Esa

Kita mungkin hapal sila-sila Pancasila di luar kepala, terutama sila pertama. But, what does “Maha Esa” actually mean?

Banyak yang akan dengan cepat bilang, “NKRI mengakui Tuhan yang satu!” Well, begitulah yang diajarkan di sekolah-sekolah dari dulu sampai sekarang. Beberapa tahun yang lalu saya pernah baca bahwa sudah ada yang mulai mempertanyakan penggunakan kata Esa. Bukankah seharusnya Ketuhanan yang Maha EKA? Eka (ᬏᬓ) memang berarti satu di dalam bhs. Sansekerta. But let me tell you that Esa dan Eka tidak sama! Lah, salah dong selama ini…

Sebelum menggali lebih jauh, kita kembali dulu ke masa-masa awal ketika teks Pancasila dirumuskan para pendiri bangsa kita. Mungkin kita pernah dengar bahwa kata-kata yang digunakan di dalam Pancasila telah berubah-ubah sejak pertama kali dicetuskan pada 1945. Terjadi perdebatan dan penajaman selama persidangan BPUPKI, dan kemudian dilanjutkan finalisasinya oleh Panitia Sembilan, dan lahirlah Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945, yang mana Pancasila seperti yang kita kenal sekarang lahir—kecuali sila pertamanya.

Sila pertama Pancasila di dalam Piagam Jakarta berbunyi, “Ketoehanan, dengan kewajiban mendjalankan syariat Islam bagi pemeloek-pemeloeknja”. Namun perwakilan dari Indonesia bagian Timur meminta sila-sila di dalam dasar negara baru tersebut memuat nilai-nilai yang universal, dan bisa diterima dan diamalkan oleh semua orang di Indonesia. Singkat cerita, I Gusti Ktut Pudja yang mewakili Sunda Kecil mengusulkan kalimat, “Ketuhanan yang Maha Esa.” Hal ini kemudian dikonsultasikan lebih lanjut oleh M. Hatta dkk, yang akhirnya menyepakati perubahan hingga menjadi Pancasila yang kita kenal saat ini.

Saya tidak tahu apakah para perumus paham betul arti “Maha Esa”. Saya tidak tahu apakah I Gusti Ktut Pudja pun memahaminya—feeling saya mereka tahu, oleh karena itu tidak diusulkan “Maha Eka”. Semua orang tahu, mahā- (ᬫᬳᬵ-) adalah ‘compound’ yang menunjukkan sifat (paling) besar, mulia, super.. yang seasal dengan mega- di dalam bhs. Inggris (misal: megastructure). Demikian, frasa “Maha Eka” atau maha-tunggal, maha-satu kurang masuk akal. Satu ya satu, tidak ada perbandingan lagi, tidak perlu mahā- lagi. Kalau itu yang dimaui, sebaiknya ditulis “Ketuhanan yang Eka/Tunggal/Satu” saja. Tapi ternyata tidak.

Kata yang dipilih adalah “Esa”. Ada yang berteori bahwa Esa atau Eṣa (ᬏᬱ) berasal dari kata lain di dalam bhs. Sansekerta, bentukan dari Etad (ᬏᬢᬤ᭄) yang berarti “ini”. Ketuhanan yang “Maha ini”? Sounds ridiculous, right?! Yang mencetuskan teori ini saya yakin tidak memahami bhs. Sansekerta/Kawi. Bukan, bukan itu yang mereka maksudkan. Esa atau Eṣa di sini haruslah kata sifat yang menjelaskan Ketuhanan itu sendiri.

Eṣa–menurut saya–berasal dari akar kata Eṣ (ᬏᬱ᭄) yang salah satu maknanya berarti “to desire”, menginginkan. Eṣa sebagai kata sifat berarti “desirable, to be desired”, diinginkan, dicari-cari, diidam-idamkan, dirindukan; Ia adalah muara segala keinginan kita. Sebuah makna yang luar biasa! Di dalam Yang Maha Esa kita semua—apa pun agama dan kepercayaan kita—bisa bergabung, bersatu. Ada yang melihat-Nya di mana-mana, di banyak tempat, di banyak wujud.. ada yang melihat-Nya sebagai yang Satu, Tunggal.. semuanya sama-sama menuju-Nya, kita semua merindukan-Nya, semua pencari-Nya dilindungi di bawah panji-panji Indonesia. Tidak ada dominasi dari satu pihak yang merasa paling benar kepada yang lain. Semoga!

Leave a Reply