Kasta dan Hinduisme

Banyak salah mengira kasta dan Hinduisme tak terpisahkan. Seperti apa sebenarnya?

3 comments

(CATATAN: Tulisan ini pertama kali saya posting pada 10 Agustus 2018 dan akan diperbarui secara berkala. Tulisan ini terakhir diperbarui pada 14/10/2019.)

Buat sebagian orang kasta dan hinduisme saling berkaitan dan sulit dipisahkan. Bagi mereka setiap orang Hindu harus masuk ke dalam sistem kasta, dan kasta adalah ajaran yang hanya ada dalam Hinduisme. Pandangan ini memperoleh “afirmasi” dari kenyataan yang ada di tengah sebagian komunitas Hindu, khususnya dan yang paling banyak menyita perhatian adalah praktik sistem kasta di India. Penerapan sistem kasta yang tidak manusiawi kerap menjadi noda hitam dan titik serang terhadap Hinduisme dari luar.

Hal ini tidak bisa, dan tidak perlu ditutupi. Perilaku buruk yang ada di dalam masyarakat perlu dilihat dengan jujur, barulah kemudian itu bisa dianalisi lalu diperbaiki. Kenyataannya, praktik kasta bisa digunakan sebagian orang untuk mengkerdilkan potensi manusia, menciptakan ketidakadilan, dan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok marginal. Semua itu tentu saja bertentangan dengan ajaran dasar dalam Hindu Dharma. Misalnya di dalam Maha Upanishad disebutkan bahwa:

“Mereka yang picik berpikir demikian: ‘ini kaum/umatku, dan yang itu bukan’. Namun mereka yang berpikiran luhur melihat bahwa sesungguhnya seluruh dunia (vasudhaiva) adalah satu keluarga (kuṭumbakam).”

Kesalahpahaman tentang praktik kasta ini juga sengaja dijaga. Kasta terus langgeng di tengah sebagian masyarakat Hindu karena tidak hanya menguntungkan segelintir elit di dalam masyarakat Hindu sendiri namun juga para misionaris. Para misionaris berkepentingan menyudutkan ajaran Hindu sehingga mereka bisa “memanen” umat yang tidak setuju dengan praktik kasta. Mereka memanfaatkan kekuatan pengaruh mereka untuk memelihara stigma dan narasi yang salah—misalnya di dalam media massa yang mereka kuasai, serta di dalam pelajaran di sekolah hingga universitas—dan jelas-jelas tidak berkepentingan untuk memperbaiki kekeliruan. Mereka sebenarnya tidak berpihak pada yang tertindas oleh praktik kasta, tetapi melihatnya sebagai peluang memperbanyak jumlah umat.

Bukan Agama Dogmatis
Oke, mari untuk sesaat kita anggap saja sistem kasta (sebagaimana yang dipahami awam) adalah bagian dari ajaran Hindu. Namun, bukan berarti bahwa umat Hindu sendiri tidak punya kemampuan dan mekanisme untuk menilai apakah suatu ajaran masih relevan dan bisa diterapkan. Tidak seperti kepercayaan berbasis dogma kitab suci, Hinduisme percaya bahwa kebijaksanaan dan kesadaran yang pernah diperoleh para resi dahulu dan terangkum dalam teks-teks suci śruti bersifat abadi dan selalu mengalir, tidak berhenti pada satu waktu di masa lalu dan ikut berkembanng bersama meluasnya kesadaran manusia. Pemahaman dan penerapannya bisa berkembang mengikuti deśa, kāla, pātra—yaitu tempat/kondisi, waktu/zaman, serta orang/subyeknya. Untuk itu dibutuhkan buddhi dan viveka.

Sebagai agama yang berakar dari peradaban yang berumur lebih dari 5.000 tahun, Hinduisme atau Sanatana Dharma telah menyaksikan perubahan-perubahan yang terjadi dari zaman ke zaman sehingga ia tidak mengharamkan pemahaman baru, penyegaran. Karena itulah Sanatana Dharma disebut juga Nutana Dharma. Nutana berarti selalu membaru. Teks suci tidak dipandang sebagai sesuatu yang baku dan kaku. Bahkan kesadaran, kebijaksanaan, pencerahan yang diperoleh para resi dulu masih bisa diakses oleh para suci, bijak, guru, begawan masa kini.

“Sumber utama ajaran Dharma adalah kitab-kitab śruti (Veda inti), kitab-kitab smṛti (turunan śruti yang terdiri dari berbagai śāstra, wiracarita Mahabharata dan Ramayana, pustaka-pustaka Puraṇa, dan seterusnya), serta śiṣṭācāra (ajaran dan contoh perilaku para suci/bijak yang senantiasa hidup dalam kebenaran dan kemuliaan). Ketiganya ini sanātana (sangat tua namun langgeng).” —Sara-samuccaya 46

Kitab-kitab suci (śruti dan smṛti) seperti telunjuk yang menunjuk kepada Dharma, Kebijaksanaan, Kesadaran itu sendiri. Sedangkan para suci, bijak, guru, begawan masa kini ini adalah “kitab yang hidup”. Mereka membabarkan ajaran Dharma (śiṣṭa) lewat teladan perilaku hidup yang berkesadaran (ācāra). Mereka hadir di tengah-tengah masyarakat dari zaman ke zaman. Tidak ada istilah resi atau guru terakhir, atau mesiah tunggal. Inilah kunci kelanggengan Dharma. Jika bersandar pada teks saja kita akan mudah terjebak dalam fundamentalisme dan melanggengkan sesuatu yang boleh jadi sudah tidak lagi cocok diterapkan pada deśa, kāla, pātra saat ini.

on-the-heights-roerich
Hinduisme mengenal tradisi pencarian ke dalam diri untuk menemukan Kedewataan. Mereka yang telah berhasil menyaksikan-Nya dan menaklukkan hawa nafsunya kemudian berbagi di tengah masyarakat. (Gambar: blavatskytheosophy.com).

Bahkan dikatakan dalam Mahabharata 13.162.60 bahwa Dharma ada di dalam diri, ‘being’ setiap makhluk sehingga menjalankan Dharma sesungguhnya baik untuk makhluk itu sendiri. Dharma adalah sesuatu yang natural, muncul ketika manusia tidak lagi terperangkap dalam preya (kejar mengejar kesenangan sementara) dan telah memahami śreya (segala apa yang baik dan memuliakan, bukan hanya menyenangkan). Pemahaman dasar inilah yang perlu dipahami sebelum kita masuk ke dalam pokok pembahasan kita.

Kasta vs Varṇa
Banyak mengira bahwa kasta adalah istilah Sanskerta dari dalam Hindu sendiri. Istilah ini sebenarnya adalah “pemberian” bangsa Portugis. Kasta berasal dari bahasa Portugis ‘casta’ yang berarti: keturunan, ras, kasta. Kata ini diduga berasal dari bahasa Latin ‘castus’ = memotong, memutus. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah pembagian kelompok-kelompok dalam masyarakat berdasarkan keturunan/ras yang dikenal sebagai kasta ini dikenal dalam teks-teks suci Hindu?

Kasta sering dipadankan dengan varṇa yang memang menggolongkan manusia ke dalam empat kelompok: Brāhmaṇa, Kṣatriya, Vaiśya, dan Śūdra. Kata varṇa sendiri berarti warna (seperti dalam bahasa Indonesia), berbagai suara/aksara dalam susunan alfabet, atau penggolongan/pengelompokan. Akar katanya adalah vṛ yang bermakna: menutupi/melapisi (seperti cat), memilih, membagi. Lantas, keempat varṇa tadi dibagi beradasarkan apa? Ras, kelahiran, keahlian, bakat, atau keinginan si individu?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita perlu memahami asal konsep varṇa di dalam teks-teks inti Hindu. Pembagian varṇa pertama kali muncul di dalam Rig Veda sebagai berikut:

yat puruṣaṃ vyadadhuḥ katidhā vyakalpayan, mukhaṃ kimasya kau bāhū kā ūrū . ucyete. (11)

brāhmaṇo‘asya mukhamāsīd bāhū rājanyaḥ kṛtaḥ, ūrūtadasya yad vaiśyaḥ padbhyāṃ śūdro ajāyata. (12)

—Purusha Sukta, Rigveda 10.90.

Purusha Sukta adalah salah satu bagian dari Rig Veda yang cukup populer. Di dalam sukta ini digambarkan secara puitis dan filosofis bagaimana segala sesuatu di alam raya, termasuk masyarakat manusia, tercipta. Sukta ini menggambarkan bahwa segala sesuatu ini lahir/tercipta karena pengorbanan Purusha, atau sang manusia kosmis. Sang Purusha mempersembahkan dirinya ke dalam api yajña, dan kemudian dari tubuhnya muncul segala sesuatu dari benda-benda langit, matahari, bulan, keempat Veda, para dewa, begitu pula makhaluk-makhluk hidup di muka bumi, dan seterusnya.

Mantra kedua belas di atas kemudian menggambarkan bahwa mulut Sang Purusha menjadi para brāhmaṇa, lengan-Nya para kṣatriya atau rājanya, lalu paha-Nya para vaiśya, dan kaki-Nya śūdra—demikian, tatanan sosial juga lahir dari Sang Purusha. Karena pernyataan bahwa śūdra berasal dari kaki Purusha inilah kebanyakan orang yang tidak memahami Hindu secara utuh menganggap kelompok ini paling rendah dan bisa diperlakukan seenaknya.

Ini tidak benar. Apakah kita membeda-bedakan anggota tubuh kita, yang di bawah lebih nista dari yang di atas? Mantra ini mengajarkan bahwa setiap anggota masyarakat haruslah berfungsi seperti setiap bagian anggota tubuh melayani keseluruhan sesuai peran masing-masing. Harmoni ini bukan hanya antara manusia yang memainkan berbagai peran di dalam masyarakat, namun juga antara manusia dengan alam raya, para dewa (yang juga lahir dari Purusha yang sama), serta manusia dengan makhluk-makhluk lainnya.

yad grāme yad araṇye yat sabhāyāṃ yad indriye, yac-chūdre yad arye yad enaś cakṛmā vayaṃ yad ekasyādhi dharmaṇi tasyāvayajanam asi. — Yajur Veda 20.17.

Maafkanlah kesalahan-kesalahanku (enas), Oh Tuhan, baik yang kulalukan di desa (terlihat jelas, terang-terangan) maupun di hutan (sembunyi-sembunyi), dalam majelis (kepada masyarakat) maupun kepada indraku (diri sendiri). Kesalahan-kesalahan yang kuperbuat kepada śūdra (mereka yang membantuku), dan kepada arya (mereka yang kucintai, kulayani, kuhormati), bahkan kesalahan/dosa yang kuperbuat ketika menghalang-halangi seseorang menjalankan dharma-nya, aku memohon ampunanMu.

Diverse Multiethnic People with Different Jobs
Agar berjalan dengan baik, setiap masyarakat memerlukan orang-orang yang bekerja di beragam sektor.

Seperti organ-organ tubuh, setiap manusia memiliki sifat dan peran yang berbeda-beda. Tubuh kita tidak bisa diisi semua oleh otak, tanpa jantung, usus, kaki, dan sebagainya. Inilah yang disampaikan oleh Shri Krishna di dalam Bhagavad Gita 18.41, bahwa keempat varṇa ditentukan oleh dua hal: guṇa (sifat, karakter, kualitas) dan karma (tindakan, peran, perbuatan) seseorang. Setiap varṇa kemudian memiliki kode etik tersendirivarṇa-dharma, demi menjalankan keseluruhan fungsi dalam masyarakat.

Ada yang berpendapat bahwa seorang brāhmaṇa harus memiliki guṇa sattva—dilambangkan dengan warna putih—yang dominan. Para kṣatriya bisa memiliki rajas—dilambangkan dengan warna merahyang cukup kuat, namun harus disertai oleh sattva. Sedangkan seorang vaiśya dominan rajas dan tamas. Sedangkan śūdra dominan tamas—dilambangkan dengan warna hitam. Ada juga pendapat-pendapat lainnya. Setiap varṇa punya peran dan sesuatu yang disumbangkan bagi masyarakat.

virat-Rupa
“Atas kehendak-Ku lahirlah keempat varṇa berdasarkan sifat dan peran masing-masing. Walaupun demikian, Aku (yang ada di dalam diri setiap individu) tidak berubah, tidak terbagi, dan tidak terpengaruh.” —Bhagavad Gita 4.13.

Seorang brāhmaṇa mengurusi hal-hal yang terkait dengan ritual keagamaan, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka adalah para pendeta, pendidik, ahli hukum, filsuf, dan ilmuwan. Dalam menjalankan perannya, mulut menjadi orang yang penting bagi mereka. Kṣatriya memiliki peran untuk pertahanan, bekerja dalam pemerintahan, dan tata kelola masyarakat—ini dekat dengan fungsi tangan dan lengan. Mereka adalah para tentara, polisi, pegawai pemerintahan, anggota dewan, dan seterusnya.

Ada hal yang menarik dengan kelompok vaiśya dan śūdra. Pada mulanya, vaiśya adalah semua yang lain (viśva = semua) di luar dua kelompok yang disebutkan sebelumnya. Pada beberapa teks lain dan yang lebih tua, sering disebut tiga varṇa saja. Mereka ini adalah para penggerak utama perekonomian, mereka adalah pencipta kekayaan atau wealth. Di kemudian hari peran ini menjadi lebih spesifik: para pebisnis, petani, nelayan, pedagang, seniman dimasukkan sebagai vaiśya. Sedangkan śūdra adalah mereka yang memberikan tenaga dan keahliannya membantu peran yang lain.

Pembagian tugas seperti dalam sistem varṇa ini sebenarnya bisa dijumpai di semua masyarakat, bahkan di luar masyarakat Hindu, dan terjadi secara alami. Jika setiap orang memahami karakter dan sifat dasarnya, kemudian bekerja di bidang yang sesuai tentu saja akan membuatnya bahagia dan ia akan berkontribusi secara optimal. Veda tidak menyebutkan secara spesifik bahwa varṇa seseorang harus sama dengan kedua orang tuanya. Bahkan kita bisa berpindah dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Banyak contohnya di dalam pustaka suci Veda. Dalam praktiknya, seiring waktu, terjadi pergeseran.

Sistem varṇa memiliki landasan yang mungkin asing di zaman modern yang individualistis, yang kerap hanya menekankan pada satu sisi saja: kepuasan diri sendiri, passion masing-masing. Sering kali kita menginginkan sesuatu yang menyenangkan, preya, namun lupa menanyakan apakah ini sesuai, baik, mulia, dan memuliakan, śreya. Menurut saya, ini adalah inti dari kebijaksanaan sistem varṇa: kenali dirimu, bakat dan karaktermu (guṇa), serta temukan pekerjaan (karma) yang tidak hanya baik untuk dirimu, tapi juga untuk masyarakat luas. Namun di atas itu semua, potensi utama kita adalah sama dan satu: menjadi manusia, kemanusiaan itu sendiri.

***

Berikut ini adalah mantra-mantra Veda yang juga terkait dengan varṇa, profesi, peran seseorang di dalam masyarakat sebagai pengaya:

Rig Veda, Mandala 9, Sukta 112:

  • nānānaṁ vā u no dhiyo vi vratāni janānām | takṣā riṣṭaṁ rutam bhiṣag brahmā sunvantam icchatīndrāyendo pari srava || 1 ||
    Artinya: Manusia memiliki berbagai pemahaman/inteligensia (dhī) dan pekerjaan/peran (vrata). Tukang kayu memperbaiki (perabot) yang rusak, dokter menyembuhkan si sakit, para bijak mencari sari kebijaksanaan. Oh Soma, mengalirlah dari segala penjuru untuk Indra (Jiwa).
  • jaratībhir oṣadhībhiḥ parṇebhiḥ śakunānām | kārmāro aśmabhir dyubhir hiraṇyavantam icchatīndrāyendo pari srava || 2 ||
    Artinya: Ada yang bekerja dengan kayu-kayu tua, ada yang bekerja dengan tumbuhan obat, ada yang bekerja dengan bulu-bulu burung. Pencari emas mencoba menemukan emas di dalam bebatuan sepanjang hari. Oh Soma, mengalirlah dari segala penjuru untuk Indra (Jiwa).
  • kārur ahaṁ tato bhiṣag upalaprakṣiṇī nanā | nānādhiyo vasūyavo ‘nu gā iva tasthimendrāyendo pari srava || 3 ||
    Artinya: Aku seorang penyair. Ayahku seorang penyembuh, dan ibuku bekerja sebagai penggiling (biji-bijian). Dengan berbagai tujuan, pemahaman, semua orang mencari kebaikan/kekayaan (vasu) dan kami mengikutinya (vasu) seperti sapi-sapi. Oh Soma, mengalirlah dari segala penjuru untuk Indra (Jiwa).

Yajur Veda 18.48:

  • rucaṃ no dhehi brāhmaṇeṣu rucaṃ rajasu naskṛdhi, rucaṃ viśyeṣu śūdreṣu mayi dhehi rucā rucam.
    Artinya: Berikanlah pencerahan (ruca = cahaya, pencerahan) kepada para brahmana, kepada para ksatriya, waisya, dan shudra. Berikanlah juga kepadaku pencerahan melalui cahayaMu.

Yajur Veda 26.2.a–b:

  • yathemāṃ vācaṃ kalyāṇīmāvadāni janebhyaḥ, brahmarājanyābhyāṃ śūdrāya cāryāya ca svāya cāraṇāya ca.
    Artinya: Kusampaikan kata-kata/ajaran yang mulia & memuliakan ini kepada semua manusia, kepada para brahmana, ksatriya, kepada para shudra dan kepada waisya, kepada sanak-kerabat, juga kepada orang-orang asing.

3 comments on “Kasta dan Hinduisme”

  1. Senang menemukan tulisan yang membahas kasta dengan mendalam, terima kasih sudah menuliskan ini. Pandangan soal inti sistem varna yang dituliskan rasanya lebih terhubung baik ke pengetahuan varna di veda asalnya. Membaca Larry Gonick yang menuliskan bangsa Arya membawa sistem varna ke India untuk menjaga kemurnian ras mereka yang sudah berkembang di India, menimbulkan pertanyaan: apabila veda dibawa oleh Arya ke India lalu dipakai untuk membagi ras dalam kasta berarti asal mula penggunaan sistem varna memang sengaja dipakai sebagai alat politik?

    1. Menurut saya tidak, sebagaimana dijelaskan dalam tulisan. Awalnya, dari teks-teks Veda, pembagian ini adalah profesi yang sifatnya lebih fleksibel daripada praktiknya belakangan. Pembagian ini juga terjadi secara alamiah pada berbagai kelompok masyarakat. Keempatnya adalah fungsi-fungsi yang dibutuhkan untuk berjalannya suatu komunitas. Ada sloka suci yg mengatakan semua manusia terlahir shudra, perannya adl melayani masyarakat, semesta. Sisi spiritual seperti ini sering diabaikan sarjana barat yang sudah mempunyai pandangan/ideologi tersendiri sehingga yang dilihatnya hanya sisi itu.

      1. Saya juga berpendapat praktiknya akan sulit dengan apa yang dituliskan di teks Veda. Saat ini sedang berusaha mencari tahu pada rentang historis kapan sifat fleksibel tersebut hilang dan mulai dimanfaatkan segelintir elit seperti yang dituliskan di atas.

Tinggalkan Balasan