Sebelum Berdoa

Seseorang bertanya, “Tuan, apakah jalan menuju-Nya?”

Sri Ramakrishna menjawab, “Cinta-kasih kepada-Nya, dan doa.”

Si penanya belum juga puas, “Jadi yang mana, Tuan, cinta-kasih atau doa?”

“Pertama-tama cinta-kasih, baru kemudian doa.” Setelah menjawab demikian, Sri Ramakrishna bernyanyi dan larut di dalam pujian kepada Hyang Tunggal.

—The Gospel of Sri Ramakrishna, Bab 10, 22 April 1883.

Hari-hari ini citra agama dan keagamaan telah semakin tenggelam di dalam kebencian, amarah, dan nafsu mengejar kekuasaan. Semakin seseorang belajar tentang agama, sepertinya semakin ia jauh dari pengertian, kasih-sayang terhadap mereka yang berbeda. Kemudahan berkomunikasi malah mengotak-kotakkan kita, memisah-misahkan kita. Apa yang salah? Rasanya kita sedang krisis Cinta-Kasih.

Penenkanan agama pada dimensi ritual dan hukum-hukum keagamaan, menutupi dimensi-dimensi lainnya yang lebih tinggi. Dimensi ritual-dan-hukum adalah dimensi terendah, kulit terluar yang “membungkus” agama dan keagamaan. Setiap umat beragama menjalani ritus dan mengikuti kaidah-kaidah hukum tertentu, yang bisa dimaknai secara berbeda antara satu orang dengan yang lain, dan seringkali dipengaruhi oleh konteksnya. Pada lapisan kulit ini keberagamaan tidak bisa dihindarkan, sebagaimana setiap kulit buah mangga yang berasal dari satu pohon yang sama tidak ada yang persis sama.

Kalau kita tidak masuk ke dalam dimensi yang lebih tinggi, menembus lapisan kulit dan masuk ke dalam esensi agama dan keagamaan, permasalahan kita tidak akan kelar-kelar. Selama ini kita sering beribadah tanpa menumbuhkan terlebih dahulu Cinta-Kasih. Pendidikan kita tidak menyadari pentingnya menumbuhkan rasa Cinta dan Kasih di dalam diri anak-anak—diasumsikan mereka bisa belajar sendiri dari kedua orang tuanya. Kemudian pendidikan didesain hanya untuk meneruskan informasi dan mengajari skill yang memang dibutuhkan, tapi tidak cukup.

Di dalam buku Narada Bhakti Sutra, Swami Anand Krishna mengajarkan bahwa langkah pertama yang dibutuhkan sebelum kita bisa menyemai benih Cinta-Kasih, kita perlu terlebih dahulu membabat “ilalang-dan-hama nafsu” yang menyerap nutrisi dari dalam tanah dan dari tanaman Cinta-Kasih yang akan tumbuh nantinya. Pembabatan ini membutuhkan cara tersendiri, tidak bisa dengan hanya sekedar menahan lapar-dan-haus selama sekian jam sehari, tapi mengumbar makanan ketika berbuka. Pembabatan ini membutuhkan upaya yang intens dan terus-menerus.

Di sinilah pentingnya Meditasi. Latihan-latihan meditasi diharapkan nantinya mencapai hidup yang meditatif. Baru di tanah subur kehidupan-meditatif ini, benih-benih Cinta-Kasih bisa tumbuh. Cinta-Kasih ini bersumber dari dalam diri kita sendiri; jika sulit merasakannya, maka kita bisa menggunakan “alat bantu” di luar diri. Di sinilah “peran” Tuhan. Mungkin Anda tidak setuju, “Tuhan kok diper-”alat“?!” Silakan saja, namun bagi umat Hindu, “aham brahmaasmi”, Sang Aku yang sejati dan Tuhan Hyang Maha Luas sesungguhnya satu. Seperti kata Swamiji, “Bila sulit menyadari-Nya di dalam diri, anggaplah Dia berada di luar diri.”

Inilah mengapa umat Hindu seolah-olah memiliki sekian banyak Tuhan: berwujud manusia, super-human, binatang, setengah-binatang setengah-manusia, dan sebagainya. Semua wujud-wujud tadi adalah alat bantu untuk mengarahkan kesadarannya kepada sesuatu yang lebih tinggi daripada nafsunya, dan sekaligus menumbuhkan Cinta-Kasih di dalam diri. Tidak hanya itu, umat Hindu menggunakan pula lagu-lagu pujian, tembang-tembang, syair, puisi yang indah untuk memperbesar Cinta-Kasih kepada-Nya. Luapan Cinta-Kasih itu tidak bisa tidak meluas kepada semua manusia, semua makhluk karena Ia yang bersemayam di dalam diriku, juga ada di dalam dirimu. “Tat tvam asi. Inilah satu-satunya “obat” permasalahan kita.

Pengetahuan agama TIDAK cukup. Malahan apabila hawa nafsu masih cukup kuat, maka agama bisa dipakai sebagai alat untuk mencari pembenaran demi terpuaskannya nafsu—yang sesungguhnya tidak pernah puas itu. Inilah yang terjadi saat ini: permasalahan semakin rumit, seolah tanpa ujung, masalah dibalas masalah baru.. semuanya terjadi karena kita telah melupakan dimensi agama dan keagamaan yang lebih tinggi dan mulia, sehingga kemuliaan pun terlupakan sudah, dan “kulit” kita kira “daging”. Ah, what a waste of time and energy!

Hindu Menjawab: Politeisme dan Pemujaan Berhala

Umat Hindu telah sejak lama menjadi bulan-bulanan ketika umat-umat beragama lainnya berbicara tentang Tuhan. Umat Hindu kerap dicap (bahkan tidak jarang juga mencap dirinya sendiri) politeis, ‘bertuhan banyak’, yang kemudian dipandang lebih rendah daripada saudara-saudaranya yang monoteis. Julukan ini jelas tidak tepat jika kita benar-benar memahami ajaran-ajaran Hindu yang tertuang di puluhan kitab itu. Yang sering menjadi masalah sebenarnya adalah umat Hindu sendiri yang entah tidak memahami, atau tidak mampu merumuskan argumentasinya dengan baik.

Sudah banyak buku, artikel, tulisan-tulisan di media cetak dan elektronik yang berupaya mengisi kekosongan ini, namun menurut saya sebagian besar masih terfragmentasi atau belum sampai kepada akar permasalahannya. Kebanyakan tulisan yang ada mengambil jargon-jargon yang lebih bersifat defensif dari buku-buku agama, daripada mengeksplorasi khasanah filosofi Hindu yang sesungguhnya kaya akan makna dan membutuhkan perenungan. Di tengah serangan pihak-pihak luar, memang strategi bertahan seperti ini bisa meredakan perang argumen, namun masih akan menyisakan pertanyaan di dalam benak umat.

Seringkali tanpa sadar umat Hindu masuk dalam jebakan “permainan” umat lain dan kesulitan menemukan jalan keluar dari labirin logika yang dibuatnya. Kesalahan pertama dan kekalahan umat Hindu berawal dari pengambilan titik pijak yang sama dengan mereka. Misalnya, umat lain mengutip satu ayat di dalam Veda yang mengatakan bahwa “Tuhan satu ada-Nya” (RV 1.100.7, AV 13.4.15–21), atau “Tuhan tidak memiliki citra/patung” (YV 32:3); kemudian—karena berasal dari Veda—umat Hindu mau tidak mau menerima argumen dasar ini. Setelah itu dengan mudah umat lain mengobrak-abrik segala apa yang diyakini umat Hindu—yang selama ini memuja sekian banyak Dewata dengan segala atributnya.

Jika dipandang dari sudut lain, kekalahan umat Hindu—seperti contoh di atas—juga terjadi karena ketidaktahuan dan rendahnya akses pengetahuan umat Hindu akan ajaran agamanya sendiri. Berapa banyak sih umat Hindu yang memiliki kitab-kitab suci Veda, seperti Catur Veda, Bhagavad Gita, Upanishad, dsb. di rumah? Seberapa banyak pula yang memahami bhs. Sanskrit? Kalaupun ada, berapa banyak umat Hindu yang mempu berkomunikasi dengan baik dan berpikir kritis?

Memang kondisi saat ini sudah jauh lebih baik bila dibandingkan 20 tahun yang lalu ketika saya masih SMA. Saat itu internet masih menjadi barang mewah, akses terhadap kitab-kitab suci Veda masih sangat terbatas, boro-boro memahami bhs. Sanskrit, kebanyakan sumber informasi berkualitas tentang ajaran-ajaran Hindu hanya tersedia di dalam bhs. Inggris—yang masih sulit saya pahami. Sekarang sudah banyak terjemahan kitab-kitab Veda di toko-toko buku dan perpusatakaan, walaupun dengan kualitas yang masih bisa saya bilang kurang memuaskan.

Jika diibaratkan seperti ikan dan air, kitab-kitab Veda hanya “hidup” di dalam lingkungan spiritual yang disebut Ashram. Dengan mengeluarkannya dari “lingkungan hidupnya”, misalnya di lingkungan akademis, Veda hanya menjadi “dead fish” yang bisa dibedah dan bahkan dipotong-potong dan dimasak sesuka hati. Itulah sebabnya sejak dahulu, Veda disampaikan di dalam parampara (BG 4.1–3), dari seorang Guru kepada Shishya yang ber-bhakti. Umat Hindu di Bali masih memiliki Pasraman yang terbatas hanya untuk pedanda/pemangku atau calon-pemangku upacara saja. Padahal fungsi Ashram jauh lebih luas dari itu.

Ashram adalah “air” sekaligus tulang punggung. Patahnya tulang punggung Ashram mengakibatkan kemunduran (Hindu dan Buddha) Dharma di Nusantara sekitar 1000-an tahun yang lalu. Hal inilah yang kemudian memudahkan jalan masuk dan menyebarnya agama-agama asing, seperti Islam dan Kristen. Walaupun belum benar-benar “mati”, bahkan nilai-nilainya masih hidup bercampur dengan nilai-nilai Islam dan Kristen di banyak daerah, ajaran-ajaran Dharma tidak juga dikatakan “hidup”.

Upacara-upacara keagamaan, seperti yang masih bisa kita lihat di Bali, Sunda Wiwitan, Kejawen, Parmalim, Kaharingan, Tengger, hingga India, Indo-Cina, Jepang, dsb. hanyalah kulit luar dari Dharma. Landasan spiritual-filosofis—yang disebut tattva—dan landasan etika-moralnya—yang disebut susila—seolah berhenti di tempat. Tidak heran bila ada umat beragama lain yang melihat Hinduisme sebagai relik yang layak dimuseumkan. Di sisi lain, terlupakannya tattva atau esensi Dharma menciptakan ilusi keterpisah-pisahan umat Hindu di satu daerah dengan yang di daerah lainnya. Jika kita ingin membalikkan keadaan, maka uma Hindu membutuhkan tegaknya institusi Ashram yang inklusif.

Saguṇa: Keilahian Semesta
Ketika menulis tentang teman Tuhan dan Ketuhanan, sebenarnya saya senyum-senyum sendiri. Siapa saya membicarakan Tuhan yang katanya Maha Luas itu? Bahkan mereka yang bergelar profesor di bidang agama pun, tidak akan pernah mampu memahami-Nya. Di dalam kecemerlangan cahaya-Nya, kita tidak bisa “melihat”-Nya (YV 40.15); dan di dalam keterbatasan bahasa, kita tidak mampu “menjelaskan”-Nya, kita membisu (YV 30.19). Oleh karena itu kita menyandarkan pemahaman kita pada “kesaksian” para Rishi (RV 10.71.4), dan Avatara seperti Shri Krishna di dalam Bhagavad Gita.

Hinduisme unik, sehingga tidak bisa dipahami dari sudut pandang agama-agama lain, khususnya yang berasal dari luar wilayah utama Peradaban Sindhu—yang membentang dari Afghanistan di barat, Anak Benua Hindia, Indo-China, hingga ke Kepulauan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hinduisme tidak hanya membentang luas secara geografis saja, namun juga dalam waktu. Hinduisme tidak lahir pada satu rentang (ruang dan waktu) yang pendek, namun telah ada setidak-tidaknya 6000 tahun sebelum tarikh Masehi [1] dan mengalami pengayaan terus-menerus, bahkan hingga saat ini. Oleh karena itu umat Hindu menyebutnya: Sanatana Dharma (Dharma yang abadi), dan Nutana Dharma (Dharma yang selalu membaru).

Dr. David Frawley (Pandit Vamadeva Shastri) menyatakan bahwa para Rishi di dalam Rig Veda, kitab tertua umat manusia dan menjadi inspirasi utama Hinduisme, memandang Tuhan sebagai Keberadaan yang “one and many, many in one, and one in many” [1]. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa persepsi manusia memiliki keterbatasan, dan Tuhan atau Keberadaan tidak bisa dikurung, dibatasi, dan dikuasai oleh pikiran manusia . Hinduisme melihat semesta ini sebagai bagian dari-Nya (Purusha Sukta, RV 10.90), dan berkembang dari Ia Hyang Tunggal:

eka eva agnir bahudhā samiddha ekaḥ sūryo viśvam anu prabhūtaḥ, ekaivoṣaḥ sarvam idaṃ vi bhātyekaṃ vā idaṃ vi babhūva sarvam.—RV 8.58.2.

“Sebagaimana satu nyala api menyalakan yang lain, sebagaimana satu matahari menyinari semua; seperti satu fajar memancar menerangi alam raya, demikianlah Ia Hyang Tunggal menjadi segala sesuatu di semesta ini.”

Ide yang sama terus berlanjut di dalam Bhagavad Gita, bahwa tidak ada sesuatu pun yang berada di luar-Nya, semesta ini “terikat” pada-Nya “seperti rangkaian manikam yang terbuat dari benang, dan terikat dengan benang itu sendiri,” (BG 7.7). Hal ini bahkan dijelaskan lebih mendetail pada ayat-ayat selanjutnya (8–10), bahwa Tuhan Hyang Diagungkan di dalam Veda adalah rasa di dalam air, cahaya matahari dan sinar rembulan itu sendiri, wangi tanah, dan nyala api, dst. Ia Hyang Satu Ada-Nya “mengalir” di dalam segala benda di dalam semesta ini.

Umat Hindu menyebut aspek di atas sebagai saguṇa, aspek-Nya yang kasat mata, yang bisa didengar, dirasakan, dicium, dan disentuh. Para Dewa dan Dewi yang diagungkan di dalam Veda adalah Tuhan yang satu, seperti sinar matahari yang bisa “dipecah” ke dalam spektrum warna, dari merah (panjang gelombang 620nm) hingga violet (450nm), yang bisa ditangkap mata manusia. Masing-masing Dewa dan Dewi mewakili aspek-Nya yang bersifat khas, khusus, yang bersentuhan langsung dengan kehidupan para bhakta-Nya. Sama halnya dengan para ilmuwan yang mempelajari matahari, melihatnya dari berbagai citra: inframerah, ultraviolet, X-ray, Gamma-ray, dst. masing-masing memberikan insight yang berbeda-beda.

Kekuatan-kekuatan alam, seperti api, angin, petir, awan, dsb. tidak dipandang hanya sebagai “benda” yang lebih rendah dari manusia. Demikian pula binatang dan tumbuhan yang juga diagungkan di dalam Veda, dipandang dengan penuh rasa hormat karena Tuhan juga “mengalir” di dalamnya. Para Rishi menyadari bahwa kehidupan manusia tidak bisa lepas dari alam beserta makhluk-makhluknya; ada keterkaitan yang erat yang saling menunjang (BG 3.11–12). Tidak hanya sampai di situ, para Rishi juga melihat kekuatan-kekuatan alam, binatang, dan tumbuhan sebagai refleksi dari batin manusia.

Api atau Dewa Agni, misalnya, dipandang sebagai kekuatan intelejensia, kekuatan untuk mentransformasi kelemahan-kelemahan manusia menjadi kekuatan dan kemuliaan. Agni melambangkan kekuatan membakar, mencipta, daya kreasi, dan kecerdasan. Agni juga sentral di dalam upacara persembahan, yajña, yang mana para Rishi menuangkan biji-bijian, rempah, ghee, dsb. agar bisa “dinikmati” para Dewa lainnya. Agni bukan hanya nyala api, tapi ia juga Sang Surya di siang hari, dan Sang Candra, dan bintang-bintang di malam hari, petir di awan, dan energi pada umumnya. Simbolisme di dalam Veda sangat kompleks dan dan memiliki dimensi yang berbeda-beda.

Tapi kan Tuhan tidak layak dicitrakan seperti manusia, dengan tangan dan kaki, bahkan kadang digambarakan sebagai binatang atau manusia-setengah-binatang?! Lagi-lagi, pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa si penanya belum sepenuhnya bisa menerima Keilahian semesta sebagaimana yang diungkapkan di dalam Veda. Penggambaran Tuhan, dalam aspeknya sebagai Dewa atau Dewi tertentu dalam wujud manusia bukanlah upaya mereduksi Tuhan ke dalam citra/wujud manusia, namun sebaliknya: mengangkat Keilahian di dalam diri manusia. Gambar atau patung Dewa dan Dewi adalah alat mengingatkan manusia akan kesejatian diri yang sesungguhnya tidak terpisahkan dari-Nya (BG 2.18–26, AV 10.8.43–44).

Tuhan, di dalam Veda, adalah laki-laki, perempuan, kedua-duanya, sekaligus melampaui semuanya. Para Dewa adalah perwujudan kekuatan maskulin alam semesta di dalam persepsi manusia, seperti keberanian, kepemimpinan, dan penciptaan. Para Dewi adalah perwujudan kekuatan feminin alam semesta di dalam persepsi manusia, seperti daya hidup, kasih-sayang, ilmu pengetahuan dan seni. Tuhan juga “hadir” di sepanjang umur sebagai anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua (AV 10.8.27).

Hal ini bukan berarti bahwa Hinduisme memuja berhala—menganggap gambar atau patung yang dipakainya dalam pemujaan sebagai Tuhan itu sendiri. Gambar dan patung—mengikuti hukum alam—bisa rusak dan hancur, tapi tahun, bulan, dan hari tidak membuat Tuhan tua (RV 6.24.7). Ia dipuja sepanjang masa (RV 6.21.5, RV 1.1.3). Ia ada di semua penjuru mata angin (RV 10.36.14). Gambar dan patung hanyalah alat, sarana yang manusia pakai untuk mendekati-Nya dengan segala keterbatasan dirinya (BG 12.5). Bahkan penggambaran Dewa atau Dewi yang sama bisa berubah dari masa ke masa. Tidak ada masalah; Tuhan tetap satu dan sama walau perwujudan-Nya bermacam ragam.

Nirguṇa: Yang Tak Berwujud
Ada pula aspek-Nya yang diluar jangkauan persepsi kita, yang disebut nirguṇa. Inilah aspek Tuhan yang ditekankan di dalam agama lain. Uniknya, Hinduisme tidak hanya bisa menerima Tuhan Yang Berwujud, namun juga Tuhan Yang Tidak Berwujud (YV 40.8). Alam semesta ini hanyalah sebagian kecil saja dari-Nya.

bhūmir āpo’nalo vāyuḥ khaṃ mano buddhir eva ca, ahaṃkāra itīyaṃ me bhinnā prakṛtir aṣṭadhā.—BG 7.4

“Tanah, air, api, angin, ākāśa, gugusan pikiran dan perasaan (mind), kemampuan memilah (buddhi atau intelejensia), dan ego—kedelapan hal ini adalah Prakṛti atau sifat Kebendaan-Ku yang menyebabkan kesadaran rendah.”

apareyam itas tvanyāṃ prakṛtiṃ viddhi me parām, jīva-bhūtāṃ mahā-bāho yayedaṃ dhāryate jagat.—BG 7.5

“Di luar Prakṛti, alam benda, kebendaan, dan kesadaran rendah, adalah alam Jiwa, yang menopang sekaligus menghidupi seantero alam.”

Ada satu ayat dari Yajurveda (dan juga dijumpai di dalam Svetasvatara Upanishad) yang sering dijadikan sebagai senjata para misionaris untuk menyudutkan umat Hindu. Biasanya ayat ini dipenggal sebagian saja, “na tasya pratimā’sti”, yang memang dengan jelas menyatakan bahwa “tidak ada pratimā-Nya.” Pratimā berasal dari awalan prati- dan akar kata √mā, yang berarti mengukur. Maksudnya begini: jika kita ingin membuat model, atau maket, atau representasi sesuatu/seseorang, maka kita perlu melakukan pengukuran dengan tepat. Pratimā bisa diartikan juga sebagai ‘likeness’ atau ‘image’.

na tasya pratimā’sti yasya nāma mahadyaśa, hiraṇyagarbha’ityeṣa mā mā hisīdityeṣā yasmān jāta’ityeṣaḥ.—Yajurveda 32.3

Tiada sesuatu pun yang menyamai/menyerupai keagungan Dia yang Maha Termasyur. Pada mulanya adalah Dia, Hiranyagarbha; semoga Ia tidak menjatuhkan bencana kepadaku, Oh, Ia Hyang adalah Asal Mula Semua Makhluk.”

Pembuat Pratimā sadar betul bahwa ia tidak sedang menciptakan Tuhan. Tidak pula ia merasa mampu memodelkan Tuhan. Pratimā dibuat sebagai alat bagi para bhakta, para pemuja-Nya untuk membantu membangkitkan rasa bakti, cinta-kasih di dalam dirinya. Pratimā membantu para bhakta merasakan kehadiran Ia Hyang Maha Hadir.

Sekitar sepetiga bagian otak manusia terkait dengan pengolahan informasi visual. Bentuk-bentuk geometrik tertentu, warna, komposisi, benda-benda tertentu, dst. meberi kesan makna yang khas di dalam benak orang yang melihatnya. Ditambah lagi dengan social-cultural constructs yang dimilikinya, simbol dan desain tertentu akan mampu membangkitkan rasa ketuhanan, kasih/cinta, atau persatuan. Dan sebaliknya, ada pula simbol dan desain tertentu yang bisa membangkitkan kebencian, nafsu, atau amarah. Selama ribuan tahun Penduduk Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo memahami hal ini, dan mereka telah menggunakan simbol dan desain untuk membantu laku spiritualnya—yang terekam secara rinci di dalam Puraṇa, Gandharvaveda, dsb.

Lantas, apakah kedua aspek ini, saguṇa-nirguṇa dan puruṣa-prakṛti, saling bertentangan? Tidak. Keduanya adalah muka dari kepingan uang logam yang sama. Menerima yang satu dan menolak yang lain menunjukkan bahwa kita belum dewasa dan belum bisa menerima bahwa Ia lebih luas daripada pemahaman kita. Menerima Tuhan dengan nama “A”, dan menolak “B”, “C”, dst. adalah penyakit yang membuat umat manusia terpecah belah. Silakan saja, jika ada yang mau hidup dengan pemahaman demikian; namun, betapa meruginya hidup dalam kotak kecil buatan kita sendiri.

Saying that, Shri Krishna juga mengkritik mereka yang memuja Tuhan hanya lewat aspek-aspek fisik Dewa atau Dewi semata—dalam pengertian mendekati Tuhan hanya demi kenikmatan dan kenyamanan duniawi, walaupun dengan cara-cara yang dijabarkan di dalam Veda, dan tidak mau berurusan dengan hal-hal yang lebih tinggi (BG 7.21–23). Shri Krishna juga mengkritik para ahli-kitab, mereka yang menganggap kitab sucinya sebagai segala-galanya to the dot, padahal ayat-ayatnya bertebaran di mana-mana (BG 2.42–46).

Shri Ramakrishna, seorang mistik Hindu, pernah berbicara kepada pengikut aliran Brahmo Samaj (yang tidak mengakui Tuhan Berwujud) pada 22 April 1883, “Yes, both are true. God with form is as real as God without form. Do you know what describing God as being formless only is like? It is like a man’s playing only a monotone on his flute, though it has seven holes. But on the same instrument another man plays different melodies. Likewise, in how many ways the believers in a Personal God enjoy Him! They enjoy Him through many different attitudes: the serene attitude, the attitude of a servant, a friend, a mother, a husband, or a lover.” [2]

Keterangan:
AV = Atharva Veda
BG = Bhagavad Gita
RV = Rig Veda
YV = Yajur Veda

Referensi:
[1] Frawley, David, 1992. Wisdom of the ancient seers. Mantras of Rig Veda. Passage Press: Salt Lake City, Utah, USA.
[2] Nikhilananda, Swami, 2007. The Gospel of Sri ramakrishna. Ramakrishna-Vivekananda Center: New York.
Krishna, Anand, 2015. Bhagavad Gita. Pusat Studi Veda dan Dharma: Indonesia.

Belajar Sanskrit: Omkaram Bindu Samyuktam

Oṁ Avighnamastu,

Pada kesempatan ini kita akan belajar bhs. Sanskrit melalui mantram Oṁkāram Bindusaṃyuktam. Mantra ini dibacakan setiap pagi di Anand Ashram, disamping beberapa mantra lainnya. Pada bagian bawah, saya tautkan juga 3 video Swami Anand Krishna yang memberikan penjelasan makna mantra ini, Yoga, dan Vipassana.

Yuk, kita mulai…

अोँकारं बिंदुसंयुक्तम् नित्यम् ध्यायन्ति योगिनः
कामदम् मोक्षदम् चैव अोँकाराय नमो नमः ।।

ᬒᬁᬓᬵᬭᬫ᭄ ᬩᬶᬦ᭄ᬤᬸ ᬲᬀᬬᬸᬓ᭄ᬢᬫ᭄
ᬦᬶᬢ᭄ᬬ ᬫ᭄ ᬥ᭄ᬬᬵᬬᬦ᭄ᬢᬶ ᬬᭀᬕᬶᬦᬄ
ᬓᬫᬤᬫ᭄ᬫᭀᬓ᭄ᬱᬤᬫ᭄ ᬘᬿᬯ
ᬒᬁᬓᬵᬭᬵᬬ ᬦᬫᭀ ᬦᬫᬄ ᭟

oṁkāram bindusaṃyuktam
nityam-dhyāyanti yoginaḥ;
kāmadam mokṣadam caiva,
oṁkārāya namonamaḥ.

oṁ — = suara suci “Oṁ”; praṇava (dari pra- : ‘forward, forth’ + nu : ‘to praise, extol’) suara yang mengawali penciptaan yang diagungkan oleh para rishi. “Oṁ adalah segalanya ini. Semuanya, baik itu di masa lalu, masa kini, dan masa depan, adalah perwujudan Oṁ.”—Mandukya Upanishad.
kāra — dari √kṛ : ‘to do, make’; = notasi, huruf.
oṁkāram — [obyek, tunggal] = notasi suci Oṁ, suara suci Oṁ.

bindu — = titik, partikel kecil.
saṃyukta — p.p. dari saṃ- : ‘together’ + yuj : ‘to unite, attach’; ‘joined, connected, united, accompanied by’. Misalnya digunakan di dalam padanan untuk “United Nations” (Perserikatan Bangsa-bangsa) = saṃyukta rāṣṭra.
bindusaṃyuktam — [kata sifat, tunggal] menjelaskan Oṁkāra; = yang memiliki atau disertai titik, atau bindu (anusvāra atau suara nasal “ṁ”).

nityam — [kata keterangan] menjelaskan kata kerja dhyāyanti; ‘daily, constantly, always, ever, perpetually, eternally’; = senantiasa, setiap hari, setiap saat, selalu.

dhyāyanti — [k. kerja orang ke-3, jamak] dari dhyai : ‘to think of, meditate upon, ponder over, contemplate”; = (mereka) bermeditasi.

yoginaḥ — [subyek, jamak] dari yogin (dari yuj : ‘to unite, attach’); = para praktisi yoga, para yogi.

Jadi bait pertama, “oṁkāram bindusaṃyuktam nityam-dhyāyanti yoginaḥ”, bisa diartikan = Para yogi senantiasa bermeditasi pada Oṁkāra, yang memiliki bindu/titik, yang adalah asal mula segala sesuatu, baik di masa lalu, masa kini, maupun masa mendatang.

kāmadam — [kata sifat, tunggal] menjelaskan Oṁkāra; dari √kam : ‘to love, wish, desire’; = yang memenuhi segala keinginan.

mokṣadam — [kata sifat, tunggal] menjelaskan Oṁkāra; dari √muc : ‘to loose, set free’; = yang membebaskan, mengantar pada mokṣa atau kebebasan sejati dari kesadaran rendah.

ca — dan.
eva — demikian.
ca + eva = caiva.

oṁkārāya — [dative, tunggal] = kepada Oṁkāra.

namaḥ — dari √nam : ‘to bow to, salute to’; = sembah sujud, salam hormat. 
namo-namaḥ 
= [ungkapan] sembah sujudku (berulang kali)

Bait terakhir, “kāmadam mokṣadam caiva, oṁkārāya namo-namaḥ”, bisa diartikan = Aku haturkan sembah sujudku kepada-Mu (Oṁkāra) yang memenuhi segala keinginan, mengantar kepada mokṣa/kebebasan sejati.

Jadi secara keseluruhan mantra ini bermakna = Para yogi senantiasa bermeditasi kepada Oṁkāra, yang memiliki bindu, yang memenuhi segala keinginan, yang mengantar kepada mokṣa/kebebasan sejati. Kepada-Mu, aku haturkan sembah sujud berkali-kali!

 

Jaya Gurudev! Oṁ Śāntiḥ, Śāntiḥ, Śāntiḥ.

Ngelmu

Bos saya dulu unik. Dia termasuk yang paling senior di tempat saya kerja, 22 tahun lebih dia di sana; dia tahu semua seluk beluknya. Bagi bocah ingusan seperti saya, beliau adalah “enigma”. Setiap kali bertanya, dia selalu bertanya, “Do you want a short, or long answer?” Hampir setiap kali saya hanya menginginkan yang “short-short” saja. Bukan cuma karena tidak banyak waktu, tapi jujur saja, seringkali saya “ora mudheng”, gagal paham karena sedemikian luasnya pemahaman dia sehingga interkoneksi segala sesuatu nampak jelas baginya—dan tidak bisa dia abaikan begitu saja. Pengetahuannya tidak membuatnya angkuh, sebaliknya, semakin tahu dia, semakin rendah hati.

Di sisi lain, ada seorang teman yang terobsesi dengan KISS, “keep it simple, stupid!” Setiap kali ada kesempatan untuk memakai “mantra” itu kepada orang lain, langsung dia pakai. Awalnya, saya suka itu! Bahkan saya perkuat kesukaan saya itu dengan kutipan dari Albert Einstein, yang lebih-kurang bilang, “kalau Kamu bisa membuat sederhana sesuatu yang kompleks, maka itu tanda kejeniusan.” Hebat! “Saya seorang jenius,” begitu kira-kira ego saya menggelembung.

Waktu berlalu dan saya mendapat kesempatan untuk mengurusi hal-hal yang lebih kompleks dan melibatkan koordinasi multi-departemen. Semakin hari, semakin terasa betapa saya “kehilangan” kejeniusan. Saya terbenam dalam kompleksitas. Sampai suatu hari saya menyadari ilusi ego: bahwa saya belum mengenal penyederhanaan, tapi baru peng-gampang-an. Saya sudah meremehkan kompleksitas. Saya lupa bahwa konon Einstein juga pernah bilang, “everything should be as simple as it can be, but not simpler”.

Saya rasa itulah yang salah di dalam pendidikan kita saat ini. Saat ini saya malah lebih setuju dengan cara “ngelmu” Mbah-mbah dulu—tentu dengan citarasa modern dan non-klenik. Untuk “ngelmu” kadang seseorang diberi teks, kadang tidak. Kalaupun iya, teksnya pun tidak panjang, sedikit-sedikit saja bahkan kadang berbentuk kode-kode yang perlu dipecahkan, semacam formula. Bahasa teknisnya: “sutra”, ‘benang (merah)’. Bisa juga tanpa-teks; kita diminta “ngelmu” pada “pring” (bambu), pada “segara” (laut), pada “pari” (padi), pada “surya” (mentari), pada “geni” (api), dan sebagainya.

Lho, bukannya kalau begitu “ngelmu” itu juga metode KISS?! Beda! KISS itu divergensi, pengerucutan. Sedangkan “ngelmu” itu konvergensi, pengembangan. KISS itu mencari informasi, sedangkan “ngelmu” mencari esensi. KISS meng-gampang-kan yang kompleks, sedangkan “ngelmu” menatap kompleksitas. KISS itu metode yang dipakai para penceramah dan motivator. Mereka akan membanjiri kita dengan informasi, cerita, ayat-ayat, kadang muntahan amarah, dan kebencian. Kemudian akan bilang, “Betul?”—yang berharap disambut dengan koor afirmasi. Neurologists menemukan bahwa otak kita berhenti “berpikir” ketika dijejali informasi, ketika dihadapkan pada seorang (yang seolah-olah) “ahli”, dan ketika dalam keadaan tersudut (dalam soal waktu, misalnya).

Ketika harus berhadap-hadapan dengan kompleksitas-pun kita bisa “overwhelmed”. Itu karena kita masih dalam mode KISS, belum “switch” ke “ngelmu”. Idealnya, kita bisa dua-duanya. Untuk mengejar deadline, misalnya, kita KISS. Namun sisanya, kita harus bisa “ngelmu”. Itulah kenapa menurut saya di Nusantara teks-teks suci sedikit; dan kalaupun ada pendek-pendek. Ada juga teks seperti I La Galigo yang terpanjang di dunia, atau fragmen-fragmen kisah Ramayana dan Mahabharata yang lumayan panjang—tapi semuanya tadi berfungsi sebagai ensiklopedia. Namun, teks-teks keagamaannya relatif pendek, ringkas, karena ayat-ayat-Nya bertebaran di mana-mana. Kalaupun harus ditulis, maka cukup “teaser” saja, selebihnya harus “ngalami” sendiri.

Seorang yang “ngelmu” akan rendah hati karena ia sedang menatap “mata kompleksitas”. Dia akan sadar bahwa apa yang diketahuinya tidak seberapa, namun di saat yang sama dia bisa “melihat” hal-hal yang tidak diketahuinya. Para KISS-er, sebaliknya, merasa sudah hebat bisa mengutip ayat ini-itu, merasa sudah “menguasai” apa yang pernah dipelajarinya. Para KISS-er pada umumnya jadi pem-bully (atau pendukung bully) karena mereka memandang rendah orang-orang yang (seolah) miskin informasi, tanpa-buku. Padahal para KISS-er, seperti saya dulu, hanyalah bocah ingusan di hadapan mereka yang “ngelmu”.

Angka

Bayangkan menghitung jarak antarbintang dengan angka romawi, atau mengukur bakteria dengan angka mesir. Sistem angka bangsa babilonia—yang dikenal ilmuwan sebagai sistem angka positional pertama (mirip dengan kita punya sekarang)—belum mempunyai konsep ketiadaan, nol; dan mennggunakan basis angka 60.

Sistem angka yang kita kenal saat ini: basis 10 (desimal), dengan “0”, mencapai bentuknya di Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo pada abad ke-8 M, dan kemudian diperkenalkan ke Eropa lewat bangsa Arab. Oleh karena itu, sistem angka ini dikenal sebagai “Hindu-Arabic Numeral System”. Walaupun pada waktu yang sama bangsa Maya di Amerika juga telah mengembangkan sistem angka dengan “0″.

Jika kita perhatikan lebih jauh, sistem angka ini sebenarnya dikenal jauh sebelum itu. Satu ayat dari Yajurveda (diperkirakan ca. 1200–1000 SM) dari Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo telah menyebutkan angka 1, 10, 100, dst. hingga 1 triliun:

imā me’agna’iṣṭṭakā dhenavaḥ saptekā ca daśa ca daśa ca śatañca śatañca sahasrañca sahasrañca ayutañca ayutañca niyutañca niyutañca prayutañca arbbudañca nyarbbudañca samudraśca maddhyañca antaśca parārddhaścaitā me’agna’iṣṭṭakā dhenavaḥ santvamutrāmuṣmiṁloke.—Yajurveda 17.2

yang diterjemahkan oleh Devi Chand:
“O learned person, may the materials of my yajna, like milch kine, be the givers of happiness to me. They may be one, and ten, and ten tens, a hundred, and ten hundred, a thousand and ten thousand and a hundred thousand, a lac and ten lacs, a million, and ten millions, a crore, ten crores, hundred crores, thousand crores, its ten times Maha Padma, its ten times Shankh, its ten times Samudra, its ten times Madhya, its ten times Prardh. May these bricks of my altar be a source of happiness to me, like milch-kine in this world and the next world.”

Sedangkan konsep awal tentang “0”, juga sudah dikenal sebagai śūnya, kham, saṃpūrṇa. Seperti mantra pembuka Upanishad dari Yajurveda: “Yang itu Sampurna, Yang inipun Sampurna; dari Kesempurnaan lahir Yang Sampurna… Kendati demikian, Kesempurnaan tak terpengaruh; Ia masih tetap Sampurna.” Bahkan bagi penduduk Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo, sifat ini dikaitkan dengan Tuhan: “khaṃ brahman”—Bṛhadāranyaka Upanishad 5.1.

 

 

Menggali Akar Peradaban Hindu (3–Habis): Tulang Punggung Peradaban

[Tulisan saya ini dimuat di Majalah Media Hindu edisi Oktober 2016]

Om Avignamastu,

“Aku telah berjalan ke semua sudut India, dan aku belum pernah menemukan seorangpun pengemis dan pencuri—sedemikian kayanya negeri itu, dengan nilai-nilai moral yang tinggi, sehingga tidak mungkin kita (bangsa Inggris) bisa menaklukkan negeri itu tanpa mematahkan tulang-punggungnya, yaitu kekayaan warisan spiritual dan budayanya. Oleh karena itu, aku mengusulkan agar kita mengganti sistem pendidikannya yang sudah sudah berusia ribuan tahun, (sehingga kita bisa mengubah) budayanya—karena apabila orang-orang India berfikir bahwa segala sesuatu yang asing dan berasal dari Inggris lebih baik dan mulia daripada apa yang dimilikinya; mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan (akhirnya) budaya asalnya akan tersingkir, kemudian mereka akan mudah dikuasai.” —terjemahan bebas kutipan pidato Lord Macaulay di hadapan Parlemen Inggris, 2 Februari 1835.

India, Hindia, Indus, Hindu, Sindhu adalah satu peradaban; sehingga kita pun bisa mengganti kata India di dalam kutipan di atas dengan Indonesia—atau wilayah-wilayah lain di dalam Peradaban Sindhu—dan akan kita temukan pola yang sama. Penjajahnya boleh berbeda: di sana British East India Company, di sini Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC), di sana dijajah oleh orang-orang Inggris, di sini kita dieksplotasi oleh orang-orang dari Belanda, di wilayah lain, oleh bangsa-bangsa lain. Sama saja, ‘beti’ beda tipis!

Kita harus akui bahwa mereka sukses dengan misinya tadi. Mereka berhasil mematahkan tulang-punggung kita, menciptakan amnesia sejarah—dan yang lebih parah—amnesia budaya dan jati diri. Hingga detik ini, sadar atau tidak, kita masih mewarisi pola pikir yang mereka tanam ratusan tahun yang lalu itu. Kita masih memandang diri lebih rendah, tidak beradab sebelum kedatangan orang-orang asing yang membawa serta peradaban, ilmu, pengetahuan, teknologi, hukum bahkan seni. Kita masih takjub melihat bule, orang-orang asing dan memandang mereka lebih baik dari diri kita.

Anda mungkin bertanya, apa sih yang kita punya? Kalau itu yang terbersit di benak kita, bagus! Kita bisa mulai perjalanan menggali kekayaan warisan spiritual dan budaya kita di dalam beberapa tulisan saya selanjutnya.

Weda: Kolam Intelejensia
Peradaban Sindhu merupakan satu-satunya peradaban kuna dunia yang masih hidup hingga saat ini. Sumber kekuatannya terletak pada Dharma yang langgeng, kekal, abadi, dan selalu ada (baca kembali tulisan pertama saya dalam seri ini). Dari waktu ke waktu, Peradaban Sindhu dibekahi oleh kehadiran para Guru, para Bijak, para Suci yang mampu menangkap, kemudian menerjemahkan serta mengaplikasikan Dharma ini sesuai dengan tuntutan jamannya. Peradaban Sindhu percaya pada perkembangan, bahwa otak manusia memiliki kelebihan dan juga keterbatasan sehingga ia hanya mampu menangkap sesuai dengan kapasitasnya. Semakin berkembang dirinya, semakin banyak yang ia bisa pahami. Selama ribuan tahun proses ini terjadi, dan ajaran-ajaran para Suci diwariskan dari generasi ke generasi.

Sekitar 5000 tahun yang lalu, Resi Wyasa atau Begawan Abhiyasa bersama murid-muridnya mengumpulkan ajaran-ajaran tadi ke dalam empat buku besar, yang sekarang kita kenal sebagai Weda atau Veda. Sesungguhnya, Weda—yang berarti pengetahuan, kebijakan—melampaui keempat pustaka tersebut. Swami Anand Krishna mengatakan bahwa Weda adalah “kolam intelejensia, di mana jagad raya hanyalah sebuah pulau kecil. Alam semesta hanyalah satu bagian dari kolam itu. Sementara kolam intelejensia itu sendiri hanyalah bagian dari Hyang Maha Ada”, sebagaimana yang juga dikatakan oleh Shri Krishna di dalam Bhagavad Gita 2.46.

Saat ini kita mewarisi empat pustaka: Rig, Yajur, Sama, dan Atharwa Weda. Rig Weda merupakan pustaka tertua umat manusia yang berisi mantra-mantra yang selama ribuan tahun telah menjadi sumber dari seluruh Peradaban Hindu. Walaupun mungkin banyak di antara kita yang belum pernah melihat mapun membaca langsung Rig Weda, namun setiap hari kita telah mengucapkan salah satu mantranya ketika melakukan Puja Tri Sandhya, yaitu Mahamantra Gayatri yang bisa dijumpai di Rig Weda 3.62.10.

Sama Weda menggubah mantra-mantra dari Rig Weda ke dalam melodi dan musik yang meditatif. Sedangkan Yajur Weda berisi tentang berbagai ritual Yajna, menjelaskan hubungan manusia dengan semesta. Yajur dan Rig Weda juga diketahui mengandung simbol-simbol astronomi yang kemudian berkembang menjadi ilmu Jyotisha. Bahkan di dalam Rig Weda, Resi Atri merekam peristiwa astronomi, yaitu gerhana yang terjadi sebelum titik-balik matahari musim panas, pada 26 Maret 3928 SM. Atharwa Weda sering dianggap sebagai Weda yang paling muda. Atharwa Weda berisikan ajaran-ajaran untuk menghadapi berbagai aspek negatif serta mengingkatkan aspek positif hidup kita. Ayurveda merupakan salah satu cabang ilmu yang lahir dari Atharwa Weda.

screen-shot-2017-01-17-at-1-31-06-pm

Gambar 1. Diagram Kitab Suci Peradaban Sindhu (diambil dari buku “In Search of The Cradle of Civilization” oleh Subhash Kak et al. dengan modifikiasi oleh penulis.

Institusi Ashram
Jauh sebelum Barat mengenal institusi pendidikan, seperti sekolah dan perguruan tinggi, penduduk Peradaban Sindhu—yang membentang dari Afghanisthan hingga ke Kepulauan Nusantara—telah mengenal institusi Ashram. Sayangnya, di Indonesia institusi ini sekarang hanya tinggal namanya saja. Bahasa Indonesia menyerap kata Ashram menjadi asrama yang maknanya telah sangat menyempit, yaitu semata “bangunan tempat tinggal bagi kelompok orang untuk sementara waktu, terdiri atas sejumlah kamar, dan dipimpin oleh seorang kepala asrama” (KBBI). Di masa lalu, institusi inilah yang menjadi tulang-punggung Peradaban Sindhu.

Kata Ashram (Āśrama) di dalam bahasa Sansekerta berasal dari akar kata ‘śram’, yang berarti menjalani disiplin diri, menaklukan diri. Jadi Ashram bisa diartikan sebagai fase, tahapan kehidupan, bahkan juga tempat untuk tidak mengasah, mengolah jiwa. Tidak heran di Indonesia, asrama diasosiasikan dengan sekolah dan tempat tinggal para murid dan guru. Di masa lalu, di dalam institusi Ashram inilah seluruh ilmu dan pengetahuan Weda dipelajari, dikembangkan, dan dipraktikkan.

Di samping bermakna tempat, Ashram juga berkaitan dengan masa atau periode kehidupan. Ini yang kita pelajari dan hapalkan di sekolah: Catur Ashrama, yang terdiri dari Brahmacari, Grahasthya, Vanaprastha, dan Sanyasin. Keempat masa kehidupan ini menunjukkan wawasan mendalam yang dimiliki leluhur kita. Kita tidak diharapkan untuk lahir, hidup, bersenang-senang, kemudian mati saja, namun para bijak di Peradaban Sindhu memberikan kita cetak biru perencanaan jangka panjang yang holistik. Sayangnya, di jaman modern ini, kita hanya mengenal dua institusi pertama saja yang berupa sekolah dan rumah-tangga.

Vanaprastha dan Sanyasin hanya tinggal teori di buku-buku pelajaran sekolah. Kini ketika pensiun, biasanya kita diharapkan membantu merawat cucu, bahkan cicit, di rumah. Perjalanan spiritual ke dalam diri pun terlupakan sudah; hingga akhir hayat, kita akan terus disibukkan oleh dunia. Swami Anand Krishna menjelaskan di dalam bukunya, Sanyas Dharma, bahwa “bagi mereka yang memasuki Sanyas Ashram setelah menempuh tiga masa sebelumnya, inilah puncak dari segala pengalaman. Sebagai Sanyasi mereka bisa hidup bebas tanpa beban apapun. Mereka dapat berkarya tanpa pamrih, tanpa kepentingan diri. Mereka bisa melayani sesama dengan semangat manembah. Mereka bisa sepenuhnya berfokus kepada Tuhan.”

Tidak mengherankan apabila kehidupan modern kita saat ini tidak mendatangkan kebahagiaan semakin tua usia kita—sebagaimana yang ditunjukkan di dalam salah satu penelitian. Institusi Ashram di Bali, yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, memang sudah mulai bermunculan, namun masih dipandang oleh sebagian orang, ‘aneh’ serta dianggap hanya diperuntukkan bagi orang-orang tua/kelompok tertentu saja. Salah kaprah ini telah berlangsung sedemikian lama, menciptakan kecurigaan, dan bahkan tidak jarang, pertentangan.

Padahal hanya di dalam lingkungan Ashram inilah manusia memperoleh kesempatan untuk memperoleh pendidikan spiritualitas (dalam makna yang sebenarnya) yang bukan hanya teori namun juga praktik melepaskan segala pengkondisian, atau disebut Vasana di dalam bahasa Sansekerta, yang telah kita peroleh selama ini. Jika suatu masyarakat kehilangan kemampuan untuk membebaskan dirinya dari Vasana yang tidak berguna, maka masyarakat tadi akan dipengaruhi oleh kesadaran rendah, seperti materialisme, sedemikian hingga mereka akan dengan mudah dikuasai—seperti yang terjadi pada kita saat ini. Ashram adalah satu-satunya harapan kita menghidupkan kembali Peradaban Sindhu, Indus, Hindu.

screen-shot-2017-01-17-at-1-33-49-pm

Gambar 2. Foto salah satu kegiatan di Anand Ashram Ubud yang penuh keceriaan dan dinamis.

 ***

Menggali Akar Peradaban Hindu (2): Dari Sunda ke Sindhu-Saraswati

[Tulisan saya ini dimuat di Majalah Media Hindu edisi September 2016]

Om Avignamastu,

“Agama Hindu adalah satu-satunya agama besar dunia yang meyakini bahwa alam semesta mengalami proses kelahiran dan kematian terus-menerus. Inilah satu-satunya agama yang menggunakan skala waktu yang sesuai dengan ilmu kosmologi modern—dan saya yakin ini bukan kebetulan semata. Siklus waktu yang mereka pakai mulai dari siklus siang-dan-malam biasa ke siklus siang-malam Brahma: sepanjang 8,64 miliar tahun. Ini lebih tua dari umur bumi dan matahari, juga sekitar setengah dari rentang masa sejak ‘Big Bang’—bahkan (agama Hindu) masih memiliki skala waktu lain yang lebih panjang lagi.” —Carl Sagan (1934-1996), astronom dan kosmolog asal Amerika Serikat.

Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan Hindu Dharma lahir. Beberapa ilmuwan menggunakan masa penyusunan kitab suci tertuanya, Rig Weda, untuk menjawab pertanyaan ini. Hasilnya beragam. Ada yang mengajukan angka 25.000SM (Avinash Chandra Das), 6.000SM (Balgangadhar Tilak), sedangkan para Indolog barat cenderung mengatakan bahwa Rig Weda disusun antara 1.500SM – 500SM. Angka manapun yang kita percayai, Rig Weda sendiri mengungkapkan bahwa Hindu Dharma telah lama ada jauh sebelum syair-syairnya disusun, bahkan disebut ‘nitya’ atau abadi.

Yang menarik, seperti diungkapkan oleh Carl Sagan di atas, orang-orang dari Peradaban Sindhu atau Hindu telah mengenal skala waktu yang sangat besar yang sejalan dengan kosmologi modern. Untuk sampai kepada angka yang sedemikian besar, orang-orang Hindu harus menggunakan sistem-angka yang tepat, memahami matematika, astronomi, dan ilmu pengetahuan lainnya. Penggunaan angka ‘0’ (Shunya) dan sistem basis-10 telah digunakan di dalam Weda jauh sebelum sistem ini dikenalkan secara luas di Eropa oleh para ilmuwan Timur Tengah pada sekitar abad ke-10M, untuk menggantikan angka romawi yang tidak lagi praktis digunakan. Sistem ini dikenal sebagai Hindu numeral system.

Seperti yang saya ungkapkan di tulisan sebelumnya, Hindu adalah nama suatu gugus peradaban yang membentang luas dari barat Sungai Sindhu (kini di Pakistan dan India), Afganistan, Anak Benua India, Indo-Cina, hingga ke Kepulauan Asia Tenggara. Orang-orang Persia memberikan nama Hindu kepada orang-orang yang menjadi bagian dari gugus peradaban ini. Orang-orang di Tiongkok menyebutnya Yin-tu; sedangkan bangsa-bangsa di Eropa mengenal gugusan peradaban ini dengan nama Indus atau Indos. Nama Indo-nesia, India, Hindia, atau Indies adalah jejak-jejak yang menunjukkan bahwa kita semua berada di dalam gugusan peradaban yang sama.

Walaupun orang-orang yang hidup di dalam Peradaban Sindhu atau Hindu memiliki Shraddha atau agama yang berbeda, namun mereka semua diikat oleh Dharma yang universal. Di dalam Rig Weda, konsep Dharma juga dikenal sebagai Rta. Sulit mencari terjemahan bagi dua kata ini; Dharma dan Rta sering diartikan sebagai hukum universal yang menopang semesta. Benda-benda di jagat raya ini berjalan mengikuti Rta (Rig Weda 1.124.3, 5.80.4); langit dan bumi ini ada dalam kandungan Rta (Rig Weda 10.65.8, 1.65.4); para Resi berdoa agar mampu melampaui dualitas suka-duka di jalan Rta (Rig Weda 10.133.6). Mengutip istilah Swami Anand Krishna, Hindu Dharma merangkum semua kepercayaan, budaya, tradisi yang “existence-friendly”, yang ramah kepada alam semesta.

Menyadari sedemikian tuanya jagat raya, para Resi Weda tidak-bisa-tidak hidup harmonis dengan segala sesuatu di sekelilingnya. Di Bali kita mengenal Tri Hita Karana yang berpijak pada prinsip yang sama. Inilah alasan mengapa Peradaban Sindhu atau Hindu bisa bertahan selama ribuan tahun. Pusat-pusat tertua Peradaban Sindhu yang tersebar di sekitar Sungai Sindhu-Saraswati, seperti Harappa dan Mohenjo-Daro terbukti telah ada setidak-tidaknya 8.000 tahun yang lalu (atau 1.000 tahun lebih tua lagi bila memperhitungkan masa Pra-Harappa). Hasil penelitian yang dilakukan oleh oleh IIT-Kharagpur dan Archaeological Survey of India ini dipublikasikan di dalam jurnal-sains bergengsi, Nature, 25 Mei 2016. Ini berarti Peradaban Sindhu atau Hindu sudah ada sebelum Mesir dan Mesopotamia, serta menjadi “cradle of civilisation”. Saya yakin bahwa angka ini akan terus mundur seiring dengan semakin dalamnya penggalian, terkumpulkannya bukti-bukti baru, serta berkembangnya teknologi.

Di dalam bukunya, Wisdom of Sundaland (2012), Swami Anand Krishna bahkan memperkirakan umur Peradaban Sindhu atau Hindu mencapai 14.000 tahun. Yang menarik, beliau mengungkapkan bahwa peradaban ini dibangun oleh para imigran dari peradaban sebelumnya di Sundaland. Pada Jaman Es (sekitar 110.000–12.000 tahun yang lalu), pulau-pulau besar di bagian barat Kepulauan Nusantara, seperti Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan, terhubung dengan Semenanjung Malaysia dan membentuk landmass yang dikenal sebagai Sundaland. Akibat naiknya permukaan air laut dan berbagai bencana alam dahsyat yang terjadi, mau-tidak-mau mereka yang terdampak mengungsi dan mencari tempat tinggal baru. Di kawasan ini, banyak ditemui legenda yang bersumber dari peristiwa ini, salah satunya adalah Kumari Kandam yang dikenal di India Selatan.

2398806154_60ea2da4f5_o

Gambar 1. Peta Asia Tenggara pada Jaman Es (Pleistocene) menunjukkan bagian barat Indonesia bersatu dengan daratan Benua Asia.

Proses perpindahan ini memakan waktu yang sangat panjang: mereka berpindah dari satu-tempat ke tempat lain, mencari lahan yang stabil dan subur. Para imigran ini membawa serta pengetahuan dan teknologi dari peradaban sebelumnya. Ribuan tahun kemudian, mereka sampai di tepian Sungai Sindhu-Saraswati. Di sanalah mereka membangun kembali peradaban. Rig Weda merekam puja-puji para Resi kepada kedua sungai besar itu; bahkan Saraswati diagungkan sebagai Dewi ilmu pengetahuan, seni, dan peradaban. Segenap warisan pengetahuan yang dibawa keluar dari Sundaland dan pengetahuan baru yang berkembang di sana, di kemudian hari dikumpulkan oleh Maharesi Wyasa ke dalam beberapa jilid buku yang kita kenal sebagai Catur-Weda: Rig, Sama, Yajur, dan Atharva Weda.

Ajaran-ajaran Weda ini dikenal pula sebagai “Arya Dharma”. Kata Arya berarti ia yang mulia dan bijak; kata ini tidak mewakili suku atau ras tertentu seperti yang selama ini didengungkan beberapa kalangan. Teori yang mengatakan bahwa ajaran-ajaran Weda datang belakangan seiring invasi ras atau bangsa Arya dari Eropa Timur yang mengakhiri Peradaban Sindhu, telah banyak dibantah.

Beberapa bukti kuat menunjukkan kemenerusan Peradaban Sindhu atau Hindu dengan ajaran-ajaran Dharma di dalam Weda yang masih kita warisi hingga saat ini. Salah satu contohnya adalah Yoga. Peradaban Sindhu meningggalkan beberapa segel bergambar dan memiliki simbol-simbol yang dianggap sebagai huruf—yang belum terpecahkan hingga sekarang. Di antara segel-segel yang ditemukan, tidka hanya di Harappa dan Mohenjo-Daro, tapi juga hingga ke kawasan Timur Tengah ada segel dengan gambar seseorang yang sedang ber-Yoga-Asana (Gambar 2). Para arkeolog memperkirakan tokoh tersebut adalah Pashupati atau Shiva.

screen-shot-2017-01-17-at-1-17-10-pm

Gambar 2. Segel dari Mohenjo-daro yang menunjukkan postur Bhadra-asana. Banyak ahli sepakat bahwa sosok di dalam segel ini adalah Shiva, Sang Yogi-raaj.

Yoga merupakan salah satu ‘hadiah’ Hindu Dharma bagi dunia. Saat ini, Yoga telah dikenal secara luas, walaupun banyak yang belum memahami esensinya. Asanas atau postur-postur Yoga, yang menjadi fokus saat ini, dipergunakan untuk olah-raga saja. Padahal Asanas hanyalah satu dari delapan ‘tubuh’ Yoga, seperti yang dipaparkan oleh Resi Patanjali. Padahal dengan tegas, Resi Patanjali mengatakan bahwa Yoga adalah disiplin-diri (atha yogānuśāsanam, Patanjali Yoga Sutra 1.1), untuk mengendalikan benih-benih pikiran atau Citta (yogaś-citta-vrtti-nirodhah, PYS 1.2) agar kita mampu menyadari hakikat Sang Diri yang Sejati.

screen-shot-2017-01-17-at-1-20-17-pm

Gambar 3. Para peserta Yoga di One Earth Retreat Centre, Bogor, sedang memperagakan Bhujanga-asana.

Dengan diperkenalkannya Yoga di pentas dunia lewat disahkannya Hari Yoga Internasional oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 11 Desember 2014, menunjukkan keuniversalan nilai-nilai dan praktik Yoga. Hari Yoga Internasional dirayakan pada tanggal 21 Juni setiap tahunnya, dan diikuti oleh jutaan orang di seluruh dunia. Kita harus berterima kasih pada upaya-upaya Perdana Menteri India saat ini, Narendra Modi yang telah mendorong hal ini, untuk menyebarluaskan Yoga sekaligus mengingatkan dunia akan akar Yoga yang tumbuh dari ajaran Hindu Dharma.

***

Menggali Akar Peradaban Hindu (1): Berbeda-beda tapi Satu Dharma

[Tulisan saya ini dimuat di Majalah Media Hindu edisi Agustus 2016]

Om Avighnamastu,

Pandangan bahwa Hindu melihat Kebenaran dari satu sisi saja, memiliki hanya satu tradisi baku, satu interpretasi dan ekspresi bukan hanya tidak tepat, namun menyesatkan dan memecah-belah. Ketika pandangan ini mengemuka, kita sedang menciptakan gegar di dalam umat: Versi mana yang benar? Versi yang berkembang di India, Bali, Sunda, Jawa, Sumatera, atau yang lain? Siapa atau apa yang bisa memberi vonis? Kemudian ada suara bahwa Hindu di Bali tidak sama (dan tidak patut disamakan) dengan Hindu di India atau di tempat lain; bahwa kita berbeda. Saudara-saudaraku, semoga kita tidak terkecoh dengan ‘nama’ dan ‘rupa’.

Tidak mengherankan apabila pandangan demikian mengakibatkan saudara-saudara kita di Kaharingan, Tatar Sunda, Tanah Batak, dan sebagainya ikut bersuara sama. Hal ini sangat berbahaya! Umat akan terpecah-belah, hidup di dalam komunitas yang akan semakin mengecil sampai pada suatu ketika, mengkerdil. Kekerdilan kita itu kemudian akan dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak luar untuk memengaruhi dan menguasai kita. Hal ini bukan hanya sekedar angan-angan konspiratoris; sadar-atau-tidak hal ini sedang terjadi.

Kekuatan kita sama persis dengan yang ‘dikira’ sebagai kelemahan umat Hindu, yaitu keberagaman dan keberagamaan kita. Tidak seperti umat lain, Hindu bukanlah agama dengan satu nabi, satu kitab suci, satu doktrin, bahkan satu agama yang kemudian berkembang menjadi beberapa sekte. Sebaliknya, Hindu adalah nama yang diberikan oleh orang luar—dalam hal ini Persia—untuk merangkum penduduk yang tinggal di sekitar lembah Sungai Sindhu (sebagian di India dan sebagian lagi di Pakistan) and beyond, hingga ke Asia Tenggara. Bisa dikatakan bahwa Hindu adalah nama geografis dan sosiologis yang memiliki cakupan luas. Tepatnya, Hindu adalah suatu peradaban yang tidak hanya menjadi induk bagi apa yang sekarang disebut agama Hindu, tetapi juga Jain, Buddha, Sikh, dan lain-lain; sekaligus menjadi inspirasi bagi para mistik dan sufi dari tradisi-tradisi atau budaya-budaya lainnya.

1280px-hinduism_expansion_in_asia-svg

Gambar 01. Wilayah Peradaban Sindhu-Saraswati dan situs-situs utamanya.

Way of life penduduk di kawasan ini memiliki benang merah yang sama. Seperti untaian kalung yang diisi dengan bermacam bunga, demikian pula Hindu terdiri dari orang-orang dengan beragam bahasa, tradisi, ritual dan festival keagamaan, bahkan nama Tuhan yang dipuja pun tidak selalu sama. Aspek inilah yang disebut Shraddha oleh Swami Anand Krishna. Shraddha mengandung ajaran dan aturan yang sifatnya kontekstual—tergantung pada desa, kala, dan patra-nya. Shraddha mereka yang tinggal dikelilingi oleh hutan-hujan tropis dan mereka yang tinggal di gurun atau di lembah terbuka bisa berbeda.

Oleh karena itu, Hindu bisa mengakui adanya banyak teks suci—masing-masing wilayah bisa memiliki teks suci dengan ajaran dan aturan yang unik diperuntukkan bagi orang-orang yang tinggal di sana, sesuai dengan kebutuhannya. Shraddha inilah yang kita kenal sebagai agama. Kalau ini yang sedang dibicarakan, maka ya, umat Hindu di Bali bisa berseberangan dengan umat Hindu Kaharingan, atau Parmalim di tanah Batak, umat di India, juga praktisi Kejawen, Sunda Wiwitan, dan seterusnya. Di sini, kita akan terpecah-belah. Jika kita tidak ingin itu terjadi, maka di samping Shraddha kita juga harus mengenal Dharma.

Swami Anand Krishna menjelaskan bahwa Dharma tidak sama dengan Shraddha. Core value dari Dharma adalah kemanusiaan, pengalaman universal yang dirasakan setiap orang. Seluruh orang yang tinggal di wilayah Sindhu atau Hindu, termasuk kita di Indonesia, disatukan lewat Dharma; kita semua memiliki Dharma yang tunggal. “Bhinneka tunggal ika, tan hanna dharma mangrwa,” demikian deklarasi Mpu Tantular lebih dari lima ratus tahun yang lalu. Jadi, Dharma tunggal adanya, walaupun tidak memiliki satu kitab, dan menggunakan kitab-kitab sebagai petunjuk untuk memperoleh insight, kebijaksanaan, atau darshan.

Shraddha atau agama bisa terus berkembang, berubah sesuai dengan lingkungan dan perkembangan jaman. Namun akarnya, yaitu Dharma, selalu sama dan senantiasa ada hingga manusia punah. Umat di Bali boleh saja mengembangkan Shraddha dengan persembahyangan Tri Sandhya, dengan berbagai macam banten dan upacara, juga bentuk Pura yang khas, demikian pula umat di Tengger, Kaharingan, dan di tempat-tempat lain hendaknya bisa pula mengembangkan Shraddha mereka yang unik. Para praktisi Kejawen dan Sunda Wiwitan pun demikian. Shraddha bersifat dinamis, sedangkan Dharma bersifat langgeng (Sanatana).

Jadi benar jika ada yang berpandangan bahwa sebelum 1958—ketika agama Hindu diakui oleh Pemerintah RI—Hindu belum ada sebagai ‘agama’ di Bali. Istilah Hindu memang belum ada, namun Hindu sebagai Dharma telah ada di seluruh Dvipantara jauh sebelumnya. Jadi tidak benar bahwa Hindu Dharma kita impor dari India. Perbedaan-perbedaan yang nampak dalam banyak aspek Shraddha Hindu Bali—atau ada yang menyebutnya sebagai agama Tirta—dan Hindu di wilayah lain hendaknya tidak dipertentangkan dan dijadikan masalah.

Shraddha yang dinamis ini perlu terus menerus in contact dengan Dharma agar tidak tergerus ‘roda waktu’ dan pengaruh luar, agar terjadi pembaruan yang sinambung (Nutana). Karena Shraddha bersinggungan dengan dunia benda, kemajuan IPTEK, dengan masyarakat yang belum sepenuhnya hidup berkesadaran, maka Shraddha tidak bisa dijadikan patok dan patokan yang tidak boleh direvisi. Kalau proses ini dipahami dan dilakukan terus-menerus, maka umat akan memiliki kemampuan menghadapi benturan antar-peradaban. Kadang kita perlu melepaskan pemahaman dan ritus yang tidak lagi mendatangkan manfaat. Di saat yang sama, kita perlu terus membuka diri terhadap pencapaian saudara se-Dharma di wilayah lain.

Jejaring Dharma inilah yang bisa menyelamatkan kita dari marginalisasi, pengkerdilan dan sebaliknya akan memperkaya dan menguatkan kita. Dharma bukanlah pergulatan teologis semata dan perdebatan mengenai ritual apa yang akan ‘sampai’ kepada Dewata namun adalah perjalanan panjang menemukan, to dis-“cover”, Sang Hyang Widdhi Wasa—Sumber Kekuatan dan Kebijaksanaan yang Tidak Kekurangan Sesuatu Apapun. Dharma-lah yang akan melindungi kita—Dharmo Rakshati Rakshitah.

Kalau kita merenungkan kata Tirta atau Teerth, yang berasal dari bahasa Sansekerta, maka kita akan menjumpai esensi yang sama. Tirta berarti perjalanan suci, perjalanan mengunjunggi tempat-tempat suci yang mana para Resi dan Begawan pernah tinggal dan ajaran-Nya masih lestari. Artinya, kita didorong untuk terus belajar dengan pikiran terbuka, untuk jalan-jalan namun bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk menyucikan diri dan memperoleh insight baru. Tirta juga berarti air atau tempat suci di dekat mata air atau sungai. Dari sini kita diajari untuk meniru sifat air yang lentur dan progresif, terus meliuk mencapai tujuan.

Hanya saja berbeda dari umat lain, umat Hindu Dharma memiliki halaman yang lapang: membentang dari barat Sungai Sindhu, Anak Benua India, Indo-Cina, sampai ke Indonesia. Lokasi Tirta-yatra kita tersebar luas. Rugi rasanya kalau kita hanya membatasi diri pada sepetak kamar kita, padahal saudara-saudara kita menyimpan pula permata Dharma yang melimpah. Yang dibutuhkan adalah langkah pertama untuk memulai Yatra ini. Di dalam tulisan saya selanjutnya, kita akan melihat-lihat ‘rumah’ kita dalam skala yang luas.

***

Isha Upanishad

Īśā upaniṣad, atau yang juga dikenal sebagai Īśāvāsya upaniṣad—yang diambil dari 2 kata pertama di dalam kitab ini, merupakan bab penutup Śukla Yajurveda (sekitar 1200–1000 SM), yaitu bab ke-40. Isha upanishad merupakan upanishad-utama yang terpendek, yang terdiri dari 18 sloka saja. Namun demikian, Isha upanishad dipandang sebagai salah satu teks suci terpenting di dalam tradisi advaita yang menjelaskan kesatuan antara Sang Jiwa dan Tuhan Yang Esa (Paramātmā).

Upanishad berasal dari: upa ni ṣad; kata dasar “ṣad” seakar dengan kata sit di dalam bahasa Inggris, yang berarti duduk. Awalan upa- menunjukkan makna “di dekat atau di bawah”; sedangkan awalan kedua, ni-,  menyatakan “di dalam atau tunduk, merendah”. Jadi upanishad berarti duduk di dekat, di bawah Sang Guru. Isha atau īśā adalah salah satu nama Tuhan yang berarti “Ia yang maha berkuasa”; sehingga Isha upanishad bisa dimaknai sebagai ajaran (yang diterima dari Sang Guru) untuk mendekatkan diri kita kepada Ia Hyang Mahakuasa, yang juga Maha Bersemayam di Dalam Diri Semua Makhluk (sloka 1).

Teks lengkap Isha upanishad dalam bahasa Sanskrit dibawah ini saya transkripsikan sendiri ke dalam aksara Bali; sedangkan terjemahan maknanya saya ambil dari buku “Shambala: Fajar Pencerahan di Lembah Kesadaran”, karya Swami Anand Krishna, yang diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000. Ini adalah upaya untuk menyebarluaskan ajaran dharma serta untuk merawat khasanah pengetahuan warisan Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo. Seperti yang Swami Anand Krishna ungkapkan di dalam bukunya, “Isha Upanishad bukan teks agama, tetapi teks keagamaan—religiousness. Inti keagamaan.”

Apabila pembaca mengutip sebagian atau keseluruhan tulisan di bawah, silakan menuliskan pula sumbernya. Jika ingin sharing atau berdiskusi terkait tulisan ini silakan menuliskannya di kotak komen. Semoga bermanfaat.


᭟ ᬒᬁ ᬰ᭄ᬭᬷ ᬕᬸᬭᬸᬪ᭄ᬬᭀ ᬦᬫᬄ ᭟

᭚ ᬅᬣ ᬈᬰᭀᬧᬡᬶᬱᬤ᭄ ᭟

ᬒᬁ ᬧᬹᬃᬡᬫᬤᬄ ᬧᬹᬃᬡᬫᬶᬤᬀ ᬧᬹᬃᬦᬵᬢ᭄ ᬧᬹᬃᬡᬫᬸᬤᬘ᭄ᬬᬢᬾ ᭞
ᬧᬹᬃᬡᬲ᭄ᬬ  ᬧᬹᬃᬡᬫᬵᬤᬵᬬ ᬧᬹᬃᬡᬫᬾᬯᬵᬯᬰᬶᬱ᭄ᬬᬢᬾ ᭟

ᬒᬁ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᭟

ᬒᬁ ᬈᬰᬵᬯᬵᬲ᭄ᬬ ᬫᬶᬤᬁ ᬲᬃᬯᬀ ᬬᬢ᭄ᬓᬶᬜ᭄ᬘ ᬚᬕᬢ᭄ᬬᬵᬀ ᬚᬕᬢ᭄ ᭞ ᬢᬾᬦ ᬢ᭄ᬬᬓ᭄ᬢᬾᬦ ᬪᬸᬜ᭄ᬚᬷᬢᬵ ᬫᬵ ᬕᬺᬥᬄ ᬓᬲ᭄ᬬᬲ᭄ᬯᬶᬤ᭄ᬥᬦᬫ᭄ ᭟᭑᭟ ᬓᬸᬃᬯᬦ᭄ᬦᬾᬯᬾᬳ ᬓᬃᬫᬵᬡᬶ ᬚᬶᬚᬷᬯᬶᬱᬾᬘ᭄ᬙᬢᬁ ᬲᬫᬵᬄ ᭞ ᬏᬯᬀ ᬢ᭄ᬯᬬᬶ ᬦᬵᬦ᭄ᬬᬣᬾᬢᭀ’ᬲ᭄ᬢᬶ ᬦ ᬓᬃᬫ ᬮᬶᬧ᭄ᬬᬢᬾ ᬦᬭᬾ ᭟᭒᭟ ᬅᬲᬸᬃᬬ ᬦᬵᬫ ᬢᬾ ᬮᭀᬓᬵ ᬅᬦ᭄ᬥᬾᬦ ᬢᬫᬲᬵ’ᬯᬺᬢᬵᬄ ᭞ ᬢᬵᬁᬲ᭄ᬢᬾ ᬧ᭄ᬭᬾᬢ᭄ᬬᬵᬪᬶᬕᬘ᭄ᬙᬦᬢᬶ ᬬᬾ ᬓᬾ ᬘᬵᬢ᭄ᬫᬳᬦᭀ ᬚᬦᬵᬄ ᭟᭓᭟ ᬅᬦᬾᬚᬤᬾᬓᬀ ᬫᬦᬲᭀ ᬚᬯᬷᬬᭀ ᬦᬿᬦᬤ᭄ᬤᬾᬯᬵ ᬆᬧ᭄ᬦᬸᬯᬦ᭄ᬧᬸᬃᬯᬫᬃᬱᬢ᭄ ᭞ ᬢᬤ᭄ᬥᬵᬯᬢᭀ’ᬦ᭄ᬬᬵᬦᬢ᭄ᬬᬾᬢ ᬢᬶᬱ᭄ᬞᬢ᭄ ᬢᬲ᭄ᬫᬶᬦ᭄ᬦᬧᭀ ᬫᬵᬢᬭᬶᬰ᭄ᬯᬵ ᬤᬥᬵᬢᬶ ᭟᭔᭟ ᬢᬤᬾᬚᬢᬶ ᬢᬦᬿᬚᬢᬶ ᬢᬤ᭄ᬤᬹᬭᬾ ᬢᬤ᭄ᬯᬦ᭄ᬢᬶᬓᬾ ᭞ ᬢᬤᬦ᭄ᬢᬭᬲ᭄ᬬ  ᬲᬃᬯᬲ᭄ᬬ  ᬢᬤᬸ ᬲᬃᬯᬲ᭄ᬬᬵᬲ᭄ᬬ  ᬩᬵᬳ᭄ᬬ ᬢᬄ ᭟᭕᭟ ᬬᬲ᭄ᬢᬸ ᬲᬃᬯᬵᬡᬶ ᬪᬹᬢᬵᬦ᭄ᬬᬵᬢ᭄ᬫᬦ᭄ᬬᬾᬯᬵᬦᬸᬧᬰ᭄ᬬᬢᬶ ᭞ ᬲᬃᬯᬪᬹᬢᬾᬱᬸ ᬘᬵᬢ᭄ᬫᬵᬦᬀ ᬢᬢᭀ ᬦ ᬯᬶᬚᬸᬕᬸᬧ᭄ᬲᬢᬾ ᭟᭖᭟ ᬬᬲ᭄ᬫᬶᬦ᭄ᬲᬃᬯᬵᬡᬶ ᬪᬹᬢᬵᬦ᭄ᬬᬵᬢ᭄ᬫᬿᬯᬵᬪᬸᬤ᭄ᬯᬶᬚᬵᬦᬢᬄ ᭞ ᬢᬢ᭄ᬭ ᬓᭀ ᬫᭀᬳᬄ ᬓᬄ ᬰᭀᬓ ᬏᬓᬢ᭄ᬯᬫᬦᬸᬧᬰ᭄ᬬᬢᬄ ᭟᭗᭟ ᬲ ᬧᬭ᭄ᬬ ᬕᬵᬘ᭄ᬙᬸᬓ᭄ᬭᬫᬓᬵᬬᬫᬯ᭄ᬭᬡᬫᬲ᭄ᬦᬵᬯᬶᬭᬁ ᬰᬸᬤ᭄ᬥᬫᬧᬵᬧᬯᬶᬤ᭄ᬥᬫ᭄ ᭞ ᬓᬯᬶᬭ᭄ᬫᬦᬷᬱᬷ ᬧᬭᬶᬪᬹᬄ ᬲ᭄ᬯᬬᬫ᭄ᬪᬸᬬᬵᬃᬣᬵᬢᬣ᭄ᬬᬢᭀ’ᬭ᭄ᬣᬵᬦ᭄ ᬯ᭄ᬬ ᬤᬥᬵᬘ᭄ᬙᬵᬰ᭄ᬯᬢᬷᬪ᭄ᬬᬄ ᬲᬫᬵᬪ᭄ᬬᬄ ᭟᭘᭟ ᬅᬦ᭄ᬥᬀ ᬢᬫᬄ ᬧ᭄ᬭᬯᬶᬰᬦ᭄ᬢᬶ ᬬᭀ’ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵᬫᬸᬧᬵᬲᬢᬾ ᭞ ᬢᬢᭀ ᬪᬹᬬ ᬇᬯ ᬢᬾ ᬢᬫᭀ ᬬ ᬉ ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵᬬᬵᬁ ᬭᬢᬵᬄ ᭟᭙᭟ ᬅᬦ᭄ᬬ ᬤᬾᬯᬵᬳᬸᬃᬯᬶᬤ᭄ᬬ ᬬᬵ’ᬦ᭄ᬬᬤᬳᬸᬭᬯᬶᬤ᭄ᬬᬬᬵ ᭞ ᬇᬢᬶ ᬰᬸᬰ᭄ᬭᬸᬫ ᬥᬷᬭᬵᬡᬵᬀ ᬬᬾ ᬦᬲ᭄ᬢᬤ᭄ᬯᬶᬘᬘᬓ᭄ᬱᬶᬭᬾ ᭟᭑᭐᭟ ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵ ᬘᬵᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵᬀ ᬘ ᬬᬲ᭄ᬢᬤ᭄ᬯᬾᬤᭀᬪᬬᬁ ᬲᬳ ᭞ ᬅᬯᬶᬤ᭄ᬬᬬᬵ ᬫᬺᬢ᭄ᬬᬸᬀ  ᬢᬷᬃᬢ᭄ᬯᬵ ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬬᬵ’ᬫᬺᬢᬫᬰ᭄ᬦᬸᬢᬾ ᭟᭑᭑᭟ ᬅᬦ᭄ᬥᬀ ᬢᬫᬄ ᬧ᭄ᬭᬯᬶᬰᬦ᭄ᬢᬶ ᬬᭀ’ᬲᬫ᭄ᬪᬹᬢᬶᬫᬸᬧᬵᬲᬢᬾ ᭞ ᬢᬢᭀ ᬪᬹᬬ ᬇᬯ ᬢᬾ ᬢᬫᭀ ᬬ ᬉ ᬲᬫᬪᬹᬢ᭄ᬬᬵᬁ ᬭᬢᬵᬄ ᭟᭑᭒᭟ ᬅᬦ᭄ᬬᬤᬾᬯᬵᬳᬸᬄ ᬲᬫ᭄ᬪᬯᬵᬤᬦ᭄ᬬᬤᬵᬳᬸᬭᬲᬫ᭄ᬪᬯᬵᬢ᭄ ᭞ ᬇᬢᬶ ᬰᬸᬰ᭄ᬭᬸᬫ ᬥᬷᬭᬵᬡᬵᬀ ᬬᬾ ᬦᬲ᭄ᬢᬤ᭄ᬯᬶᬘᬘᬓ᭄ᬱᬶᬭᬾ ᭟᭑᭓᭟ ᬲᬫ᭄ᬪᬹᬢᬶᬫ᭄ ᬘ ᬯᬶᬦᬵᬰᬀ ᬘ ᬬᬲᬢᬤ᭄ᬯᬾᬤᭀᬪᬬᬁ ᬲᬳ ᭞ ᬯᬶᬦᬵᬰᬾᬦ ᬫᬺᬢ᭄ᬬᬸᬀ ᬢᬷᬃᬢ᭄ᬯᬵ ᬲᬫ᭄ᬪᬸᬢ᭄ᬬᬵ’ᬫᬺᬢᬫᬰ᭄ᬦᬸᬢᬾ ᭟᭑᭔᭟ ᬳᬶᬭᬡ᭄ᬫᬬᬾᬦ ᬧᬵᬢ᭄ᬭᬾᬡ ᬲᬢ᭄ᬬᬲ᭄ᬬᬵᬧᬶᬳᬶᬢᬀ ᬫᬸᬔᬫ᭄ ᭞ ᬢᬢ᭄ᬯᬀ ᬧᬸᬱᬦ᭄ᬦᬧᬵᬯᬺᬡᬸ ᬲᬢ᭄ᬬᬥᬃᬫᬵᬬ ᬤᬺᬱ᭄ᬝᬬᬾ ᭟᭑᭕᭟ ᬧᬸᬱᬦ᭄ᬦᬾᬓᬃᬱᬾ ᬬᬫ ᬲᬹᬃᬬ ᬧ᭄ᬭᬵᬚᬵᬧᬢ᭄ᬬ  ᬯ᭄ᬬᬹᬳ ᬭᬱ᭄ᬫᬷᬦ᭄ ᬲᬫᬹᬳᬢᬾᬚᬄ ᭞ ᬬᬢ᭄ᬢᬾ ᬭᬹᬧᬀ ᬓᬮ᭄ᬬᬵᬡᬢᬫᬀ ᬢᬢ᭄ᬢᬾ ᬧᬰ᭄ᬬᬵᬫᬶ ᬬᭀ’ᬲᬵᬯᬲᭁ ᬧᬸᬭᬸᬱᬄ ᬲᭀ’ᬳᬫᬲ᭄ᬫᬶ ᭟᭑᭖᭟ ᬯᬵᬬᬸᬭᬦᬮᬫᬫᬺᬢᬫᬣᬾᬤᬀ ᬪᬲ᭄ᬫᬵᬦ᭄ᬢᬁ ᬰᬭᬷᬭᬫ᭄ ᭞ ᬒᬁ ᬓ᭄ᬭᬢᭀ ᬲ᭄ᬫᬭ ᬓᬺᬢᬁ ᬲ᭄ᬫᬭ ᬓ᭄ᬭᬢᭀ ᬲ᭄ᬫᬭ ᬓᬺᬢᬁ ᬲ᭄ᬫᬭ ᭟᭑᭗᭟ ᬅᬕ᭄ᬦᬾ ᬦᬬ ᬲᬸᬧᬣᬵ ᬭᬵᬬᬾ ᬅᬲ᭄ᬫᬵᬦ᭄ ᬯᬶᬰ᭄ᬯᬵᬦᬶ ᬤᬾᬯ ᬯᬬᬸᬦᬵᬦᬶ ᬯᬶᬤ᭄ᬬᬵᬦ᭄ ᭞ ᬬᬸᬬᭀᬥ᭄ᬬᬲ᭄ᬫᬚ᭄ᬚᬸᬳᬸᬭᬵᬡᬫᬾᬦᭀ ᬪᬹᬬᬶᬱ᭄ᬞᬵᬀ ᬢᬾ ᬦᬫᬉᬓ᭄ᬢᬶᬫ᭄ ᬯᬶᬥᬾᬫ ᭟᭑᭘᭟

ᬒᬁ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᬰᬵᬦ᭄ᬢᬶᬄ ᭟᭜᭟


AUM

Yang itu Sampurna, Yang inipun Sampurna;
dari Kesempurnaan lahir Yang Sampurna…
Kendati demikian, Kesempurnaan tak terpengaruh;
Ia masih tetap Sampurna.

[1] Keberadaan ini, alam semesta ini, diliputi oleh Tuhan. Oleh karenanya, lepaskanlah keterikatan dan rasa kepemilikan! [2] Inilah jalan satu-satunya untuk menjalani hidup tanpa dibelenggu oleh Hukum Sebab-Akibat. [3] Mereka yang hidup tanpa kesadaran demikian, sesungguhnya hidup dalam kegelapan dan (sedang) melakukan pembunuhan terhadap diri sendiri.

[4] Kendati tidak bergerak, Dia lebih cepat daripada pikiran. Pancaindra tidak dapat mengejar-Nya. Kendati berada di satu tempat, sesungguhnya Ia berada di mana-mana. [5] Bergerak tetapi tidak bergerak, jauh tetapi dekat, berada di dalam tetapi juga di luar—Demikianlah Dia Ada-Nya.

[6] Ia yang melihat segala sesuatu di dalam ‘diri’ dan melihat ‘diri’-nya di dalam segala sesuatu tidak akan membenci siapapun juga. [7] Kesadaran akan ‘kesatuan’ membebaskan manusia dari ilusi yang menyebabkan penderitaan.

[8] ‘Dia’ menembus segala-galanya—murni, tak berwujud dan tak bisa dilukai; tanpa urat dan nadi, tidak ternodai, tidak menderita, maha-tahu dan menguasai pikiran—’Dia’ melampaui segala-galanya dan tidak bersandar pada apa pun juga. Apapun yang terjadi (adalah) atas kehendak ‘Dia’.

[9] Yang ‘tidak sadar’ hidup dalam kegelapan, tetapi ‘yang sadar’ hidup dalam kegelapan yang lebih mencekamkan. [10-11] Kata mereka, hasil ‘kesadaran’ lain, dan hasil ‘ketidaksadaran’ lain. (Padahal) sesungguhnya saling berkaitan. Dengan ‘ketidaksadaran’ seseorang dapat melampaui kematian dan dengan ‘kesadaran’ ia dapat mencapai kekekalan.

[12] Mereka yang berpaling pada ‘Yang tidak berwujud’ hidup dalam kegelapan, tetapi mereka yang berpaling pada ‘Yang berwujud’ hidup dalam kegelapan yang lebih mencekamkan. [13-14] Kata mereka, hasil berpaling pada ‘Yang tidak berwujud’ lain, dan hasil berpaling pada ‘Yang berwujud’ lain. (Padahal) sesungguhnya saling berkaitan. Dengan ‘Yang berwujud’ seseorang dapat melampaui kematian dan dengan ‘Yang tidak berwujud’ ia dapat mencapai kekekalan.

[15] Wahai Cahaya Kebenaran, Engkau tertutup oleh kecemerlangan-Mu sendiri. Keluarlah dari penutup itu, sehingga aku dapat menatapi Wajah-Mu! [16] Wahai Pemelihara dan Penguasa Tunggal Alam Semesta, beri daku kekuatan untuk menyadari Kekuasaan-Mu, yang sesungguhnya juga menguasai diriku. [17] Biarlah kesadaran fisik runtuh, sehingga yang ada di dalam diri dan yang ada di luar diri menyatu! Dan pikiran pun terlampaui.

[18] Oh Tuhan Yang Maha Mensucikan, tuntunlah kami pada jalan yang benar, hindarkan kami dari jalan yang sesat. Terimalah sembah-sujud kami.

AUM

Damai, Damai, Damai

Resep

Acemoglu dan Robinson (2012), di dalam bukunya ‘Why Nations Fail’ menghimpun kisah dari berbagai wilayah dan membangun argumen mengapa sebuah negeri ‘gagal’ menjalankan fungsinya untuk mengoptimalkan sumberdaya demi mencapai kesejahteraan warganya.

Mereka membantah beberapa teori sebelumnya yang mengaitkan kegagalan tersebut pada: budaya, lokasi geografis, bahkan kekayaan alam negeri tsb. Acemoglu dan Robinson dengan yakin bilang bahwa kegagalan terjadi karena ketiadaan institusi-institusi politik dan ekonomi yang inklusif—yang tidak ekstraktif—di negeri tersebut.

Tapi rasanya ada yang kurang dari simpulan mereka. Sistem politik dan ekonomi dibuat, dijalankan, dan dirawat oleh manusia. Manusia adalah unit terkecil yang menyusun suatu negeri atau peradaban. Sistem sebagus apapun, namun bila seiring dengan waktu dijalankan oleh manusia-manusia yang ‘bermasalah’, maka sistem tersebut akan rusak bahkan runtuh bersama peradaban atau negeri itu.

Di Nusantara, sistem politik dan ekonomi yang inklusif ini disebut Artha, yang dipelajari di dalam teks-teks yang secara kolektif disebut Artha-sastra. Ya, Artha penting, namun leluhur kita juga menyadari ada hal-hal lain yang tidak bisa diabaikan. Kama atau kebahagiaan psikologis, kenyamanan hidup, keindahan, rekreasi, dan sebagainya perlu ada. Demikian pula Dharma atau prinsip-kebenaran yang teguh, yang menyatukan, serta Moksa atau kebebasan berpikir dan berkarya hingga kebebasan dari keterikatan duniawi.

Keempat prinsip ini, berurut-turut: Dharma, Artha, Kama, dan Moksa adalah empat corner stone peradaban kita. Urutannya juga penting diperhatikan. Bukan Artha atau Kama duluan, tapi Dharma—agar Artha dan Kama terjaga di dalam prinsip-prinsip kebenaran. Inilah resep mengapa peradaban kita: Peradaban Sindhu/Hindu/Indus/Indo bisa terus bertahan setidaknya sejak 3.000 SM.

mo purik hamo garising /
hamo nanggahan akasa/
nyaho di maneh pertiwi /
di nya kasorgaanana //
—Sevaka Dharma, baris 819–822, teks kuno dari tanah Sunda sekitar abad 15–16.

Ibu Pertiwi tidak menggerutu (ketika dirusak), tidak menentang langit. Ia senantiasa sadar akan keilahiannya (dan sifat sucinya yang membuatnya senantiasa terus berbagi berkah dan karunia). Ini adalah ‘Kasorgaanana’, wilayah surgawinya.

“Sang Bijak penyusun karya ini mengingatkan kita bahwa dunia ini adalah surga itu sendiri. Baik neraka maupun surga keduanya adalah keadaan kesadaran. Jika kita hidup dengan kecurangan, ketidakmuliaan, dan kejahatan—maka kita menciptakan neraka kita sendiri. Dan, jika kita hidup dalam kebijakan, kebenaran, maka kita dapat mengubah dunia ini menjadi surga!”—Swami Anand Krishna, 2015, Dvīpāntara Dharma Śāstra.