Sanatana Dharma 07: Perjalanan Diri

Ayam ātmā Brahma, “Ātman ini adalah Brahman”. Begitulah pernyataan dalam Mandukya Upanishad 1.2. Kebanyakan agama-agama lain memulai pembahasan dari Tuhan. Hindu berbeda. Hindu memulai dari manusia, individu, dari diri, ātman—yang bukan tubuh, pikiran, perasaan, atau kesukaan dan ketidaksukaan kita. Ātman inilah yang memungkinkan semua hal tadi berfungsi, seperti kereta lengkap dengan kuda-kuda dan kusirnya (Katha Upanishad 1.3.3). Ātman inilah pemilik semua itu.

Keadaan menjadi kacau, ketidakbahagiaan muncul, ketika ātman “melupakan jati dirinya” sebagai pemilik, dan menganggap bahwa ia adalah kereta badan, atau kuda-kuda indra, kusir intelegensia, atau tali kekang pikiran. Kereta bisa lecet, rusak seiring waktu. Jika dibiarkan tak terkendali, kuda-kuda tak akan mengantarkan kita sampai ke tujuan. Kusir tanpa arahan juga tidak membantu. Karena itu kesadaran jiwa atau ātman inilah yang perlu dicapai terlebih dahulu.

bharat-darshan-ratha-kalpana-the-knowing-self-charioteer

Ini bukan hal yang gampang. Selama milyaran tahun, sang jiwa diselubungi māyā atau ketidaksadaran selama perjalanan panjang kehidupan. Dari satu bentuk kehidupan ke bentuk kehidupan yang lain, kesadaran kita berkembang/berevolusi terus hingga kini kita menjadi makhluk yang punya kesempatan untuk menyingkap tabir māyā itu. Karena itu kelahiran sebagai manusia adalah anugrah utama (Sara-Samuccaya 10).

Tapi tidak semua manusia menyadarinya. Ia bisa lahir, hidup, dan mati berkali-kali dalam ketidaksadaran. Terus-menerus memenuhi keinginan-keinginan yang tiada habisnya, berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Hingga suatu ketika ada satu-dua orang yang mencapai titik jenuh, dan dia memulai perjalanan ke dalam dirinya. Siapa aku? Apa mauku? Buat apa aku ada?

Ia mulai merasakan desakan untuk bebas dari hal-hal yang sebelumnya ia anggap dirinya: harta benda, anak-cucu, pasangan, sahabat, tubuhnya, ideologi, agama, dan seterusnya. Ternyata semua itu tidak abadi. Untuk sesaat hal-hal itu ada, dan ia merasa bahagia. Namun hukum alam memaksa terjadinya perubahan-perubahan. Suatu saat ia pun menyadari kesalahan mengasosiasikan dirinya dengan semua itu, bahagia jika semuanya sesuai harapan, dan berduka ketika sebaliknya.

Dorongan itu membuatnya ingin menjauhkan diri, menyepi dari dunia dengan segala hiruk pikuknya. Ia tinggal dengan sangat sederhana agar pikiran dan nafsunya tak menjadi liar. Ia pun mulai memejamkan matanya dan mencari jawaban ke dalam dirinya sendiri. Lapis demi lapis kepalsuan terkelupas. Upaya ini mungkin berlangsung lebih dari satu masa kehidupan. Setiap kali, ia akan “didorong” mengingat kembali pencapaiannya di kehidupan sebelumnya.

Ini tidak mudah. Kesadarannya bisa bangkit dan jatuh lagi. Berkali-kali. Hanya segelintir yang akhirnya mencapai kebebasan dari kesadaran ilusif itu. Mereka mencapai mokṣa dan akibatnya ia tidak perlu lagi hidup dalam “penjara” tubuh, pikiran, dan perasaan. Sebagian, karena kasih, masih merasa perlu “turun gunung” dan membantu perjalanan yang lain. Mereka inilah para bijak, resi, guru yang kehadirannya saja sudah menjadi berkah bagi makhluk-makhluk di sekitarnya.

Menghadapi orang-orang dengan berbagai tingkat kesadaran, mendorongnya merancang berbagai metode yang bisa membantu mereka. Kadang ia membuat cerita yang terdengar luar biasa, seperti ibu yang penuh kasih melakukan segala macam cara agar anaknya mau makan sayuran yang sebenarnya baik untuk diri si anak itu sendiri. Ketika sang bijak meninggalkan tubuhnya, lama kelamaan ajarannya menjadi semakin kaku bahkan dipertahankan mati-matian oleh umatnya.

Di sisi lain, perubahan tidak selalu disambut. Mereka yang masih terikat dengan identitas-identitas palsu tidak suka bila identitas itu diusik-usik. Jika seorang bijak lain datang dan mengganggu kenyamanannya, maka ia bisa dimusuhi, bahkan dibunuh oleh masyarakatnya sendiri. Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo—yang mana INDO-nesia adalah bagian darinya—sangat unik karena sang bijak, guru, resi hadir dari generasi ke generasi. Kehadirannya bahkan disambut dan dirayakan.

Tidak ada istilah resi terakhir. Masyarakatnya terbentuk sedemikian sehingga kebijaksanaan terus mengalir, menyegarkan pesan-pesan yang sudah saatnya dimaknai ulang. Ke-resi-an adalah potensi semua orang, mokṣa bukan monopoli kaum/bangsa tertentu. Asalkan mau berupaya, dalam kehidupan ini pun kita bisa mencapainya. Orang-orang dengan tingkat kesadaran berbeda punya resep “obat” masing-masing. Karena itu penduduk peradaban Sindhu/Hindu tidak menjelek-jelekkan “jalan” orang lain.

4fec58f3c55a6b0b7aceef003e584549-krishna-art-lord-vishnu

Krishna memberikan anugrah kepada Arjuna untuk bisa “melihat” wujud-Nya yang sejati, yang melingkupi seluruh alam semesta. (Sumber: Pinterest).

Kebanyakan manusia masih belum bisa melepaskan diri dari keterikatannya dengan tubuh, pikiran, perasaan, dan keinginan-keinginannya. Semua itu adalah ke-‘aku’-an (dengan a kecil). Jujur saja, kita belum bisa melihat ‘Aku’ (dengan a besar) yang melampaui semua itu, yang tidak terbatas ruang-waktu. Oleh karena itu, ‘aku’ harus diajari untuk tunduk pada ‘Aku’—yang kemudian diproyeksikan ke luar, dan dinamai Tuhan, dan sebagainya.

Setiap kali menyembah Hyang, ‘aku’ sedang mengontak ‘Aku’ yang lebih tinggi. Karena itu, walau sesaat kita merasakan kebahagiaan, kedamaian karena terlepas dari “beban gravitasi dan penjara” alam benda. Si ‘aku’ larut sejenak dalam ‘Aku’ atau Tuhan yang maha luas. Kebahagiaan itu tidak lahir karena kita menyembah Tuhan atau melakukan ibadah tertentu, tapi karena kita mengontak Sang ‘Aku’ universal.

Karena itu mengatakan “sembahlah Tuhanku, dan hanya Tuhanku saja yang benar, yang lain palsu” adalah kebodohan dan menjadi akar konflik yang memecah belah umat manusia. Pandangan yang demikian lahir karena ke-aku-an, karena tidak pernah kenal Sang Aku. Akibatnya, Tuhan yang maha luas pun bisa dipetak-petakkan, ditambahkan -ku dan -mu. Jika demikian, yang sesungguhnya kita sembah adalah ego, bukan lagi Tuhan. “Setiap jalan adalah jalan menuju-Ku,” ujar Shri Krishna.

Young woman offering prayers

Seorang Hindu melakukan puja dihadapan pratimā Śiva sambil memejamkan mata, berupaya melihat-Nya di dalam diri. (Sumber gambar: http://www.astroupay.com).

Mau “menggunakan” Tuhan silakan. Tidak juga tidak apa-apa. Ingin memuja Tuhan yang tanpa wujud (nirguṇa) atau sebaliknya, memuja-Nya dalam berbagai wujud (saguṇa) tidak ada masalah. Ia hadir di mana-mana, di dalam dan di luar wujud-wujud yang dipuja. Inilah yang sering disalahpahami oleh umat agama-agama Abrahamik. Mereka mengira bahwa ketika umat Hindu bersembahyang dihadapan sebuah pratimā, Tuhan hanya ada di sana di dalam patung/obyek itu saja—dan karenanya “menduakan” Tuhan.

Tidak. Tuhan, Brahman ada di mana-mana. Semua ini adalah Dia. Patung/obyek itu adalah sarana, alat bagi seorang bhakta. Malahan mereka yang berpikir bahwa Tuhan umat lain hanya ada di dalam patung/obyek sesembahan sehingga merasa perlu menghancurkannya untuk membuktikan bahwa itu bukan Tuhan adalah orang-orang yang sesungguhnya sedang “menduakan” Tuhan. Mereka pikir Tuhan umat lain berbeda dengan Tuhannya, bahwa ada Tuhan asli dan palsu. Sungguh konyol!

Apa pun sarananya, bagaimana pun caranya bukan yang utama. Laku dan disiplin kitalah yang penting. Pertanyaan teologis: monoteis, politeis, ateis, atau yang lainnya juga tidak berarti, ini semua hanya permainan pikiran saja. Terjebak di dalamnya, kita sebenarnya sedang terjatuh. Apalagi mereka yang sibuk membuktikan kebenaran “petak permainannya”, dan menyalahkan yang lain. Mereka ini membikin kegaduhan yang tidak perlu, bahkan mengganggu.

Gangguan-gangguan tadi membuat kita melupakan Dharma yang bertujuan untuk membebaskan setiap orang dari kesalahan identitas yang membuatnya terombang-ambing dalam suka dan duka (mokṣa) sehingga ia bisa menjadi manusia yang seutuhnya dan menjadi anugrah buat seluruh semesta (jagadhita). Cara pandang yang holistik sedemikian ini adalah sumbangsih Hindu Dharma bagi kemanusiaan, karenanya ia perlu dijaga dan dilestarikan. Pada saatnya ketika telah jenuh, dari rahimnyalah jiwa-jiwa yang telah siap memulai perjalanannya yang sejati akan lahir.

Sanatana Dharma 06: Sabda Suci

Pertanyaan lain yang banyak muncul ketika membahas agama adalah soal kitab suci. Islam memiliki Alquran dan Kristen Injil. Masing-masing bisa dimuat dalam satu jilid buku yang bisa dibawa ke mana-mana. Sebaliknya, kitab suci Hindu yang disebut Veda terdiri dari banyak buku yang bisa mengisi satu perpustakaan. Dan itu baru kitab-kitab intinya saja, belum lagi kitab-kitab turunannya yang jumlahnya lebih banyak lagi. Tulisan ini membahas wahyu, konsep kenabian, dan kitab suci dalam tradisi Hindu.

sri-sri-ayurveda-panchakarma

Anak-anak mempelajari Veda di Gurukula Sri Sri Ayurveda Panchakarma, Bengaluru. (Sumber: tripadvisor.com).

Sabda dan Ke-resi-an
Mungkin sebagian besar kita yang tinggal di Indonesia sangat familier dengan narasi agama-agama Samawi. Tuhan memilih/mengutus nabi/rasul untuk memberi peringatan, nubuat, syariat, dan/atau menyampaikan janji-janji Tuhan kepada umat-Nya. Semua ajarannya terekam dalam kitab-kitab suci yang menjadi patokan hidup manusia. Kadang juga ada malaikat yang berperan dalam proses tersebut.

Sosok nabi/rasul/mesiah ini sangat sentral dan bahkan menjadi pembeda antara agama Samawi yang satu dengan yang lain. Perdebatan tentang siapa yang menjadi pembawa pesan pamungkas adalah topik yang kerap muncul dalam berbagai kesempatan debat. Tidak jarang narasi ini juga ditimpakan kepada agama-agama di luar itu, tak terkecuali Hindu. Cerita bohong dikembangkan bahwa kitab-kitab Hindu pun menanti-nanti dan meramalkan kedatangan nabi/rasul/mesiah mereka.

Padahal jika diselami lebih dalam, konsep Hindu tentang wahyu dan kenabian berbeda dengan agama-agama Samawi. Jadi kalau narasi tersebut diaplikasikan pada Hindu akan tampak ganjil. Tapi bukan berarti juga bahwa kitab-kitab Hindu tidak berbicara tentang agama-agama di luarnya, namun bukan seperti yang mereka bayangkan. Seorang Hindu bisa menghormati nabi/rasul/mesiah tanpa harus meninggalkan Dharma.

Pertama, tentang wahyu. Pemahaman umum mengenai hal ini agak berbeda dengan pengalaman para resi. Konsep wahyu yang umum dipahami adalah ibarat ‘titah’ dari Raja, yang mengetahui segala-galanya, kepada seseorang atau sekelompok orang untuk tujuan tertentu. Jika demikian, maka wahyu terkait dengan ruang-waktu-dan-keadaan. Sedangkan konsep Hindu melihat wahyu lebih mirip seperti siaran yang ditangkap oleh TV.

Para resi sendiri mengatakan bahwa mantra-mantra Veda ibaratnya “bagian tubuh” (Atharvaveda 10.7.20) atau “napas” (Brhadaranyaka Upanishad 2.4.10) Brahman. Brahman melampaui ruang-waktu, sehingga “bagian tubuh” atau “napas”-Nya pun demikian. Ia adalah keberadaan itu sendiri. Bahkan segala sesuatu yang bisa kita indra maupun yang di luar itu esensinya adalah Brahman. Ia dikatakan abadi, dan tak berubah meskipun alam ini berubah-ubah.

Kembali pada perumpamaan TV tadi. Brahman diibaratkan sebagai gelombang TV yang berada di sekitar kita, ākāśa. Gelombang itu tidak tampak, tapi ada. Ketika kita punya pesawat TV yang berfungsi dengan baik, maka kita bisa menangkap siaran dari channel kesayangan. Seorang resi bisa tune in pada “gelombang” tersebut dan ia bisa “melihat” siaran-Nya. Bedanya, “gelombang” Brahman ini selalu ada, tidak berubah.

Kata resi atau ṛṣi berasal dari akar kata ṛṣ berarti mengalir/bergerak dengan cepat, atau dṛś berarti melihat, menyaksikan. Ke-resi-an bukanlah monopoli segelintir orang saja. Setiap orang memiliki potensi untuk bisa menangkap “gelombang” tersebut. Lalu, apa bahasa yang digunakan dalam “siaran” itu? Apa saja “isi”-nya? Dengarkan pengalaman resi Dīrghatamā yang penuh teka-teki berikut:

catvāri vāk parimitā padāni tāni vidur brāhmaṇā ye manīṣiṇaḥ, guhā trīṇi nihitā neṅgayanti turiyaṃ vāco manuṣyā vadanti. —Ṛgveda 1.164.45

Ada empat langkah yang “diukur” oleh Vāk. Brahmana yang bijak memahami-Nya. (Dari empat itu) tiga tersembunyi dalam gua terdalam. Hanya yang keempat yang dipakai manusia biasa ketika berkata-kata.

Pengalaman menyaksikan “siaran” tersebut tentu tidak mudah dituangkan ke dalam bahasa awam. Lagi pula Hindu bukanlah agama yang mementingkan iman; jadi alih-alih menyampaikannya dalam serangkaian kata-kata yang harus kita percayai, para resi merumuskan pengalaman itu dalam bahasa mantra. Mereka menggunakan medium Sanskerta untuk memaksimalkan pengalaman yang ingin mereka sampaikan.

Bahasa Sanskerta
Penggunaan bahasa mantra di dalam Veda inilah yang membedakannya dengan kitab-kitab suci lain. Mendengar kata mantra mungkin pikiran kita langsung tertuju pada ‘jampi-jampi’ yang digunakan para dukun untuk menyembuhkan atau mengusir roh jahat. Sebenarnya jampi-jampi berasal dari tradisi mantra, walaupun telah banyak diasosiasikan dengan hal-hal yang negatif dan tidak ilmiah.

Dalam Sanskerta, bahasa mantra, setiap bunyi memberikan pengaruh, baik fisik maupun psikis, kepada orang yang mengucapkan dan mendengarkannya. Oleh karena itu pengucapan yang tepat sangat penting di sini. Setiap bunyi terkait dengan aspek-aspek tertentu di dalam diri manusia. Inilah yang kemudian melahirkan kata-kata. Para resi mengeksploitasi efek bunyi tersebut dalam bahasa Sanskerta.

Tiap bahasa memiliki svabhāva atau sifat dasar, karakter serta svadharma atau peran tertentu. Bahasa Sanskerta sengaja dibuat sebagai sarana meningkatkan kesadaran penuturnya (saṃskṛta berarti telah disempurnakan). Bahasa Sanskerta adalah bahasa yang meditatif. Tidak seperti bahasa-bahasa lainnya, setiap kata Sanskerta lahir dari benih kata, atau dhātu—yaitu satuan bunyi terkecil—yang bisa berkembang menjadi puluhan kata dasar. Mekanisme pembentukan kata Sanskerta sangat rapi dan matematis.

“Lawan” dari bahasa Sanskerta adalah bahasa-bahasa prakṛta atau Prakerta, yaitu bahasa-bahasa yang tumbuh secara alami. Prakerta tidak terbentuk secara sadar, dan merupakan akumulasi dari kebiasaan dan kesadaran orang-orang yang menggunakannya sehingga membuatnya cepat berubah mengikuti zaman. Sedangkan bahasa Sanskerta relatif jauh lebih konsisten walaupun jarak antara Ṛgveda (kitab tertua dalam tradisi Hindu) dengan saat ini sudah enam sampai sepuluh ribu tahun.

Kata-kata di dalam bahasa-bahasa Prakerta biasanya sangat kaku: satu atau dua kata untuk menjelaskan suatu benda. Berbeda halnya dengan Sanskerta, setiap benda/fenomena bisa memiliki banyak alternatif kata. Dalam Sanskerta sang penuturlah yang memegang kendali, ia menjelaskan setiap benda/fenomena tersebut berdasarkan sifat-sifatnya. Misalnya, api disebut agni karena kobarannya bergerak ke atas (dari √ag), atau anala karena jika kita memberikannya bahan bakar, ia akan terus berkobar (an- berarti tidak, ala berarti cukup).

Fitur dhātu dan proses pembentukan kata tersebut membuat Sanskerta bahasa yang mandiri. Ia tidak perlu (walaupun bisa saja) menyerap kata-kata dari bahasa-bahasa lain di sekitarnya. Sanskerta bisa membuat sendiri kata apapun. Hal ini membuat Sanskerta digunakan secara luas di dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari seni hingga sains, disamping pula hal-hal yang terkait dengan spiritualitas. Jika tertarik dengan bahasa Sanskerta silakan mengikuti tulisan-tulisan dalam Seri Sanskerta.

Panini

Maharesi Panini (6–4 SM) menyusun buku tata bahasa Sanskerta yang menjadi rujukan hingga sekarang. Sebelumnya, Sanskerta sudah digunakan selama ribuan tahun. (Gambar: Ashok Dongre).

Kepustakaan Veda
Veda secara harfiah berarti ‘ilmu pengertahuan’. Ketika kita menyebut Veda, maknanya bisa dua: kitab-kitab inti yang terdiri dari empat himpunan (saṃhitā) atau keseluruhan kitab-kitab dalam tradisi Hindu yang bersumber dari keempat saṃhitā tersebut. Empat saṃhitā terdiri dari: 1. Ṛgveda yang merupakan kitab tertua umat manusia yang masih digunakan hingga sekarang, 2. Sāmaveda, 3. Yajurveda, dan 4. Atharvaveda.

Berdasarkan penanda-penanda astronomis yang terekam dalam Ṛgveda, diperkirakan sebagian isinya setidaknya sudah ada 8.000 sampai dengan 4.000 SM, walaupun mungkin baru dibukukan sekitar 1.500 SM. “Penerima” mantra-mantra Veda bukan hanya satu orang saja. Ṛgveda, misalnya, diperoleh dari sekitar 400 resi, 30 di antaranya adalah perempuan. Menurut cerita, keempat Veda tersebut dikumpulkan oleh Begawan Shri Krishna Dvaipayana Vyasa atau disebut Begawan Vyasa (Abiyasa dalam wayang) dan murid-murindnya.

Masing-masing saṃhitā terdiri dari beberapa buku yang terbagi ke dalam empat kelompok:

  1. mantra yaitu bagian utama yang memuat mantra-mantra Veda,
  2. brāhmaṇa yang menjelaskan mantra lebih lanjut,
  3. āraṇyaka yang menjelaskan makna spiritual/mistisnya, dan
  4. upaniṣad yang sering disebut Vedānta atau bagian akhir (anta) Veda yang menjelaskan makna filosofisnya.

Masing-masing kelompok di atas terdiri dari lebih dari satu resensi dan buku. Bagian inti ini saja jumlahnya luar biasa banyak. Biasanya seorang cendekiawan Veda hanya menguasai salah satu saṃhitā saja, misalnya semua pustaka dalam himpunan Ṛgveda dari mantra hingga upaniṣad-nya. Keseluruhan saṃhitā di atas disebut śruti yaitu bagian utama yang diperoleh para resi yang kemudian disampaikan kepada murid-muridnya. Śruti sendiri berarti ‘mendengarkan’.

Di samping itu, masih banyak lagi kitab-kitab dalam kepustakaan Veda, seperti kelompok vedāṅga, upaveda, upavedāṅga, itihāsa, purāṇa, dharmaśāstra, dan sebagainya yang menunjang śruti atau interpretasi/turunan darinya.

Veda Classification

Tabel keseluruhan kitab-kitab suci Hindu.

Mungkin membaca isi tabel di atas saja kita sudah terengah-engah. Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menguasai salah satu cabang ilmunya. Kitab-kitab di atas tidak hanya membahas hal-hal yang terkait dengan keagamaan saja, namun juga hal lain yang terkait dengan wellbeing manusia, seperti ilmu kesehatan, politik dan ekonomi, strategi perang, tata bangunan, ekologi, musik, tari, logika, astronomi, dan sebagainya.

Bagi orang awam ada beberapa kitab yang populer dan sering dijadikan rujukan, di antaranya Bhagavad Gītā serta dua wiracarita Mahābhārata dan Rāmāyaṇa. Bhagavad Gītā sendiri merupakan bagian dari Mahābhārata. Kitab-kitab ini populer karena memuat ajaran-ajaran Dharma dalam bungkusan cerita dan bahasa yang sederhana sehingga lebih mudah diterima dan diingat awam. Selain itu, kitab-kitab yang bersifat lokal bisa tumbuh dari sumber yang sama.

Jika “diperas”, masing-masing Veda memiliki mahāvākya atau simpulan utama:

  1. Prajñānaṃ Brahma (प्रज्ञानं ब्रह्म), “Brahman adalah prajñā atau Kesadaran, Kebijaksanaan Murni”, ini diambil dari Aitareya Upanishad 3.3 yang merupakan bagian dari Ṛgveda.
  2. Ahaṃ Brahma Asmi (अहम् ब्रह्म अस्मि), “Akulah Brahman itu sendiri”, Brihadaranyaka Upanishad 1.4.10 yang adalah bagian dari Yajurveda.
  3. Tat Tvam Asi (तत् त्वम् असि), “Itu (Brahman) adalah Engkau”, ini diambil dari Chandogya Upanishad 6.8.7 yang adalah bagian dari Sāmaveda.
  4. Ayam Ātmā Brahma (अयम् आत्मा ब्रह्म), “Ātman ini adalah Brahman”, ini diambil dari Mandukya Upanishad 1.2 yang merupakan bagian dari Atharvaveda.

Pesan-pesan di dalam Veda sangat konsisten walaupun disampaikan dalam berbagai cara dan kemasan. Ajaran-ajaran ini menjadi induk dari agama-agama yang berkembang kemudian. Namun semakin jauh dari tempat asalnya, ajaran-ajaran ini sering mengalami degradasi sehingga tujuan agama mokṣa dan jagadhita terlupakan. Sebagian terjebak dalam hukum dan aturan agama yang sesungguhnya perlu disegarkan dari zaman ke zaman.

Yang lain bermain-main dalam surga dan neraka, dan menjadikannya sebagai tujuan utama. Padahal surga dan neraka dalam ajaran Veda hanyalah tempat “mampir” yang sifatnya sementara. Mereka memproyeksikan keinginan-keinginan yang tidak bisa dipenuhi di dunia ke alam surga. Neraka dijadikan instrumen untuk menakut-nakuti, agar orang menjadi penurut. Ini semua adalah kebalikan dari mokṣa yaitu kebebasan sejati dari keinginan dan ketakutan.

Sebagian yang lain berebut umat sebanyak-banyaknya dan melupakan esensi agama untuk mencapai jagadhita. Mereka tidak peduli dengan kebenaran dan kedamaian; yang penting dapat tiket ke surga! Mereka berjualan ‘keselamatan’ dari hal-hal di luar diri tanpa menyadari bahwa hanya pemberdayaan dirilah yang bisa menyelamatkan kita. Semua harus dicerna, diinterpretasi dari waktu ke waktu dan dilakoni sendiri.

Jika “Akulah Brahman”, seperti dalam mahāvākya di atas, maka klaim bahwa keselamatan hanya bisa diraih lewat orang/sosok tertentu terasa ganjil. Yang dibutuhkan bukan iman dan kepercayaan terhadap sesuatu/seseorang di luar, tapi upaya untuk mengupas daki avidyā, ketidaktahuan akan hakikat diri, lewat berbagai jalan (Yoga).

Hanya dengan cara ini kita akan terus berkembang—pencerahan tidak punya titik akhir. Hanya dengan “membereskan” diri, kita bisa membereskan berbagai masalah di sekitar kita. Kitab-kitab suci seperti jari yang menunjukkan arah. Jangan lupa bahwa kita sendirilah yang harus melakukan perjalanan itu.

finger-moon-hotei

“Seperti jari yang menunjuk bulan.”

Sanatana Dharma 05: Satu Tujuan Banyak Jalan

Hindu mengusung nilai-nilai universal Dharma yang sifatnya abadi (Sanātana) dan selalu membaru (Nūtana). Dharma ini menjadi landasan umat Hindu dalam menjalankan ‘misi’-nya hidup di dunia. Apa yang ingin dicapai? Tujuan Dharma adalah membebaskan kita dari identitas palsu sebagai tubuh, pikiran, perasaan, dan sebagainya yang sesungguhnya terus berubah. Inilah yang disebut mokṣa.

Selain itu Dharma juga dijalankan agar tercapai jagadhita, yaitu kebahagiaan dan kesejahteraan bagi semua makhluk. Seorang Hindu tidak bisa egois, hanya menginginkan kebahagiaan bagi diri, keluarga, maupun kelompoknya saja. Mencapai mokṣa bukan berarti meninggalkan kewajiban berkarya di dunia, namun sebaliknya juga harus menghasilkan jagadhita.

Oke, landasan dan tujuan sudah jelas. Lalu bagaimana cara mencapainya? Apa yang harus dilakukan? Jawabannya tidak tunggal. Hindu mengakui bahwa ada banyak jalan yang bisa ditempuh sesuai dengan sifat/watak serta tahap perkembangan spiritual setiap individu. Inilah keunikan Hindu Dharma yang membuatnya sangat menghargai perbedaan dan tidak dogmatis.

ye yathā māṃ prapadyante tāṃs tathaiva bhajāmy aham, mama vartmānuvartante manuṣyāḥ pārtha sarvaśaḥ. —Bhagavad Gita 4.11.

Dengan cara apapun seseorang mendekati-Ku, Aku menerimanya; karena sesungguhnya setiap cara, setiap jalan yang ditempuh manusia adalah jalan-Ku, jalan menuju-Ku.

Aku yang dimaksudkan di atas adalah Sang Aku, jiwa individu, ātman yang tunggal. Sekali lagi perlu diingat bahwa jalan bukanlah tujuan. Suatu saat kesadaran kita bisa meningkat sehingga apa yang dulu kita pandang jalan yang “paling benar” mungkin tidak lagi sesuai saat ini. Ibaratnya seseorang yang menyeberangi sungai, ketika sampai di tujuan perahu yang sebelumnya dipakai sudah tidak lagi dibutuhkan.

Bagi orang awam yang baru mempelajari Hindu mungkin hal ini akan terasa membingungkan. Ada sekian banyak pilihan dan kita dibebaskan untuk memilih yang paling tepat. Jika diibaratkan Hindu adalah butik tempat kita bisa memilih model dan ukuran pakaian. Hasilnya sudah tentu lebih pas daripada pakaian pabrikan. Pakaian pabrikan memang bisa dibuat secara masal, namun ukurannya terbatas.

istock-540095978

Jalan spiritual tidak terpisah dari dunia. Dalam Hindu, bekerja tanpa pamrih sebagai relawan melayani sesama dan lingkungan merupakan salah satu jalan mencapai tujuan beragama. (Sumber: timeshighereducation.com).

Ada empat macam jalan yang biasa dikenal sebagai Catur Mārga Yoga. Kata ‘mārga’ berarti jalan. Kata ini juga kita serap ke dalam bahasa Indonesia. Catur Mārga Yoga adalah empat jalan Yoga. Oh ya, Yoga di sini bukan hanya gerakan akrobatik yang “instagramable”. Yoga—berasal dari akar kata ‘yuj’—berarti praktik atau disiplin untuk menyatukan, memperkuat. Yoga inilah jalan untuk mencapai tujuan di atas.

yogaḥ citta-vṛtti-nirodhaḥ. —Yoga Sūtra 1.2
tadā draṣṭuḥ svarūpe avasthānam. (3)
vṛtti-sārūpyam itaratra. (4)

Yoga adalah pengendalian perubahan-perubahan pada citta (benih-benih pikiran-perasaan), sedemikian sehingga Sang Saksi (Jiwa) berada dalam kesejatian wujudnya. Sebaliknya, jika tidak terkendali, ia menganggap bahwa dirinya adalah perubahan-perubahan itu sendiri.

Keempat jalan tersebut adalah:

  1. Bhakti Yoga yaitu jalan yang mengembangkan perasaan manusia menjadi cinta dan bakti kepada “Sang Kekasih” yang disampaikan melalui puja-puji, musik, tarian, dan berbagai ekspresi dan seni lainnya.
  2. Karma Yoga yaitu menjalankan berbagai tugas dan kewajiban (baik yang terkait dengan dunia maupun menjalankan ibadah keagamaan) tanpa pamrih, salah satunya bekerja sebagai relawan.
  3. Jñāna Yoga yaitu jalan perenungan dan kontemplasi filosofis untuk mengupas realitas: mana yang fana, terus berubah-ubah dan mana yang baka, kekal, abadi.
  4. Rāja Yoga yaitu berbagai latihan untuk melampaui pikiran dan proses berpikir itu sendiri. Jalan ini juga kerap disebut jalan yang paling mistis/misterius.

Keempatnya ini hendaknya tidak dijalankan secara eksklusif (hanya sebagiannya saja) agar kita dapat berkembang secara menyeluruh, walaupun mungkin kita akan lebih condong pada salah satunya. Bhakti cenderung disukai mereka yang memiliki dorongan emosional yang kuat. Karma bagi mereka yang menyukai aktivitas fisik atau ritual keagamaan. Jñāna biasanya diminati para cendekiawan. Dan rāja bagi yang mereka yang ingin menyelam lebih dalam.

Yoga memiliki kedekatan makna dengan yajña (dibahas dalam tulisan sebelumnya). Yajña tidak terbatas pada upacara atau ritus-ritus keagamaan semata. Shri Krishna mengatakan bahwa:

evaṃ bahu-vidhā yajñā vitatā brahmaṇo mukhe, karma-jān viddhi tān sarvān evaṃ jñātvā vimokṣyase. —Bhagavad Gita 4.32.

Ada banyak sekali cara persembahan (yajña) yang dijelaskan oleh Brahmā. Ketahuilah bahwa semuanya itu lahir dari perbuatan nyata (dengan semangat persembahan). Dengan pemahaman demikian kau akan terbebaskan (dari duka dan dosa-kekhilafan).

Semua jalan tadi berujung pada pengetahuan sejati tentang ātman, Sang Diri yang Sejati:

jñānena tu tad ajñānaṃ yeṣāṃ nāśitam ātmanaḥ, teṣām ādityavaj jñānaṃ prakāśayati tat param. —Bhagavad Gita 5.16.

Ketika gelap ketidaktahuan tentang hakikat diri terlenyapkan oleh cahaya pengetahuan sejati; maka, matahari pengetahuan sejati itu pula mengungkapkan kembali kemuliaan Jiwa Agung.

367602f64c251bb07a38c77e8f465dfb

Bakti/devosi Hanuman kepada Rāma dan Sītā sangat besar. Keduanya selalu “ada” di dalam dadanya. Hanuman adalah contoh bhakta yang dikagumi.

Mungkin ada di antara pembaca yang bertanya-tanya: Kenapa sampai di sini, hingga tulisan kelima ini, Tuhan kok belum dibahas? Di antara keempat jalan di atas, bahkan hanya satu yang mungkin “membutuhkan” sosok Tuhan, yaitu Bhakti Yoga. Sedangkan ketiga jalan yang lain tidak harus melibatkan-Nya. Dalam Bhakti Yoga, Tuhan adalah sarana sekaligus tujuan.

Kadang seorang bhakta (pelaku Bhakti Yoga) menggunakan sarana pratimā (berupa gambar, patung, atau kaligrafi) dari Ia yang dicintainya. Setiap pratimā yang dipakai memiliki simbologi dan kisah tersendiri, namun semuanya membangkitkan kecintaan dan bakti di dalam diri sang bhakta. Dalam bhakti tidak ada nāma dan rūpa yang lebih tinggi dari yang lain, semua tergantung dari sang bhakta itu sendiri.

Ada yang memilih mūrti (perwujudan) dan pratimā Krishna, Rāma, ada pula yang mengembangkan devosinya kepada Kāli, Durga, atau Shiva, Vishnu dan sebagainya. Ada pula yang memilih-Nya sebagai Hyang Tak Berwujud. Semua sah-sah saja dan dihargai. Masing-masing orang atau kelompok masyarakat bisa mengembangkan cara beribadah, kitab-kitab suci, dan tradisi yang berbeda-beda.

Melalui cara ini seorang bhakta mengikis egonya, sehingga perlahan-lahan ia larut di dalam kemuliaan sang ātman yang ia proyeksikan ke luar diri sebagai pratimā tadi. Tuhan mengambil wujud sebagaimana bayangan dan harapan sang bhakta. Demikian, ia mencapai kebebasan dari kepalsuan dan merasakan persatuan lewat jalan pengabdian dan cinta kasih yang tulus.

main-qimg-33f0f389f88c01b160286ed7cd5ab72f

Shri Ramakrishna (1836–1886) adalah bhakta Dewi Kāli yang sangat terkenal. Beliau sering melihat Sang Dewi mewujud di hadapannya. Beliau juga adalah guru Swami Vivekananda.

Hal yang sama bisa dilakukan pula oleh mereka yang masih terlibat dalam pekerjaan dan menjalankan peran di dalam masyarakat dengan “berlatih” karma yoga, juga dalam menjalankan ibadah/persembahyangan keagamaannya. Inti karma yoga adalah pelayanan tanpa pamrih, yang berarti tidak transaksional (melibatkan jual-beli, mengharapkan untung-rugi, gaji/imbalan, dan sebagainya).

Volunteerism atau gerakan kesuka-relawanan yang sedang mendunia saat ini berakar dari filosofi yang sama. Membantu sesama yang membutuhkan maupun menjaga kelestarian lingkungan tanpa mengharapkan apapun, termasuk ucapan terima kasih, merupakan cara ampuh membebaskan diri dari ego sekaligus mewujudkan jagadhita.

Dalam upacara Agni Hotra peserta mengucapkan puja-puji dan menghaturkan persembahan lewat api suci yang diakhiri dengan afirmasi “idaṃ na mama” yang berarti “ini bukan milik/dari-ku”. Dengan kata lain, segala bentuk pekerjaan dan persembahan kita—baik dalam hal-hal yang duniawi maupun yang menyangkut peribadatan—semua terjadi karena-Nya.

brahmārpaṇaṃ brahma havir brahmāgnau brahmaṇā hutam, brahmaiva tena gantavyaṃ brahma-karma-samādhinā. —Bhagavad Gita 4.24.

Persembahan ini adalah Brahman, tindakan mempersembahkan itu pun Dia. Dia pula yang mempersembahkan ke dalam api suci yang sesunggunya adalah Dia juga. Seseorang yang melihat-Nya dalam setiap perbuatan niscaya akan mencapai-Nya.

Dengan semangat ini segala sesuatu dalam hidup kita bisa menjadi persembahan. Makanan yang akan kita makan, pekerjaan kita sehari-hari, hubungan kita bertetangga dan dengan orang-orang lain yang berbeda dengan kita bisa diwarnai semangat pelayanan. Inilah jalan karma, perbuatan.

agni

Peserta Agni Hotra memasukkan persembahannya ke dalam api dan mengucapkan berkali-kali: “idaṃ na mama”, (persembahan/kerja/karya) ini bukan milikku, tapi ada karena-Mu.

Bagi mereka yang ingin menggunakan jalur intelektualitas untuk mencapai kebebasan dan kesejahteraan dunia bisa menapaki jñāna yoga. Dalam bahasa Sanskerta ada dua kata yang paling sering digunakan sebagai padanan kata ‘pengetahuan’, yaitu jñāna dan vidyā. Vidyā (dari akat kata ‘vid’) memiliki kecenderungan makna: pengetahuan yg diperoleh dari proses belajar.

Sedangkan pengetahuan jñāna muncul dari momen pencerahan, kebijaksanaan yang berasal dari intelegensia (bukan hanya intelek) dari dalam diri. Hal yang mirip kita jumpai dalam bahasa Yunani yang juga memiliki gnōsis, γνῶσις yang berarti “personal knowledge” (yang mirip dengan jñāna) dan eídein, εἶδειν yaitu “intellectual knowledge” (mirip dengan vidyā).

Jadi jñāna yoga bukan hanya berarti mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi, membaca sebanyak-banyaknya buku-buku spiritual, namun lebih daripada itu: mengembangkan kebijaksanaan. Seorang jñānī atau ‘gyani’ (pelaku jñāna yoga) menelaah kehidupan ini lewat pemahaman spiritual. Ia “mengupas” alam benda yang terlihat bermacam ragam ini, yang sesungguhnya tidak abadi dan selalu berubah untuk menemukan esensi yang tunggal, yang sejati, abadi, dan tidak pernah berubah.

Di dalam Mundaka Upanishad disebutkan ada dua jenis pengetahuan: apara-vidyā dan para-vidyā. Segala cabang ilmu pengetahuan yang kita pelajari di sekolah, yang kita perlukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti matematika, ekonomi, fisika, sejarah, bahkan apa yang kita sebut “ilmu agama”, dan sebagainya termasuk dalam apara-vidyā yang sifatnya lebih rendah.

Sedangkan para-vidyā adalah pengetahuan tentang jiwa yang akan mengantarkan kita kepada kebebasan sejati (mokṣa). Para-vidyā akan mengentaskan kita dari penderitaan yang muncul dari pasang-surut dan perubahan-perubahan yang kita alami di dunia benda. Para-vidyā ini bukan pengetahuan biasa yang bisa kita hapalkan dan perdebatkan, namun membutuhkan pengalaman dan pengamalan sendiri.

meditation-india

Meditasi atau dhyāna adalah salah satu bagian tubuh (aṅga) dari delapan tahapan dalam disiplin Yoga yang dijabarkan Resi Patañjali dalam Yoga Sūtra. (Sumber: Flickr).

Terakhir adalah Rāja Yoga yaitu melakoni tahapan-tahapan disiplin Yoga untuk mencapai samādhi atau yang disebut juga keseimbangan diri, kesadaran, atau pencerahan. Melalui Rāja Yoga seseorang bisa “mencicipi” sendiri pengalaman-pengalaman para suci yang dicatat dalam kitab-kitab agama; karena itu ia disebut rāja.

Pengalaman-pengalaman tersebut bukan monopoli orang-orang tertentu, siapa pun bisa mengalaminya asalkan menjalankan tahapan-tahapan Yoga dengan benar. Jadi bisa dikatakan bahwa Hindu bukan agama yang berdasarkan pada iman sebagaimana agama-agama lainnya. Sebaliknya, Hindu mengajak umatnya untuk melakukan experiment dan experience, mengalami sendiri apa yang diajarkan.

Dalam tradisi Veda seseorang yang telah tercerahkan disebut ṛṣi (laki-laki) atau ṛṣikā (perempuan). Kata ini kita serap menjadi ‘resi’. Ṛṣi, resi, atau seers dalam bahasa Inggris adalah mereka yang “melihat” langsung Kebenaran, artinya mereka mengalami-Nya sendiri. Tidak ada perintah yang turun dari langit. Kebenaran itu selalu ada, selalu tersedia. Yang perlu dilakukan adalah memberdayakan diri sehingga kita pun bisa mengaksesnya.

Sebagaimana jalan-jalan yang lain, Rāja Yoga juga punya bermacam-macam rupa dan racikan yang disesuaikan dengan kebutuhan praktisinya. Dalam memilih racikan jalan yang paling tepat—kembali pada analogi butik—kita perlu seorang penjahit sekaligus desainer yang betul-betul memahami teknik sekaligus kebutuhan kita. Mereka inilah yang kita sebut para Guru.

Tradisi Hindu bisa betahan selama ribuan tahun hingga saat ini adalah berkat hadirnya para suci, yogi, guru, resi di setiap generasi. Mereka sudah mecapai mokṣa namun masih sudi “berkotor-kotor” dan berbagi dengan masyarakat luas. Hindu tidak hanya bergantung pada satu atau beberapa orang penyelamat atau utusan yang hidup di masa lalu yang membawa pesan-pesan terakhir. Kehidupan berjalan dan berkembang terus, demikian pula Hindu Dharma—karenanya ia Sanātana dan Nūtana.

Sanskerta Dasar 01: Kata Benda dan Perihal Nominatif

Tulisan ini utamanya saya ambil (dengan perubahan) dari buku First Lesson in Sanskrit Grammar (together with an introduction to the Hitopadesa), disingkat FLSG, edisi kelima yang ditulis oleh James R. Ballantyne, LL.D. Buku ini saya pilih karena ringkas, sederhana, dan cocok bagi mereka yang baru belajar bahasa Sanskerta.

Sebelum memulai pelajaran ini, silakan baca twit-twit saya sebelumnya tentang aksara dan bunyi dalam bahasa Sanskerta. Aturan-aturan yang saya kutip di sini adalah aturan yang paling umum, jadi tidak sepenuhnya menjelaskan tata bahasa Sanskerta. Di luar ini ada pengecualian yang akan dibahas secara terpisah.

Pelajaran 1

1. Kata benda Sanskerta yang ada di kamus adalah kata dasar yang masih “mentah” (selanjutnya disebut ‘kata dasar’ saja), artinya masih perlu diproses lebih lanjut agar bisa digunakan dalam kalimat.

2. Kata dasar bisa diakhiri bunyi vokal atau konsonan (mati). Bunyi akhir ini adalah salah satu hal yang menentukan proses perubahan kata dasar.

3. Bunyi vokal yang paling banyak pada akhir kata dasar adalah a अ, ā अा, i इ, ī ई, u उ, dan ṛ ऋ.

4. Setiap kata dasar memiliki ‘gender’, yaitu maskulin (*m), feminin (*f), atau netral (*n). Nama-nama laki-laki hampir selalu *m, demikian pula perempuan *f. Nama-nama benda atau fenomena juga bisa *m atau *f, misalnya ratha रथ (kereta) *m, sedangkan cintā चिन्ता (pikiran, kegelisahan) *f. Kata dasar yang diakhiri dengan ā dan ī kebanyakan *f.

5. Setiap kata benda menempati posisi tertentu di dalam kalimat (misalnya subyek atau obyek). Untuk itu setiap kata benda mengalami deklinasi (infleksi pada kata benda) menjadi tujuh macam posisi kata yang disebut ‘perihal’.

6. Perihal pertama adalah kata benda sebagai subyek yang dibicarakan di dalam kalimat. Ini umumnya diistilahkan: perihal ‘nominatif’.

7. Bunyi vokal akhir pada kata dasar seperti pada poin 3 mengalami perubahan sebagai berikut agar menjadi perihal nominatif:

  • a अ    menjadi    aḥ अः
  • ā अा   tidak berubah
  • i इ     menjadi     iḥ इः
  • ī ई     menjadi     īḥ ईः
  • u उ    menjadi    uḥ उः
  • ṛ ऋ    menjadi    ā अा

Catatan: kata benda *n berakhiran ‘a’ berubah menjadi ‘am’.

8. LATIHAN. Ubahlah kata-kata dasar berikut ini kedalam bentuk nominatifnya: aśva > aśvaḥ (kuda), icchā > icchā (kehendak), āsana* > āsanam (duduk), vīṇā > … (alat musik petik), buddhi (intelegensia), guru (guru), agni (api), kāka (gagak), mālā (kalung bunga), śrī (kesejahteraan), guṇa (sifat, kualitas), pitṛ (bapak), vacana* (perkataan), candra (bulan), deva (dewa), pūjā (persembahyangan), gṛha* (rumah), dharma (kebijaksanaan), vana* (hutan), mātṛ (ibu), parvata (gunung), madhya (tengah-tengah), hiṃsā (kekerasan), patra* (daun), pati (tuan), dhātṛ (pencipta), pāntha (pengembara), jala* (air), phala* (buah), rāvaṇa (Rahwana), vṛkṣa (pohon), baka (bangau), duḥkha* (penderitaan), śatru (musuh), sabhā (majelis), kartṛ (pelaksana), śiṣya (murid), sṛgāla (srigala), kula* (keluarga), duhitṛ (anak perempuan, putri), samudra (lautan), pustaka* (buku), kanyā (gadis), vyāghra (harimau), dātṛ (pemberi), hasta (tangan), rāma (Rama), śāstra* (susastra), brāhmaṇa (brahmana), tīra* (tepian, pantai), nara (manusia), manuṣya (manusia), putra (anak laki-laki, putra), dhana* (kekayaan), mṛga (rusa), anna* (makanan), hari (Wisnu), krodha (amarah), bāṇa (panah), cakra* (roda), mastaka* (kepala), prabhu (penguasa), śakti (kekuatan), sarpa (ular), bhakta (pengabdi), bhūmi (bumi), kapi (kera), huta* (persembahan, sesaji), puṣpa* (bunga), kavi (pujangga), grāma (desa), kriyā (tindakan), ruci (kenikmatan), pātaka* (dosa), vidyā (pengetahuan), mūṣika (tikus), caura (pencuri), bāla (anak laki-laki), mālika (tukang kebun), ārāma (kebun), tārā (bintang).
Catatan: yang bertanda * adalah kata benda *n.

Pelajaran 3

9. Untuk membentuk perihal nominatif beberapa bunyi konsonan pada akhir kata dasar berubah, di antaranya:

  • -c च् dan -ś श् berubah menjadi -k क्;
  • -n न् hilang dan (jika bukan *n) vokal sebelumnya dipanjangkan;
  • -r र् berubah menjadi -ḥ dan vokal sebelumnya dipanjangkan.

10. Selain itu, konsonan embus (seperti -kh ख्) berubah menjadi konsonan tak-embusnya (misalnya -k क्).

11. Beberapa konsonan akhir lainnya tidak berubah untuk perihal nominatifnya.

12. LATIHAN. Ubahlah kata-kata dasar berikut ini kedalam bentuk nominatifnya: vac (kata), rājan (raja), hastin (gajah), gir (perkataan), jagat (jagat), diś (arah), ātman (diri), vidyut (petir), nāman (nama), citralikh (pelukis).

 

Sanatana Dharma 04: Tujuan Beragama (bagian-3-habis)

Sebelumnya kita sudah membahas tentang salah satu sisi tujuan beragama bagi orang Hindu, yaitu Self-realization atau mengalami Sang Diri Sejati (ātman). Inilah yang disebut pencerahan, mokṣa, “manunggaling kawula gusti”, dan sebagainya. Pada saat itu kita melihat persatuan dan kesatuan segala sesuatu yang nampaknya berbeda-beda di alam raya ini.

Ketika kita menyadari bahwa ātman-ku dan ātman-mu satu, maka kepedulian kita meluas. Berbuat baik kepada orang atau makhluk lain bukan lagi soal mengumpulkan poin pahala (dari kata Sanskerta phala yang berarti buah, hasil). Kebaikan itu dilakukan memang karena ‘baik’. Membantu yang lain sama dengan membantu diri sendiri.

Inilah sisi lain mokṣa yang kita bahas dalam tulisan sebelumnya, yaitu jagadhita. Kata ini terdiri dari dua elemen: jagat dan hita. Elemen kata yang pertama sudah akrab bagi kita. Akar katanya ‘ga/gam’ yang berarti bergerak pergi. Ja-gat berarti sesuatu yang terus bergerak-gerak, berubah-ubah. Demikianlah sifat alam benda: tidak tetap.

Sedangkan hita berarti bermanfaat, menguntungkan, bersahabat. Mokṣa dan jagadhita adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Seseorang yang mencapai mokṣa, karena menyadari kesatuan ‘diri’-nya dengan semesta, tindakan-tindakannya menjadi bermanfaat, menguntungkan, dan bersahabat bagi jagat raya.

Jika diperhatikan di sini kita bisa melihat perbedaan dengan agama-agama yang dogmatis, yang menempatkan kepatuhan pada posisi yang tinggi. Bagi mereka peran kitab suci sangat sentral. Sebaliknya, Hindu menekankan pada transformasi diri sehingga orang tersebut mampu menentukan sendiri tindakan yang tepat dilakukan.

Peraturan memang masih dibutuhkan bagi mereka yang belum dewasa. Anak-anak yang masih duduk di bangku SD masih harus diatur-atur dan sesekali diiming-imingi agar melakukan hal-hal yang sebenarnya baik untuk dirinya sendiri. Semakin dewasa dia, orang tuanya akan memberikan kebebasan yang lebih besar lagi.

Alih-alih berharap mencapai surga, jagadhita adalah misi untuk membuat dunia ini menjadi ‘surga’. Tidak ada gunanya jika kita mencapai surga nanti di alam lain dengan mengorbankan planet ini atau menciptakan kerusakan dan keresahan di tengah masyarakat. Jagadhita tidak bisa dicapai sendirian, tapi bersama-sama.

pura-ulun-danu-bratan-bali-841865328-59c6d6b5685fbe001138763d

Pura Ulun Danu di tepi danau Batur, Bali. Hindu adalah agama yang dekat dengan alam. (Sumber: Patchareeporn Sakoolchai / Getty Images).

Jagadhita juga mengandung pesan untuk membangun harmoni dengan sekitar kita. Hindu tidak menempatkan manusia pada posisi penguasa alam, namun bagian dari alam itu sendiri. Ya, manusia bisa membuat alam sekitarnya semakin subur atau indah, ia juga bisa merusaknya. Namun manusia sering lupa bahwa ia lah yang lebih rentan.

Jika kita “berhasil” menghancurkan keseimbangan ekosistem di planet bumi, maka kita pula lah yang pada akhirnya akan menderita dan bahkan bisa punah. Sebelum ada manusia, planet ini sudah ada dan ia akan terus ada bahkan ketika spesies kita tidak ada lagi. Kehidupan tidak akan berhenti mencari keseimbangan-keseimbangan baru.

Oleh karena itu umat Hindu di Bali memiliki filosofi yang disebut tri hita kāraṇa, yaitu tiga hal yang menyebabkan keuntungan, manfaat, kebahagiaan. Yang pertama adalah harmoni antara manusia dengan sesama manusia; aspek ini disebut pawongan. Sedangkan dua aspek yang lain terkait erat dengan alam secara luas.

Aspek kedua adalah palemahan yaitu makhluk-makhluk yang lebih “lemah” daripada kita—dalam artian bisa relatif mudah terganggu oleh ulah kita. Sedangkan aspek ketiga, yaitu parahyangan, mencakup segala sesuatu yang lebih tinggi. Aspek terakhir ini sering dikaitkan dengan para hyang atau dewa—yaitu kekuatan-kekuatan alam.

Hidup harmoni dengan ketiga hal ini: pawongan, palemahan, dan parahyangan akan membuat hidup kita menjadi lebih bahagia dan sejahtera. Sri Krishna dalam Bhagavad Gita mengingatkan:

devān bhāvayatānena te devā bhāvayantu vaḥ, paras-paraṃ bhāvayantaḥ śreyaḥ param avāpsyatha. (3.11) iṣṭān bhogān hi vo devā dāsyante yajña-bhāvitāḥ, tair dattān apradāyaibhyo yo bhuṅkte stena eva saḥ. (12)

Artinya: (Melalui yajña) kau merawat para dewa, dan demikian pula sebaliknya para dewa akan merawatmu. Dengan begitu kau akan hidup dalam kebaikan. Para dewa akan menganugrahimu dengan segala yang kau butuhkan karena engkau merawat mereka dengan yajña. Namun siapa pun yang menikmati jasa para dewa namun tidak merawat mereka kembali adalah seorang pencuri.

Apa itu yajña? Kebanyakan umat Hindu mengaitkan yajña dengan upacara keagamaan atau persembahan belaka. Sebenarnya maknanya cukup luas. Kata ini berasal dari akar kata yaj’ yang memiliki tiga makna: deva-pūjā (persembahan kepada dewa), saṃgati-karaṇa (membuat terhubung, bertemu), dan dāna (pemberian).

Yajña adalah cara kita “berhubungan” dengan kekuatan-kekuatan alam lewat pemberian, persembahan, termasuk menghormati, merawat, dan melestarikannya. Pustaka-pustaka suci tertua Veda banyak menjelaskan tentang berbagai yajña ini. Tidak heran bila kita bisa menjumpai interaksi dan harmoni antara manusia dengan alam di dalamnya:

trīṇi cchandāṃsi kavayo vi yetire pururūpaṃ darśataṃ viśvacakṣaṇam, āpo vātā auṣadhayastānye kasmin bhuvana ārpitāni. —Atharvaveda 18.1.17.

Para bijak menggunakan ketiga hal ini dalam berbagai kesempatan; ketiganya punya sifat beragam, tersedia di mana-mana, serta punya banyak manfaat yaitu air, udara, dan tumbuh-tumbuhan (obat). Sejak permulaan ketiganya ‘melapisi’ bumi ini.

annād bhavanti bhūtāni parjanyād anna-saṃbhavaḥ, yajñād bhavati parjanyo yajñaḥ karma-samudbhavaḥ. —Bhagavad Gita 3.14.

Makhluk-makhluk hidup ada karena makanan. Makanan dihasilkan dari hujan. Hujan datang karena yajña, dan yajña terjadi karena perbuatan.

banten1

Umat Hindu menghaturkan persembahan. Yajña adalah salah satu cara mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan alam semesta. (Sumber: http://kb.alitmd.com).

Atharvaveda 12.1 (terdiri dari 63 mantra) dikenal sebagai Pṛthivi Sūkta yang berisi puja-puji yang sangat indah kepada Ibu Bumi. Saya kerap mendengar sindiran yang mengatakan bahwa puja-puji itu hanya pantas untuk Tuhan yang berada di atas sana. Inilah perbedaan Hindu dengan agama-agama lainnya. Seorang Hindu tak pernah memisah-misahkan Tuhan dan ciptaan-Nya.

yasyāṃ samudra uta sindhurāpo yasyāmannaṃ kṛṣṭayaḥ saṃbabhūvuḥ, yasyāmidaṃ jinvati prāṇadejat sā no bhūmiḥ pūrvapeye dadhātu. (3)

Padanya, Bumi, lautan, sungai-sungai, danau-danau, sumur-sumur air berada; padanya ladang-ladang tumbuh; padanya makhluk-makhluk aktif bernapas dan bergerak. Semoga Bunda Bumi memberikan kita makanan dan minuman seperti susu, buah-buahan, air, dan biji-bijian.

yat te bhūme vikhanāmi kṣipraṃ tadapi rohatu, mā te marma vimṛgvarī mā te hṛdayamarpipam. (35)

Semoga, Oh Bumi, apapun yang aku gali dan ambil darimu dengan cepat muncul dan tumbuh kembali. Oh Sang Pembersih, semoga kami tak menghujammu pada bagian vital atau jantungmu.

upasthāste anamīvā ayakṣmā asmabhyaṃ santu pṛthivi prasūtāḥ, dīrghaṃ na āyuḥ pratibudhyamānā vayaṃ tubhyaṃ balihṛtaḥ syāma. (62)

Oh Ibu Bumi, Pertiwi, semoga anak-cucuku tumbuh dalam pangkuanmu, bebas dari penyakit dan mara bahaya. Semoga kami hidup hingga tua, selalu waras dan awas. Kami haturkan segala yang kami miliki untukmu.

Kebahagiaan tidak bisa kita capai secara egois. Tidak perlu beragama jika kita hanya ingin membahagiakan diri sendiri, memuaskan segala keinginan-keinginan kita. Jika dalam upaya kita mencapai itu—termasuk mengejar surga—kita mengorbankan kesehatan, kepentingan orang lain, dan/atau kelestarian lingkungan, maka kita tidak bisa menyebut diri Hindu atau pengikut Sanātana Dharma.