Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Current Affairs, Seri Sanatana Dharma, Vedic Scriptures

Mengurai Kebohongan Ramalan tentang Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Veda (Bagian 2)

November 24, 2018

(Tulisan sebelumnya… Klaim #1)

Saya bertanya-tanya: Kenapa, ya, Tuhan perlu membuat “ramalan-ramalan” yang samar dan multi-interpretasi tentang Nabi Muhammad di dalam Veda, sedangkan kisah tentang Isha Masiha (mungkin perlu tulisan terpisah), walaupun singkat dijelaskan dengan gamblang, tanpa teka-teki—toh, Hindu Dharma tidak alergi dengan agama/kepercayaan lain? Sejak awal, Santana Dharma mengakui keberagaman kepercayaan. Jika Sang Nabi memang sedemikian pentingnya, mengapa Tuhan perlu sembunyi-sembunyi?

Kalaupun “ramalan” itu benar ada, lantas kenapa? Apakah semua umat Hindu harus segera #gantiagama? Padahal Sanatana Dharma percaya bahwa orang-orang suci lahir dari zaman ke zaman. Karena kasihnya, mereka lahir ke dunia untuk membimbing siapa saja yang ingin meraih kebebasan spiritual. Sedangkan ritual—seperti sembahyang, derma, aturan mengenai pakaian, makanan, dan sebagainya—bukanlah hal yang esensial, bersifat kontekstual, dan bisa berubah dari masa ke masa.

Sekarang kita lanjutkan tulisan sebelumnya. Kita akan mengulas klaim-klaim spesifik yang dibuat oleh (saya sebut kelompok ini) para pendakwah-misionaris, yaitu yang “konon” tertulis di dalam pustaka suci umat Hindu. Saya membaginya menjadi dua:

– Klaim-klaim di dalam Catur Veda; dan
– Klaim-klaim di dalam Purana—baik itu kisah awatara Kalki maupun sumber lain.

Saya akan coba bahas klaim-klaim utamanya saja karena tidak semuanya “layak dibahas”—sisanya, cukup ditertawakan saja. Hampir semua “ramalan” di atas tidak tegas, samar, imajinatif, dan perlu agak banyak “akrobat” supaya cocok dengan “pesanan”. Berbagai klaim yang saya bahas bisa dilihat di sini. Namun, ada satu “ramalan”—sebenarnya lebih tepat disebut peringatan—yang cukup menarik diselisik; akan saya bahas di akhir. Jadi, ikuti terus seri tulisan ini.

***

Klaim #2
Nabi Muhammad diramalkan dalam Atharvaveda 20.127.

Sukta ke-127 di dalam Kanda ke-20 (terakhir) Atharvaveda berisi 14 mantra dan sering disebut Kuntāpa Sūkta. Para pendakwah-misionaris mengatakan bahwa kuntāpa berarti: (1) pemusnah penderitaan dan mara bahaya = pesan perdamaian dan keselamatan = Islam; (2) kelenjar yang tersembunyi di perut = sesuatu yang tersembunyi dan akan diungkapkan di masa depan = Nabi Muhammad; (3) masih terkait dengan makna sebelumnya, perut = pusar atau titik tengah bumi = Makkah. Luar biasa!

Kita bisa lihat betapa kreatifnya mereka meracik makna. “Kreativitas” (baca: kebohongan) seperti ini tidak terbatas—mereka bisa sesuka hati membuat-buat sesuatu yang sesungguhnya tidak ada. Mereka tidak perlu pendalaman, apalagi metode ilmiah—hanya perlu satu: kepercayaan bahwa dirinya benar. Kepercayaan seperti ini membutakan dan membuat mereka “tega” melakukan apa saja. Kalau salah? Ya, tidak apa-apa. Semuanya semata-mata demi Tuhan, kok.

Para pakar Veda mengatakan bahwa Kuntāpa bersifat tambahan (khila) dan memiliki makna ‘kuyān tapyate’ yaitu membakar keburukan-keburukan. Kitab Gopatha Brāhmaṇa mengatakan bahwa mantra-mantra Kuntāpa diuncarkan untuk memusnahkan, menghilangkan efek-efek buruk, negativitas di sekitar kita. Dan sebenarnya total ada 13 Sukta yang disebut Kuntāpa-Sūktāni, yaitu Sukta ke-2, 48, 49, 127–136 di dalam Kanda yang sama. Jadi, bukan hanya satu Sukta saja!

Kalau Sukta ke-127 membahas Islam/Nabi Muhammad/Makkah, lalu bagaimana dengan Sukta-sukta lainnya? Saya yakin dengan kemampuan imajinasinya, mereka akan mampu merangkai cerita baru yang tidak kalah luar biasa! Kita tunggu saja.

Sambil menunggu, sekarang kita akan mencari tahu apa yang membuat mereka “melihat” Nabi Muhammad di dalam Sukta 127. Ada dua kata utama yang membuat mereka lompat kegirangan: (1) uṣṭrāḥ, dan (2) māmahe. Uṣṭra memiliki beberapa makna, yaitu kerbau, sapi jantan berpunuk, atau unta (Kamus Monnier-Williams). Oke, kita anggap saja makna kata uṣṭra di sini adalah unta, lantas apakah serta merta Atharvaveda 20.172.2 hanya bisa dikaitkan dengan Timur Tengah atau Arab, dan selanjutnya Nabi Muhammad dan Islam saja?

Wilayah habitat alami unta ternyata cukup luas: dari Afrika Utara, Timur Tengah, hingga ke bagian barat Anak Benua India. Uṣṭra bukan binatang yang asing di dalam kitab-kitab Veda. Di dalam Rigveda (RV 8.46.32 dan 8.5.37), uṣṭra diberikan sebagai hadiah—di samping lembu/sapi—oleh raja-raja kepada para brahmana. Uṣṭra juga tercatat digunakan sebagai penarik kereta di dalam teks-teks lainnya. Para pendakwah-misionaris membatasi makna kata uṣṭra, lalu mengurungnya dalam konteks yang sangat sempit agar mendukung propaganda yang sedang disebarkan.

domestic_map
Peta persebaran habitat unta.

Kata kedua yang membuat para pendakwah-misionaris bersemangat adalah ‘māmahe’.  Menurut mereka, inilah nama Sang Nabi yang tersembunyi di dalam Atharvaveda 20.127.3. Māmahe, Muhammad. Mirip, kan? Apalagi, kata mereka, māmahe berasal dari akar kata ‘mah’ yang berarti memuja, menyanjung, menghormati, meninggikan atau membesarkan. Kata ‘maha’ yang diserap ke dalam bahasa Indonesia juga berasal dari akar kata yang sama. Akar kata ‘muhammad’: ḥ-m-d ternyata juga mengandung akar makna yang sama.

Ada juga yang mengatakan bahwa māmahe sebenarnya berasal dari akar kata ‘maṃh’—yang masih bersaudara dengan √mah—yang berarti: meningkatkan, menambah, memberikan, dan menyampaikan sesuatu (lewat kata-kata). Māmahe dijumpai juga di dalam Rigveda, misalnya: 1.165.13; 5.27.1; 8.1.32; 8.2.42; 8.12.6; dan 10.62.10. Māmahe sebenarnya merupakan kata kerja intensif, jadi bukan kata benda, apalagi nama orang.

Sampai di sini saja sebenarnya sudah cukup untuk mematahkan kebohongan para pendakwah-misionaris. Namun agar lengkap, saya akan kutipkan Sukta 127 beserta makna yang diberikan oleh para pendakwah-misionaris (merah) serta komentar saya. Kutipan (merah) di bawah diambil dari laman yang mencantumkan nama Zakir Naik sebagai penulisnya (entah benar atau tidak). Ia juga pernah menyampaikannya dalam ceramah-ceramahnya.

20.127.1
idaṃ janā upa śruta narāśaṃsa staviṣyate,
ṣaṣṭiṃ sahásrā navatiṃ ca kaurama ā ruśameṣu dadmahe.

Mantra ini dimaknai:

He is Narashansah or the praised one (Muhammad). He is Kaurama: the prince of peace or the emigrant, who is safe, even amongst a host of 60,090 enemies.

Lebih lanjut dijelaskan:

The Sanskrit word Narashansah means ‘the praised one’, which is the literal translation of the Arabic word Muhammad (pbuh). The Sanskrit word Kaurama means ‘one who spreads and promotes peace’. The holy Prophet was the ‘Prince of Peace’ and he preached equality of human kind and universal brotherhood. Kaurama also means an emigrant. The Prophet migrated from Makkah to Madinah and was thus also an Emigrant. He will be protected from 60,090 enemies, which was the population of Makkah.

Di sini Nabi Muhammad dikaitkan dengan dua kata: narāśaṃsaḥ dan kauramaḥ. Narāśaṃsa berarti ‘puja-puji (bagi) seseorang’. Sedangkan Kaurama adalah nama raja/pemimpin suatu bangsa bernama Ruśama. Dalam salah satu kitab Brāhmaṇa, ada indikasi bahwa Ruśama ada kaitannya dengan bangsa Kuru—demikian pula nama Kaurama ada yang mengaitkannya dengan Kaurava (dalam Mahabharata). Entah dari mana makna ‘prince of peace’ atau ‘prince of the emigrant’ diperoleh. Sangat kreatif!

Intinya, Sukta ini berisi eulogi para brahmana atas Kaurama. Siapa dia? Sayangnya laman propaganda tersebut dengan sengaja hanya menjelaskan hingga mantra ke-4 saja. Kalau kita melihat mantra ke-7 hingga 10, dengan jelas disebutkan bahwa Sang Kaurama yang sedang dipuja-puji di dalam Sukta ini adalah Raja Parikesit. Ia adalah keturunan Kuru, sehingga pantas disebut Kaurava/ma. Para pendakwah-misionaris sengaja menutup-nutupi bagian ini demi mengecoh umat Hindu.

Mantra di atas sebenarnya bisa diterjemahkan sebagai berikut:

Oh Tuan-dan-Puan, dengarkanlah ini baik-baik, puja-puji akan dilantunkan;
Oh Kaurama, di antara Ruśama, kami menerima enam ribu sembilan puluh.

20.127.2
uṣṭrā yasya pravāhaṇo vadhūmanto dvirdaśa,

varṣmā rathasya ni jihīḍate diva īṣamāṇā upaspṛśaḥ.

Perhatikan bagaimana para pendakwah-misionaris memangkas mantra ini dan hanya fokus pada hal-hal tertentu saja:

He is a camel-riding Rishi, whose chariot touches the heaven.

The Prophet would ride a camel. This clearly indicates that it cannot be an Indian Rishi, since it is forbidden for a Brahman to ride a camel according to the Sacred Books of the East, volume 25, Laws of Manu pg. 472. According to Manu Smirti chapter 11 verse 202, “A Brahman is prohibited from riding a camel or an ass and to bathe naked. He should purify himself by suppressing his breath”.

Para pendakwah-misionaris ini tidak menyebutkan bahwa Sang Kaurama menghadiahkan kereta berserta 20 ekor uṣṭra jantan yang diiringi betinanya. Kereta tersebut memiliki bagian yang menjuntai (saya membayangkan seperti penjor) begitu tinggi, dan melengkung seolah menghindari “menggores” langit.

Kutipan di atas saltik menyebutkan sloka 202 dalam bab ke-11 kitab Hukum Manu—seharusnya 201. Sloka ini mengatakan bahwa seorang brahmana yang dengan keinginan sendiri menaiki kereta yang ditarik unta atau keledai, dan yang mandi telanjang hendaknya menyucikan diri dengan pengaturan napas tertentu. Kitab Hukum Manu tergolong kitab smṛti yang berisi aturan yang berlaku pada zamannya. Entah mengapa secara spesifik Manu melarang brahmana menaiki kereta yang ditarik unta atau keledai—perlu pendalaman lebih lanjut, yang jelas pada masa Sang Kaurama hal tersebut sepertinya tidak menjadi masalah.

Bisa kita baca bahwa mantra ini mengatakan Sang Kaurama memberikan hadiah kepada seorang Resi, kereta beserta uṣṭra-nya. Sementara itu para pendakwah-misionaris mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Sang Resi. Jadi yang mana Sang Nabi? Kaurama atau Resi yang menerima hadiah tersebut. Tidak bisa keduanya. Tipu daya mereka tidak cukup konsisten.

20.127.3
eṣa iṣāya māmahe śataṃ niṣkān daśa srajaḥ,

trīṇi śatānyarvatāṃ sahasrā daśa gonām.

He is Mamah Rishi who is given a hundred gold coins, ten chaplets (necklaces), three hundred good steeds and ten thousand cows.

This mantra gave the Rishi’s name as Mamah. No rishi in India or another Prophet had this name Mamah which is derived from Mah which means to esteem highly, or to revere, to exalt, etc. Some Sanskrit books give the Prophet’s name as ‘Mohammad’, but this word according to Sanskrit grammar can also be used in the bad sense. It is incorrect to apply grammar to an Arabic word. Actually shas the same meaning and somewhat similar pronunciation as the word Muhammad (pbuh).

He is given 100 gold coins, which refers to the believers and the earlier companions of the Prophet during his turbulent Makkan life. Later on due to persecution they migrated from Makkah to Abysinia. Later when Prophet migrated to Madinah all of them joined him in Madinah.

The 10 chaplets or necklaces were the 10 best companions of the Holy Prophet (pbuh) known as Ashra-Mubbashshira (10 bestowed with good news). These were foretold in this world of their salvation in the hereafter i.e. they were given the good news of entering paradise by the Prophet’s own lips and after naming each one he said “in Paradise”. They were Abu Bakr, Umar, Uthman, Ali, Talha, Zubair, Abdur Rahman Ibn Auf, Saad bin Abi Waqqas, Saad bin Zaid and Abu Ubaidah (May Allah be well-pleased with all of them).

The Sanskrit word Go is derived from Gaw which means ‘to go to war’. A cow is also called Go and is a symbol of war as well as peace. The 10,000 cows refer to the 10,000 companions who accompanied the Prophet (pbuh) when he entered Makkah during Fateh Makkah which was a unique victory in the history of mankind in which there was no blood shed. The 10,000 companions were pious and compassionate like cows and were at the same time strong and fierce and are described in the Holy Quran in Surah Fatah:

“Muhammad is the Messenger of Allah; and those who are with him are strong against unbelievers, (but) compassionate amongst each other.” [Al-Qur’an 48:29]

Silakan cek sendiri apakah klaim kisah sejarah Nabi yang saya kutip di atas benar atau hanya cara untuk mencocok-cocokkan apa yang ditulis di dalam mantra ini. Saya sudah jelaskan di atas tentang kata māmahe. Lagi-lagi di sini Nabi merupakan resi penerima hadiah, padahal pada mantra pertama beliau adalah sang pemberi hadiah. Pusing sendiri!

Mantra ini menjelaskan hadiah-hadiah lain yang diberikan Sang Kaurama: seratus kalung emas, sepuluh kalung bunga, 300 kuda, 10.000 sapi.

20.127.4
vacyasva rebha vacyasva vṛkṣe na pakve śakunaḥ,

naṣṭe jihvā carcarīti kṣuro na bhurijoriva.

Vachyesv rebh. ‘Oh! ye who glorifies’.

This mantra calls the Prophet as Rebh which means one who praises, which when translated into Arabic is Ahmed, which is another name for the Holy Prophet (pbuh).

Mantra ini ditujukan kepada sang resi yang disebut Rebha. Nama ini berarti pemuja, pelantun mantra-mantra pujian. Maknanya tidak persis sama dengan ‘ahmad’ sebagaimana klaim di atas.

Menerima berbagai persembahan raja, Rebha diminta untuk terus melantunkan mantra-mantra demi kesejahteraan seluruh penduduk. Lantunan Rebha dipadankan dengan nyanyian burung yang tinggal di pohon penuh buah—tiada putus, lantang, jelas.

Dari keempat mantra di atas saja kita bisa menyimpulkan bahwa isi Kuntāp Sūkta ini sama sekali berbeda dengan klaim para pendakwah-misionaris. Mereka memaksakan makna tertentu yang lain sama sekali dengan makna sebenarnya yang terkandung di dalam mantra-mantra di atas. Mereka juga dengan sengaja memotong Sukta ini dan tidak menampilkan mantra-mantra selanjutnya—yang tentu saja tidak sesuai dengan agenda mereka. Ketidak-konsistenan antara siapa tokoh yang diaku sebagai Nabi Muhammad menunjukkan lemahnya pemahaman mereka.

Hentikanlah kebohongan ini! Berhentilah mencari-cari pembenaran. Carilah Kebenaran.

(Bersambung… Klaim #3 dan #4)

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply Mengurai Kebohongan Ramalan tentang Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Veda (Bagian 3) – Harimbawa November 27, 2018 at 12:41 AM

    […] dan kisah-kisahnya di dalam kitab-kitab Veda sebagaimana yang saya tulis sebelumnya (bagian 1 dan bagian 2)—seperti orang-orang yang melihat simbol-simbol keagamaannya pada sepotong roti panggang, awan di […]

  • Reply Mengurai Kebohongan Ramalan tentang Nabi Muhammad dalam Kitab-kitab Veda (Bagian 1) – Harimbawa November 27, 2018 at 7:54 AM

    […] (Bersambung… Klaim #2) […]

  • Leave a Reply

    %d bloggers like this: