Hindu Menjawab: Politeisme dan Pemujaan Berhala

Umat Hindu telah sejak lama menjadi bulan-bulanan ketika umat-umat beragama lainnya berbicara tentang Tuhan. Umat Hindu kerap dicap (bahkan tidak jarang juga mencap dirinya sendiri) politeis, ‘bertuhan banyak’, yang kemudian dipandang lebih rendah daripada saudara-saudaranya yang monoteis. Julukan ini jelas tidak tepat jika kita benar-benar memahami ajaran-ajaran Hindu yang tertuang di puluhan kitab itu. Yang sering menjadi masalah sebenarnya adalah umat Hindu sendiri yang entah tidak memahami, atau tidak mampu merumuskan argumentasinya dengan baik.

Sudah banyak buku, artikel, tulisan-tulisan di media cetak dan elektronik yang berupaya mengisi kekosongan ini, namun menurut saya sebagian besar masih terfragmentasi atau belum sampai kepada akar permasalahannya. Kebanyakan tulisan yang ada mengambil jargon-jargon yang lebih bersifat defensif dari buku-buku agama, daripada mengeksplorasi khasanah filosofi Hindu yang sesungguhnya kaya akan makna dan membutuhkan perenungan. Di tengah serangan pihak-pihak luar, memang strategi bertahan seperti ini bisa meredakan perang argumen, namun masih akan menyisakan pertanyaan di dalam benak umat.

Seringkali tanpa sadar umat Hindu masuk dalam jebakan “permainan” umat lain dan kesulitan menemukan jalan keluar dari labirin logika yang dibuatnya. Kesalahan pertama dan kekalahan umat Hindu berawal dari pengambilan titik pijak yang sama dengan mereka. Misalnya, umat lain mengutip satu ayat di dalam Veda yang mengatakan bahwa “Tuhan satu ada-Nya” (RV 1.100.7, AV 13.4.15–21), atau “Tuhan tidak memiliki citra/patung” (YV 32:3); kemudian—karena berasal dari Veda—umat Hindu mau tidak mau menerima argumen dasar ini. Setelah itu dengan mudah umat lain mengobrak-abrik segala apa yang diyakini umat Hindu—yang selama ini memuja sekian banyak Dewata dengan segala atributnya.

Jika dipandang dari sudut lain, kekalahan umat Hindu—seperti contoh di atas—juga terjadi karena ketidaktahuan dan rendahnya akses pengetahuan umat Hindu akan ajaran agamanya sendiri. Berapa banyak sih umat Hindu yang memiliki kitab-kitab suci Veda, seperti Catur Veda, Bhagavad Gita, Upanishad, dsb. di rumah? Seberapa banyak pula yang memahami bhs. Sanskrit? Kalaupun ada, berapa banyak umat Hindu yang mempu berkomunikasi dengan baik dan berpikir kritis?

Memang kondisi saat ini sudah jauh lebih baik bila dibandingkan 20 tahun yang lalu ketika saya masih SMA. Saat itu internet masih menjadi barang mewah, akses terhadap kitab-kitab suci Veda masih sangat terbatas, boro-boro memahami bhs. Sanskrit, kebanyakan sumber informasi berkualitas tentang ajaran-ajaran Hindu hanya tersedia di dalam bhs. Inggris—yang masih sulit saya pahami. Sekarang sudah banyak terjemahan kitab-kitab Veda di toko-toko buku dan perpusatakaan, walaupun dengan kualitas yang masih bisa saya bilang kurang memuaskan.

Jika diibaratkan seperti ikan dan air, kitab-kitab Veda hanya “hidup” di dalam lingkungan spiritual yang disebut Ashram. Dengan mengeluarkannya dari “lingkungan hidupnya”, misalnya di lingkungan akademis, Veda hanya menjadi “dead fish” yang bisa dibedah dan bahkan dipotong-potong dan dimasak sesuka hati. Itulah sebabnya sejak dahulu, Veda disampaikan di dalam parampara (BG 4.1–3), dari seorang Guru kepada Shishya yang ber-bhakti. Umat Hindu di Bali masih memiliki Pasraman yang terbatas hanya untuk pedanda/pemangku atau calon-pemangku upacara saja. Padahal fungsi Ashram jauh lebih luas dari itu.

Ashram adalah “air” sekaligus tulang punggung. Patahnya tulang punggung Ashram mengakibatkan kemunduran (Hindu dan Buddha) Dharma di Nusantara sekitar 1000-an tahun yang lalu. Hal inilah yang kemudian memudahkan jalan masuk dan menyebarnya agama-agama asing, seperti Islam dan Kristen. Walaupun belum benar-benar “mati”, bahkan nilai-nilainya masih hidup bercampur dengan nilai-nilai Islam dan Kristen di banyak daerah, ajaran-ajaran Dharma tidak juga dikatakan “hidup”.

Upacara-upacara keagamaan, seperti yang masih bisa kita lihat di Bali, Sunda Wiwitan, Kejawen, Parmalim, Kaharingan, Tengger, hingga India, Indo-Cina, Jepang, dsb. hanyalah kulit luar dari Dharma. Landasan spiritual-filosofis—yang disebut tattva—dan landasan etika-moralnya—yang disebut susila—seolah berhenti di tempat. Tidak heran bila ada umat beragama lain yang melihat Hinduisme sebagai relik yang layak dimuseumkan. Di sisi lain, terlupakannya tattva atau esensi Dharma menciptakan ilusi keterpisah-pisahan umat Hindu di satu daerah dengan yang di daerah lainnya. Jika kita ingin membalikkan keadaan, maka uma Hindu membutuhkan tegaknya institusi Ashram yang inklusif.

Saguṇa: Keilahian Semesta
Ketika menulis tentang teman Tuhan dan Ketuhanan, sebenarnya saya senyum-senyum sendiri. Siapa saya membicarakan Tuhan yang katanya Maha Luas itu? Bahkan mereka yang bergelar profesor di bidang agama pun, tidak akan pernah mampu memahami-Nya. Di dalam kecemerlangan cahaya-Nya, kita tidak bisa “melihat”-Nya (YV 40.15); dan di dalam keterbatasan bahasa, kita tidak mampu “menjelaskan”-Nya, kita membisu (YV 30.19). Oleh karena itu kita menyandarkan pemahaman kita pada “kesaksian” para Rishi (RV 10.71.4), dan Avatara seperti Shri Krishna di dalam Bhagavad Gita.

Hinduisme unik, sehingga tidak bisa dipahami dari sudut pandang agama-agama lain, khususnya yang berasal dari luar wilayah utama Peradaban Sindhu—yang membentang dari Afghanistan di barat, Anak Benua Hindia, Indo-China, hingga ke Kepulauan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hinduisme tidak hanya membentang luas secara geografis saja, namun juga dalam waktu. Hinduisme tidak lahir pada satu rentang (ruang dan waktu) yang pendek, namun telah ada setidak-tidaknya 6000 tahun sebelum tarikh Masehi [1] dan mengalami pengayaan terus-menerus, bahkan hingga saat ini. Oleh karena itu umat Hindu menyebutnya: Sanatana Dharma (Dharma yang abadi), dan Nutana Dharma (Dharma yang selalu membaru).

Dr. David Frawley (Pandit Vamadeva Shastri) menyatakan bahwa para Rishi di dalam Rig Veda, kitab tertua umat manusia dan menjadi inspirasi utama Hinduisme, memandang Tuhan sebagai Keberadaan yang “one and many, many in one, and one in many” [1]. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa persepsi manusia memiliki keterbatasan, dan Tuhan atau Keberadaan tidak bisa dikurung, dibatasi, dan dikuasai oleh pikiran manusia . Hinduisme melihat semesta ini sebagai bagian dari-Nya (Purusha Sukta, RV 10.90), dan berkembang dari Ia Hyang Tunggal:

eka eva agnir bahudhā samiddha ekaḥ sūryo viśvam anu prabhūtaḥ, ekaivoṣaḥ sarvam idaṃ vi bhātyekaṃ vā idaṃ vi babhūva sarvam.—RV 8.58.2.

“Sebagaimana satu nyala api menyalakan yang lain, sebagaimana satu matahari menyinari semua; seperti satu fajar memancar menerangi alam raya, demikianlah Ia Hyang Tunggal menjadi segala sesuatu di semesta ini.”

Ide yang sama terus berlanjut di dalam Bhagavad Gita, bahwa tidak ada sesuatu pun yang berada di luar-Nya, semesta ini “terikat” pada-Nya “seperti rangkaian manikam yang terbuat dari benang, dan terikat dengan benang itu sendiri,” (BG 7.7). Hal ini bahkan dijelaskan lebih mendetail pada ayat-ayat selanjutnya (8–10), bahwa Tuhan Hyang Diagungkan di dalam Veda adalah rasa di dalam air, cahaya matahari dan sinar rembulan itu sendiri, wangi tanah, dan nyala api, dst. Ia Hyang Satu Ada-Nya “mengalir” di dalam segala benda di dalam semesta ini.

Umat Hindu menyebut aspek di atas sebagai saguṇa, aspek-Nya yang kasat mata, yang bisa didengar, dirasakan, dicium, dan disentuh. Para Dewa dan Dewi yang diagungkan di dalam Veda adalah Tuhan yang satu, seperti sinar matahari yang bisa “dipecah” ke dalam spektrum warna, dari merah (panjang gelombang 620nm) hingga violet (450nm), yang bisa ditangkap mata manusia. Masing-masing Dewa dan Dewi mewakili aspek-Nya yang bersifat khas, khusus, yang bersentuhan langsung dengan kehidupan para bhakta-Nya. Sama halnya dengan para ilmuwan yang mempelajari matahari, melihatnya dari berbagai citra: inframerah, ultraviolet, X-ray, Gamma-ray, dst. masing-masing memberikan insight yang berbeda-beda.

Kekuatan-kekuatan alam, seperti api, angin, petir, awan, dsb. tidak dipandang hanya sebagai “benda” yang lebih rendah dari manusia. Demikian pula binatang dan tumbuhan yang juga diagungkan di dalam Veda, dipandang dengan penuh rasa hormat karena Tuhan juga “mengalir” di dalamnya. Para Rishi menyadari bahwa kehidupan manusia tidak bisa lepas dari alam beserta makhluk-makhluknya; ada keterkaitan yang erat yang saling menunjang (BG 3.11–12). Tidak hanya sampai di situ, para Rishi juga melihat kekuatan-kekuatan alam, binatang, dan tumbuhan sebagai refleksi dari batin manusia.

Api atau Dewa Agni, misalnya, dipandang sebagai kekuatan intelejensia, kekuatan untuk mentransformasi kelemahan-kelemahan manusia menjadi kekuatan dan kemuliaan. Agni melambangkan kekuatan membakar, mencipta, daya kreasi, dan kecerdasan. Agni juga sentral di dalam upacara persembahan, yajña, yang mana para Rishi menuangkan biji-bijian, rempah, ghee, dsb. agar bisa “dinikmati” para Dewa lainnya. Agni bukan hanya nyala api, tapi ia juga Sang Surya di siang hari, dan Sang Candra, dan bintang-bintang di malam hari, petir di awan, dan energi pada umumnya. Simbolisme di dalam Veda sangat kompleks dan dan memiliki dimensi yang berbeda-beda.

Tapi kan Tuhan tidak layak dicitrakan seperti manusia, dengan tangan dan kaki, bahkan kadang digambarakan sebagai binatang atau manusia-setengah-binatang?! Lagi-lagi, pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa si penanya belum sepenuhnya bisa menerima Keilahian semesta sebagaimana yang diungkapkan di dalam Veda. Penggambaran Tuhan, dalam aspeknya sebagai Dewa atau Dewi tertentu dalam wujud manusia bukanlah upaya mereduksi Tuhan ke dalam citra/wujud manusia, namun sebaliknya: mengangkat Keilahian di dalam diri manusia. Gambar atau patung Dewa dan Dewi adalah alat mengingatkan manusia akan kesejatian diri yang sesungguhnya tidak terpisahkan dari-Nya (BG 2.18–26, AV 10.8.43–44).

Tuhan, di dalam Veda, adalah laki-laki, perempuan, kedua-duanya, sekaligus melampaui semuanya. Para Dewa adalah perwujudan kekuatan maskulin alam semesta di dalam persepsi manusia, seperti keberanian, kepemimpinan, dan penciptaan. Para Dewi adalah perwujudan kekuatan feminin alam semesta di dalam persepsi manusia, seperti daya hidup, kasih-sayang, ilmu pengetahuan dan seni. Tuhan juga “hadir” di sepanjang umur sebagai anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua (AV 10.8.27).

Hal ini bukan berarti bahwa Hinduisme memuja berhala—menganggap gambar atau patung yang dipakainya dalam pemujaan sebagai Tuhan itu sendiri. Gambar dan patung—mengikuti hukum alam—bisa rusak dan hancur, tapi tahun, bulan, dan hari tidak membuat Tuhan tua (RV 6.24.7). Ia dipuja sepanjang masa (RV 6.21.5, RV 1.1.3). Ia ada di semua penjuru mata angin (RV 10.36.14). Gambar dan patung hanyalah alat, sarana yang manusia pakai untuk mendekati-Nya dengan segala keterbatasan dirinya (BG 12.5). Bahkan penggambaran Dewa atau Dewi yang sama bisa berubah dari masa ke masa. Tidak ada masalah; Tuhan tetap satu dan sama walau perwujudan-Nya bermacam ragam.

Nirguṇa: Yang Tak Berwujud
Ada pula aspek-Nya yang diluar jangkauan persepsi kita, yang disebut nirguṇa. Inilah aspek Tuhan yang ditekankan di dalam agama lain. Uniknya, Hinduisme tidak hanya bisa menerima Tuhan Yang Berwujud, namun juga Tuhan Yang Tidak Berwujud (YV 40.8). Alam semesta ini hanyalah sebagian kecil saja dari-Nya.

bhūmir āpo’nalo vāyuḥ khaṃ mano buddhir eva ca, ahaṃkāra itīyaṃ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.—BG 7.4

“Tanah, air, api, angin, ākāśa, gugusan pikiran dan perasaan (mind), kemampuan memilah (buddhi atau intelejensia), dan ego—kedelapan hal ini adalah Prakṛti atau sifat Kebendaan-Ku yang menyebabkan kesadaran rendah.”

apareyam itas tvanyāṃ prakṛtiṃ viddhi me parām, jīva-bhūtāṃ mahā-bāho yayedaṃ dhāryate jagat.—BG 7.5

“Di luar Prakṛti, alam benda, kebendaan, dan kesadaran rendah, adalah alam Jiwa, yang menopang sekaligus menghidupi seantero alam.”

Ada satu ayat dari Yajurveda (dan juga dijumpai di dalam Svetasvatara Upanishad) yang sering dijadikan sebagai senjata para misionaris untuk menyudutkan umat Hindu. Biasanya ayat ini dipenggal sebagian saja, “na tasya pratimā’sti”, yang memang dengan jelas menyatakan bahwa “tidak ada pratimā-Nya.” Pratimā berasal dari awalan prati- dan akar kata √mā, yang berarti mengukur. Maksudnya begini: jika kita ingin membuat model, atau maket, atau representasi sesuatu/seseorang, maka kita perlu melakukan pengukuran dengan tepat. Pratimā bisa diartikan juga sebagai ‘likeness’ atau ‘image’.

na tasya pratimā’sti yasya nāma mahadyaśa, hiraṇyagarbha’ityeṣa mā mā hisīdityeṣā yasmān jāta’ityeṣaḥ.—Yajurveda 32.3

Tiada sesuatu pun yang menyamai/menyerupai keagungan Dia yang Maha Termasyur. Pada mulanya adalah Dia, Hiranyagarbha; semoga Ia tidak menjatuhkan bencana kepadaku, Oh, Ia Hyang adalah Asal Mula Semua Makhluk.”

Pembuat Pratimā sadar betul bahwa ia tidak sedang menciptakan Tuhan. Tidak pula ia merasa mampu memodelkan Tuhan. Pratimā dibuat sebagai alat bagi para bhakta, para pemuja-Nya untuk membantu membangkitkan rasa bakti, cinta-kasih di dalam dirinya. Pratimā membantu para bhakta merasakan kehadiran Ia Hyang Maha Hadir.

Sekitar sepetiga bagian otak manusia terkait dengan pengolahan informasi visual. Bentuk-bentuk geometrik tertentu, warna, komposisi, benda-benda tertentu, dst. meberi kesan makna yang khas di dalam benak orang yang melihatnya. Ditambah lagi dengan social-cultural constructs yang dimilikinya, simbol dan desain tertentu akan mampu membangkitkan rasa ketuhanan, kasih/cinta, atau persatuan. Dan sebaliknya, ada pula simbol dan desain tertentu yang bisa membangkitkan kebencian, nafsu, atau amarah. Selama ribuan tahun Penduduk Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo memahami hal ini, dan mereka telah menggunakan simbol dan desain untuk membantu laku spiritualnya—yang terekam secara rinci di dalam Puraṇa, Gandharvaveda, dsb.

Lantas, apakah kedua aspek ini, saguṇa-nirguṇa dan puruṣa-prakṛti, saling bertentangan? Tidak. Keduanya adalah muka dari kepingan uang logam yang sama. Menerima yang satu dan menolak yang lain menunjukkan bahwa kita belum dewasa dan belum bisa menerima bahwa Ia lebih luas daripada pemahaman kita. Menerima Tuhan dengan nama “A”, dan menolak “B”, “C”, dst. adalah penyakit yang membuat umat manusia terpecah belah. Silakan saja, jika ada yang mau hidup dengan pemahaman demikian; namun, betapa meruginya hidup dalam kotak kecil buatan kita sendiri.

Saying that, Shri Krishna juga mengkritik mereka yang memuja Tuhan hanya lewat aspek-aspek fisik Dewa atau Dewi semata—dalam pengertian mendekati Tuhan hanya demi kenikmatan dan kenyamanan duniawi, walaupun dengan cara-cara yang dijabarkan di dalam Veda, dan tidak mau berurusan dengan hal-hal yang lebih tinggi (BG 7.21–23). Shri Krishna juga mengkritik para ahli-kitab, mereka yang menganggap kitab sucinya sebagai segala-galanya to the dot, padahal ayat-ayatnya bertebaran di mana-mana (BG 2.42–46).

Shri Ramakrishna, seorang mistik Hindu, pernah berbicara kepada pengikut aliran Brahmo Samaj (yang tidak mengakui Tuhan Berwujud) pada 22 April 1883, “Yes, both are true. God with form is as real as God without form. Do you know what describing God as being formless only is like? It is like a man’s playing only a monotone on his flute, though it has seven holes. But on the same instrument another man plays different melodies. Likewise, in how many ways the believers in a Personal God enjoy Him! They enjoy Him through many different attitudes: the serene attitude, the attitude of a servant, a friend, a mother, a husband, or a lover.” [2]

Keterangan:
AV = Atharva Veda
BG = Bhagavad Gita
RV = Rig Veda
YV = Yajur Veda

Referensi:
[1] Frawley, David, 1992. Wisdom of the ancient seers. Mantras of Rig Veda. Passage Press: Salt Lake City, Utah, USA.
[2] Nikhilananda, Swami, 2007. The Gospel of Sri ramakrishna. Ramakrishna-Vivekananda Center: New York.
Krishna, Anand, 2015. Bhagavad Gita. Pusat Studi Veda dan Dharma: Indonesia.

3 Comments

  1. Apakaha anda bisa merekomendasikan kepada saya buku2 atau tulisan2 yg menulis tentang bahwa agama itu politeisme.

    Reply

      1. Hi Yuli. Terima kasih sudah berkunjung. Banyak sekali buku/tulisan yg demikian. Silakan google

Leave a Reply