Mengapa Hoaks Susah Diberantas, dan Insight dari Yoga

Beberapa hari lalu saya ngobrol dengan kawan soal Pemilu yang akan datang, dan apa yang bisa dilakukan untuk membantu pemilih mengambil keputusan yang tepat (lepas dari  bias). Ketersediaan informasi (yang benar) menjadi salah satu hal yang muncul dalam percakapan. Di dunia yang dipenuhi hoaks seperti sekarang ini, apakah itu cukup? Rasanya tidak.

Fakta atau informasi yang sudah tervalidasi sekalipun tidak akan bisa “menembus” pertahanan pikiran seseorang yang sudah terpaku pada suatu hal—se-salah apapun informasinya. Tentu saja akses terhadap informasi yang akurat masih dibutuhkan, utamanya bagi mereka yang masih belajar dan yang ada di wilayah abu-abu. Tapi, bagi mereka yang sudah condong pada sesuatu/seseorang, informasi yang datang akan tersaring; yang bisa masuk hanyalah yang mendukung kepercayaan yang sudah dipunyai. Fakta yang tidak mendukung akan dengan mudah dianggap salah atau sengaja menyesatkan.

Karena itu, hoaks pun laku bilamana ia memperkuat kepercayaan dan identitasnya. Hal ini tidak cuma terjadi di Amerika sana, tapi juga di sini. Setiap orang bisa jatuh di lubang yang sama: ternyata kita tidak selalu “rela” mengubah apa yang kita percaya ketika disuguhi fakta yang sebaliknya. Salah satu alasannya adalah “ongkos perubahan” yang mahal, dan murahnya “ongkos mempertahanakan sesuatu yang salah”. Apa konsekuensinya di dunia nyata percaya bahwa bumi ini datar? Hampir tidak ada.

Alasan lainnya adalah kerapnya media menempatkan mereka yang menghadirkan-fakta pada posisi yang SEJAJAR dengan mereka yang ingin menebar kebohongan (dan kebencian)—atas nama keadilan. Ketika pikiran kita masih mencari-cari sensasi dan hiburan, maka kita akan mudah tertarik dengan ide-ide yang kontroversial dan menggelembungkan ego (keunikan dan identitas-yang-salah) kita, seperti macam-macam teori konspirasi. Diskusi di TV dan media lainnya antara kedua pihak tadi seringkali sengaja dibuat mengambang, dan penonton yang pikirannya sudah tercabik-cabik dibiarkan begitu saja tanpa pencerahan.

Trus, apa solusi dari masalah yang sepertinya memang wired di dalam otak kita ini? — Video di bawah ini mengaku bahwa belum ada silver bullet-nya; untuk itu saya menoleh ke sumber lain: Yoga.

Permasalahan di atas bukan hal yang baru. Pikiran manusia dan bagaimana mencapai kejernihan/keseimbangan berpikir telah menjadi subyek penelitian selama ribuan tahun di Hindia, jauh sebelum sains barat mengembangkan psikologi. Salah satu teks Yoga yang penting, Yoga Sutra (YS), yang ditulis oleh Patañjali, mengatakan bahwa benih-benih pikiran-dan-perasaan punya dua kemungkinan berkembang: ia bisa jernih melihat kenyataan apa adanya, atau ia bisa juga menjadi keruh dan mengasosiasikan dirinya dengan kekeruhan itu (YS 1:3–4).

Fenomena hoaks di atas dijelaskan dengan sangat singkat di dalam YS 2:3, bahwa kekacauan dan penderitaan ini disebabkan (berturut-turut) oleh: avidyā (ketidaktahuan), asmitā (ke-aku-an), rāga (likes), dveṣa (dislikes), dan abhiniveśa (keinginan untuk mempertahankan suatu keadaan). Ongkos perubahan menjadi mahal karena kita menganggap bahwa “diriku adalah ide atau pendapat atau gagasan atau ajaran atau ideologi, dst.” (asmitā); sehingga konsekuensinya aku akan menyukasi sesuatu hal (rāga) dan membenci hal lainnya (dveṣa); kemudian aku akan berupaya mempertahankannya (abhiniveśa).

Semua itu berasal dari avidyā atau ketidaktahuan. Nah, di sini avidyā tidak sama dengan ketiadaan informasi (yang benar) dari luar. Avidyā lah yang membuat seseorang salah menganggap siapa dirinya; avidyā adalah akar dari asmitā dan penyebab kekacauan dan penderitaan yang disebutkan di atas. YS 2:5 menjelaskan bahwa avidyā adalah “bias” yang membuat kita salah memahami: yang kekal dan yang temporary, yang murni dan yang keruh, yang menghasilkan suka dan yang mendatangkan duka, serta jati diri dan identitas palsu.

Berita baiknya: solusinya ada, yaitu pada masing-masing individu. Berita buruknya: tidak ada solusi instan—dibutuhkan upaya intensif dan terus-menerus (abhyāsa), serta pelepasan diri dari keterikatan (vairāgya) lewat disiplin diri (YS 1:1,12). Lebih lanjut, Patañjali menjelaskan langkah-langkahnya. Hal ini penting tidak hanya supaya kita bisa memilih apapun/siapapun dengan tepat, tapi berlaku juga dalam semua segi kehidupan yang lain. Dan sebagaimana segala sesuatu yang sifatnya riil dan jangka panjang, solusi ini tidak berpura-pura menawarkan hasil kilat dan kunci jawaban pilhan ganda.

Kita tidak bisa menjamin produksi hoaks berhenti dengan ditangkapnya kelompok-kelompok seperti Saracen; mereka ada karena adanya permintaan, kebutuhan akan validisasi identitas diri. Kita tidak bisa terus-terusan menyuapi masyarakat “what to think”, tapi perlu juga mengajarkan “how to think” lewat disiplin diri. Pada suatu titik, informasi yang berlimpah malahan akan menjadi bumerang jika tidak disertai kebijaksanaan. Jika manusianya tidak berubah, sampai kapan kita bisa berharap pada keberuntungan setiap kali kita mengambil langkah dalam “gelap”?!

Memahami Reinkarnasi

Mungkin Anda pernah bertanya-tanya mengapa Anda di lahirkan di dalam keluarga ini? Mengapa ada yang dilahirkan dengan anggota badan yang tidak sesempurna yang lain? Mengapa Anda menyukai sesuatu hal dan membenci hal lain? Mengapa Anda merasakan dorongan emosi yang kuat terhadap seseorang atau terhadap sesuatu (benda, barang, keadaan, dsb.)? Kadang, walaupun baru pertama kali bertemu, Anda sudah muncul perasaan yang kuat terhadap seseorang—entah itu suka atau benci. Bukankah sekarang telah diterima luas, bahwa anak-anak lahir bukan seperti selembar kertas putih-polos, tapi mereka terlahir dengan corak dan kekhasan yang unik? Dari mana asalnya?

***

Bicara tentang reinkarnasi kita memasuki wilayah “percaya tidak percaya”. Bagi yang percaya, reinkarnasi adalah kenyataan sebagaimana makhluk hidup bernafas, atau matahari yang terbit dari ufuk timur setiap pagi. Bagi yang tidak, mereka akan menganggapnya sebagai celotehan yang tidak berdasar (baca: tidak sesuai dengan iman di dalam kitab suci mereka). Ada juga orang-orang yang di tengah-tengah: antara percaya dan tidak. Mereka ini mungkin merasakan sendiri dari pengalaman hidup mereka seperti di atas, namun terbentur sekat-sekat yang dibuat masyarakat.

Bagi seorang Hindu seperti saya, reinkarnasi diajarkan di sekolah namun hanya sekedar sebagai hapalan. Tidak lebih dari itu. Konsekuensinya tidak lebih dari sebatas spekulasi dan guyon: “eh, jangan-jangan saya dulu begini atau begitu”; pemahaman tentang reinkarnasi belum menjadi suatu hal yang dapat mentransformasi diri. Sebabnya adalah tidak tersedianya secara luas lembaga-lembaga spiritual (padepokan-padepokan atau ashram) yang memahami seni meditasi dan berbagai pengetahuan spiritual lainnya yang bersumber dari ajaran Veda. Pendidikan agama pada masa sekarang masih bertumpu pada cara pendidikan sekuler ala barat di sekolah-sekolah formal.

Sebagaimana proses-proses alami yang tidak memerlukan iman dan kepercayaan manusia untuk terjadi, demikian pula proses reinkarnasi—setidaknya bagi mereka yang percaya. Anda tidak perlu mendeklarasikan diri percaya kepadanya sebelum proses tersebut bisa Anda alami. Ia tidak sama dengan kepercayaan tertentu yang hanya membolehkan seseorang masuk ke dalam surga jika ia percaya surga itu ada—akibatnya dia harus masuk lewat pintu lainnya menuju neraka. Sucks, hey! Reinkarnasi terjadi begitu saja terlepas dari apapun agama yang Anda anut atau seberapa pun derajat keimanan Anda pada proses ini, sebagaimana matahari tidak butuh ijin kita untuk terbit dan terbenam setiap hari.

Walaupun demikian, menyadari proses reinkarnasi akan sangat membantu perjalanan spiritual Anda saat ini dan nanti. Saya menebalkan bagian “perjalanan spiritual” karena tidak semua orang mengambil jalan ini, dan tidak ada paksaan juga, kok. Bagi yang masih senang bermain-main di TK Dunia ini, ya memang tidak “perlu” memahami proses reinkarnasi. Mereka hanya perlu menjalani peran mereka masing-masing dengan baik: lahir, dewasa, bekerja, berkeluarga, menua, lalu meninggalkan dunia untuk kembali lagi bermain-main dengan orang-orang yang sama, kadang di bagian bumi yang ini, kadang di bagian bumi yang lain. Bagi mereka, sudah cukup pelajaran menjadi warga dunia yang baik; fokus saja pada satu masa kehidupan, yaitu yang sekarang berdasarkan hukum-hukum keagamaan yang ada yang berbasis reward and punishment. Inilah yang disebut sebagai Pravṛtti Marga. Sampai suatu ketika proses ini makin menjenuhkan, dan mereka pun siap “naik kelas” dan mulai menapaki Nivṛtti Marga, jalan spiritual.

Karena memperhatikan kebutuhan audiens yang dihadapi, pemahaman tentang reinkarnasi tidak selalu muncul dalam semua tradisi keagamaan. Kadang hanya di dalam inner circle tertentu saja hal ini dibicarakan, sedangkan untuk khalayak luas reinkarnasi tidak dibahas. Toh, jika memang sudah waktunya mereka yang sudah siap akan mencarinya sendiri. Di antara beberapa tradisi keagamaan yang membahasnya, tradisi Vedik yang berkembang di wilayah Peradaban Sindhu/Indus/Indo/Hindu/Hindia (yang mana Indo-nesia adalah bagian darinya) mungkin yang paling lengkap mengulas soal reinkarnasi. Mau tidak mau, untuk menjelaskan proses ini, saya harus mengutip sumber-sumber langsung dari tradisi ini.

Untuk memahami tentang reinkarnasi kita harus memahami dulu siapa diri kita. Diri kita, self, atau ātman di dalam bhs. Sansekerta secara sederhana dapat dikatakan terdiri dari dua bagian: (1) diri yang tidak berubah, tetap, dan (2) diri yang berubah-ubah. Untuk lebih mudahnya, diri yang tidak berubah ini disebut jīvātman (Sans. jīva ātman; jīva atau jiwa berasal dari akar kata jī atau jīv yang berarti (selalu) hidup, menang). Sedangkan diri yang ke dua—yang bisa berubah-ubah—tersusun dari gumpalan atau gugusan pikiran, perasaan, emosi, pengalaman-pengalaman hidup, harapan, keinginan, ingatan, imajinasi, suka dan duka, dst. yang disebut manas, atau mind.

Sesungguhnya, jīvātman inilah yang disebut sebagai diri yang sejati. Yang menarik, jīvātman-ku dan jīvātman-mu adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ātman yang lebih tinggi/besar lagi, yang disebut Puruṣa, yang juga hanyalah bagian dari Parama-Ātman. Swami Anand Krishna di dalam bukunya, Soul Awarenss (2016), secara apik mengumpamakan Paramātman, puruṣa, dan jīvātman seperti matahari, cahaya matahari yang menerangi satu kampung, dan cahaya matahari di dalam satu rumah. Ketiganya sebenarnya satu dan tidak terpisahkan. Walaupun demikian, “identitas” ini terpendam dan terlupakan oleh kita. Kita lebih sering mengasosiasikan diri dengan yang ke-2, dengan manas dan tubuh fisik—yang “membungkus” manas—saja.

Identifikasi diri yang salah ini lah (sebagai manas yang terus berubah) yang menyebabkan jīvātman “lahir” lagi dan lagi. Manas—menurut Veda—masih dipandang sebagai bagian dari alam kebendaan (sebagaimana tubuh kita), walaupun lebih halus dan tak kasat mata. Karena masih berupa kebendaan, baik tubuh maupun manas mengalami evolusi. Manas yang lebih “advance” akan berusaha mencari badan yang sesuai—atau istilah kininya: kompatibel. Bila antara software dan hardware ini tidak sesuai, maka berbagai persoalan dapat muncul, dan sistem-nya dapat dengan cepat mengalami crash.

The soul, endowed with life-breath and fast-speed goes out and the dead body is left behind in the house. The immortal soul, hitherto living in the mortal body, keeps on moving from life to life by it’s own nature. (30)

He who was brought to life in body does not know of it. He who sees it, is (now) concealed from it. It is hemmed in the womb of the mother, is subjected to many births and finally merges into the eternity. (32)

—Rig Veda 1.164.30 dan 32.

One, who is the first (life) does actions unto dharma or righteous dictates, on that account he obtains good bodies in the (subsequent) life. That soul, after leaving the first, enters into the (next) yoni or womb. There, having been blessed with true divine speech, he enjoys.

—Atharva Veda 5.1.2. 

(diterjemahkan oleh Swami Satya Prakash Saraswati dan Satyakam Vidyalankar, 2011, DAV Publication).

Kalau demikian, mengapa kita tidak ingat kehidupan-kehidupan kita yang lalu? Well, jangankan kehidupan kita puluhan atau ratusan tahun yang lalu, lha wong apa yang kita lakukan 10 menit, 10 jam, atau 10 tahun yang lalu saja kita tidak ingat persis. Semuanya tergantung dari seberapa kuat pengalaman-pengalaman tersebut membekas, seberapa dalam ia tertimbun di bawah berbagai “sampah manas” yang kita kumpulkan setiap saat, dan lama waktu yang kita lewati di antara kematian dan kelahiran kembali.

Dalam hal ini, lama atau cepatnya proses kelahiran kembali salah satunya dipengaruhi oleh pelepasan manas dari tubuh lamanya. Selama tubuh masih ada dan belum sepenuhnya habis terurai, jiwa yang manas-nya menanggung “beban” keinginan, harapan, dsb. masih bisa mondar-mandir, atau merasakan surga yang penuh kebahagiaan atau neraka yang penuh penderitaan, kemudian kembali lagi. Biasanya jiwa yang cepat meninggalkan tubuh lamanya karena telah dikremasi akan lebih cepat melanjutkan “perjalanannnya”, sehingga apabila ia menemukan “wadah” baru, bekas-bekas dari kehidupan sebelumnya masih relatif lebih jelas tersisa.

Mereka yang tubuh fisiknya lebih cepat hancur (misalnya dikremasi) akan memiliki keuntungan; ditambah apabila ia lahir di dalam lingkungan yang memahami seluk-beluk reinkarnasi dan memiliki tradisi spiritual yang kuat, jiwa-jiwa tersebut akan lebih mudah mengingat apa yang masih belum tuntas, termasuk kelemahan dan kekuatan apa saja yang diperolehnya sepanjang perjalanan jiwanya. Ia, maupun orangtua, dan lingkungannya pun bisa mendesain proses perkembangan jiwanya secara unik. Demikian, proses perkembangan jiwa dapat berlangsung lebih cepat hingga pada suatu ketika identitas sejati sang jiwa teringat kembali dan ia pun mencapai kebebasan sejati atau mokṣa.

Bagi yang lahir, kematian adalah keniscayaan; bagi yang mati, kelahiran adalah keniscayaan. Sebab itu janganlah bersedih hati, menangisi sesuatu yang sudah pasti terjadi. (27)

Wahai Bhārata (Arjuna) makhluk-makhluk hidup semua berawal dari yang tidak nyata, tidak berwujud; dan berakhir pula dalam ketidaknyataan, tidak berwujud lagi. Hanyalah di masa pertengahan mereka menjadi nyata, berwujud. Sebab itu, apa yang mesti disesali? (28)

Ada yang terpesona oleh keajaiban Jiwa sebagaimana dipahaminya; ada yang mengetahui keajaiban Jiwa; ada yang mendengar dan terheran-heran. Kendati demikian, setelah mendengar tentangnya, ia tetap saja tidak memahaminya. (29)

Dia—Jiwa yang menghidupi badan sekian makhluk adalah Tak Termusnakan untuk selamanya. Sebab itu wahai Bhārata kau tidak perlu berduka untuk siapa pun juga. (30)

(Dengan menyadari hakikat dirimu sebagai Jiwa), dengan menyadari tugasmu, kewajibanmu sebagai seorang kesatria, janganlah engkau gentar menghadapi pertempuran, tantangan di depan mata. Sungguh bagi seorang kesatria tiadalah sesuatu yang lebih mulia daripada pertempuran demi penegakan kebajikan dan keadilan. (31)

—Bhagavad Gita Bab 2. (diterjemahkan oleh Swami Anand Krishna di dalam “Bhagavad Gita bagi Orang Modern”, 2017, Gramedia Pustaka Utama).

Kundalini (Video Transcript)

IMPORTANT: This is transcribed with the permission of Anand Ashram Foundation from their video clip on YouTube, purely for Non-Commercial Purpose and for this blog alone. Any further reproduction or translation in any manner and by anyone will be considered illegal and liable to legal prosecution.

Below are the transcriptions of the 3 part video series titled “Kundalini” from Swamiji Anand Krishna (2017). Please enjoy, and let me know if there is any mistake in the transcription. Ānandam.

[Video 1 – Kundalini: The Myths and The Facts]

First question: How to activate Kundalini? And what is the main purpose of it?

Second question: Can you recommend the safe way to open the third eye?

First of all Kundalini. Have you all heard of Kundalini?

There is a lot of nonsense going on. Most of the books in the west, which are being translated in the eastern languages, have nothing to do about Kundalini. It’s about making money. So… say, you have to create a monster. If you want to sell armaments, to sell weapons, you have to create a monster. You have to spread fear, make people fearful. And then let them buy arms, guns. If you are fearful, it is a matter of survival for you. Similarly, if I tell you that your Kundalini is blocked, and I have a way to open your Kundalini… to clear this blockage. If you believe in me… if I can convince you that your Kundalini is blocked, you will do anything. The thing is: what is Kundalini has not been explained.

The meaning of the word Kundalini in Sanskrit is related to your own potential. So Kundalini is not something like mystic.. or something mystic. Yes, if you want to interpret it that way. But, it is to do with your own potential. So, when I say ‘your potential’, your potential is your potential. My potential is my potential. Are you getting the point?

If your potential is unique your potential, and my potential is unique my potential, how can I write a book describing the same potential for everybody?! It is not possible. So first of all, you have to drop the books about Kundalini. Because books are not giving you any answer. Books are like… you know… is a blouse or a shirt that comes with a size. (When) your next size is 15 an a half, and if your are 15 and a quarter, you have to settle with 15 and a half. If you are 15 and three quarter, you are still have to settle with 15 and a half because no shirt available in 15 and a quarter, or 15 and a half. But, Kundalini is precise. Your potential is precise. My potential is precise. So it is something to do with practice, and nothing to do with books or bookish knowledge. It is your potential.

When people describe that your Kundalini arising, you feel this, you feel that; while you are meditating you feel this kind of energy, this kind of colors… a lot of description. But all these things are not meditation, first of all. When you are paying attention to what is happening during meditation session you are not in meditative state of mind. You are in a state of mindfulness, which is not meditation. When you are paying attention to all these phenomena: what is happening to me… this color, this energy, and this sensation, you are being mindful. You are not in the state of meditativeness. And Kundalini has got something to do with mediation, not with mindfulness.

The question is “how to activate Kundalini”. If your Kundalini is not activated, you won’t be sitting here. People whose Kundalini is totally not activated they are the happiest people, like Forrest Gump, or Mr. Bean—he have passed away, I think, recently. They can do harm to anybody, and they can get away with it because they are not sensitive. If you are even little sensitive, very little sensitive means that your Kundalini has been activated. If you are unhappy with your job, mark my words: if you are not happy with your relation, if you are not happy with your job, if you are disturbed with what is happening in this world, to this world, in our society… if what is happening in Macedonia, in Greek is bothering you although you are living thousands of miles away; if what is happening today in Norway, or Sweden, or Belgium, or Brazil… what is happening there… if somebody is being bombed in London, if you feel the pain, your Kundalini has been activated. As simple as that!

But, if you think “ah people are dying, but they are not my relation, they belong to different group, they are not me, they are not my people,” then your Kundalini is not activated at all. If you are even little sensitive, your Kundalini is little activated, which means that your awareness is not limited to your body alone. You are not thinking about your pleasure alone. You are not thinking about your safety alone. You are not thinking about your happiness alone. If so, your Kundalini is already activated. A lot of people here, you are come from different part of the world, and you are looking for something. Maybe at this point, you cannot pin point what are you looking for. Of course you all want to be happy, we are all want to be happy. But you may look for different means to be happy. I may look for different means to become happy. Maybe at this moment we are not very clear.. but the fact that you are looking for something, you are looking for higher purpose of life, you are looking for higher happiness, deeper peace, your potential as human being is already activated. Now, how to enhance it; there are no blockages. [End of video 1].

[Video 2 – How to Detect if Your Kundalini is Active?]

How to enhance it? Third eye is related to Kundalini path, when you are rising in your consciousness, the first thing that happens is… the very first thing that happens to you when you rise in your consciousness is you drop all kinds of meats. You realize at that very moment that those animals have the same life. This is the first realization. The first realization is you drop all kinds of meats, whatever your society tells you. “I am alright with this.”  (But) if you are still starving, looking for meat, and you are still eating corpses, dead bodies of animals, even your initial development is not there.

Forget it when someone tells you your this Chakra has opened, or that Chakra has opened. Nonsense! First is your diet. Because we share that diet with all living beings. Eating, drinking, sleeping, and sex all animals do this, we do the same thing. These are the lower consciousness. We can have this kind of human body and we can stay in the lower consciousness, for many lifetimes, life after life; not just one lifetime. We can stay in that lower consciousness just looking for food, some comfort, good life, feeling good… even Google knows this. So Google is exploiting you also… feeling good today, because Google knows that you want to feel good today.

Feeling good is something else; it is an emotional thing. But feeling truly happy is something else. It has got nothing to do with bodily comfort, good food, good relation, good house, good husband, good partner, good wife… no. It has got something to do with your Soul. So, if we are just looking for food, sex, and comfort, (we aren’t yet looking for true happiness, MH).

I was reading about a lady in the west, I think in America or Europe… She appeared on CNN. She is 80+, and she said with pride, “I have a boyfriend that is 40 years younger than me. And if you ask him, interview him, he is happy with me.” And at the end of the interview she said, “Thanks to Yoga. I have been doing Yoga for the last forty years and I can have a boyfriend who is 40 years younger than me.” So I tried to find information about this lady. She is filthy rich, very rich. Why 40 years, she can have two for 20 years. With that amount of money, everybody would like to be her boyfriend. No problem. It is nothing to do with Yoga. If your Yoga is for getting a boyfriend or a girlfriend, then it is not a Yoga.

Yoga is about inner beauty. One person who doesn’t even tell anybody he’s doing Yoga is Sean Connery, the James Bond fella. The more he grows, I think, in my opinion, he becomes more handsome. And he doesn’t tell anybody that he has been doing Yoga for the last fifty, or sixty years, or something… No. He doesn’t propagate, he doesn’t promote (Yoga), he doesn’t do anything. It is the inner peace that brings the beauty outside. And the third eye is something to do with your Wisdom, how to look at things from the Wisdom point of view.

So many things are happening. We are reading so many disturbing news. We are reading so many good news also. But we don’t have the wisdom as yet to see what is behind such news. What seems to be a good news may not be good news: A child is born in a very rich family. The child is given all kinds of comforts from the very early childhood. Looks good. But this child grows to become a very lazy person because everything is taken care of.

I had a very good friend 20 years older than me, now he is dead. But he was a very good friend. And he was a self-made men in Singapore. He used to have a very small store in Singapore in 1960s. My father knew him actually, he was younger than my father. He had a very small store in Singapore. And in 1970s-1980s when I came across him, when we became friends, he was already having 7 or 8 stores in Singapore, large stores, his own properties. I am talking about the time when there were no malls. People still had big stores, big shops. So this guy had 7 or 8 stores.

He had three sons. And this guy is making money and all his sons were losing money. So we were just talking one day over cocktails in the evening. And this old man asked me, “What is the problem? My father is a poor man. Their father is a rich man. I am providing everything for them. So they don’t care, they don’t value the money. Lost is lost, they don’t value it. But when I was working hard, my father didn’t have this kind of money. If I didn’t make money, I didn’t make money.”

So you can actually spoil your children, ruin their lives altogether by providing everything… which looks good, but it is not good. And have seen this phenomena: People who are self-made, when they have children, they tend to spoil their children because they are feeling guilty. “When we are young we don’t have all these comforts, all these facilities. So let’s provide these for my children.” But actually, they are spoiling their kids, ruining their lives. So, what looks good, may not be good. This is Wisdom. And this develops.

So, once again, Kundalini… what happens during meditation, forget that. What happens after meditation, that is important. So I was telling you: The first sign that you can recognize someone by… the food habit. Moderation. It is not extreme: not extremely sweet, not extremely sour, not extremely hot spices, not overcooked, not raw food. All these extremes show that we are still fighting with ourselves. Just be natural. Eat natural foods.

In Indonesia, until 1950s – 1960s when I was a kid, we had a very good diet. We didn’t eat so much meat. We ate chicken, yes once in a while. Fish, yes. And our vegetables are either sautéed or just loosely fried, not deeply fried. Or Gado-gado, just put the vegetables in a boiling pan, then take it out… you don’t boil the vegetables until they die. You put some sauce, then you eat that. And the food was very healthy, that was a very very good food according to Yogic principles. And nowadays, I was just reading—I was astonished, I was amazed—that an average Indonesians eat 6,000 chickens in his life. And this number is based on the junk food joints, like KFC, McD, and others.

And more than that: The major consumer of chicken—you’d be surprise—is “restoran padang” (The Padang Restaurants). They are the biggest consumer of meats, more than KFC and everything else. (So) 6,000 chickens you start eating from day one of your birth, if you are living (up to) 70 years. That means from day 1 of your birth, you are eating like 100 chickens every year. To eat 100 chicken means every third day you are eating 1 chicken. Make sense. When you go to KFC you buy this family pack, which is suppose to be for a family, sometimes only two of you eat.

So all these things. If you see what is happening in this world; the number of junk food joints, malls full of food courts, this shows that Kundalini has not worked as yet. Just look at the growing numbers of food courts. The Kundalini is not working as yet, because first of all is food. [End of video 2].

[Video 3 – Sex and the Opening of Chakras]

The second thing is moderation in comforts., that has not only something to do with sleep but also with comfort. If you can do with one car, don’t have two cars. Go back to your homes, especially we Indonesians, and open your cupboard, how many clothes are there that we don’t wear anymore. How many pairs of capals, of sandals, of shoes you have, bags you have that you don’t use anymore. How many people in your lives that are useless. [Laughs]

So, first of all food. Second, comfort. You are not really into a lot of comforts. This and that, I have been hearing. You can do with one computer, (but) you also have iPad, you have iPhone. And all these things are giving you the same service. There are no difference. And then about sex. If at the age of 80—this woman is still looking for a 40 years old boyfriend—she has not done Yoga. Because if you are doing Yoga, what happens when your Kundalini is activated, our energy now, commonly, all of us, uniformly, our energy is stored around our navel. About two inches below the navel, between your navel and your sex organ there is the store house of energy. Whenever there is excessive energy, it goes there. That’s the storage.

Now, there energy there is in the form of liquid. So, when there is so much energy there, the nature of liquid is always going downward. So if there is so much energy there, there is a natural urge for sex whether you are man, woman, anybody. There is a natural urge for sex there because there is excessive amount of energy there and you have to let i go. But if you are doing Yoga, and you are doing Yoga as a lifestyle, not just head down and feet up, your energy is changing. It is heated up. It becomes steam. It evaporates. Then what happens?

When the steam goes up, you become creative. So creativity is the third sign. If your Kundalini is working, is enhanced you become very creative. There are a lot of people who work very hard, but they are not creative and they cannot make money. They are not successful, simply because they are not creative. They are hard workers. So creativity, and food habit, and lifestyles that are not excessive that is the sign that your Kundalini is opening.

And the fourth sign is, that you love. If you are loving your husband, your wife, your partner, your children, the fourth Chakra is not functioning as yet. If your love is directed to some people, “I love this person unconditionally,”—you cannot love someone unconditionally, that is already a condition. When I say, “I love you unconditionally,” that means I don’t love others unconditionally. That is already a condition. I “only” love you unconditionally. When you start loving, you become loving… whether it is you partner, your husband, or your children, or somebody else’s children you have the same feeling.

If someone is dying in London, you feel the pain. Someone is dying in the Middle East, you feel the pain. Someone is being killed, someone is being harmed… an animal is being killed, you feel the pain. That is when your forth Chakra is opening. You cannot see animals being slaughtered, to be consumed by human beings. Your forth Chakra has not open. You can say, you can bully yourselves that my Kundalini is open, I love everybody unconditionally, but, what about animals?

And fifth Chakra, what you speak truthful. Sometimes truth is also bitter, but yet you are not compromised with it. Wisdom—what I was just discussing earlier—(is the sixth Chakra, MH). And then the seventh Chakra, the enlightenment is a process. I have been repeating this over and over, if someone says that “I am enlightened already” (full stop), that means the progress has stopped. Enlightenment is a process, an ongoing process. It never stops. From lower enlightenment you become higher and higher, it’s working all the time. You cannot say “I am enlightened already.”

So Kundalini is an ongoing process from lesser truth to higher truth, from lesser love to higher love, from lesser wisdom to higher wisdom. But you have to start with somebody, you have to start with something, you have to start with someone. You have to start with some kind of step. And so we have summarized this step in our motto, that is “Inner Peace”, become at peace with yourselves first. “Communal Love”, love the people around you first. It is very difficult to love the people around you. It is very difficult to love your neighbour. That’s why Jesus was very tricky when he said “Love your neighour.”  Because when your neighbour is farting you can hear it, you can smell it. It is very easy to love somebody in the United States, in Europe, anywhere… in Siberia. But when your neighbour is parking his car in front of your door, that’s a challenge. How can you love this neighbour?

He knows he is not suppose to park his car in front of your gate, and yet he keeps doing that. How to love your neighour, that’s the challenge. How to love your bed neighbour, your roommate? When you are in love everything is so rosy. But once you start living together, then you know, not all is rosy, there is thorn also. You know there is a joke, I have been saying this over and over: In my mother tongue, in Sindhi that is, there is a saying, “When you are in love it is the woman who talks and the man who listens. After you get married, it is the man who talks and the woman who listens.” I am talking about Asian (couple), maybe not relevant for westerners. But the third part is relevant, maybe not so much of the second part.

The second part is, “after you get married, it is the man who is speaking, talking and the woman has to listen.” Today the rice is not properly cooked. Because in the east when you get married, whatever people say, when you get married you take it for granted that the woman does all the jobs at home. So, the rice is not properly cooked, it’s not salty, less salty, more salty, all kind of things. “One year after marriage, both of them are speaking and the neighbours are listening.” This shows that we are very far from being wise, from being enlightened. BUT, the process is on. Now it depends on you—it is said in the Yoga Sutra—it is depends on you, how fast you are to walk, or how slow you are to walk. [End of video 3].

Soma

Saya pernah berkunjung sebagai tenaga bantu di salah satu sekolah di daerah yang jauh dari kebisingan kota. Desa Aramati namanya. Penduduk desa ini hampir semuanya hidup dari hasil bumi yang memang melimpah. Penduduk desa Aramati sering membutuhkan orang-orang dari desa sebelahnya, desa Rai, yang mayoritas penduduknya pandai berdagang—sehingga mereka bisa mengangkut hasil bumi Aramati ke kota terdekat.

Penduduk kedua desa memahami saling ketergantungan di antaranya, namun cekcok bisnis tidak jarang terjadi. Beberapa penduduk Aramati menilai orang-orang Rai tidak jujur, dan sering mengambil untung terlalu banyak. Sedangkan beberapa orang Rai sering mengatakan bahwa warga desa tetangganya itu pemalas karena terlalu terbuai dengan kesuburan tanahnya. Tidak semuanya demikian; hubungan mereka memang begitu: love-hate, cinta-cinta benci. Bahkan sebenarnya warga kedua kampung telah lama saling menikah, namun itu tidak membuat saling curiga di dalam diri mereka hilang begitu saja.

Ada dua sekolah di desa Aramati; dan sekolah di mana saya bekerja waktu itu bisa dikatakan sekolah negeri terbaik di sana. Hanya mereka yang kaya dan pandai yang boleh duduk di bangkunya. Anak-anak pejabat desa dan pemuka agama bersekolah di sana. Kebanyakan yang bersekolah di sekolah itu adalah putra-putri Aramati, namun sesekali memang ada warga desa di sekitarnya yang bisa masuk ke sana. Tahun di mana saya bekerja ada seorang anak desa Rai yang bersekolah di sana. Namanya Soma.

Soma terlihat pendiam dan tidak banyak temannya. Namun dibalik sikapnya itu, saya bisa melihat bahwa dia tekun dalam belajar, jujur, dan punya sifat pelindung. Sepertinya sikap Soma yang pendiam diakibatkan karena ia bukan berasal dari desa Aramati. Soma dan kedua orang tuanya tinggal di pinggiran desa Rai, sehingga sekolah itulah yang lebih dekat dari rumahnya. Saya pernah diceritakan oleh salah seorang guru di sana, bahwa pihak sekolah awalnya keberatan Soma bersekolah di sana. Tapi karena prestasinya, dan kedekatan keluarganya dengan seorang tetua desa Aramati, maka Soma diperbolehkan masuk.

Sejak awal, Soma dijauhi teman-teman sekelasnya. Seringkali saya mendengar anak-anak Aramati melempar ledekan kepada Soma. Sebagai wali kelasnya, saya juga pernah suatu hari mendapat laporan bahwa ada lebam di pipi Soma sepulang sekolah, yang ketika saya tanya apa sebabnya, ia bilang terjatuh ketika main bola. Saya tidak melanjutkan pertanyaan saya kepadanya; saya tahu dia hanya ingin pulang segera ke rumahnya. Saya juga tahu persis bahwa Soma selalu menghabiskan waktu istirahat di kelas atau perpustakaan—di mana ia bisa dibiarkan tenang tanpa diganggu.

Saya mengagumi kekuatan anak itu. Walaupun dicecar dan dimaki kawan-kawannya, ia tetap datang ke sekolah dan daya belajarnya tidak surut. Malah mungkin bisa dikatakan bahwa cemoohan teman-temannya adalah pemicu bagi Soma untuk maju.

Bulan demi bulan berlalu, di akhir Semester 1, Soma mendapatkan rangking pertama di kelas, dan kedua di sekolah. Ketika diumumkan demikian, tidak ada siswa atau guru yang mengucapkan selamat kepadanya. Bahkan ia dicemooh, dan difitnah curang dihadapannya. Semua tuduhan itu tidak terbukti. Sebelum pulang, saya memberi Soma sekotak pensil warna sebagai hadiah yang diterimanya dengan senang. “Terima kasih,” ucapnya pelan. “Giat belajar ya, Soma.” Begitu balasku. Ia lalu berjalan menuntun sepeda tuanya pergi keluar gerbang sekolah.

Semester 2 berjalan beberapa minggu, dan saya melihat Soma mulai berubah. Ia mulai cepat marah ketika diledek, bahkan sesekali ia membalas dengan kata-kata kasar. Hal ini membuat teman-temannya semakin sering mengerjai Soma. Sampai pada suatu hari saya dipanggil oleh salah seorang guru yang bilang bahwa Soma telah memukul Nayaka, anak pemuka agama di desa Aramati yang sangat berpengaruh dan penyumbang dana terbesar ke sekolah itu. Gigi Nayaka tanggal, dan darah mengalir dari mulutnya.

Nayaka dan teman-temannya mengadu bahwa Soma-lah yang bersalah memulai perkelahian. Pakaian mereka kotor dan ada yang robek. Saya lalu menengok kepada Soma yang duduk meringkuk—sama-sama kumalnya. Matanya basah. “Apa benar begitu, Soma?”

“Iya, Pak.” Jawabnya singkat.

“Kenapa Kamu memukul Nayaka?”

Soma terdiam. Nayaka dan teman-temannya tersenyum kecil—bahagia karena Soma telah mengaku dan yakin ia pasti akan dihukum.

“… mereka menghina kedua orang tua saya, Pak. Mereka bilang saya anak tukang tipu, penjahat.”

“Benar begitu?”

“Tapi, Pak, salah dia sendiri yang sering bicara kasar dan kampungan kepada kami… padahal apa salah kami?” Sahut salah seorang teman Nayaka.

“Bapak sering melihat kalian mengejek Soma sejak hari pertama Soma menginjakkan kakinya di sekolah kita ini.” Merekalah yang telah mengubah Soma. Bully telah membuat Soma keras dan kasar, dan saat itu saya menyesal tidak mengambil langkah tegas.

“Kalian semua salah.. karena menghina Soma, dan kamu Soma.. juga bersalah karena memulai perkelahian. Kalian harus dihukum karena kesalahan kalian.”

***

Besoknya, saya dipanggil Kepala Sekolah. Beliau menanyakan apa yang terjadi. Setelah saya jelaskan, ia menyuruh saya kembali mengajar.

Pagi itu saya tidak melihat Nayaka dan teman-temannya. Soma di sana, duduk seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa. Saya diberi tahu bahwa orang tua Nayaka tidak suka anaknya dihina dengan diberi hukuman. “Hanya dia yang berhak menjatuhkan hukuman pada anaknya,” begitu kata seorang guru di sela-sela jam makan siang. Saya melihat seseorang dengan pakaian keagamaan keluar dari ruang Kepala Sekolah. Mereka terlihat akrab, saling berjabat tangan dan berpelukan. Saya dengar Kepala Sekolah bilang, “Akan saya bereskan segera, Pak. Terima kasih atas dukungan Bapak selama ini.”

Perasaan saya tidak enak. Orang yang tidak saya kenal ini kemudian berbalik.. kami sempat saling pandang beberapa detik.. kemudian ia pergi meninggalkan sekolah. Bel penanda jam pelajaran berbunyi. Saya pun kembali ke kelas.

***

Sore itu, sebelum pulang saya diminta bertemu dengan Kepala Sekolah. Seperti yang sudah saya duga, ia meminta saya mengundurkan diri. “Kembalilah ke kota. Masih banyak pekerjaan bagus di kota besar. Akan lebih baik buat karirmu, kalau Kamu mengajar di sana. Lagi pula guru tetap yang posisinya kamu isi sementara ini sudah datang. Dia akan mulai segera.”

Saya berkelit. Saya masih ingin mengajar di sana. Rasanya, saya belum tuntas menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Tapi Kepala Sekolah bergeming. Tidak ada jalan lain. Saya pun pulang, dan beberapa hari kemudian saya bersiap-siap pulang ke kota.

Dalam perjalanan pulang, saya menyempatkan mampir ke rumah kedua orang tua Soma yang kebetulan saya lalui. Dari penjaga di sana saya tahu bahwa Soma sudah tidak lagi bersekolah di sana. Soma pindah sekolah ke salah satu sekolah Rai—walaupun agak jauh. Soma dikeluarkan dari sekolah karena berkata-kata kasar dan melukai temannya.

Mungkin ini yang terbaik bagi Soma, bagi anak-anak yang lain, buat Kepala Sekolah dan guru-guru: tidak ada lagi bully, tidak ada lagi perkelahian karena tidak ada perbedaan, semua tenang. Soma mungkin bisa menyelesaikan pedidikannya dengan lebih lancar dan bisa mengembalikan lagi sifat aslinya yang tekun, jujur, dan pelindung. Soma juga bisa mengambil peran-peran penting di dalam masyarakat Rai nantinya karena dari sanalah ia berasal. Mungkin ini win-win?

Dalam perjalanan, saya masih memikirkan apa yang terjadi. Desa Aramati dan desa Rai memiliki potensi yang bila dimanfaatkan dengan baik, dan saling bekerja sama, akan mampu mensejahterakan semua… tapi, sayangnya semua sudah puas dalam “kedamaian” semu yang diciptakan demi berlanjutnya sistem yang membuat keduanya akan terus menjadi desa yang jauh dari terang cahaya kota.

Sebelum Berdoa

Seseorang bertanya, “Tuan, apakah jalan menuju-Nya?”

Sri Ramakrishna menjawab, “Cinta-kasih kepada-Nya, dan doa.”

Si penanya belum juga puas, “Jadi yang mana, Tuan, cinta-kasih atau doa?”

“Pertama-tama cinta-kasih, baru kemudian doa.” Setelah menjawab demikian, Sri Ramakrishna bernyanyi dan larut di dalam pujian kepada Hyang Tunggal.

—The Gospel of Sri Ramakrishna, Bab 10, 22 April 1883.

Hari-hari ini citra agama dan keagamaan telah semakin tenggelam di dalam kebencian, amarah, dan nafsu mengejar kekuasaan. Semakin seseorang belajar tentang agama, sepertinya semakin ia jauh dari pengertian, kasih-sayang terhadap mereka yang berbeda. Kemudahan berkomunikasi malah mengotak-kotakkan kita, memisah-misahkan kita. Apa yang salah? Rasanya kita sedang krisis Cinta-Kasih.

Penenkanan agama pada dimensi ritual dan hukum-hukum keagamaan, menutupi dimensi-dimensi lainnya yang lebih tinggi. Dimensi ritual-dan-hukum adalah dimensi terendah, kulit terluar yang “membungkus” agama dan keagamaan. Setiap umat beragama menjalani ritus dan mengikuti kaidah-kaidah hukum tertentu, yang bisa dimaknai secara berbeda antara satu orang dengan yang lain, dan seringkali dipengaruhi oleh konteksnya. Pada lapisan kulit ini keberagamaan tidak bisa dihindarkan, sebagaimana setiap kulit buah mangga yang berasal dari satu pohon yang sama tidak ada yang persis sama.

Kalau kita tidak masuk ke dalam dimensi yang lebih tinggi, menembus lapisan kulit dan masuk ke dalam esensi agama dan keagamaan, permasalahan kita tidak akan kelar-kelar. Selama ini kita sering beribadah tanpa menumbuhkan terlebih dahulu Cinta-Kasih. Pendidikan kita tidak menyadari pentingnya menumbuhkan rasa Cinta dan Kasih di dalam diri anak-anak—diasumsikan mereka bisa belajar sendiri dari kedua orang tuanya. Kemudian pendidikan didesain hanya untuk meneruskan informasi dan mengajari skill yang memang dibutuhkan, tapi tidak cukup.

Di dalam buku Narada Bhakti Sutra, Swami Anand Krishna mengajarkan bahwa langkah pertama yang dibutuhkan sebelum kita bisa menyemai benih Cinta-Kasih, kita perlu terlebih dahulu membabat “ilalang-dan-hama nafsu” yang menyerap nutrisi dari dalam tanah dan dari tanaman Cinta-Kasih yang akan tumbuh nantinya. Pembabatan ini membutuhkan cara tersendiri, tidak bisa dengan hanya sekedar menahan lapar-dan-haus selama sekian jam sehari, tapi mengumbar makanan ketika berbuka. Pembabatan ini membutuhkan upaya yang intens dan terus-menerus.

Di sinilah pentingnya Meditasi. Latihan-latihan meditasi diharapkan nantinya mencapai hidup yang meditatif. Baru di tanah subur kehidupan-meditatif ini, benih-benih Cinta-Kasih bisa tumbuh. Cinta-Kasih ini bersumber dari dalam diri kita sendiri; jika sulit merasakannya, maka kita bisa menggunakan “alat bantu” di luar diri. Di sinilah “peran” Tuhan. Mungkin Anda tidak setuju, “Tuhan kok diper-”alat“?!” Silakan saja, namun bagi umat Hindu, “aham brahmaasmi”, Sang Aku yang sejati dan Tuhan Hyang Maha Luas sesungguhnya satu. Seperti kata Swamiji, “Bila sulit menyadari-Nya di dalam diri, anggaplah Dia berada di luar diri.”

Inilah mengapa umat Hindu seolah-olah memiliki sekian banyak Tuhan: berwujud manusia, super-human, binatang, setengah-binatang setengah-manusia, dan sebagainya. Semua wujud-wujud tadi adalah alat bantu untuk mengarahkan kesadarannya kepada sesuatu yang lebih tinggi daripada nafsunya, dan sekaligus menumbuhkan Cinta-Kasih di dalam diri. Tidak hanya itu, umat Hindu menggunakan pula lagu-lagu pujian, tembang-tembang, syair, puisi yang indah untuk memperbesar Cinta-Kasih kepada-Nya. Luapan Cinta-Kasih itu tidak bisa tidak meluas kepada semua manusia, semua makhluk karena Ia yang bersemayam di dalam diriku, juga ada di dalam dirimu. “Tat tvam asi. Inilah satu-satunya “obat” permasalahan kita.

Pengetahuan agama TIDAK cukup. Malahan apabila hawa nafsu masih cukup kuat, maka agama bisa dipakai sebagai alat untuk mencari pembenaran demi terpuaskannya nafsu—yang sesungguhnya tidak pernah puas itu. Inilah yang terjadi saat ini: permasalahan semakin rumit, seolah tanpa ujung, masalah dibalas masalah baru.. semuanya terjadi karena kita telah melupakan dimensi agama dan keagamaan yang lebih tinggi dan mulia, sehingga kemuliaan pun terlupakan sudah, dan “kulit” kita kira “daging”. Ah, what a waste of time and energy!

Hindu Menjawab: Politeisme dan Pemujaan Berhala

Umat Hindu telah sejak lama menjadi bulan-bulanan ketika umat-umat beragama lainnya berbicara tentang Tuhan. Umat Hindu kerap dicap (bahkan tidak jarang juga mencap dirinya sendiri) politeis, ‘bertuhan banyak’, yang kemudian dipandang lebih rendah daripada saudara-saudaranya yang monoteis. Julukan ini jelas tidak tepat jika kita benar-benar memahami ajaran-ajaran Hindu yang tertuang di puluhan kitab itu. Yang sering menjadi masalah sebenarnya adalah umat Hindu sendiri yang entah tidak memahami, atau tidak mampu merumuskan argumentasinya dengan baik.

Sudah banyak buku, artikel, tulisan-tulisan di media cetak dan elektronik yang berupaya mengisi kekosongan ini, namun menurut saya sebagian besar masih terfragmentasi atau belum sampai kepada akar permasalahannya. Kebanyakan tulisan yang ada mengambil jargon-jargon yang lebih bersifat defensif dari buku-buku agama, daripada mengeksplorasi khasanah filosofi Hindu yang sesungguhnya kaya akan makna dan membutuhkan perenungan. Di tengah serangan pihak-pihak luar, memang strategi bertahan seperti ini bisa meredakan perang argumen, namun masih akan menyisakan pertanyaan di dalam benak umat.

Seringkali tanpa sadar umat Hindu masuk dalam jebakan “permainan” umat lain dan kesulitan menemukan jalan keluar dari labirin logika yang dibuatnya. Kesalahan pertama dan kekalahan umat Hindu berawal dari pengambilan titik pijak yang sama dengan mereka. Misalnya, umat lain mengutip satu ayat di dalam Veda yang mengatakan bahwa “Tuhan satu ada-Nya” (RV 1.100.7, AV 13.4.15–21), atau “Tuhan tidak memiliki citra/patung” (YV 32:3); kemudian—karena berasal dari Veda—umat Hindu mau tidak mau menerima argumen dasar ini. Setelah itu dengan mudah umat lain mengobrak-abrik segala apa yang diyakini umat Hindu—yang selama ini memuja sekian banyak Dewata dengan segala atributnya.

Jika dipandang dari sudut lain, kekalahan umat Hindu—seperti contoh di atas—juga terjadi karena ketidaktahuan dan rendahnya akses pengetahuan umat Hindu akan ajaran agamanya sendiri. Berapa banyak sih umat Hindu yang memiliki kitab-kitab suci Veda, seperti Catur Veda, Bhagavad Gita, Upanishad, dsb. di rumah? Seberapa banyak pula yang memahami bhs. Sanskrit? Kalaupun ada, berapa banyak umat Hindu yang mempu berkomunikasi dengan baik dan berpikir kritis?

Memang kondisi saat ini sudah jauh lebih baik bila dibandingkan 20 tahun yang lalu ketika saya masih SMA. Saat itu internet masih menjadi barang mewah, akses terhadap kitab-kitab suci Veda masih sangat terbatas, boro-boro memahami bhs. Sanskrit, kebanyakan sumber informasi berkualitas tentang ajaran-ajaran Hindu hanya tersedia di dalam bhs. Inggris—yang masih sulit saya pahami. Sekarang sudah banyak terjemahan kitab-kitab Veda di toko-toko buku dan perpusatakaan, walaupun dengan kualitas yang masih bisa saya bilang kurang memuaskan.

Jika diibaratkan seperti ikan dan air, kitab-kitab Veda hanya “hidup” di dalam lingkungan spiritual yang disebut Ashram. Dengan mengeluarkannya dari “lingkungan hidupnya”, misalnya di lingkungan akademis, Veda hanya menjadi “dead fish” yang bisa dibedah dan bahkan dipotong-potong dan dimasak sesuka hati. Itulah sebabnya sejak dahulu, Veda disampaikan di dalam parampara (BG 4.1–3), dari seorang Guru kepada Shishya yang ber-bhakti. Umat Hindu di Bali masih memiliki Pasraman yang terbatas hanya untuk pedanda/pemangku atau calon-pemangku upacara saja. Padahal fungsi Ashram jauh lebih luas dari itu.

Ashram adalah “air” sekaligus tulang punggung. Patahnya tulang punggung Ashram mengakibatkan kemunduran (Hindu dan Buddha) Dharma di Nusantara sekitar 1000-an tahun yang lalu. Hal inilah yang kemudian memudahkan jalan masuk dan menyebarnya agama-agama asing, seperti Islam dan Kristen. Walaupun belum benar-benar “mati”, bahkan nilai-nilainya masih hidup bercampur dengan nilai-nilai Islam dan Kristen di banyak daerah, ajaran-ajaran Dharma tidak juga dikatakan “hidup”.

Upacara-upacara keagamaan, seperti yang masih bisa kita lihat di Bali, Sunda Wiwitan, Kejawen, Parmalim, Kaharingan, Tengger, hingga India, Indo-Cina, Jepang, dsb. hanyalah kulit luar dari Dharma. Landasan spiritual-filosofis—yang disebut tattva—dan landasan etika-moralnya—yang disebut susila—seolah berhenti di tempat. Tidak heran bila ada umat beragama lain yang melihat Hinduisme sebagai relik yang layak dimuseumkan. Di sisi lain, terlupakannya tattva atau esensi Dharma menciptakan ilusi keterpisah-pisahan umat Hindu di satu daerah dengan yang di daerah lainnya. Jika kita ingin membalikkan keadaan, maka uma Hindu membutuhkan tegaknya institusi Ashram yang inklusif.

Saguṇa: Keilahian Semesta
Ketika menulis tentang teman Tuhan dan Ketuhanan, sebenarnya saya senyum-senyum sendiri. Siapa saya membicarakan Tuhan yang katanya Maha Luas itu? Bahkan mereka yang bergelar profesor di bidang agama pun, tidak akan pernah mampu memahami-Nya. Di dalam kecemerlangan cahaya-Nya, kita tidak bisa “melihat”-Nya (YV 40.15); dan di dalam keterbatasan bahasa, kita tidak mampu “menjelaskan”-Nya, kita membisu (YV 30.19). Oleh karena itu kita menyandarkan pemahaman kita pada “kesaksian” para Rishi (RV 10.71.4), dan Avatara seperti Shri Krishna di dalam Bhagavad Gita.

Hinduisme unik, sehingga tidak bisa dipahami dari sudut pandang agama-agama lain, khususnya yang berasal dari luar wilayah utama Peradaban Sindhu—yang membentang dari Afghanistan di barat, Anak Benua Hindia, Indo-China, hingga ke Kepulauan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hinduisme tidak hanya membentang luas secara geografis saja, namun juga dalam waktu. Hinduisme tidak lahir pada satu rentang (ruang dan waktu) yang pendek, namun telah ada setidak-tidaknya 6000 tahun sebelum tarikh Masehi [1] dan mengalami pengayaan terus-menerus, bahkan hingga saat ini. Oleh karena itu umat Hindu menyebutnya: Sanatana Dharma (Dharma yang abadi), dan Nutana Dharma (Dharma yang selalu membaru).

Dr. David Frawley (Pandit Vamadeva Shastri) menyatakan bahwa para Rishi di dalam Rig Veda, kitab tertua umat manusia dan menjadi inspirasi utama Hinduisme, memandang Tuhan sebagai Keberadaan yang “one and many, many in one, and one in many” [1]. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa persepsi manusia memiliki keterbatasan, dan Tuhan atau Keberadaan tidak bisa dikurung, dibatasi, dan dikuasai oleh pikiran manusia . Hinduisme melihat semesta ini sebagai bagian dari-Nya (Purusha Sukta, RV 10.90), dan berkembang dari Ia Hyang Tunggal:

eka eva agnir bahudhā samiddha ekaḥ sūryo viśvam anu prabhūtaḥ, ekaivoṣaḥ sarvam idaṃ vi bhātyekaṃ vā idaṃ vi babhūva sarvam.—RV 8.58.2.

“Sebagaimana satu nyala api menyalakan yang lain, sebagaimana satu matahari menyinari semua; seperti satu fajar memancar menerangi alam raya, demikianlah Ia Hyang Tunggal menjadi segala sesuatu di semesta ini.”

Ide yang sama terus berlanjut di dalam Bhagavad Gita, bahwa tidak ada sesuatu pun yang berada di luar-Nya, semesta ini “terikat” pada-Nya “seperti rangkaian manikam yang terbuat dari benang, dan terikat dengan benang itu sendiri,” (BG 7.7). Hal ini bahkan dijelaskan lebih mendetail pada ayat-ayat selanjutnya (8–10), bahwa Tuhan Hyang Diagungkan di dalam Veda adalah rasa di dalam air, cahaya matahari dan sinar rembulan itu sendiri, wangi tanah, dan nyala api, dst. Ia Hyang Satu Ada-Nya “mengalir” di dalam segala benda di dalam semesta ini.

Umat Hindu menyebut aspek di atas sebagai saguṇa, aspek-Nya yang kasat mata, yang bisa didengar, dirasakan, dicium, dan disentuh. Para Dewa dan Dewi yang diagungkan di dalam Veda adalah Tuhan yang satu, seperti sinar matahari yang bisa “dipecah” ke dalam spektrum warna, dari merah (panjang gelombang 620nm) hingga violet (450nm), yang bisa ditangkap mata manusia. Masing-masing Dewa dan Dewi mewakili aspek-Nya yang bersifat khas, khusus, yang bersentuhan langsung dengan kehidupan para bhakta-Nya. Sama halnya dengan para ilmuwan yang mempelajari matahari, melihatnya dari berbagai citra: inframerah, ultraviolet, X-ray, Gamma-ray, dst. masing-masing memberikan insight yang berbeda-beda.

Kekuatan-kekuatan alam, seperti api, angin, petir, awan, dsb. tidak dipandang hanya sebagai “benda” yang lebih rendah dari manusia. Demikian pula binatang dan tumbuhan yang juga diagungkan di dalam Veda, dipandang dengan penuh rasa hormat karena Tuhan juga “mengalir” di dalamnya. Para Rishi menyadari bahwa kehidupan manusia tidak bisa lepas dari alam beserta makhluk-makhluknya; ada keterkaitan yang erat yang saling menunjang (BG 3.11–12). Tidak hanya sampai di situ, para Rishi juga melihat kekuatan-kekuatan alam, binatang, dan tumbuhan sebagai refleksi dari batin manusia.

Api atau Dewa Agni, misalnya, dipandang sebagai kekuatan intelejensia, kekuatan untuk mentransformasi kelemahan-kelemahan manusia menjadi kekuatan dan kemuliaan. Agni melambangkan kekuatan membakar, mencipta, daya kreasi, dan kecerdasan. Agni juga sentral di dalam upacara persembahan, yajña, yang mana para Rishi menuangkan biji-bijian, rempah, ghee, dsb. agar bisa “dinikmati” para Dewa lainnya. Agni bukan hanya nyala api, tapi ia juga Sang Surya di siang hari, dan Sang Candra, dan bintang-bintang di malam hari, petir di awan, dan energi pada umumnya. Simbolisme di dalam Veda sangat kompleks dan dan memiliki dimensi yang berbeda-beda.

Tapi kan Tuhan tidak layak dicitrakan seperti manusia, dengan tangan dan kaki, bahkan kadang digambarakan sebagai binatang atau manusia-setengah-binatang?! Lagi-lagi, pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa si penanya belum sepenuhnya bisa menerima Keilahian semesta sebagaimana yang diungkapkan di dalam Veda. Penggambaran Tuhan, dalam aspeknya sebagai Dewa atau Dewi tertentu dalam wujud manusia bukanlah upaya mereduksi Tuhan ke dalam citra/wujud manusia, namun sebaliknya: mengangkat Keilahian di dalam diri manusia. Gambar atau patung Dewa dan Dewi adalah alat mengingatkan manusia akan kesejatian diri yang sesungguhnya tidak terpisahkan dari-Nya (BG 2.18–26, AV 10.8.43–44).

Tuhan, di dalam Veda, adalah laki-laki, perempuan, kedua-duanya, sekaligus melampaui semuanya. Para Dewa adalah perwujudan kekuatan maskulin alam semesta di dalam persepsi manusia, seperti keberanian, kepemimpinan, dan penciptaan. Para Dewi adalah perwujudan kekuatan feminin alam semesta di dalam persepsi manusia, seperti daya hidup, kasih-sayang, ilmu pengetahuan dan seni. Tuhan juga “hadir” di sepanjang umur sebagai anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua (AV 10.8.27).

Hal ini bukan berarti bahwa Hinduisme memuja berhala—menganggap gambar atau patung yang dipakainya dalam pemujaan sebagai Tuhan itu sendiri. Gambar dan patung—mengikuti hukum alam—bisa rusak dan hancur, tapi tahun, bulan, dan hari tidak membuat Tuhan tua (RV 6.24.7). Ia dipuja sepanjang masa (RV 6.21.5, RV 1.1.3). Ia ada di semua penjuru mata angin (RV 10.36.14). Gambar dan patung hanyalah alat, sarana yang manusia pakai untuk mendekati-Nya dengan segala keterbatasan dirinya (BG 12.5). Bahkan penggambaran Dewa atau Dewi yang sama bisa berubah dari masa ke masa. Tidak ada masalah; Tuhan tetap satu dan sama walau perwujudan-Nya bermacam ragam.

Nirguṇa: Yang Tak Berwujud
Ada pula aspek-Nya yang diluar jangkauan persepsi kita, yang disebut nirguṇa. Inilah aspek Tuhan yang ditekankan di dalam agama lain. Uniknya, Hinduisme tidak hanya bisa menerima Tuhan Yang Berwujud, namun juga Tuhan Yang Tidak Berwujud (YV 40.8). Alam semesta ini hanyalah sebagian kecil saja dari-Nya.

bhūmir āpo’nalo vāyuḥ khaṃ mano buddhir eva ca, ahaṃkāra itīyaṃ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.—BG 7.4

“Tanah, air, api, angin, ākāśa, gugusan pikiran dan perasaan (mind), kemampuan memilah (buddhi atau intelejensia), dan ego—kedelapan hal ini adalah Prakṛti atau sifat Kebendaan-Ku yang menyebabkan kesadaran rendah.”

apareyam itas tvanyāṃ prakṛtiṃ viddhi me parām, jīva-bhūtāṃ mahā-bāho yayedaṃ dhāryate jagat.—BG 7.5

“Di luar Prakṛti, alam benda, kebendaan, dan kesadaran rendah, adalah alam Jiwa, yang menopang sekaligus menghidupi seantero alam.”

Ada satu ayat dari Yajurveda (dan juga dijumpai di dalam Svetasvatara Upanishad) yang sering dijadikan sebagai senjata para misionaris untuk menyudutkan umat Hindu. Biasanya ayat ini dipenggal sebagian saja, “na tasya pratimā’sti”, yang memang dengan jelas menyatakan bahwa “tidak ada pratimā-Nya.” Pratimā berasal dari awalan prati- dan akar kata √mā, yang berarti mengukur. Maksudnya begini: jika kita ingin membuat model, atau maket, atau representasi sesuatu/seseorang, maka kita perlu melakukan pengukuran dengan tepat. Pratimā bisa diartikan juga sebagai ‘likeness’ atau ‘image’.

na tasya pratimā’sti yasya nāma mahadyaśa, hiraṇyagarbha’ityeṣa mā mā hisīdityeṣā yasmān jāta’ityeṣaḥ.—Yajurveda 32.3

Tiada sesuatu pun yang menyamai/menyerupai keagungan Dia yang Maha Termasyur. Pada mulanya adalah Dia, Hiranyagarbha; semoga Ia tidak menjatuhkan bencana kepadaku, Oh, Ia Hyang adalah Asal Mula Semua Makhluk.”

Pembuat Pratimā sadar betul bahwa ia tidak sedang menciptakan Tuhan. Tidak pula ia merasa mampu memodelkan Tuhan. Pratimā dibuat sebagai alat bagi para bhakta, para pemuja-Nya untuk membantu membangkitkan rasa bakti, cinta-kasih di dalam dirinya. Pratimā membantu para bhakta merasakan kehadiran Ia Hyang Maha Hadir.

Sekitar sepetiga bagian otak manusia terkait dengan pengolahan informasi visual. Bentuk-bentuk geometrik tertentu, warna, komposisi, benda-benda tertentu, dst. meberi kesan makna yang khas di dalam benak orang yang melihatnya. Ditambah lagi dengan social-cultural constructs yang dimilikinya, simbol dan desain tertentu akan mampu membangkitkan rasa ketuhanan, kasih/cinta, atau persatuan. Dan sebaliknya, ada pula simbol dan desain tertentu yang bisa membangkitkan kebencian, nafsu, atau amarah. Selama ribuan tahun Penduduk Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo memahami hal ini, dan mereka telah menggunakan simbol dan desain untuk membantu laku spiritualnya—yang terekam secara rinci di dalam Puraṇa, Gandharvaveda, dsb.

Lantas, apakah kedua aspek ini, saguṇa-nirguṇa dan puruṣa-prakṛti, saling bertentangan? Tidak. Keduanya adalah muka dari kepingan uang logam yang sama. Menerima yang satu dan menolak yang lain menunjukkan bahwa kita belum dewasa dan belum bisa menerima bahwa Ia lebih luas daripada pemahaman kita. Menerima Tuhan dengan nama “A”, dan menolak “B”, “C”, dst. adalah penyakit yang membuat umat manusia terpecah belah. Silakan saja, jika ada yang mau hidup dengan pemahaman demikian; namun, betapa meruginya hidup dalam kotak kecil buatan kita sendiri.

Saying that, Shri Krishna juga mengkritik mereka yang memuja Tuhan hanya lewat aspek-aspek fisik Dewa atau Dewi semata—dalam pengertian mendekati Tuhan hanya demi kenikmatan dan kenyamanan duniawi, walaupun dengan cara-cara yang dijabarkan di dalam Veda, dan tidak mau berurusan dengan hal-hal yang lebih tinggi (BG 7.21–23). Shri Krishna juga mengkritik para ahli-kitab, mereka yang menganggap kitab sucinya sebagai segala-galanya to the dot, padahal ayat-ayatnya bertebaran di mana-mana (BG 2.42–46).

Shri Ramakrishna, seorang mistik Hindu, pernah berbicara kepada pengikut aliran Brahmo Samaj (yang tidak mengakui Tuhan Berwujud) pada 22 April 1883, “Yes, both are true. God with form is as real as God without form. Do you know what describing God as being formless only is like? It is like a man’s playing only a monotone on his flute, though it has seven holes. But on the same instrument another man plays different melodies. Likewise, in how many ways the believers in a Personal God enjoy Him! They enjoy Him through many different attitudes: the serene attitude, the attitude of a servant, a friend, a mother, a husband, or a lover.” [2]

Keterangan:
AV = Atharva Veda
BG = Bhagavad Gita
RV = Rig Veda
YV = Yajur Veda

Referensi:
[1] Frawley, David, 1992. Wisdom of the ancient seers. Mantras of Rig Veda. Passage Press: Salt Lake City, Utah, USA.
[2] Nikhilananda, Swami, 2007. The Gospel of Sri ramakrishna. Ramakrishna-Vivekananda Center: New York.
Krishna, Anand, 2015. Bhagavad Gita. Pusat Studi Veda dan Dharma: Indonesia.

Belajar Sanskrit: Omkaram Bindu Samyuktam

Oṁ Avighnamastu,

Pada kesempatan ini kita akan belajar bhs. Sanskrit melalui mantram Oṁkāram Bindusaṃyuktam. Mantra ini dibacakan setiap pagi di Anand Ashram, disamping beberapa mantra lainnya. Pada bagian bawah, saya tautkan juga 3 video Swami Anand Krishna yang memberikan penjelasan makna mantra ini, Yoga, dan Vipassana.

Yuk, kita mulai…

अोँकारं बिंदुसंयुक्तम् नित्यम् ध्यायन्ति योगिनः
कामदम् मोक्षदम् चैव अोँकाराय नमो नमः ।।

ᬒᬁᬓᬵᬭᬫ᭄ ᬩᬶᬦ᭄ᬤᬸ ᬲᬀᬬᬸᬓ᭄ᬢᬫ᭄
ᬦᬶᬢ᭄ᬬ ᬫ᭄ ᬥ᭄ᬬᬵᬬᬦ᭄ᬢᬶ ᬬᭀᬕᬶᬦᬄ
ᬓᬫᬤᬫ᭄ᬫᭀᬓ᭄ᬱᬤᬫ᭄ ᬘᬿᬯ
ᬒᬁᬓᬵᬭᬵᬬ ᬦᬫᭀ ᬦᬫᬄ ᭟

oṁkāram bindusaṃyuktam
nityam-dhyāyanti yoginaḥ;
kāmadam mokṣadam caiva,
oṁkārāya namonamaḥ.

oṁ — = suara suci “Oṁ”; praṇava (dari pra- : ‘forward, forth’ + nu : ‘to praise, extol’) suara yang mengawali penciptaan yang diagungkan oleh para rishi. “Oṁ adalah segalanya ini. Semuanya, baik itu di masa lalu, masa kini, dan masa depan, adalah perwujudan Oṁ.”—Mandukya Upanishad.
kāra — dari √kṛ : ‘to do, make’; = notasi, huruf.
oṁkāram — [obyek, tunggal] = notasi suci Oṁ, suara suci Oṁ.

bindu — = titik, partikel kecil.
saṃyukta — p.p. dari saṃ- : ‘together’ + yuj : ‘to unite, attach’; ‘joined, connected, united, accompanied by’. Misalnya digunakan di dalam padanan untuk “United Nations” (Perserikatan Bangsa-bangsa) = saṃyukta rāṣṭra.
bindusaṃyuktam — [kata sifat, tunggal] menjelaskan Oṁkāra; = yang memiliki atau disertai titik, atau bindu (anusvāra atau suara nasal “ṁ”).

nityam — [kata keterangan] menjelaskan kata kerja dhyāyanti; ‘daily, constantly, always, ever, perpetually, eternally’; = senantiasa, setiap hari, setiap saat, selalu.

dhyāyanti — [k. kerja orang ke-3, jamak] dari dhyai : ‘to think of, meditate upon, ponder over, contemplate”; = (mereka) bermeditasi.

yoginaḥ — [subyek, jamak] dari yogin (dari yuj : ‘to unite, attach’); = para praktisi yoga, para yogi.

Jadi bait pertama, “oṁkāram bindusaṃyuktam nityam-dhyāyanti yoginaḥ”, bisa diartikan = Para yogi senantiasa bermeditasi pada Oṁkāra, yang memiliki bindu/titik, yang adalah asal mula segala sesuatu, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa mendatang.

kāmadam — [kata sifat, tunggal] menjelaskan Oṁkāra; dari √kam : ‘to love, wish, desire’; = yang memenuhi segala keinginan.

mokṣadam — [kata sifat, tunggal] menjelaskan Oṁkāra; dari √muc : ‘to loose, set free’; = yang membebaskan, mengantar pada mokṣa atau kebebasan sejati dari kesadaran rendah.

ca — dan.
eva — demikian.
ca + eva = caiva.

oṁkārāya — [dative, tunggal] = kepada Oṁkāra.

namaḥ — dari √nam : ‘to bow to, salute to’; = sembah sujud, salam hormat. 
namo-namaḥ 
= [ungkapan] sembah sujudku (berulang kali)

Bait terakhir, “kāmadam mokṣadam caiva, oṁkārāya namo-namaḥ”, bisa diartikan = Aku haturkan sembah sujudku kepada-Mu (Oṁkāra) yang memenuhi segala keinginan, mengantar kepada mokṣa/kebebasan sejati.

Jadi secara keseluruhan mantra ini bermakna = Para yogi senantiasa bermeditasi kepada Oṁkāra, yang memiliki bindu, yang memenuhi segala keinginan, yang mengantar kepada mokṣa/kebebasan sejati. Kepada-Mu, aku haturkan sembah sujud berkali-kali!

 

Jaya Gurudev! Oṁ Śāntiḥ, Śāntiḥ, Śāntiḥ.