Mengapa Hoaks Susah Diberantas, dan Insight dari Yoga

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan kawan soal Pemilu yang akan datang, dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu pemilih mengambil keputusan yang tepat (lepas dari  bias). Ketersediaan informasi (yang benar) menjadi salah satu hal yang muncul dalam percakapan. Di dunia yang dipenuhi hoaks seperti sekarang ini, apakah itu cukup? Rasanya tidak.

Fakta atau informasi yang sudah tervalidasi sekalipun tidak akan bisa “menembus” pertahanan pikiran seseorang yang sudah terpaku pada suatu hal—se-salah apapun informasinya. Tentu saja akses terhadap informasi yang akurat masih dibutuhkan, utamanya bagi mereka yang masih belajar dan yang ada di wilayah abu-abu. Tapi, bagi mereka yang sudah condong pada sesuatu/seseorang, informasi yang datang akan tersaring; yang bisa masuk hanyalah yang mendukung kepercayaan yang sudah dipunyai. Fakta yang tidak mendukung akan dengan mudah dianggap salah atau sengaja menyesatkan.

Karena itu, hoaks pun laku bilamana ia memperkuat kepercayaan dan identitasnya. Hal ini tidak cuma terjadi di Amerika sana, tapi juga di sini. Setiap orang bisa jatuh di lubang yang sama: ternyata kita tidak selalu “rela” mengubah apa yang kita percaya ketika disuguhi fakta yang sebaliknya. Salah satu alasannya adalah “ongkos perubahan” yang mahal, dan murahnya “ongkos mempertahanakan sesuatu yang salah”. Apa konsekuensinya di dunia nyata percaya bahwa bumi ini datar? Hampir tidak ada.

Alasan lainnya adalah kerapnya media menempatkan mereka yang menghadirkan-fakta pada posisi yang SEJAJAR dengan mereka yang ingin menebar kebohongan (dan kebencian)—atas nama keadilan. Ketika pikiran kita masih mencari-cari sensasi dan hiburan, maka kita akan mudah tertarik dengan ide-ide yang kontroversial dan menggelembungkan ego (keunikan dan identitas-yang-salah) kita, seperti macam-macam teori konspirasi. Diskusi di TV dan media lainnya antara kedua pihak tadi seringkali sengaja dibuat mengambang, dan penonton yang pikirannya sudah tercabik-cabik dibiarkan begitu saja tanpa pencerahan.

Trus, apa solusi dari masalah yang sepertinya memang wired di dalam otak kita ini? — Video di bawah ini mengaku bahwa belum ada silver bullet-nya; untuk itu saya menoleh ke sumber lain: Yoga.

Permasalahan di atas bukan hal yang baru. Pikiran manusia dan bagaimana mencapai kejernihan/keseimbangan berpikir telah menjadi subyek penelitian selama ribuan tahun di Hindia, jauh sebelum sains barat mengembangkan psikologi. Salah satu teks Yoga yang penting, Yoga Sutra (YS), yang ditulis oleh Patañjali, mengatakan bahwa benih-benih pikiran-dan-perasaan punya dua kemungkinan berkembang: ia bisa jernih melihat kenyataan apa adanya, atau ia bisa juga menjadi keruh dan mengasosiasikan dirinya dengan kekeruhan itu (YS 1:3–4).

Fenomena hoaks di atas dijelaskan dengan sangat singkat di dalam YS 2:3, bahwa kekacauan dan penderitaan ini disebabkan (berturut-turut) oleh: avidyā (ketidaktahuan), asmitā (ke-aku-an), rāga (likes), dveṣa (dislikes), dan abhiniveśa (keinginan untuk mempertahankan suatu keadaan). Ongkos perubahan menjadi mahal karena kita menganggap bahwa “diriku adalah ide atau pendapat atau gagasan atau ajaran atau ideologi, dst.” (asmitā); sehingga konsekuensinya aku akan menyukasi sesuatu hal (rāga) dan membenci hal lainnya (dveṣa); kemudian aku akan berupaya mempertahankannya (abhiniveśa).

Semua itu berasal dari avidyā atau ketidaktahuan. Nah, di sini avidyā tidak sama dengan ketiadaan informasi (yang benar) dari luar. Avidyā lah yang membuat seseorang salah menganggap siapa dirinya; avidyā adalah akar dari asmitā dan penyebab kekacauan dan penderitaan yang disebutkan di atas. YS 2:5 menjelaskan bahwa avidyā adalah “bias” yang membuat kita salah memahami: yang kekal dan yang temporary, yang murni dan yang keruh, yang menghasilkan suka dan yang mendatangkan duka, serta jati diri dan identitas palsu.

Berita baiknya: solusinya ada, yaitu pada masing-masing individu. Berita buruknya: tidak ada solusi instan—dibutuhkan upaya intensif dan terus-menerus (abhyāsa), serta pelepasan diri dari keterikatan (vairāgya) lewat disiplin diri (YS 1:1,12). Lebih lanjut, Patañjali menjelaskan langkah-langkahnya. Hal ini penting tidak hanya supaya kita bisa memilih apapun/siapapun dengan tepat, tapi berlaku juga dalam semua segi kehidupan yang lain. Dan sebagaimana segala sesuatu yang sifatnya riil dan jangka panjang, solusi ini tidak berpura-pura menawarkan hasil kilat dan kunci jawaban pilhan ganda.

Kita tidak bisa menjamin produksi hoaks berhenti dengan ditangkapnya kelompok-kelompok seperti Saracen; mereka ada karena adanya permintaan, kebutuhan akan validisasi identitas diri. Kita tidak bisa terus-terusan menyuapi masyarakat “what to think”, tapi perlu juga mengajarkan “how to think” lewat disiplin diri. Pada suatu titik, informasi yang berlimpah malahan akan menjadi bumerang jika tidak disertai kebijaksanaan. Jika manusianya tidak berubah, sampai kapan kita bisa berharap pada keberuntungan setiap kali kita mengambil langkah dalam “gelap”?!

Kafir adalah Sahabat

Beberapa orang di internet membuat posting/meme sebagai pembenaran bahwa di semua kepercayaan selalu ada istilah bagi orang yang tidak se-kepercayaan; bahwa sah-sah saja calling people names. And if it hurts you, too bad.. bukan salah saya. Semua ada di kitab suci, kok Bro!

Mereka berdalih bahwa ada kok padanan kata kafir di dalam tradisi keagamaan yang lain. Lucunya, mereka kurang riset dan entah diambil dari mana kata-kata yang mereka klaim itu. Dia bilang, kafir = maitrah (dlm tradisi Hindu), = abrahmacariyavasa (dlm tradisi Buddha), = domba yang tersesat (dlm tradisi Kristen). Biasanya saya malas komen yang begini, tapi ternyata posting ini sudah merambat luas. Kejadian ini menunjukkan bahwa toleransi saja TIDAK CUKUP, kita semua perlu saling mengenal, saling mengarifi supaya tidak mudah ditipu!

Dari kecil saya tertarik dengan semua tradisi keagamaan. Orang tua saya berasal dari 2 tradisi keagamaan berbeda: Hindu dan Islam. Kawan-kawan dekat saya banyak yang Kristen dan Buddhis. Saya suka sekali membaca buku-buku keagamaan dari semua tradisi. Saya paham bahwa kata kafir yang belakangan sering dilemparkan kepada mereka yang non-muslim telah mengalami reduksi makna yang luar biasa. Kata ini belakangan menjadi semacam batu yang dipakai ‘nimpuk’ orang lain. And it’s not nice!

Ironi dari posting/meme itu adalah menyebut maitrah sebagai padanan kata kafir bagi umat Hindu. And, do you know what maitraḥ actually means? Persahabatan! Ya, seorang Hindu—mereka yang menjadi bagian dari peradaban Sindhu, Hindia, termasuk leluhur kita semua di Sindho/Hindo-nesia ini—menganggap mereka yang berbeda dan tak seagama sebagai SAHABAT, mitra (मित्र), dan kata turunannya, maitra (मैत्र) berarti sikap bersahabat. Bahkan bukan hanya itu, “semua makhluk adalah saudara.” Dan seorang saudara tidak melempar batu kepada yang lain dan saling menyakiti!

Saya anjurkan kepada pembuat posting tadi untuk menggunakan kata nāstika (नास्तिक) sebagai padanan kata untuk ‘mereka yang tidak percaya kepada otoritas Veda’—sesuai dengan Kamus Sanskrit Apte. Mungkin itu yang paling dekat dengan istilah kafir yang telah tereduksi tadi. Tapi tetap tidak sama! Karena di dalam tradisi Hindu, baik astika (mereka yang percaya pada otoritas Veda) dan nāstika, KEDUA-DUANYA diakui, dipeluk ke dalam rengkuhan Hindu-isme. Kedua-duanya sah sebagai jalan para seeker of Truth, sādhaka, pada pencari Kebenaran (bukan pembenaran).