Ngelmu

Bos saya dulu unik. Dia termasuk yang paling senior di tempat saya kerja, 22 tahun lebih dia di sana; dia tahu semua seluk beluknya. Bagi bocah ingusan seperti saya, beliau adalah “enigma”. Setiap kali bertanya, dia selalu bertanya, “Do you want a short, or long answer?” Hampir setiap kali saya hanya menginginkan yang “short-short” saja. Bukan cuma karena tidak banyak waktu, tapi jujur saja, seringkali saya “ora mudheng”, gagal paham karena sedemikian luasnya pemahaman dia sehingga interkoneksi segala sesuatu nampak jelas baginya—dan tidak bisa dia abaikan begitu saja. Pengetahuannya tidak membuatnya angkuh, sebaliknya, semakin tahu dia, semakin rendah hati.

Di sisi lain, ada seorang teman yang terobsesi dengan KISS, “keep it simple, stupid!” Setiap kali ada kesempatan untuk memakai “mantra” itu kepada orang lain, langsung dia pakai. Awalnya, saya suka itu! Bahkan saya perkuat kesukaan saya itu dengan kutipan dari Albert Einstein, yang lebih-kurang bilang, “kalau Kamu bisa membuat sederhana sesuatu yang kompleks, maka itu tanda kejeniusan.” Hebat! “Saya seorang jenius,” begitu kira-kira ego saya menggelembung.

Waktu berlalu dan saya mendapat kesempatan untuk mengurusi hal-hal yang lebih kompleks dan melibatkan koordinasi multi-departemen. Semakin hari, semakin terasa betapa saya “kehilangan” kejeniusan. Saya terbenam dalam kompleksitas. Sampai suatu hari saya menyadari ilusi ego: bahwa saya belum mengenal penyederhanaan, tapi baru peng-gampang-an. Saya sudah meremehkan kompleksitas. Saya lupa bahwa konon Einstein juga pernah bilang, “everything should be as simple as it can be, but not simpler”.

Saya rasa itulah yang salah di dalam pendidikan kita saat ini. Saat ini saya malah lebih setuju dengan cara “ngelmu” Mbah-mbah dulu—tentu dengan citarasa modern dan non-klenik. Untuk “ngelmu” kadang seseorang diberi teks, kadang tidak. Kalaupun iya, teksnya pun tidak panjang, sedikit-sedikit saja bahkan kadang berbentuk kode-kode yang perlu dipecahkan, semacam formula. Bahasa teknisnya: “sutra”, ‘benang (merah)’. Bisa juga tanpa-teks; kita diminta “ngelmu” pada “pring” (bambu), pada “segara” (laut), pada “pari” (padi), pada “surya” (mentari), pada “geni” (api), dan sebagainya.

Lho, bukannya kalau begitu “ngelmu” itu juga metode KISS?! Beda! KISS itu divergensi, pengerucutan. Sedangkan “ngelmu” itu konvergensi, pengembangan. KISS itu mencari informasi, sedangkan “ngelmu” mencari esensi. KISS meng-gampang-kan yang kompleks, sedangkan “ngelmu” menatap kompleksitas. KISS itu metode yang dipakai para penceramah dan motivator. Mereka akan membanjiri kita dengan informasi, cerita, ayat-ayat, kadang muntahan amarah, dan kebencian. Kemudian akan bilang, “Betul?”—yang berharap disambut dengan koor afirmasi. Neurologists menemukan bahwa otak kita berhenti “berpikir” ketika dijejali informasi, ketika dihadapkan pada seorang (yang seolah-olah) “ahli”, dan ketika dalam keadaan tersudut (dalam soal waktu, misalnya).

Ketika harus berhadap-hadapan dengan kompleksitas-pun kita bisa “overwhelmed”. Itu karena kita masih dalam mode KISS, belum “switch” ke “ngelmu”. Idealnya, kita bisa dua-duanya. Untuk mengejar deadline, misalnya, kita KISS. Namun sisanya, kita harus bisa “ngelmu”. Itulah kenapa menurut saya di Nusantara teks-teks suci sedikit; dan kalaupun ada pendek-pendek. Ada juga teks seperti I La Galigo yang terpanjang di dunia, atau fragmen-fragmen kisah Ramayana dan Mahabharata yang lumayan panjang—tapi semuanya tadi berfungsi sebagai ensiklopedia. Namun, teks-teks keagamaannya relatif pendek, ringkas, karena ayat-ayat-Nya bertebaran di mana-mana. Kalaupun harus ditulis, maka cukup “teaser” saja, selebihnya harus “ngalami” sendiri.

Seorang yang “ngelmu” akan rendah hati karena ia sedang menatap “mata kompleksitas”. Dia akan sadar bahwa apa yang diketahuinya tidak seberapa, namun di saat yang sama dia bisa “melihat” hal-hal yang tidak diketahuinya. Para KISS-er, sebaliknya, merasa sudah hebat bisa mengutip ayat ini-itu, merasa sudah “menguasai” apa yang pernah dipelajarinya. Para KISS-er pada umumnya jadi pem-bully (atau pendukung bully) karena mereka memandang rendah orang-orang yang (seolah) miskin informasi, tanpa-buku. Padahal para KISS-er, seperti saya dulu, hanyalah bocah ingusan di hadapan mereka yang “ngelmu”.

Leave a Reply