Mengurai Kebohongan Klaim bahwa Nabi Muhammad Diramalkan dalam Kitab-kitab Veda

(Tulisan ini adalah hasil penggabungan dan pengembangan seri tulisan saya sebelumnya di blog ini dengan judul yang sama. Seri tulisan itu diakses pembaca secara konsisten setiap harinya, menunjukkan bahwa tema ini cukup populer dan karena itu perlu diperbarui secara rutin.)

Saya pertama kali membaca tentang klaim bahwa Nabi Muhammad ternyata diramalkan di dalam kitab-kitab Hindu sekitar akhir tahun 90-an di sebuah laman internet. Saat itu akses umat Hindu di Indonesia kepada buku-buku keagamaan, terutama sumber-sumber primer dan terjemahannya di luar internet, masih sangat minim. Keterbatasan penguasaan bahasa Inggris, apalagi bahasa Sanskerta, semakin menyulitkan umat memperoleh pengetahuan yang benar. Ketika itu pun saya berpikir, “Wow!”, kalau klaim itu benar maka persaudaraan antar-umat beragama akan terjadi. Ternyata saya terlalu naif.

Klaim-klaim semacam itu bukan untuk menggali benang merah antar-agama yang akan melahirkan rasa persaudaraan. Sama sekali bukan! Ternyata klaim tadi bertujuan untuk menggiring umat Hindu agar meninggalkan agamanya karena sudah ada agama edisi terakhir. Dengan kata lain ini adalah upaya konversi, proselytization yang dilakukan oleh—apa yang saya sebut—para pendakwah-misionaris. Bukan hanya kitab-kitab Hindu yang mereka utak-atik, kitab agama-agama yang lain juga tidak luput. Awalnya saya kira mereka melakukan penelitian secara jujur, apa adanya, tetapi ternyata klaim tersebut menguap semakin dalam saya pelajari.

firstdraft-7-jenis-mis-dan-disinformasi-3

Gambar diambil dari: smartnews.web.id.

Sejak awal 2000-an saya menemukan misinformasi dan disinformasi (informasi yang salah dan sengaja disebarluaskan untuk memanipulasi atau menipu) ini semakin banyak tersebar, tidak hanya di laman-laman internet namun juga dalam bentuk buku-buku yang bahkan dicetak oleh penerbit ternama dengan konten yang semakin kaya. Sayangnya, konter terhadap mis- dan dis-informasi ini belum banyak dilakukan oleh umat Hindu di Indonesia. Kalaupun ada pembelaannya masih sangat dangkal dan emosional. Apalagi semakin lama, permusuhan dan upaya konversi semakin kencang—perlu upaya konter yang lebih baik dan mendidik kedua belah pihak.

Kenapa, sih, mereka melakukan ini? Setelah saya pelajari, perilaku para pendakwah-misionaris ini didorong oleh kepercayaan bahwa:

  1. agama Islam adalah agama pamungkas dan yang paling benar—sedangkan yang lain entah itu belum sempurna atau salah/palsu/tidak lagi murni;
  2. Nabi Muhammad sudah diramalkan kedatangannya di dalam kitab-kitab suci oleh nabi-nabi sebelumnya sebagai penutup—kalau umat lain tidak tahu, itu karena ramalan tersebut ditutup-tutupi atau kitabnya sudah tidak asli lagi; dan
  3. mereka merasa memiliki kewajiban untuk mencarikan pembenaran dan menyebar-luaskannya dengan cara apapun.

Awalnya mereka hanya mengutak-atik kitab-kitab Yahudi dan Kristen, namun belakangan mereka juga mulai berekspansi ke agama/kepercayaan lain, termasuk kitab-kitab Veda.

Argumen dan konter-argumen bisa kita dapatkan dengan mudah baik on- maupun off-line namun sepertinya para pendakwah-misionaris ini tidak terlalu tertarik menemukan kebenaran. Mereka sudah memiliki “jawaban” di awal, dan upaya-upaya mereka selanjutnya hanyalah mencari pembenaran atas jawaban tersebut, jika perlu dengan melakukan berbagai akrobatik-mental. Dengan mentalitas seperti itu bagaimana bisa mereka belajar hal yang baru dan melihat kenyataan apa adanya? Bertahun-tahun melakukan akrobatik-mental seperti itu mereka semakin lihai tetapi bukan berarti semakin dekat dengan kebenaran.

Pengalaman saya, penjelasan sebaik dan selengkap apapun tidak akan diterima oleh para pendakwah-misionaris ini. Pikiran dan hati mereka sudah tertutupi kepercayaan buta. Mereka mengabaikan prinsip-prinsip yang sering mereka teriakkan ketika ada umat lain yang mencoba mengutak-atik Al Quran. Mereka memenggal ayat-ayat Veda dan Purana yang mendukung klaim mereka dan mempercayainya, tetapi di saat yang sama membuang 99,99% isi kitab yang lain. Mereka juga tidak mempedulikan konteks ayat dan tradisi-spiritual di dalam Sanatana Dharma (Hindu) secara keseluruhan. Apapun dilakukan demi memuaskan ego dan nafsu mereka.

Tulisan ini bukan untuk mereka. Tulisan ini saya buat untuk umat Hindu sendiri agar tidak tertipu klaim-klaim yang bertujuan untuk mengkonversi. Betapa pun indah dan lihainya bahasa dan klaim para pendakwah-misionaris ini, umat Hindu perlu tetap seimbang dan menjaga kejernihan pandangannya. Semoga bermanfaat.

Auṁ Avighnamastu. Idaṃ na mama.

***

KLAIM #1

Umat Hindu sendiri, kok, yang pertama kali mengungkap. Namanya (Pandit) Dr. Veda Prakash Upadhyai, profesor bahasa Sanskerta dan Studi Agama di Universitas Allahabad. Setelah mempelajari kitab-kitab Veda dan Purana secara mendalam, ia menulis buku “Kalki Avatar & Muhammed Saheb”. Jadi, jangan salahkan kami (pendakwah-misionaris) kalau ada kesalahan!

Saya sudah membaca buku tersebut. Yang menarik, ada tulisan “trial of religious integration on the basis of Vedas dan Puranas” di bagian atas sampulnya. Sepertinya tujuan penulis sama naifnya dengan pendapat saya dulu, yaitu untuk mencapai persaudaraan antar-umat beragama, tetapi buku ini malah dijadikan dasar untuk membenarkan upaya-upaya konversi agama. Penulis mencari hubungan antara Awatara Kalki—yang konon dilahirkan pada akhir zaman—dengan Nabi Muhammad.

Fokus para pendakwah-misionaris di sini adalah pada kredensial sang penulis; bahwa orang berpengetahuan seperti beliau saja mengetahui ini. Klaimnya pasti benar! Tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi, cross check, mereka menyebarluaskan informasi tersebut. Dan ternyata jika klaimnya salah dan menyesatkan, mereka dengan mudah akan lepas tangan. Ada juga yang berlindung di balik filosofi yang terdengar manis: “hanya Tuhanlah yang tahu!” setelah menyampaikan misinformasi ini. Enak, ya, ikut menyebarkan hoaks atau informasi yang belum diverifikasi yang menguntungkan diri dan kelompoknya, tetapi tidak mau bertanggung jawab—apalagi meminta maaf jika salah!

Klaim pertama ini bisa dibantah dengan cara keluar dari authority bias. Jangan mudah percaya dan silau dengan argumen yang menonjolkan kredensial orang yang menyampaikannya—yang bahkan takterverifikasi. Selanjutnya kita perlu membaca sendiri dan menganalisis apakah klaim-klaimnya benar? Sebagai orang yang mengaku sebagai sarjana bahasa Sanskerta, kutipan-kutipan di dalam buku tersebut sangat jauh dari akurasi. Banyak sekali kesalahan baik itu saltik maupun konsep. Saya tidak akan membahas setiap klaim di dalam buku tersebut karena akan sangat panjang. Saya akan menyinggung sebagian saja di bawah ini.

***

KLAIM #2

Awatara Kalki sesungguhnya adalah Nabi Muhammad.

Apa dasarnya? Salah satu laman yang memuat klaim ini dalam bahasa Indonesia (di sini) menyebutkan buku yang ditulis di atas dan 10 poin untuk meyakinkan bahwa Awatara Kalki adalah Nabi Muhammad. Saya akan ulas satu per satu:

1. Dalam Purana (kitab suci kaum Hindu) dikatakan bahwa Kalki Avatar adalah seorang utusan (nabi) Allah yang terakhir di dunia ini guna membimbing seluruh dunia dan seluruh makhluk manusia.

Betul bahwa kisah Awatara Wisnu bisa dijumpai dalam kitab-kitab Purana, misalnya Srimad Bhagavata Purana dan Kalki Purana—walaupun sebenarnya Kalki Purana tidak termasuk dalam daftar Purana utama. Purana sendiri berarti kisah-kisah kuno baik tentang dewa-dewi maupun raja-raja.

Perlu ditegaskan bahwa awatara atau avatāra bukan utusan, nabi, atau rasul Tuhan sebagaimana dipahami di dalam tradisi Islam, Kristen, dan Yahudi (rumpun agama-agama Abrahamik). Konsep utusan yang membawa risalah atau nubuat dari Tuhan ini asing dan tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Veda. Awatara adalah perwujudan Hyang Agung itu sendiri di dunia untuk menegakkan kembali Dharma dan menaklukkan Adharma yang tengah mengancam kehidupan di muka bumi.

Mungkin istilah yang lebih dekat dengan nabi di dalam tradisi Hindu adalah resi atau ṛṣi. Para resi adalah orang-orang—laki-laki dan perempuan—yang telah menempuh tahapan-tahapan spiritual sedemikian sehingga mereka mencapai pencerahan. Pandangan mereka menjadi jernih sehingga bisa “menyaksikan” Kebenaran atau Sat itu sendiri. Para resi adalah enlightened beings yang berbagi penemuannya kepada awam. Saya dan Anda, kita semua bisa mencapai kesadaran itu. Puncaknya, mereka mengajarkan tentang kesejatian diri: “Ahaṃ brahmāsmi”. Tidak ada monopoli dan istilah resi terakhir. Mereka bisa lahir dari masa ke masa.

Benar bahwa di dalam kisah Sepuluh Awatara, Kalki disebut sebagai yang kesepuluh atau terakhir. Namun, sebenarnya lebih tepatnya Kalki turun pada akhir masa Kali-yuga ini. Kali-yuga adalah siklus zaman keempat setelah Satya, Treta, dan Dwapara-yuga, yang mana kesadaran manusia berada di titik terendah. Namun, Kali-yuga tidak diakhiri dengan kiamat semesta raya, tetapi siklus zaman tadi berulang kembali. Dan pada zaman-zaman selanjutnya, jika dibutuhkan Awatara Wisnu akan turun kembali. Tidak ada yang menyebutkan bahwa Hyang Wisnu tidak akan turun lagi setelah menjadi Kalki.

Kebanyakan umat Hindu yang saya tahu juga tidak menunggu-nunggu kedatangan Awatara Kalki, sebagaimana bangsa Yahudi menanti kedatangan mesiah, atau umat Kristen menunggu kedatangan kedua Tuhan Yesus Kristus, atau Imam Mahdi di dalam tradisi Islam. Bahkan, tidak semua sampradaya atau tradisi spiritual Hindu meyakini hal ini. Ada yang bahkan menyebutkan lebih dari 10 awatara! Bisa dikatakan bahwa konsep ini bukanlah konsep utama di dalam semua tradisi Hindu yang wajib diyakini.

98d0233ada3238363e1cc378fec5f45e

Gambaran populer Awatara Kalki.

2. Menurut suatu prediksi agama Hindu, kelahiran Kalki Avatar, akan terjadi di suatu semenanjung yang sekali lagi menurut agama Hindu adalah kawasan Arab.

Klaim ini tidak berdasar. Saya tidak bisa menemukan referensi tentang semenanjung ini di dalam kitab-kitab Purana.

Berdasarkan Srimad Bhagavata Purana—salah satu Purana utama—konon Kalki akan lahir di sebuah kota/daerah mistik bernama Shambala di pegunungan Himalaya. Nah, ada juga pendakwah-misionaris yang mengklaim bahwa Shambala mereka artikan sebagai ‘rumah kedamaian dan keselamatan’, yang menurut mereka sama maknanya dengan Makkah. Perhatikan bagaimana lihainya mereka berakrobat mental!

3. Dalam kitab-kitab kaum Hindu, nama ayah dan ibu Kalki Avatar yang diberikan kepada mereka masing-masing adalah Vishnubhagat dan Sumaani. Seandainya kita memeriksa makna nama-nama ini kita akan sampai kesimpulan yang menarik : Ambil Vishnubhagat= Vishnu (berarti Allah) + Bhagat (berarti hamba) = Allah + Abd (dalam bahasa Arab) = hamba Allah = Abdullah (dalam bahasa Arab) (nama dari ayah Muhammad); Sumaani = kedamaian atau tenangan = Aminah (dalam bahasa Arab) (ibu Nabi Muhammad).

Salah. Nama ayah Kalki yang disebutkan dalam Bhagavata Purana 1.3.25 dan Kalki Purana 2.4 adalah Viṣṇuyaśa yang berasal dari viṣṇu dan yaśa. Yaśa bukan berarti hamba atau abdi, tetapi kemuliaan, keindahan, keagungan—demikian pula makna kata bhaga. Sedangkan nama ibunya adalah Sumati (Kalki Purana 2.4). Lagi-lagi, makna sumati tidak sama dengan aminah, dan bukan berarti kedamaian, ketenangan—Sanskerta memiliki kata-kata lain yang sepadan. Kata ini berasal dari: su + mati yang berarti ia yang memiliki pemikiran yang baik/mulia, pengasih.

Tentu saja para pendakwah-misionaris punya seribu satu cara untuk menghubung-hubungkannya. Kadang di satu sisi mereka menuntut harus akurat, di tempat lain mereka tidak merasa perlu supaya bisa dipermainkan sehingga cocok dengan klaim-klaim mereka. Suka-suka saja!

4. Dalam kitab-kitab agama Hindu, disebutkan bahwa makanan pokok adalah kurma dan minyak zaitun dan ia orang yang paling jujur dan setia di kawasan tersebut. Tanpa keraguan apapun Nabi Muhammad Saww dinyatakan memiliki kualitas-kualitas ini.

(No comment. Ini benar-benar ngaco, tidak ada dasarnya sama sekali!)

5. Dinyatakan dalam Veda (kitab suci agama Hindu) bahwa kelahiran Kalki Avatar terjadi pada suku terhormat. Secara sempurna ini hanya cocok pada bangsa Quraisy di mana Nabi Muhammad saww memilikinya.

Lagi-lagi peryataan tersebut maknanya sangat luas, bisa dikenakan pada siapa saja.

6. Allah akan mengajar Kalki Avatar melalui utusan-Nya (malaikat) di sebuah gua. Allah mengajar Nabi Muhammad saww melalui malaikat-Nya, Jibril, di sebuah gua yang dikenal sebagai gua Hira.

Lagi-lagi klaim tanpa dasar. Hanya uthak-athik gathuk.

7. Allah akan membantu Kalki Avatar dengan seekor kuda yang berkecepatan tinggi untuk naik dan mengelilingi dunia dan tujuh langit. Indikasi kepada Buraaq (kuda) dan mi’raj (malam ketika Nabi menembus tujuh langit.

Dapat A+ untuk imajinasi!

8. Allah juga akan membantu Kalki Avatar dengan pertolongan ilahi. Ini khususnya terbukti dalam Perang Uhud.

Of course!

9. Laporan lain yang mempesonakan yang membicarakan tentang Kalki Avatar adalah bahwa ia akan dilahirkan pada tanggal 12 dari sebuah bulan. Sedangkan Nabi Muhammad Saww lahir pada 12 Rabiul Awwal.

Ini ada benarnya. Dalam Kalki Purana 2.15 disebutkan bahwa Kalki lahir para hari ke-12 suklapaksa bulan Vaishaka. Namun, sistem penanggalan yang dipergunakan oleh bangsa Arab berbeda dengan yang digunakan di Hindia.

10. Kalki Avatar adalah seorang penunggang kuda yang hebat dan seorang jago pedang. Penulis di sini menggambarkan perhatian kaum Hindu bahwa hari-hari kuda dan pedang sejati telah berlalu dan saat sekarang adalah senjata dan misil. Oleh karenanya, adalah bodoh pada sebagian orang yang masih mengharapkan Kalki Avatar, yang harus seorang penunggang yang hebat dan jagoan pedang untuk yang akan datang. Sebenarnya, kitab suci Alquran, memuat kualitas-kualitas dan tanda-tanda yang dinisbatkan kepada Kalki Avatar yang mencerminkan Nabi Muhammad Saww.

Detil kisah yang dicantumkan para pendakwah-misionaris berhenti sampai di sini. Padahal banyak hal lainnya yang dikisahkan dalam Kalki Purana. Kenapa? Ya, karena tidak sesuai dengan propaganda yang sedang diracik. Misalnya, disebutkan bahwa Kalki memiliki tiga saudara laki-laki—lahir dari rahim ibunya, Sumati—bernama Kavi, Prājña, dan Sumantra. Viṣṇuyaśa hidup hingga Kalki dewasa—berbeda dengan Abdullah yang tidak sempat melihat putranya karena meninggal dalam perjalanan kembali ke Makkah.

Kalki juga digambarkan memperoleh pendidikan formal di Gurukula. Ia bisa membaca dan menulis—lagi-lagi berbeda dengan Nabi Muhammad. Kalki juga dididik oleh Paraśurāma yang memang salah satu dari orang-orang spesial yang diberikan umur sangat panjang. Masih banyak lagi hal-hal yang tidak sesuai dan nyata-nyata bertentangan di dalam kisah kedua tokoh tersebut.

***

KLAIM #3

Nabi Muhammad diramalkan dalam Atharvaveda 20.127.

Sukta ke-127 di dalam Kanda ke-20 (bagian terakhir) Atharvaveda berisi 14 mantra dan sering disebut Kuntāpa Sūkta. Para pendakwah-misionaris mengatakan bahwa kuntāpa berarti:

  1. pemusnah penderitaan dan mara bahaya = pesan perdamaian dan keselamatan, dan karena itu sama dengan Islam;
  2. kelenjar yang tersembunyi di perut, sesuatu yang tersembunyi dan akan diungkapkan di masa depan, yaitu Nabi Muhammad;
  3. masih terkait dengan makna sebelumnya, perut juga dimaknai sebagai pusar atau titik tengah bumi, yaitu kota Makkah.

Luar biasa kemampuan akrobatik mental mereka!

Kita bisa lihat betapa kreatifnya mereka meracik makna—”kreativitas” seperti ini tidak ada batas dan pertanggungjawabannya—mereka bisa sesuka hati membuat-buat sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Tidak perlu ada pendalaman, apalagi metode ilmiah. Hanya perlu satu: kepercayaan bahwa dirinya benar. Kepercayaan seperti ini membutakan dan membuat mereka “tega” melakukan apa saja. Kalau salah? Ya, tidak apa-apa. Semuanya semata-mata demi membela agama Tuhan, kok.

Para pakar Veda mengatakan bahwa Kuntāpa bersifat tambahan (khila) dan memiliki makna ‘kuyān tapyate’ yaitu membakar keburukan-keburukan. Kitab Gopatha Brāhmaṇa mengatakan bahwa mantra-mantra Kuntāpa diuncarkan untuk memusnahkan, menghilangkan efek-efek buruk, negativitas di sekitar kita. Dan sebenarnya total ada 13 Sukta yang disebut Kuntāpa-Sūktāni, yaitu Sukta ke-2, 48, 49, 127–136 di dalam Kanda yang sama. Jadi, bukan hanya satu Sukta saja!

Kalau Sukta ke-127 membahas Islam/Nabi Muhammad/Makkah, lalu bagaimana dengan Sukta-sukta lainnya? Saya yakin dengan kemampuan imajinasinya, mereka akan mampu merangkai cerita baru yang tidak kalah luar biasa! Kita tunggu saja.

Sambil menunggu, sekarang kita akan mencari tahu apa yang membuat mereka “melihat” Nabi Muhammad di dalam Sukta 127. Sepertinya ada dua kata utama yang mereka yakini sebagai kunci: (1) uṣṭrāḥ, dan (2) māmahe. Uṣṭra memiliki beberapa makna, yaitu kerbau, sapi jantan berpunuk, atau unta (Kamus Monnier-Williams). Oke, kita anggap saja makna kata uṣṭra di sini adalah unta, lantas apakah serta merta Atharvaveda 20.172.2 hanya bisa dikaitkan dengan Timur Tengah atau Arab, dan selanjutnya Nabi Muhammad dan Islam saja?

Wilayah habitat alami unta ternyata cukup luas: dari Afrika Utara, Timur Tengah, hingga ke bagian barat Anak Benua India. Uṣṭra bukan binatang yang asing di dalam kitab-kitab Veda. Di dalam Rigveda (RV 8.46.32 dan 8.5.37), uṣṭra diberikan sebagai hadiah—di samping lembu/sapi—oleh raja-raja kepada para brahmana. Uṣṭra juga tercatat digunakan sebagai penarik kereta di dalam teks-teks lainnya. Para pendakwah-misionaris membatasi makna kata uṣṭra, lalu mengurungnya dalam konteks yang sangat sempit agar mendukung propaganda yang sedang disebarkan.

domestic_map

  Peta persebaran habitat unta.

Kata kedua yang membuat para pendakwah-misionaris bersemangat adalah ‘māmahe’.  Menurut mereka, ini adalah nama Sang Nabi yang tersembunyi di dalam Atharvaveda 20.127.3. Māmahe, Muhammad. Mirip, kan? Apalagi, kata mereka, māmahe berasal dari akar kata ‘mah’ yang berarti memuja, menyanjung, menghormati, meninggikan atau membesarkan. (Kata ‘maha’ yang diserap ke dalam bahasa Indonesia juga berasal dari akar kata yang sama.) Akar kata ‘muhammad’: ḥ-m-d ternyata juga mengandung akar makna yang sama.

Ada juga yang mengatakan bahwa māmahe sebenarnya berasal dari akar kata ‘maṃh’—yang masih bersaudara dengan √mah—yang berarti: meningkatkan, menambah, memberikan, dan menyampaikan sesuatu (lewat kata-kata). Māmahe dijumpai juga di dalam Rigveda, misalnya: 1.165.13; 5.27.1; 8.1.32; 8.2.42; 8.12.6; dan 10.62.10. Māmahe sebenarnya merupakan kata kerja intensif, jadi bukan kata benda, apalagi nama orang.

Sampai di sini saja sebenarnya sudah cukup untuk mematahkan kebohongan para pendakwah-misionaris. Namun agar lengkap, saya akan kutipkan Sukta 127 beserta makna yang diberikan oleh para pendakwah-misionaris dan sedikit komentar. Kutipan (merah) di bawah diambil dari laman yang mencantumkan nama Zakir Naik sebagai penulisnya (entah benar atau tidak). Zakir Naik juga pernah menyampaikannya dalam ceramah-ceramahnya.

20.127.1. idaṃ janā upa śruta narāśaṃsa staviṣyate, ṣaṣṭiṃ sahásrā navatiṃ ca kaurama ā ruśameṣu dadmahe.

Mantra ini dimaknai:

He is Narashansah or the praised one (Muhammad). He is Kaurama: the prince of peace or the emigrant, who is safe, even amongst a host of 60,090 enemies.

Lebih lanjut dijelaskan:

The Sanskrit word Narashansah means ‘the praised one’, which is the literal translation of the Arabic word Muhammad (pbuh). The Sanskrit word Kaurama means ‘one who spreads and promotes peace’. The holy Prophet was the ‘Prince of Peace’ and he preached equality of human kind and universal brotherhood. Kaurama also means an emigrant. The Prophet migrated from Makkah to Madinah and was thus also an Emigrant. He will be protected from 60,090 enemies, which was the population of Makkah.

Di sini Nabi Muhammad dikaitkan dengan dua kata: narāśaṃsaḥ dan kauramaḥ. Narāśaṃsa berarti ‘puja-puji (bagi) seseorang’. Sedangkan Kaurama adalah nama raja/pemimpin suatu bangsa bernama Ruśama. Dalam salah satu kitab Brāhmaṇa, ada indikasi bahwa Ruśama ada kaitannya dengan bangsa Kuru—demikian pula nama Kaurama ada yang mengaitkannya dengan Kaurava (dalam Mahabharata). Entah dari mana makna ‘prince of peace’ atau ‘prince of the emigrant’ diperoleh!

Intinya, Sukta ini berisi eulogi para brahmana atas Kaurama. Siapa dia? Sayangnya laman propaganda tersebut dengan sengaja hanya menjelaskan hingga mantra ke-4 saja. Kalau kita melihat mantra ke-7 hingga 10, dengan jelas disebutkan bahwa Sang Kaurama yang sedang dipuja-puji di dalam Sukta ini adalah Raja Parikesit. Ia adalah keturunan Kuru, sehingga pantas disebut Kaurava/ma. Bagian ini sengaja ditutup-tutupi demi mengecoh umat Hindu.

Mantra di atas sebenarnya bisa diterjemahkan sebagai berikut:

Oh Tuan-dan-Puan, dengarkanlah ini baik-baik, puja-puji akan dilantunkan;
Oh Kaurama, di antara Ruśama, kami menerima enam ribu sembilan puluh.

20.127.2. uṣṭrā yasya pravāhaṇo vadhūmanto dvirdaśa, varṣmā rathasya ni jihīḍate diva īṣamāṇā upaspṛśaḥ.

Perhatikan bagaimana para pendakwah-misionaris memangkas mantra ini dan hanya fokus pada hal-hal tertentu saja:

He is a camel-riding Rishi, whose chariot touches the heaven.

The Prophet would ride a camel. This clearly indicates that it cannot be an Indian Rishi, since it is forbidden for a Brahman to ride a camel according to the Sacred Books of the East, volume 25, Laws of Manu pg. 472. According to Manu Smirti chapter 11 verse 202, “A Brahman is prohibited from riding a camel or an ass and to bathe naked. He should purify himself by suppressing his breath”.

Mereka melewatkan bagian Sang Kaurama menghadiahkan kereta berserta 20 ekor uṣṭra jantan yang diiringi betinanya. Kereta tersebut memiliki bagian yang menjuntai (saya membayangkan seperti penjor) begitu tinggi, dan melengkung seolah menghindari “menggores” langit.

Kutipan di atas saltik menyebutkan sloka 202 dalam bab ke-11 kitab Hukum Manu—seharusnya 201. Sloka ini mengatakan bahwa seorang brahmana yang dengan keinginan sendiri menaiki kereta yang ditarik unta atau keledai, dan yang mandi telanjang hendaknya menyucikan diri dengan pengaturan napas tertentu. Dan karena itulah Sang Kaurama pastilah orang non-Hindu.

Kitab Hukum Manu tergolong kitab smṛti yang berisi aturan yang berlaku pada suatu zaman tertentu dan bukan kitab suci utama yang dipegang setiap umat Hindu. Entah mengapa secara spesifik Manu melarang brahmana menaiki kereta yang ditarik unta atau keledai—ini perlu pendalaman lebih lanjut. Namun yang jelas pada masa Sang Kaurama hal tersebut sepertinya tidak menjadi masalah, uṣṭra bisa dipakai dan bahkan dijadikan sebagai hadiah.

Bisa kita baca bahwa mantra ini mengatakan Sang Kaurama memberikan hadiah kepada seorang Resi, kereta beserta uṣṭra-nya. Sementara itu para pendakwah-misionaris mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Sang Resi. Jadi yang mana Sang Nabi? Kaurama atau Resi yang menerima hadiah tersebut?

20.127.3. eṣa iṣāya māmahe śataṃ niṣkān daśa srajaḥ, trīṇi śatānyarvatāṃ sahasrā daśa gonām.

He is Mamah Rishi who is given a hundred gold coins, ten chaplets (necklaces), three hundred good steeds and ten thousand cows.

This mantra gave the Rishi’s name as Mamah. No rishi in India or another Prophet had this name Mamah which is derived from Mah which means to esteem highly, or to revere, to exalt, etc. Some Sanskrit books give the Prophet’s name as ‘Mohammad’, but this word according to Sanskrit grammar can also be used in the bad sense. It is incorrect to apply grammar to an Arabic word. Actually shas the same meaning and somewhat similar pronunciation as the word Muhammad (pbuh).

He is given 100 gold coins, which refers to the believers and the earlier companions of the Prophet during his turbulent Makkan life. Later on due to persecution they migrated from Makkah to Abysinia. Later when Prophet migrated to Madinah all of them joined him in Madinah.

The 10 chaplets or necklaces were the 10 best companions of the Holy Prophet (pbuh) known as Ashra-Mubbashshira (10 bestowed with good news). These were foretold in this world of their salvation in the hereafter i.e. they were given the good news of entering paradise by the Prophet’s own lips and after naming each one he said “in Paradise”. They were Abu Bakr, Umar, Uthman, Ali, Talha, Zubair, Abdur Rahman Ibn Auf, Saad bin Abi Waqqas, Saad bin Zaid and Abu Ubaidah (May Allah be well-pleased with all of them).

The Sanskrit word Go is derived from Gaw which means ‘to go to war’. A cow is also called Go and is a symbol of war as well as peace. The 10,000 cows refer to the 10,000 companions who accompanied the Prophet (pbuh) when he entered Makkah during Fateh Makkah which was a unique victory in the history of mankind in which there was no blood shed. The 10,000 companions were pious and compassionate like cows and were at the same time strong and fierce and are described in the Holy Quran in Surah Fatah:

“Muhammad is the Messenger of Allah; and those who are with him are strong against unbelievers, (but) compassionate amongst each other.” [Al-Qur’an 48:29]

Silakan cek sendiri apakah klaim kisah sejarah Nabi yang disebutkan di atas memang benar atau hanya cara untuk mencocok-cocokkan apa yang ditulis di dalam mantra ini. Saya sudah jelaskan di atas tentang kata māmahe. Lagi-lagi di sini Nabi merupakan resi penerima hadiah, padahal pada mantra pertama beliau adalah sang pemberi hadiah. Pusing sendiri!

Mantra ini menjelaskan hadiah-hadiah lain yang diberikan Sang Kaurama: seratus kalung emas, sepuluh kalung bunga, 300 kuda, 10.000 sapi.

20.127.4. vacyasva rebha vacyasva vṛkṣe na pakve śakunaḥ, naṣṭe jihvā carcarīti kṣuro na bhurijoriva.

Vachyesv rebh. ‘Oh! ye who glorifies’.

This mantra calls the Prophet as Rebh which means one who praises, which when translated into Arabic is Ahmed, which is another name for the Holy Prophet (pbuh).

Mantra ini ditujukan kepada sang resi yang disebut Rebha. Nama ini berarti pemuja, pelantun mantra-mantra pujian. Maknanya tidak persis sama dengan ‘ahmad’ sebagaimana klaim di atas.

Menerima berbagai persembahan raja, Rebha diminta untuk terus melantunkan mantra-mantra demi kesejahteraan seluruh penduduk. Lantunan Rebha dipadankan dengan nyanyian burung yang tinggal di pohon penuh buah—tiada putus, lantang, jelas.

Dari keempat mantra di atas saja kita bisa menyimpulkan bahwa isi Kuntāp Sūkta ini sama sekali berbeda dengan klaim para pendakwah-misionaris. Mereka memaksakan makna tertentu yang lain sama sekali dengan makna sebenarnya yang terkandung di dalam mantra-mantra di atas. Mereka juga dengan sengaja memotong Sukta ini dan sengaja tidak menampilkan mantra-mantra selanjutnya—yang tentu saja tidak sesuai dengan agenda mereka.

***

KLAIM #4

Nabi Muhammad diramalkan dalam kitab-kitab Veda yang lain.

Saya tidak akan banyak mengulas klaim ini satu per satu karena konyol, ngawur, dan saya tidak ingin membuang-buang waktu. Namun, ada beberapa poin penting yang bisa kita lihat dari klaim-klaim ini—cara-cara yang digunakan para pendakwah-misionaris mencapai tujuannya:

  • Semua kata (benda) yang bermakna ‘ia yang pantas dipuji, diagungkan, dimuliakan’ dan sebagainya yang mirip dengan makna kata muhammad atau ahmad dalam bahasa Arab pasti merujuk Sang Nabi—tidak bisa yang lain.
  • Semua kata (benda atau kerja, tidak masalah) yang seolah-olah mirip dengan muhammad atau ahmad, misalnya māmahe, ahamiddhi, dan seterusnya sudah pasti merupakan nama Nabi yang diramalkan—tidak bisa yang lain.
  • Pertempuran-pertempuran yang terekam di dalam Veda pasti menggambarkan berbagai pertempuran yang dilakukan Nabi—tidak bisa yang lain.

***

KLAIM #5

Nabi Muhammad disebutkan di dalam kitab Bhavishya Purana 3.3.3 sebagai Mahamada-acharya.

Klaim terakhir ini sebenarnya blunder dari pihak para pendakwah-misionaris. Memang benar di dalam Bhavishya Purana ada bagian yang mengisahkan seorang tokoh bernama Mahāmada-ācārya. (Ācārya berarti guru atau orang yang mengajar lewat contoh perilakunya.) Namanya memang mirip dengan Sang Nabi. Ada beberapa detail lain yang menarik. Namun, penggambaran Mahāmada di dalam Bhavishya Purana cukup negatif. Ia disebut guru para pisacha, yaitu manusia-manusia yang kesadarannya masih rendah dan belum tersentuh Sanatana Dharma. Ia tinggal di tengah daerah gurun. Mahāmada sendiri berarti ‘ia yang membingungkan orang-orang’.

Kelahiran Mahāmada terkait dengan kisah lain yang lebih tua di dalam Purana yang lain. Ia datang untuk mengumpulkan para pisacha atau raksasa dibawah payung ajaran yang penuh dengan dominasi, ego, dan akan membawa banyak kerusakan di muka bumi. Walaupun demikian, Hyang Wisnu berkata bahwa kehadirannya ke dunia adalah atas kehendakNya jua. Saya tidak ingin berspekulasi di sini apakah kedua tokoh sama. Umat Hindu sendiri tidak banyak yang tahu kisah ini secara lengkap. Ada cukup banyak tulisan mengenai ini. Silakan cari dan nilai sendiri.

***

PENUTUP

Kejadian ini membuka mata saya bahwa kepercayaan buta, iman yang menuntut pembenaran (bukan kebenaran), pemberhalaan kitab sangat berbahaya—apalagi jika itu saja yang kita tahu dan terima sejak kecil. Saya juga bisa melihat bahwa tidak semua agama sama di mata orang lain—berbeda dengan ajaran Veda yang menyadari bahwa ada banyak jalan menuju Hyang Tunggal dan setiap jalan/tradisi pada gilirannya akan bertemu di titik yang sama. Tidak masalah siapa nama Tuhan yang disembah, bagaimana cara menyembah, atau mau ikut guru/prophet/resi yang mana.

Sanatana Dharma tidak menuhankan teks atau kitab sucinya, dan bahkan dengan lantang menolak fundamentalisme agama:

Bagi mereka yang dungu, wahai Arjuna, apa yang tersurat di dalam Veda—kitab-kitab suci—adalah segalanya. Mereka—para dungu itu—penuh dengan berbagai keinginan duniawi; tujuan mereka hanyalah kenikmatan surga; atau kelahiran kembali di dunia benda—untuk itulah mereka berkarya. Bermacam-macam ritus, upacara yang mereka lakukan, pun semata untuk meraih kenikmatan indrawi, dan kekuasaan duniawi.
— Bhagavad Gita 2:42-43 (terjemahan Swami Anand Krishna).

Bagi seorang bijak yang telah meraih Kesadaran Hakiki tentang dirinya, pengetahuan dari Veda—kitab-kitab suci—ibarat kolam di daerah yang berlimpah air, tidak akan pernah kekurangan air.
— Bhagavad Gita 2:46.

Walaupun berasal dari manusia, Kebenaran harus diterima. Dan sebaliknya, meskipun suatu ajaran termuat di dalam kitab suci namun bila tidak mengandung Kebenaran, maka tolaklah ia. Kebenaran yang diucapkan oleh anak-anak sekalipun harus diterima; dan walaupun keluar dari mulut Brahma, sang pencipta, jika tidak mengandung Kebenaran, maka tolaklah ia.
— Nasihat Resi Wasista kepada Sri Rama di dalam Yoga Vashistha.

The study of Scripture is useless as long as the highest Truth is unknown; and it is equally useless when the highest Truth has already been known.
Shri Adi-Shankaracharya dalam Vivekacudamani.

“Satyameva jayate, na anṛtam.” Hanya Kebenaranlah yang berjaya, bukan kepalsuan, ketidakbenaran, kebohongan.
— Mundaka Upanishad

Ajaran yang demikian ini membebaskan, mengarahkan manusia untuk mencari Kebenaran—bukan pembenaran atas apa yang telah dipercayai. Beban pembuktian di atas pundak terlepas dengan sendirinya, sehingga langkah kita mencari Kebenaran akan lebih ringan. Teks-teks suci, dari tradisi mana pun, mengandung hal-hal yang mulia, universal, dan pada masanya revolusioner. Setiap manusia bisa memetik hikmat kebijaksanaan dari sumber-sumber ini. Namun di saat yang sama—kalau mau jujur—ada hal-hal yang sudah tidak lagi relevan. Setiap manusia bisa mengembangkan kapasitas untuk memilah mana yang tepat dan mana yang tidak (Viveka dalam bahasa Sanskerta)—inilah yang harus terus dikembangkan!

Jadi jika narasi para pendakwah-misionaris benar dan umat Hindu harus meninggalkan tradisinya yang terbuka dan memberi kebebasan berpikir untuk digantikan dengan kepercayaan yang sempit dan dogmatis, demi surga yang sebenarnya hanyalah perpanjangan dari kenikmatan-kenikmatan duniawi, bukankah itu adalah sebuah kemunduran?

Mantra Tryambaka, Rudra, dan Transformasi Diri

Mantra Tryambaka (dimulai dengan kata ‘tryambakam’)—disebut juga sebagai Mahā-Mṛtyuñjaya Mantram—merupakan salah satu mantra Veda yang dikenal luas. Mantra ini diucapkan untuk menaklukkan mṛtyu yaitu kematian atau kesadaran rendah, dan mengantar kepada keabadian atau kesadaran Jiwa. Mantra ini bisa dijumpai di dalam Rig Veda 7.59.12, Yajur Veda 3.60, dan Atharva Veda 14.1.17 dan ditujukan kepada Sang Hyang Tryambaka yang memiliki tiga (tri) mata (ambaka), yaitu nama lain Sang Hyang Rudra. Di kemudian hari, pada masa Puraṇa, Sang Hyang Rudra lebih dikenal sebagai Sang Hyang Shiwa.

f0da61ac66247e510daa5f6ee5441053

Aitareya Brāhmaṇa mengisahkan Sang Hyang Rudra muncul dari gabungan amarah para dewa ketika mereka berusaha menghentikan upaya Prajāpati mengawini putrinya (baca: ciptaannya) sendiri, Ushā. Singkat cerita, Hyang Rudra berhasil menusuk dan melukai Prajāpati. Namun, hal ini malah membuat para dewa tersadar bahwa apa yang mereka anggap sebagai perbuatan amoral tersebut sesungguhnya adalah bagian dari proses penciptaan. Penciptaan terjadi melalui serangkaian proses berantai, elemen-elemen dasar “bersenggama” membentuk elemen baru, dan begitu seterusnya alam semesta berubah dari sederhana menjadi semakin kompleks.

Legenda ini mungkin ingin menjelaskan fenomena alam yang berkebalikan dari gerak penciptaan, yaitu peleburan/pemusnahan. Penciptaan tidak takterbatas. Ada kekuatan alam yang berkebalikan: chaos, ketidak-teraturan. Kekuatan inilah yang menurut saya digambarkan sebagai Sang Hyang Rudra. Ia digambarkan mengerikan—sebagaimana kebanyakan orang memandang kematian, bencana, perpisahan, dan sebagainya—dan sangat perkasa. Ia digambarkan sebagai sosok yang gelap—kita tidak pernah tahu pasti kapan hal-hal di atas datang menghampiri (di dalam Veda, Hyang Rudra bersenjatakan panah yang bisa mengenai kita tanpa tahu siapa/kapan dilepaskan). Manusia, dengan segenap daya, mencoba menghindarinya. Hal ini digambarkan dengan Hyang Rudra yang kerap tidak ikut diundang dalam ritual-keagamaan kebanyakan orang. Mereka lebih memilih mengundang hal-hal yang menyenangkan: kesejahteraan, kehidupan, ilmu pengetahuan, dan seterusnya.

Hyang Rudra juga sering dikaitkan dengan angin topan-badai. Veda menyebut ada 11 Rudra di antarikṣa. Elemen angin terkait dengan prāṇa atau aliran kehidupan, napas yang menghidupkan dan menghubungkan lapisan fisik (tubuh) dan lapisan mental-emosional (manas). Ia juga vāta yang membuat kita bisa bergerak sekaligus juga membuat kita menua. Ialah yang menghidupkan dan mematikan. Keduanya ini takterpisahkan. Oleh karena itu Sang Hyang Rudra kemudian diasosiasikan dengan proses transformasi (kematian yang lama dan kelahiran yang baru). Seperti emas yang perlu melalui proses pemurnian—proses yang tidak menyenangkan, tetapi dibutuhkan.

Sang Hyang Rudra juga digambarkan selalu membawa kantung berisi obat-obatan yang diperolehnya di pegunungan dan hutan-hutan. Bahkan Rig Veda 2.33.2, 4 menyebutnya sebagai vaidyanātha yaitu penguasa para penyembuh, dokter sekaligus dukun dan praktisi ilmu hitam. Oleh karena itulah, Sang Hyang Rudra juga dipuja untuk memperoleh perlindungan dari mereka. Para dewa juga membutuhkan Hyang Rudra untuk mengalahkan Vṛtra. Hal ini mengingatkan kita bahwa tidak jarang kekerasan, pembedahan, perang, bencana, kematian dibutuhkan untuk menjamin berlangsungnya kehidupan. Saat para dewa tidak berdaya mengalahkan Vṛtra dan terluka oleh panah-panahnya, mereka melantunkan mantra Tryambaka kepada Hyang Rudra (Rig Veda 7.59.12):

ॐ त्र्य॑म्बकं यजामहे सु॒गन्धिं॑ पुष्टि॒वर्ध॑नम् ।
उ॒र्वा॒रु॒कमि॑व॒ बन्ध॑नान् मृ॒त्योर्मुक्षीय॒ मा ऽमृता॑त् ।।

oṁ tryambakaṃ yajāmahe sugandhiṃ puṣṭivardhanam,
urvārukamiva bandhanān mṛtyormukṣīya mā’mṛtāt.

Arti:

tryambakam yajāmahe = kami memuja Tryambaka (Ia yang memiliki tiga mata, tri-ambaka);
su-gandhim = (Ia yang) harum, wangi;
puṣṭi-vardhanam = (Ia yang) memberikan kesejahteraan atau kebahagiaan (puṣṭi) yang melimpah dan terus berkembang (vardhana);

urvārukam iva = seperti mentimun (urvāruka adalah sejenis mentimun yang ketika buahnya matang terlepas sendiri dari tangkainya);
bandhanāt = terlepas dari tangkainya;
mukṣīya = bebaskanlah aku;
mṛtyoḥ = dari kematian/kesadaran badan yang lebih rendah;
mā amṛtāt = bukan (mā) dari keabadian/kesadaran Jiwa yang lebih tinggi.

Kami memuja Engkau,
Sang Hyang Rudra, Shiwa,
yang memiliki tiga mata
—yang bisa melihat masa lalu, kini, dan nanti,
serta ketiga alam…

Engkau penuh dengan
wewangian yang menarik hati,
Engkaulah pemberi kesejahteraan, kebahagiaan
yang tiada habisnya dan selalu bertambah…

Bebaskanlah aku dari kefanaan,
sebagaimana mentimun masak
terlepas sendiri dari tangkainya,
lepaskanlah aku dari kefanaan
bukan dari keabadian.

Oṁ Śāntiḥ, Śāntiḥ, Śāntiḥ
Semoga Damai, Damai, Damai.

108 Nama Surya

75ec56d428c8108072d6c4e37cf00f72-2

Berikut ini adalah Śrī Sūryāṣṭottaraśatanāmāvaliḥ atau 108 nama Surya:

[1]
ARUṆA — Oṁ Aruṇāya Namaḥ ||
Aruṇa = ia yang berwarna merah, atau merah-kecokelatan; warna Matahari terbit.

[2]
ŚARAṆYA — Oṁ Śaraṇyāya Namaḥ ||
Śaraṇya = sang pemberi perlindungan, pertolongan.

[3]
KARUṆĀ-RASA-SINDHU — Oṁ Karuṇā-rasa-sindhave Namaḥ ||
Karuṇā-rasa-sindhu = lautan (sindhu) inti-sari (rasa) kasih (karuṇā).

[4]
ASAMĀNABALA — Oṁ Asamānabalāya Namaḥ ||
Asamānabala = ia yang kekuatannya taktertandingi.

[5]
ĀRTARAKṢAKA — Oṁ Ārtarakṣakāya Namaḥ ||
Ārtarakṣaka = pelindung dari penderitaan, bencana.

[6]
ĀDITYA — Oṁ Ādityāya Namaḥ ||
Āditya = putra Aditi (tanpa-batas, tak-terbagi, ananta).

[7]
ĀDIBHŪTA — Oṁ Ādibhūtāya Namaḥ ||
Ādibhūta = ia yang mula-mula ada.

[8]
AKHILĀGAMAVEDIN — Oṁ Akhilāgamavedine Namaḥ ||
Akhilāgama-vedin = ia yang memahami seluruh pustaka suci keagamaan.

[9]
ACYUTA — Oṁ Acyutāya Namaḥ ||
Acyuta = ia yang takmenghilang, takmusnah.

[10]
AKHILAJÑA — Oṁ Akhilajñāya Namaḥ ||
Akhila-jña = ia yang mengetahui segalanya.

[11]
ANANTA — Oṁ Anantāya Namaḥ ||
Ananta = ia yang takterbatas.

[12]
INĀ — Oṁ Ināya Namaḥ ||
Inā = ia yang perkasa.

[13]
VIŚVARŪPA — Oṁ Viśvarūpāya Namaḥ ||
Viśvarūpa = ia yang mewujud dalam segalanya.

[14]
IJYA — Oṁ Ijyāya Namaḥ ||
Ijya = ia yang pantas dipuja.

[15]
INDRA — Oṁ Indrāya Namaḥ ||
Indra = pemimpin para dewa.

[16]
BHĀNU — Oṁ Bhānave Namaḥ ||
Bhānu = ia yang paling terang.

[17]
INDIRĀMANDIRĀPTA — Oṁ Indirāmandirāptāya Namaḥ ||
Indirā-mandirāpta = ia yang mencapai tempat Indira (Lakshmi) berada.

[18]
VANDANĪYA — Oṁ Vandanīyāya Namaḥ ||
Vandanīya = ia yang dipuja-puji dengan lantunan kidung.

[19]
ĪŚA — Oṁ Īśāya Namaḥ ||
Īśa = sang penguasa, tuan segalanya.

[20]
SUPRASANNA — Oṁ Suprasannāya Namaḥ ||
Suprasanna = ia yang murni, jernih, terang, anggun.

[21]
SUŚĪLA — Oṁ Suśīlāya Namaḥ ||
Suśīla = ia yang perilakunya mulia, berdisiplin.

[22]
Suvarcas — Oṁ Suvarcase Namaḥ ||
Suvarcas = ia yang penuh daya hidup, berapi-api, cemerlang.

[23]
VASUPRADA — Oṁ Vasupradāya Namaḥ ||
Vasuprada = sang pemberi kekayaan, sinar.

[24]
VASU — Oṁ Vasave Namaḥ ||
Vasu = sang dewa, ia yang mulia.

[25]
VĀSUDEVA — Oṁ Vāsudevāya Namaḥ ||
Vāsudeva = putra penguasa kekayaan/keindahan/kebahagiaan; nama lain Shri Krishna.

[26]
UJJVALA — Oṁ Ujjvalāya Namaḥ ||
Uj-jvala = ia yang berkobar-kobar.

[27]
UGRARŪPA — Oṁ Ugrarūpāya Namaḥ ||
Ugra-rūpa = ia yang wujud mengerikan.

[28]
ŪRDHVAGA — Oṁ Ūrdhvagāya Namaḥ ||
Ūrdhva-ga = ia yang bergerak naik.

[29]
VIVASVAT — Oṁ Vivasvate Namaḥ ||
Vivasvat = ia yang memancarkan cahaya.

[30]
UDYATKIRAṆAJĀLA — Oṁ Udyatkiraṇajālāya Namaḥ ||
Udyat-kiraṇa-jāla = ia yang memancarkan berkas-berkas sinar.

[31]
HṚṢĪKEŚA — Oṁ Hṛṣīkeśāya Namaḥ ||
Hṛṣīkeśa = penguasa seluruh indra.

[32]
ŪRJASVALA — Oṁ Ūrjasvalāya Namaḥ ||
Ūrjasvala = ia yang penuh daya, tenaga, kekuatan.

[33]
VĪRA — Oṁ Vīrāya Namaḥ ||
Vīra = ia yang pemberani; pahlawan.

[34]
NIRJARA — Oṁ Nirjarāya Namaḥ ||
Nirjara = ia yang tak pernah menua.

[35]
JAYA — Oṁ Jayāya Namaḥ ||
Jaya = pemenang; penakluk.

[36]
ŪRUDVAYĀBHĀVARŪPAYUKTASĀRATHĪ — Oṁ Ūrudvayā-bhāvarūpayukta-sārathaye Namaḥ ||
Ūrudvayā-bhāvarūpayukta-sārathī = ia keretanya dikendalikan oleh kusir (bernama Aruṇa) yang tidak memiliki paha (kaki).

[37]
ṚṢIVANDYA — Oṁ Ṛṣivandyāya Namaḥ ||
Ṛṣivandya = ia yang diagung-agungkan oleh para resi.

[38]
RUGGHANTṚ — Oṁ Rugghantre Namaḥ ||
Ruggh-hantṛ = ia yang mengenyahkan, memusnahkan penyakit/penderitaan (ruj).

[39]
ṚKṢACAKRACARA — Oṁ Ṛkṣacakracarāya Namaḥ ||
Ṛkṣa-cakra-cara = ia yang bergerak melintasi sabuk langit (bintang-bintang, zodiak).

[40]
ṚJUSVABHĀVACITTA — Oṁ Ṛjusvabhāvacittāya Namaḥ ||
Ṛju-svabhāva-citta = ia yang memiliki pembawaan citta yang lurus, jujur, tulus.

[41]
NITYASTUTYA — Oṁ Nityastutyāya Namaḥ ||
Nitya-stutya = ia yang patut dipuja selalu.

[42]
ṚKĀRAMĀTṚKĀVARṆARŪPA — Oṁ Ṛkāramātṛkāvarṇarūpāya Namaḥ ||
Ṛkāra-mātṛkāvarṇa-rūpa = ia yang berwujud sebagai aksara ‘ṛ’.

[43]
UJJVALATEJAS — Oṁ Ujjvalatejase Namaḥ ||
Ujjvala-tejas = ia yang berkobar-kobar dengan kuat.

[44]
ṚKṢĀDHINĀTHAMITRA — Oṁ Ṛkṣādhināthamitrāya Namaḥ ||
Ṛkṣa-adhinātha-mitra = sahabat penguasa bintang-bintang (Bulan).

[45]
PUṢKARĀKṢA — Oṁ Puṣkarākṣāya Namaḥ ||
Puṣkara = ia yang memiliki mata indah seperti teratai biru (puṣkara).

[46]
LUPTADANTA — Oṁ Luptadantāya Namaḥ ||
Luptadanta = ia yang gigi-giginya rontok, tanggal.

[47]
ŚĀNTA — Oṁ Śāntāya Namaḥ ||
Śānta = ia yang tenang, damai.

[48]
KĀNTIDA — Oṁ Kāntidāya Namaḥ ||
Kāntida = ia yang memberikan anugerah berupa keindahan, kecantikan.

[49]
GHANA — Oṁ Ghanāya Namaḥ ||
Ghana = sang penghantam, penghancur.

[50]
KANATKANAKABHŪṢA — Oṁ Kanatkanakabhūṣāya Namaḥ ||
Kanatkanaka-bhūṣa = ia yang pakaiannya berhias emas berkilauan.

[51]
KHADYOTA — Oṁ Khadyotāya Namaḥ ||
Khadyota = ia yang menyinari angkasa.

[52]
LŪNITĀKHILADAITYA — Oṁ Lūnitākhiladaityāya Namaḥ ||
Lūnitākhiladaitya = ia yang merobek, menebas semua raksasa (daitya).

[53]
SATYĀNANDASVARŪPIN — Oṁ Satyānandasvarūpiṇe Namaḥ ||
Satya-ānanda-svarūpin = ia yang berwujud kebenaran/kesejatian (satya) dan kebahagiaan (ānanda).

[54]
APAVARGAPRADA — Oṁ Apavargapradāya Namaḥ ||
Apavarga-prada = ia yang menganugrahkan kebebasan, ketuntasan, pelepasan.

[55]
ĀRTAŚARAṆYA — Oṁ Ārtaśaraṇyāya Namaḥ ||
Ārta-śaraṇya = ia yang melindungi mereka yang tertindas, menderita.

[56]
EKĀKIN — Oṁ Ekākine Namaḥ ||
Ekākin = ia yang sendirian.

[57]
BHAGAVAT — Oṁ Bhagavate Namaḥ ||
Bhagavat = ia yang memiliki kemuliaan.

[58]
SṚṢṬI-STHITYANTAKĀRIN — Oṁ Sṛṣṭi-sthityantakāriṇe Namaḥ ||
Sṛṣṭi-sthiti-anta-kārin = ia yang berperan menciptakan, memelihara, dan mengakhiri.

[59]
GUṆĀTMAN — Oṁ Guṇātmane Namaḥ ||
Guṇa-ātman = ia yang dirinya memiliki kualitas-kualitas baik.

[60]
GHṚṆIBHṚT — Oṁ Ghṛṇi-bhṛte Namaḥ ||
Ghṛṇi-bhṛt = ia yang memiliki/membawa cahaya.

[61]
BṚHAT — Oṁ Bṛhate Namaḥ ||
Bṛhat = ia yang besar.

[62]
BRAHMAN — Oṁ Brahmaṇe Namaḥ ||
Brahman = Tuhan; sumber mantra atau sabda suci.

[63]
AIŚVARYADA — Oṁ Aiśvaryadāya Namaḥ ||
Aiśvaryada = ia yang menganugerahkan kekuasaan.

[64]
ŚARVA — Oṁ Śarvāya Namaḥ ||
Śarva = ia yang membunuh/menghancurkan dengan panah/misil.

[65]
HARIDĀŚVA — Oṁ Haridaśvāya Namaḥ ||
Haridaśva = ia yang memiliki kuda berwarna kuning-kehijauan.

[66]
ŚAURĪ — Oṁ Śauraye Namaḥ ||
Śaurī = sang pahlawan; pemberani.

[67]
DAŚADIKṢAṂPRAKĀŚA — Oṁ Daśadikṣaṃ-prakāśāya Namaḥ ||
Daśa-dikṣaṃ-prakāśa = ia yang menyinari kesepuluh penjuru.

[68]
BHAKTAVAŚYA — Oṁ Bhaktavaśyāya Namaḥ ||
Bhakta-vaśya = ia yang mendengarkan dan memenuhi kebutuhan para bhakta-nya.

[69]
AUJASKARA — Oṁ Aujaskarāya Namaḥ ||
Aujas-kara = ia yang menghasilkan aujas (kekuatan, energi).

[70]
JAYIN — Oṁ Jayine Namaḥ ||
Jayin = sang pemenang.

[71]
JAGADĀNANDAHETU — Oṁ Jagadānandahetave Namaḥ ||
Jagad-ānanda-hetu = penyebab kebahagiaan di dunia/semesta raya.

[72]
JANMA-MṚTYU-JARĀVYĀDHI-VARJITA — Oṁ Janma-mṛtyu-jarā-vyādhi-varjitāya Namaḥ ||
Janma-mṛtyu-jarā-vyādhi-varjita = ia yang melampaui kelahiran, kematian, usia tua, dan penyakit.

[73]
UCCHASTHĀNA-SAMĀRŪḌHA-RATHASTHA — Oṁ Ucchasthāna-samārūḍha-rathasthāya Namaḥ ||
Ucchasthāna-samārūḍha-rathastha = ia yang naik di atas kereta yang melaju dengan teratur, mulus.

[74]
ASURĀRĪ — Oṁ Asurāraye Namaḥ ||
Asurārī = musuh para raksasa (asura).

[75]
KAMANĪYAKARA — Oṁ Kamanīyakarāya Namaḥ ||
Jayin = ia yang membuat (seseorang) menjadi menarik, indah, cantik/ganteng.

[76]
ABJAVALLABHA — Oṁ Abjavallabāye Namaḥ ||
Abja-vallabha = ia yang disukai oleh Bulan/Dhanvantari.

[77]
ANTARBAHIḤ PRAKĀŚA — Oṁ Antarbahiḥprakāśāya Namaḥ ||
Antar-bahiḥ prakāśa = ia yang bersinar baik di dalam maupun ke luar.

[78]
ACINTYA — Oṁ Acintyāya Namaḥ ||
Acintya = ia yang melampaui pikiran.

[79]
ĀTMARŪPIN — Oṁ Ātmarūpiṇe Namaḥ ||
Ātmarūpin = ia yang merupakan perwujudan Ātman (Sang Diri Sejati).

[80]
ACYUTA — Oṁ Acyutāya Namaḥ ||
Acyuta = ia yang tegar, teguh, tidak berubah.

[81]
AMAREŚA — Oṁ Amareśāya Namaḥ ||
Amareśa = penguasa makhluk hidup (mortals).

[82]
PARA JYOTIS — Oṁ Paramai Jyotiṣe Namaḥ ||
Para Jyotis = cahaya yang paling agung.

[83]
AHASKARA — Oṁ Ahaskarāya Namaḥ ||
Ahaskara = sang pembuat hari.

[84]
RAVI — Oṁ Ravaye Namaḥ ||
Acyuta = ia yang suaranya menggelegar.

[85]
HARI — Oṁ Haraye Namaḥ ||
Hari = ia yang menghilangkan dosa-kesalahan.

[86]
PARAMĀTMAN — Oṁ Paramātmane Namaḥ ||
Paramātman = diri tertinggi.

[87]
TARUṆA — Oṁ Taruṇāya Namaḥ ||
Taruṇa = ia yang selalu muda.

[88]
VAREṆYA — Oṁ Vareṇyāya Namaḥ ||
Vareṇya = ia yang paling indah, agung, diidamkan.

[89]
GRAHĀṆĀṂ PATI — Oṁ Grahāṇāṃ Pataye Namaḥ ||
Grahāṇāṃ Pati = penguasa planet-planet.

[90]
BHĀSKARA — Oṁ Bhāskarāya Namaḥ ||
Bhāskara = ia menghasilkan sinar, cahaya.

[91]
ĀDIMADHYĀNTARAHITA — Oṁ Ādimadhyāntarahitāya Namaḥ ||
Ādi-madhya-anta-rahita = ia sendirian pada awal mula, pertengahan, hingga akhir.

[92]
SAUKHYAPRADA — Oṁ Saukhyapradāya Namaḥ ||
Saukhya-prada = ia menganugerahkan kebahagiaan, suka cita.

[93]
SAKALAJAGATĀṂ PATI — Oṁ Sakalajagatāṃ Pataye Namaḥ ||
Sakalajagatāṃ Pati = penguasa seluruh jagat.

[94]
SŪRYA — Oṁ Sūryāya Namaḥ ||
Sūrya = ia yang perkasa, memiliki kekuatan yang luar biasa.

[95]
KAVI — Oṁ Kavaye Namaḥ ||
Bhāskara = ia yang bijak, cendekia; penyair.

[96]
NĀRĀYAṆA — Oṁ Nārāyaṇāya Namaḥ ||
Nārāyaṇa = ia yang didekati oleh manusia; ia yang mengapung di lautan kosmis.

[97]
PAREŚA — Oṁ Pareśāya Namaḥ ||
Pareśa = sang penguasa tertinggi.

[98]
TEJORŪPA — Oṁ Tejorūpāya Namaḥ ||
Tejorūpa = ia yang wujudnya berupa api, cahaya, energi.

[99]
HIRAṆYAGARBHA — Oṁ Hiraṇyagarbhāya Namaḥ ||
Hiraṇyagarbha = sumber semesta yang berkilau keemasan.

[100]
SAMPATKARA — Oṁ Sampatkarāya Namaḥ ||
Sampatkara = ia yang menganugerahkan kesuksesan.

[101]
AIṂ IṢṬĀRTHADA — Oṁ Aiṃ Iṣṭārthadāya Namaḥ ||
Aiṃ Iṣṭārthada = ia yang menganugerahkan segala hal yang diinginkan.

[102]
AṂ SUPRASANNA — Oṁ Aṃ Suprasannāya Namaḥ ||
Aṃ Suprasanna = ia yang bercahaya sangat kuat.

[103]
ŚRĪMAT — Oṁ Śrīmate Namaḥ ||
Śrīmat = ia yang sangat agung.

[104]
ŚREYAS — Oṁ Śreyase Namaḥ ||
Śreyas = ia yang menuju kepada kemuliaan.

[105]
SAUKHYADĀYIN — Oṁ Saukhyadāyine Namaḥ ||
Sampatkara = ia yang menganugerahkan kebahagiaan, suka cita.

[106]
DĪPTAMŪRTĪ — Oṁ Dīptamūrtaye Namaḥ ||
Dīpta-mūrtī = ia yang berwujud cahaya, kobaran energi yang dahsyat.

[107]
NIKHILĀGAMAVEDYA — Oṁ Nikhilāgamavedyāya Namaḥ ||
Nikhilāgamaveda = ia yang menguasai semua sastra dan kitab-kitab suci.

[108]
NITYĀNANDA — Oṁ Nityānandāya Namaḥ ||
Nityānanda = ia yang selalu dalam kebahagiaan.

 

Iti Śrī-Sūryāṣṭottaraśatanāmāvaliḥ Sampūrṇā.
Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ

Perumpamaan Dua Burung

Ketiga mantra ini adalah bagian dari Rig-veda 1.164 yang berisi perumpamaan dari Resi Auchatya Dirghatamas. Kita bisa melihat bahwa Sang Resi adalah seorang Yogi yang menyadari bahwa manusia bisa memiliki berbagai tingkat kesadaran yang digambarkan dengan dua burung di satu pohon yang subur.

Burung pertama, yang sibuk menikmati buah-buahan, adalah manusia yang berada dalam kesadaran rendah (aku adalah tubuh/pikiran). Ia terjerat di dalam pohon dunia. Sedangkan burung kedua adalah para bijak yang menyadari bahwa ia adalah Sang Jiwa yang tiada terpisah dari Paramatman sehingga, walaupun ia berada di pohon dunia yang sama, ia tetap tenang, sadar, dan tak terpengaruh.

Pada bagian akhir mantra 22, Sang Resi mengingatkan bahwa ada yang lebih manis, lebih membahagiakan daripada manis-asam-pahit buah-buahan di pohon dunia, yaitu berada pada kesadaran tertinggi yang dikaitkan dengan Bapa yaitu Sang Paramatman.

conceptual

dvā suparṇā sayujā sakhāyā
samānaṁ vṛkṣam pari ṣasvajāte |
tayor anyaḥ pippalaṁ svādv atty
anaśnann anyo abhi cākaśīti || 20 ||

dua burung bersayap indah bersaki
tiba hinggap di pohon meruah buah,
yang satu tiada henti mencecapi
yang lainnya terang tenang, tak tergoda.

yatrā suparṇā amṛtasya bhāgam
animeṣaṁ vidathābhisvaranti
|
ino viśvasya bhuvanasya gopāḥ
sa mā dhīraḥ pākam atrā viveśa
|| 21 ||

saat para burung melantunkan puji
penuh kesadaran kepada Hyang Agung,
Hyang Perkasa, pelindung semua alam,
merasukiku yang masih lugu ini.

yasmin vṛkṣe madhvadaḥ suparṇā
niviśante suvate cādhi viśve
|
tasyed āhuḥ pippalaṁ svādv agre
tan non naśad yaḥ pitaraṁ na veda || 22 ||

di sana mereka menikmati madu,
para burung tinggal, dan beranak pinak,
konon, di puncak ada buah termanis
namun bukan ‘tuk yang tak mengenal Bapa.

Nasadiya Sukta: Merenungkan Penciptaan

Nasadiya Sukta merupakan salah satu sukta yang misterius di dalam Rig Veda—teks tertua umat manusia yang masih dilantunkan hingga sekarang. Nama ‘nasadiya’ diambil dari kata pertama-nya: na-asat atau nāsat. Sukta ini merupakan sukta ke-129 di dalam mandala ke-10 Rig Veda, berisi tujuh mantra, semuanya dalam jenis tembang triṣṭubh, di-“terima” oleh Resi Parameṣṭhī Prajāpati. Yang menarik, Dewata sukta ini adalah Bhāvavṛtta, yang secara harfiah berarti: terkait dengan penciptaan atau kosmologi. Nama ini juga merupakan sebutan bagi Brahman.

Rig Veda mandala ke-10 merupakan mandala yang relatif muda dibandingkan dengan mandala-mandala lainnya—meskipun umurnya sudah lebih dari 3.500 tahun. Kandungan di dalam sukta ini sangat menarik sehingga Carl Sagan (1934–1996), seorang astronom Amerika Serikat dan tokoh yang mempopulerkan sains, mengutip sukta ini di dalam salah satu videonya—silakan klik gambar (durasi video 15 menit):

hqdefault

Sejak lama manusia bertanya-tanya: Bagaimana proses penciptaan terjadi? Siapa atau apa yang pada awalnya memicu penciptaan? Adakah yang mencipta? Jika ya, lalu siapa yang menciptakan sang pencipta? Saya menyukai sukta ini karena pertama, ia tidak menyuguhkan “titik”, tapi “tanda tanya”—ia tidak menuntut kita mengimani suatu dogma. Sukta ini open-ended, ia memberi ruang bagi pemahaman baru bahkan lewat sains. Sang resi tidak merasa perlu menutupi bahwa ada hal-hal yang tidak bisa atau sulit diungkapkan. Kedua, makna sukta ini bukan hanya bentuk pencarian ke luar, namun juga sekaligus ke dalam. Kedua proses itu tidak eksklusif satu sama lain, bahkan saling melengkapi. Dewata yang ada di luar sana, ternyata ada di dalam diri juga.

Oke, sekarang kita akan bahas isinya, bait demi bait. Saran saya, jangan membaca dengan tergesa-gesa. Nikmati setiap baitnya. Dan, bacalah beberapa kali, lalu renungkan maknanya untuk Anda. Tulisan ini saya buat terbuka—maksudnya saya akan terus memperbarui isinya jika saya rasa perlu tambahan atau perbaikan, atau jika saya menemukan pemahaman baru.

Apakah isi Nasadiya Sukta sejalan dengan pemahaman kosmologi modern? Silakan nilai sendiri. Namun saya pribadi lebih memilih memandangnya dari sisi spiritual—yang merupakan tema sentral Veda. Mungkin benar yang dikatakan Veda bahwa apa yang terjadi di luar (makrokosmos), adalah cerminan yang terjadi di di dalam diri (mikrokosmos): yat piṇḍe tad brahmāṇḍe. Semoga bermanfaat!

big_bang_nageo

Diagram proses penciptaan alam semesta sebagaimana yang dipahami ilmuwan saat ini. (Klik gambar untuk melihat lebih jelas.) Sumber: National Geographic, 2014.

Hariḥ Oṁ

nāsad āsīn no sad āsīt tadānīṁ nāsīd rajo no vyomā paro yat |
kim āvarīvaḥ kuha kasya śarmann ambhaḥ kim āsīd gahanaṁ gabhīram || 10.129.01

tadānīm = ketika itu;

Kata ini sering diartikan sebagai momen sebelum vi-sṛṣṭi yang disebutkan pada mantra terakhir (6 dan 7), yaitu momen sebelum penciptaan. Namun mantra ini bisa juga dilihat dari sudut pandang spiritual, yaitu pengalaman sang resi dalam memahami Jiwa atau Sang Diri Sejati. Ini adalah inti diri yang …

asat na-āsīt = tidak ada ketidak-sat-an, keti-ada-an;

Sat bisa diterjemahkan sebagai: keadaan, keberadaan, kejadian, realitas, makhluk (hidup dan tidak hidup), ciptaan, hingga kebaikan yang sejalan dengan kebenaran.

sat no-āsīt = tidak ada pula ke-sat-an, keber-ada-an;

Kata no berarti ‘tidak pula’, yang berasal dari na (tidak, bukan) + (atau, pula).

rajaḥ na-āsīt = tidak ada rajas;

Kata rajas di sini terkait dengan langit. Kata ini awalnya berarti partikel-partikel kecil di udara yang membiaskan warna-warni sehingga kita bisa “melihat” langit. Akar kata rajas, yaitu rañj, memiliki makna mewarnai, memberi rupa.

yat no vyomā paraḥ = tidak ada vyoman yang melampaui atau lebih tinggi lagi;

Kata vyoman merujuk pada ruang, angkasa, antariksa yang ada “di atas”, melampaui langit. Kata ini bisa digunakan untuk menggambarkan keseluruhan semesta raya.

kim āvarīvaḥ = apa yang meliputi, membungkus, mengandung?;

Kata āvarīvas berasal dari akar kata vṛ (kelas 10) yang berarti meliputi, membungkus (āvaraṇa), di samping makna-makna lainnya.

kuha = di mana?; kasya śarman = dalam perlindungan (si-)apa?; kim ambhaḥ gahanam gabhīram āsīt = apakah ada ambhas yang dalam dan misterius?

Kata ambhas sering diartikan sebagai air atau suara (kosmis), yang pasti bukan air atau suara yang kita kenal secara umum karena sebagaimana dijelaskan di awal, ketika itu tidak ada keberadaan, benda, dan seterusnya. Akar katanya, ambh, berarti bergetar, bersuara, bergerak.

na mṛtyur āsīd amṛtaṁ na tarhi na rātryā ahna āsīt praketaḥ |
ānīd avātaṁ svadhayā tad ekaṁ tasmād dhānyan na paraḥ kiṁ canāsa || 10.129.02

tarhi, mṛtyuḥ na-āsīt = saat itu tidak ada kematian; amṛtam na(-āsīt) = tidak (ada pula) keabadian;

Bait ini bisa dimaknai begitu saja seperti di atas, namun setelah saya renungkan mṛtyu dan amṛta, ‘kematian/ketidakabadian’ dan ‘keabadian/kelanggengan’ ada karena konsep waktu. Jika mantra pertama di atas menyinggung tentang konsep ruang, maka di dalam mantra ini terkait dengan konsep waktu.

praketaḥ rātryāḥ ahnaḥ na-āsīt = tiada perwujudan/penampakan/pemahaman yang berasal dari malam-siang atau gelap-terang;

Berada di kedalaman jiwa (atau awal mula penciptaan, sebagaimana pada tafsir yang lain), di sana, saat itu, tidak ada dualitas yang menjadi akar dari cit, yaitu benih pikiran—kata pra-keta berakar dari cit ini. Pikiran berdiri di atas dualitas yang digambarkan berasal dari rātri (malam) dan ahna/ahan (siang)—kedua kata ini jika dikupas lebih lanjut memiliki makna-makna lain yang lebih dalam lagi.

tat ekam = yang tunggal itu; ānīt svadhayā = ia “hidup” dengan kekuatannya sendiri; avātam = tanpa napas;

Sang resi menyebut entitas tunggal sebelum penciptaan terjadi dengan kata tat, itu (‘that’ dalam bahasa Inggris). Perhatikan bahwa sang resi tidak menyebutnya Tuhan atau yang semacam itu, tapi cukup tat. Selain itu, tat, tiada yang kedua, ketiga, dann seterusnya; ia ada dengan sendirinya, yang tidak perlu napas untuk “hidup”, seperti kita.

tasmāt ha anyat paraḥ kim cana na-āsa= sungguh-sungguh, tiada sesuatu pun yang lain, yang lebih (tinggi) lagi darinya atau yang melampauinya.

tama āsīt tamasā gūḻham agre ‘praketaṁ salilaṁ sarvam ā idam |
tucchyenābhv apihitaṁ yad āsīt tapasas tan mahinājāyataikam || 10.129.03

tamaḥ tamasā gūḷham agre āsīt = mula-mula yang ada adalah kegelapan yang terselubungi oleh kegelapan;

apraketam salilam sarvam āḥ idam = semua ini adalah salila yang tiada berwujud;

Kata salila berarti sesuatu yang mengalir, bergejolak, berfluktuasi. (Lagi-lagi) air bisa disebut salila, tapi dalam konteks ini tidak bisa diterjemahkan demikian karena alasan yang sudah dibahas sebelumnya.

yat tuchyena ābhu apihitam āsīt = yaitu kehampaan yang diselubungi kekosongan;

Kata tuchya di sini menarik. Asalnya, tucha, berarti sangat kecil sekali. Ada tapi tiada. Seperti nol.

tat ekam mahinā tapasaḥ ajāyata = (kemudian) yang tunggal itu bermanifestasi melalui energi yang sangat dahsyat.

Kata tapas biasa diartikan sebagai panas, kehangatan. Di sini saya menggunakan kata energi karena lebih tepat.

kāmas tad agre sam avartatādhi manaso retaḥ prathamaṁ yad āsīt |
sato bandhum asati nir avindan hṛdi pratīṣyā kavayo manīṣā || 10.129.04

kāmaḥ tat agre sam-avartata = pada permulaannya, kehendak (kāma) serta-merta menjadi mungkin;

Mantra ini sangat menarik. Walau, jujur saja, saya belum sepenuhnya memahami apa yang ingin disampaikan di sini. Berdasarkan pemahaman saya yang terbatas ini, saya memaknai bahwa proses penciptaan dimulai dari sesuatu yang halus yaitu pikiran (disebutkan pada bait selanjutnya) yang memungkinkan kāma, yaitu kehendak atau keinginan (yang mungkin tidak 100% sama dengan yang kita, manusia, pahami). Dari sinilah kemudian, retas atau benih-aktif mulai menyebar dan berproses.

yat retaḥ prathamam manasaḥ adhi-āsīt = yang merupakan retas pertama yang muncul-keluar dari pikiran;

Kata retas bisa bermakna sebagai hasil ciptaan sekaligus benih yang kemudian menghasilkan hal-hal yang lain. Di dalam filosofi Sankhya yang berkembang kemudian, proses penciptaan digambarkan dengan munculnya puruṣa (materi non-benda) dan prakṛti (materi kebendaan) dari yang tunggal. Semesta dengan segala keberagaman isinya adalah perpaduan, “pembuahan” keduanya.

bandhum sataḥ asati niḥ-avindan = hubungan antara keberadaan (sat) dengan ketiadaan (asat) ini dipahami;

hṛdi prati-īṣyā kavayaḥ manīṣā = (pemahaman ini) dinanti-nantikan muncul di dalam inti batin para bijak.

tiraścīno vitato raśmir eṣām adhaḥ svid āsīd upari svid āsīt |
retodhā āsan mahimāna āsan svadhā avastāt prayatiḥ parastāt || 10.129.05

tiraścīnaḥ vi-tataḥ raśmiḥ eṣām = raśmi muncul melintas (horizontal), dan meluas;

Kata raśmi memiliki beberapa makna di dalam kamus, yaitu ‘utas, tali, cambuk atau sinar’. Jika dikaitkan dengan mantra sebelumnya kata ini saya artikan sebagai rantai rangkaian proses yang terjadi ketika benih (retas) pikiran berkembang menjadi berbagai hal—dari yang abstrak hingga ke yang berwujud.

adhaḥ svit āsīt upari svit āsīt = demikian pula ke atas maupun ke bawah;

retaḥ-dhāḥ āsan= (yang dihasilkan dari) sumber-sumber penghasil retas; mahimānaḥ āsan = (yang) sangat perkasa, kuat;

svadhā avastāt pra-yatiḥ parastāt = dengan kekuatannya sendiri (ia) berkeinginan (menyebar) ke dalam/bawah dan ke luar lebih jauh lagi.

ko addhā veda ka iha pra vocat kuta ājātā kuta iyaṁ visṛṣṭiḥ |
arvāg devā asya visarjanenāthā ko veda yata ābabhūva || 10.129.06

kaḥ addhā veda = siapa yang tahu dengan pasti?

kaḥ iha pra-vocat = siapa di sini yang bisa menjelaskan?

kutaḥ ā-jātā, kutaḥ iyam vi-sṛṣṭiḥ = bilamana (ia) muncul, bagaimana terciptanya?

arvāk devāḥ asya vi-sarjanena = para Dewa ada belakangan, lahir melalui proses penciptaan ini;

Para Dewa di sini bisa bermakna kekuatan-kekuatan alam, atau bahkan manusia yang memiliki kecerdasan dan pengetahuan luas. Berbeda dengan pemahaman awam di Indonesia, istilah deva memiliki makna yang luas—tidak hanya berarti sesembahan tertentu.

atha kaḥ veda yataḥ ā-babhūva = lalu, siapa yang tahu dari mana asal/muncul-nya?

iyaṁ visṛṣṭir yata ābabhūva yadi vā dadhe yadi vā na |
yo asyādhyakṣaḥ parame vyoman so aṅga veda yadi vā na veda || 10.129.07

iyam vi-sṛṣṭiḥ yataḥ ā-babhūva = penciptaan ini, dari mana munculnya;

yadi vā dadhe yadi vā na = apakah ia yang menciptakannya atau tidak;

yaḥ asya adhyakṣaḥ parame vyoman = (ia) yang menyaksikannya pada vyoman tertinggi;

saḥ aṅga veda yadi vā na veda = ia, sungguh-sugguh tahu, atau mugkin juga (ia) tidak tahu.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ

Agni Mantra

Hariḥ Oṁ,

Mantra pertama Rig Veda (1.1.1) berbunyi:


Agnim īḷe purohitaṃ yajñasya devam ṛtvijam |

hotāraṃ ratnadhātamam ||

Rig Veda—kitab suci tertua peradaban Hindu/Sindhu/Indus/Indo—dibuka dengan mantra Resi Madhucchadā yang ditujukan kepada Agni Devatā. Siapakah Agni ini? Kalau kita membuka kamus bahasa Sanskerta, kita akan melihat agni diartikan sebagai api, geni, utamanya api yang digunakan dalam upacara persembahan. Ada pula yang mengatakan bahwa Agni adalah Dewa Api yang kadang dipersonifikasikan seperti gambar di bawah ini:

CIS:IM.364-1923

Pemahaman dan penggambaran demikian berkembang belakangan—jauh setelah kitab-kitab Veda selesai dihimpun. Rig Veda sendiri mengatakan bahwa Sat—realitas dasar jagat raya yang tidak pernah berubah, yang merupakan sumber dan tujuan akhir segalanya ini—adalah tunggal, namun para Vipra (para bijak, resi) menyebutnya dengan berbagai nama: Indra, Mitra, Varuna, Agni, dan sebagainya (RV 1.164.46). Dalam bahasa kita Sat mungkin bisa disebut Tuhan—walaupun konsep ketuhanan di dalam Veda tidak sepenuhnya sama dengan konsep-konsep ketuhanan yang lain.

Sat inilah yang coba “dialami” oleh para resi lewat upaya-upaya peningkatan/perluasan kesadaran—dari kesadaran rendah yang melihat semesta raya termasuk diri sendiri sebagai hanya materi kebendaan yang terus mengalami perubahan, lahir, hidup, lalu mati, ke kesadaran bahwa semua ini sejatinya adalah Dia semata. Dia ada di dalam dan di luar diri kita, Dialah Aku yang sejati dan tidak pernah mati. Tat tvam asi, Itulah engkau! Perjalanan mengalami-Nya adalah perjalaan ke dalam diri.

Agni berasal dari akar kata ‘ag’ yang berarti bergerak naik, meliuk-liuk terus-menerus. Oleh karena itu, api bisa disebut agni karena memiliki sifat demikian. Sat, Tuhan juga disebut Agni karena memiliki kekuasaan untuk terus menaikkan kesadaran kita, dari kesadaran yang lebih rendah ke kesadaran yang lebih tinggi. Seperti api, Ia mentransformasi segala yang diberikan kepadannya—seperti bahan metah menjadi makanan yang lebih bergizi dan mudah dicerna tubuh. Api juga digunakan untuk memurnikan logam. Maka tidak heran para resi meyimbolkan-Nya sebagai Sang Api Agung.

Mantra pertama ini merupakan kunci untuk memahami Veda. Untuk bisa masuk, kita perlu melalui Agni, kita perlu metransformasi diri terlebih dahulu. Kekotoran kita perlu dibersihkan dan dibakar habis melalui Agni. Api juga tersimpan di dalam benda-benda, misalnya dua batang kayu yang bila digesek-gesekkan dengan cara yang benar bisa memunculkan api. Sat, Tuhan pun demikian. Ia merupakan relitas dasar alam semesta ini yang tidak kasat mata, tidak mudah dipahami. Namun, lewat Yoga dan berbagai upaya meniti ke dalam diri, Ia bisa disadari dan dialami.

Ada satu kata kerja di dalam mantra ini: īḷe, dari akar kata īḍ yang berarti meminta, memohon, atau memuja. Īḷe berarti aku meminta, memohon kepada, atau memuja Agni. Sisanya, Resi Madhucchandā menjelaskan siapa Agni:

  • purohitam, terdiri dari puraḥ + hita, artinya ia yang diletakkan mula-mula, di muka, di depan, di hadapan;
  • yajñasya devam artinya Devatā yang dipuja dalam suatu yajña atau ritual persembahan;
  • ṛtvijam berarti mempersembahkan pada saat yang tepat (right, Ing), dan menjadi nama salah satu pemangku dalam upacara;
  • hotāram adalah pendeta yang memimpin upacara, yang melantunkan mantra-mantra dan menuangkan persembahan; dan
  • ratnadhātamam berarti pemberi kekayaan (materi maupun spiritual, ratna) yang utama.

Bayangkan suatu upacara persembahan. Di sana ada pendeta yang memimpin upacara, ada peserta upacara yang memohon berkah, ada bahan-bahan yang dipersembahkan ke dalam api suci, dan ada pula Devatā yang sedang dipuja:

akl0s1h8ar637cfkyzjv

Mantra ini mengatakan bahwa api suci itu adalah Agni, upacara/ritual yang dilakukan juga adalah Agni, pendeta pemimpin upacara itu adalah Agni, yang mempersembahkan biji-bijian, rempah-rempah, dan minyak ke dalam api suci juga adalah Agni, Agni pula Devatā yang dituju, dan Agni-lah yang memberikan hasil upacara tersebut. Saya teringat sloka 4.24 di dalam Bhagavad Gītā yang menjelaskan hal yang sama:

Brahmārpaṇaṁ brahma havir
brahmāgnau brahmaṇā hutam,

brahmaiva tena gantavyaṁ
brahma-karma-samādhinā.

Persembahan adalah Brahman—Gusti Pangeran, Sang Jiwa Agung, Tuhan Yang Maha Esa; tindakan mempersembahkan pun Dia; dan Dia pula yang mempersembahkan kepada Api Hyang Menyucikan, yang adalah Dia juga. Demikian, seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan, niscaya mencapai-Nya.
(terjemahan Swami Anand Krishna, 2014.)

Perjalanan ke dalam diri adalah perjalanan oleh Dia, dari Dia menuju Dia. Segala sesuatu di alam semesta ini adalah Dia, Dia, Dia. Ke-aku-anku sebenarnya hanyalah ilusi yang harus dilampaui. Walaupun demikian, perjalanan ini harus dilakoni. Upaya kita harus diwarnai kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah persembahan kepada-Nya—termasuk pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari. Awalnya ada aku dan Gusti, lama-kelamaan terjadilah manunggaling kawula-Gusti.

Agni,
…’ku puja!
Yang menyala-nyala,
Devatā pemuka dalam setiap upaya,
Ialah persembahan ini.

    Ialah penuang persembahan,
Ia pula sang pemberi anugerah utama!

Dari mantra ini pula kita bisa menarik pelajaran bahwa dalam setiap upaya, terutama yang terkait dengan perjalanan spiritual ke dalam diri, pertama-tama kita perlu menyalakan ‘api’ disiplin, keinginan yang kuat (will power), ‘api’ yang akan mentransformasi kebiasaan-kebiasaan yang tidak lagi menunjang perkembagan jiwa menjadi sesuatu yang lebih berharga. Yajna (persembahan dan tindakan) ini hendaknya dilakukan dengan benar dan tepat.

Oṃ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ

Gitaku: Seni Bekerja Tanpa Pamrih

Menjelang Gita Jayanti tahun ini, saya membuka-buka kembali terjemahan Bhagavad Gita oleh Amir Hamzah yang ditulisnya lebih dari 83 tahun yang lalu secara berseri di dalam ‘Pujangga Baru’. Saya menyukai gaya bahasanya yang terasa klasik untuk masa kini. Walaupun Amir Hamzah tidak menerjemahkan Gita langsung dari bahasa aslinya, Sanskerta, namun dari bahasa Belanda, jejak-jejak maknanya masih cukup jelas.

Sebelumnya saya sudah menuliskan beberapa poin penting mengenai percakapan pertama dan kedua di dalam tiga utas yang saya buat di akun Twitter. Saya memutuskan untuk pindah ke blog karena di sini saya bisa lebih leluasa menuangkan pemikiran, tidak dibatasi oleh jumlah karakter dan masalah teknis lain akibat utas yang terlalu panjang.

Ringkasan Percakapan Satu dan Dua
Percakapan pertama Gita membahas tentang akar terjadinya Bharata-yuddha, yaitu keterikatan dan keakuan tokoh-tokohnya, yaitu Dhritarashtra dan putaranya, Duryodhana. Mereka mencoba mempertahankan kekuasaannya dengan menghalalkan segala cara, meskipun sudah dinasihati bahwa ada orang lain yang lebih layak memimpin. Duryodhana menganggap takhta Hastinapura adalah haknya. Tawaran perdamaian yang digagas Krishna ditolak, sehingga kini mereka berhadap-hadapan di Kurukshetra.

Sesaat sebelum berperang, Arjuna—yang biasanya bersemangat dan percaya diri—kehilangan keperkasaannya. Di hadapannya berdiri orang-orang yang membentuk “diri”-nya selama ini: kakek, paman, guru, saudara-saudara, dan raja-raja lain yang sebelumnya begitu dekat dan dihormatinya. Membunuh mereka berarti membunuh sebagian “diri”-nya. Busur di genggamannya pun terjatuh, dan Arjuna terduduk lemas.

Menyaksikan hal itu Krishna mencoba mengangkat semangat Arjuna dan mengingatkannya tentang Yoga. Di sini Yoga bukanlah pose-pose instagramable yang kini banyak menjamur di Jakarta dan di kota-kota besar lainnya di dunia. Yoga adalah sesuatu yang membuat kita utuh, tidak tercerai-berai karena berbagai keinginan, ketakutan, dan sebagainya. Bagaimana caranya? Krishna dengan sabar menjelaskan berbagai jalan Yoga kepada Arjuna.

Bhagavad Gita merangkum pokok-pokok ajaran Yoga, sehingga ia dianggap sebagai saripati Veda. Veda diibaratkan sebagai sapi-sapi betina yang sehat sedangkan Gita adalah susu penuh gizi yang dihasilkannya. Ajaran di dalam Gita tidak dogmatis dan bersifat universal. Tidak mengherankan jika Gita, yang ‘hanya’ terdiri dari 700 ayat, menjadi kitab suci Hindu yang paling populer dan telah diterjemahkan serta ditafsirkan oleh sekian banyak pemikir dari berbagai latar belakang, tidak hanya orang Hindu saja.

Percakapan kedua menjelaskan jalan Sankhya, yaitu jalan Yoga melalui telaah logis. Di sini Krishna mengajak Arjuna untuk melihat kenyataan: Apa yang membuatnya gentar? Mengapa itu bisa terjadi? Siapa atau apa yang sesungguhnya sedang gentar itu? Apakah kegelisahannya itu adalah “diri”-nya yang sejati? Siapa penguasa: kegelisahannya atau “diri”-nya? Di sini Krishna mengupas lapis demi lapis kesadaran, mengurai proses psikologis yang menyebabkan seseorang berduka atau mengalami suka, dan kemudian meminta Arjuna melampaui keduanya itu. Dengan begitu budinya berkembang dan pandangannya menjadi lebih jernih sehingga ia bisa melakoni perannya dengan penuh kesadaran—tidak terombang-ambing oleh “angin” di dalam dirinya (keinginan, harapan akan hasil) dan dari luar dirinya—dan kemandirian.

Salah satu bagian yang cukup menarik di dalam percakapan kedua adalah kritik Krishna terhadap orang-orang yang hanya mau bekerja jika mendapat pahala—baik di dunia ini maupun nanti di surga. Mereka ini mengatakan bahwa kitab-kitab suci adalah segala-galanya. Sikap ini membuat mereka menjadi fundamentalis, kaku, dan pandangannya sempit. Krishna bahkan menggunakan kata-kata yang cukup keras bagi mereka. Krishna menginginkan setiap individu untuk mandiri, oleh karena itu ia menginginkan agar setiap orang mengembangkan buddhi atau budinya masing-masing. Krishna tidak mau menyalahkan obyek/benda di luar atau makhluk gaib yang kerjanya menggoda manusia. Ia melihat manusia sebagai akar masalah sekaligus solusinya.

Karma Yoga
Percakapan ketiga dibuka dengan pertanyaan Arjuna: mana yang lebih baik budi atau kerja (karma)? Perang akan segera dimulai sebentar lagi, tidak ada waktu untuk melakukan penelaahan logis. Arjuna harus mengangkat senjata, siap atau tidak siap. Pengembangan budi memang memerlukan proses yang tidak sekejap, padahal Arjuna membutuhkan solusi praktis dalam waktu singkat. Arjuna adalah kita, yang kerap harus menghadapi tantangan di depan mata dan tidak punya banyak waktu untuk berpikir.

Jalan Sankhya, menurut saya, adalah solusi jangka panjang dan memberi hasil lebih permanen sehingga tetap harus dilakukan. Sankhya mengupas lapis demi lapis kesadaran “palsu”—bahwa kita adalah badan yang berubah-ubah ini, atau pikiran dan perasaan, atau identitas-identitas lain yang kita kumpulkan sepanjang hidup, seperti agama/kepercayaan, ideologi, kecenderungan politik, dan sebagainya—sehingga pada saatnya kita bisa sampai ke “inti diri”, yaitu Jiwa yang sesungguhnya tiada berbeda dengan Shiva. Untuk sampai ke sana, kita harus “melawan” maya yang telah membungkus “diri” kita selama perjalanan semesta raya, selama milyaran tahun. Ini bukan perkara mudah.

Kembali ke bumi. Krishna menyadari bahwa manusia memang tidak pernah lepas dari kerja. Tubuh manusia tidak bisa dirawat tanpa kerja—makanan diperoleh lewat upaya, rumah, hubungan dengan sesama, semuanya perlu kerja agar lestari. Krishna memberikan solusi: Kerjakanlah tugasmu sebagai persembahan.

Sebelum dilanjutkan, saya merasa perlu memabahas sedikit tentang persembahan atau ibadah. Saat ini pemahaman kita di Indonesia, bahkan di kalangan umat Hindu sendiri, tentang ibadah sangat dipengaruhi cara pandang rumpun agama-agama Samawi. Umat Islam dan Kristen pergi ke masjid dan gereja untuk melakukan ritual tertentu yang terstruktur. Tradisi Hindu sebenarnya agak berbeda, dan apa yang dilakukan oleh umat Hindu di Nusantara saat ini sudah agak bergeser dari tradisi asalnya karena interaksinya dengan agama-agama lain.

9249

Candi Prambanan (dibangun abad ke-9 M).

Jika umat lain memiliki rumah ibadah, maka di masa lalu Hindu memiliki kuil atau candi yang merupakan devalaya tempat ber-sthana-nya Deva atau Devi tertentu. Coba perhatikan candi-candi kuno seperti Prambanan, Borobudur, Sukuh, dan sebagainya. Setiap Deva/Devi berada di titik pusat kuil atau candi yang kemudian mengejawantah keluar membentuk bagian-bagian lain yang membuat orang yang mengunjungi kuil atau candi tersebut selangkah demi selangkah masuk ke dalam dirinya sendiri untuk bertemu langsung dengan Sang Deva/Devi. Setiap kuil dan candi memiliki, for the lack of better words, corak energi yang khas yang dibuat dengan sengaja lewat arsitektur dan berbagai ritual yang dilaksanakan di sana, demi membantu mempercepat perjalanan spiritual para pengunjungnya. Tidak ada dua kuil atau candi yang sama baik secara fisik maupun energetik. Kuil dan candi diperlakukan sebagai entitas tersendiri. Tidak demikian halnya dengan rumah ibadah yang lebih generalis, netral.

Umat Hindu yang datang ke pura, kuil, dan candi membawa persembahan atau sesajen (walaupun kini kata ini punya makna yang negatif karena dikaitkan dengan klenik) bagi Deva/Devi. Persembahan ini biasanya terdiri dari bunga-bungaan, dedaunan, dupa atau wangi-wangian, juga buah-buahan atau kue, bisa juga benda lain atau uang. Persembahan ini digunakan untuk mempercantik Deva/Devi atau dibawa pulang kembali sebagai ayapan yang kemudian dimakan bersama-sama. Persembahan tersebut diberikan sebagai wujud cinta-bakti tanpa keterikatan.

Ada pula persembahan yang diberikan ke dalam api suci, berupa biji-bijian dan minyak ghee, disertai dengan mantra-mantra. Upacara atau yajna ini disebut Agni Hotra atau Homa. Setiap kali memasukkan persembahan, peserta mengucapkan idam na mama, “ini bukanlah dari/milik-ku” sebagai isyarat pelepasan ego, sebagaimana Sang Pencipta mempersembahkan dirinya pada awal mula sehingga lahirlah segala sesuatu di alam raya. Persembahan seperti inilah yang dimaksud oleh Krishna.

Krishna mengatakan bahwa Sang Pencipta, Prajapati atau Brahma (berbeda dengan Brahman) menciptakan manusia dengan semangat persembahan/pengorbanan melalui yajna. Prajapati kemudian bersabda kepada manusia:

“Berkembanglah dengan cara yang sama (dengan yajna itu) dan raihlah segala kenikmatan yang kau dambakan, seperti Kamadhuk yaitu sapi yang memenuhi keinginanmu. Dengan yajna pula rawatlah para Deva, dan semoga para Deva merawatmu. Dengan saling merawat, kalian akan memperoleh kebahagiaan tertinggi. Para Deva akan memberi apa-apa yang kalian inginkan. Ia yang menikmati hasil pemberian, namun tidak berbuat yang sama adalah seorang pencuri.”

Proses ini diangkat dan dikembangkan dari Purusha Sukta yang terdapat di dalam Rigveda 10 Sukta ke-90.

Krishna meminta Arjuna bertindak selfless, bebas dari keterikatan, dan menghaturkan segala yang dikerjakannya sebagai persembahan. Meskipun jika seseorang telah menyadari hakikat dirinya (sebagai Jiwa) sehingga sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dikerjakannya, namun—Krishna mencontohkan dirinya dan Raja Janaka—ia harus terus berkarya demi kemaslahatan semua. Bagi Arjuna, kita semua, yang belum mencapai kesadaran itu, Krishna menganjurkan untuk mempersembahkan pekerjaan/karya kita untuk Deva/Devi/Tuhan atau Kebenaran/Keadilan/Kemuliaan/Dharma dan sebagainya. Semua itu adalah “alat” yang bisa kita pakai untuk memfokuskan pandangan.

Krishna berkata:
“Serahkanlah segala kerja pada-Ku, tujukan pikiranmu pada Adhyatma (zat daripada sendiri; Atma) maka berperanglah, bebas dari harap dan loba, sesudahnya lenyap segala percintaanmu.” (Terjemahan Amir Hamzah, hal. 25).

 

virat-Rupa

Vishvarupa, salah satu perwujudan-Nya.

Jangan biarkan hawa nafsu yang menciptakan kesukaan dan kebencian (raga dan dvesha) memengaruhi pandangan kita sehingga menghambat kita mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan atau malah kita mengerjakan pekerjaan orang lain.

“Terlebih baik kewajiban sendiri, walaupun tiada sempurna, daripada kewajiban orang lain, sungguhpun sempurna; terlebih baik mati dalam (memenuhi) kewajiban sendiri, kewajiban orang lain penuh dengan mara-bahaya.” (hal. 25).

Kecenderungan nafsu (rajo-guna) adalah melahirkan kama (keinginan) dan krodha (amarah). “Keduanya ini adalah musuh yang harus ditaklukkan!” Keduanya ini memadamkan hikmat dan pengetahuan sejati. Kelima indra kita lebih berkuasa daripada badan, pikiran lebih berkuasa daripada indra, namun budi lebih tinggi daripada pikiran. Dan yang lebih tinggi lagi daripada budi adalah Sang Jiwa. Oleh karena itu, Krishna kembali lagi menekankan bahwa, cara menaklukkan hawa nafsu adalah dengan menyadari hakikat diri sebagai Jiwa yang suci dari segala keterikatan.

Selama kita masih belum bisa menundukkan kama dan krodha maka hidup kita terombang-ambingkan—tertiup ke sana ke mari. Keduanya tidak bisa ditaklukkan jika budi belum berkembang. Untuk mengembangkan budi dibutuhkan upaya yang intensif dan terus menerus lewat disiplin Yoga—tidak bisa instan. Inti Bhagavad Gita sebenarnya satu, namun terus berkembang karena manusia memiliki berbagai kecenderungan dan tingkat kesadaran sehingga Yoga menjadi sekian banyak jalan. Bekerja tanpa pamrih, dengan menyerahkannya sebagai persembahan kepada Hyang Agung adalah salah satu cara yang praktis buat manusia modern yang lebih banyak waktu untuk bekerja daripada hal-hal lain.

Apakah Semua Agama Sama? — Perspektif Hindu Dharma

Tumbuh dalam keluarga dan masyarakat yang beragam, saya sering mendengar: “Semua agama itu sama. Sama-sama mengajarkan kebaikan.” Petuah tersebut mengajarkan kepada anak-anak bahwa agama-agama bukanlah untuk dipertentangkan. Walaupun berbeda, toh setiap agama mengajarkan hal yang sama: kebaikan.

Beranjak dewasa di tengah zaman deras arus informasi, saya semakin sering mendengar: “Walaupun sama-sama mengajarkan kebaikan, agama-agama itu berbeda.” Jika dulu aspek universalnya yang ditonjolkan, kini perbedaannya digarisbawahi. Tentu saja: umat muslim beribadah di masjid, sedangkan yang kristen ke gereja, sedangkan yang hindu ke pura, dan umat buddha ke wihara.

Belum lagi soal-soal yang lain: pembawa risalah, kitab suci, teologi, dan seterusnya. Dalam terang informasi, semua agama tampak jelas perbedaannya. Kedua petuah di atas sama-sama memiliki nilai kebenaran: perbedaan itu ada, demikian persamaannya. Yang menjadi soal adalah bagaimana praktiknya dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika saya tahu Kamu berjalan di ‘jalan’ yang salah, haruskah aku diam?” Demikian pertanyaan yang muncul dalam suatu diskusi lintas agama dulu di kampus. Buat seorang hindu yang tinggal di luar Bali seperti saya, pertanyaan ini familier sekaligus asing. Familier karena pertanyaan seperti ini sering saya terima dalam berbagai varian, baik dari umat muslim maupun kristen/katolik. Intinya: ada jalan (agama) yang benar—yaitu jalanku—dan ada jalan yang salah/sesat—jalanmu.

Pertanyaan ini terasa asing karena agama Hindu tidak mengedepankan pemilahan seperti ini. Bahkan di dalam Bhagavad Gita (BG) dikatakan bahwa pada jangka panjang, semua makhluk akan mencapai ‘titik’ yang sama, terlepas dari apa kepercayaannya saat ini (BG 4.11). Ya, pada jangka pendek kita bisa ‘salah jalan’, tapi pada jangka panjang—karena dorongan jiwa (dalam pengertian Hindu Dharma, bukan pengertian umum)—semua akan sampai kepada-Nya.

Hindu Dharma mengenal proses kelahiran kembali (reinkarnasi). Perjalanan setiap jiwa mencapai Tuhan butuh jutaan bahkan milyaran tahun; sang jiwa perlu lahir, hidup, mati, lahir lagi, dan seterusnya, berkali-kali. Satu masa kehidupan manusia selama 60–70-an tahun, termasuk jangka pendek dibandingkan dengan proses evolusi jiwa. Dalam satu masa kehidupan, apa yang dipercayai seseorang dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya sebelum ini.

‘Gumpalan’ pikiran dan perasaan yang membungkus sang jiwa—termasuk keinginan, harapan, dan pemahaman tentang diri serta lingkungannya—menjadi bahan dasar di dalam kelahirannya saat ini. Kepercayaan seseorang selaras dengan sifat dasarnya masing-masing; ia adalah apa yang dipercayainya (BG 17.3). Sifat dasar alam tadi juga menentukan di dalam keluarga dan tradisi kepercayaan/agama seperti apa sang jiwa dilahirkan.

Secara umum, Hindu Dharma menggolongkan sifat dasar alam menjadi tiga, yang disebut Tri Guna, yang terdiri dari Sattva, Rajas, dan Tamas. Setiap orang memiliki racikan Guna yang khas, yang ditentukan oleh pengalaman sang jiwa dari masa-masa kehidupan yang lalu. Setiap anak terlahir unik; ia lahir bukan sebagai kertas kosong. Ketiga sifat ini adalah rantai yang ‘menjerat’ sang jiwa, atau tirai yang mengelabui pandangan kita.

Sifat-sifat ketiga Guna. Sumber: explorevedanta.com

Pada dasarnya, semua jiwa di dunia ini sedang tersesat. Ia lupa kesejatian dirinya yang sebenarnya adalah Brahman Yang Tidak Terbatas. Tat tvam asi, Itu-lah engkau, Itu-lah dirimu yang sejati. Semua jalan yang mengingatkan kita pada kesejatian ini, adalah jalan yang lurus/benar. Sedangkan jalan yang membuat kita lupa sehingga menganggap diri sebagai badan, pikiran, dan perasaan—yang terbuat dari materi-kebendaan dan memiliki tiga sifat itu—adalah jalan yang salah/sesat.

Oleh karena itu, Hindu Dharma hanya mengakui satu jalan yang benar. Walaupun demikian, cara yang ditempuh, model/maket yang digunakan untuk menyibak ‘tirai kebodohan’ tersebut bisa bermacam-macam, tidak tunggal. Bahkan, setiap orang akan menempuh jalan yang unik karena ia akan selalu berangkat dari racikan Tri Guna yang telah membentuk tubuh, pikiran, dan perasaannya.

BG 17.4 misalnya mencontohkan bahwa mereka yang dominan sifat Sattva-nya akan memiliki kepercayaan yang selaras dengan alam. Mereka akan menghormati dan menjaga alam di sekitarnya, misalnya dengan tidak mengorbankan nyawa binatang (atau manusia lain) untuk mencapai tujuannya. Sedangkan ia yang dominan sifat Rajas-nya akan menempuh cara apapun supaya keinginannya dikabulkan, termasuk menyakiti/menipu/menindas makhluk lain.

Mereka yang dominan sifat Tamas-nya, akan memercayai segala sesuatu secara membabi buta—termasuk kepercayaan-kepercayaan yang sudah usang dan tidak lagi relevan. Tri Guna juga akan memengaruhi jenis-jenis makanan yang disukai, cara beribadah, cara bederma dan beramal, teologi, dan sebagainya. Sattva lebih baik daripada Rajas. Rajas lebih baik daripada Tamas. Namun di atas itu semua, yang terbaik adalah Kesadaran Jiwa.

Orang-orang yang memiliki corak Guna yang mirip akan berkumpul dan membentuk Sraddha (kepercayaan, agama) masing-masing. Bahkan di dalam satu tradisi keagamaan yang sama bisa muncul puluhan bahkan ratusan sub-kelompok yang memiliki interpretasi, cara pandang, pola pikir, dan perilaku yang berbeda-beda. Lingkungan juga sangat berpengaruh, misalnya mereka yang hidup di daerah yang tandus akan menjadi lebih keras dan kaku bila dibandingkan dengan mereka yang hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi.

Berdasarkan sifat-sifat dasar kita itu pula lah kita ‘membentuk’, memproyeksikan Tuhan. Kita me-manusia-kan Tuhan mengikuti pengalaman kita: Tuhan itu pencipta sebagaimana seorang tukang kayu menciptakan kursi, Tuhan itu pemarah, Tuhan itu penuh kasih sayang, Tuhan membela tim sepak bola kesayangan kita, Tuhan itu mencintai kita dan membenci yang lain, Tuhan itu begini, Tuhan itu begitu. Tanpa kita sadari kita memberikan Tuhan bentuk: nama dan rupa sesuai dengan diri kita masing-masing.

Ada agama-agama yang jujur mengakuinya. Ada pula yang perlu menutup-nutupinya, supaya umatnya yang masih mudah ‘goyah’ punya pegangan yang pasti. Di dalam tradisi Hindu Dharma dikenal istilah ishta devata, yaitu umat Hindu dengan sengaja memilih nama dan rupa Tuhan yang paling cocok dengan perkembangan spiritualnya. Ia bisa memilih dari berbagai nama dan rupa yang ada sebagai dewa dan dewi, atau sekelompok dewa-dewi, atau ‘perwujudan’-Nya yang abstrak. Silakan saja.

Inilah alasan mengapa Hindu Dharma menjadi agama yang paling toleran, bahkan bisa mengapresiasi dan menghormati agama-agama lain. Perbedaan-perbedaan yang ada tidak dipandang sebagai sesuatu yang melekat dan menjadi identitas yang tidak bisa berubah. Semakin berkembang kesadaran seseorang, maka pikiran dan perasaannya pun akan ikut berubah. Dalam kelahirannya selanjutnya, jika seseorang mau memperbaiki diri, maka ia akan memiliki racikan Tri Guna yang lebih baik.

IMG-20140529-WA0004

Hindu Dharma memiliki tradisi penghormatan kepada para suci, resi, awatara, yaitu orang-orang yang telah mencapai tingkat kesadaran jiwa yang lebih tinggi. Kebenaran “dicapai” lewat penemuan pribadi, bukan semata iman yang buta.

Demikian seterusnya, sang jiwa berevolusi hingga ia menyadari kesejatian dan keilahian/kedewataan dirinya—yang pasti dicapai semua jiwa pada waktunya. Perubahan sejati harus berasal dari dalam diri, dan tidak bisa dipaksakan. Betul, bahwa tidak semua agama sama. Ada yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat kebendaan Tamas dan Rajas. Agama-agama dari kelompok ini cenderung mengedepankan iman yang kaku terhadap sesuatu/seseorang, Pokoknya percaya kepada si Anu, Kamu pasti selamat! Lakukan saja apa yang tertulis dalam kitab suci dan kumpulkan terus poin pahala.”

Sah-sah saja, bila memang yang dihadapi adalah umat yang masih Tamasik dan Rajasik. Mereka masih perlu iming-iming dan dilibatkan dalam permainan. Gamification dibutuhkan untuk membuat mereka melakukan kebaikan. Mereka masih belum hidup berkesadaran. Mereka yang sudah menyadari bahwa kebaikan adalah sesuatu yang mulia, mereka telah naik kelas dan masuk dalam kepercayaan yang bersifat Sattva. Kesadaran mereka sudah mulai berkembang.

Menyadari hal ini, bagaimana bisa umat Hindu Dharma mengatakan yang satu sesat, dan yang lain benar. Anak-anak TK belum bisa diajari tentang advance knowledge, seperti fisika kuantum. Mereka masih perlu banyak bermain-main. Ketika ia SD, barulah ia belajar A untuk Apel, B untuk Burung. Anak-anak di tingkat yang lebih tinggi sudah tidak memerlukan itu lagi. Lain di SMP, lain pula ketika ia SMA.

Saat menjadi mahasiswa, ia baru belajar mandiri. Ia mulai sadar bahwa bangun pagi baik untuk dirinya sendiri, tanpa perlu dipaksa atau diberi iming-iming ‘hadiah’. Bahasa kita tidak bisa sama menghadapi orang-orang yang berbeda tingkat kesadarannya. Demikian pula dengan agama dan kepercayaan yang ada, kita tidak bisa memaksa, menuntut perubahan yang radikal dalam jangka pendek.

Tapi tidak berarti bahwa kita cuek saja. Motivasi kita berbagi kesadaran hendaknya adalah kasih. Untuk itu, kita semua perlu membuka diri terhadap segala pemikiran/gagasan yang mulia. Bukan sembarang pemikiran/gagasan, tapi pemikiran/gagasan yang membuat kita bebas dari kepalsuan (ilusi kebendaan) dan cara pandang yang sempit (picik), serta pemikiran/gagasan yang mencerahkan.

Ā no bhadrāḥ kratavo yantu viśvato’dabdhāso aparītāsa udbhidaḥ (Rigveda 1.81.1a)

Semoga segala pemikiran/gagasan yang mulia datang dari segala penjuru kepada kita semua—bebas dari kepalsuan dan kepicikan, serta cemerlang.

Vivekananda 1

Sekian.

Mengapa Hoaks Susah Diberantas, dan Insight dari Yoga

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan kawan soal Pemilu yang akan datang, dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu pemilih mengambil keputusan yang tepat (lepas dari  bias). Ketersediaan informasi (yang benar) menjadi salah satu hal yang muncul dalam percakapan. Di dunia yang dipenuhi hoaks seperti sekarang ini, apakah itu cukup? Rasanya tidak.

Fakta atau informasi yang sudah tervalidasi sekalipun tidak akan bisa “menembus” pertahanan pikiran seseorang yang sudah terpaku pada suatu hal—se-salah apapun informasinya. Tentu saja akses terhadap informasi yang akurat masih dibutuhkan, utamanya bagi mereka yang masih belajar dan yang ada di wilayah abu-abu. Tapi, bagi mereka yang sudah condong pada sesuatu/seseorang, informasi yang datang akan tersaring; yang bisa masuk hanyalah yang mendukung kepercayaan yang sudah dipunyai. Fakta yang tidak mendukung akan dengan mudah dianggap salah atau sengaja menyesatkan.

Karena itu, hoaks pun laku bilamana ia memperkuat kepercayaan dan identitasnya. Hal ini tidak cuma terjadi di Amerika sana, tapi juga di sini. Setiap orang bisa jatuh di lubang yang sama: ternyata kita tidak selalu “rela” mengubah apa yang kita percaya ketika disuguhi fakta yang sebaliknya. Salah satu alasannya adalah “ongkos perubahan” yang mahal, dan murahnya “ongkos mempertahanakan sesuatu yang salah”. Apa konsekuensinya di dunia nyata percaya bahwa bumi ini datar? Hampir tidak ada.

Alasan lainnya adalah kerapnya media menempatkan mereka yang menghadirkan-fakta pada posisi yang SEJAJAR dengan mereka yang ingin menebar kebohongan (dan kebencian)—atas nama keadilan. Ketika pikiran kita masih mencari-cari sensasi dan hiburan, maka kita akan mudah tertarik dengan ide-ide yang kontroversial dan menggelembungkan ego (keunikan dan identitas-yang-salah) kita, seperti macam-macam teori konspirasi. Diskusi di TV dan media lainnya antara kedua pihak tadi seringkali sengaja dibuat mengambang, dan penonton yang pikirannya sudah tercabik-cabik dibiarkan begitu saja tanpa pencerahan.

Trus, apa solusi dari masalah yang sepertinya memang wired di dalam otak kita ini? — Video di bawah ini mengaku bahwa belum ada silver bullet-nya; untuk itu saya menoleh ke sumber lain: Yoga.

Permasalahan di atas bukan hal yang baru. Pikiran manusia dan bagaimana mencapai kejernihan/keseimbangan berpikir telah menjadi subyek penelitian selama ribuan tahun di Hindia, jauh sebelum sains barat mengembangkan psikologi. Salah satu teks Yoga yang penting, Yoga Sutra (YS), yang ditulis oleh Patañjali, mengatakan bahwa benih-benih pikiran-dan-perasaan punya dua kemungkinan berkembang: ia bisa jernih melihat kenyataan apa adanya, atau ia bisa juga menjadi keruh dan mengasosiasikan dirinya dengan kekeruhan itu (YS 1:3–4).

Fenomena hoaks di atas dijelaskan dengan sangat singkat di dalam YS 2:3, bahwa kekacauan dan penderitaan ini disebabkan (berturut-turut) oleh: avidyā (ketidaktahuan), asmitā (ke-aku-an), rāga (likes), dveṣa (dislikes), dan abhiniveśa (keinginan untuk mempertahankan suatu keadaan). Ongkos perubahan menjadi mahal karena kita menganggap bahwa “diriku adalah ide atau pendapat atau gagasan atau ajaran atau ideologi, dst.” (asmitā); sehingga konsekuensinya aku akan menyukasi sesuatu hal (rāga) dan membenci hal lainnya (dveṣa); kemudian aku akan berupaya mempertahankannya (abhiniveśa).

Semua itu berasal dari avidyā atau ketidaktahuan. Nah, di sini avidyā tidak sama dengan ketiadaan informasi (yang benar) dari luar. Avidyā lah yang membuat seseorang salah menganggap siapa dirinya; avidyā adalah akar dari asmitā dan penyebab kekacauan dan penderitaan yang disebutkan di atas. YS 2:5 menjelaskan bahwa avidyā adalah “bias” yang membuat kita salah memahami: yang kekal dan yang temporary, yang murni dan yang keruh, yang menghasilkan suka dan yang mendatangkan duka, serta jati diri dan identitas palsu.

Berita baiknya: solusinya ada, yaitu pada masing-masing individu. Berita buruknya: tidak ada solusi instan—dibutuhkan upaya intensif dan terus-menerus (abhyāsa), serta pelepasan diri dari keterikatan (vairāgya) lewat disiplin diri (YS 1:1,12). Lebih lanjut, Patañjali menjelaskan langkah-langkahnya. Hal ini penting tidak hanya supaya kita bisa memilih apapun/siapapun dengan tepat, tapi berlaku juga dalam semua segi kehidupan yang lain. Dan sebagaimana segala sesuatu yang sifatnya riil dan jangka panjang, solusi ini tidak berpura-pura menawarkan hasil kilat dan kunci jawaban pilhan ganda.

Kita tidak bisa menjamin produksi hoaks berhenti dengan ditangkapnya kelompok-kelompok seperti Saracen; mereka ada karena adanya permintaan, kebutuhan akan validisasi identitas diri. Kita tidak bisa terus-terusan menyuapi masyarakat “what to think”, tapi perlu juga mengajarkan “how to think” lewat disiplin diri. Pada suatu titik, informasi yang berlimpah malahan akan menjadi bumerang jika tidak disertai kebijaksanaan. Jika manusianya tidak berubah, sampai kapan kita bisa berharap pada keberuntungan setiap kali kita mengambil langkah dalam “gelap”?!

Kundalini (Video Transcript)

IMPORTANT: This is transcribed with the permission of Anand Ashram Foundation from their video clip on YouTube, purely for Non-Commercial Purpose and for this blog alone. Any further reproduction or translation in any manner and by anyone will be considered illegal and liable to legal prosecution.

Below are the transcriptions of the 3 part video series titled “Kundalini” from Swamiji Anand Krishna (2017). Please enjoy, and let me know if there is any mistake in the transcription. Ānandam.

[Video 1 – Kundalini: The Myths and The Facts]

First question: How to activate Kundalini? And what is the main purpose of it?

Second question: Can you recommend the safe way to open the third eye?

First of all Kundalini. Have you all heard of Kundalini?

There is a lot of nonsense going on. Most of the books in the west, which are being translated in the eastern languages, have nothing to do about Kundalini. It’s about making money. So… say, you have to create a monster. If you want to sell armaments, to sell weapons, you have to create a monster. You have to spread fear, make people fearful. And then let them buy arms, guns. If you are fearful, it is a matter of survival for you. Similarly, if I tell you that your Kundalini is blocked, and I have a way to open your Kundalini… to clear this blockage. If you believe in me… if I can convince you that your Kundalini is blocked, you will do anything. The thing is: what is Kundalini has not been explained.

The meaning of the word Kundalini in Sanskrit is related to your own potential. So Kundalini is not something like mystic.. or something mystic. Yes, if you want to interpret it that way. But, it is to do with your own potential. So, when I say ‘your potential’, your potential is your potential. My potential is my potential. Are you getting the point?

If your potential is unique your potential, and my potential is unique my potential, how can I write a book describing the same potential for everybody?! It is not possible. So first of all, you have to drop the books about Kundalini. Because books are not giving you any answer. Books are like… you know… is a blouse or a shirt that comes with a size. (When) your next size is 15 an a half, and if your are 15 and a quarter, you have to settle with 15 and a half. If you are 15 and three quarter, you are still have to settle with 15 and a half because no shirt available in 15 and a quarter, or 15 and a half. But, Kundalini is precise. Your potential is precise. My potential is precise. So it is something to do with practice, and nothing to do with books or bookish knowledge. It is your potential.

When people describe that your Kundalini arising, you feel this, you feel that; while you are meditating you feel this kind of energy, this kind of colors… a lot of description. But all these things are not meditation, first of all. When you are paying attention to what is happening during meditation session you are not in meditative state of mind. You are in a state of mindfulness, which is not meditation. When you are paying attention to all these phenomena: what is happening to me… this color, this energy, and this sensation, you are being mindful. You are not in the state of meditativeness. And Kundalini has got something to do with mediation, not with mindfulness.

The question is “how to activate Kundalini”. If your Kundalini is not activated, you won’t be sitting here. People whose Kundalini is totally not activated they are the happiest people, like Forrest Gump, or Mr. Bean—he have passed away, I think, recently. They can do harm to anybody, and they can get away with it because they are not sensitive. If you are even little sensitive, very little sensitive means that your Kundalini has been activated. If you are unhappy with your job, mark my words: if you are not happy with your relation, if you are not happy with your job, if you are disturbed with what is happening in this world, to this world, in our society… if what is happening in Macedonia, in Greek is bothering you although you are living thousands of miles away; if what is happening today in Norway, or Sweden, or Belgium, or Brazil… what is happening there… if somebody is being bombed in London, if you feel the pain, your Kundalini has been activated. As simple as that!

But, if you think “ah people are dying, but they are not my relation, they belong to different group, they are not me, they are not my people,” then your Kundalini is not activated at all. If you are even little sensitive, your Kundalini is little activated, which means that your awareness is not limited to your body alone. You are not thinking about your pleasure alone. You are not thinking about your safety alone. You are not thinking about your happiness alone. If so, your Kundalini is already activated. A lot of people here, you are come from different part of the world, and you are looking for something. Maybe at this point, you cannot pin point what are you looking for. Of course you all want to be happy, we are all want to be happy. But you may look for different means to be happy. I may look for different means to become happy. Maybe at this moment we are not very clear.. but the fact that you are looking for something, you are looking for higher purpose of life, you are looking for higher happiness, deeper peace, your potential as human being is already activated. Now, how to enhance it; there are no blockages. [End of video 1].

[Video 2 – How to Detect if Your Kundalini is Active?]

How to enhance it? Third eye is related to Kundalini path, when you are rising in your consciousness, the first thing that happens is… the very first thing that happens to you when you rise in your consciousness is you drop all kinds of meats. You realize at that very moment that those animals have the same life. This is the first realization. The first realization is you drop all kinds of meats, whatever your society tells you. “I am alright with this.”  (But) if you are still starving, looking for meat, and you are still eating corpses, dead bodies of animals, even your initial development is not there.

Forget it when someone tells you your this Chakra has opened, or that Chakra has opened. Nonsense! First is your diet. Because we share that diet with all living beings. Eating, drinking, sleeping, and sex all animals do this, we do the same thing. These are the lower consciousness. We can have this kind of human body and we can stay in the lower consciousness, for many lifetimes, life after life; not just one lifetime. We can stay in that lower consciousness just looking for food, some comfort, good life, feeling good… even Google knows this. So Google is exploiting you also… feeling good today, because Google knows that you want to feel good today.

Feeling good is something else; it is an emotional thing. But feeling truly happy is something else. It has got nothing to do with bodily comfort, good food, good relation, good house, good husband, good partner, good wife… no. It has got something to do with your Soul. So, if we are just looking for food, sex, and comfort, (we aren’t yet looking for true happiness, MH).

I was reading about a lady in the west, I think in America or Europe… She appeared on CNN. She is 80+, and she said with pride, “I have a boyfriend that is 40 years younger than me. And if you ask him, interview him, he is happy with me.” And at the end of the interview she said, “Thanks to Yoga. I have been doing Yoga for the last forty years and I can have a boyfriend who is 40 years younger than me.” So I tried to find information about this lady. She is filthy rich, very rich. Why 40 years, she can have two for 20 years. With that amount of money, everybody would like to be her boyfriend. No problem. It is nothing to do with Yoga. If your Yoga is for getting a boyfriend or a girlfriend, then it is not a Yoga.

Yoga is about inner beauty. One person who doesn’t even tell anybody he’s doing Yoga is Sean Connery, the James Bond fella. The more he grows, I think, in my opinion, he becomes more handsome. And he doesn’t tell anybody that he has been doing Yoga for the last fifty, or sixty years, or something… No. He doesn’t propagate, he doesn’t promote (Yoga), he doesn’t do anything. It is the inner peace that brings the beauty outside. And the third eye is something to do with your Wisdom, how to look at things from the Wisdom point of view.

So many things are happening. We are reading so many disturbing news. We are reading so many good news also. But we don’t have the wisdom as yet to see what is behind such news. What seems to be a good news may not be good news: A child is born in a very rich family. The child is given all kinds of comforts from the very early childhood. Looks good. But this child grows to become a very lazy person because everything is taken care of.

I had a very good friend 20 years older than me, now he is dead. But he was a very good friend. And he was a self-made men in Singapore. He used to have a very small store in Singapore in 1960s. My father knew him actually, he was younger than my father. He had a very small store in Singapore. And in 1970s-1980s when I came across him, when we became friends, he was already having 7 or 8 stores in Singapore, large stores, his own properties. I am talking about the time when there were no malls. People still had big stores, big shops. So this guy had 7 or 8 stores.

He had three sons. And this guy is making money and all his sons were losing money. So we were just talking one day over cocktails in the evening. And this old man asked me, “What is the problem? My father is a poor man. Their father is a rich man. I am providing everything for them. So they don’t care, they don’t value the money. Lost is lost, they don’t value it. But when I was working hard, my father didn’t have this kind of money. If I didn’t make money, I didn’t make money.”

So you can actually spoil your children, ruin their lives altogether by providing everything… which looks good, but it is not good. And have seen this phenomena: People who are self-made, when they have children, they tend to spoil their children because they are feeling guilty. “When we are young we don’t have all these comforts, all these facilities. So let’s provide these for my children.” But actually, they are spoiling their kids, ruining their lives. So, what looks good, may not be good. This is Wisdom. And this develops.

So, once again, Kundalini… what happens during meditation, forget that. What happens after meditation, that is important. So I was telling you: The first sign that you can recognize someone by… the food habit. Moderation. It is not extreme: not extremely sweet, not extremely sour, not extremely hot spices, not overcooked, not raw food. All these extremes show that we are still fighting with ourselves. Just be natural. Eat natural foods.

In Indonesia, until 1950s – 1960s when I was a kid, we had a very good diet. We didn’t eat so much meat. We ate chicken, yes once in a while. Fish, yes. And our vegetables are either sautéed or just loosely fried, not deeply fried. Or Gado-gado, just put the vegetables in a boiling pan, then take it out… you don’t boil the vegetables until they die. You put some sauce, then you eat that. And the food was very healthy, that was a very very good food according to Yogic principles. And nowadays, I was just reading—I was astonished, I was amazed—that an average Indonesians eat 6,000 chickens in his life. And this number is based on the junk food joints, like KFC, McD, and others.

And more than that: The major consumer of chicken—you’d be surprise—is “restoran padang” (The Padang Restaurants). They are the biggest consumer of meats, more than KFC and everything else. (So) 6,000 chickens you start eating from day one of your birth, if you are living (up to) 70 years. That means from day 1 of your birth, you are eating like 100 chickens every year. To eat 100 chicken means every third day you are eating 1 chicken. Make sense. When you go to KFC you buy this family pack, which is suppose to be for a family, sometimes only two of you eat.

So all these things. If you see what is happening in this world; the number of junk food joints, malls full of food courts, this shows that Kundalini has not worked as yet. Just look at the growing numbers of food courts. The Kundalini is not working as yet, because first of all is food. [End of video 2].

[Video 3 – Sex and the Opening of Chakras]

The second thing is moderation in comforts., that has not only something to do with sleep but also with comfort. If you can do with one car, don’t have two cars. Go back to your homes, especially we Indonesians, and open your cupboard, how many clothes are there that we don’t wear anymore. How many pairs of capals, of sandals, of shoes you have, bags you have that you don’t use anymore. How many people in your lives that are useless. [Laughs]

So, first of all food. Second, comfort. You are not really into a lot of comforts. This and that, I have been hearing. You can do with one computer, (but) you also have iPad, you have iPhone. And all these things are giving you the same service. There are no difference. And then about sex. If at the age of 80—this woman is still looking for a 40 years old boyfriend—she has not done Yoga. Because if you are doing Yoga, what happens when your Kundalini is activated, our energy now, commonly, all of us, uniformly, our energy is stored around our navel. About two inches below the navel, between your navel and your sex organ there is the store house of energy. Whenever there is excessive energy, it goes there. That’s the storage.

Now, there energy there is in the form of liquid. So, when there is so much energy there, the nature of liquid is always going downward. So if there is so much energy there, there is a natural urge for sex whether you are man, woman, anybody. There is a natural urge for sex there because there is excessive amount of energy there and you have to let i go. But if you are doing Yoga, and you are doing Yoga as a lifestyle, not just head down and feet up, your energy is changing. It is heated up. It becomes steam. It evaporates. Then what happens?

When the steam goes up, you become creative. So creativity is the third sign. If your Kundalini is working, is enhanced you become very creative. There are a lot of people who work very hard, but they are not creative and they cannot make money. They are not successful, simply because they are not creative. They are hard workers. So creativity, and food habit, and lifestyles that are not excessive that is the sign that your Kundalini is opening.

And the fourth sign is, that you love. If you are loving your husband, your wife, your partner, your children, the fourth Chakra is not functioning as yet. If your love is directed to some people, “I love this person unconditionally,”—you cannot love someone unconditionally, that is already a condition. When I say, “I love you unconditionally,” that means I don’t love others unconditionally. That is already a condition. I “only” love you unconditionally. When you start loving, you become loving… whether it is you partner, your husband, or your children, or somebody else’s children you have the same feeling.

If someone is dying in London, you feel the pain. Someone is dying in the Middle East, you feel the pain. Someone is being killed, someone is being harmed… an animal is being killed, you feel the pain. That is when your forth Chakra is opening. You cannot see animals being slaughtered, to be consumed by human beings. Your forth Chakra has not open. You can say, you can bully yourselves that my Kundalini is open, I love everybody unconditionally, but, what about animals?

And fifth Chakra, what you speak truthful. Sometimes truth is also bitter, but yet you are not compromised with it. Wisdom—what I was just discussing earlier—(is the sixth Chakra, MH). And then the seventh Chakra, the enlightenment is a process. I have been repeating this over and over, if someone says that “I am enlightened already” (full stop), that means the progress has stopped. Enlightenment is a process, an ongoing process. It never stops. From lower enlightenment you become higher and higher, it’s working all the time. You cannot say “I am enlightened already.”

So Kundalini is an ongoing process from lesser truth to higher truth, from lesser love to higher love, from lesser wisdom to higher wisdom. But you have to start with somebody, you have to start with something, you have to start with someone. You have to start with some kind of step. And so we have summarized this step in our motto, that is “Inner Peace”, become at peace with yourselves first. “Communal Love”, love the people around you first. It is very difficult to love the people around you. It is very difficult to love your neighbour. That’s why Jesus was very tricky when he said “Love your neighour.”  Because when your neighbour is farting you can hear it, you can smell it. It is very easy to love somebody in the United States, in Europe, anywhere… in Siberia. But when your neighbour is parking his car in front of your door, that’s a challenge. How can you love this neighbour?

He knows he is not suppose to park his car in front of your gate, and yet he keeps doing that. How to love your neighour, that’s the challenge. How to love your bed neighbour, your roommate? When you are in love everything is so rosy. But once you start living together, then you know, not all is rosy, there is thorn also. You know there is a joke, I have been saying this over and over: In my mother tongue, in Sindhi that is, there is a saying, “When you are in love it is the woman who talks and the man who listens. After you get married, it is the man who talks and the woman who listens.” I am talking about Asian (couple), maybe not relevant for westerners. But the third part is relevant, maybe not so much of the second part.

The second part is, “after you get married, it is the man who is speaking, talking and the woman has to listen.” Today the rice is not properly cooked. Because in the east when you get married, whatever people say, when you get married you take it for granted that the woman does all the jobs at home. So, the rice is not properly cooked, it’s not salty, less salty, more salty, all kind of things. “One year after marriage, both of them are speaking and the neighbours are listening.” This shows that we are very far from being wise, from being enlightened. BUT, the process is on. Now it depends on you—it is said in the Yoga Sutra—it is depends on you, how fast you are to walk, or how slow you are to walk. [End of video 3].