Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Seri Sanatana Dharma

Sanatana Dharma 08: Senja Kala Agama

August 2, 2018

Mengapa seseorang perlu masuk ke dalam suatu agama? Bukankah kita bisa saja berpegang pada prinsip-prinsip universal, seperti keadilan, kebaikan, kasih-sayang, dan sebagainya, tanpa perlu menjadi bagian dari suatu agama? Apalagi bila kita lihat di sekitar banyak orang beragama yang malah terjebak di dalam cara pandang, kebiasaan, perilaku-perilaku yang picik, kuno, penuh kebencian, atau diskriminatif terhadap orang lain.

Dunia tidak lagi sama dengan masa ketika agama-agama itu lahir. Kini setiap negara memiliki undang-undang dan peraturan yang disusun dan bisa direvisi mengikuti perkembangan zaman dengan cara-cara yang beradab, bukan lagi hukum Tuhan yang tetap, kaku, dan tidak bisa diubah. Institusi-institusi sosial, ekonomi, politik, budaya yang ada di dalam masyarakat juga tidak lagi perlu “bersandar” pada agama-agama. Apalagi kita hidup dalam masyarakat yang plural.

Masihkah agama dibutuhkan? Manusia (yang tidak beragama) ternyata mampu menyusun nilai-nilainya, tanpa perlu menunggu titah Tuhan. Filsafat, ilmu pengetahuan, dan teknologi, toh, mampu memberikan semua yang kita butuhkan. Ekses-ekses agama seperti fanatisme, diskriminasi, dan sebagainya juga tidak akan muncul jika manusia memperoleh pendidikan yang baik dan kebutuhan-kebutuhan dasarnya terpenuhi.

Agama-agama akan semakin terdesak di dunia ini. Yang tersisa hanya dunia berkutnya, alam nanti setelah mati. Ini pun sebenarnya juga sedang ditantang. Manusia masih punya ketakutan yang belum bisa ditundukkan sepenuhnya oleh sains dan teknologi: fear of death dan/atau fear of the unknown. Saya bisa membayangkan kalau di sini pun agama-agama kalah—misalnya dengan obat awet muda, dan/atau kemampuan “mengunggah” orang ke mesin—maka habis sudah alasan manusia beragama.

Selain itu, hal lain yang belum bisa digantikan adalah ‘identitas’. Masih banyak orang yang masuk ke dalam suatu agama karena itulah identitasnya. Agama menjadi patokannya dalam menjawab siapa dia dan apa yang harus diperbuatnya. Identitas ini mengikatnya dalam jejaring sosial. Jika dilepaskan (apostasi), ia bisa dipandang sebagai pengkhianat, durhaka, bahkan musuh bagi “orang-orangnya sendiri”. Tapi ini pun makin luntur. Orang-orang mulai mengambil identitas baru, misalnya kebangsaan dan ideologi-ideologi.

Agama
Pemahaman tentang agama, baik di Indonesia maupun secara umum di dunia, dipengaruhi oleh cara pandang yang berakar dari kepercayaan-kepercayaan yang berkembang di Timur Tengah, utamanya Kristen (termasuk Katolik) dan Islam. Wajar saja karena dua kelompok agama ini mendominasi dunia, baik dari segi jumlah umat maupun penguasaan atas sumber daya, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Agama-agama ini sering disebut “agama (yang turun dari) langit”.

Sebaliknya, agama-agama lain di luar itu, misalnya berbagai kepercayaan lokal, paganisme, dan sebagainya, termasuk agama-agama dari rumpun Dharmik, disebut sebagai “agama-agama bumi”. Kelompok ini memang selalu melibatkan alam di dalam filosofi dan ritualnya—mereka berakar pada bumi. Dominasi agama-agama langit selama ini mengakibatkan narasi tunggal atas agama:

Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan, sang pencipta alam semesta, yang menurunkan wahyu-Nya kepada umat manusia melalui perantaraan utusan(-utusan)-Nya. Agama juga adalah kepercayaan dan kepatuhan kepada satu atau kumpulan kitab-kitab-Nya yang memuat kebesaran-Nya serta petunjuk, nubuat, dan aturan-aturan yang harus diikuti manusia agar meraih keselamatan.

Detailnya bisa berbeda-beda dari satu agama ke agama lain, namun inilah intinya. Mereka yang berada di luar definisi ini kerap dipandang sebelah mata bahkan primitif sehingga perlu diselamatkan, dan jika menolak, bisa ditekan bahkan diperangi. Umat dari agama-agama langit merasa memiliki misi untuk membuktikan kebenaran extraordinary claims yang terdapat di dalam kitab sucinya, membela, dan menyebarluaskannya. Akibatnya mereka menjadi dogmatis.

Dogma-dogma di dalam kitab sucinya tidak bisa dibantah karena diperoleh langsung dari Tuhan—yang sering digambarkan bertahta di langit. Buat mereka moralitas dan hukum yang mengatur tata sosial hanya bisa bersumber dari Tuhan. Tidak bisa yang lain! Sebagai sang pencipta, Tuhanlah yang paling tahu kebutuhan manusia. Manusia tidak bisa dipercaya dan dibiarkan mengatur dirinya sendiri. Berkali-kali manusia “jatuh” karena kelemahan-kelemahannya, bukan?!

Namun pandangan ini berbenturan dengan kenyataan modern. Saat ini kita hidup di dalam masa yang paling damai di sepanjang perjalanan sejarah umat manusia. Peperangan berkurang, kriminalitas menurun, kesejahteraan meningkat, dan seterusnya. Di tengah itu semua, keselamatan yang ditawarkan agama-agama berkurang “kemilaunya”. Sains, teknologi, institusi ekonomi dan politik yang terus berkembang semakin menunjukkan superioritasnya dalam banyak hal.

Extraordinary claims agama-agama mulai kelihatan rapuh di bawah sorotan nalar. Yang sebelumnya dipandang sebagai bukti-bukti kebenaran ternyata hanyalah pembenaran kosong. Pembelaan terhadap agama kerap muncul sebagai fanatisme dan permusuhan terhadap mereka yang kritis. Kita sekarang tahu bahwa moralitas bisa dibangun tanpa memerlukan sosok Tuhan. Ketika kehidupan manusia menjadi lebih baik, surga tidak lagi punya daya tarik yang sama. Banyak pula yang mempertanyakan keberadaan Tuhan atau apakah Ia masih dibutuhkan.

Sebagaimana saya sebutkan di atas, pengaruh agama-agama akan semakin surut dan terkerucut pada dua peran: 1) menghadirkan makna pada kehidupan manusia dengan memberikannya identitas; dan 2) menawarkan “obat” atas ketakutan-ketakutannya: fear of death dan/atau fear of the unknown. Tersudut, dua peran ini bisa mendorong orang-orang melakukan tindakan nekat. Cepat atau lambat kita akan sampai pada “senja kala agama”. Lalu, adakah sesuatu yang lain di luar itu?

Dharma 
Hindu Dharma adalah “agama” yang aneh. Ia tidak cocok dengan definisi agama yang disebutkan di atas. Hindu Dharma bahkan melihat bahwa identitas-identitas itu sesungguhnya maya, demikian pula ketakutan terhadap kematian dan sesuatu yang takdikenal bisa diatasi jika kita memahami realitas yang sebenarnya. Saya melihat bahwa kita sedang bergerak ke arah ini, ke arah Dharma. Apa itu Dharma? Dharma tidak sama dengan agama.

Istilah agama yang diserap dari bahasa Sanskerta āgama sebenarnya berarti dogma yang mengikat seseorang. Āgama ini bisa berubah-ubah dari satu kepercayaan ke kepercayaan (śraddhā) lainnya, bahkan bisa berbeda-beda tergantung tempat (deśa), zaman/waktu (kāla), dan konteks (pātra). Āgama secara harfiah bisa diartikan sebagai sesuatu yang comes and goes”. Membakukan bahkan memaksakannya berlaku di semua tempat, zaman, dan konteks akan mendatangkan masalah.

Sekali lagi Dharma bukan agama. Dharma tidak berkepentingan dengan iman. Dharma berada di atas sekaligus menjadi dasar dogma-dogma āgama dan berbagai kepercayaan manusia atau śraddhā—baik yang melibatkan Tuhan (teis) atau yang tidak (ateis). Oleh karenanya Dharma bersifat universal, non-sektarian, tidak membagi-bagi manusia ke dalam bermacam-macam kubu yang berseberangan, namun di saat yang sama mengakui berbagai perbedaan yang muncul karena deśa, kāla, dan pātra.

buddhisaṃjanano dharma ācāraśca satāṃ sadā, jñeyo bhavati kauravya sadā tad viddhi me vacaḥ. —Mahabharata, Shanti Parwa 142. 5.

Dharma dan kebiasaan-kebiasaan mulia (ācāra) lahir dari intelegensia/budi (buddhi); dan melalui budi pula ia dipahami.

Memang tidak mudah untuk mencari padanan kata Dharma dalam bahasa lain. Dalam tradisi peradaban Sindhu/Hindu/Indus Dharma manusia adalah bagian dari Ṛta yaitu “hukum” yang mengatur jalannya alam semesta. Manusia adalah bagian dari alam. Keberadaan kita bergantung pada alam, bukan sebaliknya. Ya, manusia bisa mengubah lingkungannya—menjadi lebih baik atau buruk—namun pada akhirnya, manusia bergantung pada sekitarnya untuk hidup.

Manusia terlahir ke dalam matriks Dharma. Sebagai bagian dari alam, ia memiliki tanggung jawab untuk ikut berpartisipasi dalam Dharma, dan bukan hak atau otoritas atas alam. Bumi tak dihamparkan buat untuk manusia, demikian pula langit, air, udara, dan makhluk-makhluk lainnya. Dalam filosofi Dharma, manusia tidak dipandang sebagai wakil Tuhan di dunia ini; manusia bukan pusat narasi apalagi pusat alam semesta. Dharma menuntut kita untuk tidak egois dan serakah. Egoisme adalah Adharma.

Dalam tradisi peradaban Sindhu/Hindu/Indo, avatāra Wisnu turun ke dunia dari waktu ke waktu untuk melindungi dunia serta menegakkan kembali Dharma bukan semata-mata demi kepentingan manusia. Bahkan sering kali kerusakan di muka bumi terjadi akibat perilaku egois manusia (yang disimbolkan sebagai raksasa) yang akhirnya ditundukkan oleh Wisnu. Inilah sebabnya di Bali, misalnya, Galungan dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma atas Adharma sekaligus pawedalan jagat atau oton gumi.

Kenapa-Saat-Galungan-Umat-Hindu-Bikin-Penjor-Ini-Maknanya_163385
Suasana meriah Galungan di Bali. Galungan sering disebut sebagai perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma. (Sumber: baliberkarya.com).

Mendefinisikan apa itu Dharma tidak mudah. Hal ini diakui dalam teks-teks seperti Mahabharata yang banyak mendiskusikan tentang Dharma. Dalam Shanti Parwa 110 Bhisma berkata kepada Yudhisthira memberikan penjelasan singkat yang bisa kita jadikan pedoman:

Semua pembahasan mengenai Dharma bertujuan untuk mencapai prabhavayaitu kesejahteraan, kebahagiaan semua makhluk, demi pertumbuhan dan perkembangannya. Apa pun yang memiliki sifat ini adalah Dharma.

Semua pembahasan mengenai Dharma bertujuan untuk menopang, merawat, mempersatukan, menjaga semua makhluk atau dhāraṇaApa pun yang memiliki sifat ini adalah Dharma.

Semua pembahasan mengenai Dharma bertujuan untuk menjaga agar setiap makhluk terbebas dari kekerasan/ketakutan atau ahiṃsāApa pun yang memiliki sifat ini adalah Dharma.

—Shanti Parwa 110. 10–12.

Bhisma menegaskan kembali bahwa untuk memahami Dharma kita tidak bisa hanya terpaku pada apa yang tertulis dalam buku-buku, termasuk kitab suci. Manusia harus mengembangkan budi atau intelegensianya untuk menentukan apa yang tepat dilakukan pada momen itu. Dharma jelas bertolak belakang dengan pandangan dogmatis yang mengikuti setiap kata yang ditulis dalam kitab suci secara buta. Dharma dilakukan karena membawa kebaikan (śreya), bukan karena diperintahkan.

Dharma ini berada di atas dan menjadi pedoman dan sumber pemerintahan dan undang-undang. Setiap kebijakan dan peraturan yang dihasilkannya harus mengikuti prinsip-prinsip di atas: bertujuan untuk mensejahterakan, membawa pertumbuhan, menjaga dan merawat harmoni, serta menghilangkan penindasan, kekerasan, dan ketakutan. Sebaliknya adalah Adharma.

Saya melihat perjalanan umat manusia saat ini cepat atau lambat akan sampai kepada Dharma—bukan sebagai dogma, tapi prinsip universal yang bisa menyatukan orang-orang dari berbagai kelompok tanpa menghilangkan ciri khasnya selama itu tidak bertentangan dengan Dharma. Dharma memberikan makna ke dalam kehidupan manusia, melampaui identitas yang semu. Inilah jalan tengah yang bisa menyatukan umat manusia, sekaligus membawanya pada jagadhita, kebebasan, dan kebahagiaan yang sejati.

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply Kasta dan Hinduisme – Harimbawa August 10, 2018 at 4:26 AM

    […] tertentu. Hal ini tentu bertentangan dengan prinsip-prinsip Dharma yang dijelaskan dalam tulisan sebelumnya: prabhava, dhāraṇa, ahiṃsā. Tapi apakah praktik kasta yang demikian ada dalam teks-teks […]

  • Leave a Reply

    %d bloggers like this: