Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!
Seri Sanatana Dharma

Sanatana Dharma 06: Sabda Suci

July 12, 2018

Pertanyaan lain yang banyak muncul ketika membahas agama adalah soal kitab suci. Islam memiliki Alquran dan Kristen Injil. Masing-masing bisa dimuat dalam satu jilid buku yang bisa dibawa ke mana-mana. Sebaliknya, kitab suci Hindu yang disebut Veda terdiri dari banyak buku yang bisa mengisi satu perpustakaan. Dan itu baru kitab-kitab intinya saja, belum lagi kitab-kitab turunannya yang jumlahnya lebih banyak lagi. Tulisan ini membahas wahyu, konsep kenabian, dan kitab suci dalam tradisi Hindu.

sri-sri-ayurveda-panchakarma
Anak-anak mempelajari Veda di Gurukula Sri Sri Ayurveda Panchakarma, Bengaluru. (Sumber: tripadvisor.com).

Sabda dan Ke-resi-an
Mungkin sebagian besar kita yang tinggal di Indonesia sangat familier dengan narasi agama-agama Samawi. Tuhan memilih/mengutus nabi/rasul untuk memberi peringatan, nubuat, syariat, dan/atau menyampaikan janji-janji Tuhan kepada umat-Nya. Semua ajarannya terekam dalam kitab-kitab suci yang menjadi patokan hidup manusia. Kadang juga ada malaikat yang berperan dalam proses tersebut.

Sosok nabi/rasul/mesiah ini sangat sentral dan bahkan menjadi pembeda antara agama Samawi yang satu dengan yang lain. Perdebatan tentang siapa yang menjadi pembawa pesan pamungkas adalah topik yang kerap muncul dalam berbagai kesempatan debat. Tidak jarang narasi ini juga ditimpakan kepada agama-agama di luar itu, tak terkecuali Hindu. Cerita bohong dikembangkan bahwa kitab-kitab Hindu pun menanti-nanti dan meramalkan kedatangan nabi/rasul/mesiah mereka.

Padahal jika diselami lebih dalam, konsep Hindu tentang wahyu dan kenabian berbeda dengan agama-agama Samawi. Jadi kalau narasi tersebut diaplikasikan pada Hindu akan tampak ganjil. Tapi bukan berarti juga bahwa kitab-kitab Hindu tidak berbicara tentang agama-agama di luarnya, namun bukan seperti yang mereka bayangkan. Seorang Hindu bisa menghormati nabi/rasul/mesiah tanpa harus meninggalkan Dharma.

Pertama, tentang wahyu. Pemahaman umum mengenai hal ini agak berbeda dengan pengalaman para resi. Konsep wahyu yang umum dipahami adalah ibarat ‘titah’ dari Raja, yang mengetahui segala-galanya, kepada seseorang atau sekelompok orang untuk tujuan tertentu. Jika demikian, maka wahyu terkait dengan ruang-waktu-dan-keadaan. Sedangkan konsep Hindu melihat wahyu lebih mirip seperti siaran yang ditangkap oleh TV.

Para resi sendiri mengatakan bahwa mantra-mantra Veda ibaratnya “bagian tubuh” (Atharvaveda 10.7.20) atau “napas” (Brhadaranyaka Upanishad 2.4.10) Brahman. Brahman melampaui ruang-waktu, sehingga “bagian tubuh” atau “napas”-Nya pun demikian. Ia adalah keberadaan itu sendiri. Bahkan segala sesuatu yang bisa kita indra maupun yang di luar itu esensinya adalah Brahman. Ia dikatakan abadi, dan tak berubah meskipun alam ini berubah-ubah.

Kembali pada perumpamaan TV tadi. Brahman diibaratkan sebagai gelombang TV yang berada di sekitar kita, ākāśa. Gelombang itu tidak tampak, tapi ada. Ketika kita punya pesawat TV yang berfungsi dengan baik, maka kita bisa menangkap siaran dari channel kesayangan. Seorang resi bisa tune in pada “gelombang” tersebut dan ia bisa “melihat” siaran-Nya. Bedanya, “gelombang” Brahman ini selalu ada, tidak berubah.

Kata resi atau ṛṣi berasal dari akar kata ṛṣ berarti mengalir/bergerak dengan cepat, atau dṛś berarti melihat, menyaksikan. Ke-resi-an bukanlah monopoli segelintir orang saja. Setiap orang memiliki potensi untuk bisa menangkap “gelombang” tersebut. Lalu, apa bahasa yang digunakan dalam “siaran” itu? Apa saja “isi”-nya? Dengarkan pengalaman resi Dīrghatamā yang penuh teka-teki berikut:

catvāri vāk parimitā padāni tāni vidur brāhmaṇā ye manīṣiṇaḥ, guhā trīṇi nihitā neṅgayanti turiyaṃ vāco manuṣyā vadanti. —Ṛgveda 1.164.45

Ada empat langkah yang “diukur” oleh Vāk. Brahmana yang bijak memahami-Nya. (Dari empat itu) tiga tersembunyi dalam gua terdalam. Hanya yang keempat yang dipakai manusia biasa ketika berkata-kata.

Pengalaman menyaksikan “siaran” tersebut tentu tidak mudah dituangkan ke dalam bahasa awam. Lagi pula Hindu bukanlah agama yang mementingkan iman; jadi alih-alih menyampaikannya dalam serangkaian kata-kata yang harus kita percayai, para resi merumuskan pengalaman itu dalam bahasa mantra. Mereka menggunakan medium Sanskerta untuk memaksimalkan pengalaman yang ingin mereka sampaikan.

Bahasa Sanskerta
Penggunaan bahasa mantra di dalam Veda inilah yang membedakannya dengan kitab-kitab suci lain. Mendengar kata mantra mungkin pikiran kita langsung tertuju pada ‘jampi-jampi’ yang digunakan para dukun untuk menyembuhkan atau mengusir roh jahat. Sebenarnya jampi-jampi berasal dari tradisi mantra, walaupun telah banyak diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif dan tidak ilmiah.

Dalam Sanskerta, bahasa mantra, setiap bunyi memberikan pengaruh, baik fisik maupun psikis, kepada orang yang mengucapkan dan mendengarkannya. Oleh karena itu pengucapan yang tepat sangat penting di sini. Setiap bunyi terkait dengan aspek-aspek tertentu di dalam diri manusia. Inilah yang kemudian melahirkan kata-kata. Para resi mengeksploitasi efek bunyi tersebut dalam bahasa Sanskerta.

Tiap bahasa memiliki svabhāva atau sifat dasar, karakter serta svadharma atau peran tertentu. Bahasa Sanskerta sengaja dibuat sebagai sarana meningkatkan kesadaran penuturnya (saṃskṛta berarti telah disempurnakan). Bahasa Sanskerta adalah bahasa yang meditatif. Tidak seperti bahasa-bahasa lainnya, setiap kata Sanskerta lahir dari benih kata, atau dhātu—yaitu satuan bunyi terkecil—yang bisa berkembang menjadi puluhan kata dasar. Mekanisme pembentukan kata Sanskerta sangat rapi dan matematis.

“Lawan” dari bahasa Sanskerta adalah bahasa-bahasa prakṛta atau Prakerta, yaitu bahasa-bahasa yang tumbuh secara alami. Prakerta tidak terbentuk secara sadar, dan merupakan akumulasi dari kebiasaan dan kesadaran orang-orang yang menggunakannya sehingga membuatnya cepat berubah mengikuti zaman. Sedangkan bahasa Sanskerta relatif jauh lebih konsisten walaupun jarak antara Ṛgveda (kitab tertua dalam tradisi Hindu) dengan saat ini sudah enam sampai sepuluh ribu tahun.

Kata-kata di dalam bahasa-bahasa Prakerta biasanya sangat kaku: satu atau dua kata untuk menjelaskan suatu benda. Berbeda halnya dengan Sanskerta, setiap benda/fenomena bisa memiliki banyak alternatif kata. Dalam Sanskerta sang penuturlah yang memegang kendali, ia menjelaskan setiap benda/fenomena tersebut berdasarkan sifat-sifatnya. Misalnya, api disebut agni karena kobarannya bergerak ke atas (dari √ag), atau anala karena jika kita memberikannya bahan bakar, ia akan terus berkobar (an- berarti tidak, ala berarti cukup).

Fitur dhātu dan proses pembentukan kata tersebut membuat Sanskerta bahasa yang mandiri. Ia tidak perlu (walaupun bisa saja) menyerap kata-kata dari bahasa-bahasa lain di sekitarnya. Sanskerta bisa membuat sendiri kata apapun. Hal ini membuat Sanskerta digunakan secara luas di dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari seni hingga sains, disamping pula hal-hal yang terkait dengan spiritualitas. Jika tertarik dengan bahasa Sanskerta silakan mengikuti tulisan-tulisan dalam Seri Sanskerta.

Panini
Maharesi Panini (6–4 SM) menyusun buku tata bahasa Sanskerta yang menjadi rujukan hingga sekarang. Sebelumnya, Sanskerta sudah digunakan selama ribuan tahun. (Gambar: Ashok Dongre).

Kepustakaan Veda
Veda secara harfiah berarti ‘ilmu pengertahuan’. Ketika kita menyebut Veda, maknanya bisa dua: kitab-kitab inti yang terdiri dari empat himpunan (saṃhitā) atau keseluruhan kitab-kitab dalam tradisi Hindu yang bersumber dari keempat saṃhitā tersebut. Empat saṃhitā terdiri dari: 1. Ṛgveda yang merupakan kitab tertua umat manusia yang masih digunakan hingga sekarang, 2. Sāmaveda, 3. Yajurveda, dan 4. Atharvaveda.

Berdasarkan penanda-penanda astronomis yang terekam dalam Ṛgveda, diperkirakan sebagian isinya setidaknya sudah ada 8.000 sampai dengan 4.000 SM, walaupun mungkin baru dibukukan sekitar 1.500 SM. “Penerima” mantra-mantra Veda bukan hanya satu orang saja. Ṛgveda, misalnya, diperoleh dari sekitar 400 resi, 30 di antaranya adalah perempuan. Menurut cerita, keempat Veda tersebut dikumpulkan oleh Begawan Shri Krishna Dvaipayana Vyasa atau disebut Begawan Vyasa (Abiyasa dalam wayang) dan murid-murindnya.

Masing-masing saṃhitā terdiri dari beberapa buku yang terbagi ke dalam empat kelompok:

  1. mantra yaitu bagian utama yang memuat mantra-mantra Veda,
  2. brāhmaṇa yang menjelaskan mantra lebih lanjut,
  3. āraṇyaka yang menjelaskan makna spiritual/mistisnya, dan
  4. upaniṣad yang sering disebut Vedānta atau bagian akhir (anta) Veda yang menjelaskan makna filosofisnya.

Masing-masing kelompok di atas terdiri dari lebih dari satu resensi dan buku. Bagian inti ini saja jumlahnya luar biasa banyak. Biasanya seorang cendekiawan Veda hanya menguasai salah satu saṃhitā saja, misalnya semua pustaka dalam himpunan Ṛgveda dari mantra hingga upaniṣad-nya. Keseluruhan saṃhitā di atas disebut śruti yaitu bagian utama yang diperoleh para resi yang kemudian disampaikan kepada murid-muridnya. Śruti sendiri berarti ‘mendengarkan’.

Di samping itu, masih banyak lagi kitab-kitab dalam kepustakaan Veda, seperti kelompok vedāṅga, upaveda, upavedāṅga, itihāsa, purāṇa, dharmaśāstra, dan sebagainya yang menunjang śruti atau interpretasi/turunan darinya.

Veda Classification
Tabel keseluruhan kitab-kitab suci Hindu.

Mungkin membaca isi tabel di atas saja kita sudah terengah-engah. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menguasai salah satu cabang ilmunya. Kitab-kitab di atas tidak hanya membahas hal-hal yang terkait dengan keagamaan saja, namun juga hal lain yang terkait dengan wellbeing manusia, seperti ilmu kesehatan, politik dan ekonomi, strategi perang, tata bangunan, ekologi, musik, tari, logika, astronomi, dan sebagainya.

Bagi orang awam ada beberapa kitab yang populer dan sering dijadikan rujukan, di antaranya Bhagavad Gītā serta dua wiracarita Mahābhārata dan Rāmāyaṇa. Bhagavad Gītā sendiri merupakan bagian dari Mahābhārata. Kitab-kitab ini populer karena memuat ajaran-ajaran Dharma dalam bungkusan cerita dan bahasa yang sederhana sehingga lebih mudah diterima dan diingat awam. Selain itu, kitab-kitab yang bersifat lokal bisa tumbuh dari sumber yang sama.

Jika “diperas”, masing-masing Veda memiliki mahāvākya atau simpulan utama:

  1. Prajñānaṃ Brahma (प्रज्ञानं ब्रह्म), “Brahman adalah prajñā atau Kesadaran, Kebijaksanaan Murni”, ini diambil dari Aitareya Upanishad 3.3 yang merupakan bagian dari Ṛgveda.
  2. Ahaṃ Brahma Asmi (अहम् ब्रह्म अस्मि), “Akulah Brahman itu sendiri”, Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10 yang adalah bagian dari Yajurveda.
  3. Tat Tvam Asi (तत् त्वम् असि), “Itu (Brahman) adalah Engkau”, ini diambil dari Chandogya Upanishad 6.8.7 yang adalah bagian dari Sāmaveda.
  4. Ayam Ātmā Brahma (अयम् आत्मा ब्रह्म), “Ātman ini adalah Brahman”, ini diambil dari Mandukya Upanishad 1.2 yang merupakan bagian dari Atharvaveda.

Pesan-pesan di dalam Veda sangat konsisten walaupun disampaikan dalam berbagai cara dan kemasan. Ajaran-ajaran ini menjadi induk dari agama-agama yang berkembang kemudian. Namun semakin jauh dari tempat asalnya, ajaran-ajaran ini sering mengalami degradasi sehingga tujuan agama mokṣa dan jagadhita terlupakan. Sebagian terjebak dalam hukum dan aturan agama yang sesungguhnya perlu disegarkan dari zaman ke zaman.

Yang lain bermain-main dalam surga dan neraka, dan menjadikannya sebagai tujuan utama. Padahal surga dan neraka dalam ajaran Veda hanyalah tempat “mampir” yang sifatnya sementara. Mereka memproyeksikan keinginan-keinginan yang tidak bisa dipenuhi di dunia ke alam surga. Neraka dijadikan instrumen untuk menakut-nakuti, agar orang menjadi penurut. Ini semua adalah kebalikan dari mokṣa yaitu kebebasan sejati dari keinginan dan ketakutan.

Sebagian yang lain berebut umat sebanyak-banyaknya dan melupakan esensi agama untuk mencapai jagadhita. Mereka tidak peduli dengan kebenaran dan kedamaian; yang penting dapat tiket ke surga! Mereka berjualan ‘keselamatan’ dari hal-hal di luar diri tanpa menyadari bahwa hanya pemberdayaan dirilah yang bisa menyelamatkan kita. Semua harus dicerna, diinterpretasi dari waktu ke waktu dan dilakoni sendiri.

Jika “Akulah Brahman”, seperti dalam mahāvākya di atas, maka klaim bahwa keselamatan hanya bisa diraih lewat orang/sosok tertentu terasa ganjil. Yang dibutuhkan bukan iman dan kepercayaan terhadap sesuatu/seseorang di luar, tapi upaya untuk mengupas daki avidyā, ketidaktahuan akan hakikat diri, lewat berbagai jalan (Yoga).

Hanya dengan cara ini kita akan terus berkembang—pencerahan tidak punya titik akhir. Hanya dengan “membereskan” diri, kita bisa membereskan berbagai masalah di sekitar kita. Kitab-kitab suci seperti jari yang menunjukkan arah. Jangan lupa bahwa kita sendirilah yang harus melakukan perjalanan itu.

finger-moon-hotei
“Seperti jari yang menunjuk bulan.”

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply mualim007 August 7, 2018 at 7:55 PM

    KALAU KAMU SUDAH SUCI? APA YANG HENDAK DI SABDAKAN LAGI?!

    • Reply Madé Harimbawa August 7, 2018 at 11:06 PM

      Manusia saling berbagi, saling belajar supaya menjadi lebih baik lagi.

      • Reply mualim007 August 7, 2018 at 11:44 PM

        SEMOGA MENUHANKAN TUHAN YANG BERPERIKEMANUSIAAN.

        • Reply Madé Harimbawa August 8, 2018 at 1:26 AM

          Betul. Berketuhanan yang berkemanusiaan.

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: