Cermin

Sudah sekian ribu tahun manusia membahas Tuhan. Ada begitu banyak teori dan praktik yang lahir dari pemahamannya itu. Namun, apakah kita sudah lebih dekat dengan kebenaran?

No comments

Sudah sekian ribu tahun manusia membahas Tuhan. Ada begitu banyak teori dan praktik yang lahir dari pemahamannya itu. Namun, apakah kita sudah lebih dekat dengan kebenaran? Saat ini masih sering muncul perdebatan model-tentang-Tuhan mana yang paling benar. Banyak pula yang tak segan “membela” mati-matian model-tentang-Tuhan-nya dan/atau mencoba membuktikan kesalahan model orang lain. Ribuan tahun berlalu, dan sepertinya kita belum juga sampai pada kesimpulan yang satu.

Ketika bencana alam terjadi, ada yang bilang Tuhan sedang marah, dan ada pula yang bilang Tuhan memberikan ujian kepada hamba-hambanya. Tergantung siapa yang kena. Kalau kita sendiri, atau kelompok/keluarga kita, teori kedua yang benar. Kalau orang lain yang jadi korban, kita pakai teori pertama. Apapun itu, kenyataannya kehidupan berjalan lagi dan ingatan kita kembali disibukkan hal-hal lain. Kita tidak pernah benar-benar tahu Tuhan yang mana yang benar.

Walaupun kita sudah cukup lama tahu bahwa dunia manusia di atas planet Bumi ini bukanlah pusat alam raya, namun mentalitas kita belum banyak berubah. Semesta begitu luas. Planet kita hanyalah setitik debu kecil yang terserak di salah satu sudutnya. Memahami ini, rasanya begitu remeh jika Tuhan hanya mencintai salah satu suku bangsa atau umat hanya karena mereka percaya suatu dogma dan Tuhan membenci lainnya karena tidak mempercayai dogma tadi.

Teori-teori tentang Tuhan, istilah kerennya ‘teologi’, yang didasarkan pada kajian atas suatu teks dibela mati-matian karena keterikatan emosional yang diajarkan kepada kita sejak kecil oleh lingkungan. Teori-teori itu sudah terjalin rumit di dalam pola pikir, adat kebiasaan, tradisi, dan segala apa yang masyarakat lakukan. Jadi, tantangan terhadap teori-teori itu menjadi ancaman terhadap kehidupan kita sendiri yang sepenuhnya bergantung kepada sistem kemasyarakatan. Sering kali teori-teori itu tidak ada hubungannya dengan kebenaran.

Mungkin karena itulah, dulu orang-orang yang berupaya memahami kebenaran pergi menjauh dari masyarakat. Mereka pergi ke tengah hutan rimba atau ke puncak-puncak gunung. Menyepi. Ia hanya mempunyai keterikatan minimal dengan alam. Dalam keheningan itu pandangannya bisa lebih jernih. Sedangkan kita yang masih bergantung kepada masyarakat hanya bisa bermain-main dengan kata-kata dan “katanya” saja. Seberapa pun yakinnya kita terhadap suatu teori, itu hanya “cerminan” pengkondisian yang kita terima.

Ada banyak bentuk pengkondisian masyarakat yang kemudian melahirkan macam-macam teori tentang Tuhan atau teologi. Oleh karena itu, tradisi para resi tidak mengenal teologi. Atau mungkin lebih tepatnya, para resi bermain-main dengan berbagai macam teologi. Ini membuat para ilmuwan modern bingung. Ada yang bilang bahwa Sanatana Dharma itu politeis, ada yang bilang monoteis, kok. Ilmuwan lain menyebutnya monis, henoteis, panenteis, panteis, agnostik, humanis, bahkan ada unsur-unsur ateisme atau nonteisme di dalamnya.

Mana yang benar? Semuanya, sekaligus tidak ada! It doesn’t matter! Tidak masalah apa yang kita mau percayai. Dogma teologi hanyalah langkah-bayi pertama yang seharusnya mengantar kita kepada kebenaran. Dogma teologi adalah bahasa yang gagap. Pada saatnya, teori-teori tadi malah perlu dilepaskan seiring berkembangnya kesadaran kita. Sayangnya tidak semua agama/kepercayaan mempersilakan umatnya menempuh perjalanan mandiri. Kebanyakan malah menuntut kesetiaan, kepatuhan pada dogma. Bahkan ada yang menggunakan ketakutan untuk mencapainya. Mereka menjadi sibuk dengan ‘isme’-nya dan ‘isme’ orang lain.

Keluarlah dari permainan pikiran! Sadari ketakutan yang dibuat-buat demi merantai kaki-kaki kita! Manusia pada dasarnya (bisa) bebas, moksha, dari pengkondisian itu. Mungkin para resi benar bahwa Tuhan adalah kesadaran itu sendiri. Seperti cermin, kita melihat bayang-bayang pikiran kita di atasnya lalu kita pikir itulah Tuhan. Kemudian kita mulai berdebat dan saling menjatuhkan. Kita tidak sadar bahwa ketika bayang-bayang pikiran tak lagi mengganggu-lah, baru kita bisa menyadari keberadaan Sang Cermin.

Tinggalkan Balasan