baca kembali tulisan pertama saya dalam seri ini). Dari waktu ke waktu, Peradaban Sindhu dibekahi oleh kehadiran para Guru, para Bijak, para Suci yang mampu menangkap, kemudian menerjemahkan serta mengaplikasikan Dharma ini sesuai dengan tuntutan jamannya. Peradaban Sindhu percaya pada perkembangan, bahwa otak manusia memiliki kelebihan dan juga keterbatasan sehingga ia hanya mampu menangkap sesuai dengan kapasitasnya. Semakin berkembang dirinya, semakin banyak yang ia bisa pahami. Selama ribuan tahun proses ini terjadi, dan ajaran-ajaran para Suci diwariskan dari generasi ke generasi.

Sekitar 5000 tahun yang lalu, Resi Wyasa atau Begawan Abhiyasa bersama murid-muridnya mengumpulkan ajaran-ajaran tadi ke dalam empat buku besar, yang sekarang kita kenal sebagai Weda atau Veda. Sesungguhnya, Weda—yang berarti pengetahuan, kebijakan—melampaui keempat pustaka tersebut. Swami Anand Krishna mengatakan bahwa Weda adalah “kolam intelejensia, di mana jagad raya hanyalah sebuah pulau kecil. Alam semesta hanyalah satu bagian dari kolam itu. Sementara kolam intelejensia itu sendiri hanyalah bagian dari Hyang Maha Ada”, sebagaimana yang juga dikatakan oleh Shri Krishna di dalam Bhagavad Gita 2.46.

Saat ini kita mewarisi empat pustaka: Rig, Yajur, Sama, dan Atharwa Weda. Rig Weda merupakan pustaka tertua umat manusia yang berisi mantra-mantra yang selama ribuan tahun telah menjadi sumber dari seluruh Peradaban Hindu. Walaupun mungkin banyak di antara kita yang belum pernah melihat mapun membaca langsung Rig Weda, namun setiap hari kita telah mengucapkan salah satu mantranya ketika melakukan Puja Tri Sandhya, yaitu Mahamantra Gayatri yang bisa dijumpai di Rig Weda 3.62.10.

Sama Weda menggubah mantra-mantra dari Rig Weda ke dalam melodi dan musik yang meditatif. Sedangkan Yajur Weda berisi tentang berbagai ritual Yajna, menjelaskan hubungan manusia dengan semesta. Yajur dan Rig Weda juga diketahui mengandung simbol-simbol astronomi yang kemudian berkembang menjadi ilmu Jyotisha. Bahkan di dalam Rig Weda, Resi Atri merekam peristiwa astronomi, yaitu gerhana yang terjadi sebelum titik-balik matahari musim panas, pada 26 Maret 3928 SM. Atharwa Weda sering dianggap sebagai Weda yang paling muda. Atharwa Weda berisikan ajaran-ajaran untuk menghadapi berbagai aspek negatif serta mengingkatkan aspek positif hidup kita. Ayurveda merupakan salah satu cabang ilmu yang lahir dari Atharwa Weda.

screen-shot-2017-01-17-at-1-31-06-pm

Gambar 1. Diagram Kitab Suci Peradaban Sindhu (diambil dari buku “In Search of The Cradle of Civilization” oleh Subhash Kak et al. dengan modifikiasi oleh penulis.

Institusi Ashram
Jauh sebelum Barat mengenal institusi pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi, penduduk Peradaban Sindhu—yang membentang dari Afghanisthan hingga ke Kepulauan Nusantara—telah mengenal institusi Ashram. Sayangnya, di Indonesia institusi ini sekarang hanya tinggal namanya saja. Bahasa Indonesia menyerap kata Ashram menjadi asrama yang maknanya telah sangat menyempit, yaitu semata “bangunan tempat tinggal bagi kelompok orang untuk sementara waktu, terdiri atas sejumlah kamar, dan dipimpin oleh seorang kepala asrama” (KBBI). Di masa lalu, institusi inilah yang menjadi tulang-punggung Peradaban Sindhu.

Kata Ashram (Āśrama) di dalam bahasa Sansekerta berasal dari akar kata ‘śram’, yang berarti menjalani disiplin diri, menaklukan diri. Jadi Ashram bisa diartikan sebagai fase, tahapan kehidupan, bahkan juga tempat untuk tidak mengasah, mengolah jiwa. Tidak heran di Indonesia, asrama diasosiasikan dengan sekolah dan tempat tinggal para murid dan guru. Di masa lalu, di dalam institusi Ashram inilah seluruh ilmu dan pengetahuan Weda dipelajari, dikembangkan, dan dipraktikkan.

Di samping bermakna tempat, Ashram juga berkaitan dengan masa atau periode kehidupan. Ini yang kita pelajari dan hapalkan di sekolah: Catur Ashrama, yang terdiri dari Brahmacari, Grahasthya, Vanaprastha, dan Sanyasin. Keempat masa kehidupan ini menunjukkan wawasan mendalam yang dimiliki leluhur kita. Kita tidak diharapkan untuk lahir, hidup, bersenang-senang, kemudian mati saja, namun para bijak di Peradaban Sindhu memberikan kita cetak biru perencanaan jangka panjang yang holistik. Sayangnya, di jaman modern ini, kita hanya mengenal dua institusi pertama saja yang berupa sekolah dan rumah-tangga.

Vanaprastha dan Sanyasin hanya tinggal teori di buku-buku pelajaran sekolah. Kini ketika pensiun, biasanya kita diharapkan membantu merawat cucu, bahkan cicit, di rumah. Perjalanan spiritual ke dalam diri pun terlupakan sudah; hingga akhir hayat, kita akan terus disibukkan oleh dunia. Swami Anand Krishna menjelaskan di dalam bukunya, Sanyas Dharma, bahwa “bagi mereka yang memasuki Sanyas Ashram setelah menempuh tiga masa sebelumnya, inilah puncak dari segala pengalaman. Sebagai Sanyasi mereka bisa hidup bebas tanpa beban apapun. Mereka dapat berkarya tanpa pamrih, tanpa kepentingan diri. Mereka bisa melayani sesama dengan semangat manembah. Mereka bisa sepenuhnya berfokus kepada Tuhan.”

Tidak mengherankan apabila kehidupan modern kita saat ini tidak mendatangkan kebahagiaan semakin tua usia kita—sebagaimana yang ditunjukkan di dalam salah satu penelitian. Institusi Ashram di Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, memang sudah mulai bermunculan, namun masih dipandang oleh sebagian orang, ‘aneh’ serta dianggap hanya diperuntukkan bagi orang-orang tua/kelompok tertentu saja. Salah kaprah ini telah berlangsung sedemikian lama, menciptakan kecurigaan, dan bahkan tidak jarang, pertentangan.

Padahal hanya di dalam lingkungan Ashram inilah manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh pendidikan spiritualitas (dalam makna yang sebenarnya) yang bukan hanya teori namun juga praktik melepaskan segala pengkondisian, atau disebut Vasana di dalam bahasa Sansekerta, yang telah kita peroleh selama ini. Jika suatu masyarakat kehilangan kemampuan untuk membebaskan dirinya dari Vasana yang tidak berguna, maka masyarakat tadi akan dipengaruhi oleh kesadaran rendah, seperti materialisme, sedemikian hingga mereka akan dengan mudah dikuasai—seperti yang terjadi pada kita saat ini. Ashram adalah satu-satunya harapan kita menghidupkan kembali Peradaban Sindhu, Indus, Hindu.

screen-shot-2017-01-17-at-1-33-49-pm

Gambar 2. Foto salah satu kegiatan di Anand Ashram Ubud yang penuh keceriaan dan dinamis.

 ***

Menggali Akar Peradaban Hindu (1): Berbeda-beda tapi Satu Dharma

[Tulisan saya ini dimuat di Majalah Media Hindu edisi Agustus 2016]

Om Avighnamastu,

Pandangan bahwa Hindu melihat Kebenaran dari satu sisi saja, memiliki hanya satu tradisi baku, satu interpretasi dan ekspresi bukan hanya tidak tepat, namun menyesatkan dan memecah-belah. Ketika pandangan ini mengemuka, kita sedang menciptakan gegar di dalam umat: Versi mana yang benar? Versi yang berkembang di India, Bali, Sunda, Jawa, Sumatera, atau yang lain? Siapa atau apa yang bisa memberi vonis? Kemudian ada suara bahwa Hindu di Bali tidak sama (dan tidak patut disamakan) dengan Hindu di India atau di tempat lain; bahwa kita berbeda. Saudara-saudaraku, semoga kita tidak terkecoh dengan ‘nama’ dan ‘rupa’.

Tidak mengherankan apabila pandangan demikian mengakibatkan saudara-saudara kita di Kaharingan, Tatar Sunda, Tanah Batak, dan sebagainya ikut bersuara sama. Hal ini sangat berbahaya! Umat akan terpecah-belah, hidup di dalam komunitas yang akan semakin mengecil sampai pada suatu ketika, mengkerdil. Kekerdilan kita itu kemudian akan dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak luar untuk memengaruhi dan menguasai kita. Hal ini bukan hanya sekedar angan-angan konspiratoris; sadar-atau-tidak hal ini sedang terjadi.

Kekuatan kita sama persis dengan yang ‘dikira’ sebagai kelemahan umat Hindu, yaitu keberagaman dan keberagamaan kita. Tidak seperti umat lain, Hindu bukanlah agama dengan satu nabi, satu kitab suci, satu doktrin, bahkan satu agama yang kemudian berkembang menjadi beberapa sekte. Sebaliknya, Hindu adalah nama yang diberikan oleh orang luar—dalam hal ini Persia—untuk merangkum penduduk yang tinggal di sekitar lembah Sungai Sindhu (sebagian di India dan sebagian lagi di Pakistan) and beyond, hingga ke Asia Tenggara. Bisa dikatakan bahwa Hindu adalah nama geografis dan sosiologis yang memiliki cakupan luas. Tepatnya, Hindu adalah suatu peradaban yang tidak hanya menjadi induk bagi apa yang sekarang disebut agama Hindu, tetapi juga Jain, Buddha, Sikh, dan lain-lain; sekaligus menjadi inspirasi bagi para mistik dan sufi dari tradisi-tradisi atau budaya-budaya lainnya.

1280px-hinduism_expansion_in_asia-svg

Gambar 01. Wilayah Peradaban Sindhu-Saraswati dan situs-situs utamanya.

Way of life penduduk di kawasan ini memiliki benang merah yang sama. Seperti untaian kalung yang diisi dengan bermacam bunga, demikian pula Hindu terdiri dari orang-orang dengan beragam bahasa, tradisi, ritual dan festival keagamaan, bahkan nama Tuhan yang dipuja pun tidak selalu sama. Aspek inilah yang disebut Shraddha oleh Swami Anand Krishna. Shraddha mengandung ajaran dan aturan yang sifatnya kontekstual—tergantung pada desa, kala, dan patra-nya. Shraddha mereka yang tinggal dikelilingi oleh hutan-hujan tropis dan mereka yang tinggal di gurun atau di lembah terbuka bisa berbeda.

Oleh karena itu, Hindu bisa mengakui adanya banyak teks suci—masing-masing wilayah bisa memiliki teks suci dengan ajaran dan aturan yang unik diperuntukkan bagi orang-orang yang tinggal di sana, sesuai dengan kebutuhannya. Shraddha inilah yang kita kenal sebagai agama. Kalau ini yang sedang dibicarakan, maka ya, umat Hindu di Bali bisa berseberangan dengan umat Hindu Kaharingan, atau Parmalim di tanah Batak, umat di India, juga praktisi Kejawen, Sunda Wiwitan, dan seterusnya. Di sini, kita akan terpecah-belah. Jika kita tidak ingin itu terjadi, maka di samping Shraddha kita juga harus mengenal Dharma.

Swami Anand Krishna menjelaskan bahwa Dharma tidak sama dengan Shraddha. Core value dari Dharma adalah kemanusiaan, pengalaman universal yang dirasakan setiap orang. Seluruh orang yang tinggal di wilayah Sindhu atau Hindu, termasuk kita di Indonesia, disatukan lewat Dharma; kita semua memiliki Dharma yang tunggal. “Bhinneka tunggal ika, tan hanna dharma mangrwa,” demikian deklarasi Mpu Tantular lebih dari lima ratus tahun yang lalu. Jadi, Dharma tunggal adanya, walaupun tidak memiliki satu kitab, dan menggunakan kitab-kitab sebagai petunjuk untuk memperoleh insight, kebijaksanaan, atau darshan.

Shraddha atau agama bisa terus berkembang, berubah sesuai dengan lingkungan dan perkembangan jaman. Namun akarnya, yaitu Dharma, selalu sama dan senantiasa ada hingga manusia punah. Umat di Bali boleh saja mengembangkan Shraddha dengan persembahyangan Tri Sandhya, dengan berbagai macam banten dan upacara, juga bentuk Pura yang khas, demikian pula umat di Tengger, Kaharingan, dan di tempat-tempat lain hendaknya bisa pula mengembangkan Shraddha mereka yang unik. Para praktisi Kejawen dan Sunda Wiwitan pun demikian. Shraddha bersifat dinamis, sedangkan Dharma bersifat langgeng (Sanatana).

Jadi benar jika ada yang berpandangan bahwa sebelum 1958—ketika agama Hindu diakui oleh Pemerintah RI—Hindu belum ada sebagai ‘agama’ di Bali. Istilah Hindu memang belum ada, namun Hindu sebagai Dharma telah ada di seluruh Dvipantara jauh sebelumnya. Jadi tidak benar bahwa Hindu Dharma kita impor dari India. Perbedaan-perbedaan yang nampak dalam banyak aspek Shraddha Hindu Bali—atau ada yang menyebutnya sebagai agama Tirta—dan Hindu di wilayah lain hendaknya tidak dipertentangkan dan dijadikan masalah.

Shraddha yang dinamis ini perlu terus menerus in contact dengan Dharma agar tidak tergerus ‘roda waktu’ dan pengaruh luar, agar terjadi pembaruan yang sinambung (Nutana). Karena Shraddha bersinggungan dengan dunia benda, kemajuan IPTEK, dengan masyarakat yang belum sepenuhnya hidup berkesadaran, maka Shraddha tidak bisa dijadikan patok dan patokan yang tidak boleh direvisi. Kalau proses ini dipahami dan dilakukan terus-menerus, maka umat akan memiliki kemampuan menghadapi benturan antar-peradaban. Kadang kita perlu melepaskan pemahaman dan ritus yang tidak lagi mendatangkan manfaat. Di saat yang sama, kita perlu terus membuka diri terhadap pencapaian saudara se-Dharma di wilayah lain.

Jejaring Dharma inilah yang bisa menyelamatkan kita dari marginalisasi, pengkerdilan dan sebaliknya akan memperkaya dan menguatkan kita. Dharma bukanlah pergulatan teologis semata dan perdebatan mengenai ritual apa yang akan ‘sampai’ kepada Dewata namun adalah perjalanan panjang menemukan, to dis-“cover”, Sang Hyang Widdhi Wasa—Sumber Kekuatan dan Kebijaksanaan yang Tidak Kekurangan Sesuatu Apapun. Dharma-lah yang akan melindungi kita—Dharmo Rakshati Rakshitah.

Kalau kita merenungkan kata Tirta atau Teerth, yang berasal dari bahasa Sansekerta, maka kita akan menjumpai esensi yang sama. Tirta berarti perjalanan suci, perjalanan mengunjunggi tempat-tempat suci yang mana para Resi dan Begawan pernah tinggal dan ajaran-Nya masih lestari. Artinya, kita didorong untuk terus belajar dengan pikiran terbuka, untuk jalan-jalan namun bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk menyucikan diri dan memperoleh insight baru. Tirta juga berarti air atau tempat suci di dekat mata air atau sungai. Dari sini kita diajari untuk meniru sifat air yang lentur dan progresif, terus meliuk mencapai tujuan.

Hanya saja berbeda dari umat lain, umat Hindu Dharma memiliki halaman yang lapang: membentang dari barat Sungai Sindhu, Anak Benua India, Indo-Cina, sampai ke Indonesia. Lokasi Tirta-yatra kita tersebar luas. Rugi rasanya kalau kita hanya membatasi diri pada sepetak kamar kita, padahal saudara-saudara kita menyimpan pula permata Dharma yang melimpah. Yang dibutuhkan adalah langkah pertama untuk memulai Yatra ini. Di dalam tulisan saya selanjutnya, kita akan melihat-lihat ‘rumah’ kita dalam skala yang luas.

***