Sanatana Dharma 03: Tujuan Beragama (bagian-2)

Kita sudah membahas tentang ātman dalam tulisan sebelumnya yang dikaitkan dengan tujuan beragama (Hindu), yaitu “ātmano mokṣārthaṃ jagadhitāya ca”. Dalam tulisan ini kita akan mengulas apa yang dimaksud dengan mokṣa dan kaitannya dengan ātman. Banyak umat Hindu sendiri yang kurang memahami konsep mokṣa, sehingga membuatnya terasa begitu jauh, mistis ,dan tidak membumi; padahal ini adalah tujuan umat Hindu.

Oh iya, sebelum melangkah lebih jauh saya ingin meluruskan makna “ātmano mokṣārthaṃ jagadhitāya ca” yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “mencapai kebahagiaan/ketentraman lahir dan batin”. Di sini, ‘lahir’ dikaitkan dengan jagadhita, sedangkan ‘batin’ dihubungkan dengan mokṣa. Pemaknaan yang demikian ini sangat tidak tepat dan menyempitkan makna frasa tersebut.

Seperti yang saya bahas sebelumnya, keduanya—lahir dan batin—adalah lapisan-lapisan yang membungkus ātman atau diri kita yang sejati. Membahagiakan fisik (lahir) dan pikiran-perasaan (batin) bukanlah tujuan beragama. Itu bisa dilakukan di luar agama. Kalaupun batin dikaitkan dengan sesuatu yang gaib, tidak kelihatan, yang hakiki (sesuai definisi KBBI), bisakah yang batin itu dibahagiakan/ditentramkan lagi? Menurut para resi, menyadari yang hakiki (sejati) itu lah sumber kebahagiaan itu sendiri.

Lalu, apa yang dimaksud dengan mokṣaMokṣa berasal dari akar kata ‘muc’ yang memiliki dua makna: pramocana (membebaskan) dan modana (membahagiakan, melegakan). Mokṣa bisa dimaknai sebagai kebebasan, kemerdekaan, atau pelepasan yang membawa rasa lega, ringan, bahagia karena yang hal-hal yang tadinya memenjara, menyelubungi, atau menghalanginya sudah tidak ada lagi. Di dalam teks-teks Veda yang paling tua mokṣa disebut dengan istilah lain, seperti amṛta (keabadian).

akl0s1h8ar637cfkyzjv

Upacara agni-hotra di Bali. Para peserta mempersembahkan biji-bijian, ghee, dan sebagainya ke dalam api sebagai simbol pelepasan segala keinginan dan nafsu di dalam diri. Api dipandang sebagai salah satu elemen alam yang membebaskan. (Sumber: Govoyagin.com).

Mokṣa juga adalah satu dari catur puruṣa-artha atau empat hal yang harus diperoleh seseorang agar hidupnya bahagia, yaitu: 1) dharma atau moral, etika; 2) artha atau harta benda; 3) kāma yaitu kepuasan ragawi dan psikologis; serta yang terakhir adalah 4) mokṣa. Keempat hal ini diibaratkan sebagai empat fondasi pokok kehidupan manusia Hindu. Kita akan membahas tentang ini lebih jauh dalam tulisan-tulisan yang lain.

Kebebasan ātman ini sering dianggap sebagai tanggalnya selubung badan fisik yang dicapai melalui tapa dan semedi selama sekian lama. Belum tentu seseorang yang meninggal ātman-nya sudah terbebaskan dari māyā atau kepalsuan. Di sisi lain, mereka yang masih berbadan belum tentu belum mencapai mokṣa. Veda menyebut orang-orang yang telah mokṣa, bebas, merdeka selagi hidup sebagai jīvan-mukta, dan sebagainya. Ini adalah pengalaman tertinggi, dan bukan diperoleh melalui olah intelektual semata.

Ada dua śloka Bhagavad Gita yang cukup menarik terkait dengan seorang jīvan-mukta:

yas tv ātma-ratir eva syād ātma-tṛptaś ca mānavaḥ, ātmany eva ca saṃtuṣṭas tasya kāryaṃ na vidyate. —3.17.

naiva tasya kṛtenārtho nākṛteneha kaś-cana, na cāsya sarva-bhūteṣu kaś-cid artha-vyapāśrayaḥ. —3.18.

Artinya lebih kurang sebagai berikut: Ia yang bahagia dengan dirinya sendiri (ātma-rati), ia yang puas dirinya sendiri (ātma-tṛpta), sentosa tidak ada sesuatu pun yang perlu dikerjakan lagi. Baginya, tidak ada lagi keuntungan yang ia dapat dari bekerja maupun tidak bekerja. Ia tidak perlu bergantung pada apapun dan siapapun karena ia sudah tidak lagi memiliki kepentingan pribadi.

Jangan disalahtafsirkan bahwa mereka yang tidak bekerja, berkarya, yang malas-malasan sebagai orang yang sudah mencapai mokṣa. Mereka ini sebenarnya masih terjerat dalam tamas—salah satu sifat alami yang membelenggu manusia—yaitu sifat malas. Oleh karena itu, Sri Krishna cepat-cepat menambahkan bahwa ia pun sudah tidak perlu berada di dunia, namun ia menyadari bahwa apabila ia tidak terlibat maka ia membiarkan kehancuran dan degradasi yang sedang terjadi (3.23–24).

Bagaimana dengan kita yang belum mencapai mokṣa? Sri Krishna menjelaskan:

tasmād asaktaḥ satataṃ kāryaṃ karma samācara, asakto hy ācaran karma param āpnoti pūruṣaḥ. —3.19

(Bagi mereka yang belum mencapainya) jalankanlah kewajibanmu dengan sebaik-baiknya dan tanpa keterikatan (pada hasilnya). Dengan berbuat demikian, kau akan mencapai kemuliaan (param).

Dalam pengertian yang luas, mokṣa berarti kebebasan dari ketakutan, kebebasan untuk berpikir, berpendapat, dan berkarya dalam batas-batas nilai kemanusiaan yang luhur. Seseorang dikatakan benar-benar bebas apabila ia tidak hanya merdeka dari pengaruh-pengaruh dari luar, namun juga tidak menjadi budak dari nafsu-nafsu hewani dan kepicikan diri. Mereka yang menuntut kebebasan luaran, namun masih dalam kendali kepentingan ego yang sempit belum bisa dikatakan mokṣa.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa mokṣa juga tidak ada sangkut pautnya dengan surga, seperti yang sering terdengar. Surga dan keadaan di dalamnya, dalam pandangan Veda, masih merupakan kelanjutan dari nafsu-nafsu kita di dunia. Di dalam surga kita masih terjerat dalam belenggu māyā, walaupun segalanya terasa enak dan nyaman. Mokṣa menjadi tujuan beragama karena ia memberikan kebahagaiaan yang sejati (yang berasal dari diri sendiri). Kondisi ini disebut oleh Sri Krishna sebagai brahma-nirvāṇa.

Nirvāṇa juga sering disalahartikan sebagai surga oleh masyarakat yang sebenarnya masih terobsesi dengan keinginan-keinginan duniawi. Dalam bahasa Sanskerta nirvāṇa berarti padam, lenyapnya segala gangguan yang menyebabkan kita terombang-ambing oleh suka maupun duka kehidupan. Mereka yang sudah mencapai mokṣa atau nirvāṇa ini—seperti yang dijelaskan Sri Krishna di atas—sudah tidak lagi perlu lahir kembali ke dunia ini. Mereka telah menyatu dengan keberadaan.

Namun, kalaupun ia memutuskan untuk kembali lagi, biasanya mereka mengemban misi untuk membantu meningkatkan kesadaran warga bumi dan untuk melindungi Dharma. Mereka inilah yang dikenal sebagai avatāra (berasal dari ava- + √tṝ yang berarti “menyebrang” untuk turun kembali ke bumi atau menurunkan kesadarannya untuk bisa mengambil badan manusia). Kelahiran para avatāra ini adalah perayaan bagi para bijak yang sedang berupaya mencapai mokṣa.

DdJPQXuU0AAaKh2

Meera atau Mirabai, seorang mistik dan bhakta Sri Krishna yang sangat terkenal Ia hidup pada abad ke-15–16 di India. Kecintannya pada Krishna mengantarnya mencapai kebebasan, mokṣa.

vāyur anilam amṛtam athedaṁ bhasmāntaṁ śarīram. —Yajurveda 40.15.

Semoga daya hidup di dalam diriku menyatu dengan Nafas Abadi, seperti tubuh fisikku ini berakhir sebagai abu.

kāmānyaḥ kāmayate manyamānaḥ sa kāmabhirjāyate tatra tatra, paryāptakāmasya kṛtātmanasvihaiva sarve pravilīyanti kāmāḥ. —Mundaka Upanishad 3.2.2.

Ia yang memikirkan terus-menerus dan menginginkan benda-benda duniawi akan lahir lagi dan lagi di sini. Namun mereka yang keinginan-keinginannya sudah tuntas dan sadar (akan kesatuan ātman dan Brahman), nafsunya pupus saat ini juga.

yathā nadyaḥ syandamānāḥ samudre’staṃ gacchanti nāmarūpe vihāya, tathā vidvānnāmarūpādvimuktaḥ parātparaṃ puruṣamupaiti divyam. —Mundaka Upanishad 3.2.8.

Sebagaimana sungai yang menyatu dengan lautan, hilang sudah nama dan wujud-nya, demikian pula ia yang mengetahui (akan kesatuan ātman dan Brahman) terbebas dari nama dan wujud, mencapai Puruṣa yang melampaui alam benda ini.

Sanatana Dharma 02: Tujuan Beragama (bagian-1)

Pembahasan soal agama hampir selalu dimulai dari Tuhan atau teologi. Siapa nama-Nya? Apakah agama tersebut monoteis, politeis, atau yang lain? Kadang pembahasannya juga menyentuh sifat-sifat Tuhan tersebut, dan “pembuktian” bahwa Tuhan itu ada, serta mengapa Tuhan ini adalah yang paling benar (dan yang lain tidak). Kemudian segala sesuatu yang lain berkembang dari sana. Tapi tidak kali ini.

Pembicaraan mengenai Tuhan dan teologi “secanggih” apapun—jika kita jujur—adalah asumsi-asumsi yang kita terima dari luar (lewat orang lain atau kita baca dari buku-buku yang dianggap suci). Kalaupun ada “pembuktian-pembuktian” yang disertakan, tak lebih dari pembenaran saja. Inilah yang disebut iman. Saya tidak akan memulai pembahasan tentang Hindu dengan cara ini karena menurut saya bukan cara yang tepat.

Hindu memandang agama, filsafat, teologi, dan sebagainya sebagai jalan-jalan yang ditempuh seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Jadi semua itu bukanlah tujuan, oleh karenanya pustaka-pustaka suci Hindu dipenuhi dengan dialog, percakapan, serta pembahasan yang sangat beragam, yang merangkum berbagai cara pandang dan tingkat kesadaran manusia. Hal ini juga membuat Hindu sangat terbuka pada penyegaran dan perkembangan zaman.

Inilah mengapa Hindu disebut sebagai Sanātana Dharma. Dalam bahasa Sanskerta sanātana berarti berarti sesuatu yang sangat tua, kuno, namun masih terus bertahan hingga sekarang. Rahasia umur panjangnya adalah kemampuan untuk selalu disegarkan dari waktu ke waktu sehingga selalu baru, bersifat kekinian (nūtana, Skt). Pustaka-pustaka Veda mulai dikumpulkan dan dikelompokkan sekitar 5.000 tahun yang lalu dan hingga sekarang masih menjadi sumber inspirasi.

Menurut saya cara terbaik mengenal Hindu adalah memulai dari akhir, mulai dari tujuan yang ingin dicapai oleh mereka yang menapaki jalan Dharma. Swami Vivekananda (1963–1902) mempopulerkan frasa apik untuk menjelaskan tujuan tersebut: ātmano-mokṣārthaṃ jagadhitāya caArtinya, tujuan beragama adalah untuk mencapai kebebasan (mokṣa) diri (ātman) dan demi kebaikan (hita) seluruh alam (jagat). Kedua tujuan itu sesungguhnya tunggal.

Swami_Vivekananda-1893-09-signed

Swami Vivekananda, seorang reformis Hindu yang berjasa memperkenalkan Hindu ke Barat.

Kalau diperhatikan, tujuan di atas bukanlah sesuatu yang jauh, seperti misalnya ‘mencapai surga’, atau ‘diselamatkan dari api neraka’. Tapi tujuan tersebut bisa dicapai di sini, di dalam kehidupan kita saat ini, tidak perlu menunggu sampai setelah kita mati. Hal ini bukan berarti bahwa surga dan neraka adalah sesuatu yang asing bagi orang Hindu. Sebaliknya. Istilah surga berasal dari kata Sanskerta swarga, sedangkan neraka berasal dari naraka.

Surga dipandang Hindu sebagai tempat sementara, di mana sang jiwa menikmati buah perbuatan-perbuatan baiknya selama hidup. Sebaliknya, di neraka ia menuai hasil perbuatan-perbuatan buruknya. Keduanya adalah kondisi sementara dan tidak abadi. Setelah habis “masa tinggalnya” maka jiwa tersebut lahir kembali ke dunia. Bahkan di dalam Sara-Samuccaya—yang sering dianggap kitab sucinya umat Hindu di Nusantara—mengatakan bahwa surga dan neraka adalah keadaan batin seseorang:

indriyāṇyeva tat sarvam tat svarga-narakāvubhau, nigṛhītani sṛṣṭāni svargāya narakāya ca. —Sara-Samuccaya 77

Surga dan neraka adalah hasil indra kita sendiri. Indra yang terkendali adalah surga. Jika lepas kendali, itulah neraka.

Kembali kepada “ātmano-mokṣārthaṃ jagadhitāya ca“. Untuk memahami maknanya secara lebih dalam kita perlu mengupas kata-katanya. Oh iya, mau tidak mau kita harus mulai membiasakan diri dengan istilah-istilah Sanskerta, bahasa yang digunakan dalam pustaka Veda. Dalam tulisan kali ini saya akan membahas ātman. Konsep ātman sangat penting dan bahkan menjadi fondasi dari keseluruhan ajaran Hindu yang akan kita bahas dalam tulisan-tulisan selanjutnya.

Dalam kamus bahasa Sanskerta ātman memiliki padanan makna: diri, jiwa (bukan dalam pengertian psikologi), penyebab hidup dalam diri seseorang. “Siapa ‘diri’ kita?” adalah pertanyaan yang universal. Apakah kita adalah tubuh, badan ini? Atau apakah kita adalah identitas yang kita pelajari dari lingkungan (nama, keturunan, suku, agama, ras, kelompok)? Atau kita adalah timbunan memori dan pengetahuan yang kita kumpulkan sejak lahir hingga sekarang?

meditation-india

Praktik meditasi telah dikenal di dalam Veda sebagai jalan untuk menyadari hakikat diri kita yang sejati. (Sumber: Flickr).

Ada sekian banyak hal yang bisa kita ‘cantolkan’ pada diri kita. Namun pertanyaannya, apakah hal-hal tersebut sifatnya sejati, atau malah artifisial dan bisa berubah-ubah. Kita tahu dari pelajaran biologi bahwa sel-sel di tubuh kita mati dan digantikan dengan materi-materi “baru” secara rutin. Bandingkan foto kita ketika kecil dan sekarang; pasti berbeda, kan! Pikiran dan perasaan kita juga tidak konstan, berubah-ubah terus. Apa yang kita sukai dulu, sekarang mungkin tidak lagi sama.

Hindu mengenal lima lapisan, selubung, sarung (kośa, Skt) tubuh atau kesadaran manusia, yang disebut pañca māyākośa. Kelima kośa ini dikatakan menyelubungi ātman sehingga membuatnya salah menganggap dirinya sebagai lapisan-lapisan ini. Ia menganggap yang māyā ini “nyata”, padahal selalu mengalami perubahan. Pengertian nyata di sini bukan dalam pengertian fisika, namun dari sudut pandang spiritual.

Kelima lapisan tersebut dari yang paling kasar ke yang paling halus adalah: 1) tubuh fisik yang disebut anna-māyākośa atau lapisan yang dibentuk dari apa yang kita konsumsi (anna, Skt); 2) lapisan energi atau prāṇa-māyākośa; 3) lapisan mental-emosional atau mano-māyākośa; 4) lapisan inteligensia yang disebut vijñāna-māyākośa; dan lapisan paling dalam adalah 5) lapisan kebahagiaan atau spiritual yang disebut ānanda-māyākośa. Taittiriya Upanishad (bagian dari Krishna Yajurveda) adalah salah satu teks tertua dalam tradisi Hindu yang membahas hal ini.

Kebanyakan orang mengasosiasikan diri dengan lapisan pertama, yaitu tubuh fisik. Ada pula yang lebih menganggap aspek mental-emosional (termasuk memori, kesukaan-dan-ketidaksukaan) sama dengan diri. Asosiasi yang ‘salah’ seperti ini—menurut Veda—menimbulkan penderitaan (duḥkha, Skt), misalnya ketakutan kita akan kerut-kerut yang mulai muncul di wajah atau uban di kepala, perpisahan dengan orang-orang yang kita sayangi (yang cepat atau lambat pasti terjadi), berbagai penyakit akibat gaya hidup yang salah, dan sebagainya.

Sebaliknya, kebahagiaan (sukha, Skt) terjadi apabila semua lapisan-lapisan tersebut terkendali dengan baik. Untuk itu kita perlu tuan yang berada di atas itu semua, yang menyebabkan semua lapisan tadi bisa berfungsi. Tuan itulah yang disebut oleh para resi sebagai ātman. Menerjemahkan ātman sebagai diri (self, Ing) sebenarnya tidak terlalu tepat karena ketika kita menyebut diri, masih melekat berbagai identitas luaran yang semuanya terkait dengan kelima kośa.

Ātman tidak memiliki kepribadian, watak, atau sifat-sifat yang kerap kita tempelkan pada diri kita. Alih-alih, para resi menemukan bahwa ātman-ku dan ātman-mu tidak berbeda. Lebih jauh mereka menyimpulkan bahwa “ātman-ātman” ini adalah bagian dari sesuatu yang satu. Kesatuan pada tingkatan paling dasar segala sesuatu di jagat raya ini disebut Hyang Tunggal, Brahman, dan lain sebagainya. Rigveda—kitab tertua umat manusia—menganalogikan Hyang Tunggal dan ātman seperti matahari dan sinar-sinarnya:

sūrya ātmā jagatas-tasthuṣaś-ca. —Rigveda 1.115.1.

Sūrya adalah ātman dari segala sesuatu di alam raya ini, baik yang bergerak dan yang diam.

Sri Krishna dalam Bhagavad Gita juga mengingatkan Arjuna:

avināśi tu tad viddhi yena sarvam idaṃ tatam, vināśam avyayasyāsya na kaś-cit kartum arhati. —Bhagavad Gita 2.17.

Ketahuilah bahwa yang melingkupi seluruhnya ini (Brahman dan ātman) adalah tak termusnahkan. Tidak ada seseorang/sesuatu pun yang bisa menghancurkan-Nya.

antavanta ime dehā nityasyoktāḥ śarīriṇaḥ, anāśino ‘prameyasya tasmād yudhyasva bhārata. —Bhagavad Gita 2.18.

Ia yang kekal abadi, tak termusnahkan, tak bisa diukur, menghuni badan-badan yang cepat atau lambat akan berakhir ini. Oleh karena itu, bertarunglah Arjuna!

endless1200

Kita tak pernah terpisahkan dari keseluruhan semesta raya. (Foto: Michael Shainblum).

Mencapai kesadaran ātman seperti di atas adalah inti agama Hindu. Hal ini tidak mudah! Berkali-kali, karena terseret oleh berbagai kenikmatan indrawi dan kesibukan pikiran, kesadaran kita ditarik pada lapisan-lapisan yang lebih rendah. Oleh karena itu, untuk mencapainya Hindu mengembangkan berbagai macam hal, seperti yoga, berbagai ritual, ayurveda, jyotisha, dan sebagainya untuk memantu manusia menyadari hakikat dirinya yang sejati.

Hanya dengan hidup dalam kesadaran ātman yang demikian manusia bisa mencapai kebahagiaan yang lebih berarti dan menjadi berkah bagi seluruh alam raya ini. Ada satu mantra yang sering dipakai sebagai penutup: samasthā lokā sukhino bhavantu; artinya: “semoga makhluk di semua alam berbahagia”. Ini bukan hanya sekadar doa, tapi sekaligus pesan agar kita berperan aktif dalam mewujudkan kebahagiaan di dunia.

Oṁ śāntiḥ śāntiḥ śāntiḥ!

Sanatana Dharma 01: Agama Misi?

Hindu telah menjadi identitas yang otomatis tersemat selama bertahun-tahun sehingga saya merasa tidak perlu memahaminya secara komprehensif. Semuanya dijalani dan dinikmati begitu saja. Sampai pada suatu hari saya bertemu dengan orang-orang yang menyatakan “ingin menjadi Hindu” dan meminta ditunjukkan tahapan-tahapan mempelajarinya. Jujur saja ketika itu saya bingung mulai dari mana.

Kebingungan saya itu berakar dari beberapa hal. Saya bisa saja memberikan mereka buku pelajaran agama Hindu yang dipakai di sekolah-sekolah, tapi saya merasa isinya penuh hapalan yang kering. Padahal saya tahu bahwa di luar itu, ajaran Hindu begitu kaya dan luas. Misalnya, kitab suci Hindu tidak hanya terdiri dari satu atau beberapa buku saja, namun jika dikumpulkan bisa mengisi satu perpustakaan.

Belum lagi ilmu pengetahuan dan tradisi yang lahir dari situ, juga lapisan-lapisan makna yang terjalin di dalamnya, membutuhkan waktu dan tenaga yang cukup banyak untuk memahami keseluruhannya. Buku-buku pelajaran agama tadi sayangnya tidak cukup dan bahkan akan memberikan kesan yang salah tentang Hindu sebagai agama yang dogmatis, seperti agama-agama lainnya yang mengedepankan iman.

Di sisi lain, kebingungan saya itu mungkin muncul karena dari dalam umat Hindu sendiri memang tidak pernah ada dorongan untuk meng-hindu-kan umat lain. Upaya mengkonversi agama untuk menambah jumlah umat adalah konsep yang aneh, bahkan ada yang memandangnya tidak spiritual dan berbahaya karena merupakan permainan ego. Alih-alih, Hindu mengajarkan umatnya untuk mengikis ego dan fokus pada pemberdayaan diri.

kadis-bali-hari-galungan-itu-lebaran-umat-hindu-w2jQKoOcjS

Umat hindu bersembahyang pada saat hari raya Galungan. (Sumber: Wonderfulbali).

Berbeda dengan agama lainnya, terutama agama-agama monoteis, Hindu berdiri di atas pluralisme yaitu pandangan yang melihat adanya beragam cara untuk mencapai tujuan: Hyang Tunggal. Sebaliknya, agama-agama monoteis secara tegas menyatakan bahwa hanya ada satu jalan yang benar, dan yang lain salah; keselamatan hanya bisa dicapai dengan mengimani sesuatu dan bukan yang lain. Menurut saya inilah akar fanatisme beragama yang merupakan akar konflik.

Mahatma Gandhi—seorang tokoh Hindu ternama dunia—bahkan pernah bilang bahwa konversi agama adalah “an error which is perhaps the greatest impediment to the world’s progress toward peace.” Kedamaian (śānti, Skt), baik di dalam maupun di luar diri, adalah sesuatu yang dijunjung tinggi di dalam ajaran Hindu. Konversi menciptakan tensi, ketegangan antarumat beragama dan kegelisahan di dalam diri yang sesungguhnya tidak perlu.

Konversi agama berdiri di atas asumsi superioritas. “Saya paling benar dan yang lain salah!” Seorang pengkonversi akan menghalalkan segala macam cara, mencari-cari pembenaran sekaligus kesalahan orang lain yang bisa dipakainya demi menghujamkan tombak argumentasi yang bisa membuat ‘lawannya’ takluk. Akibatnya, kebenaran bisa dikorbankan demi ego dan perjalanan ke dalam diri pun terabaikan.

Tapi bukan berarti umat Hindu hanya boleh bermain bertahan (defensif) menghadapi serangan mereka ini. Umat Hindu sebenarnya juga diberi peran sebagai Dharma-dūta untuk menyebarluaskan ajaran-ajaran luhurnya, Dharma, kepada orang lain. Hal ini bukan untuk bersaing menjadi yang paling banyak, tapi karena nilai-nilai Dharma bersifat universal dan membawa kebaikan bagi seluruh alam.

Veda—pustaka suci Hindu—menyatakan:

yathemāṃ vācaṃ kalyāṇīmāvadāni janebhyaḥ, brahmarājānyābhyām śūdrāya cāryāya ca svāya cāraṇāya ca. —Yajurveda 26.2.a-b.

Artinya lebih kurang: Semoga aku mampu menyampaikan ajaran-ajaran luhur ini kepada semua orang, kepada brahmana (pendidik, ilmuwan), kepada mereka yang terlibat dalam pengaturan masyarakat (pemerintah, pembuat kebijakan), kepada para pekerja dan pelaku ekonomi (petani, nelayan, pedagang, dsb.), juga kepada kerabat dan kawan sendiri dan kepada orang-orang lain.

Sekali lagi, pesan di atas bukanlah pesan konversi yang sifatnya superfisial. Mantra di atas pertama-tama memberikan kepercayaan diri bahwa ajaran Hindu mengandung kebaikan, kemuliaan (kalyāṇa, Skt) yang berguna bagi semua manusia—terlepas apa pun agamanya—demikian pula makhluk lainnya. Dan karenanya, perlu disebarluaskan.

BqJqZ

Umat hindu berkumpul saat Kumbh Mela di India. Umat hindu memiliki ritual dan tradisi yang berbeda-beda, namun berasal dari satu Dharma. (Sumber: dandapani.org).

Inilah ciri khas Hindu. Ketika yang lain mengedepankan eksklusifitas dan superioritas agamanya masing-masing, Hindu malah menonjolkan keuniversalan dan infklusifitasnya. Hindu tidak membagi umat manusia menjadi dua kubu, yaitu yang selamat dan yang dilaknat, hanya berdasarkan pada apa yang dipercayainya. Alih-alih menitikberatkan pada kepatuhan pada hukum-hukum keagamaan, Hindu berpegang pada prinsip Dharma dan kebahagiaan bersama.

Nilai-nilai Dharma bersifat universal dan langgeng, sedangkan hukum perlu terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Ini bukan berarti Hindu tidak memiliki hukum-hukum keagamaan. Ada, namun hukum tersebut bisa berubah mengikuti desa, kala, dan patra yaitu tempat, waktu, dan kondisi setempat—tidak berhenti pada satu titik di masa lalu. Hukum-hukum ini lahir dari dan terinspirasi oleh nilai-nilai Dharma.

Jadi, apakah Hindu agama misi? Jawabannya tergantung pada definisi ‘misi’ itu sendiri. Jika kita kaitkan misi dengan kegiatan misionaris atau dakwah yang mencoba mengubah identitas keagamaan seseorang, maka jawabannya tidak. Hindu memandang agama-agama dan kepercayaan yang ada tidak hitam dan putih, benar dan salah, tapi “melayani” bermacam jenis kepribadian, sifat, watak, dan tingkat perkembangan spiritual manusia.

Ada yang masih perlu menekankan pada sistem reward dan punishment (dalam bentuk pahala dan dosa yang bisa menentukan seseorang masuk ke surga atau neraka setelah mati), namun ada yang sudah melampaui keduanya. Ada yang menempatkan “keselamatan” hanya pada satu sosok/ajaran saja, ada pula yang menekankan pada kemandirian untuk meningkatkan kesadarannya. Watak seseorang sangat menentukan śraddhā apa yang ‘cocok’ baginya.

Namun apabila ‘misi’ tersebut dikaitkan dengan upaya-upaya memberdayakan diri dan meningkatkan kesadaran manusia agar ia bisa bertindak tepat dan menjaga keharmonisan hidupnya dengan sesamanya, dan dengan alam lingkungannya, maka ya, Hindu adalah agama misi. Inilah sifat dasar manusia yang terus menginginkan perbaikan diri, mencari ilmu pengetahuan dan cara-cara hidup yang memaksimalkan kebahagiaan—tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga untuk yang lain.

pura-ulun-danu-bratan-bali-841865328-59c6d6b5685fbe001138763d

Pura Ulun Danu di tepi danau Batur, Bali. Hindu adalah agama yang dekat dengan alam. (Sumber: Patchareeporn Sakoolchai / Getty Images)

Dengarkan pesan Rigveda 9.63.5 berikut ini:

indraṃ vardhanto apturaḥ kṛnvanto viśvamāryam, apaghnanto arāvṇaḥ.

Artinya lebih kurang: (Oh Soma) perkuatlah Indra, menyeberangi segala kesulitan, buatlah semuanya menjadi mulia (ārya), singkirkanlah mereka yang berpikiran picik, sempit (arāvṇa).

Ārya adalah istilah yang sentral dalam ajaran agama Hindu. Berbeda dengan anggapan umum, ārya bukanlah ras atau suku bangsa tertentu (yang dibayangkan berasal dari Asia Tengah atau Eropa Timur yang masuk ke India dan membawa Veda), namun terkait dengan sifat atau karakter. Kata ārya adalah turunan dari kata arya yang berarti ‘berbudi/berwatak baik’. Ārya adalah orang-orang yang memiliki sifat arya.

Kebalikannya adalah arāvan. Ada beberapa makna kata ini: 1) (ia) yang tidak bebas bergerak, berpikir; 2) (ia) yang tidak mau berbagi; 3) (ia) yang membenci, kejam. Sifat-sifat ini berseberangan dengan sifat arya di atas. Inilah misi seorang hindu, yaitu mengembangkan sifat-sifat arya di dalam diri, menyebarluaskannya, dan jika diperlukan, menghentikan mereka yang bersikap sebaliknya. Untuk itu kita perlu ‘membangkitkan Indra’ di dalam diri.

Perlu diingat bahwa ke-arya-an tidak otomatis “jatuh” pada orang-orang dari agama dan kepercayaan tertentu, atau mereka yang berasal dari ras atau suku bangsa tertentu. Kisah-kisah dalam tradisi Hindu kerap memperlihatkan perseteruan antara orang-orang dari agama/kepercayaan dan bangsa yang sama namun yang satu berpegang pada prinsip-prinsip Dharma sedangkan yang lain berpihak pada Adharma.

Tolok ukur misi seorang Hindu jelas, yaitu Dharma. Oleh karena itu kita perlu lebih dahulu memahami apa itu Dharma, apa misi kita, bagaimana mencapainya, serta ke mana kita akan melangkah. Dalam seri tulisan ini saya akan mencoba mengangkat hal-hal tersebut, dengan segala keterbatasan saya. Ini juga adalah sādhanā saya untuk memperjelas pemahaman saya sendiri tentang ajaran Hindu, dan jika ada orang lain yang mendapatkan manfaat dari sini, itu semata-mata berkah dari Hyang Widhi Wasa.