Angka

Bayangkan menghitung jarak antarbintang dengan angka romawi, atau mengukur bakteria dengan angka mesir. Sistem angka bangsa babilonia—yang dikenal ilmuwan sebagai sistem angka positional pertama (mirip dengan kita punya sekarang)—belum mempunyai konsep ketiadaan, nol; dan mennggunakan basis angka 60.

Sistem angka yang kita kenal saat ini: basis 10 (desimal), dengan “0”, mencapai bentuknya di Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo pada abad ke-8 M, dan kemudian diperkenalkan ke Eropa lewat bangsa Arab. Oleh karena itu, sistem angka ini dikenal sebagai “Hindu-Arabic Numeral System”. Walaupun pada waktu yang sama bangsa Maya di Amerika juga telah mengembangkan sistem angka dengan “0″.

Jika kita perhatikan lebih jauh, sistem angka ini sebenarnya dikenal jauh sebelum itu. Satu ayat dari Yajurveda (diperkirakan ca. 1200–1000 SM) dari Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo telah menyebutkan angka 1, 10, 100, dst. hingga 1 triliun:

imā me’agna’iṣṭṭakā dhenavaḥ saptekā ca daśa ca daśa ca śatañca śatañca sahasrañca sahasrañca ayutañca ayutañca niyutañca niyutañca prayutañca arbbudañca nyarbbudañca samudraśca maddhyañca antaśca parārddhaścaitā me’agna’iṣṭṭakā dhenavaḥ santvamutrāmuṣmiṁloke.—Yajurveda 17.2

yang diterjemahkan oleh Devi Chand:
“O learned person, may the materials of my yajna, like milch kine, be the givers of happiness to me. They may be one, and ten, and ten tens, a hundred, and ten hundred, a thousand and ten thousand and a hundred thousand, a lac and ten lacs, a million, and ten millions, a crore, ten crores, hundred crores, thousand crores, its ten times Maha Padma, its ten times Shankh, its ten times Samudra, its ten times Madhya, its ten times Prardh. May these bricks of my altar be a source of happiness to me, like milch-kine in this world and the next world.”

Sedangkan konsep awal tentang “0”, juga sudah dikenal sebagai śūnya, kham, saṃpūrṇa. Seperti mantra pembuka Upanishad dari Yajurveda: “Yang itu Sampurna, Yang inipun Sampurna; dari Kesempurnaan lahir Yang Sampurna… Kendati demikian, Kesempurnaan tak terpengaruh; Ia masih tetap Sampurna.” Bahkan bagi penduduk Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo, sifat ini dikaitkan dengan Tuhan: “khaṃ brahman”—Bṛhadāranyaka Upanishad 5.1.

 

 

Leave a Reply