Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Seri Sanatana Dharma

Kasta dan Hinduisme

August 10, 2018

Buat sebagian orang kedua kata ini saling berkaitan dan sulit dipisahkan. Bagi mereka setiap orang Hindu harus masuk ke dalam sistem kasta, dan kasta adalah ajaran yang hanya ada dalam Hinduisme. Pandangan ini memperoleh “afirmasi” dari kenyataan yang ada di tengah sebagian komunitas Hindu, khususnya—dan yang paling banyak menyita perhatian adalah praktik sistem kasta—di India. Kasta menjadi noda hitam dan titik serang terhadap Hinduisme.

Buat sebagian besar umat Hindu sendiri, bahkan yang tidak mempraktikkannya seperti stereotype yang ada, sistem kasta telah membuat mereka malu dan minder. Setiap kali kasta disinggung, umat Hindu menjadi defensif dan bahkan ikut percaya bahwa ajaran agamanya inferior. Lucunya, umat lain tersebut tidak merasa ada yang salah dengan ajaran tentang perbudakan (bahkan budak seks), fanatisme yang melahirkan radikalisme, diskriminasi, status perempuan yang lebih rendah dari laki-laki, dan sebagainya di dalam agamanya sendiri.

Oke, untuk sesaat anggap saja sistem kasta (sebagaimana yang dipahami umum) ada dalam ajaran agama Hindu. Lantas apakah umat Hindu tidak punya mekanisme untuk melakukan pemaknaan ulang bahkan merevisi sesuatu yang sudah tidak cocok dengan perkembangan zaman? Apakah Hindu sama dengan agama-agama yang menganggap titah Tuhan di dalam kitab suci-Nya sebagai hukum baku, serta berlaku sama dan selamanya?

“Sumber utama ajaran Dharma adalah kitab-kitab śruti (Veda inti); di samping itu ada kitab-kitab smṛti (turunan śruti yang terdiri dari berbagai śāstra, wiracarita Mahabharata dan Ramayana, pustaka-pustaka puraṇa, dan sebagainya); serta śiṣṭācāra (ajaran dan contoh perilaku para bijak yang senantiasa hidup dalam kebenaran dan kemuliaan). Ketiga Dharma ini sanātana (sangat tua namun langgeng).” —Sara-samuccaya 46

Hindu tidak hanya menyandarkan ajarannya pada dogma dari buku dan tradisi semata, yang tertuang di dalam śruti dan smṛti, namun juga dari “kitab hidup”, yaitu para bijak, resi, guru yang membabarkan ajaran Dharma (śiṣṭa) lewat teladan perilaku hidup yang berkesadaran (ācāra). Mereka ada di tengah-tengah masyarakat. Tidak ada istilah resi atau guru terakhir; mereka hadir dari masa ke masa. Inilah kunci kelanggengan Dharma. Jika bersandar pada teks saja kita mudah terjebak dalam fundamentalisme, melanggengkan sesuatu yang sifatnya kontekstual.

on-the-heights-roerich
Hinduisme mengenal tradisi pencarian ke dalam diri untuk menemukan Kedewataan. Mereka yang telah berhasil menyaksikan-Nya dan menaklukkan hawa nafsunya kemudian berbagi di tengah masyarakat. (Gambar: blavatskytheosophy.com).

Pada saat yang sama Hindu juga memahami kompleksitas situasi yang dihadapi manusia pada berbagai situasi, mengikuti lokasi (deśa), zaman (kāla), dan konteksnya (pātra). Akses kepada para bijak, resi, atau guru juga mungkin tidak selalu tersedia. Oleh karena itu manusia perlu mengembangkan buddhi (inteligensia, budi) dan viveka (kemampuan memilah dan memilih tindakan yang tepat dan yang tidak tepat). Peran para bijak, resi, dan guru sesungguhnya adalah memunculkan buddhi dan viveka pada setiap orang.

Bahkan dikatakan dalamMahabharata 13.162.60 bahwa Dharma ada di dalam diri, ‘being’ setiap makhluk sehingga menjalankan Dharma sesungguhnya baik untuk makhluk itu sendiri. Dharma adalah sesuatu yang natural, muncul ketika manusia tidak lagi terperangkap dalam preya (mengejar kesenangan-kesenangan sementara) dan telah memahami śreya (segala apa yang baik, tidak hanya menyenangkan). Berangkat dari prinsip-prinsip ini, kita bisa menyimpulkan sendiri jawaban pertanyaan di atas.

Kasta vs Varṇa
Banyak mengira bahwa kasta adalah istilah dari dalam Hindu sendiri, dari bahasa Sanskerta. Istilah ini sebenarnya adalah “pemberian” bangsa Portugis. Kasta berasal dari bahasa Portugis ‘casta’ yang berarti: keturunan, ras, kasta. Kata ini diduga berasal dari bahasa Latin ‘castus’ = memotong, memutus. Apakah pembagian kelompok-kelompok dalam masyarakat berdasarkan keturunan/ras yang dikenal sebagai kasta ini dikenal dalam teks-teks suci Hindu?

Kasta sering dipadankan dengan varṇa yang memang membagi masyarakat ke dalam empat kelompok: Brāhmaṇa, Kṣatriya, Vaiśya, dan Śūdra. Dalam praktiknya memang tidak jarang anak mengikuti varṇa orang tuanya karena berbagai hal, tapi tidak selalu. Praktik kasta mengkerdilkan potensi manusia, menciptakan ketidakadilan, dan diskriminasi terhadap kelompok-kelompok tertentu. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip-prinsip Dharma yang dijelaskan dalam tulisan sebelumnyaprabhava, dhāraṇa, ahiṃsā. Tapi apakah praktik kasta yang demikian ada dalam teks-teks suci Veda? Ternyata tidak.

Mantra-mantra berikut ini sering dipakai untuk menjelaskan asal muasal varṇa:

yat puruṣaṃ vyadadhuḥ katidhā vyakalpayan, mukhaṃ kimasya kau bāhū kā ūrū . ucyete. (11)

brāhmaṇo‘asya mukhamāsīd bāhū rājanyaḥ kṛtaḥ, ūrūtadasya yad vaiśyaḥ padbhyāṃ śūdro ajāyata. (12)

—Purusha Sukta, Rigveda 10.90.

Purusha Sukta adalah salah satu bagian dari Rig Veda yang cukup populer. Buat saya isinya sangat filosofis, mistis, dan magis. Di sini, Purusha adalah Brahman itu sendiri yang diibaratkan sebagai ‘manusia kosmis’ yang memiliki ribuan (tak terhingga) kepala, mata, dan kaki. Ia menyelubungi seluruh alam benda. Semua ini masuk dalam genggamannya. Yang menarik, digambarkan para dewa, sadhya, dan resi “menggunakan” Purusha ini dalam sebuah yajña (persembahan) kosmis.

Dari yajña pertama ini lahirlah segala sesuatu: sesajen itu sendiri, makhluk-makhluk yang terbang di angkasa, yang tinggal di hutan belantara, dan seterusnya. Veda juga lahir dari-Nya. Mantra ke-11 di atas bertanya: “Lalu mulut, lengan, dan paha-Nya jadi apa?” Mantra selanjutnya menggambarkan bahwa mulut-Nya menjadi para brāhmaṇa, lengan-Nya para kṣatriya atau rājanya, lalu paha-Nya para vaiśya, dan kaki-Nya śūdra—demikian, lahirlah tatanan sosial. Masih banyak hal lain yang dilahirkan dlm persembahan/pengorbanan agung ini.

Diverse Multiethnic People with Different Jobs
Agar berjalan dengan baik, setiap masyarakat memerlukan orang-orang yang bekerja di beragam sektor.

Orang-orang kemudian mengira bahwa karena śūdra berasal dari kaki maka ia lebih rendah daripada brāhmaṇa yang berasal dari mulut—toh, mulut lebih tinggi posisinya ketika kita berdiri. What a nonsense! Apakah kita membeda-bedakan anggota tubuh kita, yang dibawah lebih nista dari yang di atas? Tidak juga, kan?! Menurut saya hal yang coba digambarkan di sini adalah bahwa setiap anggota masyarakat haruslah berfungsi seperti setiap bagian anggota tubuh, melayani keseluruhan tubuh demi menjalankan peran Sang Jiwa di dunia ini.

Seperti organ-organ tubuh, setiap manusia memiliki sifat dan peran yang berbeda-beda. Tubuh kita tidak bisa diisi semua oleh otak, tanpa jantung, usus, dan sebagainya, walaupun otak dipandang paling penting. Inilah yang disampaikan oleh Shri Krishna di dalam Bhagavad Gita 18.41, bahwa keempat varṇa ditentukan oleh dua hal: guṇa (sifat, karakter, kualitas) dan karma (tindakan, peran, perbuatan) seseorang. Setiap varṇa kemudian memiliki kode etik tersendirivarṇa-dharma, demi menjalankan keseluruhan fungsi dalam masyarakat.

Ada yang berpendapat bahwa seorang brāhmaṇa harus memiliki guṇa sattva—dilambangkan dengan warna putih—yang dominan. Para kṣatriya bisa memiliki rajas—dilambangkan dengan warna merahyang cukup kuat, namun harus disertai oleh sattva. Sedangkan seorang vaiśya dominan rajas dan tamas. Sedangkan śūdra dominan tamas—dilambangkan dengan warna hitam. Ada juga pendapat-pendapat lainnya. Setiap warna (ya, kita menyerap kata ‘warna’ dari sini) punya peran dan sesuatu yang disumbangkan bagi masyarakat.

virat-Rupa
“Atas kehendak-Ku lahirlah keempat varṇa berdasarkan sifat dan peran masing-masing. Walaupun demikian, Aku (yang ada di dalam diri setiap individu) tidak berubah, tidak terbagi, dan tidak terpengaruh.” —Bhagavad Gita 4.13.

Seorang brāhmaṇa mengurusi hal-hal yang terkait dengan ritual keagamaan, pendidikan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka adalah para pendeta, pendidik, ahli hukum, filsuf, dan ilmuwan. Dalam menjalankan perannya, mulut menjadi orang yang penting bagi mereka. Kṣatriya memiliki peran untuk pertahanan, bekerja dalam pemerintahan, dan tata kelola masyarakat—ini dekat dengan fungsi tangan dan lengan. Mereka adalah para tentara, polisi, pegawai pemerintahan, anggota dewan, dan seterusnya.

Ada hal yang menarik dengan kelompok vaiśya dan śūdra. Pada mulanya, vaiśya adalah semua yang lain (viśva = semua) di luar dua kelompok yang disebutkan sebelumnya. Pada beberapa teks lain dan yang lebih tua, sering disebut tiga varṇa saja. Mereka ini adalah para penggerak utama perekonomian, mereka adalah pencipta kekayaan atau wealth. Di kemudian hari peran ini menjadi lebih spesifik: para pebisnis, petani, nelayan, pedagang, seniman dimasukkan sebagai vaiśya. Sedangkan śūdra adalah mereka yang memberikan tenaga dan keahliannya, membantu peran yang lain.

Pembagian tugas seperti dalam sistem varṇa ini sebenarnya bisa dijumpai di semua komunitas manusia, bahkan di luar masyarakat Hindu, yang terjadi secara alami. Bahkan para dewa dan benda-benda langit pun konon punya varṇa masing-masing. Jika setiap orang memahami karakter dan sifat dasarnya, kemudian bekerja di bidang yang sesuai tentu saja akan membuatnya bahagia dan bisa berkontribusi secara optimal. Varṇa seseorang bisa berbeda dengan kedua orang tuanya. Bahkan ia bisa berpindah dari kelompok satu ke kelompok lainnya, naik atau turun. Banyak contohnya di dalam pustaka suci Veda. Praktiknya, seiring waktu, mengalami pergeseran menjadi semakin kaku dan dimanfaatkan untuk menindas yang lemah.

Sistem varṇa memiliki landasan yang mungkin asing di zaman modern yang individualistis, yang kerap hanya menekankan pada satu sisi saja: kepuasan diri sendiri, passion masing-masing. Sering kali kita menginginkan sesuatu yang menyenangkan, preya, namun lupa menanyakan apakah ini sesuai, baik, mulia, dan memuliakan, śreya. Menurut saya, ini adalah inti dari kebijaksanaan sistem varṇa: kenali dirimu, bakat dan karaktermu (guṇa), serta temukan pekerjaan (karma) yang tidak hanya baik untuk dirimu, tapi juga untuk masyarakat luas. Namun di atas itu semua, potensi utama kita adalah sama dan satu: menjadi manusia, kemanusiaan itu sendiri.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: