Dewi Suktam: Membangun Peradaban yang Spiritual

Selain Dewa (aspek maskulin), Veda juga memuat puja-puji kepada Dewi, yaitu aspek feminin Ketuhanan Yang Tunggal, misalnya: Saraswati, Illa, Bharati, Sri, dan seterusnya. Aspek feminin di dalam tradisi agama Hindu sangat penting, bahkan dirayakan, dan diagungkan hingga posisi tertinggi. Salah satu contohnya adalah Dewī Sūktam atau Vāk Sūktam, di dalam Ṛgveda maṇḍala ke-10, sūkta ke-125 (RV 10.125) yang akan dibahas di dalam tulisan ini.

67c5302a96b9e86e2b97b48692f7757c

Dewi Gayatri yang dikenal sebagai ibu dari Veda, sumber kebijaksanaan.

Sejalan dengan itu, Ṛgveda juga menekankan peranan penting perempuan yang mampu mencapai kedudukan tinggi di dalam masyarakat peradaban Hindu, baik di posisi-posisi sekuler seperti pemimpin pemerintahan, ilmuwan, pejuang, dan sebagainya, maupun di dalam bidang keagamaan sebagai pemimpin ritual, hingga penerima “wahyu” atau ṛshikā. Mantra-mantra di dalam RV 10.125 ini digubah oleh seorang resi perempuan bernama Vāg-ambhṛṇī—putri resi Ambhṛṇā.

Di dalam tradisi Hindu, peran perempuan tidak dibatasi di “dapur, sumur, dan kasur”. Perempuan juga tidak dipandang memiliki “defisiensi mental” sehingga tidak bisa dipercaya atau dijadikan pemimpin, sebagaimana di dalam tradisi agama tertentu. Perempuan di dalam Veda bukanlah obyek yang bisa dikuasai laki-laki: baik itu ayah, saudara/kerabat, bahkan suaminya. Veda juga tidak pernah memaksa perempuan untuk menutupi tubuhnya, yang pada hakikatnya adalah upaya pengekangan kebebasan perempuan.

Sebaliknya, di dalam Veda dan khususnya mantra-mantra berikut ini, aspek feminin ketuhanan—yang salah satunya dapat mewujud di dalam diri perempuan (di samping juga laki-laki)—dipandang sebagai daya sakti yang menggerakkan alam semesta, baik mikro (di dalam diri manusia) maupun makro (di luar diri). Keduanya, yang di dalam dan yang di luar, adalah satu kekuatan. Oleh karena itu, baik resi maupun dewata di dalam sūkta ini sama: Vāc.

Pencerahan Vāc (sang resi) membuatnya menyadari kehadiran Vāc (sang Dewi) di dalam dirinya, di dalam diri semua makhluk, di semua penjuru semesta. Di dalam tradisi Veda baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kesempatan untuk meraih kesempurnaan/pencerahan. Tidak ada monopoli kaum laki-laki atas kebenaran. Bahkan di dalam mantra ke-5 disebutkan bahwa Vāc (aspek feminin ketuhanan) lah yang menyebabkan seseorang mampu meningkatkan kesadaranannya, sehingga bisa meraih kesempurnaan/pencerahan.

Sebagaimana yang telah diketahui lewat sains modern. Perempuan, yang memiliki dua kromosom X, lah yang memberikan daya hidup kepada generasi selanjutnya. Mitokondria setiap anak, perempuan maupun laki-laki, diwariskan dari ibunya. Mitokondria di dalam sel-sel tubuh berperan sebagai pembangkit energi. Di samping itu, kini juga diketahui bahwa default kelamin embrio manusia adalah perempuan, yang dapat berubah menjadi laki-laki akibat paparan hormon dan hal-hal lain selama proses kehamilan.

Jadi tidak tepat apabila dikatakan bahwa perempuan berasal dari bagian tubuh laki-laki. Malah sebaliknya, laki-laki adalah modifikasi perempuan. Pemahaman ini ternyata sejalan dengan pesan di dalam RV 10.125 yang menyatakan bahwa aspek feminin lah yang merupakan asal dari aspek maskulin (mantra 7), dan daya sakti aspek feminin bekerja atau menggerakkan aspek maskulin (mantra 1–2). Sehingga apabila diaplikasikan dalam keseharian, umat Hindu menghormati aspek feminin ini, yang termanifestasikan di dalam kemuliaan perempuan.

Di dalam mentranskreasikan mantra-mantra berikut, saya utamanya berpijak dari bahasa Sanskerta sebagaimana yang diulas dalam dokumen ini, selain dari sumber-sumber lainnya. Dengan transkreasi ini saya berharap bahwa pesan-pesan Veda—yang merupakan sumber kebijakan peradaban Sindhu, Hindu, Indus, Indo yang mana Nusantara adalah bagian darinya—dapat kembali hidup dan tersebar lebih luas lagi. Semoga bermanfaat.

Anda juga dapat mendengarkan Dewi Suktam ini di YouTube:

***

ṚG VEDA 10.125 — DEWĪ SŪKTAM

Hariḥ Oṁ

Ṛshikā: Vāg-ambhṛṇī
Devatā: Vāc
Chaṇḍaḥ: Trishṭup, Jagatī

ahaṃ rudrebhir-vasubhiś carāmyaham ādityairuta viśvadevaiḥ |
ahaṃ mitrā-varuṇā-ubhā bibharmyaham indrāgnī aham aśvinobhā || 1 ||

Aku menggerakkan Rudra, Vasu, Āditya, dan semua dewa-dewa; Aku mengampu Mitra-Varuṇa, Indra-Agni, juga kedua Aśvin.

Catatan: Sūkta ini diungkapkan dalam gaya bahasa orang pertama (asmadādeśa) yaitu Vāg Dewi. Vāc sendiri secara harfiah berarti speech (In.) atau wicara, namun dalam pengertian yang lebih luas: persepsi atau daya pikir yang dapat diekspresikan lewat kata-kata baik lisan maupun tulisan. Vāg Dewi, di dalam Veda, mewakili sesuatu yang lebih dalam lagi, yaitu daya hidup, daya gerak, kecerdasan, kebijaksanaan dan kesadaran.

Oleh karena itu, dikatakan bahwa Vāg Dewi berada di balik dan menggerakkan (carāmi) kekuatan-kekuatan semesta. Ia lah yang membuat Rudra—dewa yang paling perkasa dan mengerikan di dalam tradisi Veda—memiliki keperkasaannya. Ia lah yang membuat Vasu—dewa yang paling lembut, elemen-elemen alam yang halus—mampu menyebar ke segala penjuru. Ia pula yang membuat Āditya—matahari—mampu menyebarkan energinya sehingga menghidupkan segala sesuatu di bumi ini.

Di samping itu, dewa-dewa Vedik klasik seperti duo Mitra-Varuṇa, Indra-Agni, dan si kembar Aśvin juga tidak akan mampu menjalankan fungsinya apabila Dewi tidak memberikan sebagian kekuatan-Nya. Pemahaman ini kemudian hari dikembangkan oleh para pengikut Śakta (pemuja aspek feminin Tuhan) termasuk Dewi Kāli/Durga yang Maha Perkasa, seperti di dalam Śrimad Dewī Bhagavata Purāṇa.

ahaṃ somam-āhanasaṃ bibharmyahaṃ tvashṭāramuta pūshanaṃ bhagam |
ahaṃ dadhāmi draviṇaṃ havishmate suprāvye yajamānāya sunvate || 2 ||

Aku menikmati perasan-Soma, Aku pula pengampu Tvashṭṛ, Pūshan, dan Bhaga; Aku menganugrahkan kekayaan pada sang panembah, ia yang memusatkan pikiran dalam persembahannya, dan semua yang terlibat.

Catatan: Mantra kedua ini menekankan aspek Vāg Dewi yang lebih approachable oleh manusia biasa, dalam hal ini lewat proses persembahan (yajña). Di dalam yajña, saripati persembahan kita (soma) diterima oleh Dewi yang kemudian hasilnya kita peroleh kembali dari Dewi juga lewat daya kreasi/kreatifitas (Tvashṭṛ), daya tumbuh (Pūshan), serta berbagai kenikmatan dan kenyamanan hidup (Bhaga). Ia lah sumber segala kesejahteraan (draviṇam) yang berusaha dicapai setiap orang.

aham rāshtrī saṅgamanī vasūnām cikitushī prathamā yajñiyānām |
tāṃ mā devā vyadadhuḥ purutrā bhūristhātrām bhuryāveśayantīm || 3 ||

Aku-lah Sang Ratu, penghimpun kekayaan, Hyang Maha Mengetahui, Hyang Pertama Dipuja; Para dewa menyebarkan (kesadaran tentang) Aku ke segala penjuru, (sehingga) Aku bertakhta di banyak negeri.

Catatan: Para dewa di dalam mantra ketiga ini tidak hanya berarti kekuatan-kekuatan alam sebagaimana yang dibahas pada kedua mantra sebelumnya. Di sini, para dewa bisa dikaitkan dengan orang-orang yang telah memperoleh pencerahan, para bijak. Mereka dikatakan menyebarkan kesadaran dan pemahaman ini ke berbagai negeri. Hal ini mematahkan klaim bahwa agama Hindu adalah agama yang hanya bersifat lokal dan tidak perlu disebar-luaskan.

Belakangan, banyak penemuan-penemuan arkeologis yang mulai melihat unsur-unsur pemikiran Vedik di berbagai mansyarakat di dunia, mulai dari Irlandia, Inggris di barat Eropa, hingga ke Rusia, dari Mesir, Timur Tengah, hingga ke Timur Jauh (Jepang, Korea, China). Ajaran Veda sangat adaptif dan fleksibel sehingga ‘kulit luar’-nya tidak harus seragam, namun bisa mengambil corak kebudayaan yang sudah ada sebelumnya. Pendekatan budaya—bukan lewat perang—ini sangat khas peradaban Sindhu.

unnamed

Dewi Lakshmi, Sang Penganugerah Kekayaan/Kesejahteraan.

mayā so annamatti vipaśyati yaḥ prāṇiti ya īṃ’śṛnotyuktam |
amantavo māṃ ta upa kshiyanti śrudhi śruta śraddhivaṃ te vadāmi || 4 ||

Melalui-Ku lah seseorang dapat menyantap makanan, mampu melihat, bernapas, dan mendengar;Sekarang dengarlah sabda-Ku kepadamu: Bahkan ia yang tidak “menyadari” keberadaan-Ku, dan ia yang tidak mampu “mendengar”-Ku pun sesungguhnya dekat dengan-Ku!

Catatan: Tuhan hadir di mana-mana dan anugerah kehidupan-Nya tidak hanya terbatas pada mereka yang menyadari keberadaan-Nya saja, namun juga semua orang, seperti matahari yang memberikan hangat cahayanya bahkan kepada seorang buta yang tidak mampu melihatnya sekali pun. Mantra ini adalah deklarasi kasih dan sayang-Nya yang tidak terbatas, yang seharusnya menginspirasi kita untuk tidak ikut-ikutan meng-kafir-kafir-kan umat lain, mengangap mereka lebih rendah, atau melakukan diskriminasi.

Umat Hindu tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan, namun juga perlu diingat bahwa kita tidak boleh membiarkan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan terus dilakukan oleh orang lain kepada kita. Sebagaimana pesan mantra sebelumnya, kita juga perlu untuk secara aktif menyadarkan mereka yang berpandangan picik/sempit sehingga melihat keterpisah-pisahan antarumat manusia.

ahameva svayamidaṃ vadāmi jushṭam devebhiruta mānushebhiḥ |
yam kāmaye taṃtamugraṃ kṛṇomi taṃ brahmāṇaṃ tamṛshiṃ taṃ sumedhām || 5 ||

Sabdaku yang demikian diagung-agungkan baik oleh para dewa dan umat manusia; Siapapun yang Aku kehendaki, Aku jadikan ia perkasa, brahmana, resi, bijaksana.

Catatan: Vāg Dewi di dalam mantra ini dipandang sebagai sumber kecerdasan dan kebijaksanaan. Pertama-tama, manusia belajar hidup dengan berbagai elemen alam: membangun tempat tinggal yang melindunginya dari hujan dan panas terik, mencari sumber air bersih, mengelola alam untuk bercocok tanam, beternak, dan sebagainya. Kemudian, manusia mulai memetik hasil dari kerjanya (mantra 1–2). Ia pun kemudian mampu meningkatkan kesejahteraan diri, keluarga dan masyarakatnya (mantra 3–4).

Setelah itu, baru manusia bisa membangun peradaban yang ditopang oleh sistem pendidikan yang berkesadaran: bahwa Tuhan hadir di mana-mana, di dalam dan di luar diri kita masing-masing; proses pendidikan adalah untuk mengolah diri dan pikiran kita agar mampu “melihat” dan “mendengar” sabda-Nya di mana-mana, di seluruh alam semesta ini. Mereka inilah yang disebut para bijak, resi, atau brahmana. Merekalah yang memimpin dan menggerakkan peradaban, dibantu dengan elemen-elemen masyarakat yang lainnya: para pegawai negeri, militer, pedagang, seniman, petani, dan para pekerja.

sarasvati528

Dewi Saraswati, Sumber Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Kebijaksanaan.

ahaṃ rudrāya dhanurā tanomi brahmadvishe śarave hantavā u |
ahaṃ janāya samadaṃ kṛṇomyahaṃ dyāvāpṛthivī ā viveśa || 6 ||

Aku merentangkan busur Rudra untuk menghancurkan pembenci brahmana;
berperang demi umat manusia, Aku lah penguasa langit dan bumi.

Catatan: Tidak selamanya cetak biru yang ditulis dalam catatan mantra ke-5 dapat dijalankan dengan lancar. Seringkali, kekayaan dan kesejahteraan yang dicapai diincar oleh mereka yang malas dan berjiwa kasar. Karena belum berkembangnya kesadaran, mereka pun membenci para bijak, resi, dan brahmana yang ajarannya bertentangan dengan nafsu dan kebodohannya. Mereka inilah yang disebut ‘pembenci brahmana’ yang dijelaskan pada mantra ke-6 ini.

Jika dibutuhkan, umat Hindu harus siap untuk mengangkat senjata, merentangkan busur Rudra, dan membela peradabannya. Kita tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik ajaran ahimsa. Bagi mereka yang mengerti bahasa anti-kekerasan dan akal sehat, kita memang perlu mengedepankan cara-cara yang ahimsa untuk mencari solusi permasalahan yang dihadapi. Namun, apabila kita sedang menghadapi mereka yang ingin menghabisi kita, maka tidak ada cara lain bagi umat Hindu selain “memanggil” Dewi Mahākāli—Penguasa Langit dan Bumi—Hyang Maha Mengerikan.

123_18

Dewi Mahākāli yang Maha Digdaya.

ahaṃ suve pitaramasya mūrdhan mama yonirapsva’ntaḥ samudre |
tato vi tishṭhe bhuvanānu viśvotāmūṃ dyāṃ varshmaṇopa spṛśāmi || 7 ||

Dari-Ku, Bapa lahir di puncak langit, sedangkan sumber-Ku berada di kedalaman Samudra di dalam diri; Dari sana, Aku menyebar ke seluruh penjuru semesta, dan dengan keagungan-Ku, Aku menyentuh (mencapai) langit itu.

Catatan: Mantra ini berisi simbol-simbol yang maknanya tidak mudah diungkapkan sepenuhnya. Sebagaimana dijelaskan di dalam pengantar, salah satu pesan di dalam mantra ini sejalan dengan penemuan sains mutakhir yang mengungkap bahwa maskulinitas (manusia) lahir dari femininitas. Hal lain yang bisa ditarik dari sini adalah bahwa Tuhan yang bersifat maskulin, yang seolah-olah duduk di atas singasana di atas langit sana, sesungguhnya merupakan ‘anakan’ dari Tuhan yang bersifat feminin.

Pemujaan terhadap Dewi, mungkin adalah kepercayaan yang lebih kuna, lebih tua umurnya di dalam peradaban manusia. Pemujaan terhadap aspek maskulin ketuhanan membuat manusia menjadi keras dan kaku; ia harus mengikuti segala peraturan yang dibuat Sang Bapa. Pemuja-Nya juga menjadi ekspansionis; mereka menjadi aktif, efektif dan efisien, dan kemudian berupaya menaklukan orang-orang lain yang berbeda kepercayaan. Mereka percaya pada konversi.

Sedangkan, para pemuja aspek feminin-Nya lebih mementingkan perjalanan batin ke dalam diri, meditasi, yoga, dan sebagainya. Mereka menyadari bahwa Tuhan berada di kedalaman ‘samudra’ kesdaran di dalam dirinya sendiri. Mereka tidak percaya pada konversi. Perjalanan ke dalam ini pada saatnya akan membuat kita menjadi dinamis, kreatif, dan penuh kasih. Mereka pun akan mampu menemukan Tuhan yang tidak dibatasi oleh sekat-sekat agama.

ahameva vātaiva pra vāmyārabhamāṇā bhuvanāni viśvā |
paro divā para enā pṛthivyaitāvatī mahinā saṃ babhuva || 8 ||

Aku mengembuskan napas, seperti angin, yang menghasilkan semua bentuk kehidupan; Demikian, keagungan-Ku melampaui alam benda, langit dan bumi ini.

Catatan: Pada akhirnya, pemuja-Nya harus melampaui segala sesuatu di alam benda: melepaskan keterikatan dan pandangan yang memisah-misahkan manusia yang satu dengan yang lain, manusia dengan semesta, dan puncaknya: manusia dengan Tuhannya. Segala bentuk kehidupan dan benda-benda yang menyenangkan, yang nampaknya bermacam-macam ini sesungguhnya berasal dari Hyang Tunggal. Mencapai kesadaran ini, manusia memperoleh kebebasan yang sejati.

om-universe

AUM, Ia Yang Tak Terjelaskan, Sumber Segala Sesuatu.

 

OM Shanti, Shanti, Shanti

Leave a Reply