Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Seri Sanatana Dharma

Sanatana Dharma 07: Perjalanan Diri

July 18, 2018

Ayam ātmā Brahma, “Ātman ini adalah Brahman”. Begitulah pernyataan dalam Mandukya Upanishad 1.2. Kebanyakan agama-agama lain memulai pembahasan dari Tuhan. Hindu berbeda. Hindu memulai dari manusia, individu, dari diri, ātman—yang bukan tubuh, pikiran, perasaan, atau kesukaan dan ketidaksukaan kita. Ātman inilah yang memungkinkan semua hal tadi berfungsi, seperti kereta lengkap dengan kuda-kuda dan kusirnya (Katha Upanishad 1.3.3). Ātman inilah pemilik semua itu.

Keadaan menjadi kacau, ketidakbahagiaan muncul, ketika ātman “melupakan jati dirinya” sebagai pemilik, dan menganggap bahwa ia adalah kereta badan, atau kuda-kuda indra, kusir intelegensia, atau tali kekang pikiran. Kereta bisa lecet, rusak seiring waktu. Jika dibiarkan tak terkendali, kuda-kuda tak akan mengantarkan kita sampai ke tujuan. Kusir tanpa arahan juga tidak membantu. Karena itu kesadaran jiwa atau ātman inilah yang perlu dicapai terlebih dahulu.

bharat-darshan-ratha-kalpana-the-knowing-self-charioteer

Ini bukan hal yang gampang. Selama milyaran tahun, sang jiwa diselubungi māyā atau ketidaksadaran selama perjalanan panjang kehidupan. Dari satu bentuk kehidupan ke bentuk kehidupan yang lain, kesadaran kita berkembang/berevolusi terus hingga kini kita menjadi makhluk yang punya kesempatan untuk menyingkap tabir māyā itu. Karena itu kelahiran sebagai manusia adalah anugrah utama (Sara-Samuccaya 10).

Tapi tidak semua manusia menyadarinya. Ia bisa lahir, hidup, dan mati berkali-kali dalam ketidaksadaran. Terus-menerus memenuhi keinginan-keinginan yang tiada habisnya, berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Hingga suatu ketika ada satu-dua orang yang mencapai titik jenuh, dan dia memulai perjalanan ke dalam dirinya. Siapa aku? Apa mauku? Buat apa aku ada?

Ia mulai merasakan desakan untuk bebas dari hal-hal yang sebelumnya ia anggap dirinya: harta benda, anak-cucu, pasangan, sahabat, tubuhnya, ideologi, agama, dan seterusnya. Ternyata semua itu tidak abadi. Untuk sesaat hal-hal itu ada, dan ia merasa bahagia. Namun hukum alam memaksa terjadinya perubahan-perubahan. Suatu saat ia pun menyadari kesalahan mengasosiasikan dirinya dengan semua itu, bahagia jika semuanya sesuai harapan, dan berduka ketika sebaliknya.

Dorongan itu membuatnya ingin menjauhkan diri, menyepi dari dunia dengan segala hiruk pikuknya. Ia tinggal dengan sangat sederhana agar pikiran dan nafsunya tak menjadi liar. Ia pun mulai memejamkan matanya dan mencari jawaban ke dalam dirinya sendiri. Lapis demi lapis kepalsuan terkelupas. Upaya ini mungkin berlangsung lebih dari satu masa kehidupan. Setiap kali, ia akan “didorong” mengingat kembali pencapaiannya di kehidupan sebelumnya.

Ini tidak mudah. Kesadarannya bisa bangkit dan jatuh lagi. Berkali-kali. Hanya segelintir yang akhirnya mencapai kebebasan dari kesadaran ilusif itu. Mereka mencapai mokṣa dan akibatnya ia tidak perlu lagi hidup dalam “penjara” tubuh, pikiran, dan perasaan. Sebagian, karena kasih, masih merasa perlu “turun gunung” dan membantu perjalanan yang lain. Mereka inilah para bijak, resi, guru yang kehadirannya saja sudah menjadi berkah bagi makhluk-makhluk di sekitarnya.

Menghadapi orang-orang dengan berbagai tingkat kesadaran, mendorongnya merancang berbagai metode yang bisa membantu mereka. Kadang ia membuat cerita yang terdengar luar biasa, seperti ibu yang penuh kasih melakukan segala macam cara agar anaknya mau makan sayuran yang sebenarnya baik untuk diri si anak itu sendiri. Ketika sang bijak meninggalkan tubuhnya, lama kelamaan ajarannya menjadi semakin kaku bahkan dipertahankan mati-matian oleh umatnya.

Di sisi lain, perubahan tidak selalu disambut. Mereka yang masih terikat dengan identitas-identitas palsu tidak suka bila identitas itu diusik-usik. Jika seorang bijak lain datang dan mengganggu kenyamanannya, maka ia bisa dimusuhi, bahkan dibunuh oleh masyarakatnya sendiri. Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo—yang mana INDO-nesia adalah bagian darinya—sangat unik karena sang bijak, guru, resi hadir dari generasi ke generasi. Kehadirannya bahkan disambut dan dirayakan.

Tidak ada istilah resi terakhir. Masyarakatnya terbentuk sedemikian sehingga kebijaksanaan terus mengalir, menyegarkan pesan-pesan yang sudah saatnya dimaknai ulang. Ke-resi-an adalah potensi semua orang, mokṣa bukan monopoli kaum/bangsa tertentu. Asalkan mau berupaya, dalam kehidupan ini pun kita bisa mencapainya. Orang-orang dengan tingkat kesadaran berbeda punya resep “obat” masing-masing. Karena itu penduduk peradaban Sindhu/Hindu tidak menjelek-jelekkan “jalan” orang lain.

4fec58f3c55a6b0b7aceef003e584549-krishna-art-lord-vishnu
Krishna memberikan anugrah kepada Arjuna untuk bisa “melihat” wujud-Nya yang sejati, yang melingkupi seluruh alam semesta. (Sumber: Pinterest).

Kebanyakan manusia masih belum bisa melepaskan diri dari keterikatannya dengan tubuh, pikiran, perasaan, dan keinginan-keinginannya. Semua itu adalah ke-‘aku’-an (dengan a kecil). Jujur saja, kita belum bisa melihat ‘Aku’ (dengan a besar) yang melampaui semua itu, yang tidak terbatas ruang-waktu. Oleh karena itu, ‘aku’ harus diajari untuk tunduk pada ‘Aku’—yang kemudian diproyeksikan ke luar, dan dinamai Tuhan, dan sebagainya.

Setiap kali menyembah Hyang, ‘aku’ sedang mengontak ‘Aku’ yang lebih tinggi. Karena itu, walau sesaat kita merasakan kebahagiaan, kedamaian karena terlepas dari “beban gravitasi dan penjara” alam benda. Si ‘aku’ larut sejenak dalam ‘Aku’ atau Tuhan yang maha luas. Kebahagiaan itu tidak lahir karena kita menyembah Tuhan atau melakukan ibadah tertentu, tapi karena kita mengontak Sang ‘Aku’ universal.

Karena itu mengatakan “sembahlah Tuhanku, dan hanya Tuhanku saja yang benar, yang lain palsu” adalah kebodohan dan menjadi akar konflik yang memecah belah umat manusia. Pandangan yang demikian lahir karena ke-aku-an, karena tidak pernah kenal Sang Aku. Akibatnya, Tuhan yang maha luas pun bisa dipetak-petakkan, ditambahkan -ku dan -mu. Jika demikian, yang sesungguhnya kita sembah adalah ego, bukan lagi Tuhan. “Setiap jalan adalah jalan menuju-Ku,” ujar Shri Krishna.

Young woman offering prayers
Seorang Hindu melakukan puja dihadapan pratimā Śiva sambil memejamkan mata, berupaya melihat-Nya di dalam diri. (Sumber gambar: www.astroupay.com).

Mau “menggunakan” Tuhan silakan. Tidak juga tidak apa-apa. Ingin memuja Tuhan yang tanpa wujud (nirguṇa) atau sebaliknya, memuja-Nya dalam berbagai wujud (saguṇa) tidak ada masalah. Ia hadir di mana-mana, di dalam dan di luar wujud-wujud yang dipuja. Inilah yang sering disalahpahami oleh umat agama-agama Abrahamik. Mereka mengira bahwa ketika umat Hindu bersembahyang dihadapan sebuah pratimā, Tuhan hanya ada di sana di dalam patung/obyek itu saja—dan karenanya “menduakan” Tuhan.

Tidak. Tuhan, Brahman ada di mana-mana. Semua ini adalah Dia. Patung/obyek itu adalah sarana, alat bagi seorang bhakta. Malahan mereka yang berpikir bahwa Tuhan umat lain hanya ada di dalam patung/obyek sesembahan sehingga merasa perlu menghancurkannya untuk membuktikan bahwa itu bukan Tuhan adalah orang-orang yang sesungguhnya sedang “menduakan” Tuhan. Mereka pikir Tuhan umat lain berbeda dengan Tuhannya, bahwa ada Tuhan asli dan palsu. Sungguh konyol!

Apa pun sarananya, bagaimana pun caranya bukan yang utama. Laku dan disiplin kitalah yang penting. Pertanyaan teologis: monoteis, politeis, ateis, atau yang lainnya juga tidak berarti, ini semua hanya permainan pikiran saja. Terjebak di dalamnya, kita sebenarnya sedang terjatuh. Apalagi mereka yang sibuk membuktikan kebenaran “petak permainannya”, dan menyalahkan yang lain. Mereka ini membikin kegaduhan yang tidak perlu, bahkan mengganggu.

Gangguan-gangguan tadi membuat kita melupakan Dharma yang bertujuan untuk membebaskan setiap orang dari kesalahan identitas yang membuatnya terombang-ambing dalam suka dan duka (mokṣa) sehingga ia bisa menjadi manusia yang seutuhnya dan menjadi anugrah buat seluruh semesta (jagadhita). Cara pandang yang holistik sedemikian ini adalah sumbangsih Hindu Dharma bagi kemanusiaan, karenanya ia perlu dijaga dan dilestarikan. Pada saatnya ketika telah jenuh, dari rahimnyalah jiwa-jiwa yang telah siap memulai perjalanannya yang sejati akan lahir.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: