Soma

Saya pernah berkunjung sebagai tenaga bantu di salah satu sekolah di daerah yang jauh dari kebisingan kota. Desa Aramati namanya. Penduduk desa ini hampir semuanya hidup dari hasil bumi yang memang melimpah. Penduduk desa Aramati sering membutuhkan orang-orang dari desa sebelahnya, desa Rai, yang mayoritas penduduknya pandai berdagang—sehingga mereka bisa mengangkut hasil bumi Aramati ke kota terdekat.

Penduduk kedua desa memahami saling ketergantungan di antaranya, namun cekcok bisnis tidak jarang terjadi. Beberapa penduduk Aramati menilai orang-orang Rai tidak jujur, dan sering mengambil untung terlalu banyak. Sedangkan beberapa orang Rai sering mengatakan bahwa warga desa tetangganya itu pemalas karena terlalu terbuai dengan kesuburan tanahnya. Tidak semuanya demikian; hubungan mereka memang begitu: love-hate, cinta-cinta benci. Bahkan sebenarnya warga kedua kampung telah lama saling menikah, namun itu tidak membuat saling curiga di dalam diri mereka hilang begitu saja.

Ada dua sekolah di desa Aramati; dan sekolah di mana saya bekerja waktu itu bisa dikatakan sekolah negeri terbaik di sana. Hanya mereka yang kaya dan pandai yang boleh duduk di bangkunya. Anak-anak pejabat desa dan pemuka agama bersekolah di sana. Kebanyakan yang bersekolah di sekolah itu adalah putra-putri Aramati, namun sesekali memang ada warga desa di sekitarnya yang bisa masuk ke sana. Tahun di mana saya bekerja ada seorang anak desa Rai yang bersekolah di sana. Namanya Soma.

Soma terlihat pendiam dan tidak banyak temannya. Namun dibalik sikapnya itu, saya bisa melihat bahwa dia tekun dalam belajar, jujur, dan punya sifat pelindung. Sepertinya sikap Soma yang pendiam diakibatkan karena ia bukan berasal dari desa Aramati. Soma dan kedua orang tuanya tinggal di pinggiran desa Rai, sehingga sekolah itulah yang lebih dekat dari rumahnya. Saya pernah diceritakan oleh salah seorang guru di sana, bahwa pihak sekolah awalnya keberatan Soma bersekolah di sana. Tapi karena prestasinya, dan kedekatan keluarganya dengan seorang tetua desa Aramati, maka Soma diperbolehkan masuk.

Sejak awal, Soma dijauhi teman-teman sekelasnya. Seringkali saya mendengar anak-anak Aramati melempar ledekan kepada Soma. Sebagai wali kelasnya, saya juga pernah suatu hari mendapat laporan bahwa ada lebam di pipi Soma sepulang sekolah, yang ketika saya tanya apa sebabnya, ia bilang terjatuh ketika main bola. Saya tidak melanjutkan pertanyaan saya kepadanya; saya tahu dia hanya ingin pulang segera ke rumahnya. Saya juga tahu persis bahwa Soma selalu menghabiskan waktu istirahat di kelas atau perpustakaan—di mana ia bisa dibiarkan tenang tanpa diganggu.

Saya mengagumi kekuatan anak itu. Walaupun dicecar dan dimaki kawan-kawannya, ia tetap datang ke sekolah dan daya belajarnya tidak surut. Malah mungkin bisa dikatakan bahwa cemoohan teman-temannya adalah pemicu bagi Soma untuk maju.

Bulan demi bulan berlalu, di akhir Semester 1, Soma mendapatkan rangking pertama di kelas, dan kedua di sekolah. Ketika diumumkan demikian, tidak ada siswa atau guru yang mengucapkan selamat kepadanya. Bahkan ia dicemooh, dan difitnah curang dihadapannya. Semua tuduhan itu tidak terbukti. Sebelum pulang, saya memberi Soma sekotak pensil warna sebagai hadiah yang diterimanya dengan senang. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Giat belajar ya, Soma.” Begitu balasku. Ia lalu berjalan menuntun sepeda tuanya pergi keluar gerbang sekolah.

Semester 2 berjalan beberapa minggu, dan saya melihat Soma mulai berubah. Ia mulai cepat marah ketika diledek, bahkan sesekali ia membalas dengan kata-kata kasar. Hal ini membuat teman-temannya semakin sering mengerjai Soma. Sampai pada suatu hari saya dipanggil oleh salah seorang guru yang bilang bahwa Soma telah memukul Nayaka, anak pemuka agama di desa Aramati yang sangat berpengaruh dan penyumbang dana terbesar ke sekolah itu. Gigi Nayaka tanggal, dan darah mengalir dari mulutnya.

Nayaka dan teman-temannya mengadu bahwa Soma-lah yang bersalah memulai perkelahian. Pakaian mereka kotor dan ada yang robek. Saya lalu menengok kepada Soma yang duduk meringkuk—sama-sama kumalnya. Matanya basah. “Apa benar begitu, Soma?”

“Iya, Pak.” Jawabnya singkat.

“Kenapa Kamu memukul Nayaka?”

Soma terdiam. Nayaka dan teman-temannya tersenyum kecil—bahagia karena Soma telah mengaku dan yakin ia pasti akan dihukum.

“… mereka menghina kedua orang tua saya, Pak. Mereka bilang saya anak tukang tipu, penjahat.”

“Benar begitu?”

“Tapi, Pak, salah dia sendiri yang sering bicara kasar dan kampungan kepada kami… padahal apa salah kami?” Sahut salah seorang teman Nayaka.

“Bapak sering melihat kalian mengejek Soma sejak hari pertama Soma menginjakkan kakinya di sekolah kita ini.” Merekalah yang telah mengubah Soma. Bully telah membuat Soma keras dan kasar, dan saat itu saya menyesal tidak mengambil langkah tegas.

“Kalian semua salah.. karena menghina Soma, dan kamu Soma.. juga bersalah karena memulai perkelahian. Kalian harus dihukum karena kesalahan kalian.”

***

Besoknya, saya dipanggil Kepala Sekolah. Beliau menanyakan apa yang terjadi. Setelah saya jelaskan, ia menyuruh saya kembali mengajar.

Pagi itu saya tidak melihat Nayaka dan teman-temannya. Soma di sana, duduk seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa. Saya diberi tahu bahwa orang tua Nayaka tidak suka anaknya dihina dengan diberi hukuman. “Hanya dia yang berhak menjatuhkan hukuman pada anaknya,” begitu kata seorang guru di sela-sela jam makan siang. Saya melihat seseorang dengan pakaian keagamaan keluar dari ruang Kepala Sekolah. Mereka terlihat akrab, saling berjabat tangan dan berpelukan. Saya dengar Kepala Sekolah bilang, “Akan saya bereskan segera, Pak. Terima kasih atas dukungan Bapak selama ini.”

Perasaan saya tidak enak. Orang yang tidak saya kenal ini kemudian berbalik.. kami sempat saling pandang beberapa detik.. kemudian ia pergi meninggalkan sekolah. Bel penanda jam pelajaran berbunyi. Saya pun kembali ke kelas.

***

Sore itu, sebelum pulang saya diminta bertemu dengan Kepala Sekolah. Seperti yang sudah saya duga, ia meminta saya mengundurkan diri. “Kembalilah ke kota. Masih banyak pekerjaan bagus di kota besar. Akan lebih baik buat karirmu, kalau Kamu mengajar di sana. Lagi pula guru tetap yang posisinya kamu isi sementara ini sudah datang. Dia akan mulai segera.”

Saya berkelit. Saya masih ingin mengajar di sana. Rasanya, saya belum tuntas menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Tapi Kepala Sekolah bergeming. Tidak ada jalan lain. Saya pun pulang, dan beberapa hari kemudian saya bersiap-siap pulang ke kota.

Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan mampir ke rumah kedua orang tua Soma yang kebetulan saya lalui. Dari penjaga di sana saya tahu bahwa Soma sudah tidak lagi bersekolah di sana. Soma pindah sekolah ke salah satu sekolah Rai—walaupun agak jauh. Soma dikeluarkan dari sekolah karena berkata-kata kasar dan melukai temannya.

Mungkin ini yang terbaik bagi Soma, bagi anak-anak yang lain, buat Kepala Sekolah dan guru-guru: tidak ada lagi bully, tidak ada lagi perkelahian karena tidak ada perbedaan, semua tenang. Soma mungkin bisa menyelesaikan pedidikannya dengan lebih lancar dan bisa mengembalikan lagi sifat aslinya yang tekun, jujur, dan pelindung. Soma juga bisa mengambil peran-peran penting di dalam masyarakat Rai nantinya karena dari sanalah ia berasal. Mungkin ini win-win?

Dalam perjalanan, saya masih memikirkan apa yang terjadi. Desa Aramati dan desa Rai memiliki potensi yang bila dimanfaatkan dengan baik, dan saling bekerja sama, akan mampu mensejahterakan semua… tapi, sayangnya semua sudah puas dalam “kedamaian” semu yang diciptakan demi berlanjutnya sistem yang membuat keduanya akan terus menjadi desa yang jauh dari terang cahaya kota.

Sebelum Berdoa

Seseorang bertanya, “Tuan, apakah jalan menuju-Nya?”

Sri Ramakrishna menjawab, “Cinta-kasih kepada-Nya, dan doa.”

Si penanya belum juga puas, “Jadi yang mana, Tuan, cinta-kasih atau doa?”

“Pertama-tama cinta-kasih, baru kemudian doa.” Setelah menjawab demikian, Sri Ramakrishna bernyanyi dan larut di dalam pujian kepada Hyang Tunggal.

—The Gospel of Sri Ramakrishna, Bab 10, 22 April 1883.

Hari-hari ini citra agama dan keagamaan telah semakin tenggelam di dalam kebencian, amarah, dan nafsu mengejar kekuasaan. Semakin seseorang belajar tentang agama, sepertinya semakin ia jauh dari pengertian, kasih-sayang terhadap mereka yang berbeda. Kemudahan berkomunikasi malah mengotak-kotakkan kita, memisah-misahkan kita. Apa yang salah? Rasanya kita sedang krisis Cinta-Kasih.

Penenkanan agama pada dimensi ritual dan hukum-hukum keagamaan, menutupi dimensi-dimensi lainnya yang lebih tinggi. Dimensi ritual-dan-hukum adalah dimensi terendah, kulit terluar yang “membungkus” agama dan keagamaan. Setiap umat beragama menjalani ritus dan mengikuti kaidah-kaidah hukum tertentu, yang bisa dimaknai secara berbeda antara satu orang dengan yang lain, dan seringkali dipengaruhi oleh konteksnya. Pada lapisan kulit ini keberagamaan tidak bisa dihindarkan, sebagaimana setiap kulit buah mangga yang berasal dari satu pohon yang sama tidak ada yang persis sama.

Kalau kita tidak masuk ke dalam dimensi yang lebih tinggi, menembus lapisan kulit dan masuk ke dalam esensi agama dan keagamaan, permasalahan kita tidak akan kelar-kelar. Selama ini kita sering beribadah tanpa menumbuhkan terlebih dahulu Cinta-Kasih. Pendidikan kita tidak menyadari pentingnya menumbuhkan rasa Cinta dan Kasih di dalam diri anak-anak—diasumsikan mereka bisa belajar sendiri dari kedua orang tuanya. Kemudian pendidikan didesain hanya untuk meneruskan informasi dan mengajari skill yang memang dibutuhkan, tapi tidak cukup.

Di dalam buku Narada Bhakti Sutra, Swami Anand Krishna mengajarkan bahwa langkah pertama yang dibutuhkan sebelum kita bisa menyemai benih Cinta-Kasih, kita perlu terlebih dahulu membabat “ilalang-dan-hama nafsu” yang menyerap nutrisi dari dalam tanah dan dari tanaman Cinta-Kasih yang akan tumbuh nantinya. Pembabatan ini membutuhkan cara tersendiri, tidak bisa dengan hanya sekedar menahan lapar-dan-haus selama sekian jam sehari, tapi mengumbar makanan ketika berbuka. Pembabatan ini membutuhkan upaya yang intens dan terus-menerus.

Di sinilah pentingnya Meditasi. Latihan-latihan meditasi diharapkan nantinya mencapai hidup yang meditatif. Baru di tanah subur kehidupan-meditatif ini, benih-benih Cinta-Kasih bisa tumbuh. Cinta-Kasih ini bersumber dari dalam diri kita sendiri; jika sulit merasakannya, maka kita bisa menggunakan “alat bantu” di luar diri. Di sinilah “peran” Tuhan. Mungkin Anda tidak setuju, “Tuhan kok diper-”alat“?!” Silakan saja, namun bagi umat Hindu, “aham brahmaasmi”, Sang Aku yang sejati dan Tuhan Hyang Maha Luas sesungguhnya satu. Seperti kata Swamiji, “Bila sulit menyadari-Nya di dalam diri, anggaplah Dia berada di luar diri.”

Inilah mengapa umat Hindu seolah-olah memiliki sekian banyak Tuhan: berwujud manusia, super-human, binatang, setengah-binatang setengah-manusia, dan sebagainya. Semua wujud-wujud tadi adalah alat bantu untuk mengarahkan kesadarannya kepada sesuatu yang lebih tinggi daripada nafsunya, dan sekaligus menumbuhkan Cinta-Kasih di dalam diri. Tidak hanya itu, umat Hindu menggunakan pula lagu-lagu pujian, tembang-tembang, syair, puisi yang indah untuk memperbesar Cinta-Kasih kepada-Nya. Luapan Cinta-Kasih itu tidak bisa tidak meluas kepada semua manusia, semua makhluk karena Ia yang bersemayam di dalam diriku, juga ada di dalam dirimu. “Tat tvam asi. Inilah satu-satunya “obat” permasalahan kita.

Pengetahuan agama TIDAK cukup. Malahan apabila hawa nafsu masih cukup kuat, maka agama bisa dipakai sebagai alat untuk mencari pembenaran demi terpuaskannya nafsu—yang sesungguhnya tidak pernah puas itu. Inilah yang terjadi saat ini: permasalahan semakin rumit, seolah tanpa ujung, masalah dibalas masalah baru.. semuanya terjadi karena kita telah melupakan dimensi agama dan keagamaan yang lebih tinggi dan mulia, sehingga kemuliaan pun terlupakan sudah, dan “kulit” kita kira “daging”. Ah, what a waste of time and energy!

Menggali Akar Peradaban Hindu (1): Berbeda-beda tapi Satu Dharma

[Tulisan saya ini dimuat di Majalah Media Hindu edisi Agustus 2016]

Om Avighnamastu,

Pandangan bahwa Hindu melihat Kebenaran dari satu sisi saja, memiliki hanya satu tradisi baku, satu interpretasi dan ekspresi bukan hanya tidak tepat, namun menyesatkan dan memecah-belah. Ketika pandangan ini mengemuka, kita sedang menciptakan gegar di dalam umat: Versi mana yang benar? Versi yang berkembang di India, Bali, Sunda, Jawa, Sumatera, atau yang lain? Siapa atau apa yang bisa memberi vonis? Kemudian ada suara bahwa Hindu di Bali tidak sama (dan tidak patut disamakan) dengan Hindu di India atau di tempat lain; bahwa kita berbeda. Saudara-saudaraku, semoga kita tidak terkecoh dengan ‘nama’ dan ‘rupa’.

Tidak mengherankan apabila pandangan demikian mengakibatkan saudara-saudara kita di Kaharingan, Tatar Sunda, Tanah Batak, dan sebagainya ikut bersuara sama. Hal ini sangat berbahaya! Umat akan terpecah-belah, hidup di dalam komunitas yang akan semakin mengecil sampai pada suatu ketika, mengkerdil. Kekerdilan kita itu kemudian akan dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak luar untuk memengaruhi dan menguasai kita. Hal ini bukan hanya sekedar angan-angan konspiratoris; sadar-atau-tidak hal ini sedang terjadi.

Kekuatan kita sama persis dengan yang ‘dikira’ sebagai kelemahan umat Hindu, yaitu keberagaman dan keberagamaan kita. Tidak seperti umat lain, Hindu bukanlah agama dengan satu nabi, satu kitab suci, satu doktrin, bahkan satu agama yang kemudian berkembang menjadi beberapa sekte. Sebaliknya, Hindu adalah nama yang diberikan oleh orang luar—dalam hal ini Persia—untuk merangkum penduduk yang tinggal di sekitar lembah Sungai Sindhu (sebagian di India dan sebagian lagi di Pakistan) and beyond, hingga ke Asia Tenggara. Bisa dikatakan bahwa Hindu adalah nama geografis dan sosiologis yang memiliki cakupan luas. Tepatnya, Hindu adalah suatu peradaban yang tidak hanya menjadi induk bagi apa yang sekarang disebut agama Hindu, tetapi juga Jain, Buddha, Sikh, dan lain-lain; sekaligus menjadi inspirasi bagi para mistik dan sufi dari tradisi-tradisi atau budaya-budaya lainnya.

1280px-hinduism_expansion_in_asia-svg

Gambar 01. Wilayah Peradaban Sindhu-Saraswati dan situs-situs utamanya.

Way of life penduduk di kawasan ini memiliki benang merah yang sama. Seperti untaian kalung yang diisi dengan bermacam bunga, demikian pula Hindu terdiri dari orang-orang dengan beragam bahasa, tradisi, ritual dan festival keagamaan, bahkan nama Tuhan yang dipuja pun tidak selalu sama. Aspek inilah yang disebut Shraddha oleh Swami Anand Krishna. Shraddha mengandung ajaran dan aturan yang sifatnya kontekstual—tergantung pada desa, kala, dan patra-nya. Shraddha mereka yang tinggal dikelilingi oleh hutan-hujan tropis dan mereka yang tinggal di gurun atau di lembah terbuka bisa berbeda.

Oleh karena itu, Hindu bisa mengakui adanya banyak teks suci—masing-masing wilayah bisa memiliki teks suci dengan ajaran dan aturan yang unik diperuntukkan bagi orang-orang yang tinggal di sana, sesuai dengan kebutuhannya. Shraddha inilah yang kita kenal sebagai agama. Kalau ini yang sedang dibicarakan, maka ya, umat Hindu di Bali bisa berseberangan dengan umat Hindu Kaharingan, atau Parmalim di tanah Batak, umat di India, juga praktisi Kejawen, Sunda Wiwitan, dan seterusnya. Di sini, kita akan terpecah-belah. Jika kita tidak ingin itu terjadi, maka di samping Shraddha kita juga harus mengenal Dharma.

Swami Anand Krishna menjelaskan bahwa Dharma tidak sama dengan Shraddha. Core value dari Dharma adalah kemanusiaan, pengalaman universal yang dirasakan setiap orang. Seluruh orang yang tinggal di wilayah Sindhu atau Hindu, termasuk kita di Indonesia, disatukan lewat Dharma; kita semua memiliki Dharma yang tunggal. “Bhinneka tunggal ika, tan hanna dharma mangrwa,” demikian deklarasi Mpu Tantular lebih dari lima ratus tahun yang lalu. Jadi, Dharma tunggal adanya, walaupun tidak memiliki satu kitab, dan menggunakan kitab-kitab sebagai petunjuk untuk memperoleh insight, kebijaksanaan, atau darshan.

Shraddha atau agama bisa terus berkembang, berubah sesuai dengan lingkungan dan perkembangan jaman. Namun akarnya, yaitu Dharma, selalu sama dan senantiasa ada hingga manusia punah. Umat di Bali boleh saja mengembangkan Shraddha dengan persembahyangan Tri Sandhya, dengan berbagai macam banten dan upacara, juga bentuk Pura yang khas, demikian pula umat di Tengger, Kaharingan, dan di tempat-tempat lain hendaknya bisa pula mengembangkan Shraddha mereka yang unik. Para praktisi Kejawen dan Sunda Wiwitan pun demikian. Shraddha bersifat dinamis, sedangkan Dharma bersifat langgeng (Sanatana).

Jadi benar jika ada yang berpandangan bahwa sebelum 1958—ketika agama Hindu diakui oleh Pemerintah RI—Hindu belum ada sebagai ‘agama’ di Bali. Istilah Hindu memang belum ada, namun Hindu sebagai Dharma telah ada di seluruh Dvipantara jauh sebelumnya. Jadi tidak benar bahwa Hindu Dharma kita impor dari India. Perbedaan-perbedaan yang nampak dalam banyak aspek Shraddha Hindu Bali—atau ada yang menyebutnya sebagai agama Tirta—dan Hindu di wilayah lain hendaknya tidak dipertentangkan dan dijadikan masalah.

Shraddha yang dinamis ini perlu terus menerus in contact dengan Dharma agar tidak tergerus ‘roda waktu’ dan pengaruh luar, agar terjadi pembaruan yang sinambung (Nutana). Karena Shraddha bersinggungan dengan dunia benda, kemajuan IPTEK, dengan masyarakat yang belum sepenuhnya hidup berkesadaran, maka Shraddha tidak bisa dijadikan patok dan patokan yang tidak boleh direvisi. Kalau proses ini dipahami dan dilakukan terus-menerus, maka umat akan memiliki kemampuan menghadapi benturan antar-peradaban. Kadang kita perlu melepaskan pemahaman dan ritus yang tidak lagi mendatangkan manfaat. Di saat yang sama, kita perlu terus membuka diri terhadap pencapaian saudara se-Dharma di wilayah lain.

Jejaring Dharma inilah yang bisa menyelamatkan kita dari marginalisasi, pengkerdilan dan sebaliknya akan memperkaya dan menguatkan kita. Dharma bukanlah pergulatan teologis semata dan perdebatan mengenai ritual apa yang akan ‘sampai’ kepada Dewata namun adalah perjalanan panjang menemukan, to dis-“cover”, Sang Hyang Widdhi Wasa—Sumber Kekuatan dan Kebijaksanaan yang Tidak Kekurangan Sesuatu Apapun. Dharma-lah yang akan melindungi kita—Dharmo Rakshati Rakshitah.

Kalau kita merenungkan kata Tirta atau Teerth, yang berasal dari bahasa Sansekerta, maka kita akan menjumpai esensi yang sama. Tirta berarti perjalanan suci, perjalanan mengunjunggi tempat-tempat suci yang mana para Resi dan Begawan pernah tinggal dan ajaran-Nya masih lestari. Artinya, kita didorong untuk terus belajar dengan pikiran terbuka, untuk jalan-jalan namun bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk menyucikan diri dan memperoleh insight baru. Tirta juga berarti air atau tempat suci di dekat mata air atau sungai. Dari sini kita diajari untuk meniru sifat air yang lentur dan progresif, terus meliuk mencapai tujuan.

Hanya saja berbeda dari umat lain, umat Hindu Dharma memiliki halaman yang lapang: membentang dari barat Sungai Sindhu, Anak Benua India, Indo-Cina, sampai ke Indonesia. Lokasi Tirta-yatra kita tersebar luas. Rugi rasanya kalau kita hanya membatasi diri pada sepetak kamar kita, padahal saudara-saudara kita menyimpan pula permata Dharma yang melimpah. Yang dibutuhkan adalah langkah pertama untuk memulai Yatra ini. Di dalam tulisan saya selanjutnya, kita akan melihat-lihat ‘rumah’ kita dalam skala yang luas.

***

Resep

Acemoglu dan Robinson (2012), di dalam bukunya ‘Why Nations Fail’ menghimpun kisah dari berbagai wilayah dan membangun argumen mengapa sebuah negeri ‘gagal’ menjalankan fungsinya untuk mengoptimalkan sumberdaya demi mencapai kesejahteraan warganya.

Mereka membantah beberapa teori sebelumnya yang mengaitkan kegagalan tersebut pada: budaya, lokasi geografis, bahkan kekayaan alam negeri tsb. Acemoglu dan Robinson dengan yakin bilang bahwa kegagalan terjadi karena ketiadaan institusi-institusi politik dan ekonomi yang inklusif—yang tidak ekstraktif—di negeri tersebut.

Tapi rasanya ada yang kurang dari simpulan mereka. Sistem politik dan ekonomi dibuat, dijalankan, dan dirawat oleh manusia. Manusia adalah unit terkecil yang menyusun suatu negeri atau peradaban. Sistem sebagus apapun, namun bila seiring dengan waktu dijalankan oleh manusia-manusia yang ‘bermasalah’, maka sistem tersebut akan rusak bahkan runtuh bersama peradaban atau negeri itu.

Di Nusantara, sistem politik dan ekonomi yang inklusif ini disebut Artha, yang dipelajari di dalam teks-teks yang secara kolektif disebut Artha-sastra. Ya, Artha penting, namun leluhur kita juga menyadari ada hal-hal lain yang tidak bisa diabaikan. Kama atau kebahagiaan psikologis, kenyamanan hidup, keindahan, rekreasi, dan sebagainya perlu ada. Demikian pula Dharma atau prinsip-kebenaran yang teguh, yang menyatukan, serta Moksa atau kebebasan berpikir dan berkarya hingga kebebasan dari keterikatan duniawi.

Keempat prinsip ini, berurut-turut: Dharma, Artha, Kama, dan Moksa adalah empat corner stone peradaban kita. Urutannya juga penting diperhatikan. Bukan Artha atau Kama duluan, tapi Dharma—agar Artha dan Kama terjaga di dalam prinsip-prinsip kebenaran. Inilah resep mengapa peradaban kita: Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo bisa terus bertahan setidaknya sejak 3.000 SM.

mo purik hamo garising /
hamo nanggahan akasa/
nyaho di maneh pertiwi /
di nya kasorgaanana //
—Sevaka Dharma, baris 819–822, teks kuno dari tanah Sunda sekitar abad 15–16.

Ibu Pertiwi tidak menggerutu (ketika dirusak), tidak menentang langit. Ia senantiasa sadar akan keilahiannya (dan sifat sucinya yang membuatnya senantiasa terus berbagi berkah dan karunia). Ini adalah ‘Kasorgaanana’, wilayah surgawinya.

“Sang Bijak penyusun karya ini mengingatkan kita bahwa dunia ini adalah surga itu sendiri. Baik neraka maupun surga keduanya adalah keadaan kesadaran. Jika kita hidup dengan kecurangan, ketidakmuliaan, dan kejahatan—maka kita menciptakan neraka kita sendiri. Dan, jika kita hidup dalam kebijakan, kebenaran, maka kita dapat mengubah dunia ini menjadi surga!”—Swami Anand Krishna, 2015, Dvīpāntara Dharma Śāstra.